0

ALERGI

PENGERTIAN

  • Alergi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan respon sistim imun (sistim kekebalan) yang tidak tepat atau berbahaya terhadap suatu zat (substance) terutama protein yang masuk tubuh. Respon imun tersebut akan memunculkan gejala dan atau tanda yang merugikan/mengganggu mulai dari derajat ringan sampai berat. Alergi bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan fitur genetik tubuh manusia, yaitu apakah manusia memiliki fitur alergi atau tidak. Dengan kata lain alergi adalah reaksi imun terhadap sesuatu yang mana pada sebagian besar orang tidak terjadi.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIK

  • Dalam alergi dikenal istilah atopi yaitu  seseorang yang memiliki fitur genetik untuk membentuk antibodi IgE terhadap paparan allergen. Rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi merupakan manifestasi yang paling sering dari atopi. Meskipun begitu atopi juga bisa tidak bergejala. Karena alergi merupakan fitur genetik maka ia dapat diturunkan. Berikut adalah gambar kemungkinan alergi diturunkan dari orangtua
Bagaimana Alergi Diturunkan

Bagaimana Alergi Diturunkan

Induksi dari atopi (munculnya atopi, red) tergantung dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan atopi ini akan bermanifestasi menjadi suatu gejala/penyakit dipengaruhi oleh kelainan pada organ dan adanya pencetus. (trigger)  Gambar berikut menerangkan hal ini

Bagaimana Alergi Terjadi

Bagaimana Alergi Terjadi

BAHAN-BAHAN YANG MENYEBABKAN ALERGI

Pada prinsipnya semua benda bisa menyebabkan alergi atau bersifat allergen. Akan tetapi yang paling sering menyebabkan alergi adalah sebagai berikut:

  1. Alergen hirupan: tungau debu rumah (house dust mite), tepung sari (pollen), binatang, spora jamur.
  2. Alergen makanan:
    • Telur, susu sapi, kedelai, terigu/gandum (untuk anak dibawah 3 tahun)
    • Kacang, ikan, udang (untuk anak diatas 3 tahun)
  3. Alergen injeksi: obat, racun serangg
  4. Alergen kontak: obat, makanan, bahan pakaian.

Alergen makanan biasanya terkait dengan gangguan saluran cerna tetapi juga bisa bermanifestasi pada kulit. Manifestasi pada saluran napas (terutama pilek) lebih sering disebabkan alergen hirupan.

MEKANISME ALERGI

Berikut adalah pembagian reaksi hipersensitivitas Gell & Coombs  yang masih sering dipakai walaupun dianggap terlalu menyederhanakan;

  • Tipe-I: hipersensitif anafilaktif
    • IgE pada sel Mast mengikat Antigen bebas
    • Tipe-II: hipersensitif sitotoksik
      • Antigen pd Membran bereaksi dg Antibodi bebas
      • Tipe-III: hipersensitif kompleks imun
        • Kompleks imun Ag-Ab & aktivasi Komplemen
        • Tipe-IV: hipersensitif cell mediated (tipe lambat)
          • Sel Limfosit tersensitisasi bereaksi dg Antigen.

Mekanisme AlergiMekanisme alergi dimulai dari masuknya allergen kedalam tubuh (dihirup, dimakan, kontak dengan kulit). Atas kehadiran allergen, sel limfosit B bereaksi dengan membentuk Ig E yang spesifik terhadap allergen tersebut. Ig E yang dibentuk beredar didalam darah akan menempel pada bermacam2 sel, salah satunya adalah sel mast. Paparan berikutnya, bila ada alergen yang sama akan  menempel pada IgE yang ada pada permukaan sel mast, yang kemudian sel mast  pecah mengeluarkan berbagai molekul (a.l histamin) yang menyebabkan radang (inflamasi). Radang oleh reaksi alergi paling sering pada hidung (rhinitis), paru (asma) dan kulit (dermatitis).

MANIFESTASI ALLERGI

Seseorang yang memiliki fitur/konstitusi alergi memiliki risiko untuk berkembang menjadi beberapa penyakit alergi. Akan tetapi kapan muncul dan jenis penyakit alerginya tidak bisa diprediksi. Manifestasi klinis penyakit meliputi banyak organ.

