0

MAU HASIL PUMPING OPTIMAL? IKUTI TIPS-NYA!

Salah satu masalah yang sering dihadapi ibu-ibu yang hendak menabung ASIP adalah hasil perah/pumping yang kurang memuaskan. Banyak ibu-ibuBreastPump yang merasa tidak puas dengan hasil pumping dan merasa pompa (jika menggunakan bantuan pompa) yang dibeli tidak memberikan hasil maksimal dan bergegas ingin berganti pompa baru. Sebelum Ibu memutuskan berganti merek pompa, perlu diingat bahwa memompa/memerah adalah suatu SKILL atau keterampilan tersendiri. Dengan pompa mahal sekalipun Ibu perlu belajar menggunakannya. Hasil pumping yang sedikit tidak menunjukkan produksi ASI sesungguhnya. Banyak ibu yang kesulitan memerah sedangkan jika menyusui langsung payudaranya mampu memenuhi kebutuhan bayi.

Salah satu kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu Let down reflex (LDR) atau pelepasan ASI. Beberapa ibu merasakan ada sensasi geli (tingling) atau “clekit-clekit” (bhs Jawa), sebagian lain tidak merasakan apa-apa. Pelepasan ini dapat dipicu seperti oleh sentuhan pada payudara, tangisan bayi, bahkan pikiran tentang bayi. Perasaan sedih, marah, tegang menghambat pelepasan ini. Tanpa munculnya let down atau pelepasan ASI ini, Ibu hanya bisa menghasilkan sedikit ASI yang terkumpul hanya di ujung puting. Sehingga kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu LDR ini.

Saat menyusui sebagian besar ibu tidak menyadari adanya proses LDR atau pelepasan ini. Saat bayi menyusu, segala isyarat (cues) yang familiar (perasaan lembut, hangat) dan emosi cinta Ibu membantu melepaskan hormone yang memicu LDR. Hal ini berbeda ketika pumping, dimana baby cues tidak ada. Oleh karena itu, beberapa ibu memerlukan sedikit bantuan untuk memicu keluarnya LDR.

Berikut adalah tips dari situs www.askdrsears.com dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber untuk pumping yang mudah, nyaman, dan membantu keluarnya LDR (let down reflex), mencegah luka pada puting, serta menghasilkan lebih banyak ASI.

  1. Buat jadwal rutin untuk pumping: tempat, kursi, fasilitas pendukung (cemilan, makanan). Siapkan segalanya, gunakan trik mental untuk rileks, lalu mulailah memompa. Rutinitas akan membantu keluarnya LDR.
  2. Lakukan pijatan lembut pada payudara beberapa menit sebelum pumping, jika memungkinkan kompres hangat daerah tersebut.

  3. Minum 1-2 gelas air sebelum pumping.
  4. Lakukan visualisasi seperti membayangkan air sungai mengalir menuju lautan, air terjun mengalir dan semacamnya. Apapun jenis visualisasi yang dapat membantu mengeluarkan ASI. Ingat, riset menunjukkan stress akan menghalangi kemampuan alami tubuh memproduksi ASI.
  5. Bawalah foto si kecil atau bayangkan wajahnya  ketika pumping. Bawalah 1-2 barang bayi seperti selimut, bedong, atau baju. Nikmati “bau” bayinya
  6. Jika memungkinkan teleponlah pengasuh anak dan tanyakan apa yang sedang dikerjakan bayi ketika Anda sedang pumping
  7. Carilah tempat yang sunyi/tenang untuk pumping. Jika ini agak sukar, Ibu bisa menggunakan bantuan musik atau suara alam yang menenangkan melalui headset telepon genggam atau jenis player lainnya
  8. Jika puting terluka, dan ibu menggunakan pompa elektrik, turunkan derajat penghisapannya, atau coba pompa lain.
  9. Untuk mengurangi nyeri puting setelah pumping, oleskan salep/ emollient untuk nyeri (banyak tersedia di apotik)
  10. Pompalah mengikuti kebiasaan bayi ibu menyusui, biasanya tiap 2-3 jam sekali. Jika Ibu merasa khawatir ASI perah tidak mencukupi, pompalah lebih sering. Hal ini lebih efektif menstimulasi supply ASI daripada memompa lebih lama
  11. Jika sedang bersama bayi, susui sebanyak yang dia mau. Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin banyak supply ASI ketika saat pumping tiba.
  12. Lakukan ekstra pumping menjelang pagi (subuh). Studi menunjukkan pada waktu ini produksi ASI paling banyak.
  13. Jika hasil pumping tidak sebanyak biasanya, cek kondisi pompa Ibu. Apakah ada spare part yang robek/rusak. Valve/membrane yang koyak biasanya berpengaruh pada hasil pumping. Selain itu pada pompa elektrik, kondisi baterai, charger juga perlu diperhatikan
  14. Cobalah memompa sembari menyusui. Hisapan bayi akan memicu keluarnya LDR kedua payudara sehingga hasil pumping umumnya banyak, menambah tabungan ASIP Ibu
  15. Bagi sebagian besar wanita, double pumping (pumping kedua payudara dalam waktu bersamaan) menghasilkan lebih banyak ASI. Level prolaktin didalam darah juga lebih tinggi ketika ibu memompa kedua payudara dalam waktu bersamaan. Pompa ASI elektrik kualitas bagus seperti merek Medela, Unimom, dan Avent (khususnya model double pump) akan sangat membantu proses in. Namun karena harganya yang lumayan mahal dengan dua buah pompa manual double pumping ini juga bisa dilakukan, atau kombinasi pompa model mini electric dengan manual.

    PinkorBlue-MedelaSymphonyHospitalGradeElectricBreastPump

    Medela Symphoni – Hospital-Grade Double Pump

  16. Jika tips diatas tetap tidak membantu, pikirkan untuk beralih pompa ASI yang kualitasnya diatas yang Ibu pakai saat ini. Jika di daerah ibu tersedia, cobalah menyewa sebuah pompa hospital-grade selama 1-2 minggu dan rasakan perbedaannya! Pompa jenis hospital grade memang didesain khusus dan sudah terbukti untuk hasil pumping yang optimal.

Selain tips diatas, ada pula tips tambahan demi kenyamanan dan kebugaran Ibu

  1. Untuk kenyamanan Ibu, kenakanlah pakaian/baju yang mudah di’akses’ saat memompa
  2. Tegakkan sedikit badan untuk menghindari   tetesan ASI pada baju. Selain itu gunakan pula breastpad baik sekali pakai atau yang dapat dicuci untuk mengurangi rembesan ASI ketika pumping.
  3. Berlatihlah untuk bisa pumping dengan satu tangan sehingga tangan satunya bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain. Hal ini sangat bermanfaat khususnya untuk ibu bekerja yang waktu istirahatnya terbatas.
  4. Lakukan diet nutrisi seimbang, minum cukup cairan, batasi konsumsi kafein, soda, dan alcohol serta olahraga, dan hal-hal lain yang membantu Ibu tetap fit dan sehat. Pilihlah alat kontrasepsi yang tidak mengganggu produksi ASI. Pil KB yang mengandung estrogen terbukti mempengaruhi supply ASI.

Menyusui merupakan suatu komitmen yang membutuhkan kesungguhan usaha Ibu. Jika Ibu masih merasa kesulitan mempertahankan produksi ASI dan khawatir dengan produksi ASI saat ini tidak mencukupi segeralah konsultasi pada dokter atau konselor laktasi. Untuk menghubungi konselor laktasi terdekat dari lokasi Ibu, silakan hubungi www.aimi-asi.org

Referensi

Advertisements
0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi