0

Pertumbuhan Berat Badan Bayi Melambat Pada Bulan-bulan Pertama

Terkadang, bayi yang menyusu dengan sangat baik pada bulan-bulan pertama tidak baik perkembangan berat badannya setelah masuk usia 2 hingga 4 bulan hanya dengan ASI saja. Sebenarnya hal ini normal, karena bayi yang disusui pertumbuhannya tidak sama dengan kurva pertumbuhan bayi yang diberikan susu formula. Seolah-olah bayi yang mendapatkan ASI penuh pertumbuhannya lambat, padahal sebenarnya bayi yang diberikan susu formulalah yang kenaikan berat badannya terlalu cepat. 

Menyusui merupakan suatu cara pemberian makanan yang normal dan alami bagi bayi. Jadi, menganggap susu formula merupakan cara pemberian makan yang normal sesungguhnya bukan hal yang masuk akal dan bisa membuat kita salah memberikan nasihat pada Ibu mengenai pemberian makanan pada bayi dan masalah pertumbuhan atau perkembangan bayi itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, bayi yang sakit akan lambat kenaikan berat badannya dari yang diharapkan. Alih-alih menyembuhkan sakit itu sendiri, justru pemberian susu formula akan “merampas” keuntungan menyusui secara eksklusif. Ibu perlu paham bagaimana sebenarnya bayi benar-benar mendapatkan ASI dan tidak hanya sekedar ngempeng atau menempelkan mulutnya pada payudara. Jika bayi tidak benar-benar mendapatkan ASI, kecil kemungkinan bayi sakit, melainkan lebih karena produksi ASI Ibu menurun. Mengapa produksi ASI Ibu menurun?.

  1. Ibu menggunakan pil KB sebagai kontrasepsi. Masih terdapat berbagai pilihan kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan di luar yang bekerja melalui hormon (misalkan IUD, kondom).
  2. Ibu sedang hamil
  3. Ibu sedang mencoba menjadwalkan menyusui (memperpanjang masa antara menyusui atau mengajari bayi tidur sepanjang malam). Jika ini terjadi, susuilah bayi ketika lapar atau sedang mengisap tangannya.
  4. Ibu cukup sering menggunakan botol. Walaupun produksi ASI telah terbentuk dengan baik, pemberian susu (termasuk ASI sendiri) dengan botol akan mengajari bayi perlekatan yang buruk pada saat bayi sendiri sedang memerlukan aliran ASI yang cepat. Dengan aliran yang lambat, bayi akan menarik diri dari payudara, akibatnya waktu menyusui semakin berkurang dan hasilnya semakin menurunkan pula ASI.
  5. Adanya kejutan secara emosi (stress) pada Ibu dapat menurunkan produksi ASI.
  6. Terkadang sakit yang khususnya terkait dengan demam dapat menurunkan produksi ASI. Hal ini berlaku pula pada mastitis. Namun tidak selalu Ibu yang sakit akan turun produksi ASInya.
  7. Ibu terlampau banyak pekerjaan. Sementara waktu abaikan pekerjaan rumah, atau carilah pertolongan orang lain untuk melakukannya. Tidurlah ketika bayi tidur. Dengan belajar, Ibu dapat tertidur sembari menyusui bayi..
  8. Beberapa obat-obatan dapat menurunkan produksi ASI misalnya yang mengandung antihistamin dan pseudephedrine
  9. Kombinasi dari beberapa hal ditas
  10. Terkadang bisa jadi produksi ASI menurun setelah 3 bulan tanpa alasan yang jelas

Dalam beberapa minggu pertama, bayi akan cenderung tertidur ketika menyusu bila aliran ASI lambat (aliran akan semakin lambat jika bayi tidak melekat dengan baik). Bayi akan sekedar ngempeng dan tertidur tanpa mendapatkan sejumlah ASI yang cukup, namun demikian Ibu masih memiliki Let Down Reflex (refleks pengeluaran ASI) sesekali dan bayi akan minum lebih banyak. Ketika produksi ASI ibu berlebih, pertumbuhan berat bayi biasanya cukup baik walaupun bayi akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusul.

Namun demikian, menginjak usia 6 atau 8 minggu atau lebih muda lagi, banyak bayi yang menarik diri dari payudara ketika aliran ASI lambat, seringkali hanya beberapa menit saja dari awal menyusu. Mengetahui hal ini biasanya Ibu cenderung menyodorkan payudara sebelahnya, tetapi bayi tetap melakukan hal yang sama. Sebenarnya bayi masih lapar, namun ia lebih memilih menghisap tangannya dibanding menyusu dari payudara Ibu. LDR ekstra tidak didapatkan bayi (akibatnya ASI tidak diperoleh) karena ia tidak sesabar tetap berada pada payudara Ibu sebagaimana minggu-minggu pertama dulu. Jadi bayi minum hanya sedikit dan akibatnya produksi ASI menurun. Hal ini memang tidak selalu terjadi, dan banyak bayi yang masih bagus perkembangan berat badannya walaupun hanya menyusu sebentar-sebentar dan lebih sering menghisap tangannya sendiri. Jika kenaikan berat badan cukup bagus, Ibu tidak perlu khawatir. Namun demikian hal ini bisa dicegah dengan mendapatkan perlekatan yang baik sejak pertama kali. Sayangnya, banyak Ibu yang diberitahu perlekatan bayi mereka telah bagus padahal sesungguhnya tidak demikian. Perlekatan yang lebih baik akan sangat membantu walaupun sedikit terlambat. Selain itu dengan kompresi, Ibu dapat membantu bayi terus minum (lihat artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”). Obat-obatan tertentu seperti domperidone dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan, namun jangan digunakan ketika Ibu hamil.

Bagaimana mengetahui bayi  menyusu dengan benar (tidak hanya sekedar menghisap payudara)?

Ketika bayi benar-benar mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan ASI hanya karena mulutnya melekat pada payudara dan membuat gerakan menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda/henti pada suatu titik di rahang bawah (dagu) nya setelah dia membuka lebar-lebar mulutnya dan sebelum menutup mulutnya (buka mulut lebar-lebar-jeda-menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk/tertelan ketika bayi menghisap . Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya, cukup satu sisi saja sudah kenyang. Semakin bertambah usia bayi, semakin efektif (pintar) dia menyusu sehingga dalam waktu sebentar saja ia sudah kenyang. Sebaliknya, bayi yang hanya ngempeng (tidak benar-benar minum) bisa jadi selama 20 jam akan terus melekat pada payudara (keterangan ini bisa dilihat pula dalam artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”).

Gambar 1. Effective Breastfeeding

Referensi

Jack Newman, 2003. Handout #25: Slow weight gain after the first few months Handout from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S

Advertisements
0

ASI tidak cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan lebih banyak ASI

Berikut ini adalah langkah-langkah yang saya sarankan untuk Ibu-ibu yang mengalami “kekurangan produksi ASI” (kenyataannya, sebagian besar Ibu memiliki banyak atau dapat memiliki banyak, tetapi masalahnya adalah bayi tidak mendapatkan ASI yang tersedia).

  1. Dapatkan sebisa mungkin perlekatan (latch on) yang terbaik. Hal ini perlu ditunjukkan oleh seseorang yang tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan (misal diawasi oleh konsultan laktasi, dokter, atau bidan). Seseorang inilah yang nantinya akan mengatakan pada Ibu bahwa pelekatan yang dibuat telah benar. Jika Ibu memproduksi cukup ASI, perlekatan yang sempurna tidak harus selalu terjadi. Tetapi, jika produksi ASI menurun, bayi akan mendapatkan lebih banyak ASI jika ia mampu melekat lebih baik. 
  2. Paham apakah bayi benar-benar mendapatkan ASI atau tidak. Ketika seorang bayi mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan/minum ASI hanya karena payudara Ibu berada dalam mulutnya dan melakukan gerakan seperti menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda pada suatu titik di dagunya setelah bayi membuka mulutnya maksimal dan sebelum dia menutup mulutnya (buka mulut lebar -jeda – menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk ketika bayi melakukannya pada payudara. Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya. Bayi yang hanya ngempeng (tidak minum) selama 20 jam akan terus melekat pada payudara.
  3. Ketika bayi tidak lagi minum dengan caranya sendiri, gunakan kompresi atau penekanan untuk meningkatkan aliran ASI ke bayi. Kompresi dapat membantu, tetapi jangan lupa usahakan terlebih dahulu untuk mendapatkan perlekatan terbaik. Bayi cenderung menarik diri dari payudara ketika aliran susu melambat, sehingga akan sangat berguna bagi Ibu tahu bagaimana mengenali sang bayi sesungguhnya telah mendapatkan (minum) ASI dan tidak hanya menghisap (ngempeng). Ketika bayi tampaknya tidak lagi menyusu dan hanya menghisap tanpa mendapatkan ASI, barulah kompresi dimulai. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi. Lihat artikel “Kompresi Payudara”.
  4. Ketika bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, berpindahlah ke payudara lain dan ulangi proses diatas. Teruskan perpindahan ke payudara lain lagi dan berpindah lagi hingga bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup dari payudara.
  5. Cobalah herbal fenugreek atau blessed thistle yang dapat meningkatkan produksi ASI dan melancarkan alirannya . Informasi mengenai hal ini dapat diperoleh dalam handout #24 buku “The Ultimate Breastfeeding Book of Answers”. (Cttn: untuk Indonesia, daun katuk dan daun singkong dipercaya mampu meningkatkan produksi ASI, namun demikian perlu diingat secara ilmiah belum banyak riset yang mendukung).
  6. Pada malam hari ketika biasanya bayi ingin menyusu lebih lama, usahakan Ibu mendapat posisi yang cukup nyaman  supaya Ibu dapat menyusui sembari berbaring. Biarkan bayi menyusu dan mungkin Ibu akan tertidur, atau nyalakan TV (atau film, misalnya) dan biarkan bayi menyusu sambil Ibu menikmati tayangan TV.
  7. Bukanlah hal yang mudah untuk menentukan apakah bayi benar-benar memerlukan suplemen. Terkadang dengan menerapkan protokol ini dalam beberapa hari saja, kenaikan berat badan sudah tampak. Terkadang pula pertumbuhan yang cepat diperlukan sehingga dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa memberikan suplemen. Jika mungkin, dapatkan ASI donor (atau dari bank ASI) sebagai suplemen. Jika tidak tersedia, penggunaan susu formula boleh jadi diperlukan. Namun demikian, terkadang pertumbuhan yang lambat namun pasti masih dapat diterima/ditolerir. Salah satu alasan utama mengapa kita perlu khawatir mengenai pertumbuhan adalah karena pertumbuhan yang baik merupakan tanda kesehatan yang baik pula. Bayi yang tumbuh dengan baik umumnya memiliki kondisi kesehatan yang baik., tetapi ini tidak pasti harus selalu begitu. Tidak berarti bayi yang pertumbuhannya lambat pasti kondisi kesehatannya jelek, tetapi dokter akan mengkhawatirkan bayi yang tumbuh lebih lambat dari rata-rata. Kurva pertumbuhan seringkali diterjemahkan secara keliru. Seorang bayi seharusnya berada diatas garis persentil 10. Banyak orang, termasuk dokter sendiri, percaya bahwa hanya bayi yang berada dalam persentil 50 atau lebih tumbuh normal. Hal ini tidak benar. Kurva pertumbuhan disusun berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari bayi-bayi normal. Seseorang harusnya lebih kecil dari 90% bayi-bayi yang lain. Seseorang itu normal.
  8. Jika akhirnya diputuskan untuk memberikan suplemen, cara terbaik adalah memberikan alat bantu laktasi (lactation aid). Perkenalkan suplemen tersebut menggunakan alat bantu laktasi, bukan botol, syringe, cangkir atau finger feeding. Lihat handout #5 Using a Lactation Aid. Berikan suplemen hanya setelah langkah ke-3 dan ke-4 diatas dilakukan dan bayi telah disusui pada kedua belah sisi payudara. Mengapa lebih baik kita menggunakan alat bantu laktasi.
    • Bayi belajar menyusu melalui proses menyusui itu sendiri
    • Ibu belajar menyusui melalui proses menyusui itu sendiri
    • Bayi tetap mendapatkan ASI
    • Bayi tidak akan menolak ASI
    • There is more to breastfeeding than the breastmilk
  9. Jika bayi berusia lebih dari 3 atau 4 bulan, dan suplemen tampaknya diperlukan, susu formula bukan solusinya. Kalori tambahan dapat diberikan dalam bentuk makanan padat. Makanan padat pertama tersebut termasuk: bubur pisang, bubur apokat, atau bubur kentang, sereal bayi sebanyak yang akan dimakan bayi, dan setelah bayi menyusui namun masih merasa lapar. Pada usia ini bahkan mungkin terjadi ketika bayi tidak mendapatkan ASI cukup akan berakibat dia menolak menyusu. Jika Ibu harus memberikan formula, campurlah dengan makanan padat. Memberikan makanan padat pada usia 3 atau 4 bulan manakala segalanya berjalan dengan baik, sangat tidak direkomendasikan. Bahkan ketika pertumbuhan berat badan lambat, masih terdapat berbagai cara yang dapat dicoba agar bayi mendapatkan lebih banyak ASI sebelum mendapatkan makanan padat. Makanan padat seharusnya dimulai ketika bayi mulai menunjukkan minat makan makanan padat (sekitar usia 5 sampai 6 bulan)
  10. Jika kenaikan berat badan bayi cukup baik pada bulan-bulan pertama namun sekarang tidak lagi menggembirakan, silahkan lihat artikel Pertumbuhan Berat Badan Bayi yang Melambat pada Bulan-bulan Pertama. Dalam artikel tersebut akan diberikan daftar alasan-alasan penurunan produksi ASI. Perbaiki selagi Ibu bisa, dan lalu lanjutkan protokol ini.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari

Jack Newman, 2005. Protocol to Increase breastmilk intake by the baby (“Not enough milk”) from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

2

Perlekatan Menyusu dan Berbagai Posisi Menyusui

Perlekatan menyusu (Latch on) adalah menempelnya mulut bayi di payudara ibu. Untuk itu diperlukan posisi yang memperhatikan letak tubuh bayi secara keseluruhan terhadap tubuh ibu. Hal ini akan sangat membantu bayi menelan ASI dengan mudah dan jumlah yang cukup, dan pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI sesuai kebutuhan bayi. Perlekatan yang benar juga menghindari luka pada puting, karena pada perlekatan yang benar, puting tidak akan bergesekan dengan langit-langit bayi yang keras, melainkan jatuh di tengah rongga tenggorokan bayi, sehingga tidak akan tergesek dan tidak akan luka. Oleh karena itu perlekatan menyusu dapat dikatakan adalah jantungnya proses menyusui.

Posisi yang Benar:

  1. Kepala dan leher bayi lurus (kepala bayi tidak menoleh)
  2. Perut bayi menempel dengan perut ibu
  3. Dagu bayi menempel di payudara ibu
  4. Daerah gelap di sekitar puting (aerola) masuk banyak ke mulut bayi, terutama yang terletak di bagian bibir bawah bayi
  5. Mulut bayi terbuka lebar

Terdapat berbagai posisi untuk menyusui namun posisi yang baik adalah dimana posisi kepala dan badan bayi berada pada garis yang lurus sehingga bayi dapat menyusui dengan nyaman. Selain itu posisi ibu pun harus nyaman. Cara menyusui yang benar adalah :

  1. Cobalah untuk menyangga punggung, bahu, dan leher bayi. Bayi sebaiknya dapat menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang dengan mudah. Hindari mendorong kepala bayi.
  2. Letakkan bayi dengan posisi hidungnya sejajar dengan puting sehingga bayi akan melekat sempurna dengan payudara
  3. Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar dengan lidah di bawah, ibu dapat mengajari bayi membuka mulut lebar dengan cara:
    • arahkan bayi menuju bayi menuju payudara, sentuhlah bibir atas bayi pada puting
    • pelan-pelan mundurkan mulut bayi
    • Sentuhkan kembali bibir atas bayi pada puting, mundurkan kembali mulut bayi
    • Ulangi hingga bayi membuka mulut lebar-lebar dan lidahnya maju
    • Atau sentuhkan puting sepanjang bibir atas bayi mulai dari satu sudut ke suduh lain hingga bayi membuka mulut lebar-lebar.
  4. Bayi akan membuka mulutnya lebar untuk mencakup puting dan lingkaran gelap di sekitar puting, puting ibu sebaiknya berada pada langit-langit mulut bayi
  5. Untuk merangsang bayi melepaskan mulutnya dari puting, dengan lembut letakkan ujung jari ibu pada sudut mulut bayi dan bayi akan secara otomatis membuka mulutnya. Jangan menarik secara paksa karena akan menimbulkan luka pada puttng

Berbagai Posisi Menyusui:

  1. Cross cradle/ posisi menyilang: cara yang kebanyakan dipakai, kepala bayi di lengan bawah ibu (bukan di lipat siku), tubuh bayi menyilang di depan tubuh ibu. Perut bayi menempel di perut ibu (bayi menghadap tubuh ibu, bukan menghadap ke atas).
  2. Football position/clutch position: posisi bayi ke arah belakang tubuh ibu, kepala bayi di lengan bawah ibu, lengan ibu menyangga kepala dan leher bayi. Posisi ini biasanya digunakan oleh Ibu yang baru saja melahirkan dengan cara operasi caesar atau pada Ibu yang berpayudara besar
  3. Posisi berbaring: posisi menyusui sambil tiduran, sangat bermanfaat untuk menyusui di malam hari, atau kondisi ibu yang mengharuskan ibu tetap berbaring (misal setelah operasi caesar). Tetap pastikan tubuh bayi menghadap tubuh ibu, kepala leher lurus, dan bayi sedikit mendongak ke atas (jangan meletakkan bayi terlalu tinggi, krn akan menunduk untuk mencapai payudara dan hal ini menyulitkan bayi menelan ASI).

Selalu pastikan perlekatan dan posisi menyusu benar, untuk mencegah luka di puting, dan memastikan bayi menelan ASI dengan mudah.

Gambar 1. Latch On yang benar

Gambar 2. Posisi Menyusui yang Benar

Gambar 3. Berbagai posisi menyusui

Referensi: