0

MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) — PANDUAN UNTUK ANAK NORMAL

9cRxXRgce“Anak adalah benteng masa depan, hanya bisa dibangun dengan kerja keras dan perencanaan yang matang”

“Jangan dibaca, bila Anda berharap tulisan ini seperti tips praktis, layaknya menu “shortcut” dalam smartphone Anda agar mempermudah pengoperasian cara pemberian makan dengan mudah”

PENDAHULUAN

MAKAN adalah cara makhluk hidup untuk mencukupi kebutuhan nutrisi. Setiap berbicara mengenai nutrisi tidak sekedar hanya agar “TUMBUH “ (bertambah berat dan tinggi) dan “BERKEMBANG” akan tetapi  juga “SEHAT”. Ketika mahkluk hidup lahir dengan kondisi normal, maka ia akan siap untuk makan, kemampuan makan akan berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Olah karena itu kita tidak akan mendapati mahkluk hidup mati kelaparan atau kurang gizi bila tersedia makanan di sekitar mereka. Begitupula kalo kita coba melihat kebelakang kehidupan manusia masa lalu. Oleh sebab itu, kewajiban orang tua untuk membangun pola asuh yang baik agar perkembangan kemampuan makannya optimal.

POLA ASUH, merupakan kegiatan tanpa henti. Orang tua tidak pernah berpikir kapan berhenti membimbing anak-anaknya. Keberhasilan pola asuh orang tua tidak bisa dinilai hanya dengan lulus sekolah atau menang perlombaan tetapi lebih dari itu. Bila kegiatan membangun pola makan yang sehat merupakan kegiatan tanpa henti, maka begitulah berhasil atau tidaknya kegiatan itu tidak bisa dinilai sesaat (perlu penilaian jangka panjang). Penilaian keberhasilannya pun tidak bisa sekedar dari kenaikan tinggi badan dan berat badan.

STRATEGI MEMBANGUN POLA MAKAN (10 ATURAN)
  1.  Niat dan Ikhlas. Semangat membangun pola makan di-niat-kan untuk kepentingan/kebutuhan nutrisi anak, bukan biar anak nampak lucu atau menggemaskan karena badannya montok. Ingat gemuk tidak identik dengan sehat, dan sebaliknya. Janganlah pemberian makanan pada anak dilakukan untuk menyenangkan orang lain (nenek, kakek, tante, tetangga, dll). Misalkan, bila nenek membelikan es krim pada anak Anda usia 16 bulan, jangan ragu untuk melarang walaupun menbuat sang nenek kecewa terhadap Anda, ikhlaskan itu semua untuk anak.
  2. Bukan sekedar makan. Makan bukan sekedar makan, tetapi membangun pola hidup yang sehat dan teratur. Bila Anda dengan mudah mentolerir kesalahan, maka yang terbangun adalah kesalahan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
  3. Jangan pernah merasa gagal, jadilah orang tua yang berbahagia. Bila Anda merasa gagal dalam tahapan pengenalan makanan, maka tidak mustahil anak Anda juga merasa gagal. Orang gagal hanya bisa menularkan kegagalanya pada orang lain. Berbahagialah, maka anak Anda akan berbahagia. Jadi ingatlah setiap “kegagalan” pada anak, merupakan manifestasi rasa putus asa (kegagalan) Anda. Bila Anda sedih, frustasi atau merasa lemah, usahakan hindari bertemu/berinteraksi dengan anak selama beberapa waktu. Banyak cara untuk memompa semangat Anda, misalnya dengan memgambil air wudhu dan sholat sunnah (bila Anda muslim).
  4. Makan bila lapar, minum bila haus. Beri  kesempatan anak untuk lapar maupun haus. Makanan akan terasa lezat bila lapar, minum akan terasa segar bila haus. Jangan berikan makanan sebagai hadiah atau cara untuk menenangkan kerewalan anak. Tidak memberikan makanan dalam bentuk apapun 2 jam sebelum makan adalah upaya untuk memberikan kesempatan rasa lapar itu muncul
  5. Makan dengan contoh. Anak akan belajar/mencontoh dari lingkungan. Mereka tidak tertarik untuk makan bila tidak pernah melihat kita makan. Pola makan sehat  (teratur, bergizi, seimbang) dari orang tua akan menular pada anak dan begitu pula sebaliknya. Selain orang tua, perhatikan pula pola makan yang dicontoh oleh orang sekitar (nenek, keponakan, saudara, acara televisi, dll). Bila Anda tidak ingin anak Anda makan permen, es krim atau camilan tidak sehat lainnya, janganlah Anda pernah mengijinkan anak Anda mendapatkanya baik lewat orang lain ataupun Anda sendiri, kecuali Anda dapat memberikan penjelasan dengan baik bahwa itu merupakan makan yang tidak sehat (biasanya setelah usia diatas 3-5 tahun).
  6. Bergembira dalam makan. Jadikanlah kegiatan makan sesuatu yang menyenangkan. Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk anak normal, sistem tubuhnya tidak akan membiarkan dirinya mati kelaparan. Banyak cara untuk membuat kegiatan makan menjadi sesuatu yang menyenangkan, berkreasilah.
  7. Hidup ini penuh dengan godaan. Terlalu banyak junk food disekitar kita, mengoda dengan bentuk dan warnanya. Junk food ini sangat atraktif merayu lewat berbagai media, sekuat apapun Anda membentengi anak Anda, tetap saja bisa kalah kalo Anda tidak berusaha menhindari dan melawan rayuan mereka. TV merupakan musuh bebuyutan bagi tumbuh kembang anak. Ingat! Bila Anda tidak bisa mengendalikan, maka menghindari akan lebih baik.
  8. Bila gagal, cobalah lagi. Kemampuan makan tergantung pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk dapat mandiri dalam makan akan membutuhkan kemampuan motorik halus dan kasar yang cukup disamping kemampuan kognitif. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap, dan perlu latihan untuk meningkatkan kemampuanaya. Untuk belajar jalan, anak beberapa kali jatuh, pun begitulah aktivitas/kemampuan yang lain termasuk makan.
  9. Kenali suka dan tidak suka. Kecenderungan anak untuk menolak makanan baru, cobalah beberapa kali, sebelum memutuskan bahwa anak tidak suka makanan tersebut. Pemahaman tentang kesukaan terhadap jenis-jenis makanan akan memudahkan kita untuk menyajikan makanan
  10. Tetaplah berpikiran luas. Tetaplah berpikiran luas. Bagaimanapun juga membangun pola anak bukan sekedar episode tetapi keseluruhan cerita kehidupan anak. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat. Piramada Giza tidak dibuat dari satu sisi saja dan tidak pula satu hari, begitulah piramida makanan.

Sepuluh aturan tersebut akan selalu mewarnai langkah-langkah kita dalam membangun pola makan yang baik.

 KAPAN MULAI MAKAN PADAT

Proses makan terjadi sejak didalam kandungan melalui plasenta. Begitu bayi itu lahir proses ini digantikan oleh asupan makanan melalui mulut atau lewat infuse untuk bayi sakit. Untuk bayi normal/sehat, makanan padat dapat dimulai pada usia 4 – 6 bulan, artinya paling cepat pada usia 4 bulan dan paling lambat usia 6 bulan. WHO menunda pemberian makanan padat pada usia 6 bulan dengan pertimbangan lebih pada aspek kebersihan makanan. Infeksi merupakan masalah yang paling banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6 – 12 bulan pada negara berkembang. TAnda-tanda bayi siap menerima makanan padat atau MPASI (Makanan Pendamping ASI):

  1. Mampu menyangga kepala.
  2. Mampu menyangga pungung (duduk/didudukkan)
  3. Cukup besar (berat badan minimal 2 kali berat badan lahir)
  4. Cukup membuka mulut. Bayi yang tertarik terhadap makanan akan membuka mulut bila melihat makanan didepan mulutnya.
 PERSIAPAN SEBELUM PEMBERIAN MAKANAN PADAT

Proses makan sangat terkait dengan: HOW (bagaimana), WHEN (kapan), WHERE (dimana), WHOM (siapa). Sebelum memulai proses pemberian MPASI ke 5 hal tadi harus sudah dipersiapan:

  1. HOW, bagaimana teknik pemberain makan harus dipelajari dengan baik. Anak harus dalam posisi duduk/didudukan. Sangat disarankan menggunakan kursi makan (high chair). Usuhakan mata Anda sejajar dengan mata anak. Mulailah mengajarkan membuka mulut yang cukup lebar. Jangan memasukan makan bila mulut anak belum cukup lebar.
  2. WHEN, pahami saat-saat pemberian makan pada anak. Pemberian makan harus dijadwal dengan baik, jangan merubah-rubah jadwal makan. Hindari pemberian makan pada saat anak sedang tidak mood.
  3. WHERE, pemberian makan sebaiknya diruang makan. Usahakan tidak berpindah-pindah tempat, bila Anda tidak ingin anak Anda pergi ke taman kota hanya sekedar untuk makan. Situasi makan yang tidak kondusif akan mempengaruhi anak untuk tidak focus pada kegiatan makan.
  4. WHOM, proses makan merupakan hubungan timbal  balik (reciprocal) antara bayi dan pengasuh (ibu). Saling percaya, saling menyayangi, saling memperhatikan merupakan hal yang mutlak untuk dibangun. Bila perhatian ibu terpecah antara anak dan telenovela/tetangga maka jangan harap anak juga fokus pada pemberian makan.

Piranti yang mendukung 4 hal tadi harus dipersiapkan secara matang, mungkin memerlukan beberapa hari atau minggu untuk semua menjadi siap.

 healthy-food-clipart-12PERSIAPAN MAKANAN

Kebersihan makanan merupakan isu utama yang harus diperhatikan. Hampir 1/3 kematian dan kesakitan balita disebabkan oleh diare. Sedangkan penyebab utama diare terkait dengan kebersihan makanan.

Pemberian makan dimulai dari yang bersumber dari biji-bijian (beras). Yang akan menjadi sumber energi utama sejak anak-anak sampai dewasa. Bila berharap anak kelak mendapatkan sumber makanan utama dari gandum atau sereal, maka mulaialah dengan gandum atau sereal.

Mulai dari kosistensi yang paling lunak (bubur halus). Setelah sukses dengan bubur halus, dapat ditambahkan dengan daging. Dalam hal ini pilihlah daging merah, tidak terbatas pada ayam/sapi tetapi dapat menggunakan ikan laut. Penggunaan ikan laut sangat disarankan, disamping murah juga banyak mengandung AA dan DHA.

Sayur dan buah memiliki tempat ke tiga setelah daging. Penggantian menu cukup 4-5 hari sekali, disamping untuk melihat adakah reaksi alergi terhadap makanan tetapi juga agar bayi bisa memahami rasa dari masing-masing makanan. Setidak-tidaknya sampai usia 8 bulan anak sudah mengenal berbagai rasa asli dari bermacam-macam daging, sayur, dan buah.

Konsistensi harus bertahap, sehingga anak tidak merasakan perubahan tekstur makan dari bubur halus sampai nasi pada usia 1 tahun. Biarkanlah makanan sesuai rasa aslinya (jangan diberi bumbu). Setelah usia satu tahun pola makan seperti pola makan sehat orang dewasa.

TABEL PANDUAN PRAKTIS JENIS, TEKSTUR, JUMLAH, FREKUENSI  MAKAN ANAK USIA 4 – 24 BULAN

USIA (bulan) ENERGI YANG DIBUTUHKAN SELAIN DARI SUSU/ASI TEKSTUR FREKUENSI(hari) JUMLAH MAKANAN
4 – 5 Mulai dengan bubur halus dikuti daging/ikan 1-      2 kali 2 – 3 sendok setiap sesi makan. Tidak perlu ada target
6 – 8 200 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah yang dilembutkan 2 – 3 kali 1/3 – 1/2    mangkok (=125 ml)
9 – 11 300 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah dicincang/dipotong kecil2 3-4 kali ½ mangkok
12-24 550 kcal/hari Makanan sehat keluarga 3 – 4 kali ¾ – 1 mankok
 MAKANAN KUDAPAN

Makanan kudapan adalah makanan yang diberikan disela-sela makanan utama. Makanan kudapan dapat diberikan pada mulai usia 6-8 bulan. Biasanya 1 – 2 kali perhari, 2 – 3 jam sebelum makan siang dan makan malam. Makanan kudapan dapat berupa buah/snack sehat

Disarikan dari:

  1. WHO, Infant and Young Child Feeding, 2009.
  2. Jana LA dan Shu J, Food Fight, AAP, 2008.

 Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

Advertisements
0

PANDUAN MP-ASI (WHO)

Artikel asli diambil dari grup FB Homemade Healthy Baby Food dengan tambahan catatan

By Mia Ilmiawaty Saadah on Wednesday, August 15, 2012 at 12:20pm

MP-ASI yang baik adalah kaya energi, protein, mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia, terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A; telah mendorong WHO sebagai badan kesehatan dunia untuk memperbaharui beberapa prinsip penting di tahun 2010 untuk panduan pemberian makan bagi bayi dan anak, yang dikenal dengan prinsip AFATVAH :

AGE : MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan berdasarkan kesiapan pencernaan bayi. Resiko pemberian mp-asi dini sebelum usia 6 bulan akan dibahas tersendiri (Catatan: Bagi beberapa bayi ada kemungkinan pemberian MP-ASI lebih awal dari 6 bulan jika ditemukan indikasi-indikasi tertentu. Konsultasikan pada DSA anak). Pemberian MP-ASI  telat bulan dapat menyebabkan bayi tidak mendapat cukup nutrisi, sehingga mengalami defisiensi zat besi, tumbuh kembang yang terlambat.

FREQUENCY : frekuensi pemberian makan.

  • Di awal mp-asi diberikan 1-2 kali;
  • seterusnya usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali makan sehari ditambah 1-2 x cemilan;
  • usia 9-12 bulan 3 x makan dan 2x cemilan.

AMOUNT : banyaknya pemberian makanan.

  • Di awal mp-asi berikan sebanyak 2-3 sdm dewasa per porsi makan;
  • usia 6-9 bulan bertahap mulai dari 3 sdm dewasa hingga 125 ml per porsi makan;
  • usia 9-12 bulan bertahap dari 125 ml hingga 250 ml per porsi makan.

TEXTURE : tekstur makanan, berdasarkan panduan WHO terbaru ini bayi langsung diberi puree/bubur halus (lembut) tapi semi kental. Patokan kekentalan dilihat dari makanan yang tidak langsung tumpah ketika sendok dibalik. Kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi.

  • Setelah mulai makan beberapa minggu sampai usia 9 bulan, tekstur lebih kental berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur halus/lembut.
  • Mulai usia 9 bulan sudah bisa makanan yang dicincang halus, tidak keras dan mudah dijumput oleh anak.
  • Diharapkan mulai usia 1 tahun anak sudah bisa makan makanan keluarga.

VARIETY: variasi keberagaman makanan diberikan sejak awal pemberian MP-ASI terdiri dari karbohidrat, protein nabati (kacang-kacangan), protein hewani, sayuran dan buah, serta sumber lemak tambahan. Keberagaman makanan diperlukan untuk keseimbangan antara masukan dan kebutuhan gizi karena tidak ada 1 jenis makanan yang memiliki semua unsur gizi yang dibutuhkan. Dengan mengonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi jenis makanan lainnya, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.

Untuk perkenalan awal MP-ASI, paling lama 2 minggu pertama disarankan dikenalkan bubur dan pure buah tunggal (dari satu jenis bahan) dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari. Masa pengenalan ini digunakan untuk pengenalan variasi sumber karbohidrat, sayuran dan buah.

Paling telat minggu ketiga sudah harus  dikenalkan aneka protein, baik protein hewani maupun protein nabati, dan sumber lemak tambahan dalam bentuk bubur halus/saring yang diberikan bersama dengan karbohidrat dan sayuran dengan frekuensi makan 2-3 kali sehari dan mulai dikenalkan 1 kali cemilan/makanan selingan.

Prinsip variasi keberagaman ini menjadi dasar atau panduan menyusun menu harian, untuk mudahnya mari kita sebut sebagai panduan 4 bintang yang harus memenuhi tiga fungsi makanan (disebut juga sebagai tri guna makanan : zat tenaga, zat pembentuk dan zat pengatur). Selalu sertakan 1 bahan makanan dari setiap kelompok jenis makanan (kelompok bintang) dalam menu harian MP-ASI dan makanan keluarga yang terdiri dari :

  • * Sumber hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk)
  • ** Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga)
  • *** Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • **** Sumber vitamin A dari sayuran dan buah (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • ***** Lengkapi dengan unsur penunjang yaitu sumber lemak tambahan untuk menambah kalori

Terkait dengan keberagaman bahan makanan, jika orang tua memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, ada baiknya melakukan “tunggu 2-3 hari” saat mengenalkan makanan baru pada bayi, khususnya makanan pemicu alergi pada orangtuanya. Jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, disarankan memberikan variasi makanan setiap harinya agar anak mendapatkan variasi nutrisi sejak awal pemberian mp-asi.

Makanan pemicu alergi pada umumnya : telur, ikan laut, kacang-kacangan, beberapa buah-buahan golongan berry, tomat, jeruk dan jambu biji.

ACTIVE/RESPONSIVE : saat memberi makan, respon anak dengan senyum, jaga kontak mata, kata-kata positif yang menyemangati. Beri makanan lunak yang bisa dipegang untuk merangsang anak aktif makan sendiri.

HYGIENE : menyiapkan dan memasak makanan secara higienis. Pastikan makanan bebas patogen, tidak mengandung racun/bahan kimia berbahaya, cuci bersih, masak dan simpan dengan baik, cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan.

Referensi:

3

Selamat Tinggal Botol (dan Dot)!

Rasanya di lingkungan kita melihat anak kecil dengan botol dan dotnya adalah pemandangan yang amat lazim. Mungkin boneka bayi  dengan botol menempel di mulut pernah jadi bagian masa kecil kita 🙂 Begitu dot lepas dari mulutnya, boneka pun ‘menangis’. Hal ini disadari atau tidak merasuk dalam alam bawah sadar kita dan generasi anak-anak kita bahwa bayi identik dengan botol dan dot. Jika bayi menangis berarti mereka lapar atau haus, berikan dot, masalah selesai. Sayangnya efek jangka panjang minum dari botol dengan dotnya hasilnya tidak selalu seindah harapan orangtua.

Mengapa botol sangat dicintai anak-anak? Secara alami anak kecil akan Dalam buku Food Fight, penulis menyatakan botol dan dot memberikan segala hal yang diperlukan bayi yaitu makanan (nourishment), kelekatan (bonding), kalori, dan kenyamanan (comfort). Di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics dan American Dental Association telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penggunaan botol begitu anak menginjak usia 1 tahun. Riset menunjukkan anak yang banyak menghabiskan waktu dengan botol beresiko lebih besar terkena infeksi saluran telinga.  Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, peneliti menemukan salah satu faktor kemungkinan utama penyebab kelebihan berat badan pada anak usia pra sekolah (selain faktor memiliki ibu yang overweight) adalah penggunaan botol terlalu lama.

Para penulis buku Food Fight memaparkan mengapa pemberian minum apapun jenisnya tidak disarankan dari botol dan dot pada anak balita (atas 1 tahun).

  1. Aliran yang Lancar. Minum dari botol dapat dikatakan tidak memerlukan usaha untuk menghisapnya begitu bayi menginjak usia beberapa bulan. Aliran minuman begitu lancar bahkan saat anak-anak tertidur. Keterampilan menghisap menghisap ini sebenarnya tidak begitu diperlukan lagi manakala mereka menginjak usia beberapa bulan
  2. Minum dari botol telah mencakup segalanya. Makan adalah proses belajar. Pada masa pembentukan proses makan yang benar, anak usia balita perlu belajar mengenali berbagai jenis makanan dan makan seimbang. Karena ngedot (sucking) jelas lebih mudah dibanding mengunyah, proses pembelajaran makan bisa terganggu. Balita yang masih suka nge-dot cenderung lebih suka banyak minum, akibatnya mereka makan sedikit atau tidak bernafsu makan sama sekali
  3. Nge-dot karena efek mengisapnya itu sendiri (yang membuat nyaman). Walaupun anak usia balita selalu minum manakala disodori botol, hal ini tidak selalu berarti mereka haus. Mengapa? Minum dari botol atau ngedot terbukti memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi ketika mereka mau tidur masih ingin ngedot atau malam-malam terbangun minta dot, itu lebih karena ngedot menenangkan mereka bukan karena haus atau lapar.
  4. Apa yang ada didalamnya itulah yang penting. Masalah yang terkait dengan minum dari botol dalam jangka lama tidak hanya terletak pada botol itu sendiri, tetapi juga pada apa yang terkandung didalamnya. Walaupun botol tersebut umumnya berisi susu atau air putih, hal ini tetap dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Apalagi kita kerap melihat jus atau air teh juga dikonsumsi balita dalam botol! Ketika anak mulai merasakan ‘nikmat’nya minuman ini, semakin sulit mereka terlepas dari botol. Pengalaman menunjukkan menyapih dari botol (dan minuman ‘kurang sehat’) lebih sukar dibanding menyapih dari menyusui.
  5. Masalah Gigi Berlubang. Riset menunjukkan balita yang ngedot lebih sering mengalami problem pada giginya entah berlubang atau kerusakan lainnya.
  6. Hambatan Berbicara. Agak sukar memahami balita berbicara dan hal ini semakin sukar jika balita kerap menghabiskan waktu dengan botol di mulutnya. Sama halnya dengan empeng, pakar menyarankan ada tempat dan masa yang sesuai untuk botol & dot, tetapi manakala anak mulai ‘berbicara’, sebaiknya benda-benda ini kita singkirkan

Bersambung ke bagaimana menghentikan botol  ….. (next article 🙂 )

Referensi

 – Laura A. Jana, & Jennifer Shu, 2008, “Drinking Problems” Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup pp 45-84, American Academy of Pediatric

1

Seputar Pertumbuhan Bayi

Pertumbuhan Bayi Berdasar Berat Badan, Panjang Badan, & Lingkar Kepala

Berapakah seharusnya berat badan (BB) bayi disusui yang normal adalah salah satu masalah yang paling sering diajukan orangtua. Selain berat badan, panjang dan lingkar kepala juga menjadi salah satu acuan pertumbuhan fisik bayi. Berikut adalah rata-rata pertumbuhan bayi yang disusui. Tabel-tabel berikut bersumber dari artikel : http://www.kellymom.com/babyconcerns/growth/index.html

Tabel 1. Rata-rata Pertumbuhan Berat Badan (BB)

Usia

Rata-rata Pertambahan BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-4 bulan

155 – 241 grams per minggu

170 grams per minggu *

4-6 bulan

92 – 126 grams per minggu

113 – 142 grams per minggu

6-12 bulan

50 – 80 grams per minggu **

57 – 113 grams per minggu

  * Pertumbuhan BB sebanyak 113-142 gram per minggu masih diperkenankan.

**Pada usia 3-4 bulan pertumbuhan BB bayi yang disusui akan mencapai 2x BB lahir, menginjak usia 1 tahun umumnya mencapai 2.5-3x BB lahir 1.

Referensi

  1. World Health Organization Child Growth Standards, 2006.
  2. Riordan J. Breastfeeding and Human Lactation, 3rd ed. Boston: Jones and Bartlett, 2005, p. 103, 512-513.
  3. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149

            Sedangkan tabel 2 meringkaskan rata-rata pertumbuhan panjang badan dan lingkar kepala. Untuk anak atas 1 tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat dilihat langsung dari kurva pertumbuhan WHO atau CDC.

Tabel 2. Rata-rata Pertumbuhan Panjang Badan (PB) dan Lingkar Kepala (LK)

Usia

Rata-rata Pertambahan Panjang BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-6 bulan

2,5 cm per bulan

1, 27 cm per bulan

6-12 bulan

1, 27 cm per bulan*

64 mm per bulan

 *Menginjak usia 1 tahun, bayi yang disusui umumnya akan mengalami bertambah panjang 50% dari PB lahir dan lingkar kepala bertambah 33% dari LK lahir.

Referensi:

  1. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149.

 

Beberapa Hal yang Perlu Diingat Ketika Mengevaluasi Pertumbuhan Berat Badan

            Penurunan BB sebanyak 5-7% selama 3-4 hari dianggap normal. BB yang berkurang 10% terkadang dianggap normal, namun pengurangan sebanyak ini merupakan tanda untuk mengevaluasi proses menyusui yang berlangsung. Sebaiknya Ibu mengecek BB bayi pada hari ke-5, sehingga jika ditemukan masalah pertumbuhan dapat segera diatasi sejak dini.

            Menginjak hari ke 10 hingga minggu ke-2, bayi seharusnya telah kembali mencapai BB lahirnya. Jika bayi kehilangan BB cukup berarti pada beberapa hari pertama, atau bayi sakit atau lahir prematur, ia memerlukan waktu lebih lama kembali pada BB lahir. Jika bayi tidak mampu mencapai BB lahir selama 2 minggu, evaluasi terhadap proses menyusui perlu dilakukan.

            Yang tidak kalah penting adalah penimbangan BB bayi seharusnya dilakukan dengan timbangan yang sama dan diusahakan dalam keadaan tidak berpakaian untuk mendapatkan perhitungan BB yang akurat.

            Selain itu, ketika mengevaluasi pertumbuhan anak, tidak hanya menganalisis kurva pertumbuhannya, hal-hal berikut juga perlu diperhatikan:

  • Bagaimanakah ukuran fisik orangtua? Bagaimanakah kurva pertumbuhan orangtua ketika bayi? Bagaimana dengan saudara bayi atau anggota keluarga lain? Genetik berperan penting dalam ukuran fisik seorang bayi
  • Apakah bayi tumbuh secara konsisten? Cttn: Bayi dianggap tumbuh walaupun BB-nya misal selalu berada dalam kurva kuning KMS, asalkan konsisten. Lihat artikel terkait.
  • Apakah perkembangan bayi yang lain sesuai dengan usianya?
  • Apakah bayi tampak sehat, lincah, dan aktif?
  • Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda cukup ASI?

 Jika orangtua merasa perkembangan BB bayi yang mendapatkan ASI eksklusif kurang menggembirakan khususnya pada bulan-bulan pertama, lihat artikel pertumbuhan BB melambat.

Catatan Mengenai Kurva Pertumbuhan (Growth Chart)

Bayi sehat yang disusui cenderung tumbuh lebih cepat dibanding mereka yang mendapat asumsi susu formula dalam 2-3 bulan pertama dan lebih lambat pada usia 3-12 bulan. Semua versi kurva pertumbuhan (i.e. WHO, CDC) yang tersedia saat ini tidak semuanya diperoleh dari bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan (termasuk bayi yang mendapat susu formula dan mereka yang telah mendapatkan makanan pendamping/solid foods sebelum rekomendasi usia 6 bulan). Banyak dokter yang kurang aware terhadap masalah ini sehingga seringkali memberikan kesimpulan yang kurang tepat yaitu pertumbuhan bayi kurang bagus. Untuk itu mereka biasanya merekomendasikan Ibu (yang sebenarnya tidak diperlukan) memberikan suplemen seperti susu formula atau makanan padat, dan bahkan terkadang meminta Ibu berhenti menyusui pula! Hal ini seringkali merisaukan Ibu yang sebenarnya merasakan bayi mereka tumbuh dengan sehat.

0

Download Gratis Artikel & Video ASI, Menyusui, MPASI, dan Kurva Pertumbuhan


Berikut kami berikan link download free panduan atau artikel terkait dengan ASI, MPASI, Tumbuh Kembang, dan lain-lain dari sumber terpercaya seperti WHO, AAP, CDC, dll. Semuanya dalam bahasa Inggris. Artikel dan link akan di-update.Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!

ASI & Menyusui

  • Update* Video Pemberian ASIP melalui cup pada bayi baru lahir

Makanan Pendamping untuk 6 bulan keatas

Tumbuh Kembang Anak

0

Bagaimana Status Gizi Anak Anda?

Pada tulisan terdahulu, kita telah belajar ‘membaca’ pertumbuhan anak melalui indeks berat badan anak dalam KMS. Sayangnya warna-warna dalam grafik KMS tidak dapat digunakan untuk menentukan status gizi anak. Jadi, kita tidak bisa mengatakan berat badan buah hati kita yang berada di pita kuning berarti gizinya kurang. Begitu pula berat badan di bawah garis merah belum tentu bergizi buruk. Kita perlu mengetahui status gizi anak kita yang secara sederhananya dapat ditentukan dengan melihat tabel berat badan /tinggi badan.

Cara membaca tabel ini adalah dengan membandingkan berat badan sekarang dengan berat badan seharusnya berdasarkan tinggi (panjang) badan saat ini.

Contoh: Seorang anak perempuan dengan panjang badan 70,0 cm dan berat badan 7,5 kg. Pada kolom panjang badan anak perempuan 70.0 cm, apabila ditarik garis lurus ke kanan ternyata berat badan 7,5 kg terletak pada kolom 6,6 – 11,1 kg: kolom -2 SD s/d 2 SD. Interpretasinya: anak dikatakan normal. Jika anak tergolong gemuk, perlu diperiksa lebih lanjut apakah tergolong obesitas atau tidak (dengan mengecek BMI-nya).

Tabel Berat Badan (BB) terhadap Tinggi Badan (TB) Untuk Menilai Status Gizi

          Selain dengan tabel diatas, perhitungan status gizi yang lebih spesifik (yaitu kuantitatif) dapat diperoleh dengan membandingkan Berat Badan anak saat ini dengan Berat Badan Ideal berdasar Growth Chart dari CDC atau WHO. Berat Badan Ideal sendiri didapatkan dengan mencari padanan dari Panjang Badan (PB) saat ini. Artikel ini hanya memuat dua Growth Chart untuk anak laki-laki dan perempuan. Untuk grafik berdasar usia hingga 20 tahun yang lengkap bisa diunduh dari website CDC  (http://cdc.gov/growthcharts/) atau WHO (http://www.who.int/childgrowth/en/).

Gambar 1. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Laki-laki 0-36 bulan

Gambar 2. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Perempuan 0-24 bulan

Interpretasi Berdasarkan % Berat Badan Ideal Menurut Umur

  • BB saat ini/BB ideal < 70%              Gizi buruk
  • BB saat ini/BB idea70% – 80%        Gizi kurang
  • BB saat ini/BB idea80% – 100%     Gizi baik
  • BB saat ini/BB idea100% – 110 %   Gizi lebih
  • BB saat ini/BB idea> 110%              Obesitas/Obesity (harus dihitung BMI)

 Contoh. Bayi laki-laki usia 6 bulan dengan panjang badan (PB) = 65 cm dan berat badan (BB) = 5,8 kg. Dari growth chart gambar 1 diatas tarik garis pada PB 65 cm ke kanan hingga menyentuh kurva persentil 50 (sekitar 5 kotak ke kanan). Selanjutnya tarik garis ke bawah menuju kurva berat badan pada persentil 50 dan didapatkan BB Ideal adalah 7,4 kg. Selanjutnya hitung rasio BB saat ini dengan ideal yaitu (5,8/7,4 = 78,4 % Berdasar interpretasi diatas maka anak dikatakan saat ini bergizi kurang.

Catatan: Untuk mengetahui status gizi dengan teknik ini tidak diperlukan usia bayi, berbeda halnya jika kita ingin mengetahui ‘posisi’ berat badan atau tinggi badan berapa bayi kita dibandingkan dengan populasi yang menjadi acuan growth chart tersebut.

Referensi

*BMI= BB/TB2 . BB (Berat Badan dlm Kg), TB (Tinggi Badan dlm meter)

0

Kapan Anak Dikatakan Tumbuh? Memahami Secara Sederhana Kurva Pertumbuhan Berdasarkan Berat Badan

      Salah satu parameter utama menilai apakah bayi mendapatkan cukup ASI adalah dengan mengamati pertumbuhan bayi melalui pertambahan berat badannya. Oleh karenanya setiap bulan (bahkan 1 atau 2 minggu sekali dalam bulan pertama), Ibu disarankan mengukur pertumbuhan fisik bayi termasuk menimbang berat badan, mengukur panjang badan dan lingkar kepala. Walaupun Ibu dapat bertanya pada petugas kesehatan mengenai status pertumbuhan sang buah hati, tidak salah bukan jika Ibu belajar memahami kurva pertumbuhan bayi? Biasanya informasi ini diberikan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Sebagai informasi, sejak tahun 2008 KMS balita yang digunakan di Indonesia berdasarkan Standar Antropometri WHO 2005 (Untuk data antropometri terbaru 2006 bisa buka link dari WHO atau CDC ini) . Dalam KMS terdapat jalur-jalur warna yang mewujudkan pola pertumbuhan  anak tersebut. Pada prinsipnya setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan sendiri-sendiri namun polanya tetap sama.

           Berdasarkan informasi dari KMS, Ibu dapat mengetahui indeks berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan menggambarkan masa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti keadaan sakit infeksi, penurunan nafsu makan atau penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Untuk mengetahui pertumbuhan anak diperlukan minimal 3 kali pengukuran. Bisa saja berpatokan pada 2 kali pengukuran namun ini tidak ideal. Berbeda dengan status gizi yang bisa ditentukan secara on the spot atau 1 kali pengukuran (akan dibahas pada artikel selanjutnya). Jadi intinya yang disebut tumbuh tidak bisa hanya melihat asal berat badan naik saja. Pertumbuhan tersebut mungkin akan tergambar sebagai salah satu tiga garis lengkung berikut, yaitu:

  1. Garis berat badan yang menanjak dengan keterangan teruskan dibulan berikutnya, menyatakan bahwa anak tumbuh baik dan sehat.
  2. Garis berat badan yang cenderung rata selama dua bulan, atau menanjak tetapi tidak mengikuti pola pertumbuhan pada KMS, menyatakan bahwa anak kurang mendapat makanan yang memadai, seperti lebih banyak makanan selama bulan berikutnya.
  3. Garis berat badan yang menurun menyatakan bahwa ibu harus mencari nasihat khusus dan memastikan bahwa anak balita tidak sakit, harus diberikan makanan dan gizi tambahan selama bulan berikutnya. Catatan: Pada bulan-bulan pertama  pertumbuhan berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif mungkin saja berjalan lambat. Hal ini bisa diatasi  dengan memperbaiki proses menyusui tersebut (lihat artikel terkait ini). Dengan (mencari) bantuan yang tepat, proses penyusuan dapat terus dilanjutkan tanpa pemberian susu formula

Gambar 1. Pertumbuhan Normal

            Jika kurva pertumbuhan anak mengikuti pola seperti gambar diatas (warna biru) dikatakan pertumbuhan normal walaupun kenaikan berat badan selalu berada pada area kuning. Pertumbuhan dikatakan normal atau baik jika berat badan, panjang (tinggi) badan, dan lingkar kepala naik pada pengukuran berikutnya. Khusus untuk berat badan lebih tepatnya jika:

  • Berada pada pita warna yang sama dengan bulan lalu
  • Atau naik sedikit pada pita warna diatasnya.
  • Prinsip dasarnya adalah usahakan pertumbuhan berada pada pita yang sama.

Gambar 2. Pertumbuhan Terganggu

           Kurva merah pada gambar 2 menunjukkan pertumbuhan yang terganggu walaupun tampak ada kenaikan berat badan. Dapat pula dikatakan anak tidak tumbuh. Pada pola seperti ini jika pada pengukuran bulan berikutnya berat badan masih menurun dan bahkan masuk area kuning anak dikatakan gagal tumbuh (failure to thrive), Ibu harus segera konsultasi pada dokter spesialis anak.

Gambar 3. Berat Badan Tidak Naik

Sedangkan berat badan  tidak naik sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 3 yaitu

  1. Garis pertumbuhan menurun, atau lebih rendah dari bulan lalu
  2. Garis pertumbuhan mendatar, atau sama dengan bulan lalu
  3. Garis pertumbuhan naik, tetapi pindah ke pita warna di bawahnya

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita
  • Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Dasar, Departemen Kesehatan RI, 2005