0

ADAKAH BUKTI ILMIAH MANFAAT NEBULIZER (TERAPI UAP) DALAM TATA LAKSANA BATUK PILEK?

nebu picDi kalangan masyarakat awam terapi uap atau di-“nebu” seringkali ditawarkan oleh tenaga kesehatan menjadi solusi untuk anak (khususnya bayi) yang menderita batuk pilek (flu/selesma/common cold). Tindakan ini dianggap dapat meringankan gejala pilek (hidung mampet, nafas grok-grok), mengencerkan dahak, dan  meredakan batuk. Di dunia medis tindakan ini meskipun lazim dilakukan namun penelusuran lebih lanjut hasilnya cukup mengejutkan.

Secara ilmiah, berdasarkan hasil  penelitian sistimatik (sistematic review), diperoleh bukti bahwa terapi dengan nebulizer atau terapi uap, gagal menunjukkan manfaatnya dalam membantu memecah lendir (mucolytic), pengeluaran lendir (muco clearance), memperbaiki oksigenasi maupun mempercepat penyembuhan pada semua penyakit saluran napas baik infeksi maupun non infeksi yang memerlukan perawatan di rumah sakit (Strickland, 2015). Nebulizer bukan 100% aman, tindakan ini memiliki efek samping yang mungkin terjadi seperti mual, muntah, stomatitis, pilek, iritasi saluran napas, nyeri dada, kram saluran napas, batuk, nyeri kepala, pusing (Strickland, 2015).

Selain pengeluaran lendir saluran nafas, nebulizer juga dianggap dapat meredakan batuk. Namun studi yang dilakukan oleh Tomerak, dkk (CD005373, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005)  menyimpulkan bahwa penggunaan nebulizer obat beta2-agonist (contoh: ventolin, meptin dll) tidak menunjukkan bukti manfaat dalam meredakan batuk non spesifik (non asma/tidak ada bukti penyempitan saluran napas). Penggunaan nebulizer obat beta2-agonist juga gagal menunjukan bukti ilmiah dalam meredakan batuk akut (Becker LA dkk.  Cochrane Database of Systematic Reviews 2015,CD001726). Adapun pemberian nebulizer steroid juga tidak terbukti menunjukkan manfaat dalam meredakan batuk sub kronik non asma (Anderson-James S dkk. , CD008888, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013,) dan batuk kronik non asma (Tomerak dkk. , CD004231, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005).  Nebulizer steroid ini juga tidak terbukti bermanfaat pada kasus sesak (wheezing) non asma karena infeksi virus (McKean MC dkk., CD001107 Cochrane Database of Systematic Reviews 2000).

Meskipun terapi nebulizer tidak terbukti memberikan manfaat seperti paparan diatas, namun terapi ini jelas terbukti bermanfaat dalam penatalaksanaan asma. Pada penatalaksanaan asma, Nebulizer obat beta2-agonist, Anti-cholinergic  maupun steroid masuk dalam panduan penatalaksanaan asma seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam protokol GINA (Amerika dan WHO), BTS (inggris), NAEPP (Amerika) dan European Respiratory Society (Eropa). Namun demikian pada kasus non asma, penggunaan nebulizer masih perlu dipertimbangkan dengan cermat, karena  dukungan bukti ilmiah belum cukup kuat. Nebulizer menunjukkan manfaat pada kasus brochiolitis ringan-sedang dengan menggunakan larutan garam (NaCl) 3% (Zhang L dkk., No.: CD006458, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013) atau larutan garam 0,9% (SHARMA dkk, 2013).

European Respiratory Society/ERS memberikan panduan terkait indikasi/manfaat nebulizer pada anak sebagai berikut:

  1. Nebulizer sangat direkomendasi pada terapi asma.
  2. Pada bronchiolitis nebulisasi dengan steroid, ribavirin dan β2 agonist tidak disarankan
  3. Pada croup dexametaxon peroral sama efektifnya dibanding nebulisasi steroid
  4. Nebulisasi surfactan pada bayi baru lahir belum direkomendasikan, disarankan dengan cara konvensional menggunakan endotracheal tube.
  5. Nebulisasi DNAse dan N-acetyl cysteine pada ICU anak tidak disarankan.
  6. Penggunaan Nebulisasi pada kasus cystic fibrosis (kasus yang jarang di indonesia) bisa dipertimbangkan

Sebagai informasi kasus asma tidak lazim dijumpai pada anak di bawah usia 3 tahun. Tulisan kami sebelumnya mungkin dapat membantu orangtua memahami batuk pilek pada anak apakah merupakan gejala alergi (termasuk asma).

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian, Sp.A

Daftar Pustaka:

  • Strickland SL dkk, Respir Care 2015;60(7):1071–1077.
  • Tomerak AAT, Vyas HHV, Lakhanpaul M, McGlashan J, McKean MC. Inhaled beta2-agonists for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 3. Art.No.: CD005373.
  • Tomerak AAT,McGlashan J, LakhanpaulM,VyasHHV,McKeanMC. Inhaled corticosteroids for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 4. Art. No.: CD004231.
  • Anderson-James S,Marchant JM, Acworth JP, Turner C, Chang AB. Inhaled corticosteroids for subacute cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 2. Art. No.: CD008888
  • Becker LA, Hom J, Villasis-Keever M, van der Wouden JC. Beta2-agonists for acute cough or a clinical diagnosis of acute bronchitis. Cochrane Database of Systematic Reviews 2015, Issue 9. Art. No.: CD001726.
  • Global Initiative for Asthma (GINA) http://ginasthma.org/2016-pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/
  • British Thoracic Society (BTS), Asthma Guideline, https://www.brit-thoracic.org.uk/guidelines-and-quality-standards/asthma-guideline/ (30 april 2016)
  • National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP), Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma, Full Report 2007, U.S. Departement of Health and Human Service
  • Chung KF dkk., International ERS/ATS guidelines on definition, evaluation and treatment of severe asthma, Eur Respir J 2014; 43: 343–373
  • McKeanMC, Ducharme F. Inhaled steroids for episodic viral wheeze of childhood. Cochrane Database of Systematic Reviews 2000, Issue 1. Art. No.: CD001107
  • Zhang L, Mendoza-Sassi RA, Wainwright C, Klassen TP. Nebulised hypertonic saline solution for acute bronchiolitis in infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 7. Art. No.: CD006458
  • Sharma Bs,Gupta Mk Dan Rafik As, Hypertonic (3%) Saline Vs 0.9% Saline Nebulization for Acute Viral Bronchiolitis: A Randomized Controlled Trial, Indian Pediatric, Volume 50, August 15, 2013
  • Boe J, Dennis JH, O’ Driscoll BO, European Respiratory Society Guidelines on the use of nebulizers Eur Respir J 2001; 18: 228–242
Advertisements
0

ALERGI

PENGERTIAN

  • Alergi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan respon sistim imun (sistim kekebalan) yang tidak tepat atau berbahaya terhadap suatu zat (substance) terutama protein yang masuk tubuh. Respon imun tersebut akan memunculkan gejala dan atau tanda yang merugikan/mengganggu mulai dari derajat ringan sampai berat. Alergi bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan fitur genetik tubuh manusia, yaitu apakah manusia memiliki fitur alergi atau tidak. Dengan kata lain alergi adalah reaksi imun terhadap sesuatu yang mana pada sebagian besar orang tidak terjadi.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIK

  • Dalam alergi dikenal istilah atopi yaitu  seseorang yang memiliki fitur genetik untuk membentuk antibodi IgE terhadap paparan allergen. Rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi merupakan manifestasi yang paling sering dari atopi. Meskipun begitu atopi juga bisa tidak bergejala. Karena alergi merupakan fitur genetik maka ia dapat diturunkan. Berikut adalah gambar kemungkinan alergi diturunkan dari orangtua
Bagaimana Alergi Diturunkan

Bagaimana Alergi Diturunkan

Induksi dari atopi (munculnya atopi, red) tergantung dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan atopi ini akan bermanifestasi menjadi suatu gejala/penyakit dipengaruhi oleh kelainan pada organ dan adanya pencetus. (trigger)  Gambar berikut menerangkan hal ini

Bagaimana Alergi Terjadi

Bagaimana Alergi Terjadi

BAHAN-BAHAN YANG MENYEBABKAN ALERGI

Pada prinsipnya semua benda bisa menyebabkan alergi atau bersifat allergen. Akan tetapi yang paling sering menyebabkan alergi adalah sebagai berikut:

  1. Alergen hirupan: tungau debu rumah (house dust mite), tepung sari (pollen), binatang, spora jamur.
  2. Alergen makanan:
    • Telur, susu sapi, kedelai, terigu/gandum (untuk anak dibawah 3 tahun)
    • Kacang, ikan, udang (untuk anak diatas 3 tahun)
  3. Alergen injeksi: obat, racun serangg
  4. Alergen kontak: obat, makanan, bahan pakaian.

Alergen makanan biasanya terkait dengan gangguan saluran cerna tetapi juga bisa bermanifestasi pada kulit. Manifestasi pada saluran napas (terutama pilek) lebih sering disebabkan alergen hirupan.

MEKANISME ALERGI

Berikut adalah pembagian reaksi hipersensitivitas Gell & Coombs  yang masih sering dipakai walaupun dianggap terlalu menyederhanakan;

  • Tipe-I: hipersensitif anafilaktif
    • IgE pada sel Mast mengikat Antigen bebas
    • Tipe-II: hipersensitif sitotoksik
      • Antigen pd Membran bereaksi dg Antibodi bebas
      • Tipe-III: hipersensitif kompleks imun
        • Kompleks imun Ag-Ab & aktivasi Komplemen
        • Tipe-IV: hipersensitif cell mediated (tipe lambat)
          • Sel Limfosit tersensitisasi bereaksi dg Antigen.

Mekanisme AlergiMekanisme alergi dimulai dari masuknya allergen kedalam tubuh (dihirup, dimakan, kontak dengan kulit). Atas kehadiran allergen, sel limfosit B bereaksi dengan membentuk Ig E yang spesifik terhadap allergen tersebut. Ig E yang dibentuk beredar didalam darah akan menempel pada bermacam2 sel, salah satunya adalah sel mast. Paparan berikutnya, bila ada alergen yang sama akan  menempel pada IgE yang ada pada permukaan sel mast, yang kemudian sel mast  pecah mengeluarkan berbagai molekul (a.l histamin) yang menyebabkan radang (inflamasi). Radang oleh reaksi alergi paling sering pada hidung (rhinitis), paru (asma) dan kulit (dermatitis).

MANIFESTASI ALLERGI

Seseorang yang memiliki fitur/konstitusi alergi memiliki risiko untuk berkembang menjadi beberapa penyakit alergi. Akan tetapi kapan muncul dan jenis penyakit alerginya tidak bisa diprediksi. Manifestasi klinis penyakit meliputi banyak organ.

Perjalanan manifestasi alergi paling awal muncul pada biasanya adalah gambaran alergi pada kulit bayi (gambaran kemeran kasar pada muka) dan alergi makanan.

dermatitis atopi

Manifestasi Alergi – Dermatitis Atopi

angioderma

Manifestasi Alergi – Angiodema

urtikaria

Manifestasi Alergi – Urtikaria/Biduran

DIAGNOSIS ALERGI

Diagnosis alergi terutama ditegakkan dengan mempelajari gambaran klinis penyakit dan riwayat paparan alergen.  Gambaran klinis penyakit yang berulang dan disertai dengan paparan allergen yang sama akan sangat mendukung dugaan manifestasi alergi. Uji kulit dan IgE spesifik serum merupakan pemeriksaan penunjang disarankan, sedangkan beberapa uji yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

allergy lb test

Allergy Laboratory Test

PENATALAKSANAAN ALERGI

Menghindari Alergen (Avoidance)

Menghindari allergen merupakan upaya utama untuk menghindari bagaimana para penderita alergi dapat bebas/mengurangi gejala klinis alergi. Meskipun terlihat mudah, akan tetapi pelaksanaanya tidak sederhana. Apalagi bila terkait kebutuhan nutrisi anak. Alergen dari binatang dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk hilang dari ruangan setelah binatang tersebut tidak ada. Tidak ada satu tindakan penghindaran dari allergen yang efektif akan tetapi lebih pada tindakan komprehensif.

Farmakoterapi

Obat-obatan pada penanganan alergi berguna untuk mencegah munculnya gejala/tanda alergi dan atau meredakan. Beberapa obat untuk meredakan manifestasi penyakit alergi menjadi mutlak harus segera diberikan (misal pada anafilaksis dan serangan asma) oleh karena dapat mengancam nyawa.

Imunoterapi

Imuunoterapi adalah satu-satunya penanganan kuratif untuk alergi pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup lama dan harus memperhatikan manfaat dan keruganya.

