138

Ragam Susu Formula Bayi dan Peruntukkannya

Penting dibaca!

Artikel berikut tidak serta merta dipandang sebagai dukungan baik implisit maupun eksplisit terhadap pemberian susu formula. Artikel ini bertujuan pada pemberian informasi mengenai beragam jenis susu formula agar orangtua yang memutuskan menggunakan susu formula bersikap bijaksana dalam memilih susu yang tepat sesuai kondisi bayi dan tidak terjebak pada klaim bombastis manfaat susu formula.

 Pendahuluan

Di Indonesia, saat ini begitu banyak beredar berbagai jenis Susu Formula (sufor) mulai dari yang mahal sampai yang relatif murah. Seringkali ibu-ibu yang terpaksa menggunakan susu formula bingung memilih susu formula yang tepat bagi bayinya. Apalagi kadangkala informasi yang didapatkan dari produsen bercampur dengan informasi dagang yang berlebihan

Definisi

Secara definisi formula bayi adalah makanan yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sebagai pengganti sebagian atau hampir semua dari ASI yang karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan secara penuh atau sebagian. Karena seringkali bayi hanya boleh mendapatkan susu (dibawah 4 – 6 bulan) maka pembuatan susu formula untuk bayi diawasi dengan ketat. Setiap penelitian  tentang susu formula bayi maka standard emas (golden standard) yang digunakan adalah ASI. Penggunaan susu formula bayi sangat berisiko menyebabkan masalah besar pada bayi bahkan dapat menyebabkan kematian, oleh sebab itu pemasaran bayi diatur dengan ketat (khususnya di negara maju) dan penggunaannya hanya atas rekomendasi dokter.

Klasifikasi Susu Formula Bayi

A. Standar

  1. Bahan dasar susu sapi. Misalnya: SGM, Lactogen, Similac, Enfamil, Bebelove, S26
  2. Bahan dasar soya. Misalnya: Isomil, Prosobee, Alsoy, Nutrilon Soya, SGM soya, Nursoy
  3. Bahan dasar susu kambing

B.  Protein hydrolysates

  1. Partially Hydrolyzed Formula (PHF). Misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  2. Extensively Hydrolyzed Formula (EHF). Misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
  3. Elemental. Misalnya: Neocate, Elecare

C. Premature. Misalnya: Enfacare, NeoSure, SGM BBLR, PreNAN, Enfamil PF

D.  Susu fomula tahap lanjut, untuk batita dan balita

E.  Susu formula khusus. Susu yang dimodifikasi khusus untuk penyakit-penyakit tertentu misalnya: kelainan metabolik, ginjal, kelainan saluran cerna

Berikut adalah bahasan singkat tentang klasifikasi di atas

Standard

Pada prinsipnya seluruh formula bayi yang beredar dipasaran sudah sesuai standar baku yang ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pengawasan terhadap formula bayi sangat ketat, hal ini disebabkan semua ahli bahwa ketidak tepatan pemberian nutrisi pada bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berbagai produk formula bayi standard dengan bermacam nama, harga dan promosi. Akan tetapi tidak ada bukti ilmiah satupun yang menyatakan yang satu lebih baik dari pada yang lain.

Formula bayi berbahan dasar soya/kedelai

Penggunaan formula yang berbahan dasar soya ditujukan apabila didapatkan bukti adanya alergi protein susu sapi (CMPA/cow milk protein alergi) akan tetapi faktanya 30 – 64% non-IgE mediated alergy dan 8 – 14% IgE-mediated alergy juga alergi terhadap soya. Oleh karena itu formula bayi yang berbahan dasar soya hanya merupakan pilihan terakhir jenis formula pengganti bagi bayi alergi (pilihan nomor satu adalah elemental, kedua protein hydrolisat). Formula soya bebas dari laktosa sehingga dapat digunakan pada intoleransi laktosa dan galaktosemia.

Pernyataan komite nutrisi AAP (American Academy of Pediatric) tentang formula soya:

Formula soya dapat dipertimbangkan digunakan untuk situasi:

  • Bayi dengan galaktosemia atau defisiensi emzim lactase
  • Bayi dengan orang tua vegetarian
  • Bayi dengan IgE-mediated CMPA

Formula soya tidak bermanfaat pada:

  • Bayi dengan diare tanpa bukti intoleransi laktosa
  • Infantil colic
  • Pencegahan allergy
  • Bayi dengan enteropathy dan enterocolitis yang diinduksi protein susu sapi

Formula bayi dengan Protein hydrolysates

Partially Hydrolyzed Formula (PHF) ditujukan untuk pencegahan alergi pada bayi yang memiliki riwayat alergi pada orang tua. Sedangkan Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) ditujukan untuk bayi dengan alergi susu sapi dengan manifestasi ringan atau sedang. Berdasarkan keriteria AAP hanya EHF yang tergolong susu hipoalergenik. Kejadian alergi protein susu sapi cukup jarang 2 – 3 persen, oleh karena itu AAP menyatakan bahwa penggunaan susu hipoalergenik (EHF dan Elemental) harus dengan pertimbangan dokter.

Formula bayi Elemental/Asam amino

Formula elemental digunakan pada alergi susu yang berat. Hanya untuk diketahui susu ini sangat mahal dan sulit dicari.

Formula Premature

Susu formula premature ditujukan agar bayi premature dapat mencapai pertumbuhan mendekati pertumbuhan didalam kandungan. Formula premature diberikan pada bayi dengan berat badan lahir 2000 gram. Susu formula premature sebaiknya dihentikan bila berat badan bayi 2000 gram dikarenakn dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi yang berlebihan. Dinegara maju formula premature hanya diberikan dirumah sakit, setelah bayi keluar dari rumah sakit diberikan formula premature transisi. Formula premature transisi memiliki cakupan nutrisi diantara formula premature dan formula standar/mature. Akan tetapi susu fomula ini sulit didapatkan di Indonesia dan belum ada bukti ilmiah yang menunjukan kelebihannya dibanding formula standar.

Penambahan LCPUFA, ARA dan DHA

Long-chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA) meliputi asam lemak essensial, Linoleic Acid, α-Linolenic Acid (ALA), Arachidonic Acid (ARA) and docosahexaenoic acid (DHA). Hampir semua formula bayi saat ini mempromosikan kandungan ARA dan DHAnya terutama yang premium. ARA dan DHA terdapat didalam asi dan merupakan asam lemak  utama yang membentuk retina (saraf mata) dan otak. Penambahan ARA dan DHA pada formula bayi belum memiliki bukti ilmiah yang kuat memiliki kelebihan dibandingkan formula tanpa ARA dan DHA. Beberapa penelitian menunjukan manfaat ARA dan DHA, namun setelah dibuat review (meta-analisis) oleh Cochrane memberikan kesimpulan tidak berbeda, akan tetapi penggunaan ARA dan DHA cukup aman.

Nucleotida

Nucleotida banyak terkandung dalam ASI, dan merupakan metabolit yang membentuk ribonucleic acid (RNA), deoxyribonucleic acid (DNA) dan adenosine triphosphate (ATP). Studi klinik  menunjukan manfaat nukleotida pada pertumbuhan dan modulasi sistim kekebalan tubuh pada bayi kecil menurut masa kehamilan.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus

Bila kita membaca peraturan BP POM tersebut terlihat jelas bahwa susu formula bayi diatur dalam hal kandungan nutrisi dan pemasarannya. Rincian persyaratan keamanan, mutu dan gizi formula bayi dapat dibaca pada lampiran peraturan tersebut. Kadar zat yang harus ada diatur kadar minimal dan maksimal, begitupula zat tambahan yang boleh ditambahkan.

Bila kita lihat pada bab empat berisi tentang larangan:

Pasal 1.  Pelaku Usaha dilarang:

a. memproduksi dan/atau memasukkan Formula Bayi dan/atau FormulaBayi Untuk Keperluan Medis Khusus ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini;

b. mencantumkan klaim gizi dan/atau klaim kesehatan pada label Formula Bayi;

c. mencantumkan klaim kesehatan pada label Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus; dan

d. mengiklankan Formula Bayi dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan.

Kandungan nutrisi yang boleh ditambahkan antara lain taurin, nukleotida, DHA,  ARA dan Probiotik. Kenapa tidak diharuskan? Hal ini disebabkan para ahli nutrisi sendiri terdapat silang pendapat tentang sejauh mana manfaatnya, efek samping jangka panjang atau bentuk sediaan yang tepat.

Ringkasan.

  1. Untuk bayi sehat dan tidak ada risiko alergi, bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi bebas (mahal-murah sama saja)
  2. Bila bayi sehat dan ada risiko alergi (ayah/ibu/saudara ada riwayat alergi),  bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi pilihlah yang Partially Hydrolyzed Formula (PHF) misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  3. Bila bayi menderita alergi protein susu sapi dan ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi:
    • Pertama: Susu formula elemental (mahal, diutamakan yang alergi berat)
    • Kedua: Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
    • Ketiga: Bila kedua formula diatas tidak dapat diakses maka boleh dicoba dengan formula bayi yang berbahan baku soya.
  4. Untuk bayi dengan masalah kesehatan lain harus dikonsultasikan dengan dokter anak.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Daftar Pustaka

  1. Martinez JA and Ballew MP, Infant Formulas, Pediatrics in Review 2011;32;179
  2. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th, 2011;161-164
  3. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus
  4. U.S. Department of Agriculture, Feeding Infants, A Guide for Use in the Child Nutrition Programs, 2002.
Advertisements
0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi

4

ASI dan Intolerasi Laktosa

Laktosa adalah “gula” yang diproduksi kelenjar payudara dan terdapat pada susu mamalia. Keberadaannya pada ASI tidak dipengaruhi apakah ibu mengkonsumsi susu atau tidak. Foremilk/ASI awal, yang keluar pada awal penyusuan, tidak memiliki kadar laktosa lebih banyak dibanding hindmilk/ASI akhir, perbedaannya hanya pada kandungan lemak yang lebih sedikit. Laktase adalah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa. Intoleransi laktosa terjadi pada seseorang yang tidak memproduksi enzim (atau produksinya tidak cukup banyak) sehingga tidak dapat mencerna laktosa.
Gejala intoleransi laktosa adalah tinja yang cair, bergumpal, serta kembung akibat banyak gas. Pemeriksaan ‘hydrogen breath test’ serta reduksi gula pada tinja akan positif pada kasus ini. Namun demikian, hal ini umum terjadi pada bayi usia dibawah tiga bulan. Beberapa kekeliruan tentang intoleransi laktosa yang berkembang:
  1. Laktosa pada ASI akan berkurang bila ibu berhenti mengkonsumsi produk susu
  2. Adanya anggota keluarga yang mengalami intoleransi berarti risiko bayi intoleransi laktosa lebih besar
  3. Bayi akan intoleransi laktosa bila ibunya juga
  4. Bayi yang mengalamai intoleransi laktosa perlu segera berhenti menyusu dan diganti dengan susu formula kedelai atau susu formula bebas laktosa
  5. Intoleransi laktosa sama dengan alergi protein susu sapi
Intoleransi Laktosa pada Bayi

Intoleransi laktosa primer adalah kondisi genetik yang sangat langka, dan memerlukan intervensi medis agar penderitanya dapat menjalani hidup secara normal. Bayi yang benar-benar intoleransi laktosa akan mengalami gagal tumbuh sejak lahir (tidak pernah mengalami kenaikan berat badan) serta menunjukkan tanda-tanda malabsorpsi serta dehidrasi – suatu kegawatdaruratan yang harus ditangani dalam beberapa saat setelah bayi lahir.
Intoleransi laktosa sekunder dapat terjadi akibat rusaknya lapisan usus. Enzim laktase diproduksi pada ujung jonjot usus, dan dapat lenyap bila permukaan usus mengalami kerusakan, misalnya pada :
  • gastroenteritis
  • intoleransi/alergi makanan (pada bayi yang mendapat ASI, dapat berasal dari protein makanan yang dikonsumsi ibu atau makanan pendamping ASI, misalnya susu sapi, kedelai atau telur)
  • coeliac disease (intoleransi terhadap gluten pada produk gandum)
  • setelah operasi saluran cerna
Sering kali terjadi salah persepsi bahwa alergi protein sapi dianggap sama dengan intoleransi laktosa. Sesungguhnya, persamaannya hanya satu hal, yaitu bersumber pada bahan pangan yang sama, yakni produk susu. Intoleransi laktosa sekunder bersifat sementara hingga kerusakan usus sembuh. Bila penyebab kerusakan diatasi, misalnya makanan yang menyebabkan alergi tidak lagi diberikan, maka usus akan sembuh, walaupun bayi tetap mengkonsumsi ASI. Bila seorang dokter mendiagnosis intoleransi laktosa, perlu dipahami bahwa hal ini tidak membahayakan selama bayi dapat tumbuh dengan normal.
Seringkali demi upaya mengatasi gejala secepat mungkin, jumlah konsumsi laktosa pada asupan dikurangi sementara waktu, khususnya bila bayi telah kekurangan berat badannya. Beberapa kalangan kemudian menganjurkan ibu memberikan tambahan susu formula bebas laktosa dan mengurangi menyusui.  Namun sebelum memperkenalkan produk makanan buatan, sangat penting diingat bagaimana sensitifitas bayi pada protein asing (sapi atau kedelai) karena sering kali memperburuk keadaan. Tidak ada bukti keuntungan menghentikan bayi menyusu. Pada kasus bayi pulih dari radang saluran cerna, rata-rata masa pemulihan dari usus selama empat hingga delapan minggu pada bayi usia dibawah tiga bulan, sementara bayi usia lebih dari 18 bulan masa pemulihannya bisa kurang dari seminggu.
Hendaknya hal-hal berikut menjadi pertimbangan sebelum menganjurkan bayi berhenti menyusu untuk sementara waktu:
·         Bagaimana efek pemberian makanan tambahan pada bayi ini kelak? Apakah dapat mengakibatkan bayi menolak menyusu di kemudian hari?
·         Seberapa mudahkah bagi ibu untuk memerah ASInya demi mempertahankan pasokan ASI?

Seorang ibu perlu memahami apa yang tengah terjadi, dan hendaknya tidak mengakibatkan rasa percaya dirinya untuk menyusui berkurang, karena ASInya sesungguhnya normal dan masih merupakan makanan terbaik untuk jangka waktu lama.

Beberapa tenaga kesehatan kadang memberikan enzim tetes untuk mengatasi intoleransi laktosa. Tidak ada bukti bahwa penggunaannya bermanfaat, karena perlu dicampurkan terlebih dahulu dalam susu dan dibiarkan semalam hingga enzim tersebut dapat mencerna laktosa dalam susu.
ASI sesungguhnya memiliki konsentasi laktosa yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada susu mamalia lain. Inilah sesungguhnya yang mengakibatkan pertumbuhan cepat otak bayi dibandingkan mamalia lainnya. Namun, perlu diingat bahwa struktur molekulnya lebih spesifik untuk spesiesnya, sehingga dapat dicerna oleh bayi. Menghilangkan asupan laktosa pada bayi (dengan memberikan susu formula khusus bebas laktosa) haruslah dengan pengawasan medis yang ketat.

Pasokan laktosa berlebihan
Pasokan laktosa berlebihan dapat menyerupai intoleransi laktosa, dan seringkali terjadi salah diagnosis. Hal ini sering terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI dalam jumlah banyak, misalnya pada keadaan ibu memiliki pasokan ASI sangat banyak (lihat artikel Produksi ASI Terlalu Banyak). Gejala yang nampak adalah bayi usia kurang dari tiga bulan mengalami kenaikan berat badan cukup hingga lebih, popok basah mencapai lebih dari sepuluh dalam 24 jam. Ironisnya, ibu mungkin menganggap pasokan ASInya kurang karena bayinya nampak selalu lapar.
Yang sesungguhnya terjadi adalah bayi mendapat pasokan dalam jumlah besar dengan kadar lemak rendah begitu cepatnya, sehingga tidak semua laktosa sempat dicerna. Akibatnya laktosa yang tiba di usus besar menarik air dalam volume besar dan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan tinja asam bergas dan bayi dapat mengalami ruam popok. Gas dalam usus naik dan mengakibatkan perut tidak nyaman, sehingga bayi nampak “lapar”. Satu-satunya cara bagi bayi untuk mendapat kenyamanan adalah dengan menyusu, yang membantu bayi mengurangi gas dari pencernaannya. Namun hal ini hanya dapat mengatasi masalahnya sementara waktu, karena ibunya akan kembali menyusui, dan menambah cairan dan gas dalam pencernaan. Akibatnya, ASI nampaknya lewat begitu cepat.
Bila masalah ini bertahan, sebaiknya dicari tahu penyebab pasokan ASI berlebih ini.
  • Apakah ibu membatasi lamanya bayi menyusu pada satu sisi?
  • Apakah sesuatu menyebabkan bayi gelisah sehingga ingin menyusu lebih sering dan pasokan menjadi berlebih?
  • Apakah terjadi intoleransi laktosa sekunder?
  • Apakah ibu cemas dengan pasokan ASInya sehingga melakukan stimulASI berlebih pada pasokan ASInya?
  • Apakah bayi tidak sehat-mungkin mengalami nyeri pasca persalinan sehingga mencari kenyamanan dengan menyusu lebih sering?
  • Mungkinkah hanya variasi normal pada ibu? Seringkali ibu dengan keadaan seperti ini kemudian menjadi ibu susu yang berhasil!
Kesimpulannya, ada beberapa jenis intoleransi laktosa, namun sangat langka bayi perlu berhenti menyusu akibat keadaan ini. Selalu ada penyebab intoleransi laktosa pada bayi, kecuali pada kasus intoleransi primer yang amat langka, cara terbaik mengatasi gejala ini adalah dengan mencari penyebab utamanya.

Artikel ini dapat didapat dari http://selasi.net/artikel/kliping-artikel/artikel-menyusui/225-asi-dan-intoleransi-laktosa.html