Perjalanan manifestasi alergi paling awal muncul pada biasanya adalah gambaran alergi pada kulit bayi (gambaran kemeran kasar pada muka) dan alergi makanan.

dermatitis atopi

Manifestasi Alergi – Dermatitis Atopi

angioderma

Manifestasi Alergi – Angiodema

urtikaria

Manifestasi Alergi – Urtikaria/Biduran

DIAGNOSIS ALERGI

Diagnosis alergi terutama ditegakkan dengan mempelajari gambaran klinis penyakit dan riwayat paparan alergen.  Gambaran klinis penyakit yang berulang dan disertai dengan paparan allergen yang sama akan sangat mendukung dugaan manifestasi alergi. Uji kulit dan IgE spesifik serum merupakan pemeriksaan penunjang disarankan, sedangkan beberapa uji yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

allergy lb test

Allergy Laboratory Test

PENATALAKSANAAN ALERGI

Menghindari Alergen (Avoidance)

Menghindari allergen merupakan upaya utama untuk menghindari bagaimana para penderita alergi dapat bebas/mengurangi gejala klinis alergi. Meskipun terlihat mudah, akan tetapi pelaksanaanya tidak sederhana. Apalagi bila terkait kebutuhan nutrisi anak. Alergen dari binatang dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk hilang dari ruangan setelah binatang tersebut tidak ada. Tidak ada satu tindakan penghindaran dari allergen yang efektif akan tetapi lebih pada tindakan komprehensif.

Farmakoterapi

Obat-obatan pada penanganan alergi berguna untuk mencegah munculnya gejala/tanda alergi dan atau meredakan. Beberapa obat untuk meredakan manifestasi penyakit alergi menjadi mutlak harus segera diberikan (misal pada anafilaksis dan serangan asma) oleh karena dapat mengancam nyawa.

Imunoterapi

Imuunoterapi adalah satu-satunya penanganan kuratif untuk alergi pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup lama dan harus memperhatikan manfaat dan keruganya.

Pencegahan

Pencegahan meliputi:

  • Primer: bayi dengan risiko tinggi alergi dan belum mengalami sensitisasi. Dengan cara pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, (tidak perlu pantang makan bagi ubu hamil), susu hidrolisat parsial, menghindari rokok, polusi udara
  • Sekunder: bayi yang sudah mengalami sensitisasi namun belum mengalami gejala atau mencegah perkembangan manifestasi alergi (alergi march). Misalnya pada bayi dengan dermatitis atopi pencegahan sekunder dengan menghindari allergen untuk manifestasi asma.
  • Tersier: bayi yang sudah mengalami gejala atau sudah terdiagnosis alergi. Misalnya pada alergi susu sapi yang tidak memungkinkan asi dapat diberikan  susu hidrolisat, formula asam amino atau formula kedelai

Beberapa hal tidak spesifik yang dapat mendukung respon alami (mengurangi resiko alergi)

  • Tinggal di daerah pertanian/perkebunan
  • Penggunaan probiotik
  • Konsumsi buah dan sayur segar
  • Konsumsi susu segar
  • Olah raga/aktifitas outdoor
  • Penggunaan makanan yang difermentasi bakteri

Edukasi

Satu yang sangat penting dalam penanganan penyakit terutama penyakit kronik adalah pemahaman pasien dan keluarga akan penyakit/kelainan yang diderita.

Daftar pustaka:

  1. Toit, G.D, Meyer, R., dkk, 2010, “Identifying and managing cow’s milk protein allergy”, Arch Dis Child Educ Pract Ed 95: 134-144
  2. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: First of two parts” N Engl J Med 344 (1): 30-36
  3. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: Allergic Diseases and Their Treatment, N Engl J Med 344 (2): 109-113
  4. Caffarelli, C., Baldi, F., dkk, 2010, “Cow’s Milk Protein Allergy in Children: A Practical Guide”, Journal of Pediatrics 36 (5)
  5. Koletzko, S., Niggeman B, dkk, 2012, “Diagnostic Approach and Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants and Children: ESPGHAN GI Committee Practical Guidelines”, JPGN 55(2): 221-229
  6. Hugo, Van Bever, 2009, “Allergic Diseases in Children: The Science, the Superstition, and the Stories, World Scientific

Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

Advertisements
0

Demam Tifoid

PENDAHULUAN

Demam tifoid atau dikenal juga sebagai demam enterik merupakan penyakit sistemik berat yang ditandai dengan demam dan gejala saluran cerna. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya dimana higiene dan sanitasinya masih kurang. Indonesia termasuk salah satu negara dengan prevalensi tinggi, lebih dari 100 kejadian per 100000 penduduk. Prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3 – 19 tahun. Kejadian meningkat setelah umur 5 tahun.

 EPIDEMIOLOGI

Faktor risiko seseorang terkena demam tifoid terkait dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan, termasuk didalamnya mengkonsumsi makanan diluar rumah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, 80% penderitanya memiliki riwayat bepergian di negara dengan endemic typhoid.

Gambar 1. Epidemiologi Tifoid

 PENYEBAB

Sekitar 80-90% persen demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi, sedangkan sisanya oleh Salmonella paratyphi A, B, atau C. Kuman tersebut masuk dalam kelompok enterobacteriacea.

 GEJALA DAN TANDA

Gambaran klasik demam tifoid jika tidak mendapat pengobatan:

Minggu pertama panas bertahap naik, minggu kedua gangguan saluran cerna dan ras pada perut dan minggu ketiga pembesaran hati, pembesran limpa, perdarahan saluran cerna dan kebocoran usus. Bila dirinci gejala/tanda yang dapat muncul sebagai berikut

  • Demam (fever), ditandai panas bertahap naik. Puncak panas terutama setelah 1 minggu, dan akan tetap tinggi pada minggu berikutnya.
  • Nyeri kepala (headache)
  • Mual (nausea)
  • Diare, biasanya tidak berat (terutama pada bayi dan balita)
  • Muntah (vomiting)
  • Konstipasi (terutama pada anak besar dan dewasa)
  • Batuk
  • Nyeri tekan perut (abdominal tenderness)
  • Pembesaran limpa (spleenomegaly) dan pembesaran hati (hepatomegaly)

Gejala dan tanda tersebut dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan terutama antibiotika. Seringkali kecurigaan tifoid baru didapat setelah panas 1 minggu atau memasuki periode status (status periode) dimana gejala dan tandanya lebih khas/jelas

 

 Gambar 2. Frekuensi kemunculan gejala dan penampakan fisik pada pasien demam enteric

 

 Gambar 3. Perjalanan demam tifoid

 DIAGNOSIS

Diagnosis dibuat berdasarkan tanda dan gejala klinis serta faktor risiko yang ada. Kadangkala gejala klinis tidak khas akibat telah dilakukan intervensi sebelumnya. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemeriksaan penunjang:

  1. Hitung darah lengkap dapat ditemukan leucopenia, anemia, trombositopenia dan lymphositosis relative.
  2. Tes Felix-Widal. Merupakan tes yang paling banyak digunakan. Dikerjakan dengan pengenceran ganda serum pada tabung untuk mengukur level agglitunasi antibody terhadap antigen O dan H. Biasanya antibodi terhadap antigen O meningkat pada hari 6-8 sedangkan antibody terhadap antigen H pada hari 10-12 sesudah onset penyakit.  Tes Widal tidak cukup sensitif dan spesifik. Kira-kira sekitar 30% tes widal negatif pada pasien dengan demam tifoid. Sedangkan Widal positif belum tentu menunjukan adanya infeksi oleh salmonella typhy dikarenakan antigen O dan H tersebut bisa saling bertukar dengan kuman salmonella yang lain dan dapat juga bereaksi silang dengan Enterobacteriacae yang lain. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah nilai batas normal untuk daerah endemic seringkali tidak ada data. Sehingga sampai saat ini penggunaan tes Widal masih dalam perdebatan.
  3. Kultur kuman. Merupakan tes baku untuk mendiagnosis suatu infeksi, akan tetapi pelaksanaanya cukup sulit, lama dan hasilnya seringkali tidak sesuai yang diharapkan. Kendala tersebut terkait dengan pengobatan yang sudah diberikan, perjalanan penyakit, pengambilan dan pengiriman sampel, dll.
  4. Beberapa tes baru dan manfaatnya
  • Tes IDL Tubex® (dibuat di Swedia). Dapat mendeteksi IgM anti tifoid dalam beberapa menit.
  • Typhidot ®, (dibuat di Malaysia) perlu beberapa jam untuk pengerjaannya. Versi lama mendeteksi IgM dan IgG. Sedangkan versi baru dapat mendeteksi Ig M.
  • IgM dipstick test. Tes cepat untuk mendeteksi IgM

Ketiga tes diatas lebih sensitif dan spesifik dibanding tes Widal, akan tetapi tidak dapat mendeteksi paratipus serta harganya jelas lebih mahal.

Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan hasil kultur. Diagnosis berdasarkan klinis dan laboratorium penunjang merupakan diagnosis kerja yang sudah dapat digunakan untuk memulai terapi.

 Definisi kasus berdasar WHO:

  • Konfirmasi diagnosis (Confirmed case of typhoid  fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan kultur positif salmonella typhi. Bahan kultur darah, sumsum tulang, cairan tubuh.
  • Curiga tifoid (Probable case of typhoid fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan uji serology  atau antigen positif.
  • Pembawa/penular  kuman tifoid (Chronic carrier), ekskresi kuman tifoid pada feses atau urine lebih dari satu tahun sesudah onset akut demam tifoid.

 PENANGANAN

  1. Antibiotika: terapi utama demam tifoid adalah pemberian antibiotika, antara lain: Klorampenikol, Amoksilin, Kotrimoksazol, Seftriakson, Sefiksim dan Ciprofloxacin.
  2. Suportif
    • Kecukupan cairan, elektrolit dan nutrisi
    • Diet rendah serat dan mudah dicerna
    • Obat penurun panas
    • Tirah baring
  3. Penanganan komplikasi

 

INDIKASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT

Demam tifoid dengan komplikasi/penyulit atau bila dipertimbangkan perawatan dirumah oleh keluarga tidak adekuat. Komplikasi yang bisa terjadi: dehidrasi, perdarahan saluran cerna, perforasi usus, hepatisis tifosa, meningitis, pneumonia, pyelonephritis, endokarditis dll.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Sebagian besar penularan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (kurang bersih) maka pencegahan terutama penyediaan air bersih dan penyajian/pengelolaan makanan yang sehat serta sanitasi lingkungan. Bagi mereka yang berisiko sakit (anak-anak) atau sumber penular (mereka yang terkait dengan penyajian makanan) sangat dianjurkan pemberian vaksin.

Vaksin yang tersedia saat ini:

 A. Oral Typhoid Vaccine (Ty21A) : vaksin hidup

            B. Parenteral Inactivated Typhoid Vaccine: mati, subkutan

            C. Typhoid Vi Capsular Polysaccharide Vaccine: IM

 KESALAHAN UMUM

  1. Mendiagnosis demam tifoid hanya berdasarkan hasil laboratorium terutama Widat test tanpa mempertimbangan klinis pasien.
  2. Menyebut gejala tifus pada pasien yang panas padahal tidak ada data klinis atau laboratorium yang mengarah ke demam tifoid.
  3. Memaksa anak makan bubur halus, padahal yang terpenting adalah diet bebas serat.
  4. Memeriksa Widal pada semua pasien panas meski klinis tidak ada kecurigaan demam tifoid.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vollaard Am; Ali S; Van Asten Ha; Widjaja S; Visser Lg; Surjadi C; Van Dissel Jt, 2004, Risk Factors For Typhoid And Paratyphoid Fever In Jakarta, Indonesia. JAMA 2;291(21):2607-15.
  2. Parry Cm; Hien Tt; Dougan G; White Nj; Farrar Jj, 2002, Typhoid Fever, N Engl J Med Nov 28;347(22):1770-82.
  3. WHO, 2003, Background Document: The Diagnosis, Treatment And Prevention of Typhoid Fever, Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals
  4. Donald E, 2004, Typhoid Fever, Deadly Diseases And Epidemics, Infobase Publishing,
  5. Kliegman Rm, Stanton Bf, Schor Nf, Geme Jw Dan Berhman Re (Editor), Nelson, 2011, Textbook Of Pediatric, 19th.
  6. Mandell, Douglas, And Bennett’s (Editor), 2010, Principles And Practice Of Infectious Diseases, Elsevier Inc

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

0

Bolehkah Ibu Menyusui Berdiet?

Pertanyaan ini kerapkali diajukan Ibu menyusui karena disatu sisi mereka merasa kurang nyaman dengan berat badan pasca melahirkan, namun disisi lain khawatir diet akan mengganggu produksi dan atau komposisi ASI.

Ibu menyusui BOLEH menurunkan berat badan dengan aman jika mengikuti enam aturan dasar berikut1:  .

  1. Tunggu hingga bayi berusia 2 bulan. Selama dua bulan pertama, jangan batasi asupi kalori untuk mengurangi resiko negatifnya. Tunggu hingga Ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan biarkan tubuh Ibu bekerja secara alami mengatur dirinya sendiri hingga terbentuk produksi ASI yang sehat. Menyusui bayi membakar sekitar 200-500 kalori per hari — Jadi perlu diingat, dengan pola makan seperti biasa Ibu membakar lebih banyak kalori tanpa perlu program khusus menurunkan berat badan
  2. Terus menyusui tanpa batasan. Penelitian menunjukkan semakin sering menyusui dan menyusui lebih dari 6 bulan terbukti mampu menurunkan berat badan pasca melahirkan
  3. Makan minimal sebanyak 1500 – 1800 kalori per hari. Selama menyusui Ibu tidak disarankan makan kurang dari 1500-1800 kalori per hari. Beberapa Ibu memerlukan lebih banyak kalori dari kisaran ini tetapi kurang dari 1500 kalori cukup beresiko
  4. Usahakan penurunan berat badan kurang dari 750 gram per minggu1 (atau 450 gram per minggu2). Sebagian besar Ibu dapat menurunkan berat badannya sekitar 750 gram (1.5 pounds) per minggu atau 3 kg per bulan pada bulan kedua dan tidak berpengaruh baik pada produksi ASI maupun kesehatan/pertumbuhan bayinya. Salah satu studi pada Ibu-ibu yang berdiet selama 11 hari menunjukkan penurunan berat badan jangka pendek sebanyak 1 kg dalam 1 minggu tidak berpengaruh apa-apa
  5. Kurangi asupan kalori secara bertahap. Pengurangan kalori secara mendadak akan menurunkan produksi ASI. Beberapa Ibu melaporkan hal ini terjadi manakala mereka sakit walaupun bisa jadi dehidrasi dan atau penggunaan obat-obatan juga bisa menjadi salah satu faktor menurunnya produksi ASI ketika Ibu sakit
  6. Hindari Diet Instan. Ibu menyusui tidak disarankan berdiet dengan cara mengkonsumsi minuman khusus diet, obat-obatan penurun berat badan, atau melakukan diet rendah karbohidrat dan rendah lemah, serta diet-diet instan lainnya

Apa yang terjadi jika Ibu menyusui mengalami penurunan berat badan yang drastis?

  • Dalam banyak kasus, bukan ASI (baik produksi maupun komposisi) yang terpengaruh tetapi nutrisi Ibu dan atau kesehatannyalah yang merasakan efek negatifnya.
  • Diet yang berlebihan dapat menurunkan produksi ASI. Ibu yang malnutrisi akan kekurangan vitamin A, D, B6 dan B12 dalam ASInya sehingga beresiko produksi ASI terganggu2.
  • Berdasarkan Breastfeeding and Human Lactation (3rd Edition, Riordan, halaman 440), perlu diperhatikan bahwa program penurunan berat badan yang cepat akibat asupan kalori dibatasi ketat sebaiknya dihindari karena kontaminan dari racun (misal racun lingkungan seperti pestisida) yang tersimpan dalam lemak tubuh akan dilepaskan ke dalam aliran darah, akibatnya kandungan racun dalam ASI. Hal ini juga akan menurunkan produksi ASI. Penulis1 memperkirakan yang dimaksud dengan ketat disini adalah dibawah 1500 kalori.


Tips untuk menurunkan berat badan
(terlepas apakah Ibu menyusui atau tidak)

  1. Lakukan perubahan diet makan. Kurangi asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, tetap konsumsi protein dalam jumlah cukup untuk mencegah penurunan massa otot (asupan protein yang disarankan bagi Ibu menyusui berkisar 65 gram/hari selama 6 bulan pertama dan 62 gram/hari untuk 6-12 bulan)
  2. Makan dalam porsi kecil tapi sering. Alihkan frekuensi makan 2-3 kali sehari menjadi 3 kali makan dengan porsi kecil dan cemilan sehat diantaranya.
  3. Olahraga. Dengan berolahraga Ibu akan membakar lebih banyak lemak sembari mempertahankan massa otot.

Bagi yang memerlukan daftar kalori makanan bisa menuju link berikut http://rudy-infokesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-kalori-makanan.html

Selamat Berdiet Sehat! 🙂 

 Referensi

  1. http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-weightloss.html
  2. http://www.llli.org/faq/lowcarb.html
0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‘rasa’ dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‘berlebih’ 🙂 )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf