0

MAU HASIL PUMPING OPTIMAL? IKUTI TIPS-NYA!

Salah satu masalah yang sering dihadapi ibu-ibu yang hendak menabung ASIP adalah hasil perah/pumping yang kurang memuaskan. Banyak ibu-ibuBreastPump yang merasa tidak puas dengan hasil pumping dan merasa pompa (jika menggunakan bantuan pompa) yang dibeli tidak memberikan hasil maksimal dan bergegas ingin berganti pompa baru. Sebelum Ibu memutuskan berganti merek pompa, perlu diingat bahwa memompa/memerah adalah suatu SKILL atau keterampilan tersendiri. Dengan pompa mahal sekalipun Ibu perlu belajar menggunakannya. Hasil pumping yang sedikit tidak menunjukkan produksi ASI sesungguhnya. Banyak ibu yang kesulitan memerah sedangkan jika menyusui langsung payudaranya mampu memenuhi kebutuhan bayi.

Salah satu kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu Let down reflex (LDR) atau pelepasan ASI. Beberapa ibu merasakan ada sensasi geli (tingling) atau “clekit-clekit” (bhs Jawa), sebagian lain tidak merasakan apa-apa. Pelepasan ini dapat dipicu seperti oleh sentuhan pada payudara, tangisan bayi, bahkan pikiran tentang bayi. Perasaan sedih, marah, tegang menghambat pelepasan ini. Tanpa munculnya let down atau pelepasan ASI ini, Ibu hanya bisa menghasilkan sedikit ASI yang terkumpul hanya di ujung puting. Sehingga kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu LDR ini.

Saat menyusui sebagian besar ibu tidak menyadari adanya proses LDR atau pelepasan ini. Saat bayi menyusu, segala isyarat (cues) yang familiar (perasaan lembut, hangat) dan emosi cinta Ibu membantu melepaskan hormone yang memicu LDR. Hal ini berbeda ketika pumping, dimana baby cues tidak ada. Oleh karena itu, beberapa ibu memerlukan sedikit bantuan untuk memicu keluarnya LDR.

Berikut adalah tips dari situs www.askdrsears.com dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber untuk pumping yang mudah, nyaman, dan membantu keluarnya LDR (let down reflex), mencegah luka pada puting, serta menghasilkan lebih banyak ASI.

  1. Buat jadwal rutin untuk pumping: tempat, kursi, fasilitas pendukung (cemilan, makanan). Siapkan segalanya, gunakan trik mental untuk rileks, lalu mulailah memompa. Rutinitas akan membantu keluarnya LDR.
  2. Lakukan pijatan lembut pada payudara beberapa menit sebelum pumping, jika memungkinkan kompres hangat daerah tersebut.

  3. Minum 1-2 gelas air sebelum pumping.
  4. Lakukan visualisasi seperti membayangkan air sungai mengalir menuju lautan, air terjun mengalir dan semacamnya. Apapun jenis visualisasi yang dapat membantu mengeluarkan ASI. Ingat, riset menunjukkan stress akan menghalangi kemampuan alami tubuh memproduksi ASI.
  5. Bawalah foto si kecil atau bayangkan wajahnya  ketika pumping. Bawalah 1-2 barang bayi seperti selimut, bedong, atau baju. Nikmati “bau” bayinya
  6. Jika memungkinkan teleponlah pengasuh anak dan tanyakan apa yang sedang dikerjakan bayi ketika Anda sedang pumping
  7. Carilah tempat yang sunyi/tenang untuk pumping. Jika ini agak sukar, Ibu bisa menggunakan bantuan musik atau suara alam yang menenangkan melalui headset telepon genggam atau jenis player lainnya
  8. Jika puting terluka, dan ibu menggunakan pompa elektrik, turunkan derajat penghisapannya, atau coba pompa lain.
  9. Untuk mengurangi nyeri puting setelah pumping, oleskan salep/ emollient untuk nyeri (banyak tersedia di apotik)
  10. Pompalah mengikuti kebiasaan bayi ibu menyusui, biasanya tiap 2-3 jam sekali. Jika Ibu merasa khawatir ASI perah tidak mencukupi, pompalah lebih sering. Hal ini lebih efektif menstimulasi supply ASI daripada memompa lebih lama
  11. Jika sedang bersama bayi, susui sebanyak yang dia mau. Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin banyak supply ASI ketika saat pumping tiba.
  12. Lakukan ekstra pumping menjelang pagi (subuh). Studi menunjukkan pada waktu ini produksi ASI paling banyak.
  13. Jika hasil pumping tidak sebanyak biasanya, cek kondisi pompa Ibu. Apakah ada spare part yang robek/rusak. Valve/membrane yang koyak biasanya berpengaruh pada hasil pumping. Selain itu pada pompa elektrik, kondisi baterai, charger juga perlu diperhatikan
  14. Cobalah memompa sembari menyusui. Hisapan bayi akan memicu keluarnya LDR kedua payudara sehingga hasil pumping umumnya banyak, menambah tabungan ASIP Ibu
  15. Bagi sebagian besar wanita, double pumping (pumping kedua payudara dalam waktu bersamaan) menghasilkan lebih banyak ASI. Level prolaktin didalam darah juga lebih tinggi ketika ibu memompa kedua payudara dalam waktu bersamaan. Pompa ASI elektrik kualitas bagus seperti merek Medela, Unimom, dan Avent (khususnya model double pump) akan sangat membantu proses in. Namun karena harganya yang lumayan mahal dengan dua buah pompa manual double pumping ini juga bisa dilakukan, atau kombinasi pompa model mini electric dengan manual.

    PinkorBlue-MedelaSymphonyHospitalGradeElectricBreastPump

    Medela Symphoni – Hospital-Grade Double Pump

  16. Jika tips diatas tetap tidak membantu, pikirkan untuk beralih pompa ASI yang kualitasnya diatas yang Ibu pakai saat ini. Jika di daerah ibu tersedia, cobalah menyewa sebuah pompa hospital-grade selama 1-2 minggu dan rasakan perbedaannya! Pompa jenis hospital grade memang didesain khusus dan sudah terbukti untuk hasil pumping yang optimal.

Selain tips diatas, ada pula tips tambahan demi kenyamanan dan kebugaran Ibu

  1. Untuk kenyamanan Ibu, kenakanlah pakaian/baju yang mudah di’akses’ saat memompa
  2. Tegakkan sedikit badan untuk menghindari   tetesan ASI pada baju. Selain itu gunakan pula breastpad baik sekali pakai atau yang dapat dicuci untuk mengurangi rembesan ASI ketika pumping.
  3. Berlatihlah untuk bisa pumping dengan satu tangan sehingga tangan satunya bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain. Hal ini sangat bermanfaat khususnya untuk ibu bekerja yang waktu istirahatnya terbatas.
  4. Lakukan diet nutrisi seimbang, minum cukup cairan, batasi konsumsi kafein, soda, dan alcohol serta olahraga, dan hal-hal lain yang membantu Ibu tetap fit dan sehat. Pilihlah alat kontrasepsi yang tidak mengganggu produksi ASI. Pil KB yang mengandung estrogen terbukti mempengaruhi supply ASI.

Menyusui merupakan suatu komitmen yang membutuhkan kesungguhan usaha Ibu. Jika Ibu masih merasa kesulitan mempertahankan produksi ASI dan khawatir dengan produksi ASI saat ini tidak mencukupi segeralah konsultasi pada dokter atau konselor laktasi. Untuk menghubungi konselor laktasi terdekat dari lokasi Ibu, silakan hubungi www.aimi-asi.org

Referensi

Advertisements
0

Bolehkah Ibu Menyusui Berdiet?

Pertanyaan ini kerapkali diajukan Ibu menyusui karena disatu sisi mereka merasa kurang nyaman dengan berat badan pasca melahirkan, namun disisi lain khawatir diet akan mengganggu produksi dan atau komposisi ASI.

Ibu menyusui BOLEH menurunkan berat badan dengan aman jika mengikuti enam aturan dasar berikut1:  .

  1. Tunggu hingga bayi berusia 2 bulan. Selama dua bulan pertama, jangan batasi asupi kalori untuk mengurangi resiko negatifnya. Tunggu hingga Ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan biarkan tubuh Ibu bekerja secara alami mengatur dirinya sendiri hingga terbentuk produksi ASI yang sehat. Menyusui bayi membakar sekitar 200-500 kalori per hari — Jadi perlu diingat, dengan pola makan seperti biasa Ibu membakar lebih banyak kalori tanpa perlu program khusus menurunkan berat badan
  2. Terus menyusui tanpa batasan. Penelitian menunjukkan semakin sering menyusui dan menyusui lebih dari 6 bulan terbukti mampu menurunkan berat badan pasca melahirkan
  3. Makan minimal sebanyak 1500 – 1800 kalori per hari. Selama menyusui Ibu tidak disarankan makan kurang dari 1500-1800 kalori per hari. Beberapa Ibu memerlukan lebih banyak kalori dari kisaran ini tetapi kurang dari 1500 kalori cukup beresiko
  4. Usahakan penurunan berat badan kurang dari 750 gram per minggu1 (atau 450 gram per minggu2). Sebagian besar Ibu dapat menurunkan berat badannya sekitar 750 gram (1.5 pounds) per minggu atau 3 kg per bulan pada bulan kedua dan tidak berpengaruh baik pada produksi ASI maupun kesehatan/pertumbuhan bayinya. Salah satu studi pada Ibu-ibu yang berdiet selama 11 hari menunjukkan penurunan berat badan jangka pendek sebanyak 1 kg dalam 1 minggu tidak berpengaruh apa-apa
  5. Kurangi asupan kalori secara bertahap. Pengurangan kalori secara mendadak akan menurunkan produksi ASI. Beberapa Ibu melaporkan hal ini terjadi manakala mereka sakit walaupun bisa jadi dehidrasi dan atau penggunaan obat-obatan juga bisa menjadi salah satu faktor menurunnya produksi ASI ketika Ibu sakit
  6. Hindari Diet Instan. Ibu menyusui tidak disarankan berdiet dengan cara mengkonsumsi minuman khusus diet, obat-obatan penurun berat badan, atau melakukan diet rendah karbohidrat dan rendah lemah, serta diet-diet instan lainnya

Apa yang terjadi jika Ibu menyusui mengalami penurunan berat badan yang drastis?

