0

Hand Foot and Mouth Disease (“Flu Singapore?”)

Hand Foot Mouth Disease (HFMD) merupakan kumpulan gejala dan tanda yang khas pada kulit dan mukosa. HFMD paling banyak disebabkan oleh virus coxsackie A16, kadangkala ketika mewabah dapat juga disebabkan oleh enterovirus 71, virus coxsackie A5, A7, A9, A10 serta coxsackie B2 dan B5.  Virus coxsackie merupakan famili picornaviridae dan genus enterovirus. Jadi berasal dari genus dan famili yang sama dengan virus polio.

Dalam referensi kedokteran HFMD tidak dikenal sebagai “Flu Singapore”. Bahkan dalam sebuah website yang ditulis oleh orang Singapura, merekapun heran dengan sebutan tersebut.

Gejala dan Tanda HFMD:

  • Biasanya tampilan sakit ringan (anak tidak tampak sakit berat)
  • Demam tidak tinggi
  • Vesikel pada tenggorokan, gusi, langit-langit mulut, bibir yang kemudian membentuk luka (ulkus) seperti stomatitis dengan diameter 4 – 8 mm dilingkupi kemerahan disekitarnya.
  • Vesikel (mirip cacar) pada telapak tangan, jari, kaki, pantat dan pangkal paha.

 

Jenis virus tertentu  penyebab HFMD terutama enterovirus 71 dapat menyebabkan gangguan pada saraf, jantung dan paru, serta menyebabkan kematian. Secara umum, semua infeksi yang disebabkan virus dapat menimbulkan gejala mirip flu (pilek, batuk, nyeri  kepala, nyeri otot) dan gejala saluran cerna (diare, muntah, nyeri perut). Sehingga pasien dengan HFMD-pun bisa disertai gejala dan tanda tersebut.

Tata Laksana

Penyakit HFMD biasanya akan sembuh dengan sendirinya (self limited). Akan tetapi bila terjadi kondisi klinis berat maka perlu tindakan intervensi. Intervensi tersebut lebih berfungsi suportif. Penggunaan antivirus belum terbukti bermanfaat. Oleh sebab itu bila dirasa kondisi anak kurang baik/nampak sakit berat perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak

Referensi

  1. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th ed., 2011
  2. Long SS, Pickering LK dan Prober CG (editor), Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, 3rd ed., 2008
  3. Strauss JH dan Strauss EG, Viruses and Human Disease, 2nd ed., 2008

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Advertisements
2

Sekilas Mengenai Batuk dan Pilek Pada Anak

Batuk dan atau pilek merupakan gejala utama common cold atau sering kita sebut flu. Flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Dalam satu tahun rata-rata anak akan mengalami 3-10 kali. Bila rata-rata lama penyakitnya 7 – 10 hari, maka seakan-akan 1/3 hidup anak dalam setahun terpapar flu. Gejala yang sering dikeluhkan adalah batuk, pilek dan demam, kadang disertai nyeri tenggorok dan pembesaran kelenjar limfe leher bagian depan. Gejala lain berupa nyeri otot, nyeri kepala, radang kelopak mata dan nyeri sendi.

Demam yang terjadi biasanya kurang dari 390C, bila suhu lebih dari 390C patut dipertimbangkan kemungkinan penyakit yang lain. Komplikasi yang dapat terjadi radang telinga tengah, radang sinus, sesak napas (wheezing) dan infeksi bacterial tumpangan (terutama pada paru). Penyebab flu pada umumnya adalah virus (yaitu Rhinoviruses, Coronaviruses, Respiratorysyncytial virus, Parainfluenzaviruses, Adenoviruses, Nonpolioenteroviruses, Influenzaviruses, Reoviruses). Oleh karena itu biasanya flu sembuh dengan sendirinya (self limited). Pengobatan yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10 -15 mg tiap kg berat badan bila demam lebih 380C dan cukup minum terutama yang hangat. Parasetamol atau acetaminophen dapat diberikan tiap 6 jam bila perlu. Sediaan parasetamol yang ada berupa sirup, tetes atau tablet.  Harap diperhatikan dosis perkilogram berat badan bukan berdasar umur! Penggunaan obat-obatan lain seperti antibiotik, obat batuk (antitusif, ekspetoran), obat pilek (decongestan) dan antihistamin tidak disarankan untuk anak-anak. Di Amerika Serikat, FDA secara khusus telah melarang penggunaan obat batuk pilek untuk usia di bawah 2 tahun, dan keefektifan untuk usia di atas tersebut (anak-anak bawah 12 tahun) sendiri masih dipertanyakan. Secara umum obat batuk dan obat pilek tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin, maka bila hendak menggunakan obat tersebut harus dengan dengan rekomendasi dokter. Sayang sekali dipasaran banyak beredar obat batuk dan obat pilek atau gabungan keduanya sehingga seakan-akan memang bermanfaat untuk flu pada anak.

