0

Kesalahpahaman Umum Dalam Menyusui (Produksi ASI)

    Jika Ibu menyusui bayi secara eksklusif dan berat badan bayi normal sudah jelas produksi atau persediaan ASI Ibu lebih dari cukup. Setiap satu kali persusuan, bayi hanya mengambil kurang lebih 75% ASI dalam payudara. Berarti, lebih banyak ASI yang tersedia daripada yang diperlukan Ibu. Namun demikian, banyak Ibu yang masih saja merasa khawatir. Mengapa? Kekhawatiran Ibu tentang produksi ASI mereka seringkali merefleksikan kebingungan tentang bagaimana proses menyusui yang normal. Ada dua kategori yang biasanya menjadi sumber kekhawatiran Ibu, yang berasal dari bayi dan dari Ibu sendiri.

Faktor dari Bayi

Karena saat ini banyak Ibu yang sedikit terpapar (menyaksikan/mengamati) proses menyusui yang normal, para Ibu seringkali salah mengartikan perilaku bayi seperti di bawah ini sebagai  tanda ASI mereka tidak cukup:

  • Bayi tampaknya lebih cepat lapar dari harapan mereka (sesuaikan harapan Ibu)
  • Bayi lebih sering menyusu dan dan/atau lebih lama menyusunya (hal yang normal pada saat growth spurts).
  • Bayi tiba-tiba menyusu dalam waktu yang lebih pendek (bayi semakin pintar)
  • Bayi rewel (hampir semua bayi – tidak peduli bagaimana mereka diberi makan/susu – memiliki fase rewel seperti tumbuh gigi, kolik, dan lain-lain)

     Untuk mengetahui apakah produksi ASI mereka cukup, beberapa Ibu terkadang mengujinya dengan memberikan ASI melalui botol. Dalam benak mereka, jika bayi bersedia minum dari botol berarti produksi ASI mereka berkurang. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bayi akan tetap minum dari botol walaupun ia sudah cukup minum ASI. Hal ini dikarenakan aliran dari dot botol yang lebih lancar. Tindakan ini justru membuat bayi kelebihan ‘makan’ (overfed).

Faktor dari Ibu sendiri

     Ibu juga merasa khawatir produksi ASInya tidak cukup manakala mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Padahal, perlu diingat, hal ini merupakan petunjuk yang salah:

  • Payudara tampaknya menjadi lebih lunak
  • ASI jarang merembes (faktanya beberapa Ibu bahkan tidak pernah menetes sama sekali, yang lain berhenti merembes dengan sendirinya).
  • Tidak merasakan aliran ASI atau adanya let down reflex (hal ini dapat terjadi tanpa disadari).
  • Tidak dapat memerah ASI yang cukup (Memerah ASI merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari bukan untuk menguji cukup tidaknya produksi ASI).

Strategi yang Kontraproduktif

   Akibat kesalahpahaman diatas muncul beberapa strategi atau tips yang direkomendasikan buat para Ibu. Sayangnya strategi ini justru kontraproduktif, contohnya:

  • Menunggu payudara terisi penuh sebelum disusukan (payudara yang penuh justru membuat produksi ASI melambat)
  • Jadwal menyusui yang seragam atau One-size-fits-all (karena payudara dapat berbeda kapasitasnya – besar atau kecil – berarti ritme menyusui yang sama tidak berlaku untuk semua Ibu dan bayinya)
  • Mengukur produksi ASI dengan cara memerah atau memompanya bukannya langsung disusukan (memerah ASI sekali lagi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari. Selain itu tim Hartmann menemukan 10 persen Ibu yang bayinya menyusu dengan sangat baik bahkan tidak dapat memerah ASInya sendiri dengan efektif [Mitoulas, dkk, 2002])

Apa Saja Yang Dipikir Dapat Mempengaruhi Produksi ASI (Padahal Sebenarnya Tidak)

      Kesalahpahaman mengenai produksi ASI tidak hanya menimpa Ibu-ibu, tetapi juga para profesional kesehatan. Ketika para Ibu menyusui meminta nasehat apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI, berikut nasehat yang biasanya diberikan:

  • Minum lebih banyak cairan
  • Makan makanan yang lebih bergizi
  • Lebih banyak istirahat

        Kecuali dalam kondisi ekstrim, saran diatas terbukti hanya sedikit atau sama sekali tidak berpengaruh pada persediaan ASI.

Minum Lebih Banyak Cairan. Saran ini biasanya respon pertama ketika Ibu berniat meningkatkan persediaan ASInya. Hal ini masuk akal mengingat Ibu kehilangan cairan melalui ASI yang disedot sekitar 1 liter per hari. Namun demikian, riset membuktikan tidak ada hubungan antara asupan cairan dengan supply ASI. Bahkan, salah satu studi menemukan ketika Ibu di’paksa’ minum cairan lebih banyak justru produksi ASI mereka menurun! (Dusdieker, dkk, 1985). Jadi sejauh ini rekomendasi buat para Ibu menyusui adalah minum ketika haus

Makan Makanan yang Bergizi Seimbang (Diet Lebih Baik). Tentu saja bagus buat para Ibu menyusui makan dengan gizi seimbang atau memiliki pola diet yang baik. Jika Ibu makan dengan baik, dia akan merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi dan ketahanan terhadap penyakit. Hal ini memang sebaiknya dilakukan para Ibu menyusui (dan siapapun). Namun, makan dengan gizi seimbang tidak sama dengan meningkatkan produksi ASI. Tubuh Ibu sendiri sudah diciptakan untuk melayani bayinya dahulu baru sang Ibu. Penelitian di negara berkembang menunjukkan setelah tiga minggu atau lebih terpapar kondisi serba kekurangan (kelaparan misalnya) barulah kuantitas atau kualitas ASI terpengaruh (Prentice, dkk, 1983). Sedangkan di negara-negara maju, memperbaiki pola diet Ibu juga memiliki pengaruh yang sedikit atau tidak sama sekali kecuali pada Ibu yang kondisinya sangat miskin atau memiliki kelainan pola makan.


 Lebih Banyak Istirahat. Sama halnya dengan pola diet seimbang, istirahat yang cukup menjadi nilai tambah bagi energi dan ketahanan terhadap penyakit, tetapi tidak ada hubungan antara lama istirahat dengan produksi ASI.

      Banyak diantara para Ibu mengira dengan melakukan tiga hal diatas telah melakukan segalanya untuk meningkatkan produksi ASI. Akibatnya, ketika usaha tersebut tidak membuahkan hasil, mereka menyerah dan mulailah berganti ke susu formula. Kerugian lainnya adalah Ibu-ibu ini telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki nutrisi dan istirahat mereka yang jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki teknik menyusui mereka dan meningkatkan frekuensi penyusuan.

Disarikan oleh Auditya dari:

Nancy Mohrbacher, IBCLC & Kathleen Kendall-Tackett, PhD, IBCLC., 2005.  Common Misconception – Meeting Your Long-Term Breastfeeding, pp 131-134 “Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers”, New Harbinger Publication, Canada

Dengan tambahan referensi

  • Dusdieker LB, dkk, 1985. Effect of supplemental fluids on human milk production. Journal of Pediatrics Feb;106(2):207-11.
  • Mitoulas, L, dkk. 2002. Efficacy of breast milk expression using an electric breast pump. Journal of Human Lactation. 18:344-351
  • Prentice, dkk. 1983. Dietary of Supplemental Lactating Gambian Women. Effect in breast milk volume and quality. Human Nutrition: Clinical Nutrition 37C:53-64
Advertisements
0

Mogok Menyusu (Nursing Strikes)


Ibu pernah mengalami si buah hati yang selama ini full diberi ASI tiba-tiba tidak mau menyusu? Jika si kecil usianya kurang dari satu tahun dan belum banyak asupan makanan padat atau minum dari cangkir (gelas), tampaknya bayi Ibu mengalami apa yang disebut mogok menyusu (nursing strikes). Menghadapi bayi yang tiba-tiba mogok ini, Ibu tidak perlu panik. Langkah pertama, tetaplah bersikap tenang, lalu kenali penyebabnya agar lebih mudah mencari solusinya. Beberapa penyebab umum bayi menolak menyusu adalah

