0

Bolehkah Ibu Menyusui Berdiet?

Pertanyaan ini kerapkali diajukan Ibu menyusui karena disatu sisi mereka merasa kurang nyaman dengan berat badan pasca melahirkan, namun disisi lain khawatir diet akan mengganggu produksi dan atau komposisi ASI.

Ibu menyusui BOLEH menurunkan berat badan dengan aman jika mengikuti enam aturan dasar berikut1:  .

  1. Tunggu hingga bayi berusia 2 bulan. Selama dua bulan pertama, jangan batasi asupi kalori untuk mengurangi resiko negatifnya. Tunggu hingga Ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan biarkan tubuh Ibu bekerja secara alami mengatur dirinya sendiri hingga terbentuk produksi ASI yang sehat. Menyusui bayi membakar sekitar 200-500 kalori per hari — Jadi perlu diingat, dengan pola makan seperti biasa Ibu membakar lebih banyak kalori tanpa perlu program khusus menurunkan berat badan
  2. Terus menyusui tanpa batasan. Penelitian menunjukkan semakin sering menyusui dan menyusui lebih dari 6 bulan terbukti mampu menurunkan berat badan pasca melahirkan
  3. Makan minimal sebanyak 1500 – 1800 kalori per hari. Selama menyusui Ibu tidak disarankan makan kurang dari 1500-1800 kalori per hari. Beberapa Ibu memerlukan lebih banyak kalori dari kisaran ini tetapi kurang dari 1500 kalori cukup beresiko
  4. Usahakan penurunan berat badan kurang dari 750 gram per minggu1 (atau 450 gram per minggu2). Sebagian besar Ibu dapat menurunkan berat badannya sekitar 750 gram (1.5 pounds) per minggu atau 3 kg per bulan pada bulan kedua dan tidak berpengaruh baik pada produksi ASI maupun kesehatan/pertumbuhan bayinya. Salah satu studi pada Ibu-ibu yang berdiet selama 11 hari menunjukkan penurunan berat badan jangka pendek sebanyak 1 kg dalam 1 minggu tidak berpengaruh apa-apa
  5. Kurangi asupan kalori secara bertahap. Pengurangan kalori secara mendadak akan menurunkan produksi ASI. Beberapa Ibu melaporkan hal ini terjadi manakala mereka sakit walaupun bisa jadi dehidrasi dan atau penggunaan obat-obatan juga bisa menjadi salah satu faktor menurunnya produksi ASI ketika Ibu sakit
  6. Hindari Diet Instan. Ibu menyusui tidak disarankan berdiet dengan cara mengkonsumsi minuman khusus diet, obat-obatan penurun berat badan, atau melakukan diet rendah karbohidrat dan rendah lemah, serta diet-diet instan lainnya

Apa yang terjadi jika Ibu menyusui mengalami penurunan berat badan yang drastis?

  • Dalam banyak kasus, bukan ASI (baik produksi maupun komposisi) yang terpengaruh tetapi nutrisi Ibu dan atau kesehatannyalah yang merasakan efek negatifnya.
  • Diet yang berlebihan dapat menurunkan produksi ASI. Ibu yang malnutrisi akan kekurangan vitamin A, D, B6 dan B12 dalam ASInya sehingga beresiko produksi ASI terganggu2.
  • Berdasarkan Breastfeeding and Human Lactation (3rd Edition, Riordan, halaman 440), perlu diperhatikan bahwa program penurunan berat badan yang cepat akibat asupan kalori dibatasi ketat sebaiknya dihindari karena kontaminan dari racun (misal racun lingkungan seperti pestisida) yang tersimpan dalam lemak tubuh akan dilepaskan ke dalam aliran darah, akibatnya kandungan racun dalam ASI. Hal ini juga akan menurunkan produksi ASI. Penulis1 memperkirakan yang dimaksud dengan ketat disini adalah dibawah 1500 kalori.


Tips untuk menurunkan berat badan
(terlepas apakah Ibu menyusui atau tidak)

  1. Lakukan perubahan diet makan. Kurangi asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, tetap konsumsi protein dalam jumlah cukup untuk mencegah penurunan massa otot (asupan protein yang disarankan bagi Ibu menyusui berkisar 65 gram/hari selama 6 bulan pertama dan 62 gram/hari untuk 6-12 bulan)
  2. Makan dalam porsi kecil tapi sering. Alihkan frekuensi makan 2-3 kali sehari menjadi 3 kali makan dengan porsi kecil dan cemilan sehat diantaranya.
  3. Olahraga. Dengan berolahraga Ibu akan membakar lebih banyak lemak sembari mempertahankan massa otot.

Bagi yang memerlukan daftar kalori makanan bisa menuju link berikut http://rudy-infokesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-kalori-makanan.html

Selamat Berdiet Sehat! 🙂 

 Referensi

  1. http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-weightloss.html
  2. http://www.llli.org/faq/lowcarb.html
Advertisements
6

Pemberian Air Putih pada Bayi, Perlukah?

        Apakah bayi memerlukan air putih? Bayi dibawah usia 6 bulan yang disusui TIDAK memerlukan air putih. Kenapa? Karena kebutuhan cairannya sudah tercukupi dari ASI. Kandungan air dalam ASI sendiri sebanyak 88%. Beberapa hari pertama sebelum produksi ASI Ibu lancar, kolostrum yang sedikit tersebut ternyata telah mampu memenuhi kebutuhan bayi dan menjaga dia dari dehidrasi (dengan asumsi bayi menyusu dengan efektif-pelekatan benar). Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), pemberian suplemen seperti air, glukosa, susu formula ataupun cairan lain seharusnya tidak diberikan pada bayi baru lahir yang disusui kecuali ada indikasi medis dari dokter. Beberapa riset menunjukkan dalam cuaca panas dan kering sekalipun , bayi usia 6 bulan ke bawah yang disusui tidak memerlukan air atau jus, dengan asumsi bayi boleh menyusu kapanpun dia mau. Dalam kondisi seperti ini, sang Ibu mungkin memerlukan asupan cairan lebih, tapi tidak pada bayinya. Jika Ibu merasa bayinya harus, segera susui si kecil. Langkah ini akan mencukupi kebutuhan cairannya. Semakin sering Ibu menyusui, semakin banyak ASI yang diproduksi yang berarti semakin banyak air bagi bayinya. Pemberian cairan di luar ASI justru dapat memicu kontaminasi atau alergen.  Sedangkan pada bayi yang mendapat susu formula (sufor), air putih tidak perlu rutin diberikan. Beberapa sumber menyebutkan boleh memberikan air pada bayi yang mendapat sufor ketika cuaca luar ruangan sangat panas atau ketika bayi sakit yang disertai demam (perlu konsultasi terlebih dahulu pada dokter).

         Pada bayi baru lahir (khususnya usia 4-5 minggu) pemberian air putih juga dapat menimbulkan resiko. Penambahan air putih dikaitkan dengan kenaikan tingkat bilirubin pada bayi baru lahir yang mengalami sakit kuning. Selain itu, terlalu banyak air putih dapat menimbulkan kondisi serius yang disebut keracunan air putih (oral water intoxication). Pemberian air putih akan membuat bayi kenyang sedangkan tambahan kalori tidak ada sama sekali. Oleh karena suplemen air putih dapat menurunkan berat badannya (atau berat badan tidak bagus). Bayi yang mendapatkan tambahan air putih juga akan malas/jarang menyusu, akibatnya produksi ASI Ibu akan terganggu.

Bagaimana dengan Bayi diatas 6 bulan?

         Pada usia ini, bayi mulai diperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI). Kebutuhan cairan sendiri pada dasarnya telah tercukupi dari ASI, sufor, dan MPASI (misal pure buah atau sayur). Oleh karena itu pemberian air putih tidak disarankan walaupun juga tidak dilarang. Jangan sampai air putih atau cairan lain menggantikan ASI. Bila Ibu mendapati si kecil (usia bawah 1 tahun) sembelit atau susah buang air besar (BAB), beberapa dokter membolehkan pemberian tambahan air putih tidak lebih dari 120 ml per hari. Ibu juga tidak perlu khawatir jika si kecil tampak tidak menyukai air putih, karena secara alami, seiring perjalanan usia, anak akan menyukai air putih. Mengingat air putih tidak memberikan nilai kalori, maka usahakan pemberian air putih tidak dengan dot melainkan dengan sendok atau cangkir atau dicampurkan pada makanannya.

Referensi

  • Project Linkages. 2005. Exclusive Breastfeeding: The Only Water Source Young Infants Need. FAQ Sheet 5
  • American Academy of Pediatrics, 2005, Section on Breastfeeding. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics. 115(2):496-506.
  • Teresa Pitman: 2000, Water for Babies: When is it appropriate to give your baby water? http://www.todaysparent.com/baby/foodnutrition/article.jsp?content=1240
  • Jana, L.A., & Shu, J., 2008, Chapter 10 – Sippy Cup Syndrome, Food Fight, American Academy of Pediatric Publication
0

Pertumbuhan Berat Badan Bayi Melambat Pada Bulan-bulan Pertama

Terkadang, bayi yang menyusu dengan sangat baik pada bulan-bulan pertama tidak baik perkembangan berat badannya setelah masuk usia 2 hingga 4 bulan hanya dengan ASI saja. Sebenarnya hal ini normal, karena bayi yang disusui pertumbuhannya tidak sama dengan kurva pertumbuhan bayi yang diberikan susu formula. Seolah-olah bayi yang mendapatkan ASI penuh pertumbuhannya lambat, padahal sebenarnya bayi yang diberikan susu formulalah yang kenaikan berat badannya terlalu cepat. 

Menyusui merupakan suatu cara pemberian makanan yang normal dan alami bagi bayi. Jadi, menganggap susu formula merupakan cara pemberian makan yang normal sesungguhnya bukan hal yang masuk akal dan bisa membuat kita salah memberikan nasihat pada Ibu mengenai pemberian makanan pada bayi dan masalah pertumbuhan atau perkembangan bayi itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, bayi yang sakit akan lambat kenaikan berat badannya dari yang diharapkan. Alih-alih menyembuhkan sakit itu sendiri, justru pemberian susu formula akan “merampas” keuntungan menyusui secara eksklusif. Ibu perlu paham bagaimana sebenarnya bayi benar-benar mendapatkan ASI dan tidak hanya sekedar ngempeng atau menempelkan mulutnya pada payudara. Jika bayi tidak benar-benar mendapatkan ASI, kecil kemungkinan bayi sakit, melainkan lebih karena produksi ASI Ibu menurun. Mengapa produksi ASI Ibu menurun?.

  1. Ibu menggunakan pil KB sebagai kontrasepsi. Masih terdapat berbagai pilihan kontrasepsi lain untuk mencegah kehamilan di luar yang bekerja melalui hormon (misalkan IUD, kondom).
  2. Ibu sedang hamil
  3. Ibu sedang mencoba menjadwalkan menyusui (memperpanjang masa antara menyusui atau mengajari bayi tidur sepanjang malam). Jika ini terjadi, susuilah bayi ketika lapar atau sedang mengisap tangannya.
  4. Ibu cukup sering menggunakan botol. Walaupun produksi ASI telah terbentuk dengan baik, pemberian susu (termasuk ASI sendiri) dengan botol akan mengajari bayi perlekatan yang buruk pada saat bayi sendiri sedang memerlukan aliran ASI yang cepat. Dengan aliran yang lambat, bayi akan menarik diri dari payudara, akibatnya waktu menyusui semakin berkurang dan hasilnya semakin menurunkan pula ASI.
  5. Adanya kejutan secara emosi (stress) pada Ibu dapat menurunkan produksi ASI.
  6. Terkadang sakit yang khususnya terkait dengan demam dapat menurunkan produksi ASI. Hal ini berlaku pula pada mastitis. Namun tidak selalu Ibu yang sakit akan turun produksi ASInya.
  7. Ibu terlampau banyak pekerjaan. Sementara waktu abaikan pekerjaan rumah, atau carilah pertolongan orang lain untuk melakukannya. Tidurlah ketika bayi tidur. Dengan belajar, Ibu dapat tertidur sembari menyusui bayi..
  8. Beberapa obat-obatan dapat menurunkan produksi ASI misalnya yang mengandung antihistamin dan pseudephedrine
  9. Kombinasi dari beberapa hal ditas
  10. Terkadang bisa jadi produksi ASI menurun setelah 3 bulan tanpa alasan yang jelas

Dalam beberapa minggu pertama, bayi akan cenderung tertidur ketika menyusu bila aliran ASI lambat (aliran akan semakin lambat jika bayi tidak melekat dengan baik). Bayi akan sekedar ngempeng dan tertidur tanpa mendapatkan sejumlah ASI yang cukup, namun demikian Ibu masih memiliki Let Down Reflex (refleks pengeluaran ASI) sesekali dan bayi akan minum lebih banyak. Ketika produksi ASI ibu berlebih, pertumbuhan berat bayi biasanya cukup baik walaupun bayi akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyusul.

Namun demikian, menginjak usia 6 atau 8 minggu atau lebih muda lagi, banyak bayi yang menarik diri dari payudara ketika aliran ASI lambat, seringkali hanya beberapa menit saja dari awal menyusu. Mengetahui hal ini biasanya Ibu cenderung menyodorkan payudara sebelahnya, tetapi bayi tetap melakukan hal yang sama. Sebenarnya bayi masih lapar, namun ia lebih memilih menghisap tangannya dibanding menyusu dari payudara Ibu. LDR ekstra tidak didapatkan bayi (akibatnya ASI tidak diperoleh) karena ia tidak sesabar tetap berada pada payudara Ibu sebagaimana minggu-minggu pertama dulu. Jadi bayi minum hanya sedikit dan akibatnya produksi ASI menurun. Hal ini memang tidak selalu terjadi, dan banyak bayi yang masih bagus perkembangan berat badannya walaupun hanya menyusu sebentar-sebentar dan lebih sering menghisap tangannya sendiri. Jika kenaikan berat badan cukup bagus, Ibu tidak perlu khawatir. Namun demikian hal ini bisa dicegah dengan mendapatkan perlekatan yang baik sejak pertama kali. Sayangnya, banyak Ibu yang diberitahu perlekatan bayi mereka telah bagus padahal sesungguhnya tidak demikian. Perlekatan yang lebih baik akan sangat membantu walaupun sedikit terlambat. Selain itu dengan kompresi, Ibu dapat membantu bayi terus minum (lihat artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”). Obat-obatan tertentu seperti domperidone dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan, namun jangan digunakan ketika Ibu hamil.

Bagaimana mengetahui bayi  menyusu dengan benar (tidak hanya sekedar menghisap payudara)?

Ketika bayi benar-benar mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan ASI hanya karena mulutnya melekat pada payudara dan membuat gerakan menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda/henti pada suatu titik di rahang bawah (dagu) nya setelah dia membuka lebar-lebar mulutnya dan sebelum menutup mulutnya (buka mulut lebar-lebar-jeda-menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk/tertelan ketika bayi menghisap . Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya, cukup satu sisi saja sudah kenyang. Semakin bertambah usia bayi, semakin efektif (pintar) dia menyusu sehingga dalam waktu sebentar saja ia sudah kenyang. Sebaliknya, bayi yang hanya ngempeng (tidak benar-benar minum) bisa jadi selama 20 jam akan terus melekat pada payudara (keterangan ini bisa dilihat pula dalam artikel “ASI tidak Cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan Lebih Banyak ASI”).

Gambar 1. Effective Breastfeeding

Referensi

Jack Newman, 2003. Handout #25: Slow weight gain after the first few months Handout from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S

0

Tanda-tanda ASI Cukup

Ibu menyusui seringkali bertanya-tanya apakah ASI yang didapatkan bayinya telah mencukupi atau belum. Hal ini wajar bagi bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan tidak ada asupan lainnya sehingga Ibu agak kesulitan mengetahui sudah berapa banyak susu yang diminum oleh si kecil. Kekhawatiran Ibu apakah bayinya mendapat nutrisi yang cukup atau tidak dapati diatasi dengan melihat beberapa tanda yang menunjukkan bahwa ASI yang diberikan sebenarnya cukup memadai, yaitu sebagai berikut:

  1. Berapa lama waktu menyusu? Waktu menyusui tidak terlalu lama atau tidak lebih dari 30 menit. Dalam waktu tersebut bayi sudah dapat mengisap foremilk (low fat milk) dan hindmilk (high fat milk) yang diproduksi. Anggapan bahwa selama 10 menit pertama menyusu bayi telah mendapatkan 90% kandungan ASI adalah tidak benar. Dengan perlekatan yang benar bayi akan menyusu secara efektif sehingga tidak lebih dari 15 menit ia sudah merasa kenyang. Semakin besar bayi, ia akan semakin efektif dan pandai menyusu sehingga waktu yang diperlukan tidak selama masa ia lahir. Jika Ibu merasa bayi menyusu terlalu lama (hingga 1 jam atau lebih), maka kemungkinan besar sebenarnya ia hanya ngempeng bukan menyusu dengan benar. Ibu bisa mengevaluasi apakah bayi telah menyusu dengan benar (lihat poin 3 dibawah)
  2. Seberapa seringkah bayi menyusu? Sebagian besar bayi yang baru lahir akan menyusu sebanyak 8-12 kali dalam sehari, yaitu sekitar tiap 2-3 jam. Pada bayi tertentu yang mempunyai kemampuan minum yang tidak banyak biasanya interval tersebut menjadi lebih sering sekitar 1.5 – 2 jam. Bila kurang dalam waktu 1.5 jam sudah minta minum maka mungkin saja bayi bukan karena haus. Jika ia tidak memberikan tanda-tanda haus (menghisap jari, mulutnya tampak mencari-cari payudara), cobalah untuk menggendong atau mengayunnya. Atau periksalah popoknya, lingkungan sekitar (terlalu panas atau dingin). Bila tampak tenang maka ASI sudah cukup. Jika si kecil tidur dalam jangka waktu yang lama atau lebih dari 4 jam, maka cobalah membangunkannya untuk menyusu. Namun, jangan jadikan hal ini sebagai patokan untuk menjadwalkan menyusui, susui kapan bayi mau (on demand) khususnya pada 40 hari pertama kelahirannya. Pemberian ASI eksklusif dan proses menyusui umumnya berlangsung sukses pada komunitas masyarakat yang tidak terpatok pada jam/waktu. Alih-alih menggunakan interval waktu, patokan yang dapat digunakan Ibu adalah frekuensi menyusu yaitu sekitar 8-12 kali dalam 24 jam. Ada kalinya bayi menggabungkan waktu menyusu (cluster nursing) sehingga bisa saja ia tertidur selama 4-5 jam tanpa minum sama sekali. Selain itu ibu tidak perlu khawatir ASI nya akan habis jika terus dihisap, karena semakin sering bayi menyusu maka payudara akan semakin banyak menghasilkan ASI
  3. Apakah bayi telah menyusu dengan benar? ASI akan memadai jika bayi menyusu dengan benar. Ibu perlu memperhatikan seksama seksama apakah terdengar suara bayi menelan susunya serta adanya gerakan yang kuat dan berirama dari rahang bawah bayi (mulut terbuka-jeda-gerakan seperti menghisap). Selain itu, ketika bayi menyusu ASI dengan benar, maka ibu juga akan merasakan sensasi seperti ada yang menarik lembut dan bukan sensasi seperti dicubit atau ditarik puting susunya. Umumnya payudara akan terasa penuh sebelum menyusui dan terasa lebih lembut serta kosong sesudahnya. Agar bayi menyusu dengan benar maka perlekatan haruslah tepat (lihat artikel Perlekatan Menyusu).
  4. Bagaimana perkembangan berat badan bayi? Tanda pasti bahwa ASI memadai dapat terlihat pada penambahan berat badan bayi yang baik. Dalam keadaan normal usia 0 – 5 hari biasanya berat badan bayi akan menurun hingga 10 persen berat badannya setelah lahir Berat badannya akan naik kembali dalam waktu 10-14 hari. Usahakan setiap 2 minggu dalam bulan pertama bayi ditimbang. ASI dikatakan cukup jika berat badan naik kurang lebih 500 gram dalam 2 minggu. Dengan rajin menimbang, maka orangtua bisa mengetahui pertumbuhan berat badan si kecil dan status gizinya (lihat artikel Kapan Anak Dikatakan Tumbuh dan Bagaimana Status Gizi Anak Anda). Pada bayi tertentu yang mempunyai resiko gagal tumbuh (failure to thrive) biasanya pertambahan berat badan kurang dari 400 gram dalam 2 minggu. Pada kasus ini belum berarti menunjukkan ASI kurang. Bayi beresiko gagal tumbuh biasanya terjadi pada bayi dengan gangguan saluran cerna (penyakit celiac dll), dan sebagian kecil disebabkan karena gangguan metabolisme, endokrin, hormonal dan sebagainya. Ciri khas bayi seperti ini adalah bila minum tidak lama dan lebih sering. Biasanya tampak gangguan saluran cerna seperti sulit BAB, berak hijau dan anak sangat aktif bergerak.
  5. Bagaimana kondisi popok bayi? Pada hari ke empat setelah kelahiran maka bayi akan memiliki 6-8 kali popok basah per harinya dan sudah mulai buang air besar setiap hari secara teratur. Selama beberapa hari pertama feses bayi akan gelap dan lengket, lalu berubah menjadi kuning.
  6. Bayi yang mendapatkan ASI cukup umumnya lebih tenang, tidak rewel dan dapat tidur pulas. Bayi juga tampak sehat yang dapat pula dilihat dari geraknya yang cukup aktif dan matanya terlihat cerah dan ‘awas’, serta mulut dan bibir bayi yang tampak lembab.

  7. Gunakan insting Ibu untuk meyakinkan ASI yang diperoleh cukup mengingat setiap bayi umumnya memiliki pola makan yang unik dan kadang berbeda satu dengan yang lain. Selama bayi tumbuh dan berkembang secara optimal dan memiliki berat badan normal, maka ibu tidak perlu khawatir bayi tidak mendapatkan cukup ASI.

Referensi

0

Kompresi Payudara

Tujuan dari kompresi (penekanan) payudara adalah meneruskan aliran ASI pada bayi ketika bayi tidak lagi menyusu (mulut terbuka lebar – berhenti sebentar/jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap) sehingga sang bayi tetap minum. Kompresi payudara menstimulasi suatu let down reflex dan seringkali menstimulasi pula munculnya reflek ini secara natural. Teknik ini berguna untuk:

  1. Kenaikan berat badan yang buruk
  2. Kolik pada bayi yang disusui
  3. Frekuensi penyusuan yang sering dan atau lama
  4. Puting Ibu yang terluka
  5. Saluran yang berulang kali tersumbat/Mastitis
  6. Membantu bayi yang tertidur untuk meneruskan minum tidak hanya sekedar menghisap

Kompresi payudara tidak diperlukan jika segala sesuatunya berjalan lancar. Ketika semua berjalan baik-baik saja, Ibu sebaiknya membiarkan bayi “menyelesaikan” susuan pada salah satu sisi payudara , dan jika bayi menginginkan lebih, barulah payudara sebelahnya diberikan. Bagaimana Ibu mengetahui bayi telah selesai minum? Ketika dia tidak minum lagi (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap).

Kompresi payudara berjalan baik khususnya pada beberapa hari pertama setelah kelahiran untuk membantu bayi mendapatkan kolostrum. Bayi-bayi pada dasarnya tidak memerlukan banyak kolostrum, tetapi memerlukan sejumlah tertentu. Pelekatan yang baik dan kompresi membantu mereka mendapatkannya

Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui:

  1. Seorang bayi yang memiliki perlekatan (latch on) baik akan lebih mudah mendapatkan ASI dibandingkan yang tidak. Bayi yang kurang baik perlekatannya hanya akan mendapatkan ASI jika aliran ASI tersebut cepat. Oleh karena itu, banyak Ibu dan bayi yang melakukan proses penyusuan dengan baik walaupun kurang baik latch-on-nya karena sebagian besar Ibu memproduksi ASI yang berlebih.
  2. Dalam 3-6 minggu pertama, banyak bayi yang cenderung tertidur ketika aliran ASI lambat tidak serta merta menunjukkan mereka sudah cukup makan. Setelah usia ini, mereka mulai menjauh dari payudara ketika aliran ASI menurun. Tetapi, beberapa diantara mereka sudah menarik diri dari payudara bahkan dibawah usia ini, terkadang ketika mereka masih berusia beberapa hari saja.
  3. Sayang sekali, banyak bayi yang kurang baik perlekatannya. Jika produksi ASI Ibu berlebih, hal ini tidak menjadi masalah selama pertumbuhan berat badan normal, tetapi terkadang ada harga yang harus dibayar oleh Ibu misal puting yang nyeri/terluka, kolik, bayi yang selalu menempel pada payudara (tetapi hanya sedikit minum).

Kompresi payudara meneruskan aliran ASI ketika bayi tidak lagi minum (hanya menghisap) dari payudara dan hasilnya bayi akan:

  1. Mendapatkan lebih banyak ASI
  2. Mendapatkan lebih banyak ASI yang tinggi lemak

Kompresi Payudara – Bagaimana Melakukannya

  1. Peganglah bayi dengan salah satu lengan
  2. Peganglah payudara dengan tangan lain, ibu jari pada satu sisi payudara (paling mudah ibu jari berada pada sisi atas payudara), jari-jari lain pada sisi lainnya, cukup jauh dari puting.
  3. Pandangilah bagaimana bayi minum walaupun tidak perlu harus terobsesi dengan setiap hisapan yang diberikan. Bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup ketika dia minum dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap.
  4. Ketika bayi terlihat menggigit (ngempeng) dan tidak tampak mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, tekanlah payudara. Tidak perlu keras-keras sehingga Ibu kesakitan dan usahakan jangan sampai mengubah bentuk aerola (bagian payudara yang berada dekat mulut bayi). Dengan tekanan, bayi akan memulai lagi minum dengan posisi mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap. Lakukan kompresi ketika bayi menghisap (ngempeng) tetapi sesungguhnya tidak minum!
  5. Jagalah tekanan hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, kemudian lepaskanlah tekanan tersebut. Seringkali bayi berhenti menyedot ketika tekanan dilepaskan namun akan mulai menyusu lagi tak lama setelah ASI mengalir kembali. Jika bayi tidak berhenti menyedot seiring dengan tekanan yang dilepaskan, tunggu beberapa saat sebelum menekan lagi
  6. Alasan Ibu perlu melepaskan tekanan adalah untuk membiarkan tangan Ibu beristirahat dan mengalirkan kembali ASI pada bayi. Pada bayi sendiri, jika dia berhenti menyedot ketika Ibu melepaskan tekanan, dia akan meneruskan kembali minum begitu dia merasakan ada aliran ASI
  7. Ketika bayi mulai menyedot lagi, dia akan minum (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap). Jika tidak, tekan lagi payudara sebagaimana cara diatas
  8. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan penekanan. Ibu perlu membiarkan bayi menyusu pada salah satu sisi payudara agak lama, karena terkadang LDR lain muncul (milk ejection reflex) dan bayi akan kembali minum atas kehendaknya sendiri. Namun, jika bayi tidak lagi minum, biarkan bayi berhenti atau melepaskan diri dari payudara
  9. Jika bayi menginginkan lebih banyak ASI, berikan sisi payudara yang lain, dan ulangi proses diatas
  10. Teruslah memperbaiki perlekatan penyusuan bayi.
  11. Ingat, lakukan kompresi ketika bayi menghisap tetapi pada dasarnya tidak minum.

Langkah-langkah diatas berjalan baik di klinik kami (Dr Newman’s, red), tetapi jika Ibu menemukan cara yang bekerja lebih baik agar bayi senantiasa menyedot dengan mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap, silahkan gunakan apapun cara yang bekerja terbaik bagi Ibu dan bayi. Selama cara itu tidak melukai payudara untuk menekan dan selama bayi tetap “minum” (mulut terbuka lebar – jeda – menutup mulut seperti gerakan menghisap), kompresi payudara pada dasarnya sedang berlangsung

Kompresi tidak selalu perlu dilakukan. Ketika proses penyusuan membaik, Ibu akan dapat melihat hal ini akan berjalan dengan alami.

Referensi

Jack Newman, 2005. Handout #15 Breast Compression from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.

0

ASI tidak cukup? Bagaimana agar Bayi Mendapatkan lebih banyak ASI

Berikut ini adalah langkah-langkah yang saya sarankan untuk Ibu-ibu yang mengalami “kekurangan produksi ASI” (kenyataannya, sebagian besar Ibu memiliki banyak atau dapat memiliki banyak, tetapi masalahnya adalah bayi tidak mendapatkan ASI yang tersedia).

  1. Dapatkan sebisa mungkin perlekatan (latch on) yang terbaik. Hal ini perlu ditunjukkan oleh seseorang yang tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan (misal diawasi oleh konsultan laktasi, dokter, atau bidan). Seseorang inilah yang nantinya akan mengatakan pada Ibu bahwa pelekatan yang dibuat telah benar. Jika Ibu memproduksi cukup ASI, perlekatan yang sempurna tidak harus selalu terjadi. Tetapi, jika produksi ASI menurun, bayi akan mendapatkan lebih banyak ASI jika ia mampu melekat lebih baik. 
  2. Paham apakah bayi benar-benar mendapatkan ASI atau tidak. Ketika seorang bayi mendapatkan ASI (bayi tidak dapat dikatakan mendapatkan/minum ASI hanya karena payudara Ibu berada dalam mulutnya dan melakukan gerakan seperti menghisap), Ibu akan melihat semacam jeda pada suatu titik di dagunya setelah bayi membuka mulutnya maksimal dan sebelum dia menutup mulutnya (buka mulut lebar -jeda – menutup mulut). Jika Ibu hendak mempraktekkan ini sendiri, letakkan jari telunjuk atau jari lain dalam mulut, dan hisaplah seolah-olah sedang menghisap sedotan. Ketika menyedot, perhatikan dagu Ibu menurun dan tetap berada di bagian tersebut selama menyedot. Ketika berhenti menyedot, dagu Ibu kembali ke posisi semua. Jeda yang tampak pada dagu bayi menunjukkan asupan ASI yang masuk ketika bayi melakukannya pada payudara. Semakin lama jeda, semakin banyak ASI yang disedot bayi. Seketika Ibu mengetahui tentang proses jeda ini Ibu dapat mengabaikan hal-hal tidak masuk akal yang sering dikatakan pada Ibu-ibu menyusui seperti “susuilah bayi 20 menit untuk tiap sisi payudara”. Bayi yang menghisap dengan tipe diatas (dengan jeda) selama 20 menit bahkan tidak memerlukan sisi payudara Ibu lainnya. Bayi yang hanya ngempeng (tidak minum) selama 20 jam akan terus melekat pada payudara.
  3. Ketika bayi tidak lagi minum dengan caranya sendiri, gunakan kompresi atau penekanan untuk meningkatkan aliran ASI ke bayi. Kompresi dapat membantu, tetapi jangan lupa usahakan terlebih dahulu untuk mendapatkan perlekatan terbaik. Bayi cenderung menarik diri dari payudara ketika aliran susu melambat, sehingga akan sangat berguna bagi Ibu tahu bagaimana mengenali sang bayi sesungguhnya telah mendapatkan (minum) ASI dan tidak hanya menghisap (ngempeng). Ketika bayi tampaknya tidak lagi menyusu dan hanya menghisap tanpa mendapatkan ASI, barulah kompresi dimulai. Lakukan pada salah satu sisi payudara hingga bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi. Lihat artikel “Kompresi Payudara”.
  4. Ketika bayi tidak lagi minum walaupun telah dilakukan kompresi, berpindahlah ke payudara lain dan ulangi proses diatas. Teruskan perpindahan ke payudara lain lagi dan berpindah lagi hingga bayi mendapatkan jumlah ASI yang cukup dari payudara.
  5. Cobalah herbal fenugreek atau blessed thistle yang dapat meningkatkan produksi ASI dan melancarkan alirannya . Informasi mengenai hal ini dapat diperoleh dalam handout #24 buku “The Ultimate Breastfeeding Book of Answers”. (Cttn: untuk Indonesia, daun katuk dan daun singkong dipercaya mampu meningkatkan produksi ASI, namun demikian perlu diingat secara ilmiah belum banyak riset yang mendukung).
  6. Pada malam hari ketika biasanya bayi ingin menyusu lebih lama, usahakan Ibu mendapat posisi yang cukup nyaman  supaya Ibu dapat menyusui sembari berbaring. Biarkan bayi menyusu dan mungkin Ibu akan tertidur, atau nyalakan TV (atau film, misalnya) dan biarkan bayi menyusu sambil Ibu menikmati tayangan TV.
  7. Bukanlah hal yang mudah untuk menentukan apakah bayi benar-benar memerlukan suplemen. Terkadang dengan menerapkan protokol ini dalam beberapa hari saja, kenaikan berat badan sudah tampak. Terkadang pula pertumbuhan yang cepat diperlukan sehingga dan itu tidak mungkin dilakukan tanpa memberikan suplemen. Jika mungkin, dapatkan ASI donor (atau dari bank ASI) sebagai suplemen. Jika tidak tersedia, penggunaan susu formula boleh jadi diperlukan. Namun demikian, terkadang pertumbuhan yang lambat namun pasti masih dapat diterima/ditolerir. Salah satu alasan utama mengapa kita perlu khawatir mengenai pertumbuhan adalah karena pertumbuhan yang baik merupakan tanda kesehatan yang baik pula. Bayi yang tumbuh dengan baik umumnya memiliki kondisi kesehatan yang baik., tetapi ini tidak pasti harus selalu begitu. Tidak berarti bayi yang pertumbuhannya lambat pasti kondisi kesehatannya jelek, tetapi dokter akan mengkhawatirkan bayi yang tumbuh lebih lambat dari rata-rata. Kurva pertumbuhan seringkali diterjemahkan secara keliru. Seorang bayi seharusnya berada diatas garis persentil 10. Banyak orang, termasuk dokter sendiri, percaya bahwa hanya bayi yang berada dalam persentil 50 atau lebih tumbuh normal. Hal ini tidak benar. Kurva pertumbuhan disusun berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari bayi-bayi normal. Seseorang harusnya lebih kecil dari 90% bayi-bayi yang lain. Seseorang itu normal.
  8. Jika akhirnya diputuskan untuk memberikan suplemen, cara terbaik adalah memberikan alat bantu laktasi (lactation aid). Perkenalkan suplemen tersebut menggunakan alat bantu laktasi, bukan botol, syringe, cangkir atau finger feeding. Lihat handout #5 Using a Lactation Aid. Berikan suplemen hanya setelah langkah ke-3 dan ke-4 diatas dilakukan dan bayi telah disusui pada kedua belah sisi payudara. Mengapa lebih baik kita menggunakan alat bantu laktasi.
    • Bayi belajar menyusu melalui proses menyusui itu sendiri
    • Ibu belajar menyusui melalui proses menyusui itu sendiri
    • Bayi tetap mendapatkan ASI
    • Bayi tidak akan menolak ASI
    • There is more to breastfeeding than the breastmilk
  9. Jika bayi berusia lebih dari 3 atau 4 bulan, dan suplemen tampaknya diperlukan, susu formula bukan solusinya. Kalori tambahan dapat diberikan dalam bentuk makanan padat. Makanan padat pertama tersebut termasuk: bubur pisang, bubur apokat, atau bubur kentang, sereal bayi sebanyak yang akan dimakan bayi, dan setelah bayi menyusui namun masih merasa lapar. Pada usia ini bahkan mungkin terjadi ketika bayi tidak mendapatkan ASI cukup akan berakibat dia menolak menyusu. Jika Ibu harus memberikan formula, campurlah dengan makanan padat. Memberikan makanan padat pada usia 3 atau 4 bulan manakala segalanya berjalan dengan baik, sangat tidak direkomendasikan. Bahkan ketika pertumbuhan berat badan lambat, masih terdapat berbagai cara yang dapat dicoba agar bayi mendapatkan lebih banyak ASI sebelum mendapatkan makanan padat. Makanan padat seharusnya dimulai ketika bayi mulai menunjukkan minat makan makanan padat (sekitar usia 5 sampai 6 bulan)
  10. Jika kenaikan berat badan bayi cukup baik pada bulan-bulan pertama namun sekarang tidak lagi menggembirakan, silahkan lihat artikel Pertumbuhan Berat Badan Bayi yang Melambat pada Bulan-bulan Pertama. Dalam artikel tersebut akan diberikan daftar alasan-alasan penurunan produksi ASI. Perbaiki selagi Ibu bisa, dan lalu lanjutkan protokol ini.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari

Jack Newman, 2005. Protocol to Increase breastmilk intake by the baby (“Not enough milk”) from The Ultimate Breastfeeding Book of Answers.