0

MAU HASIL PUMPING OPTIMAL? IKUTI TIPS-NYA!

Salah satu masalah yang sering dihadapi ibu-ibu yang hendak menabung ASIP adalah hasil perah/pumping yang kurang memuaskan. Banyak ibu-ibuBreastPump yang merasa tidak puas dengan hasil pumping dan merasa pompa (jika menggunakan bantuan pompa) yang dibeli tidak memberikan hasil maksimal dan bergegas ingin berganti pompa baru. Sebelum Ibu memutuskan berganti merek pompa, perlu diingat bahwa memompa/memerah adalah suatu SKILL atau keterampilan tersendiri. Dengan pompa mahal sekalipun Ibu perlu belajar menggunakannya. Hasil pumping yang sedikit tidak menunjukkan produksi ASI sesungguhnya. Banyak ibu yang kesulitan memerah sedangkan jika menyusui langsung payudaranya mampu memenuhi kebutuhan bayi.

Salah satu kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu Let down reflex (LDR) atau pelepasan ASI. Beberapa ibu merasakan ada sensasi geli (tingling) atau “clekit-clekit” (bhs Jawa), sebagian lain tidak merasakan apa-apa. Pelepasan ini dapat dipicu seperti oleh sentuhan pada payudara, tangisan bayi, bahkan pikiran tentang bayi. Perasaan sedih, marah, tegang menghambat pelepasan ini. Tanpa munculnya let down atau pelepasan ASI ini, Ibu hanya bisa menghasilkan sedikit ASI yang terkumpul hanya di ujung puting. Sehingga kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu LDR ini.

Saat menyusui sebagian besar ibu tidak menyadari adanya proses LDR atau pelepasan ini. Saat bayi menyusu, segala isyarat (cues) yang familiar (perasaan lembut, hangat) dan emosi cinta Ibu membantu melepaskan hormone yang memicu LDR. Hal ini berbeda ketika pumping, dimana baby cues tidak ada. Oleh karena itu, beberapa ibu memerlukan sedikit bantuan untuk memicu keluarnya LDR.

Berikut adalah tips dari situs www.askdrsears.com dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber untuk pumping yang mudah, nyaman, dan membantu keluarnya LDR (let down reflex), mencegah luka pada puting, serta menghasilkan lebih banyak ASI.

  1. Buat jadwal rutin untuk pumping: tempat, kursi, fasilitas pendukung (cemilan, makanan). Siapkan segalanya, gunakan trik mental untuk rileks, lalu mulailah memompa. Rutinitas akan membantu keluarnya LDR.
  2. Lakukan pijatan lembut pada payudara beberapa menit sebelum pumping, jika memungkinkan kompres hangat daerah tersebut.

  3. Minum 1-2 gelas air sebelum pumping.
  4. Lakukan visualisasi seperti membayangkan air sungai mengalir menuju lautan, air terjun mengalir dan semacamnya. Apapun jenis visualisasi yang dapat membantu mengeluarkan ASI. Ingat, riset menunjukkan stress akan menghalangi kemampuan alami tubuh memproduksi ASI.
  5. Bawalah foto si kecil atau bayangkan wajahnya  ketika pumping. Bawalah 1-2 barang bayi seperti selimut, bedong, atau baju. Nikmati “bau” bayinya
  6. Jika memungkinkan teleponlah pengasuh anak dan tanyakan apa yang sedang dikerjakan bayi ketika Anda sedang pumping
  7. Carilah tempat yang sunyi/tenang untuk pumping. Jika ini agak sukar, Ibu bisa menggunakan bantuan musik atau suara alam yang menenangkan melalui headset telepon genggam atau jenis player lainnya
  8. Jika puting terluka, dan ibu menggunakan pompa elektrik, turunkan derajat penghisapannya, atau coba pompa lain.
  9. Untuk mengurangi nyeri puting setelah pumping, oleskan salep/ emollient untuk nyeri (banyak tersedia di apotik)
  10. Pompalah mengikuti kebiasaan bayi ibu menyusui, biasanya tiap 2-3 jam sekali. Jika Ibu merasa khawatir ASI perah tidak mencukupi, pompalah lebih sering. Hal ini lebih efektif menstimulasi supply ASI daripada memompa lebih lama
  11. Jika sedang bersama bayi, susui sebanyak yang dia mau. Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin banyak supply ASI ketika saat pumping tiba.
  12. Lakukan ekstra pumping menjelang pagi (subuh). Studi menunjukkan pada waktu ini produksi ASI paling banyak.
  13. Jika hasil pumping tidak sebanyak biasanya, cek kondisi pompa Ibu. Apakah ada spare part yang robek/rusak. Valve/membrane yang koyak biasanya berpengaruh pada hasil pumping. Selain itu pada pompa elektrik, kondisi baterai, charger juga perlu diperhatikan
  14. Cobalah memompa sembari menyusui. Hisapan bayi akan memicu keluarnya LDR kedua payudara sehingga hasil pumping umumnya banyak, menambah tabungan ASIP Ibu
  15. Bagi sebagian besar wanita, double pumping (pumping kedua payudara dalam waktu bersamaan) menghasilkan lebih banyak ASI. Level prolaktin didalam darah juga lebih tinggi ketika ibu memompa kedua payudara dalam waktu bersamaan. Pompa ASI elektrik kualitas bagus seperti merek Medela, Unimom, dan Avent (khususnya model double pump) akan sangat membantu proses in. Namun karena harganya yang lumayan mahal dengan dua buah pompa manual double pumping ini juga bisa dilakukan, atau kombinasi pompa model mini electric dengan manual.

    PinkorBlue-MedelaSymphonyHospitalGradeElectricBreastPump

    Medela Symphoni – Hospital-Grade Double Pump

  16. Jika tips diatas tetap tidak membantu, pikirkan untuk beralih pompa ASI yang kualitasnya diatas yang Ibu pakai saat ini. Jika di daerah ibu tersedia, cobalah menyewa sebuah pompa hospital-grade selama 1-2 minggu dan rasakan perbedaannya! Pompa jenis hospital grade memang didesain khusus dan sudah terbukti untuk hasil pumping yang optimal.

Selain tips diatas, ada pula tips tambahan demi kenyamanan dan kebugaran Ibu

  1. Untuk kenyamanan Ibu, kenakanlah pakaian/baju yang mudah di’akses’ saat memompa
  2. Tegakkan sedikit badan untuk menghindari   tetesan ASI pada baju. Selain itu gunakan pula breastpad baik sekali pakai atau yang dapat dicuci untuk mengurangi rembesan ASI ketika pumping.
  3. Berlatihlah untuk bisa pumping dengan satu tangan sehingga tangan satunya bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain. Hal ini sangat bermanfaat khususnya untuk ibu bekerja yang waktu istirahatnya terbatas.
  4. Lakukan diet nutrisi seimbang, minum cukup cairan, batasi konsumsi kafein, soda, dan alcohol serta olahraga, dan hal-hal lain yang membantu Ibu tetap fit dan sehat. Pilihlah alat kontrasepsi yang tidak mengganggu produksi ASI. Pil KB yang mengandung estrogen terbukti mempengaruhi supply ASI.

Menyusui merupakan suatu komitmen yang membutuhkan kesungguhan usaha Ibu. Jika Ibu masih merasa kesulitan mempertahankan produksi ASI dan khawatir dengan produksi ASI saat ini tidak mencukupi segeralah konsultasi pada dokter atau konselor laktasi. Untuk menghubungi konselor laktasi terdekat dari lokasi Ibu, silakan hubungi www.aimi-asi.org

Referensi

Advertisements
3

Oleh-oleh ASIP dari Bangkok

Share cerita seorang rekan busui kami yang luar biasa, Bunda Hanum yang baru saja melakukan perjalanan dinas ke Bangkok namun tak lupa oleh-oleh ASIP untuk si kecil

================================================================================

Akhirnya…terlewati juga saat-saat yang cukup bikin pusing kepala tuk beberapa waktu. Sekarang tinggal share cerita singkat selama perjalanan pergi-pulang dan selama di Bangkok untuk urusan per ASIP-an ini.

Semoga bisa menginspirasi ibu-ibu juga kalau ada tugas dinas di LN atau Luar kota tapi bayi masih perlu ASIP.

Ada outing kantor ke Bangkok, selama 4 hari 3 malam dengan total orang sekantor sebanyak 40 orang, wajib ikut dan harus ninggalin baby di rmh yg usianya masih 9 bulan hikss…
Setelah cari info sana sini, dan hunting kebutuhan untuk bisa maintain pumping/perah asip, 1,5 liter ASIP berhasil dibawa buat oleh-oleh 🙂

Modal awalnya adalah NIAT! karena kalau nggak ada yg satu ini, bubar lah semua. Setelah itu berdoa yg banyak agar jalannya dimudahkan.

Karena banyak cerita satu dan lain pengalaman berbeda, ada yg sangat mudah dan lancar tanpa hambatan, ada juga sampai yang harus berurai airmata bermasalah di imigrasi karena urusan membawa ASIP

Persiapan juga dilakukan termasuk keteteran karena menjelang berangkat kerjaan menumpuk dan lembur terus :(( *maaf jd curcol
selain niat, pastinya banyak hal yg harus dipersiapkan dong…yup…ini diantaranya:

1. Breast Pump

Bawa medela swing (elektrik) dan sempet beli unimom mezza (manual) just in case gak nemu listrik atau colokan. Tadinya sempet mau dipinjemin unimom forte sama temen, tp bisa over bagasi, hehe.. Selama disana akhirnya banyakan marmet krn ga sempet cuci Breastpump nya. Bawa botol plastik juga. bawaan medela kebetulan ada 3 pcs dibawa semua.

Image

2. Cooler
Ini yg paling penting, pengangkut asipnya hrs bener2 aman dan kuat. Setelah hunting dan kebingungan mau cari cooler box atau cooler bag, akhirnya nemu igloo macam ini. Sempet diledek temen kaya tukang es krim keliling, hihihi… tapi cuek saja, haha

Image

 

3. Ice gel/ice pack
Lumayan banyak bawanya, 3 bungkus Ice gel RBS dan Sun Gel, 1 Ice pack RBS, Ice Pack Snowgam, dan 2 Ice pack tipis bawaan cooler bag Pigeon

4. Kantong asip Natur. Bawa sekitar 20pcs (harus optimis dong bisa dapet banyak, hahaha), Spidol, post it, lakban bening

5. Sabun pencuci botol, sikat pencuci botol, tissu basah & hand sanitizer.

Ok, pagi itu jam 3 udah harus bangun karena flight jam 7.20 dan jam 5.30an udah harus check in. Cium dan doa buat baby sambil nahan mewek, dadaaaaaah…..

Berhubung  bawaan baju sengaja dikit karena mau prioritasin urusan ASIP, jadilah gak ada bagasi, semua diangkut ke cabin. Di imigrasi cooler box sempet dibongkar, tapi dengan penjelasan bahwa semua ini kebutuhan untuk membawa ASIP nggak jadi masalah masuk ke cabin. Oya, penerbangan dengan Tiger airways.

Sambil menunggu boarding, PD mulai nyut nyut dan harus pumping, di terminal 3 nursery room’nya bersih, bagus dan nyaman (maaf fotonya ke delete, hix) tapi sayang gak da colokan listrik, jd terpaksa pumping di mushola persis disebelahnya. Dapet skitar 120cc. Ketika boarding, asip hasil perah langsung titip ke pramugari untuk taro di chiller atau di es atau di tempat yang dingin (perjalanan skitar 3 jam). tips kalo apes nemu pramugari yg jutek, harus galakan kitanya, hehe…gak boleh sungkan-sungkan ya kalo udah urusan ASIP…tapi ya kita minta tolong baik-baik aja, kalo dijutekin baru deh jutekin balik dengan kerlingan maut, arrrrgh……

sampe Bangkok langsung check in di hotel, karena dari airport ke hotel aja udah 1 jam sendiri di jalan. Syukurnya dapet kamar yg ada kulkasnya, jd lgsg taro smua ice gel & ice pack di freezer, asip di chiller dan langsung pumping lagi.
Satu hal yang harus diniatkan dengan amat sangat kuat adalah, usahakan jangan malas pumping, seberat apapun kondisi dan tantangannya. separah2nya, minimal bangun tidur dan sebelum tidur usahakan kosongkan PD.

Selanjutnya menjalani aktivitas sehari-hari di Bangkok dengan selalu menyempatkan pumping atau marmet. Di mall, di Bis, di hotel, terus2an secape apapun dan semalam apapun baru balik ke hotel. Roomate sampe bosen kali liatnya, tapi untungnya mereka amat sangat pengertian.

Sebagai back up, aku bawa jg cooler bag kecil medela seperti ini. ImageMaksudnya biar selama kelilingan diluar hotel asip hasil pumping/perah msh bisa aman sebelum nyampe hotel.

Di hari terakhir di Bangkok adalah hari yang paling menantang. Karena harus check out dari jam 11. 30’an sedangkan flight balik ke Jakarta baru jam 9 malam 😦
Jadiiii, harus bener2 tepat perhitungan simpan menyimpan asipnya biar selamet sampai rumah. Btw, selama di Bangkok ASI hasil perahan semua disimpen di chiller (kulkas bawah) dan gak ada yang dibekukan. Katanya sih aman kok sampe 6 hari juga, lagian kalo dibekuin dan keburu cair malah jd sutris mikirinnya…

Setelah check out jam 12an siang, langsung lapor ke bagian front desk kalo aku butuh titip asip dan icepack/ice gel. Untungnya front desk sangat baik hati, dengan senyum yang ramah diarahkan ke bagian restoran untuk semua urusan ini. Walaupun di restoran wajahnya pada bingung (apalagi bartendernya dapet yg cowo) dan amit-amit ya di Bangkok tuh bahasa jadi problem banget, susyaaaaah deh cari yang bisa bahasa inggris. Yang bawel aja dan pastikan mereka ngerti dan bener ngerjain yang kita minta, hehe…dengan tetep senyum manis tentunya 🙂

Setelah memastikan semua aman, baru deh berani keluar dari hotel.

Balik lagi ke hotel jam 4 sore, mulai deg-deg-an…karena harus segera ke airport melewati traffic Bangkok yg mirip Jakarta macetnya. Nyampe airport jam 6.30an, check in (ASIP diputuskan masuk cabin) dan setelah melewati imigrasi lagi, anehnya asip cair di coolbox malah ga diperiksa sama sekali!! padahal diisi di kantong natur masing2 lebih dari 150cc, dan gak di masukin kantong ziplok tiap 5 kantong (ada aturan begitu juga biar ga bocor).

Yang diperiksa malah ASIP yg baru saja merah ketika nyampe airport, ada sekitar 100cc di botol medela dan 1 tas isi breast pump. Memang ditanya “what is this” dan where is Your kid?” tapi setelah dijelasin semua lolos, fyuiiiih….

Sampai jakarta sekitar jam 1 pagi, udah minta suami jemput bawa es batu, jaga2 kali aja ice gel/ice pack ada yg mencair..ternytaaaa….msh beku!! Hingga di rumahpun sekitar jam 2.30an semua masih beku, asip cair 10 kantong langsung masuk ke freezer….yg di botol taro di chiller.

Aside
0

Tulisan asli bersumber dari web AIMI yaitu http://aimi-asi.org/2012/10/bayi-asi-dan-alergi/

oleh  on October 17th, 2012

Alergi adalah reaksi imunitas tubuh yang berlebihan terhadap suatu bahan. Imunitas tubuh kita seharusnya bekerja untuk melindungi tubuh kita dari bahaya,seperti virus, bakteri, atau jamur, namun, pada individu yang alergi, tubuh bereaksi pula terhadap bahan yang tidak berbahaya, seperti protein ikan, susu sapi, debu, cuaca, dengan respon yang berlebihan. Alergi sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan, yaitu anak dari orang tua yang memiliki riwayat alergi memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit alergi. Penyakit alergi yang sering contohnya adalah alergi makanan, asma, rhinitis alergika (pilek dan bersin berkepanjangan jika terkena udara dingin atau debu), dan dermatitis atopik (eksim / gatal-gatal pada kulit akibat alergi). Saarinen dan Kajosaari (1995) melakukan penelitian dengan memantau kondisi 150 bayi sejak lahir hingga usia 17 tahun, dan menemukan bahwa ASI dapat mencegah timbulnya alergi, baik alergi makanan, eksim, maupun alergi pernapasan, selama masa kanak-kanak dan remaja.

Sebelum usia 6-9 bulan, usus bayi mudah ditembus protein asing, dapat diandaikan seperti kain kasa yang berlubang-lubang, jika kita taburi tepung atau gula pasir ke atasnya, dengan mudah bahan-bahan ini menembus permukaan kain kasa tersebut. ASI mengandung sel antibodi sIgA dalam jumlah tinggi, antibodi jenis inilah yang berperan melapisi permukaan usus bayi, sehingga menjadi lebih rapat dan tidak mudah ditembus protein asing. Protein susu sapi merupakan alergen (bahan penyebab alergi) yang paling sering menimbulkan reaksi pada bayi. Protein dalam susu sapi yang sering memicu alergi mencakup laktoglobulinkaseinalbumin serum sapi, danlaktalbumin. Selain mengandung imunoglobulin, ASI juga mengandung oligosakarida,sitokinglikoproteinLCPUFAlisozimnukleotida, dan komplemen. Bahan-bahan ini dapat mengendalikan reaksi tubuh terhadap bahan asing, sehingga tidak muncul reaksi yang berlebihan.

Gejala alergi dapat berupa muntah, diare, kolik, bahkan keluarnya BAB darah (baik yang tampak jelas berupa darah segar, maupun darah samar yang dibuktikan oleh pemeriksaan mikroskopik). Pada bayi dapat pula timbul gejala pada saluran napas berupa pilek,batuk, dan asma, maupun gejala kulit berupa eksim atau kaligata. Pada alergi, antibodi yang berperanan adalah IgE. Antibodi ini teraktivasi oleh adanya protein asing, dan hanya diperlukan 1x kontak untuk membuat IgE teraktivasi. Pada kontak selanjutnya, sel imunitas tubuh kita sudah memiliki memori secara spesifik terhadap protein tersebut dan akan memicu timbulnya reaksi yang sama, terus menerus. Konsumsi ASI secara eksklusif membantu pematangan “pelapis usus” dan menghalangi masuknya molekul pemicu alergi sehingga IgE tidak teraktivasi,sampai kelak bayi sudah berusia lebih dari 6 bulan dan sel imunitasnya sudah berfungsi dengan lebih sempurna. Penelitian Furukawa dkk (1994) menemukan bahwa bayi dengan susu formula memiliki kadar IgE yang lebih tinggi daripada bayi ASI, sehingga lebih mudah terkena penyakit alergi.

Pencegahan Alergi Makanan Pada Bayi

Bisakah bayi ASI terkena alergi? Bisa. Hal ini biasanya disebabkan oleh bahan pemicu alergi yang dikonsumsi oleh ibu, sehingga terdapat pula di dalam ASI dan diterima oleh bayi. Bahan makanan pemicu tersering adalah protein susu sapi dalam ASI, karena ibu mengkonsumsi produk yang mengandung susu sapi. Pada kasus kecurigaan alergi akibat protein susu sapi di dalam ASI, ibu dapat dianjurkan untuk berpantang semua produk yang mengandung susu sapi selama 7-10 hari, dan melihat responnya pada bayi. Jika tidak ada perbaikan, ibu dapat mulai mengkonsumsi produk susu kembali, karena berarti bukan ini penyebabnya. Selain susu sapi, bahan makanan lain yang dapat menyebabkan alergi adalah telur, tepung terigu, kacang-kacangan, jagung, makanan laut, buah-buahan yang mengandung sitrus (jeruk, lemon, fruit punch, dll) dan tomat. Alergi memang merupakan penyakit yang kompleks, karenanya diperlukan konsultasi dengan ahlinya untuk membantu menentukan pola makan Ibu. Jangan sampai karena berpantang dari semua jenis makanan yang diduga pemicu, Ibu akhirnya hanya makan nasi putih saja sehingga asupan gizi tidak seimbang.

Berikut adalah anjuran berdasarkan Evidence Based Medicine (EBM) terbaru untuk mencegah alergi makanan pada bayi:

  • Untuk semua bayi:
    • Aplikasikan pola makan sehat dan seimbang bagi ibu selama hamil dan menyusui, termasuk berbagai jenis makanan yang berpotensi alergenik.
    • ASI eksklusif adalah nutrisi terbaik untuk bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • Pemberian suplementasi susu selain susu sapi formula standar, termasuk susu berbahan dasar kedelai, susu kambing, domba, rice-milk, dan lain sebagainya, tidak direkomendasikan karena belum terbukti efektifitasnya dalam menurunkan risiko alergi pada bayi.
    • Penyapihan sebaiknya tidak dilakukan sebelum usia minimal 17 bulan.
    • Mulailah MPASI selagi bayi masih menerima ASI, sebaiknya pada usia 6 bulan.
    • Pemberian MPASI terlalu dini meningkatkan risiko alergi pada bayi, kalaupun diperlukan pemberian makanan bayi pada usia 4-6 bulan haruslah dari bahan makanan dengan potensi alergi rendah.
    • Pemberian MPASI terlalu lambat dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya, serta menghambat proses pengenalan berbagai jenis makanan sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya alergi.
    • Pada usia 12 bulan bayi sebaiknya telah menerima semua jenis makanan yang cocok untuk usianya, termasuk bahan-bahan yang berpotensi alergi.
    • Hindari paparan asap rokok selama hamil dan setelah bayi lahir.
    • Selama hamil dan menyusui, minimalkan penggunaan obat antimual, obat golongan NSAID, dan parasetamol.
  • Untuk bayi dengan riwayat alergi pada keluarganya:
    • Jangan berikan susu sapi formula standar selama 4-6 bulan pertama, jika diperlukan, alternatif yang direkomendasikan adalah susu formula hidrolisat parsial atau total. Formula jenis ini diberikan sampai usia 4-6 bulan, atau sampai bayi menerima susu sapi dalam bentuk lain pada MPASI nya.
    • Saat memperkenalkan bahan makanan alergenik, seperti gandum, telur, dan susu, mulailah dari jumlah sedikit (misalnya setengah sendok teh), dan satu jenis saja setiap kalinya.
    • Hindari pemaparan terhadap tungau debu rumah (house dust mite) dengan menjaga kebersihan kamarnya dan melapisi tempat tidurnya dengan seprai tahan-air.

Sudah terbukti bahwa ASI membantu menurunkan risiko alergi pada bayi, di samping berjuta manfaat lainnya. Jadi, masih perlukah bertanya apakah ASI yang terbaik untuk bayi? Definitely not. It is the best for the baby and the whole family.

Selamat menyusui, salam ASI!


Referensi :

  • Riordan J,Wambach K. Breastfeeding and Human Lactation, 4th edition. Jones and Bartlett Publishers,2010.
  • Handout #2 Colic in the breastfed baby, written by Jack Newman MD,FRCPC, 2003
  • Grimshaw K. Food Allergy Prevention. Current Allergy & Clinical Immunology, March 2012 Vol 25, No.1.
4

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

0

Demam Tifoid

PENDAHULUAN

Demam tifoid atau dikenal juga sebagai demam enterik merupakan penyakit sistemik berat yang ditandai dengan demam dan gejala saluran cerna. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya dimana higiene dan sanitasinya masih kurang. Indonesia termasuk salah satu negara dengan prevalensi tinggi, lebih dari 100 kejadian per 100000 penduduk. Prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3 – 19 tahun. Kejadian meningkat setelah umur 5 tahun.

 EPIDEMIOLOGI

Faktor risiko seseorang terkena demam tifoid terkait dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan, termasuk didalamnya mengkonsumsi makanan diluar rumah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, 80% penderitanya memiliki riwayat bepergian di negara dengan endemic typhoid.

Gambar 1. Epidemiologi Tifoid

 PENYEBAB

Sekitar 80-90% persen demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi, sedangkan sisanya oleh Salmonella paratyphi A, B, atau C. Kuman tersebut masuk dalam kelompok enterobacteriacea.

 GEJALA DAN TANDA

Gambaran klasik demam tifoid jika tidak mendapat pengobatan:

Minggu pertama panas bertahap naik, minggu kedua gangguan saluran cerna dan ras pada perut dan minggu ketiga pembesaran hati, pembesran limpa, perdarahan saluran cerna dan kebocoran usus. Bila dirinci gejala/tanda yang dapat muncul sebagai berikut

  • Demam (fever), ditandai panas bertahap naik. Puncak panas terutama setelah 1 minggu, dan akan tetap tinggi pada minggu berikutnya.
  • Nyeri kepala (headache)
  • Mual (nausea)
  • Diare, biasanya tidak berat (terutama pada bayi dan balita)
  • Muntah (vomiting)
  • Konstipasi (terutama pada anak besar dan dewasa)
  • Batuk
  • Nyeri tekan perut (abdominal tenderness)
  • Pembesaran limpa (spleenomegaly) dan pembesaran hati (hepatomegaly)

Gejala dan tanda tersebut dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan terutama antibiotika. Seringkali kecurigaan tifoid baru didapat setelah panas 1 minggu atau memasuki periode status (status periode) dimana gejala dan tandanya lebih khas/jelas

 

 Gambar 2. Frekuensi kemunculan gejala dan penampakan fisik pada pasien demam enteric

 

 Gambar 3. Perjalanan demam tifoid

 DIAGNOSIS

Diagnosis dibuat berdasarkan tanda dan gejala klinis serta faktor risiko yang ada. Kadangkala gejala klinis tidak khas akibat telah dilakukan intervensi sebelumnya. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemeriksaan penunjang:

  1. Hitung darah lengkap dapat ditemukan leucopenia, anemia, trombositopenia dan lymphositosis relative.
  2. Tes Felix-Widal. Merupakan tes yang paling banyak digunakan. Dikerjakan dengan pengenceran ganda serum pada tabung untuk mengukur level agglitunasi antibody terhadap antigen O dan H. Biasanya antibodi terhadap antigen O meningkat pada hari 6-8 sedangkan antibody terhadap antigen H pada hari 10-12 sesudah onset penyakit.  Tes Widal tidak cukup sensitif dan spesifik. Kira-kira sekitar 30% tes widal negatif pada pasien dengan demam tifoid. Sedangkan Widal positif belum tentu menunjukan adanya infeksi oleh salmonella typhy dikarenakan antigen O dan H tersebut bisa saling bertukar dengan kuman salmonella yang lain dan dapat juga bereaksi silang dengan Enterobacteriacae yang lain. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah nilai batas normal untuk daerah endemic seringkali tidak ada data. Sehingga sampai saat ini penggunaan tes Widal masih dalam perdebatan.
  3. Kultur kuman. Merupakan tes baku untuk mendiagnosis suatu infeksi, akan tetapi pelaksanaanya cukup sulit, lama dan hasilnya seringkali tidak sesuai yang diharapkan. Kendala tersebut terkait dengan pengobatan yang sudah diberikan, perjalanan penyakit, pengambilan dan pengiriman sampel, dll.
  4. Beberapa tes baru dan manfaatnya
  • Tes IDL Tubex® (dibuat di Swedia). Dapat mendeteksi IgM anti tifoid dalam beberapa menit.
  • Typhidot ®, (dibuat di Malaysia) perlu beberapa jam untuk pengerjaannya. Versi lama mendeteksi IgM dan IgG. Sedangkan versi baru dapat mendeteksi Ig M.
  • IgM dipstick test. Tes cepat untuk mendeteksi IgM

Ketiga tes diatas lebih sensitif dan spesifik dibanding tes Widal, akan tetapi tidak dapat mendeteksi paratipus serta harganya jelas lebih mahal.

Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan hasil kultur. Diagnosis berdasarkan klinis dan laboratorium penunjang merupakan diagnosis kerja yang sudah dapat digunakan untuk memulai terapi.

 Definisi kasus berdasar WHO:

  • Konfirmasi diagnosis (Confirmed case of typhoid  fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan kultur positif salmonella typhi. Bahan kultur darah, sumsum tulang, cairan tubuh.
  • Curiga tifoid (Probable case of typhoid fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan uji serology  atau antigen positif.
  • Pembawa/penular  kuman tifoid (Chronic carrier), ekskresi kuman tifoid pada feses atau urine lebih dari satu tahun sesudah onset akut demam tifoid.

 PENANGANAN

  1. Antibiotika: terapi utama demam tifoid adalah pemberian antibiotika, antara lain: Klorampenikol, Amoksilin, Kotrimoksazol, Seftriakson, Sefiksim dan Ciprofloxacin.
  2. Suportif
    • Kecukupan cairan, elektrolit dan nutrisi
    • Diet rendah serat dan mudah dicerna
    • Obat penurun panas
    • Tirah baring
  3. Penanganan komplikasi

 

INDIKASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT

Demam tifoid dengan komplikasi/penyulit atau bila dipertimbangkan perawatan dirumah oleh keluarga tidak adekuat. Komplikasi yang bisa terjadi: dehidrasi, perdarahan saluran cerna, perforasi usus, hepatisis tifosa, meningitis, pneumonia, pyelonephritis, endokarditis dll.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Sebagian besar penularan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (kurang bersih) maka pencegahan terutama penyediaan air bersih dan penyajian/pengelolaan makanan yang sehat serta sanitasi lingkungan. Bagi mereka yang berisiko sakit (anak-anak) atau sumber penular (mereka yang terkait dengan penyajian makanan) sangat dianjurkan pemberian vaksin.

Vaksin yang tersedia saat ini:

 A. Oral Typhoid Vaccine (Ty21A) : vaksin hidup

            B. Parenteral Inactivated Typhoid Vaccine: mati, subkutan

            C. Typhoid Vi Capsular Polysaccharide Vaccine: IM

 KESALAHAN UMUM

  1. Mendiagnosis demam tifoid hanya berdasarkan hasil laboratorium terutama Widat test tanpa mempertimbangan klinis pasien.
  2. Menyebut gejala tifus pada pasien yang panas padahal tidak ada data klinis atau laboratorium yang mengarah ke demam tifoid.
  3. Memaksa anak makan bubur halus, padahal yang terpenting adalah diet bebas serat.
  4. Memeriksa Widal pada semua pasien panas meski klinis tidak ada kecurigaan demam tifoid.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vollaard Am; Ali S; Van Asten Ha; Widjaja S; Visser Lg; Surjadi C; Van Dissel Jt, 2004, Risk Factors For Typhoid And Paratyphoid Fever In Jakarta, Indonesia. JAMA 2;291(21):2607-15.
  2. Parry Cm; Hien Tt; Dougan G; White Nj; Farrar Jj, 2002, Typhoid Fever, N Engl J Med Nov 28;347(22):1770-82.
  3. WHO, 2003, Background Document: The Diagnosis, Treatment And Prevention of Typhoid Fever, Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals
  4. Donald E, 2004, Typhoid Fever, Deadly Diseases And Epidemics, Infobase Publishing,
  5. Kliegman Rm, Stanton Bf, Schor Nf, Geme Jw Dan Berhman Re (Editor), Nelson, 2011, Textbook Of Pediatric, 19th.
  6. Mandell, Douglas, And Bennett’s (Editor), 2010, Principles And Practice Of Infectious Diseases, Elsevier Inc

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

1

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

Pembagian Klinis WHO

Di kalangan masyarakat kita, penyakit Demam berdarah dengue (DBD) umumnya identik dengan turunnya trombosit atau adanya perdarahan. Benarkah demikian?

Turunnya trombosit dan perdarahan saat ini bukanlah parameter utama dalam perjalanan penyakit DBD. Bahkan sebagian besar penyebab kematian karena DBD  bukan akibat perdarahan. Oleh sebab itu kita perlu tahu apa itu DBD.

Demam berdarah dengue adalah salah satu bentuk manisfestasi klinis yang diakibatkan infeksi virus dengue pada manusia.  Sebelum tahun 2009 WHO membuat batasan gambaran klinis infeksi virus dengue sebagai berikut:

  1. Asimptomatik (tidak bergejala)
  2. Simptomatik, dibagi menjadi:
    1. Demam yang tidak khas (undifferentiated fever)
    2. Dengue fever (DF) atau demam dengue (DD)
    3. Dengue hemorrhagic fever (DHF) atau Demam berdarah dengue (DBD)

Gambar 1. Pembagian Klinis WHO sebelum tahun 2009

Sejak tahun 2009 pembagian klinis demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) dianggap sulit diterapkan.  Perbedaan DD dengan DBD terletak pada adanya kebocoran plasma (plasma leakage) yang dapat menyebabkan syok.  Menentukan ada tidaknya kebocoran plasma kadang kala tidak mudah dan beberapa kondisi klinis infeksi virus dengue berat tidak cukup memenuhi keriteria DBD.  Maka pembagian klinis infeksi dengue simptomatik pada tahun 2009 disusun lebih aplikatif yaitu sebagai berikut:

  1. Infeksi dengue
  2. Infeksi dengue dengan tanda bahaya
  3. Infeksi dengue berat

 Gambar 2: Pembagian Klinis WHO 2009

 Pembagian klinis WHO tahun 2009 tentang Dengue ini belum banyak dipakai dilapangan, akan tetapi sosialisasi sudah mulai diberikan oleh organisasi profesi terutama IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kapan Curiga terjadi Infeksi Dengue?

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal didaerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris.  Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemic cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitive untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Gambar berikut menunjukkan perjalanan penyakit Dengue beserta manifestasi klinisnya

Gambar 3. Perjalanan Penyakit Dengue

Kapan harus  ke dokter?

Setiap kita curiga anak terjangkit infeksi dengue setelah 3 hari (dari awal panas mendadak) harus ke dokter.  Kontrol selanjutnya sesuai nasehat dokter

Kapan dirawat di Rumah Sakit?

Infeksi dengue dengan tanda bahaya wajib dirawat di RS sedangkan infeksi dengue tanpa tanda bahaya tergantung penyulit yang lain (pertimbangan dokter)

Penanganan

  • Pemberian cairan yang cukup.
  • Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengatasi penyulit bukan menyembuhkan.
  • Kematian sebagian besar terjadi karena keterlambatan penanganan
  • Transfusi trombosit indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan untuk menaikkan trombosit ataupun mencegah perdarahan.
  • Transfusi plasma beku segar (FFP, fresh frozen plasma) indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan mencegah perdarahan ataupun mengatasi syok 

Contoh Kasus Nyata yang pernah ditangani

  • Pasien A dengan DHF usia 6 tahun trombosit terendah 6000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien B dengan DHF usia 7 tahun trombosit 16.000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien C dengan DHF usia 7 tahun trombosit 30.000 dilakukan transfusi trombosit karena ada perdarahan di saluran cerna
  • Pasien D dengan DHF usia 8 tahun trombosit 20.000 dengan perdarahan hidung tidak dilakukan transfusi trombosit cukup diberikan tampon hidung

Ringkasan Penting

  1. Panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi)  dan tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyaki tertentu yang khas/pasti maka harus dipikirkan dengue (bagi yang tinggal di daerah endemic dengue, mayoritas kota besar di Indonesia endemic)
  2. Setiap curiga infeksi dengue, setelah 3 kali 24 jam harus ke dokter.
  3. Parameter bahaya pada dengue infeksi tidak hanya kadar trombosit.
  4. Tranfusi Trombosit atau FFP hanya dengan indikasi tertentu (perdarahan). Waspada bahaya transfusi.
  5. Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok.
  6. Belum ada obat yang bisa membunuh atau menghambat pertumbuhan virus dengue (yang paling memungkinkan adalah pemberian vaksin).

Referensi

  1. Ratni Indrawati, Pengenalan Tanda awal kegawatan Infeksi dengue, FK UGM
  2. WHO, Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control — New edition, 2009 http://www.searo.who.int/linkfiles/dengue_guideline-dengue.pdf
  3. Suchitra Nimmannitya, Dengue/Dengue Haemorrhagic  Fever : A Rising Health Problem of Global Concern
  4. Dengue, WHO Learning Production 2005 (Interactive Tutorial)

 

0

Tips travel sama si balita? Jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan :)

Di-share dari note FB rekan :). Link asli

Oleh Bunda Miriam Rustam

Banyak sekali temen yang nanya sejak kami punya Tara dan masih aja keliaran kesana kesini: gimana caranya? mbaknya gak diajak? makannya gimana? apa nggak capek ngurusin sendiri?.

Hmmmm….let’s stop for a while. Mungkin pertanyaan awalnya harusnya adalah: tujuan jalan-jalannya apa?. Kalau kami, karena sadar 200% sering pulang malam (eh yang ini sih true for my boyfriend ding sekarang, buangeeeettt… *curcol*), jadi sejak punya anak kita berdua sudah bersumpah: weekend dan hari libur si mbak akan jadi ‘pembersih’ alias kalau pup kasih mbak, baju kotor urusan mbak…dan yang gitu-gitu deh. Selebihnya urusan kita.

Pas punya Lila, di usia kepala 4 dengan kesadaran penuh tulang pinggang sudah mulai sering menjerit, ya saya memang jadi lebih ‘manja’ sih, si mbak jadi lebih sering kita ajak kalau pergi di dalam kota, karena pueeggeeeelll reeekkk apalagi Lila jauh lebih physically active dibanding si kakak dulu yang sukarela duduk manis di car seat atau stroller-nya. Dan si kakak yang walaupun sudah hampir 8 tahun tapi kadang masih keluar 5 tahun-nya 😀 But still we try to spend as much time as we can with the both of them, dengan campur tangan si mbak sekecil mungkin.

Nah kalau travel jauh ya podo wae. Tujuannya travel dengan anak selain ngenalin hal-hal baru, ya supaya kami punya waktu eksklusif dengan anak-anak. Makanya especially kalau tujuannya adalah liburan (alias, gak ada agenda mengunjungi saudara atau siapapun di tempat tujuan), kami gak akan mau ajak si mbak. Yaaaa alasan lainnya sih juga karena saya malaaasss harus mikirin ini itu untuk orang lain, which akan harus dilakukan mau tidak mau kalau ajak si mbaknya.Tapi kalau agendanya adalah mengunjungi seseorang (misalnyaaaa pas lebaran :D), nah itu pasti kami ajak si mbak. Supaya lebih konsen beramah tamah dengan mereka yang lama gak ketemu.

Nah terus gimana tuh ngurusin si balita tanpa mbak?. Saya mungkin jenis emak gamau rempong. Kalau mau dibilang ‘tips’ ya tips saya cuma itu aja: jangan bikin rempong yang gak perlu dirempongkan supaya gak pusing sendiri. Dan oh satu lagi: make sure bapaknya memang bisa diajak kerjasama!. Ini faktor pueeeennnttttiiiiiiing beyond belief. Gimanapun kan butuh kerjasama yaaaa….ngurusin anak kan bukan cuma tanggung jawab si emak yaaaaaa….jadi bapaknya harus bantuin *toyorajakalaunggakmau*

Tips lainnya:

1. Kalau bayi masih ASIX – WORRY NOT!!!!. Sumpah. Gak perlu bersihin botol, gak perlu bawa air panas, gak pusing nyiapin susu, gak usah takut kualitas air. Jadi apalagi bundaaaaa….angkut aja itu bayiiiii… Tara’s first travel itu dia baru 2 bulan, kami boyong naik mobil Jkt – Semarang – Jkt. Bawaannya cuma baju aja!Oh dan tempat bobok yang nyaman juga ding.

2. Kalau anaknya sudah mulai MPASI, jujur, saya gak ambil pusing harus homemade etc. Sebisa dan semasuk akalnya ajalah kalau saya sih. Yang bisa disiapkan dari rumah dan dimasukkan kulkas, ya saya bawa pakai cooler box pas di jalan, masuk kulkas di hotel. Ini misalnya sup2-an, puding (utk 11bln ke atas), atau puree sayur/buah beku. Manasinnya? ya gampang toooh tinggal minta mangkuk isi air panas di restoran manapun kita berhenti, taruh itu makanan di mangkuk lain, rendam, beres. Selebihnya, saya lebih banyak bergantung pada buah (termasuk buah dada kalau anaknya masih ASI ;p). Pisang terutama – the easiest to find. Terus juga loads of biscuits for the road. Ya tentunya biskuit yang sesuai sama usia anaknya yaaaa. Juga roti. Ini karena kami kalau sudah ngelantur, bisa berjam-jam di jalan dan lewat jam makan. Nah ini lagi. Saya gak mau tuh rempong mikir jam segini harus berhenti untuk makan. Pokoknya kalau masih asik, ya lanjut aja. Makanya di mobil harus siap terus semua makanan itu. Plus air.

3. Homemade MPASI is good, but, we’re on holiday!. Saya pernah sih baca ada yang bawa segala rupa selama travel. Waduh, saya mah gak sanggup kalau harus full homemade selama liburan. Emak gak mau rempong gini…. Dan excuse saya adalah: toh di hari-hari lain si anak sudah makan homemade food terus. Dan liburan paling lama cuma 10 hari (hmmmm…..belum pernah sih….akan pernah gak ya… *langsungingetjadwaljadwalmeetingsipacar*), jadi ya sudahlah, let’s try to loosen up. Jadi, dulu waktu Tara maupun sekarang dengan Lila, saya kombinasikan saja homemade dengan instant MPASI (hehehehe…bisa dihujat nih eke sama emak-emak homemade MPASI ;p). Dan instant juga biasanya saya pakai yang ready to eat, yang dalam toples-toples kaca itu. Kenapa? karena malas bawa perabotan! 😀 See….tema utama dari tips saya adalah: hindari kerempongan ;p Dan 1 – 2 minggu sebelum jalan biasanya saya beli beberapa untuk dicoba ke anaknya, supaya tahu apa yang dia suka. Nah yang paling enak kalau anak sudah setahun. Itu saya lepas untuk eksperimen. Lila minggu depan setahun, ya wes lah, curi start aja (hehehehe…bisa kena hujat lagi nih sama emak-emak penganut no gulgar sblm 1 thn ;p). Kemarin di Bangka, saya biarin Lila coba pempek karena kepengen pas lihat saya makan. Itu juga cuma secuil-secuil. Dulu Tara saya biarin makan jagung bakar pinggir jalan waktu umur 2 tahun kami bawa ke Lombok. Dia juga makan udang bakar warung pinggir jalan. Yang bikin saya PD aja: ANAK ASI boooo’!!!!. Insya Allah perutnya kuat!. Dan kalau dia masih nyusu, insya Allah segala bakteri yang masuk, mampus dengan ASI yang dia minum. Jadi, kenapa harus takut??.

4. Kalau naik mobil, santai aja. Jangan kejar setoran!. Kami ini suka bingung kalau keluar kota, teteeeppp aja ada orang yang klakson-klakson, yang pengennya buru-buru. Lah, liburan aja kok kejar setoran buru-buru toh. Santai ajalah pokoknya. Kalau bawa balita yang berlaku adalah AGENDA SI KECIL. Artinya, kita boleh punya itinerary. Tapi jangan paksakan itu ke si bayi. Kenali tanda-tandanya. Patokan kami untuk berhenti kalau bawa balita cuma 1: dia sudah rewel beyond belief 😀 Itu tandanya harus berhenti supaya dia bisa jalan-jalan ngelurusin kaki. Atau kadang dia cuma pengen ngobrol atau digendong sama ayahnya yang nyetir berjam-jam 🙂

5. Selalu sedia ‘Kotak Doraemon’ yang isinya: hand sanitizer, tissue basah, tissue kering, Panadol, plester luka (you never know kapan anak akan jatuh), sunblock, lip balm dgn SPF

6. Sticking to schedule is important, but then again, we’re on holiday!!. Jadi kami juga gak mau pusing dengan urusan jam mandi, jam makan etc. Tara tahu banget tuh kalau sudah liburan, dia boleh mandi siang. Bahkan kalau misalnya harus pergi pagi-pagi buta, dia tahu bahwa dia boleh cuma sikat gigi dan cuci muka aja. Buat kami penting anak-anak lepas dari aturan sebentar saat liburan, karena toh di hari-hari lain mereka sudah harus teratur. Kita aja ogah diatur-atur kalau pas lagi liburan, kan?. Apa adil berharap hal yang sama dari anak-anak?. Dan efeknya ke kita: kita juga jadi santai karena gak harus mikir anak harus ini itu. We can all then enjoy the time. Together.

 Hmmmm….apalagi ya. Self-sufficiency sih yang jelas ya: tahu apa yang harus dilakukan tanpa support yang biasa kita miliki di rumah. Dan itu: jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan, don’t worry be happy ajalah. Dan bagi para mama yang ngASI – nyantai aja mommies, anak-anak kita terlindungi dengan baik kok dengan cairan ajaib itu, manufakturnya kan udah yang paling TOB jd kenapa harus kuatir 🙂  Alhamdulillah saya sudah buktikan dengan 2 anak saya.

 Lila yang hari Minggu ini baru akan setahun, susah buanget makan. Makannya secuil-secuil. Jangan harap dia bisa habiskan semangkok kecil nasinya!. Awalnya saya kuatir apa dia kuat diajak jalan-jalan apalagi dengan acara berenang di kolam, main di laut, main pasir di pantai dengan angin yang sedang kencang. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja tuh. Dan saya yakin yang bantu dia ya si ASI itu.

Gituuuu…. mungkin ada lagi yang mau nambahin tipsnya? Yuk share aja buat nambahin info buat yang lain. Karena akan ada masanya anak-anak gak mau lagi diajak jalan-jalan sama ortu, jadi mumpung belum bisa protes, boyong yuk si balita jalan-jalan! :))