Kapan kita ke dokter?

  1. Bila secara umum anak tampak tidak bugar (sakit keras) dalam bahasa medis disebut toksik
  2. Anak malas minum sehingga kurang cairan padahal tidak muntah atau diare
  3. Tampak sesak/sukar bernapas, ditandai dengan napas cepat (jumlah napas > 60 kali permenit untuk usia < 2 bulan, > 50 kali untuk usia 2 – 12 bulan, > 40 kali untuk usia 1 – 5 tahun) dan atau tampak tarikan pada dinding dada.
  4. Demam tinggi > 390C atau setelah 3 hari demam masih > 38,50C
  5. Ada keluhan nyeri telinga

Referensi

  • Leslee F.Kelly, 2004, Pediatric Cough and Cold Preparations Pediatrics in Review 25(4):115-123
  • Diane E. Pappas, J. Owen Hendley, 2011, The Common Cold in Children, Pediatrics in Review 32:47-55.
  •  Floyd W. Denny, 1987, Acute Respiratory Infections in Children: Etiology and Epidemiology, Pediatrics in Review 9:135-146
  • Madeline Simasek, David A Blandino, 2007, Treatment of the Common Cold, American Family Physician 75(4):515-520.
  • Ishimine P, 2006, Fever Without Source in Children 0 to 36 Months of Age, Pediatric Clinics of North America 53(2):167–194

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

4

Benarkan Batuk Pilek pada Bayi adalah Alergi?

            Selama ini banyak orang yang mencurigai batuk pilek pada bayi disebabkan karena alergi. Padahal sesungguhnya batuk pilek pada usia tersebut lebih sering karena faktor infeksi terutamanya disebabkan oleh virus. Virus yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran napas sangat banyak disekitar kita dan mudah sekali menular. Pada orang dewasa atau anak besar seringkali gejalanya sangat ringan tanpa disadari, misal batuk pilek ringan selama 1-2 hari. Tetapi semakin muda usia dimana sistem kekebalan tubuhnya masih rentan dan belum berkembang sempurna, gejalanya akan lebih nyata. Akibatnya batuk pilek pada usia ini berlangsung lebih lama, bahkan bisa sampai 3 minggu! Rata-rata anak balita mengidap infeksi saluran napas bagian atas sebanyak 3-4 kali dalam 1 tahun. Frekuensi ini akan meningkat pada mereka yang memiliki saudara sesama balita atau tinggal di penitipan anak. Oleh karenanya tidak mengherankan jika seolah-olah batuk pileknya tidak sembuh-sembuh. Ujung-ujungnya hal ini dianggap alergi. Pada mereka yang memakai susu formula (sufor) dari susu sapi, seringkali disarankan oleh dokter untuk beralih ke sufor dari soya, bahkan ada pula yang diminta menghentikan pemberian ASI! Berdasarkan penelitian terbaru (Mansoor dan Sharma, 2011), hanya ditemukan 0.08% sampai 0.2% yang menunjukkan perbaikan klinis setelah penggantian sufor dengan soya pada bayi yang memiliki gejala gangguan saluran napas. Lagipula kalau melihat perjalanan alergi, maniestasi (reaksi) alergi berupa gejala saluran pernapasan tidak sering muncul pada usia bayi melainkan pada anak lebih besar.

            Gambar diatas  menunjukkan gambaran perjalanan manifestasi (reaksi) alergi. Dari gambar tersebut jelas bahwa jika anak Anda yang berusia dibawah 1 tahun diduga alergi terhadap susu formula (atau alergen lain seperti lingkungan) maka kecil kemungkinan manifestasi alerginya berupa rhinitis (gejala saluran napas). Contoh lain dari gambar tersebut yaitu reaksi alergi berupa asma tidak lazim ditemukan pada anak dibawah usia  3 tahun, biasanya muncul pada usia diatas 3 tahun. Mengingat ilmu tentang alergi yang sangat kompleks, untuk lebih memahami penyebab, gejala, dan hal-hal yang terkait alergi, disarankan berkonsultasi pada dokter anak sub spesialis alergi.

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian Sumirat SpA

Referensi

Mansoor D.K., Sharma, H.P. 2011. Clinical Presentation of Food Allergy, Pediatric Clinical North America , Vol  58, hal 315-326.

Winther dkk, Viral Induced Rhinitis, American Journal Rhinology, vol 12 halaman 17-20

Weinberg E.G. 2005. The Atopic March. Current Allergy & Clinical Immunology Vol. 18, No.1, hal 4-5