3

Oleh-oleh ASIP dari Bangkok

Share cerita seorang rekan busui kami yang luar biasa, Bunda Hanum yang baru saja melakukan perjalanan dinas ke Bangkok namun tak lupa oleh-oleh ASIP untuk si kecil

================================================================================

Akhirnya…terlewati juga saat-saat yang cukup bikin pusing kepala tuk beberapa waktu. Sekarang tinggal¬†share cerita singkat selama perjalanan pergi-pulang dan selama di Bangkok untuk urusan per ASIP-an ini.

Semoga bisa menginspirasi ibu-ibu juga kalau ada tugas dinas di LN atau Luar kota tapi bayi masih perlu ASIP.

Ada outing kantor ke Bangkok, selama 4 hari 3 malam dengan total orang sekantor sebanyak 40 orang, wajib ikut dan harus ninggalin baby di rmh yg usianya masih 9 bulan hikss…
Setelah cari info sana sini, dan hunting kebutuhan untuk bisa maintain pumping/perah asip, 1,5 liter ASIP berhasil dibawa buat oleh-oleh ūüôā

Modal awalnya adalah NIAT! karena kalau nggak ada yg satu ini, bubar lah semua. Setelah itu berdoa yg banyak agar jalannya dimudahkan.

Karena banyak cerita satu dan lain pengalaman berbeda, ada yg sangat mudah dan lancar tanpa hambatan, ada juga sampai yang harus berurai airmata bermasalah di imigrasi karena urusan membawa ASIP

Persiapan juga dilakukan termasuk keteteran karena menjelang berangkat kerjaan menumpuk dan lembur terus :(( *maaf jd curcol
selain niat, pastinya banyak hal yg harus dipersiapkan dong…yup…ini diantaranya:

1. Breast Pump

Bawa medela swing (elektrik) dan sempet beli unimom mezza (manual) just in case gak nemu listrik atau colokan. Tadinya sempet mau dipinjemin unimom forte sama temen, tp bisa over bagasi, hehe.. Selama disana akhirnya banyakan marmet krn ga sempet cuci Breastpump nya. Bawa botol plastik juga. bawaan medela kebetulan ada 3 pcs dibawa semua.

Image

2. Cooler
Ini yg paling penting, pengangkut asipnya hrs bener2 aman dan kuat. Setelah hunting dan kebingungan mau cari cooler box atau cooler bag, akhirnya nemu igloo macam ini. Sempet diledek temen kaya tukang es krim keliling, hihihi… tapi cuek saja, haha

Image

 

3. Ice gel/ice pack
Lumayan banyak bawanya, 3 bungkus Ice gel RBS dan Sun Gel, 1 Ice pack RBS, Ice Pack Snowgam, dan 2 Ice pack tipis bawaan cooler bag Pigeon

4. Kantong asip Natur. Bawa sekitar 20pcs (harus optimis dong bisa dapet banyak, hahaha), Spidol, post it, lakban bening

5. Sabun pencuci botol, sikat pencuci botol, tissu basah & hand sanitizer.

Ok, pagi itu jam 3 udah harus bangun karena flight jam 7.20 dan jam 5.30an udah harus check in. Cium dan doa buat baby sambil nahan mewek, dadaaaaaah…..

Berhubung  bawaan baju sengaja dikit karena mau prioritasin urusan ASIP, jadilah gak ada bagasi, semua diangkut ke cabin. Di imigrasi cooler box sempet dibongkar, tapi dengan penjelasan bahwa semua ini kebutuhan untuk membawa ASIP nggak jadi masalah masuk ke cabin. Oya, penerbangan dengan Tiger airways.

Sambil menunggu boarding, PD mulai nyut nyut dan harus pumping, di terminal 3 nursery room’nya bersih, bagus dan nyaman (maaf fotonya ke delete, hix) tapi sayang gak da colokan listrik, jd terpaksa pumping di mushola persis disebelahnya. Dapet skitar 120cc. Ketika boarding, asip hasil perah langsung titip ke pramugari untuk taro di chiller atau di es atau di tempat yang dingin (perjalanan skitar 3 jam). tips kalo apes nemu pramugari yg jutek, harus galakan kitanya, hehe…gak boleh sungkan-sungkan ya kalo udah urusan ASIP…tapi ya kita minta tolong baik-baik aja, kalo dijutekin baru deh jutekin balik dengan kerlingan maut, arrrrgh……

sampe Bangkok langsung check in di hotel, karena dari airport ke hotel aja udah 1 jam sendiri di jalan. Syukurnya dapet kamar yg ada kulkasnya, jd lgsg taro smua ice gel & ice pack di freezer, asip di chiller dan langsung pumping lagi.
Satu hal yang harus diniatkan dengan amat sangat kuat adalah, usahakan jangan malas pumping, seberat apapun kondisi dan tantangannya. separah2nya, minimal bangun tidur dan sebelum tidur usahakan kosongkan PD.

Selanjutnya menjalani aktivitas sehari-hari di Bangkok dengan selalu menyempatkan pumping atau marmet. Di mall, di Bis, di hotel, terus2an secape apapun dan semalam apapun baru balik ke hotel. Roomate sampe bosen kali liatnya, tapi untungnya mereka amat sangat pengertian.

Sebagai back up, aku bawa jg cooler bag kecil medela seperti ini. ImageMaksudnya biar selama kelilingan diluar hotel asip hasil pumping/perah msh bisa aman sebelum nyampe hotel.

Di hari terakhir di Bangkok adalah hari yang paling menantang. Karena harus check out dari jam 11. 30’an sedangkan flight balik ke Jakarta baru jam 9 malam ūüė¶
Jadiiii, harus bener2 tepat perhitungan simpan menyimpan asipnya biar selamet sampai rumah. Btw, selama di Bangkok ASI hasil perahan semua disimpen di chiller (kulkas bawah) dan gak ada yang dibekukan. Katanya sih aman kok sampe 6 hari juga, lagian kalo dibekuin dan keburu cair malah jd sutris mikirinnya…

Setelah check out jam 12an siang, langsung lapor ke bagian front desk kalo aku butuh titip asip dan icepack/ice gel. Untungnya front desk sangat baik hati, dengan senyum yang ramah diarahkan ke bagian restoran untuk semua urusan ini. Walaupun di restoran wajahnya pada bingung (apalagi bartendernya dapet yg cowo) dan amit-amit ya di Bangkok tuh bahasa jadi problem banget, susyaaaaah deh cari yang bisa bahasa inggris. Yang bawel¬†aja dan pastikan mereka ngerti dan bener ngerjain yang kita minta, hehe…dengan tetep senyum manis tentunya ūüôā

Setelah memastikan semua aman, baru deh berani keluar dari hotel.

Balik lagi ke hotel jam 4 sore, mulai deg-deg-an…karena harus segera ke airport melewati traffic Bangkok yg mirip Jakarta macetnya. Nyampe airport jam 6.30an, check in (ASIP diputuskan masuk cabin) dan setelah melewati imigrasi lagi, anehnya asip cair di coolbox malah ga diperiksa sama sekali!! padahal diisi di kantong natur masing2 lebih dari 150cc, dan gak di masukin kantong ziplok tiap 5 kantong (ada aturan begitu juga biar ga bocor).

Yang diperiksa malah ASIP yg baru saja merah ketika nyampe airport, ada sekitar 100cc di botol medela dan 1 tas isi breast pump. Memang ditanya “what is this” dan where is Your kid?” tapi setelah dijelasin semua lolos, fyuiiiih….

Sampai jakarta sekitar jam 1 pagi, udah minta suami jemput bawa es batu, jaga2 kali aja ice gel/ice pack ada yg mencair..ternytaaaa….msh beku!! Hingga di rumahpun sekitar jam 2.30an semua masih beku, asip cair 10 kantong langsung masuk ke freezer….yg di botol taro di chiller.