Pencegahan

Pencegahan meliputi:

  • Primer: bayi dengan risiko tinggi alergi dan belum mengalami sensitisasi. Dengan cara pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, (tidak perlu pantang makan bagi ubu hamil), susu hidrolisat parsial, menghindari rokok, polusi udara
  • Sekunder: bayi yang sudah mengalami sensitisasi namun belum mengalami gejala atau mencegah perkembangan manifestasi alergi (alergi march). Misalnya pada bayi dengan dermatitis atopi pencegahan sekunder dengan menghindari allergen untuk manifestasi asma.
  • Tersier: bayi yang sudah mengalami gejala atau sudah terdiagnosis alergi. Misalnya pada alergi susu sapi yang tidak memungkinkan asi dapat diberikan  susu hidrolisat, formula asam amino atau formula kedelai

Beberapa hal tidak spesifik yang dapat mendukung respon alami (mengurangi resiko alergi)

  • Tinggal di daerah pertanian/perkebunan
  • Penggunaan probiotik
  • Konsumsi buah dan sayur segar
  • Konsumsi susu segar
  • Olah raga/aktifitas outdoor
  • Penggunaan makanan yang difermentasi bakteri

Edukasi

Satu yang sangat penting dalam penanganan penyakit terutama penyakit kronik adalah pemahaman pasien dan keluarga akan penyakit/kelainan yang diderita.

Daftar pustaka:

  1. Toit, G.D, Meyer, R., dkk, 2010, “Identifying and managing cow’s milk protein allergy”, Arch Dis Child Educ Pract Ed 95: 134-144
  2. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: First of two parts” N Engl J Med 344 (1): 30-36
  3. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: Allergic Diseases and Their Treatment, N Engl J Med 344 (2): 109-113
  4. Caffarelli, C., Baldi, F., dkk, 2010, “Cow’s Milk Protein Allergy in Children: A Practical Guide”, Journal of Pediatrics 36 (5)
  5. Koletzko, S., Niggeman B, dkk, 2012, “Diagnostic Approach and Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants and Children: ESPGHAN GI Committee Practical Guidelines”, JPGN 55(2): 221-229
  6. Hugo, Van Bever, 2009, “Allergic Diseases in Children: The Science, the Superstition, and the Stories, World Scientific

Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

0

Diagnosis Tubercolusis (TBC/TB) yang Tidak Sederhana

PENDAHULUAN

Penyakit Tuberkulosa (TBC/TB) atau beberapa orang menyebut paru-paru basah, merupakan salah satu penyakit yang paling dijadikan sering alasan bila seorang anak menderita batuk lama atau  berat badan sulit naik/kurus. Yang harus diingat bahwa TB bukanlah satu-satunya penyebab batuk lama maupun anak kurus. Oleh karena itu kita perlu mengenal lebih banyak tentang TB.

Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosa, yang dapat menyerang seluruh organ tubuh mulai dari kulit, tulang, paru, saluran cerna, ginjal,  otak, dan kelenjar limfe.  Oleh sebab itu setiap penderita TB pasti ada sumber penularannya, meskipun kadang sulit mencari sumber penularnya.

Kuman TB masuk kedalam tubuh melalui percikan ludah (droplet) dari penderita TB yang dihirup oleh saluran pernapasan/paru. Setelah kuman masuk kedalam tubuh manusia, kuman tersebut dapat berkembang menjadi penyakit atau hanya menetap bertahun-tahun tanpa menimbulkan masalah (dorman). Kuman TB yang dorman dapat menyebabkan penyakit bila terjadi penurunan sistim imunitas tubuh.

WHO memperkirakan terdapat 1/3 penduduk dunia  terinfeksi  basil  TB. Dari mereka yang terinfeksi kemungkinan akan menderita sakit sebesar:

  • 50%, bila usia< 1 tahun,
  • 10-25%, usia 1-2 tahun
  • 5%, usia-2-5 tahun,
  • 2%, usia 5-10 tahun,
  • 10-20% usia >10 tahun).

Bila ada penderita TB ditemukan, ingatlah usia-usia dimana seseorang mudah menderita penyakit TB. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mereka yang resiko terinfeksi TB adalah: Mereka yang tinggal dilingkungan penderita TB dan mereka yang berusia <2 tahun.

 GEJALA & TANDA PENDERITA PENYAKIT TB:

  1. Demam lama (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, dapat disertai keringat malam. Akan tetapi harus diingat bahwa bayi dan anak akan terasa lebih hangat dan berkeringat bila malam, hal ini terkait dengan metabolisme bayi/anak lebih tinggi dari orang dewasa. Oleh sebab itu perlu pengukuran dengan thermometer untuk melihat suhu.
  2. Batuk lama (> 3 minggu) setelah penyebab batuk lain disingkirkan. Batuk pada malam hari atau pada waktu tertentu saja atau yang disertai mengi biasanya disebabkan oleh alergi. Batuk pada TB bayi dan anak biasanya tidak berdahak/kering, batuk berdahak biasanya lebih pada TB anak besar/adolescent dan dewasa.
  3. Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas atau berat badan tidak naik meskipun asupan gizinya cukup.
  4. Gagal tumbuh atau gizi kurang. Kadang disertai anoreksia/malas makan (bukan pilih-pilih makanan/picky eaters)
  5. Lesu
  6. Diare persisten (diare > 2 minggu)

Sampai disini dapat garis bawahi bahwa dicurigai menderita penyakit TB bila menemukan tanda/gejala diatas disertai faktor risiko dan sumber penularan. Bila kita hanya menemukan gejala dan tanda saja tanpa faktor risiko dan sumber penularan maka penyakit atau masalah lain harus dicari dengan seksama oleh karena banyak penyakit lain yang memberikan gejala/tanda yang sama. Akan tetapi bila hanya menemukan faktor risiko saja maka perlu pemantuan kemungkinan akan menderita penyakit TB di kemudian hari.

Diagnosis penyakit TB pada anak bukan hal yang mudah, oleh karena seringkali sumber penular tidak jelas. Penegakan diagnosis yang ideal adalah pemeriksaan ada tidaknya kuman TB pada dahak, namun hal ini sulit dikerjakan pada bayi dan anak, baik karena sulitnya mendapatkan dahak maupun karena kandungan kuman TB pada dahak anak sangat sedikit.

PETUNJUK WHO UNTUK DIAGNOSIS TB PADA ANAK

Dicurigai Tuberkulosis

  1. Anak dengan riwayat kontak dengan penderita TB (pemeriksaan dahak positif TB)
  2. Anak dengan:
  • Keadaan klinis tidak membaik setelah campak atau pertusis
  • Berat badan menurun, batuk dan mengi yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotikan atau obat saluran pernapasan
  • Pembesaran kelenjar yang tidak nyeri

Mungkin Tuberkulosis

Anak yang dicurigai TB ditambah dengan:

  • Uji tuberculin (Mantoux/PPD test)  positif
  • Foto rongent paru sugestif T
  • Pemeriksaan jaringan biopsy sugestif TB
  • Respon baik dengan pengobatan TB

 Pasti Tuberkulosis

Bila ditemukan basil TB pada pemeriksaan langsung (dahak) atau biakan

Kendala pada penggunaan kriteria WHO:

  • Foto rontgen paru seringkali tidak khas kecuali bila penyakit TB sudah parah. Foto rontgen paru yang normal tidak berarti tidak ada penyakit TB.
  • Uji tuberculin sering tidak tersedia, disamping itu pada kondisi tertentu pemeriksaan tuberculin dapat negatif palsu (anergi), maka bila perlu diulang 1-2 bulan sesudahnya.
  • Pemeriksaan biopsy lebih dikhususkan pada TB kelenjar

Atas dasar berbagai pertimbangan dan hasil diskusi yang panjang, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Menyusun Sistem Skoring TB anak sebagaimana tertera dalam tabel berikut

Tabel Sistem Skoring TB Anak

Parameter

0

1

2

3

Kontak TB

Tdk jelas

Laporan keluarga (BTA negatif/tdk jelas)

BTA (+)

Uji Tuberculin

negatif

Positif (>10 mm>

Berat badan/Gizi

BB//TB < 90% atau BB//U < 80%

Klinis gizi buruk atau BB//TB <70% atau BB//U < 60%

Demam yg tdk diketahui penyebabnya

> 2 minggu

Batuk khronik

> 3 minggu

Pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak, lipat paha

> 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri

Pembengkakan tulang/sendi

ada

Foto rongent paru

Normal

Gambaran sugestif TB

Catatan: Diagnosis TB bila skor > 6 (skor maksimal 13)


Dari semua pembahasan diatas maka poin terpenting adalah pada adanya informasi/bukti sumber penularan (kontak TB) dan hasil uji tuberculin. Hal ini dapat dilihat dilihat pada tabel sistem scoring IDAI yang keduanya memiliki nilai tertinggi.

Mendiagnosis TB bukan hal yang mudah begitu pula kapan kita mengakhiri/menghentikan pengobatan juga bukan hal yang mudah. Disamping itu hampir semua obat TB dapat merusak hati (hepatotoksik).

Kembali pada bahasan sebelumnya, oleh karena itu seseorang dicurigai menderita penyakit TB bila ditemukan tanda/gejala penyakit TB baru kemudian dibuktikan/dibuat diagnosis dengan bantuan pemeriksaan yang ada/scoring TB. Jadi bila benar TB dan telah dilakukan pengobatan yang benar maka gejala/tanda penyakit tersebut haruslah berkurang/menghilang. Namun bila sebaliknya, maka muncul pertanyaan berikut:

  1. Apakah betul TB?
  2. Apakah pengobatan sudah tepat?
  3. Apakah kuman TBnya sudah kebal dengan obat standar? (Untuk no 3 perlu pembahasan amat panjang).

Untuk itu orangtua perlu bersikap kritis terhadap diagnosis TB yang ditegakkan oleh DSA anak mereka. Tanyakan dasar diagnosis yang digunakan, jika perlu carilah second, third opinion.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Referensi

  1. Buku Ajar Respirologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Cetakan Pertama, 2008
  2. Graham, S.M., 2011, Treatment of Paediatric TB: Revised WHO Guidelines, Paediatric Respiratory Reviews 12: 22-26
2

Sekilas Mengenai Batuk dan Pilek Pada Anak

Batuk dan atau pilek merupakan gejala utama common cold atau sering kita sebut flu. Flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Dalam satu tahun rata-rata anak akan mengalami 3-10 kali. Bila rata-rata lama penyakitnya 7 – 10 hari, maka seakan-akan 1/3 hidup anak dalam setahun terpapar flu. Gejala yang sering dikeluhkan adalah batuk, pilek dan demam, kadang disertai nyeri tenggorok dan pembesaran kelenjar limfe leher bagian depan. Gejala lain berupa nyeri otot, nyeri kepala, radang kelopak mata dan nyeri sendi.

Demam yang terjadi biasanya kurang dari 390C, bila suhu lebih dari 390C patut dipertimbangkan kemungkinan penyakit yang lain. Komplikasi yang dapat terjadi radang telinga tengah, radang sinus, sesak napas (wheezing) dan infeksi bacterial tumpangan (terutama pada paru). Penyebab flu pada umumnya adalah virus (yaitu Rhinoviruses, Coronaviruses, Respiratorysyncytial virus, Parainfluenzaviruses, Adenoviruses, Nonpolioenteroviruses, Influenzaviruses, Reoviruses). Oleh karena itu biasanya flu sembuh dengan sendirinya (self limited). Pengobatan yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10 -15 mg tiap kg berat badan bila demam lebih 380C dan cukup minum terutama yang hangat. Parasetamol atau acetaminophen dapat diberikan tiap 6 jam bila perlu. Sediaan parasetamol yang ada berupa sirup, tetes atau tablet.  Harap diperhatikan dosis perkilogram berat badan bukan berdasar umur! Penggunaan obat-obatan lain seperti antibiotik, obat batuk (antitusif, ekspetoran), obat pilek (decongestan) dan antihistamin tidak disarankan untuk anak-anak. Di Amerika Serikat, FDA secara khusus telah melarang penggunaan obat batuk pilek untuk usia di bawah 2 tahun, dan keefektifan untuk usia di atas tersebut (anak-anak bawah 12 tahun) sendiri masih dipertanyakan. Secara umum obat batuk dan obat pilek tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin, maka bila hendak menggunakan obat tersebut harus dengan dengan rekomendasi dokter. Sayang sekali dipasaran banyak beredar obat batuk dan obat pilek atau gabungan keduanya sehingga seakan-akan memang bermanfaat untuk flu pada anak.

Kapan kita ke dokter?