  • Rasa nyeri karena mau tumbuh gigi, adanya luka, infeksi jamur
  • Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit ketika menyusu
  • Rasa sakit akibat posisi badan ketika menyusu, mungkin karena imunisasi atau luka di badan
  • Bayi terlalu sering diberi botol, empeng atau sering menghisap jempol yang biasanya diikuti penurunan produksi ASI
  • Gangguan selama menyusui
  • Si kecil cukup lama berpisah dari Ibu

 Perlu disadari, beberapa tindakan/perilaku Ibu juga ber’peran’ membuat si kecil mogok, diantaranya:

  • Reaksi kaget (yang berlebihan misal berteriak) akibat gigitan si kecil
  • Perubahan rutinitas (misal pindah rumah, bepergian)
  • Membatasi atau terlalu berpatokan pada jadwal menyusui
  • Stimulasi yang berlebihan, stres, atau tekanan pada Ibu
  • Berulangkali melepaskan diri ketika si kecil ingin menyusu atau membiarkan si kecil menangis
  • Walaupun kurang umum, sensitivitas si kecil terhadap makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi Ibu ataupun yang ia konsumsi sendiri (termasuk suplemen vitamin, mineral, produk-produk olahan dari susu sapi, kafein) dapat menyebabkan mogok menyusu. Hal ini berlaku pula bila puting Ibu dioleskan semacam krim yang mengubah rasa ASI. Bahkan bau badan Ibu yang berubah mungkin karena penggunaan produk semacam shampo, parfum, sabun cuci baju, bisa menjadi faktor penyebab pula.

Apapun penyebabnya, masalah ini sungguh tidak mengenakkan baik buat si Ibu maupun bayinya. Bayi menjadi rewel dan tidak happy sedangkan sang Ibu umumnya merasa sangat sedih dan khawatir. Ibu juga merasa bersalah dan bahkan frustasi karena beranggapan jangan-jangan dia telah melakukan hal yang salah atau tidak semestinya.

Bagaimana agar bayi mau kembali menyusu? Kunci utamanya adalah sabar dan telaten. Tindakan berikut dapat membantu mengatasi mogok menyusu:

  1. Cobalah susui si kecil saat ia mengantuk atau menjelang tidur. Banyak bayi yang menolak menyusu ketika keadaan bangun akan kembali menyusu saat mengantuk
  2. Coba beberapa variasi posisi menyusui. Terkadang menyusui sambil berbaring juga membantu
  3. Susuilah si kecil sambil diayun atau berjalan-jalan.
  4. Pilihlah tempat menyusui yang bebas gangguan. Beberapa bayi khususnya yang berusia 3 bulan ke atas mudah terganggu. Matikan radio, tv atau redupkan lampu ruangan akan membantu anak mau menyusu.
  5. Berikan perhatian ekstra utk si kecil dan lakukan lebih banyak skin-to-skin contact. Sering mengelus anak akan membuat ibu dan anak nyaman.
  6. Sering-seringlah menggendong si kecil dengan sling atau carrier diantara waktu menyusu juga dapat membantu.

      Selama Ibu berusaha membujuk anak yang mogok, Ibu perlu menjaga produksi ASI dengan cara memerasnya atau memompanya. Hal ini akan mengurangi resiko pembengkakan dan saluran tersumbat (engorgement, mastitis) selain menjaga produksi ASI tetap optimal saat nanti anak berhenti dari mogoknya. Agar nutrisi bayi terpenuhi, ASI yang diperah diberikan pada si kecil. Pemberian dengan botol amat tidak disarankan selama masa mogok ini. Lihat artikel pemberian ASI perah (ASIP) untuk cara pemberian yang disarankan. Ibu perlu juga memperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika si kecil pipis sebanyak 6-8 kali selama 24 jam, maka asupan cairan yang diperolehnya dikatakan cukup.

Referensi

0

Persiapan Pemberian ASI Perahan (ASIP) Bagi Ibu Bekerja

Bisakah saya tetap memberikan ASI eksklusif jika kembali bekerja nanti? Pertanyaan ini kerap menjadi kekhawatiran para Ibu bekerja (working moms) khususnya di Indonesia karena cuti melahirkan hanya berlaku maksimal 3 bulan.
Jawabannya: tentu saja, BISA! Ibu tetap bisa memberikan ASI eksklusif ketika kembali bekerja dengan memberikan ASI perahan (ASIP) kepada buah hatinya sebagai gantinya. Dengan motivasi kuat, kesungguhan, ketekunan dan komitmen penuh, Ibu bisa sukses menyusui 6 bulan tanpa susu formula bahkan 2 tahun tanpa susu formula. Untuk itu, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh Ibu jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir.
  1. Tanamkan rasa percaya bahwa si kecil akan baik-baik saja di rumah. Selain itu niatkan sungguh-sungguh untuk memberikan ASIP, tidak memikirkan susu formula sebagai alternatif, dan hanya ASI sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi sampai usia 6 bulan. Keteguhan hati dan motivasi tinggi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
  2. Lakukan persiapan fisik seperti istirahat yang cukup, gizi baik, minum banyak cairan, makan buah dan sayur, dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu mendesak untuk dilakukan.
  3. Belajar memerah ASI dengan tangan. Meskipun Ibu berencana memerah ASI dengan pompa, belajar memerah dengan tangan memiliki banyak keunggulan (lihat penjelasan selanjutnya).
  4. Mulailah menyiapkan tempat penyimpanan yaitu:
  • Kulkas, jika memungkinkan yang 2 pintu dengan freezer terpisah.
  • Tempat/wadah ASIP, disarankan menggunakan botol kaca karena bisa dipakai ulang, aman dipanaskan dan dibekukan, tidak mencemari lingkungan. Tapi pada kondisi traveling atau tak tersedia botol kaca, dapat menggunakan plastik makanan yang food grade (tidak harus plastik khusus ASI, plastik biasa pun boleh asal yang food grade). Intinya tempat penyimpanan ASI harus kedap, tidak boleh ada cairan atau udara yang dapat masuk ke dalam botol atau kantong ASI. Tes botol ASIP yang dibeli dengan cara isi dengan air lalu posisinya dibalik atau diayun-ayun dan perhatikan apakah ada cairan yang keluar. Beberapa merk botol kaca tutupnya belum sempurna sehingga ada cairan yang keluar. Jika cairan dapat keluar berarti kuman dari luar juga dapat masuk. Jadi.. selektiflah dalam memilih botol ASIP. Ingatlah untuk selalu memberi tanggal perah dan tanggal kadaluarsa di setiap botol atau ASIP
  • Pompa ASI (manual atau elektrik). Lebih disarankan agar Ibu memerah dengan tangan. Jika menggunakan pompa, jangan menggunakan pompa berbentuk terompet karena pompa jenis ini bukan diperuntukkan untuk menyimpan ASIP, namun hanya sekedar untuk mengosongkan payudara. Selain itu pompa jenis ini sulit dibersihkan dan disterilkan. Pompa yang tepat yang dilengkapi dengan botol di bawahnya, untuk memilih pompa yang tepat dapat dilihat dalam link berikut http://www.fda.gov/MedicalDevices/ProductsandMedicalProcedures/HomeHealthandConsumer/ConsumerProducts/BreastPumps/default.htm
  • Cooler bag, cooler box, atau bisa juga termos nasi.
  • Ice gel, Blue ice, atau bisa juga es batu.

Gambar 1. Perlengkapan ASIP untuk Ibu Bekerja

Berikut adalah lebih jelasnya  persiapan buat Ibu bekerja yang perlu dilakukan selama masa cuti

  • Bulan pertama (khususnya 40 hari pertama) setelah melahirkan

Pada bulan pertama setelah melahirkan produksi ASI belum stabil. Payudara bagai pabrik susu yang baru buka dan belum tahu berapa besar permintaan pasar. Sehingga payudara akan memproduksi ASI berlebih, sehingga tidak heran ASI seringkali merembes keluar. Saat inilah masa-masa emas untuk memanipulasi permintaan ASI sehingga produksi ASI berlimpah untuk seterusnya. Berikut adalah yang sebaiknya dilakukan:

–       Susui bayi secara langsung setiap kali bayi meminta. Aturan yang mengatakan bayi sebaiknya minum tiap 2-3 jam sekali kurang tepat. Yang benar adalah selama 40 hari pertama, frekuensi menyusu 8-12 kali dalam 24 jam. Terkadang ada bayi yang tertidur hingga 4-5 jam namun menyusu lebih sering dalam jam-jam berikutnya (cluster nursing). Jika frekuensi menyusu kurang dari 8 kali dan bayi tertidur, maka bangunkan untuk disusui, caranya bisa dengan dicium, atau diusap lembut dengan air sehingga ia tidak nyaman dan langsung mencari ASI.  Hal ini bisa juga terjadi pada bayi baru lahir hingga usia beberapa minggu karena aliran ASI yang lambat. Untuk membantu bayi mendapatkan aliran ASI yang lancar silahkan merujuk pada artikel “Kompresi Payudara” dan “Perlekatan Menyusu”.

–       Untuk menjamin stok ASI, rutinlah mengosongkan ASI dari payudara meskipun Ibu selalu bersama si kecil sepanjang waktu. Lakukan minimal sekali sehari pada saat ASI terasa penuh. Produksi ASI biasanya penuh pada dinihari atau pagi hari. Saat inilah saat yang tepat untuk mengosongkan ASI karena biasanya bayi sedang terlelap. Agar jam tidur Ibu tidak terlalu terganggu, Ibu bisa menyiasatinya dengan mengosongkan ASI sesegera setelah bayi menyusu karena sangat disarankan agar Ibu ikut istirahat ketika bayi tertidur.

–       Jangan pernah tergoda memberikan susu formula jika produksi ASI Ibu cukup. Indikator ASI cukup akan dijelaskan lebih lanjut di artikel “Tanda ASI sudah Cukup”.

  • Bulan kedua dan ketiga

–          Jika pada bulan pertama ASI dipompa dan dibuang karena Ibu senantiasa bersama sang buah hati sepanjang waktu maka menjelang akhir bulan kedua mulailah menabung ASIP. Hasil ASIP yang dilakukan di dinihari disimpan dalam tempat penyimpanan ASIP.

–          Latihlah bayi minum ASIP dengan cara disendoki atau cangkir (cup). Hal ini memerlukan waktu, sehingga Ibu perlu sabar supaya tidak menyerah terpaksa memberikannya melalui dot. Minum ASIP dengan disendoki atau cangkir bertujuan untuk menghindari bingung puting. Hindari penggunaan botol dan dot! Penelitian menunjukkan 80% bayi mengalami bingung puting, khususnya pada bayi yang berusia kurang dari empat bulan.

Ringkasan dan Tips:

  • Sekitar 1 bulan sebelum cuti berakhir, mulailah menabung ASIP (Cttn: beberapa situs/buku menyusui terkemuka menyarankan memerah ASI dapat dilakukan sejak awal menyusu untuk menjaga produksi ASI walaupun nantinya tidak digunakan/dibuang).
  • Berapa kali Ibu perlu memerah? Gunakan rumus sederhana ini: Jumlah jam Ibu berada di luar rumah (termasuk dalam perjalanan) dibagi tiga. Jadi 9 jam di luar rumah sama dengan 3 kali memerah. Misalkan saat baru datang ke kantor (berangkat lebih pagi agar sampai sekitar 15 menit sebelum jam kerja), saat makan siang, dan saat rehat sore atau saat akan pulang ke rumah. Namun hal ini tergantung pula dengan kapasitas penyimpanan payudara, beberapa Ibu dapat memerah ASI dengan sesi perahan yang lebih sedikit.
  • Jangan khawatir melihat produksi ASIP yang sedikit, jangan terbebani harus memproduksi berbotol-botol ASIP. Perlu diingat bahwa ASI hasil perasan tidak menunjukkan produksi ASI Ibu sesungguhnya. Sesedikit apapun hasil perahan, kumpulkan saja, lama kelamaan akan menjadi banyak dan practice makes perfect!
  • Setiap ada waktu, dikala sang bayi tidur, atau di sela-sela waktu menyusui, perahlah ASI sebanyak kemampuan. Tidak masalah Ibu mendapatkan 20 atau 30 ml. Masukkan ke tempat penyimpanan ASIP dan simpan di kulkas. Hasil perahan selama 24 jam boleh digabungkan setelah sama dingin. Setelah terkumpul 1 botol (100 ml), beri label tanggal dan naikkan ke freezer. Satu botol sehari cukup, sesuai kemampuan
  • Jika Ibu mulai menabung paling tidak 1 bulan sebelum masa cuti kerja berakhir maka voila sudah tersedia 20-30 botol ASIP beku di freezer!
  • Ajari pengasuh cara penanganan ASIP, menghangatkan dan memberikannya pada bayi paling tidak satu minggu sebelum Ibu kembali bekerja. Gunakan ASIP yang paling “tua” dulu, supaya rotasi berjalan dengan baik. (Cttn: Setelah kondisi cukup ‘stabil’ tercipta, dan dikarenakan ASIP yang paling baik kandungannya adalah yang paling segar, beberapa Ibu memilih memberikan ASI hasil perahan hari itu atau maksimum sehari sebelumnya. Stok ASIP beku tetap tersedia untuk jaga-jaga, misalkan kondisi listrik padam, hasil perahan sedikit, dll. Yang penting selalu diingat masa kadaluarsa penyimpanan ASIP).
  • ASI hasil perahan di kantor disimpan di botol kaca atau plastik food grade, lalu masukkan dalam cooler bag atau bisa dititipkan di kulkas kantor (jika memungkinkan).
  • Tetaplah memerah ASI minimal sekali sehari dan selalu susui bayi langsung ketika bersama-sama. Untuk menjaga produksi ASI, janganlah memberikan ASIP ketika kita bersama bayi

