4

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

Advertisements
0

Tips travel sama si balita? Jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan :)

Di-share dari note FB rekan :). Link asli

Oleh Bunda Miriam Rustam

Banyak sekali temen yang nanya sejak kami punya Tara dan masih aja keliaran kesana kesini: gimana caranya? mbaknya gak diajak? makannya gimana? apa nggak capek ngurusin sendiri?.

Hmmmm….let’s stop for a while. Mungkin pertanyaan awalnya harusnya adalah: tujuan jalan-jalannya apa?. Kalau kami, karena sadar 200% sering pulang malam (eh yang ini sih true for my boyfriend ding sekarang, buangeeeettt… *curcol*), jadi sejak punya anak kita berdua sudah bersumpah: weekend dan hari libur si mbak akan jadi ‘pembersih’ alias kalau pup kasih mbak, baju kotor urusan mbak…dan yang gitu-gitu deh. Selebihnya urusan kita.

Pas punya Lila, di usia kepala 4 dengan kesadaran penuh tulang pinggang sudah mulai sering menjerit, ya saya memang jadi lebih ‘manja’ sih, si mbak jadi lebih sering kita ajak kalau pergi di dalam kota, karena pueeggeeeelll reeekkk apalagi Lila jauh lebih physically active dibanding si kakak dulu yang sukarela duduk manis di car seat atau stroller-nya. Dan si kakak yang walaupun sudah hampir 8 tahun tapi kadang masih keluar 5 tahun-nya 😀 But still we try to spend as much time as we can with the both of them, dengan campur tangan si mbak sekecil mungkin.

Nah kalau travel jauh ya podo wae. Tujuannya travel dengan anak selain ngenalin hal-hal baru, ya supaya kami punya waktu eksklusif dengan anak-anak. Makanya especially kalau tujuannya adalah liburan (alias, gak ada agenda mengunjungi saudara atau siapapun di tempat tujuan), kami gak akan mau ajak si mbak. Yaaaa alasan lainnya sih juga karena saya malaaasss harus mikirin ini itu untuk orang lain, which akan harus dilakukan mau tidak mau kalau ajak si mbaknya.Tapi kalau agendanya adalah mengunjungi seseorang (misalnyaaaa pas lebaran :D), nah itu pasti kami ajak si mbak. Supaya lebih konsen beramah tamah dengan mereka yang lama gak ketemu.

Nah terus gimana tuh ngurusin si balita tanpa mbak?. Saya mungkin jenis emak gamau rempong. Kalau mau dibilang ‘tips’ ya tips saya cuma itu aja: jangan bikin rempong yang gak perlu dirempongkan supaya gak pusing sendiri. Dan oh satu lagi: make sure bapaknya memang bisa diajak kerjasama!. Ini faktor pueeeennnttttiiiiiiing beyond belief. Gimanapun kan butuh kerjasama yaaaa….ngurusin anak kan bukan cuma tanggung jawab si emak yaaaaaa….jadi bapaknya harus bantuin *toyorajakalaunggakmau*

Tips lainnya:

1. Kalau bayi masih ASIX – WORRY NOT!!!!. Sumpah. Gak perlu bersihin botol, gak perlu bawa air panas, gak pusing nyiapin susu, gak usah takut kualitas air. Jadi apalagi bundaaaaa….angkut aja itu bayiiiii… Tara’s first travel itu dia baru 2 bulan, kami boyong naik mobil Jkt – Semarang – Jkt. Bawaannya cuma baju aja!Oh dan tempat bobok yang nyaman juga ding.

2. Kalau anaknya sudah mulai MPASI, jujur, saya gak ambil pusing harus homemade etc. Sebisa dan semasuk akalnya ajalah kalau saya sih. Yang bisa disiapkan dari rumah dan dimasukkan kulkas, ya saya bawa pakai cooler box pas di jalan, masuk kulkas di hotel. Ini misalnya sup2-an, puding (utk 11bln ke atas), atau puree sayur/buah beku. Manasinnya? ya gampang toooh tinggal minta mangkuk isi air panas di restoran manapun kita berhenti, taruh itu makanan di mangkuk lain, rendam, beres. Selebihnya, saya lebih banyak bergantung pada buah (termasuk buah dada kalau anaknya masih ASI ;p). Pisang terutama – the easiest to find. Terus juga loads of biscuits for the road. Ya tentunya biskuit yang sesuai sama usia anaknya yaaaa. Juga roti. Ini karena kami kalau sudah ngelantur, bisa berjam-jam di jalan dan lewat jam makan. Nah ini lagi. Saya gak mau tuh rempong mikir jam segini harus berhenti untuk makan. Pokoknya kalau masih asik, ya lanjut aja. Makanya di mobil harus siap terus semua makanan itu. Plus air.

3. Homemade MPASI is good, but, we’re on holiday!. Saya pernah sih baca ada yang bawa segala rupa selama travel. Waduh, saya mah gak sanggup kalau harus full homemade selama liburan. Emak gak mau rempong gini…. Dan excuse saya adalah: toh di hari-hari lain si anak sudah makan homemade food terus. Dan liburan paling lama cuma 10 hari (hmmmm…..belum pernah sih….akan pernah gak ya… *langsungingetjadwaljadwalmeetingsipacar*), jadi ya sudahlah, let’s try to loosen up. Jadi, dulu waktu Tara maupun sekarang dengan Lila, saya kombinasikan saja homemade dengan instant MPASI (hehehehe…bisa dihujat nih eke sama emak-emak homemade MPASI ;p). Dan instant juga biasanya saya pakai yang ready to eat, yang dalam toples-toples kaca itu. Kenapa? karena malas bawa perabotan! 😀 See….tema utama dari tips saya adalah: hindari kerempongan ;p Dan 1 – 2 minggu sebelum jalan biasanya saya beli beberapa untuk dicoba ke anaknya, supaya tahu apa yang dia suka. Nah yang paling enak kalau anak sudah setahun. Itu saya lepas untuk eksperimen. Lila minggu depan setahun, ya wes lah, curi start aja (hehehehe…bisa kena hujat lagi nih sama emak-emak penganut no gulgar sblm 1 thn ;p). Kemarin di Bangka, saya biarin Lila coba pempek karena kepengen pas lihat saya makan. Itu juga cuma secuil-secuil. Dulu Tara saya biarin makan jagung bakar pinggir jalan waktu umur 2 tahun kami bawa ke Lombok. Dia juga makan udang bakar warung pinggir jalan. Yang bikin saya PD aja: ANAK ASI boooo’!!!!. Insya Allah perutnya kuat!. Dan kalau dia masih nyusu, insya Allah segala bakteri yang masuk, mampus dengan ASI yang dia minum. Jadi, kenapa harus takut??.

4. Kalau naik mobil, santai aja. Jangan kejar setoran!. Kami ini suka bingung kalau keluar kota, teteeeppp aja ada orang yang klakson-klakson, yang pengennya buru-buru. Lah, liburan aja kok kejar setoran buru-buru toh. Santai ajalah pokoknya. Kalau bawa balita yang berlaku adalah AGENDA SI KECIL. Artinya, kita boleh punya itinerary. Tapi jangan paksakan itu ke si bayi. Kenali tanda-tandanya. Patokan kami untuk berhenti kalau bawa balita cuma 1: dia sudah rewel beyond belief 😀 Itu tandanya harus berhenti supaya dia bisa jalan-jalan ngelurusin kaki. Atau kadang dia cuma pengen ngobrol atau digendong sama ayahnya yang nyetir berjam-jam 🙂

5. Selalu sedia ‘Kotak Doraemon’ yang isinya: hand sanitizer, tissue basah, tissue kering, Panadol, plester luka (you never know kapan anak akan jatuh), sunblock, lip balm dgn SPF

6. Sticking to schedule is important, but then again, we’re on holiday!!. Jadi kami juga gak mau pusing dengan urusan jam mandi, jam makan etc. Tara tahu banget tuh kalau sudah liburan, dia boleh mandi siang. Bahkan kalau misalnya harus pergi pagi-pagi buta, dia tahu bahwa dia boleh cuma sikat gigi dan cuci muka aja. Buat kami penting anak-anak lepas dari aturan sebentar saat liburan, karena toh di hari-hari lain mereka sudah harus teratur. Kita aja ogah diatur-atur kalau pas lagi liburan, kan?. Apa adil berharap hal yang sama dari anak-anak?. Dan efeknya ke kita: kita juga jadi santai karena gak harus mikir anak harus ini itu. We can all then enjoy the time. Together.

 Hmmmm….apalagi ya. Self-sufficiency sih yang jelas ya: tahu apa yang harus dilakukan tanpa support yang biasa kita miliki di rumah. Dan itu: jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan, don’t worry be happy ajalah. Dan bagi para mama yang ngASI – nyantai aja mommies, anak-anak kita terlindungi dengan baik kok dengan cairan ajaib itu, manufakturnya kan udah yang paling TOB jd kenapa harus kuatir 🙂  Alhamdulillah saya sudah buktikan dengan 2 anak saya.

 Lila yang hari Minggu ini baru akan setahun, susah buanget makan. Makannya secuil-secuil. Jangan harap dia bisa habiskan semangkok kecil nasinya!. Awalnya saya kuatir apa dia kuat diajak jalan-jalan apalagi dengan acara berenang di kolam, main di laut, main pasir di pantai dengan angin yang sedang kencang. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja tuh. Dan saya yakin yang bantu dia ya si ASI itu.

Gituuuu…. mungkin ada lagi yang mau nambahin tipsnya? Yuk share aja buat nambahin info buat yang lain. Karena akan ada masanya anak-anak gak mau lagi diajak jalan-jalan sama ortu, jadi mumpung belum bisa protes, boyong yuk si balita jalan-jalan! :))

0

Download Gratis Artikel & Video ASI, Menyusui, MPASI, dan Kurva Pertumbuhan


Berikut kami berikan link download free panduan atau artikel terkait dengan ASI, MPASI, Tumbuh Kembang, dan lain-lain dari sumber terpercaya seperti WHO, AAP, CDC, dll. Semuanya dalam bahasa Inggris. Artikel dan link akan di-update.Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!

ASI & Menyusui

  • Update* Video Pemberian ASIP melalui cup pada bayi baru lahir

Makanan Pendamping untuk 6 bulan keatas

Tumbuh Kembang Anak

0

Indikasi Kontra Menyusui

Dalam beberapa kasus tertentu, Ibu disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Berikut adalah kondisi yang sangat jarang terjadi tersebut

Kondisi Bayi

  • Galaktosemi klasik (defisiensi galactose 1-phosphate uridyltransferase)
  • Penyakit Maple syrup urine
  • Phenylketonuria (Menyusui sebagian (partial breastfeeding) dimungkinkan dengan pengawasan)

Kondisi Maternal (Ibu)

  • Infeksi HIV 1 infection (Jika makanan pengganti dapat diterima (acceptable), layak( feasible), mampu membeli (affordable), kontinu (sustainable), dan aman,)
  • Human T-lymphotropic virus 1 and 2 infection (aturan berbeda di beberapa Negara, Jepang membolehkan menyusui. Cttn: kasus ini sangat jarang terjadi di Indonesia)
  • Tuberculosis/TBC (yang sedang aktif dan belum dirawat). Menyusui bisa dilanjutkan setelah Ibu mendapat perawatan selama 2 minggu atau bayi telah diberikan isoniazid
  • Virus Herpes simplex pada payudara (dihentikan hingga luka pada payudaran telah bersih)
  • Pengobatan
    • Sebagian besar obat-obatan tergolong aman karena hanya sedikit yang akhirnya terkandung dalam ASI
    • Sebagian kecil senyawa dalam drugs of abuse dan beberapa senyawa radioaktif yang memiliki umur paruh yang panjang mengharuskan Ibu berhenti menyusui 

Dari paparan diatas, jelas bahwa HANYA SEDIKIT sekali kondisi yang tidak memungkinkan Ibu menyusui bayinya. Di luar kondisi-kondisi tersebut, Ibu tetap dapat menyusui bayinya, apalagi jika Ibu ‘hanya’ mengalami sakit-sakit biasa seperti flu, demam, batuk, dsbnya

Referensi

Robert & Ruth Lawrence, 2011, Breastfeeding: More Than Just Good Nutrition, Pediatrics in Review 32: 267-280

0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‘rasa’ dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‘berlebih’ 🙂 )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf

0

Mungkinkah Menyusui Bayi yang Diadopsi?

Berikut kutipan status facebook seorang konselor laktasi:

“Seorg bayi yg hampir dibuang ibunya kemudian diambil orang & dirawat di RS PMI Bogor. Sebelum pulang DSA RS tsb meminta agar bayi tsb mulai disusui oleh ibu adopsinya. Setelah 1 mggu ibu adopsi tersebut mulai berhasil memproduksi ASI. Subhanallah!Ibu adopsi ini sama sekali belum pernah mempunyai seorang anak pun selama 7 tahun dia menikah.So semangat moms!U can do it!”

Cerita sama pernah kami dengar juga, namun sayangnya sumber kurang dapat dipertanggungjawabkan 🙂 yaitu tentang seorang nenek yang berhasil menyusui cucunya. Status diatas tentu mengundang banyak sekali komen, rata-rata menganggap itu suatu keajaiban. Namun benarkah hal itu sesuatu yang ajaib? Mungkinkan seorang wanita yang tidak pernah memiliki anak bisa menyusui bayi yang tidak ia kandung? Ternyata jawabannya: BISA! Berikut artikel dari situs Dr Jack Newman mengenai “keajaiban” ini.

Breastfeeding Your Adopted Baby or Baby Born by Surrogate/Gestational Carrier

You would like to breastfeed your adopted baby, or one born with a surrogate or gestational carrier? Wonderful! Not only is it possible, chances are you will produce a significant amount of milk. It is different, though, than breastfeeding a baby with whom you have been pregnant for many months. With some determination and perseverance, you will enjoy the wonderful bond that breastfeeding brings and both you and baby will benefit from this experience.

Breastfeeding and breastmilk

There are really two issues in breastfeeding the baby with whom you were not pregnant. The first is getting your baby to breastfeed. The other is producing breastmilk. It is important to set your expectations at a reasonable level because only a minority of women will be able to produce all the milk the baby will need. However, there is more to breastfeeding than breastmilk and many mothers are happy to be able to breastfeed without expecting to produce all the milk the baby will need. It is the special relationship, the special closeness, and the emotional attachment of breastfeeding that many mothers are looking for. As one adopting mother said, “I want to breastfeed. If the baby also gets breastmilk, that’s great”.

Getting the baby to take the breast

Although many people do not believe that the early introduction of bottles may interfere with breastfeeding, the early introduction of artificial nipples can indeed interfere. The sooner you can get the baby to the breast after he is born, the better. The more you can avoid the baby’s getting bottles before you start breastfeeding, the better. However, babies need flow from the breast in order to stay latched on and continue sucking, especially if they have gotten used to getting flow from a bottle or another method of feeding (cup, finger feeding). So, what can you do?

  1. Speak with the staff at the hospital where the baby will be born and let the head nurse and lactation consultant know you plan to breastfeed the baby. They should be willing to accommodate your desire to have the baby fed by cup or finger feeding, if you cannot have the baby to feed immediately after his birth. In fact, more and more frequently, arrangements have been made where you will be present at the birth of the baby and will be able to take the baby immediately to the breast. The earlier you start the better. This is a situation that should be discussed ahead of time with the woman giving birth and if there is a lawyer, speak with him or her as well.
  2. Keeping your new baby skin to skin with you, you naked from the waist up and baby naked except for the diaper, is very important at this time. It helps to establish the necessary exchange of sensory information between you and your baby and helps the baby stabilize several physiological and metabolic processes: maintenance of baby’s blood sugars, heart rate, breathing rate, blood pressure and oxygen saturation. At the same time, close contact between you and the baby results in the germ free baby (at birth) being colonized by the same germs as you. Furthermore, it helps baby to adapt to this new habitat while at the same time encourages him to breastfeed while helping you to make milk.
  3. Some birth mothers are willing to breastfeed the baby for the first few days. With adoption, there is some concern expressed by social workers and others that this will result in the biological mother’s changing her mind. This is possible, and you may not wish to take that risk. With surrogacy, this may set up some unexpected feeling of resentment and remorse between the surrogate and the biological mother. This is a theoretic possibility but it would be helpful if the birth mother did in fact breastfeed the baby thus helping the baby learn to breastfeed. It allows the baby to breastfeed, get colostrum, and not receive artificial feedings at first. Another option is to ask the woman who gave birth to express her milk for the first few weeks so you have breastmilk to supplement your own, using a lactation aid at the breast (see section ‘s’).
  4. Latching on well is even more important when the mother does not have a full milk supply as when she does. A good latch usually means painless feedings. A good latch means the baby will get more of your milk, whether your milk supply is abundant or minimal. (See the information sheet When Latching).
  5. If the baby does need to be supplemented, supplementation should be done with a lactation aidwhile the baby is on the breast and breastfeeding (See the information sheet Lactation Aid). Babies learn to breastfeed by breastfeeding, not cup feeding, finger feeding, or bottle feeding. Of course, you can use your previously expressed breastmilk to supplement. And if you can manage to get it, banked breastmilk is the second best supplement after your own milk. With a lactation aid used at the breast, the baby is still breastfeeding even while being supplemented; after all, isn’tbreastfeeding what you wanted for your baby?
  6. If you are having trouble getting the baby to take the breast, come to the clinic as soon as possible for help. In fact you should be followed by a lactation consultant or someone experienced in helping mothers with breastfeeding.

Producing Breastmilk

As soon as a baby is in sight, contact a breastfeeding clinic and start getting your milk supply ready. Please understand that you may never produce a full supply for your baby, though you may. You should not be discouraged by what you may be pumping before the baby is born, because a pump is never as good at extracting milk as a baby who is sucking well and well latched on. The main purpose of pumping before the baby is born is to draw milk out of your breast so that you will produce yet more milk, not only to build up a reserve of milk before the baby is born, though this is good if you can do it.

Using the medications discussed below in A. and B., helps to prepare your breasts to make milk. We are trying to make your body think you are pregnant. The medications are not an absolute requirement for you to produce milk, but they do help you make more.

A. Hormones—Oestrogen and Progesterone. If you know far enough in advance, say at least 3 or 4 months, treatment with a combination of oestrogen and progesterone will help prepare your breasts to produce milk. A birth control pill is one way of taking these hormones, but you skip the placebos (sugar pills for one week out of every four weeks) and go right to the next package; another way is to use oestrogen patches on the breast plus oral progesterone. Get information about this protocol from the clinic and see the Newman-Goldfarb Protocols for Induced Lactation at http://www.asklenore.info). We encourage you to take the hormones until about 6 weeks before the baby is to be born.
B. Domperidone. See the information sheets Domperidone, Getting Started and Domperidone, Stopping. The starting dose is 30 mg three times a day, but we have gone as high as 40 mg 4 times a day. The domperidone is continued when the hormones are stopped. Usually it is necessary to continue it for several months after you start breastfeeding. Check the information sheets for more information. Ask at the clinic.
C. Pumping. If you can manage it, rent an electric pump with a double setup. Pumping both breasts at the same time takes half the time, obviously, and also results in better milk production. Start pumping when you stop the birth control pill. Do what is possible. If twice a day is possible at first, do it twice a day. If once a day during the week, but 6 times during the weekend can be done, fine. Partners can help with nipple stimulation as well (See the information sheet Expressing Milk)

But will I produce all the milk the baby needs?

Maybe, maybe not. If you do not, breastfeed your baby anyhow, and allow yourself and him to enjoy the special relationship that it brings. In any case, some breastmilk is better than none.

Very Important: If you decide to take the medications (the hormones and/or the domperidone), your family doctor must be aware of what you are taking and why. It is very important to have a physical and have your blood pressure checked before starting the protocols. Significant side effects have been rare, but that does not mean they cannot happen. Your doctor needs to be following you, and once the baby is with you, your baby’s doctor needs to know that you are breastfeeding him and needs to follow the baby’s progress just as s/he would any other baby.

0

Bagaimana “Perilaku” Normal Bayi yang Disusui?

Tabel berikut meringkaskan  pedoman bagi  Ibu menyusui

  •  Bayi Usia 1 – 7 hari    

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

Hari 5

Hari 6

Hari 7

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran kelereng atau biji buah kemiri

Seukuran buah anggur ukuran sedang

Kebutuhan ASI

10 -100 ml/hari

200 ml/hari

400 – 600 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari (bisa setiap 1,5 sampai 3 jam/hari, tapi ini bukan patokan baku, yang penting frekuensi minimal terpenuhi)

Buang Air Kecil (BAK)

Min 1x

Min 2x

Min 3x

Min 4x

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

1-2x/hari, feces warna hitam atau hijau tua

3x/hari, feces warna coklat, hijau, atau kuning

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

Berat Badan Bayi

Kebanyakan bayi mengalami penurunan BB sekitar 7-10% dari berat lahirnya hingga usia 3-4 hari dan akan kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

  • Bayi Usia 2 Minggu– 6 Bulan 

Minggu 2

 Minggu 

 Minggu 

 Minggu 

Minggu 6 -Bulan 6

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran buah leci atau kacang walnut

Kebutuhan ASI

700 – 800 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari

Bulan ke-2 hingga ke-6 min 6-8x/hari

Buang Air Kecil (BAK)

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

1-3x sehari, volume cukup banyak, feces kuning *

Berat Badan Bayi

Kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

Kenaikan BB seharusnya 113 hingga 224 gram per minggu dalam 3 bulan pertama **

Catatan

  • *Seringkali pada usia ini bayi hanya BAB 2-3 hari sekali bahkan hingga 15 hari! Selama bayi benar-benar mendapatkan ASI eksklusif, hal ini adalah wajar dan BUKAN sembelit, jadi Ibu tidak perlu khawatir hingga perlu diberikan pencahar atau tindakan lain. Ibu hanya perlu risau jika bayi rewel, tampak kurang sehat, dan pertumbuhan BB kurang baik
  • **Agar diperoleh pengukuran yang valid sebaiknya Ibu menimbang di fasilitas kesehatan terpercaya karena kebanyakan timbangan bayi yang beredar di pasaran kurang akurat. Di Amerika, American Academy of Pediatrics merekomendasikan setiap bayi baru lahir sebaiknya diperiksa dokter antara usia 3-5 hari.
  • Akan sangat membantu jika Ibu membuat buku log sederhana untuk mencatat frekuensi BAB, BAK, dan menyusui dalam kurun waktu 1 hari (24 jam) khususnya pada minggu pertama dan kedua setelah  kelahiran. Disebut menyusu jika bayi membuka rahang lebar dan menyusu selama minimal 10 menit (bukan hanya sekedar ngempeng).

Segera hubungi dokter, bidan, atau konsultan laktasi jika pada minggu pertama

  • Urine bayi berwarna gelap setelah hari ke-3 (seharusnya berwarna kuning pucat)
  • Feces bayi berwarna gelap setelah hari-4 (seharusnya berwarna kuning tanpa meconium)
  • Frekuensi BAK, BAB, atau menyusui kurang dari tabel diatas
  • Ibu mengalami gejala mastitis (sakit pada payudara yang disertai demam, menggigil, atau gejala flu)

Referensi