0

ADAKAH BUKTI ILMIAH MANFAAT NEBULIZER (TERAPI UAP) DALAM TATA LAKSANA BATUK PILEK?

nebu picDi kalangan masyarakat awam terapi uap atau di-“nebu” seringkali ditawarkan oleh tenaga kesehatan menjadi solusi untuk anak (khususnya bayi) yang menderita batuk pilek (flu/selesma/common cold). Tindakan ini dianggap dapat meringankan gejala pilek (hidung mampet, nafas grok-grok), mengencerkan dahak, dan  meredakan batuk. Di dunia medis tindakan ini meskipun lazim dilakukan namun penelusuran lebih lanjut hasilnya cukup mengejutkan.

Secara ilmiah, berdasarkan hasil  penelitian sistimatik (sistematic review), diperoleh bukti bahwa terapi dengan nebulizer atau terapi uap, gagal menunjukkan manfaatnya dalam membantu memecah lendir (mucolytic), pengeluaran lendir (muco clearance), memperbaiki oksigenasi maupun mempercepat penyembuhan pada semua penyakit saluran napas baik infeksi maupun non infeksi yang memerlukan perawatan di rumah sakit (Strickland, 2015). Nebulizer bukan 100% aman, tindakan ini memiliki efek samping yang mungkin terjadi seperti mual, muntah, stomatitis, pilek, iritasi saluran napas, nyeri dada, kram saluran napas, batuk, nyeri kepala, pusing (Strickland, 2015).

Selain pengeluaran lendir saluran nafas, nebulizer juga dianggap dapat meredakan batuk. Namun studi yang dilakukan oleh Tomerak, dkk (CD005373, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005)  menyimpulkan bahwa penggunaan nebulizer obat beta2-agonist (contoh: ventolin, meptin dll) tidak menunjukkan bukti manfaat dalam meredakan batuk non spesifik (non asma/tidak ada bukti penyempitan saluran napas). Penggunaan nebulizer obat beta2-agonist juga gagal menunjukan bukti ilmiah dalam meredakan batuk akut (Becker LA dkk.  Cochrane Database of Systematic Reviews 2015,CD001726). Adapun pemberian nebulizer steroid juga tidak terbukti menunjukkan manfaat dalam meredakan batuk sub kronik non asma (Anderson-James S dkk. , CD008888, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013,) dan batuk kronik non asma (Tomerak dkk. , CD004231, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005).  Nebulizer steroid ini juga tidak terbukti bermanfaat pada kasus sesak (wheezing) non asma karena infeksi virus (McKean MC dkk., CD001107 Cochrane Database of Systematic Reviews 2000).

Meskipun terapi nebulizer tidak terbukti memberikan manfaat seperti paparan diatas, namun terapi ini jelas terbukti bermanfaat dalam penatalaksanaan asma. Pada penatalaksanaan asma, Nebulizer obat beta2-agonist, Anti-cholinergic  maupun steroid masuk dalam panduan penatalaksanaan asma seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam protokol GINA (Amerika dan WHO), BTS (inggris), NAEPP (Amerika) dan European Respiratory Society (Eropa). Namun demikian pada kasus non asma, penggunaan nebulizer masih perlu dipertimbangkan dengan cermat, karena  dukungan bukti ilmiah belum cukup kuat. Nebulizer menunjukkan manfaat pada kasus brochiolitis ringan-sedang dengan menggunakan larutan garam (NaCl) 3% (Zhang L dkk., No.: CD006458, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013) atau larutan garam 0,9% (SHARMA dkk, 2013).

European Respiratory Society/ERS memberikan panduan terkait indikasi/manfaat nebulizer pada anak sebagai berikut:

  1. Nebulizer sangat direkomendasi pada terapi asma.
  2. Pada bronchiolitis nebulisasi dengan steroid, ribavirin dan β2 agonist tidak disarankan
  3. Pada croup dexametaxon peroral sama efektifnya dibanding nebulisasi steroid
  4. Nebulisasi surfactan pada bayi baru lahir belum direkomendasikan, disarankan dengan cara konvensional menggunakan endotracheal tube.
  5. Nebulisasi DNAse dan N-acetyl cysteine pada ICU anak tidak disarankan.
  6. Penggunaan Nebulisasi pada kasus cystic fibrosis (kasus yang jarang di indonesia) bisa dipertimbangkan

Sebagai informasi kasus asma tidak lazim dijumpai pada anak di bawah usia 3 tahun. Tulisan kami sebelumnya mungkin dapat membantu orangtua memahami batuk pilek pada anak apakah merupakan gejala alergi (termasuk asma).

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian, Sp.A

Daftar Pustaka:

  • Strickland SL dkk, Respir Care 2015;60(7):1071–1077.
  • Tomerak AAT, Vyas HHV, Lakhanpaul M, McGlashan J, McKean MC. Inhaled beta2-agonists for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 3. Art.No.: CD005373.
  • Tomerak AAT,McGlashan J, LakhanpaulM,VyasHHV,McKeanMC. Inhaled corticosteroids for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 4. Art. No.: CD004231.
  • Anderson-James S,Marchant JM, Acworth JP, Turner C, Chang AB. Inhaled corticosteroids for subacute cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 2. Art. No.: CD008888
  • Becker LA, Hom J, Villasis-Keever M, van der Wouden JC. Beta2-agonists for acute cough or a clinical diagnosis of acute bronchitis. Cochrane Database of Systematic Reviews 2015, Issue 9. Art. No.: CD001726.
  • Global Initiative for Asthma (GINA) http://ginasthma.org/2016-pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/
  • British Thoracic Society (BTS), Asthma Guideline, https://www.brit-thoracic.org.uk/guidelines-and-quality-standards/asthma-guideline/ (30 april 2016)
  • National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP), Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma, Full Report 2007, U.S. Departement of Health and Human Service
  • Chung KF dkk., International ERS/ATS guidelines on definition, evaluation and treatment of severe asthma, Eur Respir J 2014; 43: 343–373
  • McKeanMC, Ducharme F. Inhaled steroids for episodic viral wheeze of childhood. Cochrane Database of Systematic Reviews 2000, Issue 1. Art. No.: CD001107
  • Zhang L, Mendoza-Sassi RA, Wainwright C, Klassen TP. Nebulised hypertonic saline solution for acute bronchiolitis in infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 7. Art. No.: CD006458
  • Sharma Bs,Gupta Mk Dan Rafik As, Hypertonic (3%) Saline Vs 0.9% Saline Nebulization for Acute Viral Bronchiolitis: A Randomized Controlled Trial, Indian Pediatric, Volume 50, August 15, 2013
  • Boe J, Dennis JH, O’ Driscoll BO, European Respiratory Society Guidelines on the use of nebulizers Eur Respir J 2001; 18: 228–242
Advertisements
0

Hand Foot and Mouth Disease (“Flu Singapore?”)

Hand Foot Mouth Disease (HFMD) merupakan kumpulan gejala dan tanda yang khas pada kulit dan mukosa. HFMD paling banyak disebabkan oleh virus coxsackie A16, kadangkala ketika mewabah dapat juga disebabkan oleh enterovirus 71, virus coxsackie A5, A7, A9, A10 serta coxsackie B2 dan B5.  Virus coxsackie merupakan famili picornaviridae dan genus enterovirus. Jadi berasal dari genus dan famili yang sama dengan virus polio.

Dalam referensi kedokteran HFMD tidak dikenal sebagai “Flu Singapore”. Bahkan dalam sebuah website yang ditulis oleh orang Singapura, merekapun heran dengan sebutan tersebut.

Gejala dan Tanda HFMD:

  • Biasanya tampilan sakit ringan (anak tidak tampak sakit berat)
  • Demam tidak tinggi
  • Vesikel pada tenggorokan, gusi, langit-langit mulut, bibir yang kemudian membentuk luka (ulkus) seperti stomatitis dengan diameter 4 – 8 mm dilingkupi kemerahan disekitarnya.
  • Vesikel (mirip cacar) pada telapak tangan, jari, kaki, pantat dan pangkal paha.

 

Jenis virus tertentu  penyebab HFMD terutama enterovirus 71 dapat menyebabkan gangguan pada saraf, jantung dan paru, serta menyebabkan kematian. Secara umum, semua infeksi yang disebabkan virus dapat menimbulkan gejala mirip flu (pilek, batuk, nyeri  kepala, nyeri otot) dan gejala saluran cerna (diare, muntah, nyeri perut). Sehingga pasien dengan HFMD-pun bisa disertai gejala dan tanda tersebut.

Tata Laksana

Penyakit HFMD biasanya akan sembuh dengan sendirinya (self limited). Akan tetapi bila terjadi kondisi klinis berat maka perlu tindakan intervensi. Intervensi tersebut lebih berfungsi suportif. Penggunaan antivirus belum terbukti bermanfaat. Oleh sebab itu bila dirasa kondisi anak kurang baik/nampak sakit berat perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak

Referensi

  1. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th ed., 2011
  2. Long SS, Pickering LK dan Prober CG (editor), Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, 3rd ed., 2008
  3. Strauss JH dan Strauss EG, Viruses and Human Disease, 2nd ed., 2008

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA