0

Kompresi Payudara

Tujuan dari kompresi (penekanan) payudara adalah meneruskan aliran ASI pada bayi ketika bayi tidak lagi menyusu (mulut terbuka lebar – berhenti sebentar/jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap) sehingga sang bayi tetap minum. Kompresi payudara menstimulasi suatu let down reflex dan seringkali menstimulasi pula munculnya reflek ini secara natural. Teknik ini berguna untuk:

  1. Kenaikan berat badan yang buruk
  2. Kolik pada bayi yang disusui
  3. Frekuensi penyusuan yang sering dan atau lama
  4. Puting Ibu yang terluka
  5. Saluran yang berulang kali tersumbat/Mastitis
  6. Membantu bayi yang tertidur untuk meneruskan minum tidak hanya sekedar menghisap

Kompresi payudara tidak diperlukan jika segala sesuatunya berjalan lancar. Ketika semua berjalan baik-baik saja, Ibu sebaiknya membiarkan bayi “menyelesaikan” susuan pada salah satu sisi payudara , dan jika bayi menginginkan lebih, barulah payudara sebelahnya diberikan. Bagaimana Ibu mengetahui bayi telah selesai minum? Ketika dia tidak minum lagi (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap).

Kompresi payudara berjalan baik khususnya pada beberapa hari pertama setelah kelahiran untuk membantu bayi mendapatkan kolostrum. Bayi-bayi pada dasarnya tidak memerlukan banyak kolostrum, tetapi memerlukan sejumlah tertentu. Pelekatan yang baik dan kompresi membantu mereka mendapatkannya

Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui:

  1. Seorang bayi yang memiliki perlekatan (latch on) baik akan lebih mudah mendapatkan ASI dibandingkan yang tidak. Bayi yang kurang baik perlekatannya hanya akan mendapatkan ASI jika aliran ASI tersebut cepat. Oleh karena itu, banyak Ibu dan bayi yang melakukan proses penyusuan dengan baik walaupun kurang baik latch-on-nya karena sebagian besar Ibu memproduksi ASI yang berlebih.
  2. Dalam 3-6 minggu pertama, banyak bayi yang cenderung tertidur ketika aliran ASI lambat tidak serta merta menunjukkan mereka sudah cukup makan. Setelah usia ini, mereka mulai menjauh dari payudara ketika aliran ASI menurun. Tetapi, beberapa diantara mereka sudah menarik diri dari payudara bahkan dibawah usia ini, terkadang ketika mereka masih berusia beberapa hari saja.
  3. Sayang sekali, banyak bayi yang kurang baik perlekatannya. Jika produksi ASI Ibu berlebih, hal ini tidak menjadi masalah selama pertumbuhan berat badan normal, tetapi terkadang ada harga yang harus dibayar oleh Ibu misal puting yang nyeri/terluka, kolik, bayi yang selalu menempel pada payudara (tetapi hanya sedikit minum).

Kompresi payudara meneruskan aliran ASI ketika bayi tidak lagi minum (hanya menghisap) dari payudara dan hasilnya bayi akan:

  1. Mendapatkan lebih banyak ASI
  2. Mendapatkan lebih banyak ASI yang tinggi lemak

Kompresi Payudara – Bagaimana Melakukannya

  1. Peganglah bayi dengan salah satu lengan
  2. Peganglah payudara dengan tangan lain, ibu jari pada satu sisi payudara (paling mudah ibu jari berada pada sisi atas payudara), jari-jari lain pada sisi lainnya, cukup jauh dari puting.
  3. Pandangilah bagaimana bayi minum walaupun tidak perlu harus terobsesi dengan setiap hisapan yang diberikan. Bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup ketika dia minum dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap.
  4. Ketika bayi terlihat menggigit (ngempeng) dan tidak tampak mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, tekanlah payudara. Tidak perlu keras-keras sehingga Ibu kesakitan dan usahakan jangan sampai mengubah bentuk aerola (bagian payudara yang berada dekat mulut bayi). Dengan tekanan, bayi akan memulai lagi minum dengan posisi mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap. Lakukan kompresi ketika bayi menghisap (ngempeng) tetapi sesungguhnya tidak minum!
  5. Jagalah tekanan hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, kemudian lepaskanlah tekanan tersebut. Seringkali bayi berhenti menyedot ketika tekanan dilepaskan namun akan mulai menyusu lagi tak lama setelah ASI mengalir kembali. Jika bayi tidak berhenti menyedot seiring dengan tekanan yang dilepaskan, tunggu beberapa saat sebelum menekan lagi
  6. Alasan Ibu perlu melepaskan tekanan adalah untuk membiarkan tangan Ibu beristirahat dan mengalirkan kembali ASI pada bayi. Pada bayi sendiri, jika dia berhenti menyedot ketika Ibu melepaskan tekanan, dia akan meneruskan kembali minum begitu dia merasakan ada aliran ASI
  7. Ketika bayi mulai menyedot lagi, dia akan minum (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap). Jika tidak, tekan lagi payudara sebagaimana cara diatas
  8. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan penekanan. Ibu perlu membiarkan bayi menyusu pada salah satu sisi payudara agak lama, karena terkadang LDR lain muncul (milk ejection reflex) dan bayi akan kembali minum atas kehendaknya sendiri. Namun, jika bayi tidak lagi minum, biarkan bayi berhenti atau melepaskan diri dari payudara
  9. Jika bayi menginginkan lebih banyak ASI, berikan sisi payudara yang lain, dan ulangi proses diatas
  10. Teruslah memperbaiki perlekatan penyusuan bayi.
  11. Ingat, lakukan kompresi ketika bayi menghisap tetapi pada dasarnya tidak minum.

Langkah-langkah diatas berjalan baik di klinik kami (Dr Newman’s, red), tetapi jika Ibu menemukan cara yang bekerja lebih baik agar bayi senantiasa menyedot dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, silahkan gunakan apapun cara yang bekerja terbaik bagi Ibu dan bayi. Selama cara itu tidak melukai payudara untuk menekan dan selama bayi tetap “minum” (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap), kompresi payudara pada dasarnya sedang berlangsung

Kompresi tidak selalu perlu dilakukan. Ketika proses penyusuan membaik, Ibu akan dapat melihat hal ini akan berjalan dengan alami.

Referensi

Jack Newman, 2005. Handout #15 Breast Compression from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

Advertisements
0

ASI tidak cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan lebih banyak ASI

Berikut ini adalah langkah-langkah yang saya sarankan untuk Ibu-ibu yang mengalami “kekurangan produksi ASI” (kenyataannya, sebagian besar Ibu memiliki banyak atau dapat memiliki banyak, tetapi masalahnya adalah bayi tidak mendapatkan ASI yang tersedia).

  1. Dapatkan sebisa mungkin perlekatan (latch on) yang terbaik. Hal ini perlu ditunjukkan oleh seseorang yang tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan (misal diawasi oleh konsultan laktasi, dokter, atau bidan). Seseorang inilah yang nantinya akan mengatakan pada Ibu bahwa pelekatan yang dibuat telah benar. Jika Ibu memproduksi cukup ASI, perlekatan yang sempurna tidak harus selalu terjadi. Tetapi, jika produksi ASI menurun, bayi akan mendapatkan lebih banyak ASI jika ia mampu melekat lebih baik. 
  2. Paham apakah bayi benar-benar mendapatkan ASI atau tidak. Ketika seorang bayi mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan/minum ASI hanya karena payudara Ibu berada dalam mulutnya dan melakukan gerakan seperti menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda pada suatu titik di dagunya setelah bayi membuka mulutnya maksimal dan sebelum dia menutup mulutnya (buka mulut lebar -jeda – menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk ketika bayi melakukannya pada payudara. Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya. Bayi yang hanya ngempeng (tidak minum) selama 20 jam akan terus melekat pada payudara.
  3. Ketika bayi tidak lagi minum dengan caranya sendiri, gunakan kompresi atau penekanan untuk meningkatkan aliran ASI ke bayi. Kompresi dapat membantu, tetapi jangan lupa usahakan terlebih dahulu untuk mendapatkan perlekatan terbaik. Bayi cenderung menarik diri dari payudara ketika aliran susu melambat, sehingga akan sangat berguna bagi Ibu tahu bagaimana mengenali sang bayi sesungguhnya telah mendapatkan (minum) ASI dan tidak hanya menghisap (ngempeng). Ketika bayi tampaknya tidak lagi menyusu dan hanya menghisap tanpa mendapatkan ASI, barulah kompresi dimulai. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi. Lihat artikel “Kompresi Payudara”.
  4. Ketika bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, berpindahlah ke payudara lain dan ulangi proses diatas. Teruskan perpindahan ke payudara lain lagi dan berpindah lagi hingga bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup dari payudara.
  5. Cobalah herbal fenugreek atau blessed thistle yang dapat meningkatkan produksi ASI dan melancarkan alirannya . Informasi mengenai hal ini dapat diperoleh dalam handout #24 buku “The Ultimate Breastfeeding Book of Answers”. (Cttn: untuk Indonesia, daun katuk dan daun singkong dipercaya mampu meningkatkan produksi ASI, namun demikian perlu diingat secara ilmiah belum banyak riset yang mendukung).
  6. Pada malam hari ketika biasanya bayi ingin menyusu lebih lama, usahakan Ibu mendapat posisi yang cukup nyaman  supaya Ibu dapat menyusui sembari berbaring. Biarkan bayi menyusu dan mungkin Ibu akan tertidur, atau nyalakan TV (atau film, misalnya) dan biarkan bayi menyusu sambil Ibu menikmati tayangan TV.
  7. Bukanlah hal yang mudah untuk menentukan apakah bayi benar-benar memerlukan suplemen. Terkadang dengan menerapkan protokol ini dalam beberapa hari saja, kenaikan berat badan sudah tampak. Terkadang pula pertumbuhan yang cepat diperlukan sehingga dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa memberikan suplemen. Jika mungkin, dapatkan ASI donor (atau dari bank ASI) sebagai suplemen. Jika tidak tersedia, penggunaan susu formula boleh jadi diperlukan. Namun demikian, terkadang pertumbuhan yang lambat namun pasti masih dapat diterima/ditolerir. Salah satu alasan utama mengapa kita perlu khawatir mengenai pertumbuhan adalah karena pertumbuhan yang baik merupakan tanda kesehatan yang baik pula. Bayi yang tumbuh dengan baik umumnya memiliki kondisi kesehatan yang baik., tetapi ini tidak pasti harus selalu begitu. Tidak berarti bayi yang pertumbuhannya lambat pasti kondisi kesehatannya jelek, tetapi dokter akan mengkhawatirkan bayi yang tumbuh lebih lambat dari rata-rata. Kurva pertumbuhan seringkali diterjemahkan secara keliru. Seorang bayi seharusnya berada diatas garis persentil 10. Banyak orang, termasuk dokter sendiri, percaya bahwa hanya bayi yang berada dalam persentil 50 atau lebih tumbuh normal. Hal ini tidak benar. Kurva pertumbuhan disusun berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari bayi-bayi normal. Seseorang harusnya lebih kecil dari 90% bayi-bayi yang lain. Seseorang itu normal.
  8. Jika akhirnya diputuskan untuk memberikan suplemen, cara terbaik adalah memberikan alat bantu laktasi (lactation aid). Perkenalkan suplemen tersebut menggunakan alat bantu laktasi, bukan botol, syringe, cangkir atau finger feeding. Lihat handout #5 Using a Lactation Aid. Berikan suplemen hanya setelah langkah ke-3 dan ke-4 diatas dilakukan dan bayi telah disusui pada kedua belah sisi payudara. Mengapa lebih baik kita menggunakan alat bantu laktasi.
    • Bayi belajar menyusu melalui proses menyusui itu sendiri
    • Ibu belajar menyusui melalui proses menyusui itu sendiri
    • Bayi tetap mendapatkan ASI
    • Bayi tidak akan menolak ASI
    • There is more to breastfeeding than the breastmilk
  9. Jika bayi berusia lebih dari 3 atau 4 bulan, dan suplemen tampaknya diperlukan, susu formula bukan solusinya. Kalori tambahan dapat diberikan dalam bentuk makanan padat. Makanan padat pertama tersebut termasuk: bubur pisang, bubur apokat, atau bubur kentang, sereal bayi sebanyak yang akan dimakan bayi, dan setelah bayi menyusui namun masih merasa lapar. Pada usia ini bahkan mungkin terjadi ketika bayi tidak mendapatkan ASI cukup akan berakibat dia menolak menyusu. Jika Ibu harus memberikan formula, campurlah dengan makanan padat. Memberikan makanan padat pada usia 3 atau 4 bulan manakala segalanya berjalan dengan baik, sangat tidak direkomendasikan. Bahkan ketika pertumbuhan berat badan lambat, masih terdapat berbagai cara yang dapat dicoba agar bayi mendapatkan lebih banyak ASI sebelum mendapatkan makanan padat. Makanan padat seharusnya dimulai ketika bayi mulai menunjukkan minat makan makanan padat (sekitar usia 5 sampai 6 bulan)
  10. Jika kenaikan berat badan bayi cukup baik pada bulan-bulan pertama namun sekarang tidak lagi menggembirakan, silahkan lihat artikel Pertumbuhan Berat Badan Bayi yang Melambat pada Bulan-bulan Pertama. Dalam artikel tersebut akan diberikan daftar alasan-alasan penurunan produksi ASI. Perbaiki selagi Ibu bisa, dan lalu lanjutkan protokol ini.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari

Jack Newman, 2005. Protocol to Increase breastmilk intake by the baby (“Not enough milk”) from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.