Referensi

BELANJA PERLENGKAPAN MENYUSUI

4

Mitos Menyusui

  1. Banyak wanita yang tidak memproduksi ASI cukup. Salah! Sebagian besar wanita memproduksi ASI lebih dari cukup, bahkan ASI melimpah ruah merupakan hal yang biasa. Banyak bayi yang pertumbuhan berat badannya lambat, atau berkurang bukan karena sang Ibu tidak memproduksi cukup ASI, melainkan karena bayi tidak mendapatkan ASI tersebut. Alasan lazim mengapa bayi tidak mendapatkan ASI tersebut adalah karena pelekatan payudara (latch on) yang kurang baik. Oleh karena itu, penting sekali bagi Ibu pada hari pertama bayi lahir ditunjukkan bagaimana mendapatkan pelekatan bayi pada payudara yang benar. Hal ini perlu dilakukan oleh seseorang yang tahu apa yang sedang dikerjakan mereka (misal bidan, konsultan laktasi atau orang yang paham mengenai latch on).
  2. Menyusui itu terkadang menyakitkan. Salah! Walaupun rasa perih yang terjadi pada beberapa hari pertama umum terjadi, hal ini seharusnya hanya bersifat temporer dan hanya berlangsung beberapa hari saja. Rasa perih ini seharusnya tidak memburuk sehingga membuat Ibu ketakutan menyusui. Rasa nyeri diatas mild (kategori ringan) adalah tidak normal dan hampir selalu dikarenakan bayi tidak melekat dengan benar. Segala nyeri puting yang tidak membaik setelah hari ke-3 atau 4 atau berlangsung diatas 5-6 hari seharusnya tidak diabaikan begitu saja. Munculnya suatu rasa sakit ketika segala hal berjalan baik bisa jadi disebabkan oleh infeksi ringan pada puting. Membatasi masa menyusui tidak mencegah luka/mengatasi luka tersebut.
  3. Pada 3-4 hari pertama ASI yang tersedia tidak mencukupi. Salah! Hal ini tampaknya sering terjadi karena bayi tidak melekat dengan benar sehingga tidak memperoleh ASI yang tersedia. Ketika ASI yang diproduksi tidak cukup (dan normalnya memang seperti itu pada hari-hari pertama), bayi harus tetap melekat dengan baik untuk memperolehnya. Jika bayi tidak melekat dengan baik pada payudara, ia tidak akan memperoleh ASI pertama Ibu yang disebut kolostrum. Jika ada orang yang memberi saran pada Ibu untuk memompa ASI Ibu untuk mengetahui berapa banyak kolostrum yang tersedia sesungguhnya tidak memahami mengenai menyusui itu sendiri. Ibu seharusnya menolak dengan sopan. Ketika ASI yang tersedia berlebih, bayi yang melekat dengan kurang baik pun masih memperoleh ASI yang cukup.
  4. Bayi seharusnya menyusu selama 20 (10, 15, 7.6) menit pada salah satu sisi. Salah! Namun demikian, perlu dibedakan berada (menempel) pada payudara dan menyusui. Jika bayi benar-benar minum selama 15-20 menit pada salah satu sisi, dia kemungkinan menolak diberikan payudara kedua. Jika dia minum hanya sekian menit dari payudara pertama, lalu ngempeng atau tertidur, dan kemudian melakukan hal yang sama pada payudara kedua, berapapun waktu yang tersedia tidak akan mencukupi. Bayi akan menyusu lebih baik dan lebih lama jika dia melekat pada payudara dengan benar. Dia juga dapat dibantu untuk menyusu lebih lama jika Ibu menekan payudara untuk memperlancar aliran ASI manakala bayi tampak tidak minum atas kehendaknya sendiri. Jadi, jelas aturan yang mengatakan bayi mendapatkan 90% ASI dalam 10 menit pertama sama dengan salah.
  5. Bayi yang disusui memerlukan tambahan air (biasanya dalam bentuk air hangat). Salah! ASI mengandung semua air yang diperlukan bayi.
  6. Bayi yang disusui memerlukan tambahan vitamin D. Salah!Semua bayi memerlukan vitamin D. Susu formula (sufor) mengandung vitamin D yang ditambahkan oleh pabriknya. Namun demikian bayi lahir di dunia dengan organ hati yang penuh mengandung vitamin D dan pemaparan terhadap lingkungan luar memungkinkan bayi mendapatkan vitamin D dari sinar ultraviolet. Bayi tidak perlu sering terpapar setiap hari. Vitamin D sendiri adalah vitamin yang mudah larut dalam lemak dan disimpan dalam badan. Dalam beberapa kasus (misal, jika Ibu sendiri kekurangan vitamin D masa hamil) barulah perlu memberikan bayi tambahan vitamin D.
  7. Puting perlu dibasuh sebelum disusukan. Salah! Pemberian sufor memerlukan perhatian lebih pada faktor kebersihan karena formula sendiri tidak melindungi bayi dari infeksi, bahkan merupakan pembiakan yang bagus bagi bakteri serta mudah terkontaminasi. Tidak demikian dengan ASI yang mampu melindungi bayi dari infeksi. Membasuh puting setiap kali hendak menyusui justru malah merepotkan sehingga tidak diperlukan.
  8. Memompa ASI merupakan salah satu cara untuk mengetahui berapa banyak ASI yang dimiliki Ibu. Salah! Berapa banyak ASI yang dapat dipompa tergantung berbagai faktor termasuk tingkat stres Ibu. Bayi yang menyusu dengan baik akan memperoleh lebih banyak ASI dari sang Ibu dibandingkan hasil memompa. Memompa ASI hanya menunjukkan berapa banyak yang dapat dipompa Ibu, itu saja.
  9. ASI tidak mengandung zat besi yang memenuhi kebutuhan bayi. Salah! ASI mengandung lebih dari cukup zat besi yang diperlukan bayi. Bayi yang lahir cukup bulan mendapatkan zat besi cukup dari ASI paling tidak hingga usia 6 bulan pertama. Sufor mengandung terlalu banyak zat besi sebagai jaminan agar bayi menyerap dengan cukup untuk mencegah defisiensi zat besi. Zat besi dalam sufor tidak mudah diserap, dan akibatnya bayi sering mengentut. Secara umum, tidak perlu menambahkan makanan apapun pada ASI sebelum usia 6 bulan.
  10. Lebih mudah menggunakan botol daripada menyusui. Salah! Menyusui tampak lebih sukar dibandingkan memberikan botol karena kaum Ibu tidak menerima bantuan bagaimana memulai menyusui dengan benar. Awal yang kurang baik jelas membuat menyusui menjadi sukar. Tetapi awal yang kurang baik dapat diatasi sehingga  apa yang tampak sukar pada awalnya, biasanya menjadi lebih mudah pada akhirnya.
  11. Menyusui membuat aktivitas Ibu terbatas. Salah! Tergantung dari sudut pandang Ibu. Bayi dapat disusui kapan saja, dimana saja, sehingga menyusui pada dasarnya membebaskan Ibu. Tidak perlu membawa botol atau sufor kemana-mana. Tidak perlu bingung menghangatkan susu. Tidak perlu mencemaskan masalah sterilisasi. Tidak perlu mencemaskan bagaimana keadaan sang bayi karena ia selalu bersama Ibu.
  12. Tidak ada cara untuk mengetahui berapa banyak ASI yang diperoleh bayi. Salah!. Memang tidak ada cara yang mudah untuk mengukur berapa banyak bayi ASI yang diperoleh bayi, tetapi hal ini tidak berarti Ibu tidak dapat mengetahui apakah ASI yang diperoleh sudah cukup atau belum. Cara terbaik untuk mengetahuinya adalah melihat apakah bayi benar-benar minum dari payudara selama beberapa menit pada setiap penyusuan (amati mulutnya terbuka – jeda – menutup mulut seolah-olah seperti menghisap).
  13. Susu formula modern (saat ini) hampir sama baiknya dengan ASI. Salah! Klaim yang sama telah dibuat sejak tahun 1900 dan sebelumnya. Sufor hanya tampaknya saja sama dengan ASI. Setiap koreksi atau perbaikan terhadap kekurangan sufor selalu diiklankan merupakan suatu kemajuan. Sufor yang beredar di pasaran pada prinsipnya merupakan fotokopi yang tidak tepat yang dibuat berdasarkan pengetahuan mengenai ASI yang sudah usang (outdated) dan tidak lengkap. Susu formula tidak mengandung antibodi, sel-sel hidup, enzim, dan hormon. Sufor mengandung lebih banyak aluminum, mangaan, kadmiun, dan zat besi dibandingkan ASI. Sufor juga mengandung jauh lebih banyak protein dibanding ASI. Protein dan lemak yang terkandung dalam sufor berbeda dengan yang terkandung dalam ASI. Sufor juga tidak berubah dari awal pemberian hingga akhir pemberian atau dari hari ke-1 hingga ke-7 atau ke-30, atau berbeda dari satu wanita ke wanita lain, atau berbeda dari satu bayi ke bayi lain. ASI seorang Ibu diproduksi sesuai keperluan bayi Ibu itu sendiri. Sufor dibuat agar sesuai untuk setiap bayi (disamaratakan). Susu formula memang berhasil untuk membuat bayi tumbuh baik, tetapi keutamaan menyusui jauh lebih baik, tidak sekedar membuat bayi tumbuh cepat.
  14. Jika Ibu mengalami infeksi, dia seharusnya berhenti menyusui. Salah! Hanya dengan sangat, sangat sedikit pengecualian, Ibu dengan infeksi dapat terus menyusui bayi dan bahkan akan memberi perlindungan pada bayinya. Jika bayi sakit, dia tidak begitu merasa sakit (atau tidak bertambah parah) jika sang Ibu terus menyusuinya. Selain itu, mungkin saja bayilah yang memberikan infeksi namun tidak menunjukkan tanda-tanda sakit karena bayi terus disusui. Bahkan jika Ibu mengalami infeksi payudara (breast infections) termasuk abses pada payudara, walaupun hal ini menyakitkan, Ibu tidak perlu berhenti menyusui. Justru dengan menyusui, masalah infeksi ini akan lebih cepat teratasi jika Ibu terus menyusui dari payudara yang bermasalah.
  15. Jika bayi mengalami diare atau muntah, Ibu seharusnya berhenti menyusui. Salah! Obat terbaik bagi infeksi pencernaaan bayi adalah ASI. Makanan lain dapat dihentikan sementara waktu, namun menyusui harus tetap diteruskan. ASI justru merupakan satu-satunya cairan yang diperlukan bayi ketika dia diaer dan atau muntah kecuali dalam kondisi luar biasa. Anjuran untuk menggunakan “oral rehydrating solutions” sebenarnya merupakan akal-akalan pabrik susu formula (yang juga membuat oral rehydrating solutions). Bayi jauh merasa lebih nyaman jika disusui dan Ibu juga merasakan hal yang sama ketika bayinya menyusu
  16. Jika Ibu harus minum obat, sebaiknya Ibu berhenti menyusui. Salah! Sangat sedikit obat-obatan yang tidak aman dikonsumsi Ibu menyusui. Obat-obatan tersebut memang akan terkandung dalam ASI, tapi kuantitasnya sangat sedikit sekali sehingga dapat diabaikan. Jika memang Ibu harus mengkonsumsi suatu obatan tertentu yang dikhawatirkan berpengaruh pada kandungan ASI, biasanya terdapat obat alternatif yang sama efektifnya.

Lebih Banyak Lagi Tentang Mitos Menyusui

  1. Ibu menyusui perlu berhati-hati sekali dengan makanan yang dikonsumsi. Salah! Ibu yang menyusui perlu memperhatikan diet yang seimbang, tetapi tidak perlu mengkonsumsi atau menghindari makanan-makanan tertentu. Ibu menyusui juga tidak perlu minum susu untuk memproduksi susu (ASI). Ibu menyusui juga tidak perlu menghindari makanan pedas, berempah, atau alkohol (cttn: yang terakhir untuk non muslim). Walaupun memang terdapat beberapa kondisi apa yang dimakan Ibu dapat mempengaruhi bayi, hal ini biasanya jarang terjadi. Sebagian besar kolik, gas, dan tangisan pada bayi dapat diperbaiki dengan mengubah cara menyusui dibandingkan mengubah diet Ibu
  2. Ibu menyusui perlu makan lebih banyak agar ASI mencukupi. Salah! Wanita yang sedang rendah diet kalori sekalipun biasanya masih memproduksi ASI yang cukup, hingga suatu titik dimana asupan kalori Ibu menjadi sangat rendah untuk periode waktu cukup lama. Pada umumnya bayi memperoleh apa yang dia perlukan. Beberapa wanita khawatir jika pola makan mereka kurang baik selama beberapa hari saja akan mempengaruhi produksi ASI. Hal ini sebenarnya bukan masalah. Beberapa hari kekurangan kalori tidak akan mempengaruhi kuantitas ataupun kualitas ASI. Seringkali dikatakan bahwa Ibu menyusui memerlukan tambahan sekitar 500 kalori per hari agar dapat menyusui dengan baik. Hal ini sesungguhnya tidak benar. Yang benar adalah Ibu menyusui seharusnya melakukan diet seimbang. Aturan mengenai makanan hanya membuat menyusui tampak menyukarkan.
  3. Ibu menyusui harus minum lebih banyak cairan. Salah! Ibu seharusnya minum ketika haus. Beberapa Ibu merasa haus sepanjang waktu sedangkan yang lain tidak ingin minum lebih dari biasanya. Tubuh Ibu mengetahui kapan Ibu sesungguhnya memerlukan cairan dan akan mengirimkan pesan melalui rasa haus. Jangan percaya pada saran berapa banyak yang harus diminum per hari. Aturan mengenai minuman hanya membuat menyusui tampak menyukarkan.
  4. Ibu yang merokok lebih baik tidak menyusui. Salah! Ibu yang tidak dapat berhenti merokok seharusnya terus menyusui. Menyusui terbukti mampu mengurangi efek negative asap rokok pada paru-paru bayi, sebagai contoh. Menyusui memberikan keuntungkan yang luar biasa bagi kesehatan baik Ibu dan bayi. Tentu saja akan jauh lebih baik jika Ibu tidak mereokok, tetapi jika Ibu tidak dapat berhenti atau menguranginya, lebih baik Ibu merokok dan tetap menyusui daripada merokok dan malah memberikan susu formula.
  5. Ibu seharusnya tidak minum alkohol ketika sedang menyusui. Salah! Sejumlah alkohol diperbolehkan. Hal ini mirip dengan sebagian besar obat-obatan, sangat sedikit alkohol terkandung dalam ASI.
  6. Ibu yang sedang mengalami pedarahan pada puting seharusnya tidak menyusui. Salah! Walaupun darah dapat mengakibatkan bayi lebih sering muntah dan juga terkandung dalam pup bayi, hal ini jangan dijadikan alasan untuk berhenti menyusui.Puting yang nyeri dan berdarah tidak lebih buruk dibandinkan puting yang nyeri namun tidak berdarah. Nyeri payudara dapat diatasi dengan segera. Terkadang Ibu mengalami pedarahan pada puting yang asalnya dari dari dalam payudara dan tidak selalu terkait dengan rasa nyeri. Hal ini lazim terjadi pada beberapa hari pertama setelah kelahiran bayi dan berakhir beberapa hari kemudian. Ibu harus tetap menyusui! Jika pendarahan tidak berhenti segera, sumber masalah perlu dicari tetapi Ibu tetap harus menyusui.
  7. Wanita yang pernah mengalami operasi pembesaran payudara seharusnya tidak menyusui. Salah! Sebagian justru mampu menyusui dengan sangat baik. Tidak ada bukti yang menyatakan menyusui dengan suntikan silicon dalam payudara membahayakan bayi. Terkadang operasi ini dilakukan melalui daerah aerola. Wanita yang mendapatkan operasi ini memiliki masalah dengan produksi ASI sebagaimana wanita lain yang mempiliki insisi (irisan) pada garis aerolanya.
  8. Wanita yang pernah mengalami operasi pengecilan payudara tidak dapat menyusui. Salah! Operasi pengecilan payudara memang dapat mengurangi kapasitas produksi ASI. Tetapi, karena banyak Ibu-ibu yang memproduksi ASI lebih dari yang dibutuhkan, Ibu-ibu yang pernah melakukan operasi pengecilan payudara tetap dapat menyusui. Dalam situasi seperti ini, langkah awal menyusui yang tepat perlu dibangun (lihat artikel Menyusui-Lakukan dengan Benar Sejak Awal). Jika tampaknya ASI yang diproduksi tidak cukup, Ibu masih dapat menyusui dengan bantuan alat bantu laktasi (sehingga puting buatan (artificial nipple) tidak mengganggu/mengacaukan proses persusuan).
  9. Bayi prematur perlu belajar minum susu dari botol sebelum mereka mulai menyusu. Salah! Bayi-bayi prematur akan lebih sedikit stres jika disusui dibandingkan jika diberi botol. Bayi dengan BB 1200 gram atau lebih kecil dapat segera menyusu sesegera setelah kondisinya stabil walaupun mungkin dia tidak mampu melekat dengan baik selama beberapa minggu. .
  10. Bayi dengan bibir sumbing atau kelainan pada langit-langit mulut tidak dapat menyusu. Salah! Beberapa bayi tersebut justru bisa menyusu dengan baik. Namun beberapa memang tidak mungkin melekat. Jika botol digunakan untuk memberi susu, kemampuan bayi untuk menyusu bisa menurun drastis, gunakan cangkir sebagai pengganti botol.
  11. Wanita dengan payudara lebih kecil memproduksi ASI lebih sedikit dibandingkan yang berpayudara besar. Tidak masuk akal!
  12. Menyusui tidak dapat mencegah kehamilan. Salah! Menyusui merupakan metode kontrasepsi yang angka keberhasilannya tinggi khususnya selama 6 bulan pertama dengan catatan: bayi diberi ASI eksklusif tanpa tambahan asupan apapun pada masa itu dan Ibu belum mendapat haid. Setelah 6 bulan, perlindungan memang menurun tetapi masih cukup berarti. Rata-rata Ibu yang menyusui hingga 2 tahun biasanya akan mendapatkan bayi lagi setiap 2-3 tahun sesudahnya tanpa metode kontrasepsi lain
  13. Ibu menyusui tidak boleh menggunakan kontrasepsi KB hormonal. Salah! Metode KB hormonal yang mengandung estrogen cenderung menurunkan ASI. Karena umumnya Ibu memproduksi ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi, hal ini tidak menjadi masalah. Namun terkadang hal ini bisa pula menjadi masalah dan bayi menjadi rewel atau tidak kenyang menyusu. Jika memungkinkan, hindari pilihan ber-KB dengan metode hormonal atau paling tidak tunggu hingga bayi mendapat makanan pendamping MPASI (setelah 6 bulan). Jika memang harus menggunakan metode ini, gunakan yang mengandung hanya progestin (tanpa estrogen). Pada prinsipnya selain KB metode hormonal, metode-metode lain lebih aman digunakan bagi Ibu menyusui karena tidak berpengaruh pada produksi ASI seperti metode IUD/spiral, kondom, dan pantang berkala
  14. Setelah usia enam bulan, bayi yang disusui perlu jenis susu lain. Salah! ASI memberikan segala hal yang dibutuhkan bayi lebih bagus dan lebih banyak daripada susu apapun. Bayi berusia lebih dari 6 bulan mulai diperkenalkan makanan padat sehingga mereka belajar bagaimana cara makan dan mulai memperoleh sumber lain zat besi pada usia 7-9 bulan yang tidak dapat lagi tercukupi dari ASI saja. Sufor tidak diperlukan selama bayi terus menyusu
  15. Wanita dengan puting rata atau terbalik tidak dapat menyusui. Salah! Bayi tidak menyusu pada puting, tetapi pada payudara. Langkah yang benar sejak awal biasanya dapat mengatasi problem puting ini sehingga Ibu dengan bentuk apapun dapat menyusui dengan baik. Dulu penggunaan nipple shield sering disarankan agar bayi dapat menyusu. Peralatan ini sekarang tidak lagi direkomendasikan terutama pada beberapa hari pertama. Walaupun hal ini tampaknya menjadi suatu solusi, penggunaan nipple shield sering menghasilkan poor feeding dan pengurangan BB yang cukup bermakna dan bahkan semakin membuat bayi makin sukar menyusu langsung dari payudara
  16. Wanita yang hamil harus berhenti menyusui. Salah! Selama Ibu dan anak menginginkannya, menyusui dapat terus berjalan termasuk setelah melahirkan. Menyusui di kala hamil dikenal pula dengan istilah tandem nursing. Produksi ASI terkadang menurun ketika kehamilan, namun hal ini bukan masalah bagi bayi yang biasanya telah memperoleh makanan tambahan (di atas 6 bulan).
  17. Bayi yang diare sebaiknya berhenti menyusu. Salah! Pengobatan terbaik untuk infeksi lambung (gastroenteritis) adalah ASI. Amat tidak lazim jika bayi memerlukan cairan lain selain ASI ketika diare. Jika intoleransi laktosa masalahnya, bayi dapat memperoleh lactase drops tanpa resep yang dapat diberikan sebelum maupun sesudah menyusui , namun kasus ini sangatlah jarang terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Dalam berbagai kasus, intoleransi laktosa karena gastroentirits akan menghilang begitu saja. Sufor bebas laktosa tidak lebih baik dari ASI. ASI jelas lebih bagus dari sufor apapun. Cttn: Berhati-hatilah pada dokter yang mendiagnosis bayi alergi ASI (dan menyarankan berpindah sufor) tanpa melakukan tes/uji lab khusus alergi ASI terlebih dahulu
  18. Bayi yang menyusu selama 2 jam karena mereka senang menghisap. Salah! Bayi-bayi memang memerlukan dan suka menghisap, namun berapa sebenarnya yang mereka butuhkan? Sebagian besar bayi yang terus melekat pada payudara untuk waktu yang lama mungkin karena lapar walaupun pertumbuhan BB mereka cukup baik. Berada pada payudara (being at the breast) tidak sama dengan minum dari payudara (drinking at the breast). Perlekatan yang baik memungkinkan bayi menyusu dengan efektif dan tentu mengurangi waktu minum. Ibu dapat juga membantu bayi minum lebih banyak ketika bayi tampak tidak menyusu atas kehendaknya sendiri (lihat artikel Kompresi Payudara). Bayi berusia kurang dari 5-6 minggu akan sering tertidur ketika menyusu karena aliran ASI yang lambat, tidak selalu karena mereka telah kenyang/cukup minum
  19. Bayi-bayi perlu belajar minum dari botol. Jadi, botol perlu dikenalkan pada mereka. Salah! Walaupun banyak ibu yang memperkenalkan botol pada sang bayi dengan berbagai alasan, sebenarnya hal ini tidak perlu. Bayi tidak perlu belajar menggunakan botol. Bay dapat mengkonsumsi cairan atau makanan padat menggunakan sendok. Pada usia 6 bulan, bayi mulai dapat belajar minum dari cangkir. Walaupun hal ini memerlukan waktu beberapa minggu, pada akhirnya bayi mampu mempelajarinya. Jika Ibu berniat menggunakan botol, tunggu hingga bayi mampu menyusu dengan baik selama 4-6 mnggu dan berikan sesekali saja. Terkadang, bayi yang mau diberi botol pada usia 6 minggu akan menolaknya ketika ia menginjak usia 3-4 bulan walaupun telah diberikan secara rutin sesekali (smart babies)
  20. Jika Ibu menjalani pembedahan, dia harus menunggu satu hari sebelum dapat mulai menyusui. Ibu dapat segera menyusui setelah menjalani pembedahan kecuali dalam keadaan khusus. Aturan yang membatasi proses menyusu di Rumah Sakit/Klinik lebih berorientasi pada kenyamanan staf RS sendiri dibanding keuntungan bagi sang Ibu dan bayinya
  21. Ibu akan kesulitan menyusui bayi kembar. Salah! Menyusui bayi kembar lebih mudah dari memberikan botol jika Oleh karena itu sangatlah penting melakukan usaha khusus agar proses menyusui dengan benar berjalan dengan baik sejak awal ketika Ibu memiliki bayi kembar (lihat artikel Menyusui-Lakukan dengan Benar Sejak Awal). Beberapa wanita dengan bayi kembar tiga mampu memberikan ASI eksklusif. Tentau saja hal ini memerlukan kerja keras dan pengorbanan waktu, namun hal ini lumrah bagi bayi kembar dua maupun tiga bagaimanapun mereka makan (termasuk memberikan susu formula).
  22. Wanita yang payudaranya tidak membesar selama hamil tidak memproduksi ASI yang cukup. Salah! Sangat sedikit sekali wanita yang tidak dapat memproduksi ASI yang cukup. Beberapa diantara wanita ini mengatakan payudara mereka tidak membesar selama hamil. Tetapi, sebagian besar wanita yang payudaranya tidak membesar ketika hamil memproduksi ASI lebih dari yang diperlukan.
  23. Ibu yang payudaranya tidak tampak penuh (full) berarti hanya memiliki sedikit ASI di dalamnya. Salah! Payudara Ibu tidak harus kelihatan penuh (‘keras’) untuk memproduksi ASI yang cukup. Pada 2-3 minggu pertama kelahiran memang payudara biasanya terasa penuh namun seiring waktu hal ini tidak lagi berlaku dan tidak dapat dijadikan indikator Ibu tidak mempunyai stok ASI yang cukup. Ketika tubuh Ibu mulai menyesuaikan diri dengan asupan bayi, payudara tidak terlalu penuh adalah hal yang normal. Payudara Ibu menyusui tidak pernah benar-benar kosong melainkan selalu memproduksi ASI selama bayi terus menyusu.
  24. Menyusui di muka umum kurang sopan. Salah! Anggapan menyusui di muka umum tidak pantas/sopan justru merupakan penghinaan bagi kaum Ibu
  25. Jika bayi berhenti menyusu selama beberapa hari (atau minggu), Ibu tidak perlu memulai lagi menyusui karena ASInya menjadi masam. Salah! ASI tetap bagus seperti sebelumnya. ASI bukan seperti sufor dalam botol
  26. Setelah berolahraga, Ibu jangan menyusui. Salah! Segera setelah olahraga Ibu dapat terus menyusui.
  27. Ibu menyusui tidak boleh mengecat rambut. Salah!

Referensi

  • Jack Newman, MD. 2003. Handout #12 More breastfeeding myths.
  • Jack Newman, MD.  2003. Handout #13. Still more breastfeeding myths
  • Nancy Mohrbacher, IBCLC & Kathleen Kendall-Tackett, PhD, IBCLC. Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers, 2005.  New Harbinger Publication, Canada

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S

0

Kompresi Payudara

Tujuan dari kompresi (penekanan) payudara adalah meneruskan aliran ASI pada bayi ketika bayi tidak lagi menyusu (mulut terbuka lebar – berhenti sebentar/jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap) sehingga sang bayi tetap minum. Kompresi payudara menstimulasi suatu let down reflex dan seringkali menstimulasi pula munculnya reflek ini secara natural. Teknik ini berguna untuk:

  1. Kenaikan berat badan yang buruk
  2. Kolik pada bayi yang disusui
  3. Frekuensi penyusuan yang sering dan atau lama
  4. Puting Ibu yang terluka
  5. Saluran yang berulang kali tersumbat/Mastitis
  6. Membantu bayi yang tertidur untuk meneruskan minum tidak hanya sekedar menghisap

Kompresi payudara tidak diperlukan jika segala sesuatunya berjalan lancar. Ketika semua berjalan baik-baik saja, Ibu sebaiknya membiarkan bayi “menyelesaikan” susuan pada salah satu sisi payudara , dan jika bayi menginginkan lebih, barulah payudara sebelahnya diberikan. Bagaimana Ibu mengetahui bayi telah selesai minum? Ketika dia tidak minum lagi (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap).

Kompresi payudara berjalan baik khususnya pada beberapa hari pertama setelah kelahiran untuk membantu bayi mendapatkan kolostrum. Bayi-bayi pada dasarnya tidak memerlukan banyak kolostrum, tetapi memerlukan sejumlah tertentu. Pelekatan yang baik dan kompresi membantu mereka mendapatkannya

Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui:

  1. Seorang bayi yang memiliki perlekatan (latch on) baik akan lebih mudah mendapatkan ASI dibandingkan yang tidak. Bayi yang kurang baik perlekatannya hanya akan mendapatkan ASI jika aliran ASI tersebut cepat. Oleh karena itu, banyak Ibu dan bayi yang melakukan proses penyusuan dengan baik walaupun kurang baik latch-on-nya karena sebagian besar Ibu memproduksi ASI yang berlebih.
  2. Dalam 3-6 minggu pertama, banyak bayi yang cenderung tertidur ketika aliran ASI lambat tidak serta merta menunjukkan mereka sudah cukup makan. Setelah usia ini, mereka mulai menjauh dari payudara ketika aliran ASI menurun. Tetapi, beberapa diantara mereka sudah menarik diri dari payudara bahkan dibawah usia ini, terkadang ketika mereka masih berusia beberapa hari saja.
  3. Sayang sekali, banyak bayi yang kurang baik perlekatannya. Jika produksi ASI Ibu berlebih, hal ini tidak menjadi masalah selama pertumbuhan berat badan normal, tetapi terkadang ada harga yang harus dibayar oleh Ibu misal puting yang nyeri/terluka, kolik, bayi yang selalu menempel pada payudara (tetapi hanya sedikit minum).

Kompresi payudara meneruskan aliran ASI ketika bayi tidak lagi minum (hanya menghisap) dari payudara dan hasilnya bayi akan:

  1. Mendapatkan lebih banyak ASI
  2. Mendapatkan lebih banyak ASI yang tinggi lemak

Kompresi Payudara – Bagaimana Melakukannya

  1. Peganglah bayi dengan salah satu lengan
  2. Peganglah payudara dengan tangan lain, ibu jari pada satu sisi payudara (paling mudah ibu jari berada pada sisi atas payudara), jari-jari lain pada sisi lainnya, cukup jauh dari puting.
  3. Pandangilah bagaimana bayi minum walaupun tidak perlu harus terobsesi dengan setiap hisapan yang diberikan. Bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup ketika dia minum dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap.
  4. Ketika bayi terlihat menggigit (ngempeng) dan tidak tampak mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, tekanlah payudara. Tidak perlu keras-keras sehingga Ibu kesakitan dan usahakan jangan sampai mengubah bentuk aerola (bagian payudara yang berada dekat mulut bayi). Dengan tekanan, bayi akan memulai lagi minum dengan posisi mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap. Lakukan kompresi ketika bayi menghisap (ngempeng) tetapi sesungguhnya tidak minum!
  5. Jagalah tekanan hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, kemudian lepaskanlah tekanan tersebut. Seringkali bayi berhenti menyedot ketika tekanan dilepaskan namun akan mulai menyusu lagi tak lama setelah ASI mengalir kembali. Jika bayi tidak berhenti menyedot seiring dengan tekanan yang dilepaskan, tunggu beberapa saat sebelum menekan lagi
  6. Alasan Ibu perlu melepaskan tekanan adalah untuk membiarkan tangan Ibu beristirahat dan mengalirkan kembali ASI pada bayi. Pada bayi sendiri, jika dia berhenti menyedot ketika Ibu melepaskan tekanan, dia akan meneruskan kembali minum begitu dia merasakan ada aliran ASI
  7. Ketika bayi mulai menyedot lagi, dia akan minum (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap). Jika tidak, tekan lagi payudara sebagaimana cara diatas
  8. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan penekanan. Ibu perlu membiarkan bayi menyusu pada salah satu sisi payudara agak lama, karena terkadang LDR lain muncul (milk ejection reflex) dan bayi akan kembali minum atas kehendaknya sendiri. Namun, jika bayi tidak lagi minum, biarkan bayi berhenti atau melepaskan diri dari payudara
  9. Jika bayi menginginkan lebih banyak ASI, berikan sisi payudara yang lain, dan ulangi proses diatas
  10. Teruslah memperbaiki perlekatan penyusuan bayi.
  11. Ingat, lakukan kompresi ketika bayi menghisap tetapi pada dasarnya tidak minum.

Langkah-langkah diatas berjalan baik di klinik kami (Dr Newman’s, red), tetapi jika Ibu menemukan cara yang bekerja lebih baik agar bayi senantiasa menyedot dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, silahkan gunakan apapun cara yang bekerja terbaik bagi Ibu dan bayi. Selama cara itu tidak melukai payudara untuk menekan dan selama bayi tetap “minum” (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap), kompresi payudara pada dasarnya sedang berlangsung

Kompresi tidak selalu perlu dilakukan. Ketika proses penyusuan membaik, Ibu akan dapat melihat hal ini akan berjalan dengan alami.

Referensi

Jack Newman, 2005. Handout #15 Breast Compression from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

0

Sukses Menyusui – Lakukan dengan Benar Sejak Awal!

Menyusui merupakan suatu proses fisiologis pemberian makanan untuk bayi yang alami. Air Susu Ibu (ASI) adalah susu yang dibuat khusus bagi kebutuhan bayi. Susu formula yang dibuat dari sapi atau kedelai hanya tampaknya saja mirip dengan ASI dan iklannya sajalah yang sering menyesatkan. Karena sifatnya yang alami itulah, seharusnya menyusui merupakan hal yang mudah dan bebas masalah bagi sebagian besar Ibu. Awal yang benar akan menjamin menyusui menjadi pengalaman yang menyenangkan baik bagi Ibu dan bayi.

Sebagian besar Ibu sesungguhnya sempurna mampu menyusui bayi mereka secara eksklusif selama enam bulan. Dalam kenyataannya, sebagian besar Ibu memproduksi ASI berlebih.
Sayangnya, kebiasaan atau rutinitas RS masih banyak yang didasarkan pada pemberian susu botol. Hal inilah yang menjadikan menyusui menjadi sukar, bahkan terasa tidak mungkin bagi banyak Ibu dan bayi mereka. Agar proses menyusui dapat dibentuk dengan baik dan benar, awal yang baik pada awal kelahiran bayi sangatlah penting. Bahkan andai diawali dengan buruk sekalipun, pada akhirnya bisa diperbaiki oleh Ibu dan bayi sendiri.

Trik utama dalam menyusui adalah perlekatan bayi pada payudara dengan benar. Bayi yang melekat dengan benar akan mendapatkan ASI dengan baik. Sebaliknya, bayi bayi yang perlekatannya buruk akan kesulitan mendapatkan ASI terutama jika produksi ASI sang Ibu rendah. Perlekatan yang buruk dapat disamakan dengan memberikan bayi botol yang lubangnya (bottle nipple) terlalu kecil. Botol tersebut penuh dengan susu namun bayi tidak dapat minum banyak. Bayi yang pelekatannya buruk juga dapat mengakibatkan sang Ibu nyeri puting. Selain itu, jika dia tidak mendapatkan ASI dengan baik, biasanya dia akan sekedar ngempeng di payudara dalam jangka lama yang justru memperparah nyeri Ibu. Sayangnya, setiap orang dapat saja memberitahu Ibu kalau bayi telah melekat dengan benar, padahal sesungguhnya tidak. Berikut adalah beberapa cara yang menjadikan menyusui terasa mudah.

  1. Pelekatan yang benar adalah kunci utama sukses menyusui. Sayangnya banyak sekali Ibu-ibu yang di”bantu” oleh orang-orang yang sebenarnya tidak paham bagaimana perlekatan menyusu yang benar. Ibu perlu bersikap skeptis jika ada seseorang mengatakan perlekatan Ibu selama 2 hari sejak kelahiran bayi sudah bagus padahal Ibu merasakan nyeri atau terluka pada payudara. Jika ini terjadi, carilah bantuan dari orang lain yang paham. Sebelum Ibu meninggalkan RS, Ibu seharusnya sudah ditunjukkan apakah bayi sudah melekat pada payudara dengan benar dan sungguh-sungguh telah mendapatkan ASI (mulut terbuka lebar – jeda – mulut menutup seperti menghisap). Beberapa video pelekatan yang benar dapat dilihat dalam http://www.breastfeedingonline.com/newman.shtml atau http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=6&Itemid=13. Lihat juga artikel “Perlekatan Menyusu”.  Jika Ibu dan bayi telah meninggalkan RS namun tidak mendapatkan pengetahuan ini, segeralah cari bantuan dari mereka yang berpengalaman.
  2. Bayi harus segera disusui sesegera mungkin setelah lahir. Sebagian besar bayi baru lahir dapat berada di sekitar payudara hanya dalam beberapa menit setelah kelahiran. Penelitian menunjukkan, jika diberikan kesempatan, bahkan banyak bayi yang baru berusia beberapa menit saja mampu merambat dari perut Ibu menuju payudara dan memulai sendiri menyusui. Walaupun proses ini bisa memakan waktu satu jam atau lebih, namun sangatlah berharga karena Ibu dan bayi dapat menghabiskan waktu bersama untuk saling mempelajari diri satu sama lain. Bayi yang belajar “pelekatan sendiri” (self-attach) akan mengalami jauh lebih sedikit masalah menyusui. Karena proses ini tidak memerlukan usaha Ibu sama sekali, jadi tidak ada alasan tidak dapat dilakukan dengan alasan Ibu lelah setelah melahirkan. Bahkan berbagai studi menunjukkan kontak kulit dengan kulit antara Ibu dan bayi menjadikan suhu bayi terasa hangat sebagaimana di dalam incubator.
  3. Ibu dan bayi seharusnya berada dalam satu ruang bersama (rawat gabung). Sama sekali tidak ada alasan medis untuk memisahkan Ibu dan bayi yang sama-sama sehat walaupun hanya sebentar saja.
    • Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Ibu yang dipisahkan dari bayi mereka akan dapat beristirahat lebih baik. Sebaliknya, mereka justru merasa lebih rileks dan nyaman ketika bersama sang bayi. Dengan bersama-sama sejak awal, Ibu dan bayinya akan belajar tidur dalam ritme yang sama. Oleh karena itu, ketika bayi mulai terbangun untuk makan, secara alami Ibu juga akan terbangun. Terbangun dari tidur ini justru tidak melelahkan bagi Ibu karena dia hampir selalu berada dekat sang bayi ketika bangun. Hal ini akan menjadi semakin mudah jika Ibu belajar menyusui sambil berbaring.
    • Bayi biasanya mengambil beberapa saat sebelum mulai menangis karena lapar. Sebagai contoh, napasnya tampak berubah, atau badannya meregang. Sang Ibu, yang baru saja tertidur secara alami akan terbangun, ASInya mulai mengalir dan bayi siap disusui sebelum sempat menangis. Adapun bayi yang telanjur menangis sebelum disodorkan payudara bisa jadi menolak disusui walaupun dia sedang sangat kelaparan. Oleh karenanya, Ibu dan bayi sebaiknya memang tidur bersama-sama sejak di RS.
  4. Puting buatan (Artificial nipples) seharusnya tidak diberikan pada bayi. Sejauh ini memang masih terdapat kontroversi dengan apa yang disebut fenomena “bingung puting”. Pada dasarnya bayi akan mengambil (minum) dari cairan yang alirannya cepat sampai pada mereka dan menolak minuman yang alirannya kurang lancar. Karena itu, dalam beberapa hari pertama, ketika Ibu normalnya baru sedikit memproduksi sedikit ASI (karena memang alaminya seperti itu), dan bayi justru diberikan botol yang alirannya lebih cepat, tentu saja bayi lebih memilih botol. Tidak perlu menjadi seorang ilmuwan mengapa hal ini terjadi. Perhatikan, jadi bukan bayinya yang bingung. Masalah bingung puting mencakup mulai dari bayi tidak mendapatkan ASI dengan baik hingga nyeri/luka pada puting Ibu
  5. Tidak ada pembatasan pada lama dan frekuensi menyusui. Bayi yang minum dengan baik tidak akan berada pada payudara berjam-jam dalam satu periode. Jika hal ini terjadi, berarti dia tidak melekat dengan benar, sehingga tidak mendapatkan ASI yang tersedia dengan baik. Carilah bantuan untuk memperbaiki perlekatan menyusui dan gunakan kompresi/penekanan pada payudara agar bayi mendapatkan lebih banyak ASI (baca artikel Kompresi Payudara). Dalam beberapa hari pertama setelah kelahiran, kompresi akan membantu aliran kolostrum yang sangat diperlukan bayi
  6. Suplemen seperti air, air gula, dan formula sangat jarang diperlukan. Jika Ibu diberitahu untuk memberikan suplemen oleh seseorang yang tidak pernah mengamati Ibu di kala menyusui, jangan langsung percaya. Memberikan suplemen merupakan kasus yang sangat jarang dan seringkali disarankan semata demi kenyamanan pihak RS sendiri. Jika suplemen memang diperlukan, maka pemberian yang disarankan melalui alat bantu laktasi pada payudara, bukan dengan cangkir, botol, atau alat-alat lainnya. Suplemen terbaik adalah kolostrum Ibu sendiri
  7. Sampel gratis susu formula dan brosur dari pabrik susu formula bukanlah hadiah. Praktek pemberian susu formula sebagai “hadiah” merupakan cara efektif untuk membujuk Ibu menggunakan susu formula walaupun ini merupakan strategi pemasaran yang sama sekali tidak etis. Jika Ibu mendapatkan dari professional kesehatan, Ibu sepatutnya mempertanyakan mengenai pengetahuan dan komitmennya mengenai masalah ASI dan menyusui. “Tetapi saya tetap memerlukan formula karena bayi saya tidak cukup mendapatkan ASI”. Mungkin saja, tetapi kecenderungannya adalah karena Ibu tidak mendapatkan bantuan/informasi yang baik, akibatnya bayi tidak mendapatkan ASI yang tersedia.

Dalam beberapa kondisi, bisa jadi tidak mungkin memulai menyusui seawal mungkin. Tetapi, sebagian besar “alasan medis” (misalnya, pengobatan kelahiran) bukan alasan yang benar untuk menghentikan atau menunda menyusui. Jika ini terjadi pada Ibu, berarti informasi yang salah diberikan, carilah bantuan. Bayi premature dapat mulai menyusui seawal mungkin. Faktanya, berbagai studi justru meunjukkan tingkat stress yang lebih rendah pada bayi prematur yang disusui dibandingkan yang diberikan susu botol. Sayangnya, para petugas medis yang menangani kasus bayi prematur tidak aware terhadap masalah ini.

Referensi

Jack Newman, 2005. Handout #1. Breastfeeding—Starting Out Right from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers