0

BAYI ASI OVERWEIGHT? OVERFEEDING PADA BAYI YANG MENDAPATKAN ASI EKSKLUSIF

Berbeda dengan yang diyakini selama ini, bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak masalah kegendutan. Berdasarkan pengamatan umumnya Ibu-ibu tidak merasa hal itu bukan masalah dan mengasumsikan bahwa seiring usia maka kelak bayi akan “langsing”  dengan sendirinya. Padahal jika dilihat berdasarkan kurva pertumbuhan, bayi tersebut telah masuk kategori overweight dan bahkan mungkin obesitas. Baik over atau underweight perlu segera dicari akar permasalahannya dan solusinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebab bayi overfeeding (pemberian ASI berlebihan) yang berakibat pada kelebihan berat badan, yaitu

  1. Bayi minum ASI perah menggunakan botol dot yang beraliran cukup deras sehingga ASIP secara kontinyu dikonsumsi bayi. Oleh karena itu pemberian ASIP menggunakan dot tidak disarankan. Namun jika terpaksa, gunakan dot yang alirannya pelan dan berikan jeda waktu saat menyusu. Salah satu tips adalah menggunakan botol kapasitas besar dengan ukuran nipple kecil (S). Ada kecenderungan ketika menggunakan botol kapasitas kecil dan ASIP telah habis diminum, Ibu atau pengasuh berasumsi bayi belum kenyang karena cepat habis dan memberikan botol kedua sebagai tambahan.
  2. Bayi rewel selalu diasosiasikan dengan lapar dan haus, sehingga menyusui atau memberikan ASIP selalu dilakukan untuk menenangkan bayi. Jika sesi terakhir pemberian ASI belum lama berlalu dan bayi rewel, cobalah untuk memikirkan solusi lain selain lapar, haus, atau kurang kenyang. Mungkin saat berganti popok/diapers, bayi kepanasan/kedinginan, tidak nyaman karena bising.
  3. Bayi minum dari botol dalam posisi tidur sehingga ASI mengalir deras. Untuk memperlambat aliran ASIP, atur posisi badan dan kepala bayi menjadi tegak dengan posisi botol horizontal/datar. Salah satu efek samping minum dot dalam posisi tidur dengan dot adalah meningkatnya risiko infeksi saluran telinga.

Untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan cukup, berpeganglah pada pertumbuhan berat badan. Silakan lihat artikel berikut untuk mengetahui tingkat kecukupan ASI.

Advertisements
3

Selamat Tinggal Botol (dan Dot)!

Rasanya di lingkungan kita melihat anak kecil dengan botol dan dotnya adalah pemandangan yang amat lazim. Mungkin boneka bayi  dengan botol menempel di mulut pernah jadi bagian masa kecil kita 🙂 Begitu dot lepas dari mulutnya, boneka pun ‘menangis’. Hal ini disadari atau tidak merasuk dalam alam bawah sadar kita dan generasi anak-anak kita bahwa bayi identik dengan botol dan dot. Jika bayi menangis berarti mereka lapar atau haus, berikan dot, masalah selesai. Sayangnya efek jangka panjang minum dari botol dengan dotnya hasilnya tidak selalu seindah harapan orangtua.

Mengapa botol sangat dicintai anak-anak? Secara alami anak kecil akan Dalam buku Food Fight, penulis menyatakan botol dan dot memberikan segala hal yang diperlukan bayi yaitu makanan (nourishment), kelekatan (bonding), kalori, dan kenyamanan (comfort). Di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics dan American Dental Association telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penggunaan botol begitu anak menginjak usia 1 tahun. Riset menunjukkan anak yang banyak menghabiskan waktu dengan botol beresiko lebih besar terkena infeksi saluran telinga.  Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, peneliti menemukan salah satu faktor kemungkinan utama penyebab kelebihan berat badan pada anak usia pra sekolah (selain faktor memiliki ibu yang overweight) adalah penggunaan botol terlalu lama.

Para penulis buku Food Fight memaparkan mengapa pemberian minum apapun jenisnya tidak disarankan dari botol dan dot pada anak balita (atas 1 tahun).

  1. Aliran yang Lancar. Minum dari botol dapat dikatakan tidak memerlukan usaha untuk menghisapnya begitu bayi menginjak usia beberapa bulan. Aliran minuman begitu lancar bahkan saat anak-anak tertidur. Keterampilan menghisap menghisap ini sebenarnya tidak begitu diperlukan lagi manakala mereka menginjak usia beberapa bulan
  2. Minum dari botol telah mencakup segalanya. Makan adalah proses belajar. Pada masa pembentukan proses makan yang benar, anak usia balita perlu belajar mengenali berbagai jenis makanan dan makan seimbang. Karena ngedot (sucking) jelas lebih mudah dibanding mengunyah, proses pembelajaran makan bisa terganggu. Balita yang masih suka nge-dot cenderung lebih suka banyak minum, akibatnya mereka makan sedikit atau tidak bernafsu makan sama sekali
  3. Nge-dot karena efek mengisapnya itu sendiri (yang membuat nyaman). Walaupun anak usia balita selalu minum manakala disodori botol, hal ini tidak selalu berarti mereka haus. Mengapa? Minum dari botol atau ngedot terbukti memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi ketika mereka mau tidur masih ingin ngedot atau malam-malam terbangun minta dot, itu lebih karena ngedot menenangkan mereka bukan karena haus atau lapar.
  4. Apa yang ada didalamnya itulah yang penting. Masalah yang terkait dengan minum dari botol dalam jangka lama tidak hanya terletak pada botol itu sendiri, tetapi juga pada apa yang terkandung didalamnya. Walaupun botol tersebut umumnya berisi susu atau air putih, hal ini tetap dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Apalagi kita kerap melihat jus atau air teh juga dikonsumsi balita dalam botol! Ketika anak mulai merasakan ‘nikmat’nya minuman ini, semakin sulit mereka terlepas dari botol. Pengalaman menunjukkan menyapih dari botol (dan minuman ‘kurang sehat’) lebih sukar dibanding menyapih dari menyusui.
  5. Masalah Gigi Berlubang. Riset menunjukkan balita yang ngedot lebih sering mengalami problem pada giginya entah berlubang atau kerusakan lainnya.
  6. Hambatan Berbicara. Agak sukar memahami balita berbicara dan hal ini semakin sukar jika balita kerap menghabiskan waktu dengan botol di mulutnya. Sama halnya dengan empeng, pakar menyarankan ada tempat dan masa yang sesuai untuk botol & dot, tetapi manakala anak mulai ‘berbicara’, sebaiknya benda-benda ini kita singkirkan

Bersambung ke bagaimana menghentikan botol  ….. (next article 🙂 )

Referensi

 – Laura A. Jana, & Jennifer Shu, 2008, “Drinking Problems” Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup pp 45-84, American Academy of Pediatric

1

Seputar Pertumbuhan Bayi

Pertumbuhan Bayi Berdasar Berat Badan, Panjang Badan, & Lingkar Kepala

Berapakah seharusnya berat badan (BB) bayi disusui yang normal adalah salah satu masalah yang paling sering diajukan orangtua. Selain berat badan, panjang dan lingkar kepala juga menjadi salah satu acuan pertumbuhan fisik bayi. Berikut adalah rata-rata pertumbuhan bayi yang disusui. Tabel-tabel berikut bersumber dari artikel : http://www.kellymom.com/babyconcerns/growth/index.html

Tabel 1. Rata-rata Pertumbuhan Berat Badan (BB)

Usia

Rata-rata Pertambahan BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-4 bulan

155 – 241 grams per minggu

170 grams per minggu *

4-6 bulan

92 – 126 grams per minggu

113 – 142 grams per minggu

6-12 bulan

50 – 80 grams per minggu **

57 – 113 grams per minggu

  * Pertumbuhan BB sebanyak 113-142 gram per minggu masih diperkenankan.

**Pada usia 3-4 bulan pertumbuhan BB bayi yang disusui akan mencapai 2x BB lahir, menginjak usia 1 tahun umumnya mencapai 2.5-3x BB lahir 1.

Referensi

  1. World Health Organization Child Growth Standards, 2006.
  2. Riordan J. Breastfeeding and Human Lactation, 3rd ed. Boston: Jones and Bartlett, 2005, p. 103, 512-513.
  3. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149

            Sedangkan tabel 2 meringkaskan rata-rata pertumbuhan panjang badan dan lingkar kepala. Untuk anak atas 1 tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat dilihat langsung dari kurva pertumbuhan WHO atau CDC.

Tabel 2. Rata-rata Pertumbuhan Panjang Badan (PB) dan Lingkar Kepala (LK)

Usia

Rata-rata Pertambahan Panjang BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-6 bulan

2,5 cm per bulan

1, 27 cm per bulan

6-12 bulan

1, 27 cm per bulan*

64 mm per bulan

 *Menginjak usia 1 tahun, bayi yang disusui umumnya akan mengalami bertambah panjang 50% dari PB lahir dan lingkar kepala bertambah 33% dari LK lahir.

Referensi:

  1. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149.

 

Beberapa Hal yang Perlu Diingat Ketika Mengevaluasi Pertumbuhan Berat Badan

            Penurunan BB sebanyak 5-7% selama 3-4 hari dianggap normal. BB yang berkurang 10% terkadang dianggap normal, namun pengurangan sebanyak ini merupakan tanda untuk mengevaluasi proses menyusui yang berlangsung. Sebaiknya Ibu mengecek BB bayi pada hari ke-5, sehingga jika ditemukan masalah pertumbuhan dapat segera diatasi sejak dini.

            Menginjak hari ke 10 hingga minggu ke-2, bayi seharusnya telah kembali mencapai BB lahirnya. Jika bayi kehilangan BB cukup berarti pada beberapa hari pertama, atau bayi sakit atau lahir prematur, ia memerlukan waktu lebih lama kembali pada BB lahir. Jika bayi tidak mampu mencapai BB lahir selama 2 minggu, evaluasi terhadap proses menyusui perlu dilakukan.

            Yang tidak kalah penting adalah penimbangan BB bayi seharusnya dilakukan dengan timbangan yang sama dan diusahakan dalam keadaan tidak berpakaian untuk mendapatkan perhitungan BB yang akurat.

            Selain itu, ketika mengevaluasi pertumbuhan anak, tidak hanya menganalisis kurva pertumbuhannya, hal-hal berikut juga perlu diperhatikan:

  • Bagaimanakah ukuran fisik orangtua? Bagaimanakah kurva pertumbuhan orangtua ketika bayi? Bagaimana dengan saudara bayi atau anggota keluarga lain? Genetik berperan penting dalam ukuran fisik seorang bayi
  • Apakah bayi tumbuh secara konsisten? Cttn: Bayi dianggap tumbuh walaupun BB-nya misal selalu berada dalam kurva kuning KMS, asalkan konsisten. Lihat artikel terkait.
  • Apakah perkembangan bayi yang lain sesuai dengan usianya?
  • Apakah bayi tampak sehat, lincah, dan aktif?
  • Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda cukup ASI?

 Jika orangtua merasa perkembangan BB bayi yang mendapatkan ASI eksklusif kurang menggembirakan khususnya pada bulan-bulan pertama, lihat artikel pertumbuhan BB melambat.

Catatan Mengenai Kurva Pertumbuhan (Growth Chart)

Bayi sehat yang disusui cenderung tumbuh lebih cepat dibanding mereka yang mendapat asumsi susu formula dalam 2-3 bulan pertama dan lebih lambat pada usia 3-12 bulan. Semua versi kurva pertumbuhan (i.e. WHO, CDC) yang tersedia saat ini tidak semuanya diperoleh dari bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan (termasuk bayi yang mendapat susu formula dan mereka yang telah mendapatkan makanan pendamping/solid foods sebelum rekomendasi usia 6 bulan). Banyak dokter yang kurang aware terhadap masalah ini sehingga seringkali memberikan kesimpulan yang kurang tepat yaitu pertumbuhan bayi kurang bagus. Untuk itu mereka biasanya merekomendasikan Ibu (yang sebenarnya tidak diperlukan) memberikan suplemen seperti susu formula atau makanan padat, dan bahkan terkadang meminta Ibu berhenti menyusui pula! Hal ini seringkali merisaukan Ibu yang sebenarnya merasakan bayi mereka tumbuh dengan sehat.

0

Bagaimana “Perilaku” Normal Bayi yang Disusui?

Tabel berikut meringkaskan  pedoman bagi  Ibu menyusui

  •  Bayi Usia 1 – 7 hari    

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

Hari 5

Hari 6

Hari 7

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran kelereng atau biji buah kemiri

Seukuran buah anggur ukuran sedang

Kebutuhan ASI

10 -100 ml/hari

200 ml/hari

400 – 600 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari (bisa setiap 1,5 sampai 3 jam/hari, tapi ini bukan patokan baku, yang penting frekuensi minimal terpenuhi)

Buang Air Kecil (BAK)

Min 1x

Min 2x

Min 3x

Min 4x

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

1-2x/hari, feces warna hitam atau hijau tua

3x/hari, feces warna coklat, hijau, atau kuning

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

Berat Badan Bayi

Kebanyakan bayi mengalami penurunan BB sekitar 7-10% dari berat lahirnya hingga usia 3-4 hari dan akan kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

  • Bayi Usia 2 Minggu– 6 Bulan 

Minggu 2

 Minggu 

 Minggu 

 Minggu 

Minggu 6 -Bulan 6

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran buah leci atau kacang walnut

Kebutuhan ASI

700 – 800 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari

Bulan ke-2 hingga ke-6 min 6-8x/hari

Buang Air Kecil (BAK)

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

1-3x sehari, volume cukup banyak, feces kuning *

Berat Badan Bayi

Kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

Kenaikan BB seharusnya 113 hingga 224 gram per minggu dalam 3 bulan pertama **

Catatan

  • *Seringkali pada usia ini bayi hanya BAB 2-3 hari sekali bahkan hingga 15 hari! Selama bayi benar-benar mendapatkan ASI eksklusif, hal ini adalah wajar dan BUKAN sembelit, jadi Ibu tidak perlu khawatir hingga perlu diberikan pencahar atau tindakan lain. Ibu hanya perlu risau jika bayi rewel, tampak kurang sehat, dan pertumbuhan BB kurang baik
  • **Agar diperoleh pengukuran yang valid sebaiknya Ibu menimbang di fasilitas kesehatan terpercaya karena kebanyakan timbangan bayi yang beredar di pasaran kurang akurat. Di Amerika, American Academy of Pediatrics merekomendasikan setiap bayi baru lahir sebaiknya diperiksa dokter antara usia 3-5 hari.
  • Akan sangat membantu jika Ibu membuat buku log sederhana untuk mencatat frekuensi BAB, BAK, dan menyusui dalam kurun waktu 1 hari (24 jam) khususnya pada minggu pertama dan kedua setelah  kelahiran. Disebut menyusu jika bayi membuka rahang lebar dan menyusu selama minimal 10 menit (bukan hanya sekedar ngempeng).

Segera hubungi dokter, bidan, atau konsultan laktasi jika pada minggu pertama

  • Urine bayi berwarna gelap setelah hari ke-3 (seharusnya berwarna kuning pucat)
  • Feces bayi berwarna gelap setelah hari-4 (seharusnya berwarna kuning tanpa meconium)
  • Frekuensi BAK, BAB, atau menyusui kurang dari tabel diatas
  • Ibu mengalami gejala mastitis (sakit pada payudara yang disertai demam, menggigil, atau gejala flu)

Referensi


0

Bagaimana Status Gizi Anak Anda?

Pada tulisan terdahulu, kita telah belajar ‘membaca’ pertumbuhan anak melalui indeks berat badan anak dalam KMS. Sayangnya warna-warna dalam grafik KMS tidak dapat digunakan untuk menentukan status gizi anak. Jadi, kita tidak bisa mengatakan berat badan buah hati kita yang berada di pita kuning berarti gizinya kurang. Begitu pula berat badan di bawah garis merah belum tentu bergizi buruk. Kita perlu mengetahui status gizi anak kita yang secara sederhananya dapat ditentukan dengan melihat tabel berat badan /tinggi badan.

Cara membaca tabel ini adalah dengan membandingkan berat badan sekarang dengan berat badan seharusnya berdasarkan tinggi (panjang) badan saat ini.

Contoh: Seorang anak perempuan dengan panjang badan 70,0 cm dan berat badan 7,5 kg. Pada kolom panjang badan anak perempuan 70.0 cm, apabila ditarik garis lurus ke kanan ternyata berat badan 7,5 kg terletak pada kolom 6,6 – 11,1 kg: kolom -2 SD s/d 2 SD. Interpretasinya: anak dikatakan normal. Jika anak tergolong gemuk, perlu diperiksa lebih lanjut apakah tergolong obesitas atau tidak (dengan mengecek BMI-nya).

Tabel Berat Badan (BB) terhadap Tinggi Badan (TB) Untuk Menilai Status Gizi

          Selain dengan tabel diatas, perhitungan status gizi yang lebih spesifik (yaitu kuantitatif) dapat diperoleh dengan membandingkan Berat Badan anak saat ini dengan Berat Badan Ideal berdasar Growth Chart dari CDC atau WHO. Berat Badan Ideal sendiri didapatkan dengan mencari padanan dari Panjang Badan (PB) saat ini. Artikel ini hanya memuat dua Growth Chart untuk anak laki-laki dan perempuan. Untuk grafik berdasar usia hingga 20 tahun yang lengkap bisa diunduh dari website CDC  (http://cdc.gov/growthcharts/) atau WHO (http://www.who.int/childgrowth/en/).

Gambar 1. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Laki-laki 0-36 bulan

Gambar 2. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Perempuan 0-24 bulan

Interpretasi Berdasarkan % Berat Badan Ideal Menurut Umur

  • BB saat ini/BB ideal < 70%              Gizi buruk
  • BB saat ini/BB idea70% – 80%        Gizi kurang
  • BB saat ini/BB idea80% – 100%     Gizi baik
  • BB saat ini/BB idea100% – 110 %   Gizi lebih
  • BB saat ini/BB idea> 110%              Obesitas/Obesity (harus dihitung BMI)

 Contoh. Bayi laki-laki usia 6 bulan dengan panjang badan (PB) = 65 cm dan berat badan (BB) = 5,8 kg. Dari growth chart gambar 1 diatas tarik garis pada PB 65 cm ke kanan hingga menyentuh kurva persentil 50 (sekitar 5 kotak ke kanan). Selanjutnya tarik garis ke bawah menuju kurva berat badan pada persentil 50 dan didapatkan BB Ideal adalah 7,4 kg. Selanjutnya hitung rasio BB saat ini dengan ideal yaitu (5,8/7,4 = 78,4 % Berdasar interpretasi diatas maka anak dikatakan saat ini bergizi kurang.

Catatan: Untuk mengetahui status gizi dengan teknik ini tidak diperlukan usia bayi, berbeda halnya jika kita ingin mengetahui ‘posisi’ berat badan atau tinggi badan berapa bayi kita dibandingkan dengan populasi yang menjadi acuan growth chart tersebut.

Referensi

*BMI= BB/TB2 . BB (Berat Badan dlm Kg), TB (Tinggi Badan dlm meter)

0

Kapan Anak Dikatakan Tumbuh? Memahami Secara Sederhana Kurva Pertumbuhan Berdasarkan Berat Badan

      Salah satu parameter utama menilai apakah bayi mendapatkan cukup ASI adalah dengan mengamati pertumbuhan bayi melalui pertambahan berat badannya. Oleh karenanya setiap bulan (bahkan 1 atau 2 minggu sekali dalam bulan pertama), Ibu disarankan mengukur pertumbuhan fisik bayi termasuk menimbang berat badan, mengukur panjang badan dan lingkar kepala. Walaupun Ibu dapat bertanya pada petugas kesehatan mengenai status pertumbuhan sang buah hati, tidak salah bukan jika Ibu belajar memahami kurva pertumbuhan bayi? Biasanya informasi ini diberikan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Sebagai informasi, sejak tahun 2008 KMS balita yang digunakan di Indonesia berdasarkan Standar Antropometri WHO 2005 (Untuk data antropometri terbaru 2006 bisa buka link dari WHO atau CDC ini) . Dalam KMS terdapat jalur-jalur warna yang mewujudkan pola pertumbuhan  anak tersebut. Pada prinsipnya setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan sendiri-sendiri namun polanya tetap sama.

           Berdasarkan informasi dari KMS, Ibu dapat mengetahui indeks berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan menggambarkan masa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti keadaan sakit infeksi, penurunan nafsu makan atau penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Untuk mengetahui pertumbuhan anak diperlukan minimal 3 kali pengukuran. Bisa saja berpatokan pada 2 kali pengukuran namun ini tidak ideal. Berbeda dengan status gizi yang bisa ditentukan secara on the spot atau 1 kali pengukuran (akan dibahas pada artikel selanjutnya). Jadi intinya yang disebut tumbuh tidak bisa hanya melihat asal berat badan naik saja. Pertumbuhan tersebut mungkin akan tergambar sebagai salah satu tiga garis lengkung berikut, yaitu:

  1. Garis berat badan yang menanjak dengan keterangan teruskan dibulan berikutnya, menyatakan bahwa anak tumbuh baik dan sehat.
  2. Garis berat badan yang cenderung rata selama dua bulan, atau menanjak tetapi tidak mengikuti pola pertumbuhan pada KMS, menyatakan bahwa anak kurang mendapat makanan yang memadai, seperti lebih banyak makanan selama bulan berikutnya.
  3. Garis berat badan yang menurun menyatakan bahwa ibu harus mencari nasihat khusus dan memastikan bahwa anak balita tidak sakit, harus diberikan makanan dan gizi tambahan selama bulan berikutnya. Catatan: Pada bulan-bulan pertama  pertumbuhan berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif mungkin saja berjalan lambat. Hal ini bisa diatasi  dengan memperbaiki proses menyusui tersebut (lihat artikel terkait ini). Dengan (mencari) bantuan yang tepat, proses penyusuan dapat terus dilanjutkan tanpa pemberian susu formula

Gambar 1. Pertumbuhan Normal

            Jika kurva pertumbuhan anak mengikuti pola seperti gambar diatas (warna biru) dikatakan pertumbuhan normal walaupun kenaikan berat badan selalu berada pada area kuning. Pertumbuhan dikatakan normal atau baik jika berat badan, panjang (tinggi) badan, dan lingkar kepala naik pada pengukuran berikutnya. Khusus untuk berat badan lebih tepatnya jika:

  • Berada pada pita warna yang sama dengan bulan lalu
  • Atau naik sedikit pada pita warna diatasnya.
  • Prinsip dasarnya adalah usahakan pertumbuhan berada pada pita yang sama.

Gambar 2. Pertumbuhan Terganggu

           Kurva merah pada gambar 2 menunjukkan pertumbuhan yang terganggu walaupun tampak ada kenaikan berat badan. Dapat pula dikatakan anak tidak tumbuh. Pada pola seperti ini jika pada pengukuran bulan berikutnya berat badan masih menurun dan bahkan masuk area kuning anak dikatakan gagal tumbuh (failure to thrive), Ibu harus segera konsultasi pada dokter spesialis anak.

Gambar 3. Berat Badan Tidak Naik

Sedangkan berat badan  tidak naik sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 3 yaitu

  1. Garis pertumbuhan menurun, atau lebih rendah dari bulan lalu
  2. Garis pertumbuhan mendatar, atau sama dengan bulan lalu
  3. Garis pertumbuhan naik, tetapi pindah ke pita warna di bawahnya

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita
  • Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Dasar, Departemen Kesehatan RI, 2005
0

Pertumbuhan Berat Badan Bayi Melambat Pada Bulan-bulan Pertama

Terkadang, bayi yang menyusu dengan sangat baik pada bulan-bulan pertama tidak baik perkembangan berat badannya setelah masuk usia 2 hingga 4 bulan hanya dengan ASI saja. Sebenarnya hal ini normal, karena bayi yang disusui pertumbuhannya tidak sama dengan kurva pertumbuhan bayi yang diberikan susu formula. Seolah-olah bayi yang mendapatkan ASI penuh pertumbuhannya lambat, padahal sebenarnya bayi yang diberikan susu formulalah yang kenaikan berat badannya terlalu cepat. 

Menyusui merupakan suatu cara pemberian makanan yang normal dan alami bagi bayi. Jadi, menganggap susu formula merupakan cara pemberian makan yang normal sesungguhnya bukan hal yang masuk akal dan bisa membuat kita salah memberikan nasihat pada Ibu mengenai pemberian makanan pada bayi dan masalah pertumbuhan atau perkembangan bayi itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, bayi yang sakit akan lambat kenaikan berat badannya dari yang diharapkan. Alih-alih menyembuhkan sakit itu sendiri, justru pemberian susu formula akan “merampas” keuntungan menyusui secara eksklusif. Ibu perlu paham bagaimana sebenarnya bayi benar-benar mendapatkan ASI dan tidak hanya sekedar ngempeng atau menempelkan mulutnya pada payudara. Jika bayi tidak benar-benar mendapatkan ASI, kecil kemungkinan bayi sakit, melainkan lebih karena produksi ASI Ibu menurun. Mengapa produksi ASI Ibu menurun?.

  1. Ibu menggunakan pil KB sebagai kontrasepsi. Masih terdapat berbagai pilihan kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan di luar yang bekerja melalui hormon (misalkan IUD, kondom).
  2. Ibu sedang hamil
  3. Ibu sedang mencoba menjadwalkan menyusui (memperpanjang masa antara menyusui atau mengajari bayi tidur sepanjang malam). Jika ini terjadi, susuilah bayi ketika lapar atau sedang mengisap tangannya.
  4. Ibu cukup sering menggunakan botol. Walaupun produksi ASI telah terbentuk dengan baik, pemberian susu (termasuk ASI sendiri) dengan botol akan mengajari bayi perlekatan yang buruk pada saat bayi sendiri sedang memerlukan aliran ASI yang cepat. Dengan aliran yang lambat, bayi akan menarik diri dari payudara, akibatnya waktu menyusui semakin berkurang dan hasilnya semakin menurunkan pula ASI.
  5. Adanya kejutan secara emosi (stress) pada Ibu dapat menurunkan produksi ASI.
  6. Terkadang sakit yang khususnya terkait dengan demam dapat menurunkan produksi ASI. Hal ini berlaku pula pada mastitis. Namun tidak selalu Ibu yang sakit akan turun produksi ASInya.
  7. Ibu terlampau banyak pekerjaan. Sementara waktu abaikan pekerjaan rumah, atau carilah pertolongan orang lain untuk melakukannya. Tidurlah ketika bayi tidur. Dengan belajar, Ibu dapat tertidur sembari menyusui bayi..
  8. Beberapa obat-obatan dapat menurunkan produksi ASI misalnya yang mengandung antihistamin dan pseudephedrine
  9. Kombinasi dari beberapa hal ditas
  10. Terkadang bisa jadi produksi ASI menurun setelah 3 bulan tanpa alasan yang jelas

Dalam beberapa minggu pertama, bayi akan cenderung tertidur ketika menyusu bila aliran ASI lambat (aliran akan semakin lambat jika bayi tidak melekat dengan baik). Bayi akan sekedar ngempeng dan tertidur tanpa mendapatkan sejumlah ASI yang cukup, namun demikian Ibu masih memiliki Let Down Reflex (refleks pengeluaran ASI) sesekali dan bayi akan minum lebih banyak. Ketika produksi ASI ibu berlebih, pertumbuhan berat bayi biasanya cukup baik walaupun bayi akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusul.

Namun demikian, menginjak usia 6 atau 8 minggu atau lebih muda lagi, banyak bayi yang menarik diri dari payudara ketika aliran ASI lambat, seringkali hanya beberapa menit saja dari awal menyusu. Mengetahui hal ini biasanya Ibu cenderung menyodorkan payudara sebelahnya, tetapi bayi tetap melakukan hal yang sama. Sebenarnya bayi masih lapar, namun ia lebih memilih menghisap tangannya dibanding menyusu dari payudara Ibu. LDR ekstra tidak didapatkan bayi (akibatnya ASI tidak diperoleh) karena ia tidak sesabar tetap berada pada payudara Ibu sebagaimana minggu-minggu pertama dulu. Jadi bayi minum hanya sedikit dan akibatnya produksi ASI menurun. Hal ini memang tidak selalu terjadi, dan banyak bayi yang masih bagus perkembangan berat badannya walaupun hanya menyusu sebentar-sebentar dan lebih sering menghisap tangannya sendiri. Jika kenaikan berat badan cukup bagus, Ibu tidak perlu khawatir. Namun demikian hal ini bisa dicegah dengan mendapatkan perlekatan yang baik sejak pertama kali. Sayangnya, banyak Ibu yang diberitahu perlekatan bayi mereka telah bagus padahal sesungguhnya tidak demikian. Perlekatan yang lebih baik akan sangat membantu walaupun sedikit terlambat. Selain itu dengan kompresi, Ibu dapat membantu bayi terus minum (lihat artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”). Obat-obatan tertentu seperti domperidone dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan, namun jangan digunakan ketika Ibu hamil.

Bagaimana mengetahui bayi  menyusu dengan benar (tidak hanya sekedar menghisap payudara)?

Ketika bayi benar-benar mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan ASI hanya karena mulutnya melekat pada payudara dan membuat gerakan menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda/henti pada suatu titik di rahang bawah (dagu) nya setelah dia membuka lebar-lebar mulutnya dan sebelum menutup mulutnya (buka mulut lebar-lebar-jeda-menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk/tertelan ketika bayi menghisap . Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya, cukup satu sisi saja sudah kenyang. Semakin bertambah usia bayi, semakin efektif (pintar) dia menyusu sehingga dalam waktu sebentar saja ia sudah kenyang. Sebaliknya, bayi yang hanya ngempeng (tidak benar-benar minum) bisa jadi selama 20 jam akan terus melekat pada payudara (keterangan ini bisa dilihat pula dalam artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”).

Gambar 1. Effective Breastfeeding

Referensi

Jack Newman, 2003. Handout #25: Slow weight gain after the first few months Handout from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S