0

Demam Tifoid

PENDAHULUAN

Demam tifoid atau dikenal juga sebagai demam enterik merupakan penyakit sistemik berat yang ditandai dengan demam dan gejala saluran cerna. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya dimana higiene dan sanitasinya masih kurang. Indonesia termasuk salah satu negara dengan prevalensi tinggi, lebih dari 100 kejadian per 100000 penduduk. Prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3 – 19 tahun. Kejadian meningkat setelah umur 5 tahun.

 EPIDEMIOLOGI

Faktor risiko seseorang terkena demam tifoid terkait dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan, termasuk didalamnya mengkonsumsi makanan diluar rumah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, 80% penderitanya memiliki riwayat bepergian di negara dengan endemic typhoid.

Gambar 1. Epidemiologi Tifoid

 PENYEBAB

Sekitar 80-90% persen demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi, sedangkan sisanya oleh Salmonella paratyphi A, B, atau C. Kuman tersebut masuk dalam kelompok enterobacteriacea.

 GEJALA DAN TANDA

Gambaran klasik demam tifoid jika tidak mendapat pengobatan:

Minggu pertama panas bertahap naik, minggu kedua gangguan saluran cerna dan ras pada perut dan minggu ketiga pembesaran hati, pembesran limpa, perdarahan saluran cerna dan kebocoran usus. Bila dirinci gejala/tanda yang dapat muncul sebagai berikut

  • Demam (fever), ditandai panas bertahap naik. Puncak panas terutama setelah 1 minggu, dan akan tetap tinggi pada minggu berikutnya.
  • Nyeri kepala (headache)
  • Mual (nausea)
  • Diare, biasanya tidak berat (terutama pada bayi dan balita)
  • Muntah (vomiting)
  • Konstipasi (terutama pada anak besar dan dewasa)
  • Batuk
  • Nyeri tekan perut (abdominal tenderness)
  • Pembesaran limpa (spleenomegaly) dan pembesaran hati (hepatomegaly)

Gejala dan tanda tersebut dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan terutama antibiotika. Seringkali kecurigaan tifoid baru didapat setelah panas 1 minggu atau memasuki periode status (status periode) dimana gejala dan tandanya lebih khas/jelas

 

 Gambar 2. Frekuensi kemunculan gejala dan penampakan fisik pada pasien demam enteric

 

 Gambar 3. Perjalanan demam tifoid

 DIAGNOSIS

Diagnosis dibuat berdasarkan tanda dan gejala klinis serta faktor risiko yang ada. Kadangkala gejala klinis tidak khas akibat telah dilakukan intervensi sebelumnya. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemeriksaan penunjang:

  1. Hitung darah lengkap dapat ditemukan leucopenia, anemia, trombositopenia dan lymphositosis relative.
  2. Tes Felix-Widal. Merupakan tes yang paling banyak digunakan. Dikerjakan dengan pengenceran ganda serum pada tabung untuk mengukur level agglitunasi antibody terhadap antigen O dan H. Biasanya antibodi terhadap antigen O meningkat pada hari 6-8 sedangkan antibody terhadap antigen H pada hari 10-12 sesudah onset penyakit.  Tes Widal tidak cukup sensitif dan spesifik. Kira-kira sekitar 30% tes widal negatif pada pasien dengan demam tifoid. Sedangkan Widal positif belum tentu menunjukan adanya infeksi oleh salmonella typhy dikarenakan antigen O dan H tersebut bisa saling bertukar dengan kuman salmonella yang lain dan dapat juga bereaksi silang dengan Enterobacteriacae yang lain. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah nilai batas normal untuk daerah endemic seringkali tidak ada data. Sehingga sampai saat ini penggunaan tes Widal masih dalam perdebatan.
  3. Kultur kuman. Merupakan tes baku untuk mendiagnosis suatu infeksi, akan tetapi pelaksanaanya cukup sulit, lama dan hasilnya seringkali tidak sesuai yang diharapkan. Kendala tersebut terkait dengan pengobatan yang sudah diberikan, perjalanan penyakit, pengambilan dan pengiriman sampel, dll.
  4. Beberapa tes baru dan manfaatnya
  • Tes IDL Tubex® (dibuat di Swedia). Dapat mendeteksi IgM anti tifoid dalam beberapa menit.
  • Typhidot ®, (dibuat di Malaysia) perlu beberapa jam untuk pengerjaannya. Versi lama mendeteksi IgM dan IgG. Sedangkan versi baru dapat mendeteksi Ig M.
  • IgM dipstick test. Tes cepat untuk mendeteksi IgM

Ketiga tes diatas lebih sensitif dan spesifik dibanding tes Widal, akan tetapi tidak dapat mendeteksi paratipus serta harganya jelas lebih mahal.

Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan hasil kultur. Diagnosis berdasarkan klinis dan laboratorium penunjang merupakan diagnosis kerja yang sudah dapat digunakan untuk memulai terapi.

 Definisi kasus berdasar WHO:

  • Konfirmasi diagnosis (Confirmed case of typhoid  fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan kultur positif salmonella typhi. Bahan kultur darah, sumsum tulang, cairan tubuh.
  • Curiga tifoid (Probable case of typhoid fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan uji serology  atau antigen positif.
  • Pembawa/penular  kuman tifoid (Chronic carrier), ekskresi kuman tifoid pada feses atau urine lebih dari satu tahun sesudah onset akut demam tifoid.

 PENANGANAN

  1. Antibiotika: terapi utama demam tifoid adalah pemberian antibiotika, antara lain: Klorampenikol, Amoksilin, Kotrimoksazol, Seftriakson, Sefiksim dan Ciprofloxacin.
  2. Suportif
    • Kecukupan cairan, elektrolit dan nutrisi
    • Diet rendah serat dan mudah dicerna
    • Obat penurun panas
    • Tirah baring
  3. Penanganan komplikasi

 

INDIKASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT

Demam tifoid dengan komplikasi/penyulit atau bila dipertimbangkan perawatan dirumah oleh keluarga tidak adekuat. Komplikasi yang bisa terjadi: dehidrasi, perdarahan saluran cerna, perforasi usus, hepatisis tifosa, meningitis, pneumonia, pyelonephritis, endokarditis dll.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Sebagian besar penularan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (kurang bersih) maka pencegahan terutama penyediaan air bersih dan penyajian/pengelolaan makanan yang sehat serta sanitasi lingkungan. Bagi mereka yang berisiko sakit (anak-anak) atau sumber penular (mereka yang terkait dengan penyajian makanan) sangat dianjurkan pemberian vaksin.

Vaksin yang tersedia saat ini:

 A. Oral Typhoid Vaccine (Ty21A) : vaksin hidup

            B. Parenteral Inactivated Typhoid Vaccine: mati, subkutan

            C. Typhoid Vi Capsular Polysaccharide Vaccine: IM

 KESALAHAN UMUM

  1. Mendiagnosis demam tifoid hanya berdasarkan hasil laboratorium terutama Widat test tanpa mempertimbangan klinis pasien.
  2. Menyebut gejala tifus pada pasien yang panas padahal tidak ada data klinis atau laboratorium yang mengarah ke demam tifoid.
  3. Memaksa anak makan bubur halus, padahal yang terpenting adalah diet bebas serat.
  4. Memeriksa Widal pada semua pasien panas meski klinis tidak ada kecurigaan demam tifoid.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vollaard Am; Ali S; Van Asten Ha; Widjaja S; Visser Lg; Surjadi C; Van Dissel Jt, 2004, Risk Factors For Typhoid And Paratyphoid Fever In Jakarta, Indonesia. JAMA 2;291(21):2607-15.
  2. Parry Cm; Hien Tt; Dougan G; White Nj; Farrar Jj, 2002, Typhoid Fever, N Engl J Med Nov 28;347(22):1770-82.
  3. WHO, 2003, Background Document: The Diagnosis, Treatment And Prevention of Typhoid Fever, Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals
  4. Donald E, 2004, Typhoid Fever, Deadly Diseases And Epidemics, Infobase Publishing,
  5. Kliegman Rm, Stanton Bf, Schor Nf, Geme Jw Dan Berhman Re (Editor), Nelson, 2011, Textbook Of Pediatric, 19th.
  6. Mandell, Douglas, And Bennett’s (Editor), 2010, Principles And Practice Of Infectious Diseases, Elsevier Inc

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Advertisements
1

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

Pembagian Klinis WHO

Di kalangan masyarakat kita, penyakit Demam berdarah dengue (DBD) umumnya identik dengan turunnya trombosit atau adanya perdarahan. Benarkah demikian?

Turunnya trombosit dan perdarahan saat ini bukanlah parameter utama dalam perjalanan penyakit DBD. Bahkan sebagian besar penyebab kematian karena DBD  bukan akibat perdarahan. Oleh sebab itu kita perlu tahu apa itu DBD.

Demam berdarah dengue adalah salah satu bentuk manisfestasi klinis yang diakibatkan infeksi virus dengue pada manusia.  Sebelum tahun 2009 WHO membuat batasan gambaran klinis infeksi virus dengue sebagai berikut:

  1. Asimptomatik (tidak bergejala)
  2. Simptomatik, dibagi menjadi:
    1. Demam yang tidak khas (undifferentiated fever)
    2. Dengue fever (DF) atau demam dengue (DD)
    3. Dengue hemorrhagic fever (DHF) atau Demam berdarah dengue (DBD)

Gambar 1. Pembagian Klinis WHO sebelum tahun 2009

Sejak tahun 2009 pembagian klinis demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) dianggap sulit diterapkan.  Perbedaan DD dengan DBD terletak pada adanya kebocoran plasma (plasma leakage) yang dapat menyebabkan syok.  Menentukan ada tidaknya kebocoran plasma kadang kala tidak mudah dan beberapa kondisi klinis infeksi virus dengue berat tidak cukup memenuhi keriteria DBD.  Maka pembagian klinis infeksi dengue simptomatik pada tahun 2009 disusun lebih aplikatif yaitu sebagai berikut:

  1. Infeksi dengue
  2. Infeksi dengue dengan tanda bahaya
  3. Infeksi dengue berat

 Gambar 2: Pembagian Klinis WHO 2009

 Pembagian klinis WHO tahun 2009 tentang Dengue ini belum banyak dipakai dilapangan, akan tetapi sosialisasi sudah mulai diberikan oleh organisasi profesi terutama IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kapan Curiga terjadi Infeksi Dengue?

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal didaerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris.  Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemic cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitive untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Gambar berikut menunjukkan perjalanan penyakit Dengue beserta manifestasi klinisnya

Gambar 3. Perjalanan Penyakit Dengue

Kapan harus  ke dokter?

Setiap kita curiga anak terjangkit infeksi dengue setelah 3 hari (dari awal panas mendadak) harus ke dokter.  Kontrol selanjutnya sesuai nasehat dokter

Kapan dirawat di Rumah Sakit?

Infeksi dengue dengan tanda bahaya wajib dirawat di RS sedangkan infeksi dengue tanpa tanda bahaya tergantung penyulit yang lain (pertimbangan dokter)

Penanganan

  • Pemberian cairan yang cukup.
  • Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengatasi penyulit bukan menyembuhkan.
  • Kematian sebagian besar terjadi karena keterlambatan penanganan
  • Transfusi trombosit indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan untuk menaikkan trombosit ataupun mencegah perdarahan.
  • Transfusi plasma beku segar (FFP, fresh frozen plasma) indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan mencegah perdarahan ataupun mengatasi syok 

Contoh Kasus Nyata yang pernah ditangani

  • Pasien A dengan DHF usia 6 tahun trombosit terendah 6000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien B dengan DHF usia 7 tahun trombosit 16.000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien C dengan DHF usia 7 tahun trombosit 30.000 dilakukan transfusi trombosit karena ada perdarahan di saluran cerna
  • Pasien D dengan DHF usia 8 tahun trombosit 20.000 dengan perdarahan hidung tidak dilakukan transfusi trombosit cukup diberikan tampon hidung

Ringkasan Penting

  1. Panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi)  dan tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyaki tertentu yang khas/pasti maka harus dipikirkan dengue (bagi yang tinggal di daerah endemic dengue, mayoritas kota besar di Indonesia endemic)
  2. Setiap curiga infeksi dengue, setelah 3 kali 24 jam harus ke dokter.
  3. Parameter bahaya pada dengue infeksi tidak hanya kadar trombosit.
  4. Tranfusi Trombosit atau FFP hanya dengan indikasi tertentu (perdarahan). Waspada bahaya transfusi.
  5. Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok.
  6. Belum ada obat yang bisa membunuh atau menghambat pertumbuhan virus dengue (yang paling memungkinkan adalah pemberian vaksin).

Referensi

  1. Ratni Indrawati, Pengenalan Tanda awal kegawatan Infeksi dengue, FK UGM
  2. WHO, Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control — New edition, 2009 http://www.searo.who.int/linkfiles/dengue_guideline-dengue.pdf
  3. Suchitra Nimmannitya, Dengue/Dengue Haemorrhagic  Fever : A Rising Health Problem of Global Concern
  4. Dengue, WHO Learning Production 2005 (Interactive Tutorial)

 

0

Hand Foot and Mouth Disease (“Flu Singapore?”)

Hand Foot Mouth Disease (HFMD) merupakan kumpulan gejala dan tanda yang khas pada kulit dan mukosa. HFMD paling banyak disebabkan oleh virus coxsackie A16, kadangkala ketika mewabah dapat juga disebabkan oleh enterovirus 71, virus coxsackie A5, A7, A9, A10 serta coxsackie B2 dan B5.  Virus coxsackie merupakan famili picornaviridae dan genus enterovirus. Jadi berasal dari genus dan famili yang sama dengan virus polio.

Dalam referensi kedokteran HFMD tidak dikenal sebagai “Flu Singapore”. Bahkan dalam sebuah website yang ditulis oleh orang Singapura, merekapun heran dengan sebutan tersebut.

Gejala dan Tanda HFMD:

  • Biasanya tampilan sakit ringan (anak tidak tampak sakit berat)
  • Demam tidak tinggi
  • Vesikel pada tenggorokan, gusi, langit-langit mulut, bibir yang kemudian membentuk luka (ulkus) seperti stomatitis dengan diameter 4 – 8 mm dilingkupi kemerahan disekitarnya.
  • Vesikel (mirip cacar) pada telapak tangan, jari, kaki, pantat dan pangkal paha.

 

Jenis virus tertentu  penyebab HFMD terutama enterovirus 71 dapat menyebabkan gangguan pada saraf, jantung dan paru, serta menyebabkan kematian. Secara umum, semua infeksi yang disebabkan virus dapat menimbulkan gejala mirip flu (pilek, batuk, nyeri  kepala, nyeri otot) dan gejala saluran cerna (diare, muntah, nyeri perut). Sehingga pasien dengan HFMD-pun bisa disertai gejala dan tanda tersebut.

Tata Laksana

Penyakit HFMD biasanya akan sembuh dengan sendirinya (self limited). Akan tetapi bila terjadi kondisi klinis berat maka perlu tindakan intervensi. Intervensi tersebut lebih berfungsi suportif. Penggunaan antivirus belum terbukti bermanfaat. Oleh sebab itu bila dirasa kondisi anak kurang baik/nampak sakit berat perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak

Referensi

  1. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th ed., 2011
  2. Long SS, Pickering LK dan Prober CG (editor), Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, 3rd ed., 2008
  3. Strauss JH dan Strauss EG, Viruses and Human Disease, 2nd ed., 2008

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

2

Diare Pada Anak

Pendahuluan

Di negara berkembang, diare akut masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak. Rata–rata sekitar 30% dari jumlah tempat tidur yang ada di Rumah Sakit ditempati oleh bayi dan anak dengan penyakit diare.

Definisi :

Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja mejadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah  yang berlangsung kurang dari satu minggu.

Pada bayi yang minum ASI eksklusif, frekuensi buang air besarnya normal lebih dari 3 – 4 kali per hari, sehingga keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang–kadang pada seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi  konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare.

Tipe Diare

  • Diare berair akut (termasuk kolera)
  • Diare dengan perdarahan akut (disentri)
  • Diare berkepanjangan (berlangsung 14 hari atau lebih)
  • Diare yang disertai malnutrisi berat (Marasmus atau kwasioskor)

Epidemiologi :

Di negara berkembang anak-anak balita mengalami rata-rata 3–4 episode diare per tahun, tetapi dibeberapa tempat dapat lebih dari 9 episode diare per tahun atau hampir 15–20 %  waktu hidup anak dihabiskan untuk diare. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat pada tahun 2003 tercatat 20–35 juta episode diare diantara 16,5 juta balita. 200.000 diantaranya memerlukan perawatan dirumah sakit dengan angka kematian berkisar 200–400 setahun.

Di Indonesia sendiri dilaporkan 1,6–2 episode diare per tahun pada balita, sehingga secara keseluruhan diperkirakan episode diare pada balita sekitar 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 – 400.000.

Diare juga merupakan penyebab kematian utama pada balita, menurut peringkat urutan penyebab kematian pada bayi dan balita, pada SURKESNAS 2001 diare menempati urutan penyebab kematian no 2 yaitu sebesar 13,2 %.

Cara  penularan dan faktor resiko :

Cara penularan  diare pada umumnya melalui cara fekal – oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (dikenal juga melalui 4 F = finger, flies, fluid, field )

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4–6 bulan  pertama kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.

Faktor Musim

Di daerah tropik seperti Indonesia, diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.

Etiologi

Pada saat ini dengan kemajuan bidang iptek, hasil laboratorium telah dapat mengidentifikasi  kuman-kuman patogen dari penderita diare sekitar 75% pada kasus yang datang disarana kesehatan dan sekitar 50% kasus ringan di masyarakat. Penyebab infeksi utama timbulnya diare  umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit.

Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non inflammatory dan inflammatory.

Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan /atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya  inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anak-anak yaitu : Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium.

Manifestasi klinis :

Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare, biasanya tidak demam atau hanya sumer-sumer (bhs Jawa), nyeri perut periumbilikal dan tidak berat, diarenya watery (berair) menunjukkan yang terkena saluran cerna bagian atas. Jenis diare ini biasanya paling sering menyebabkan dehidrasi. Sedang diare yang  inflammatory diarenya sedikit-sedikit, disertai darah-lendir dan nyeri perut. Sedangkan demam bisa tinggi atau justru tanpa demam. Inflammatory diare sering disebut diare disentriform.

Lama Diare:

Biasanya diare sembuh dalam 3 -5 hari, 90% kurang dari 7 hari. Bila diare lebih dari 7 hari (disebut diare berkepanjangan) maka harus ke dokter anak atau dirawat di rumah sakit. Bila diare lebih 2 minggu (disebut diare khronik) akan memerlukan penanganan yang sangat komplek.

Kapan Perlu ke Dokter:

  • Bila ada tanda dehidrasi (mata cekung, gelisah, nampak haus/malas minum, lesu, mukosa mulut kering, kencing berkurang, bila kulit daerah perut dicubit lambat kembali)
  • Diare lebih dari 5 – 7 hari
  • Diare disentriform (disertai darah, nyeri perut, demam > 390C)
  • Muntah berlebihan, setiap minum selalu muntah
  • Bila ada gejala lain yang berbahaya (sesak, kejang, kesadaran menurun)
  • Bayi usia 0 – 30 hari

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 2005

Penilaian

A

B

C

Lihat : keadaan umum MataAir mataMulut dan lidah

Rasa haus

Baik, sadarNormalAda

Basah

Minum biasa tidak haus

* Gelisah, rewelCekungTidak ada

Kering

*Haus, ingin minum banyak

* Lesu, lunglai atau tidak sadarSangat cekung dan keringSangat kering

*Malas minum atau tidak bisa minum

Periksa : turgor kulit Kembali cepat *Kembali lambat *Kembali sangatLambat
Kekurangan Cairann < 5% dari BB atau < 50 ml/kg dari BB 5-10% dari BB atau 50-100 ml/kg dari BB > 10% dari BB atau > 100 ml/kg dari BB
Hasil pemeriksaan : Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan / sedang: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain Dehidrasi berat: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain

 

Penanganan Diare (5 Pilar Pokok)

  1. Kecukupan cairan. Berikan ASI/susu formula lebih sering, beri tambahan oralit (sebaiknya pedialyte atau renalyte) atau kuah sayur bila anak nampak dehidrasi. Jangan diberi larutan garam oleh karena bahaya hypernatremia
  2. Kecukupan nutrisi. Lanjutkan makan seperti biasa, kurangi sayur dan lemak untuk sementara selama masih diare
  3. Pemahaman tanda-tanda kapan ke dokter
  4. Pemberian Zinc. Zinc 20 mg untuk anak usia lebih dari 6 bulan, 10 mg untuk anak usia 2 – 6 bulan. Pemberian zinc selama 10 hari dan diteruskan sampai 10 hari meskipun diare telah berhenti. Perlu dipahami Zinc tidak dapat menangani kegawatdaruratan pada diare dan tidka dapat mencegah dehidrasi. Terapi utama untuk mencegah kematian akibat diare adalah terapi a
  5. Antibiotik (hanya untuk diare disentriform)

Obat-obat anti diare (kaoline-pectine, lopermide, Bismuth subsalicylate, smectite, activated charcoal, cholestyramine) tidak direkomendasikan karena lebih banyak bahayanya dari pada keuntungannya. Di pasaran, obat-obatan obat tersebut memiliki nama dagang yang beragam (perhatikan kandungan isinya).

Ditulis oleh Dr Ferry Andian SpA


Referensi

WHO Guidelines on Treatment of Diarrhea (2005)

2

Sekilas Mengenai Batuk dan Pilek Pada Anak

Batuk dan atau pilek merupakan gejala utama common cold atau sering kita sebut flu. Flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Dalam satu tahun rata-rata anak akan mengalami 3-10 kali. Bila rata-rata lama penyakitnya 7 – 10 hari, maka seakan-akan 1/3 hidup anak dalam setahun terpapar flu. Gejala yang sering dikeluhkan adalah batuk, pilek dan demam, kadang disertai nyeri tenggorok dan pembesaran kelenjar limfe leher bagian depan. Gejala lain berupa nyeri otot, nyeri kepala, radang kelopak mata dan nyeri sendi.

Demam yang terjadi biasanya kurang dari 390C, bila suhu lebih dari 390C patut dipertimbangkan kemungkinan penyakit yang lain. Komplikasi yang dapat terjadi radang telinga tengah, radang sinus, sesak napas (wheezing) dan infeksi bacterial tumpangan (terutama pada paru). Penyebab flu pada umumnya adalah virus (yaitu Rhinoviruses, Coronaviruses, Respiratorysyncytial virus, Parainfluenzaviruses, Adenoviruses, Nonpolioenteroviruses, Influenzaviruses, Reoviruses). Oleh karena itu biasanya flu sembuh dengan sendirinya (self limited). Pengobatan yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10 -15 mg tiap kg berat badan bila demam lebih 380C dan cukup minum terutama yang hangat. Parasetamol atau acetaminophen dapat diberikan tiap 6 jam bila perlu. Sediaan parasetamol yang ada berupa sirup, tetes atau tablet.  Harap diperhatikan dosis perkilogram berat badan bukan berdasar umur! Penggunaan obat-obatan lain seperti antibiotik, obat batuk (antitusif, ekspetoran), obat pilek (decongestan) dan antihistamin tidak disarankan untuk anak-anak. Di Amerika Serikat, FDA secara khusus telah melarang penggunaan obat batuk pilek untuk usia di bawah 2 tahun, dan keefektifan untuk usia di atas tersebut (anak-anak bawah 12 tahun) sendiri masih dipertanyakan. Secara umum obat batuk dan obat pilek tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin, maka bila hendak menggunakan obat tersebut harus dengan dengan rekomendasi dokter. Sayang sekali dipasaran banyak beredar obat batuk dan obat pilek atau gabungan keduanya sehingga seakan-akan memang bermanfaat untuk flu pada anak.

Kapan kita ke dokter?

  1. Bila secara umum anak tampak tidak bugar (sakit keras) dalam bahasa medis disebut toksik
  2. Anak malas minum sehingga kurang cairan padahal tidak muntah atau diare
  3. Tampak sesak/sukar bernapas, ditandai dengan napas cepat (jumlah napas > 60 kali permenit untuk usia < 2 bulan, > 50 kali untuk usia 2 – 12 bulan, > 40 kali untuk usia 1 – 5 tahun) dan atau tampak tarikan pada dinding dada.
  4. Demam tinggi > 390C atau setelah 3 hari demam masih > 38,50C
  5. Ada keluhan nyeri telinga

Referensi

  • Leslee F.Kelly, 2004, Pediatric Cough and Cold Preparations Pediatrics in Review 25(4):115-123
  • Diane E. Pappas, J. Owen Hendley, 2011, The Common Cold in Children, Pediatrics in Review 32:47-55.
  •  Floyd W. Denny, 1987, Acute Respiratory Infections in Children: Etiology and Epidemiology, Pediatrics in Review 9:135-146
  • Madeline Simasek, David A Blandino, 2007, Treatment of the Common Cold, American Family Physician 75(4):515-520.
  • Ishimine P, 2006, Fever Without Source in Children 0 to 36 Months of Age, Pediatric Clinics of North America 53(2):167–194

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA