4

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

Advertisements
0

Mungkinkah Menyusui Bayi yang Diadopsi?

Berikut kutipan status facebook seorang konselor laktasi:

“Seorg bayi yg hampir dibuang ibunya kemudian diambil orang & dirawat di RS PMI Bogor. Sebelum pulang DSA RS tsb meminta agar bayi tsb mulai disusui oleh ibu adopsinya. Setelah 1 mggu ibu adopsi tersebut mulai berhasil memproduksi ASI. Subhanallah!Ibu adopsi ini sama sekali belum pernah mempunyai seorang anak pun selama 7 tahun dia menikah.So semangat moms!U can do it!”

Cerita sama pernah kami dengar juga, namun sayangnya sumber kurang dapat dipertanggungjawabkan 🙂 yaitu tentang seorang nenek yang berhasil menyusui cucunya. Status diatas tentu mengundang banyak sekali komen, rata-rata menganggap itu suatu keajaiban. Namun benarkah hal itu sesuatu yang ajaib? Mungkinkan seorang wanita yang tidak pernah memiliki anak bisa menyusui bayi yang tidak ia kandung? Ternyata jawabannya: BISA! Berikut artikel dari situs Dr Jack Newman mengenai “keajaiban” ini.

Breastfeeding Your Adopted Baby or Baby Born by Surrogate/Gestational Carrier

You would like to breastfeed your adopted baby, or one born with a surrogate or gestational carrier? Wonderful! Not only is it possible, chances are you will produce a significant amount of milk. It is different, though, than breastfeeding a baby with whom you have been pregnant for many months. With some determination and perseverance, you will enjoy the wonderful bond that breastfeeding brings and both you and baby will benefit from this experience.

Breastfeeding and breastmilk

There are really two issues in breastfeeding the baby with whom you were not pregnant. The first is getting your baby to breastfeed. The other is producing breastmilk. It is important to set your expectations at a reasonable level because only a minority of women will be able to produce all the milk the baby will need. However, there is more to breastfeeding than breastmilk and many mothers are happy to be able to breastfeed without expecting to produce all the milk the baby will need. It is the special relationship, the special closeness, and the emotional attachment of breastfeeding that many mothers are looking for. As one adopting mother said, “I want to breastfeed. If the baby also gets breastmilk, that’s great”.

Getting the baby to take the breast

Although many people do not believe that the early introduction of bottles may interfere with breastfeeding, the early introduction of artificial nipples can indeed interfere. The sooner you can get the baby to the breast after he is born, the better. The more you can avoid the baby’s getting bottles before you start breastfeeding, the better. However, babies need flow from the breast in order to stay latched on and continue sucking, especially if they have gotten used to getting flow from a bottle or another method of feeding (cup, finger feeding). So, what can you do?

  1. Speak with the staff at the hospital where the baby will be born and let the head nurse and lactation consultant know you plan to breastfeed the baby. They should be willing to accommodate your desire to have the baby fed by cup or finger feeding, if you cannot have the baby to feed immediately after his birth. In fact, more and more frequently, arrangements have been made where you will be present at the birth of the baby and will be able to take the baby immediately to the breast. The earlier you start the better. This is a situation that should be discussed ahead of time with the woman giving birth and if there is a lawyer, speak with him or her as well.
  2. Keeping your new baby skin to skin with you, you naked from the waist up and baby naked except for the diaper, is very important at this time. It helps to establish the necessary exchange of sensory information between you and your baby and helps the baby stabilize several physiological and metabolic processes: maintenance of baby’s blood sugars, heart rate, breathing rate, blood pressure and oxygen saturation. At the same time, close contact between you and the baby results in the germ free baby (at birth) being colonized by the same germs as you. Furthermore, it helps baby to adapt to this new habitat while at the same time encourages him to breastfeed while helping you to make milk.
  3. Some birth mothers are willing to breastfeed the baby for the first few days. With adoption, there is some concern expressed by social workers and others that this will result in the biological mother’s changing her mind. This is possible, and you may not wish to take that risk. With surrogacy, this may set up some unexpected feeling of resentment and remorse between the surrogate and the biological mother. This is a theoretic possibility but it would be helpful if the birth mother did in fact breastfeed the baby thus helping the baby learn to breastfeed. It allows the baby to breastfeed, get colostrum, and not receive artificial feedings at first. Another option is to ask the woman who gave birth to express her milk for the first few weeks so you have breastmilk to supplement your own, using a lactation aid at the breast (see section ‘s’).
  4. Latching on well is even more important when the mother does not have a full milk supply as when she does. A good latch usually means painless feedings. A good latch means the baby will get more of your milk, whether your milk supply is abundant or minimal. (See the information sheet When Latching).
  5. If the baby does need to be supplemented, supplementation should be done with a lactation aidwhile the baby is on the breast and breastfeeding (See the information sheet Lactation Aid). Babies learn to breastfeed by breastfeeding, not cup feeding, finger feeding, or bottle feeding. Of course, you can use your previously expressed breastmilk to supplement. And if you can manage to get it, banked breastmilk is the second best supplement after your own milk. With a lactation aid used at the breast, the baby is still breastfeeding even while being supplemented; after all, isn’tbreastfeeding what you wanted for your baby?
  6. If you are having trouble getting the baby to take the breast, come to the clinic as soon as possible for help. In fact you should be followed by a lactation consultant or someone experienced in helping mothers with breastfeeding.

Producing Breastmilk

As soon as a baby is in sight, contact a breastfeeding clinic and start getting your milk supply ready. Please understand that you may never produce a full supply for your baby, though you may. You should not be discouraged by what you may be pumping before the baby is born, because a pump is never as good at extracting milk as a baby who is sucking well and well latched on. The main purpose of pumping before the baby is born is to draw milk out of your breast so that you will produce yet more milk, not only to build up a reserve of milk before the baby is born, though this is good if you can do it.

Using the medications discussed below in A. and B., helps to prepare your breasts to make milk. We are trying to make your body think you are pregnant. The medications are not an absolute requirement for you to produce milk, but they do help you make more.

A. Hormones—Oestrogen and Progesterone. If you know far enough in advance, say at least 3 or 4 months, treatment with a combination of oestrogen and progesterone will help prepare your breasts to produce milk. A birth control pill is one way of taking these hormones, but you skip the placebos (sugar pills for one week out of every four weeks) and go right to the next package; another way is to use oestrogen patches on the breast plus oral progesterone. Get information about this protocol from the clinic and see the Newman-Goldfarb Protocols for Induced Lactation at http://www.asklenore.info). We encourage you to take the hormones until about 6 weeks before the baby is to be born.
B. Domperidone. See the information sheets Domperidone, Getting Started and Domperidone, Stopping. The starting dose is 30 mg three times a day, but we have gone as high as 40 mg 4 times a day. The domperidone is continued when the hormones are stopped. Usually it is necessary to continue it for several months after you start breastfeeding. Check the information sheets for more information. Ask at the clinic.
C. Pumping. If you can manage it, rent an electric pump with a double setup. Pumping both breasts at the same time takes half the time, obviously, and also results in better milk production. Start pumping when you stop the birth control pill. Do what is possible. If twice a day is possible at first, do it twice a day. If once a day during the week, but 6 times during the weekend can be done, fine. Partners can help with nipple stimulation as well (See the information sheet Expressing Milk)

But will I produce all the milk the baby needs?

Maybe, maybe not. If you do not, breastfeed your baby anyhow, and allow yourself and him to enjoy the special relationship that it brings. In any case, some breastmilk is better than none.

Very Important: If you decide to take the medications (the hormones and/or the domperidone), your family doctor must be aware of what you are taking and why. It is very important to have a physical and have your blood pressure checked before starting the protocols. Significant side effects have been rare, but that does not mean they cannot happen. Your doctor needs to be following you, and once the baby is with you, your baby’s doctor needs to know that you are breastfeeding him and needs to follow the baby’s progress just as s/he would any other baby.