  1. Bila secara umum anak tampak tidak bugar (sakit keras) dalam bahasa medis disebut toksik
  2. Anak malas minum sehingga kurang cairan padahal tidak muntah atau diare
  3. Tampak sesak/sukar bernapas, ditandai dengan napas cepat (jumlah napas > 60 kali permenit untuk usia < 2 bulan, > 50 kali untuk usia 2 – 12 bulan, > 40 kali untuk usia 1 – 5 tahun) dan atau tampak tarikan pada dinding dada.
  4. Demam tinggi > 390C atau setelah 3 hari demam masih > 38,50C
  5. Ada keluhan nyeri telinga

Referensi

  • Leslee F.Kelly, 2004, Pediatric Cough and Cold Preparations Pediatrics in Review 25(4):115-123
  • Diane E. Pappas, J. Owen Hendley, 2011, The Common Cold in Children, Pediatrics in Review 32:47-55.
  •  Floyd W. Denny, 1987, Acute Respiratory Infections in Children: Etiology and Epidemiology, Pediatrics in Review 9:135-146
  • Madeline Simasek, David A Blandino, 2007, Treatment of the Common Cold, American Family Physician 75(4):515-520.
  • Ishimine P, 2006, Fever Without Source in Children 0 to 36 Months of Age, Pediatric Clinics of North America 53(2):167–194

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

4

Benarkan Batuk Pilek pada Bayi adalah Alergi?

            Selama ini banyak orang yang mencurigai batuk pilek pada bayi disebabkan karena alergi. Padahal sesungguhnya batuk pilek pada usia tersebut lebih sering karena faktor infeksi terutamanya disebabkan oleh virus. Virus yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran napas sangat banyak disekitar kita dan mudah sekali menular. Pada orang dewasa atau anak besar seringkali gejalanya sangat ringan tanpa disadari, misal batuk pilek ringan selama 1-2 hari. Tetapi semakin muda usia dimana sistem kekebalan tubuhnya masih rentan dan belum berkembang sempurna, gejalanya akan lebih nyata. Akibatnya batuk pilek pada usia ini berlangsung lebih lama, bahkan bisa sampai 3 minggu! Rata-rata anak balita mengidap infeksi saluran napas bagian atas sebanyak 3-4 kali dalam 1 tahun. Frekuensi ini akan meningkat pada mereka yang memiliki saudara sesama balita atau tinggal di penitipan anak. Oleh karenanya tidak mengherankan jika seolah-olah batuk pileknya tidak sembuh-sembuh. Ujung-ujungnya hal ini dianggap alergi. Pada mereka yang memakai susu formula (sufor) dari susu sapi, seringkali disarankan oleh dokter untuk beralih ke sufor dari soya, bahkan ada pula yang diminta menghentikan pemberian ASI! Berdasarkan penelitian terbaru (Mansoor dan Sharma, 2011), hanya ditemukan 0.08% sampai 0.2% yang menunjukkan perbaikan klinis setelah penggantian sufor dengan soya pada bayi yang memiliki gejala gangguan saluran napas. Lagipula kalau melihat perjalanan alergi, maniestasi (reaksi) alergi berupa gejala saluran pernapasan tidak sering muncul pada usia bayi melainkan pada anak lebih besar.

            Gambar diatas  menunjukkan gambaran perjalanan manifestasi (reaksi) alergi. Dari gambar tersebut jelas bahwa jika anak Anda yang berusia dibawah 1 tahun diduga alergi terhadap susu formula (atau alergen lain seperti lingkungan) maka kecil kemungkinan manifestasi alerginya berupa rhinitis (gejala saluran napas). Contoh lain dari gambar tersebut yaitu reaksi alergi berupa asma tidak lazim ditemukan pada anak dibawah usia  3 tahun, biasanya muncul pada usia diatas 3 tahun. Mengingat ilmu tentang alergi yang sangat kompleks, untuk lebih memahami penyebab, gejala, dan hal-hal yang terkait alergi, disarankan berkonsultasi pada dokter anak sub spesialis alergi.

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian Sumirat SpA

Referensi

Mansoor D.K., Sharma, H.P. 2011. Clinical Presentation of Food Allergy, Pediatric Clinical North America , Vol  58, hal 315-326.

Winther dkk, Viral Induced Rhinitis, American Journal Rhinology, vol 12 halaman 17-20

Weinberg E.G. 2005. The Atopic March. Current Allergy & Clinical Immunology Vol. 18, No.1, hal 4-5