Advertisements
Aside
0

Tulisan asli bersumber dari web AIMI yaitu http://aimi-asi.org/2012/10/bayi-asi-dan-alergi/

oleh  on October 17th, 2012

Alergi adalah reaksi imunitas tubuh yang berlebihan terhadap suatu bahan. Imunitas tubuh kita seharusnya bekerja untuk melindungi tubuh kita dari bahaya,seperti virus, bakteri, atau jamur, namun, pada individu yang alergi, tubuh bereaksi pula terhadap bahan yang tidak berbahaya, seperti protein ikan, susu sapi, debu, cuaca, dengan respon yang berlebihan. Alergi sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan, yaitu anak dari orang tua yang memiliki riwayat alergi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit alergi. Penyakit alergi yang sering contohnya adalah alergi makanan, asma, rhinitis alergika (pilek dan bersin berkepanjangan jika terkena udara dingin atau debu), dan dermatitis atopik (eksim / gatal-gatal pada kulit akibat alergi). Saarinen dan Kajosaari (1995) melakukan penelitian dengan memantau kondisi 150 bayi sejak lahir hingga usia 17 tahun, dan menemukan bahwa ASI dapat mencegah timbulnya alergi, baik alergi makanan, eksim, maupun alergi pernapasan, selama masa kanak-kanak dan remaja.

Sebelum usia 6-9 bulan, usus bayi mudah ditembus protein asing, dapat diandaikan seperti kain kasa yang berlubang-lubang, jika kita taburi tepung atau gula pasir ke atasnya, dengan mudah bahan-bahan ini menembus permukaan kain kasa tersebut. ASI mengandung sel antibodi sIgA dalam jumlah tinggi, antibodi jenis inilah yang berperan melapisi permukaan usus bayi, sehingga menjadi lebih rapat dan tidak mudah ditembus protein asing. Protein susu sapi merupakan alergen (bahan penyebab alergi) yang paling sering menimbulkan reaksi pada bayi. Protein dalam susu sapi yang sering memicu alergi mencakup laktoglobulin, kasein, albumin serum sapi, danlaktalbumin. Selain mengandung imunoglobulin, ASI juga mengandung oligosakarida,sitokin, glikoprotein, LCPUFA, lisozim, nukleotida, dan komplemen. Bahan-bahan ini dapat mengendalikan reaksi tubuh terhadap bahan asing, sehingga tidak muncul reaksi yang berlebihan.

Gejala alergi dapat berupa muntah, diare, kolik, bahkan keluarnya BAB darah (baik yang tampak jelas berupa darah segar, maupun darah samar yang dibuktikan oleh pemeriksaan mikroskopik). Pada bayi dapat pula timbul gejala pada saluran napas berupa pilek,batuk, dan asma, maupun gejala kulit berupa eksim atau kaligata. Pada alergi, antibodi yang berperanan adalah IgE. Antibodi ini teraktivasi oleh adanya protein asing, dan hanya diperlukan 1x kontak untuk membuat IgE teraktivasi. Pada kontak selanjutnya, sel imunitas tubuh kita sudah memiliki memori secara spesifik terhadap protein tersebut dan akan memicu timbulnya reaksi yang sama, terus menerus. Konsumsi ASI secara eksklusif membantu pematangan ‚Äúpelapis usus‚ÄĚ dan menghalangi masuknya molekul pemicu alergi sehingga IgE tidak teraktivasi,sampai kelak bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan dan sel imunitasnya sudah berfungsi dengan lebih sempurna. Penelitian Furukawa dkk (1994) menemukan bahwa bayi dengan susu formula memiliki kadar IgE yang lebih tinggi daripada bayi ASI, sehingga lebih mudah terkena penyakit alergi.

Pencegahan Alergi Makanan Pada Bayi

Bisakah bayi ASI terkena alergi? Bisa. Hal ini biasanya disebabkan oleh bahan pemicu alergi yang dikonsumsi oleh ibu, sehingga terdapat pula di dalam ASI dan diterima oleh bayi. Bahan makanan pemicu tersering adalah protein susu sapi dalam ASI, karena ibu mengkonsumsi produk yang mengandung susu sapi. Pada kasus kecurigaan alergi akibat protein susu sapi di dalam ASI, ibu dapat dianjurkan untuk berpantang semua produk yang mengandung susu sapi selama 7-10 hari, dan melihat responnya pada bayi. Jika tidak ada perbaikan, ibu dapat mulai mengkonsumsi produk susu kembali, karena berarti bukan ini penyebabnya. Selain susu sapi, bahan makanan lain yang dapat menyebabkan alergi adalah telur, tepung terigu, kacang-kacangan, jagung, makanan laut, buah-buahan yang mengandung sitrus (jeruk, lemon, fruit punch, dll) dan tomat. Alergi memang merupakan penyakit yang kompleks, karenanya diperlukan konsultasi dengan ahlinya untuk membantu menentukan pola makan Ibu. Jangan sampai karena berpantang dari semua jenis makanan yang diduga pemicu, Ibu akhirnya hanya makan nasi putih saja sehingga asupan gizi tidak seimbang.

Berikut adalah anjuran berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM) terbaru untuk mencegah alergi makanan pada bayi:

  • Untuk semua bayi:
    • Aplikasikan pola makan sehat dan seimbang bagi ibu selama hamil dan menyusui, termasuk berbagai jenis makanan yang berpotensi alergenik.
    • ASI eksklusif adalah nutrisi terbaik untuk bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • Pemberian suplementasi susu selain susu sapi formula standar, termasuk susu berbahan dasar kedelai, susu kambing, domba,¬†rice-milk, dan lain sebagainya, tidak direkomendasikan karena belum terbukti efektifitasnya dalam menurunkan risiko alergi pada bayi.
    • Penyapihan sebaiknya tidak dilakukan sebelum usia minimal 17 bulan.
    • Mulailah MPASI selagi bayi masih menerima ASI, sebaiknya pada usia 6 bulan.
    • Pemberian MPASI terlalu dini meningkatkan risiko alergi pada bayi, kalaupun diperlukan pemberian makanan bayi pada usia 4-6 bulan haruslah dari bahan makanan dengan potensi alergi rendah.
    • Pemberian MPASI terlalu lambat dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya, serta menghambat proses pengenalan berbagai jenis makanan sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya alergi.
    • Pada usia 12 bulan bayi sebaiknya telah menerima semua jenis makanan yang cocok untuk usianya, termasuk bahan-bahan yang berpotensi alergi.
    • Hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir.
    • Selama hamil dan menyusui, minimalkan penggunaan obat antimual, obat golongan NSAID, dan parasetamol.
  • Untuk bayi dengan riwayat alergi pada keluarganya:
    • Jangan berikan susu sapi formula standar selama 4-6 bulan pertama, jika diperlukan, alternatif yang direkomendasikan adalah susu formula hidrolisat parsial atau total. Formula jenis ini diberikan sampai usia 4-6 bulan, atau sampai bayi menerima susu sapi dalam bentuk lain pada MPASI nya.
    • Saat memperkenalkan bahan makanan alergenik, seperti gandum, telur, dan susu, mulailah dari jumlah sedikit (misalnya setengah sendok teh), dan satu jenis saja setiap kalinya.
    • Hindari pemaparan terhadap tungau debu rumah (house dust mite) dengan menjaga kebersihan kamarnya dan melapisi tempat tidurnya dengan seprai tahan-air.

Sudah terbukti bahwa ASI membantu menurunkan risiko alergi pada bayi, di samping berjuta manfaat lainnya. Jadi, masih perlukah bertanya apakah ASI yang terbaik untuk bayi? Definitely not. It is the best for the baby and the whole family.

Selamat menyusui, salam ASI!


Referensi :

  • Riordan J,Wambach K. Breastfeeding and Human Lactation, 4th edition. Jones and Bartlett Publishers,2010.
  • Handout #2 Colic in the breastfed baby, written by Jack Newman MD,FRCPC, 2003
  • Grimshaw K. Food Allergy Prevention. Current Allergy & Clinical Immunology, March 2012 Vol 25, No.1.
0

Download Gratis Artikel & Video ASI, Menyusui, MPASI, dan Kurva Pertumbuhan


Berikut kami berikan link download free panduan atau artikel terkait dengan ASI, MPASI, Tumbuh Kembang, dan lain-lain dari sumber terpercaya seperti WHO, AAP, CDC, dll. Semuanya dalam bahasa Inggris. Artikel dan link akan di-update.Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!

ASI & Menyusui

  • Update* Video Pemberian ASIP melalui cup pada bayi baru lahir

Makanan Pendamping untuk 6 bulan keatas

Tumbuh Kembang Anak

0

Indikasi Kontra Menyusui

Dalam beberapa kasus tertentu, Ibu disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Berikut adalah kondisi yang sangat jarang terjadi tersebut

Kondisi Bayi

  • Galaktosemi klasik (defisiensi galactose 1-phosphate uridyltransferase)
  • Penyakit Maple syrup urine
  • Phenylketonuria (Menyusui sebagian (partial breastfeeding) dimungkinkan dengan pengawasan)

Kondisi Maternal (Ibu)

  • Infeksi HIV 1 infection (Jika makanan pengganti dapat diterima (acceptable), layak( feasible), mampu membeli (affordable), kontinu (sustainable), dan aman,)
  • Human T-lymphotropic virus 1 and 2 infection (aturan berbeda di beberapa Negara, Jepang membolehkan menyusui. Cttn: kasus ini sangat jarang terjadi di Indonesia)
  • Tuberculosis/TBC (yang sedang aktif dan belum dirawat). Menyusui bisa dilanjutkan setelah Ibu mendapat perawatan selama 2 minggu atau bayi telah diberikan isoniazid
  • Virus Herpes simplex pada payudara (dihentikan hingga luka pada payudaran telah bersih)
  • Pengobatan
    • Sebagian besar obat-obatan tergolong aman karena hanya sedikit yang akhirnya terkandung dalam ASI
    • Sebagian kecil senyawa dalam drugs of abuse dan beberapa senyawa radioaktif yang memiliki umur paruh yang panjang¬†mengharuskan Ibu berhenti menyusui¬†

Dari paparan diatas, jelas bahwa HANYA SEDIKIT sekali kondisi yang tidak memungkinkan Ibu menyusui bayinya. Di luar kondisi-kondisi tersebut, Ibu tetap dapat menyusui bayinya, apalagi jika Ibu ‘hanya’ mengalami sakit-sakit biasa seperti flu, demam, batuk, dsbnya

Referensi

Robert & Ruth Lawrence, 2011, Breastfeeding: More Than Just Good Nutrition, Pediatrics in Review 32: 267-280

1

Aturan Pemerintah RI Terkait Penambahan Zat Gizi dan Non Gizi dalam Susu Formula

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No HK 00.05.1.52.3572 tgl 10 Juli 2008 Tentang Penambahan Zat Gizi dan Non Gizi Dalam Produk Pangan 

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 1: penambahan gizi dan non gizi pada produk pangan harus memenuhi peraturan kepala BP PM no. HK.00.05.52.0685 tahun 2005 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 2: penambahan ARA dan DHA wajib memenuhi persyaratan rasio ARA:DHA = 1-2:1

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 3: Kandungan EPA tdk boleh melebihi kandungan DHA Sumber ARA berasal dari Ganggang sumber DHA berasal dari Fungus

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 4(1), informasi kandungan ARA dan DHA hanya dapat dicantumkan dalam informasi nilai gizi

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 5: dilarang menambahkan Lutein pada produk formula bayi dan lanjutan, sphyngomyelin pada produk formula bayi dan lanjutan, gangliosida pada produk pangan.

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 6: dilarang mencantumkan klaim gizi dan klaim kesehatan tentang ARA, DHA, Lutein, sphingomyelin dan gangliosida

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 7: Pasal 5 bisa dikesampingkan bila memberi manfaat dan sudah ditetapkan oleh kepada badan

–¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pasal 8: Iklan pangan tentang ARA, DHA, lutein, sphingomyelin, gangliosida harus dihentikan

0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‚Äėrasa‚Äô dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‚Äėberlebih‚Äô ūüôā )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf

0

Mungkinkah Menyusui Bayi yang Diadopsi?

Berikut kutipan status facebook seorang konselor laktasi:

‚ÄúSeorg bayi yg hampir dibuang ibunya kemudian diambil orang & dirawat di RS PMI Bogor. Sebelum pulang DSA RS tsb meminta agar bayi tsb mulai disusui oleh ibu adopsinya. Setelah 1 mggu ibu adopsi tersebut mulai berhasil memproduksi ASI. Subhanallah!Ibu adopsi ini sama sekali belum pernah mempunyai seorang anak pun selama 7 tahun dia menikah.So semangat moms!U can do it!”

Cerita sama pernah kami dengar juga, namun sayangnya sumber kurang dapat dipertanggungjawabkan ūüôā yaitu tentang seorang nenek yang berhasil menyusui cucunya. Status diatas tentu mengundang banyak sekali komen, rata-rata menganggap itu suatu keajaiban. Namun benarkah hal itu sesuatu yang ajaib? Mungkinkan seorang wanita yang tidak pernah memiliki anak bisa menyusui bayi yang tidak ia kandung? Ternyata jawabannya: BISA! Berikut artikel dari situs Dr Jack Newman mengenai “keajaiban” ini.

Breastfeeding Your Adopted Baby or Baby Born by Surrogate/Gestational Carrier

You would like to breastfeed your adopted baby, or one born with a surrogate or gestational carrier? Wonderful! Not only is it possible, chances are you will produce a significant amount of milk. It is different, though, than breastfeeding a baby with whom you have been pregnant for many months. With some determination and perseverance, you will enjoy the wonderful bond that breastfeeding brings and both you and baby will benefit from this experience.

Breastfeeding and breastmilk

There are really two issues in breastfeeding the baby with whom you were not pregnant. The first is getting your baby to breastfeed. The other is producing breastmilk. It is important to set your expectations at a reasonable level because only a minority of women will be able to produce all the milk the baby will need. However, there is more to breastfeeding than breastmilk and many mothers are happy to be able to breastfeed without expecting to produce all the milk the baby will need. It is the special relationship, the special closeness, and the emotional attachment of breastfeeding that many mothers are looking for. As one adopting mother said, ‚ÄúI want to breastfeed. If the baby also gets breastmilk, that‚Äôs great‚ÄĚ.

Getting the baby to take the breast

Although many people do not believe that the early introduction of bottles may interfere with breastfeeding, the early introduction of artificial nipples can indeed interfere. The sooner you can get the baby to the breast after he is born, the better. The more you can avoid the baby’s getting bottles before you start breastfeeding, the better. However, babies need flow from the breast in order to stay latched on and continue sucking, especially if they have gotten used to getting flow from a bottle or another method of feeding (cup, finger feeding). So, what can you do?

  1. Speak with the staff at the hospital where the baby will be born and let the head nurse and lactation consultant know you plan to breastfeed the baby. They should be willing to accommodate your desire to have the baby fed by cup or finger feeding, if you cannot have the baby to feed immediately after his birth. In fact, more and more frequently, arrangements have been made where you will be present at the birth of the baby and will be able to take the baby immediately to the breast. The earlier you start the better. This is a situation that should be discussed ahead of time with the woman giving birth and if there is a lawyer, speak with him or her as well.
  2. Keeping your new baby skin to skin with you, you naked from the waist up and baby naked except for the diaper, is very important at this time. It helps to establish the necessary exchange of sensory information between you and your baby and helps the baby stabilize several physiological and metabolic processes: maintenance of baby’s blood sugars, heart rate, breathing rate, blood pressure and oxygen saturation. At the same time, close contact between you and the baby results in the germ free baby (at birth) being colonized by the same germs as you. Furthermore, it helps baby to adapt to this new habitat while at the same time encourages him to breastfeed while helping you to make milk.
  3. Some birth mothers are willing to breastfeed the baby for the first few days. With adoption, there is some concern expressed by social workers and others that this will result in the biological mother‚Äôs changing her mind. This is possible, and you may not wish to take that risk. With surrogacy, this may set up some unexpected feeling of resentment and remorse between the surrogate and the biological mother. This is a theoretic possibility but it would be helpful if the birth mother did in fact breastfeed the baby thus helping the baby learn to breastfeed. It allows the baby to breastfeed, get colostrum, and not receive artificial feedings at first. Another option is to ask the woman who gave birth to express her milk for the first few weeks so you have breastmilk to supplement your own, using a lactation aid at the breast (see section ‚Äės‚Äô).
  4. Latching on well is even more important when the mother does not have a full milk supply as when she does. A good latch usually means painless feedings. A good latch means the baby will get more of your milk, whether your milk supply is abundant or minimal. (See the information sheet When Latching).
  5. If the baby does need to be supplemented, supplementation should be done with a lactation aidwhile the baby is on the breast and breastfeeding (See the information sheet Lactation Aid). Babies learn to breastfeed by breastfeeding, not cup feeding, finger feeding, or bottle feeding. Of course, you can use your previously expressed breastmilk to supplement. And if you can manage to get it, banked breastmilk is the second best supplement after your own milk. With a lactation aid used at the breast, the baby is still breastfeeding even while being supplemented; after all, isn’tbreastfeeding what you wanted for your baby?
  6. If you are having trouble getting the baby to take the breast, come to the clinic as soon as possible for help. In fact you should be followed by a lactation consultant or someone experienced in helping mothers with breastfeeding.

Producing Breastmilk

As soon as a baby is in sight, contact a breastfeeding clinic and start getting your milk supply ready. Please understand that you may never produce a full supply for your baby, though you may. You should not be discouraged by what you may be pumping before the baby is born, because a pump is never as good at extracting milk as a baby who is sucking well and well latched on. The main purpose of pumping before the baby is born is to draw milk out of your breast so that you will produce yet more milk, not only to build up a reserve of milk before the baby is born, though this is good if you can do it.

Using the medications discussed below in A. and B., helps to prepare your breasts to make milk. We are trying to make your body think you are pregnant. The medications are not an absolute requirement for you to produce milk, but they do help you make more.

A.¬†Hormones‚ÄĒOestrogen and Progesterone. If you know far enough in advance, say at least 3 or 4 months, treatment with a combination of oestrogen and progesterone will help prepare your breasts to produce milk. A birth control pill is one way of taking these hormones, but you skip the placebos (sugar pills for one week out of every four weeks) and go right to the next package; another way is to use oestrogen patches on the breast plus oral progesterone. Get information about this protocol from the clinic and see the Newman-Goldfarb Protocols for Induced Lactation at http://www.asklenore.info). We encourage you to take the hormones until about 6 weeks before the baby is to be born.
B. Domperidone. See the information sheets Domperidone, Getting Started and Domperidone, Stopping. The starting dose is 30 mg three times a day, but we have gone as high as 40 mg 4 times a day. The domperidone is continued when the hormones are stopped. Usually it is necessary to continue it for several months after you start breastfeeding. Check the information sheets for more information. Ask at the clinic.
C. Pumping. If you can manage it, rent an electric pump with a double setup. Pumping both breasts at the same time takes half the time, obviously, and also results in better milk production. Start pumping when you stop the birth control pill. Do what is possible. If twice a day is possible at first, do it twice a day. If once a day during the week, but 6 times during the weekend can be done, fine. Partners can help with nipple stimulation as well (See the information sheet Expressing Milk)

But will I produce all the milk the baby needs?

Maybe, maybe not. If you do not, breastfeed your baby anyhow, and allow yourself and him to enjoy the special relationship that it brings. In any case, some breastmilk is better than none.

Very Important: If you decide to take the medications (the hormones and/or the domperidone), your family doctor must be aware of what you are taking and why. It is very important to have a physical and have your blood pressure checked before starting the protocols. Significant side effects have been rare, but that does not mean they cannot happen. Your doctor needs to be following you, and once the baby is with you, your baby’s doctor needs to know that you are breastfeeding him and needs to follow the baby’s progress just as s/he would any other baby.