  • Dalam banyak kasus, bukan ASI (baik produksi maupun komposisi) yang terpengaruh tetapi nutrisi Ibu dan atau kesehatannyalah yang merasakan efek negatifnya.
  • Diet yang berlebihan dapat menurunkan produksi ASI. Ibu yang malnutrisi akan kekurangan vitamin A, D, B6 dan B12 dalam ASInya sehingga beresiko produksi ASI terganggu2.
  • Berdasarkan Breastfeeding and Human Lactation (3rd Edition, Riordan, halaman 440), perlu diperhatikan bahwa program penurunan berat badan yang cepat akibat asupan kalori dibatasi ketat sebaiknya dihindari karena kontaminan dari racun (misal racun lingkungan seperti pestisida) yang tersimpan dalam lemak tubuh akan dilepaskan ke dalam aliran darah, akibatnya kandungan racun dalam ASI. Hal ini juga akan menurunkan produksi ASI. Penulis1 memperkirakan yang dimaksud dengan ketat disini adalah dibawah 1500 kalori.


Tips untuk menurunkan berat badan
(terlepas apakah Ibu menyusui atau tidak)

  1. Lakukan perubahan diet makan. Kurangi asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, tetap konsumsi protein dalam jumlah cukup untuk mencegah penurunan massa otot (asupan protein yang disarankan bagi Ibu menyusui berkisar 65 gram/hari selama 6 bulan pertama dan 62 gram/hari untuk 6-12 bulan)
  2. Makan dalam porsi kecil tapi sering. Alihkan frekuensi makan 2-3 kali sehari menjadi 3 kali makan dengan porsi kecil dan cemilan sehat diantaranya.
  3. Olahraga. Dengan berolahraga Ibu akan membakar lebih banyak lemak sembari mempertahankan massa otot.

Bagi yang memerlukan daftar kalori makanan bisa menuju link berikut http://rudy-infokesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-kalori-makanan.html

Selamat Berdiet Sehat! 🙂 

 Referensi

  1. http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-weightloss.html
  2. http://www.llli.org/faq/lowcarb.html
0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‘rasa’ dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‘berlebih’ 🙂 )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf

0

Mungkinkah Menyusui Bayi yang Diadopsi?

Berikut kutipan status facebook seorang konselor laktasi:

“Seorg bayi yg hampir dibuang ibunya kemudian diambil orang & dirawat di RS PMI Bogor. Sebelum pulang DSA RS tsb meminta agar bayi tsb mulai disusui oleh ibu adopsinya. Setelah 1 mggu ibu adopsi tersebut mulai berhasil memproduksi ASI. Subhanallah!Ibu adopsi ini sama sekali belum pernah mempunyai seorang anak pun selama 7 tahun dia menikah.So semangat moms!U can do it!”

Cerita sama pernah kami dengar juga, namun sayangnya sumber kurang dapat dipertanggungjawabkan 🙂 yaitu tentang seorang nenek yang berhasil menyusui cucunya. Status diatas tentu mengundang banyak sekali komen, rata-rata menganggap itu suatu keajaiban. Namun benarkah hal itu sesuatu yang ajaib? Mungkinkan seorang wanita yang tidak pernah memiliki anak bisa menyusui bayi yang tidak ia kandung? Ternyata jawabannya: BISA! Berikut artikel dari situs Dr Jack Newman mengenai “keajaiban” ini.

Breastfeeding Your Adopted Baby or Baby Born by Surrogate/Gestational Carrier

You would like to breastfeed your adopted baby, or one born with a surrogate or gestational carrier? Wonderful! Not only is it possible, chances are you will produce a significant amount of milk. It is different, though, than breastfeeding a baby with whom you have been pregnant for many months. With some determination and perseverance, you will enjoy the wonderful bond that breastfeeding brings and both you and baby will benefit from this experience.

Breastfeeding and breastmilk

There are really two issues in breastfeeding the baby with whom you were not pregnant. The first is getting your baby to breastfeed. The other is producing breastmilk. It is important to set your expectations at a reasonable level because only a minority of women will be able to produce all the milk the baby will need. However, there is more to breastfeeding than breastmilk and many mothers are happy to be able to breastfeed without expecting to produce all the milk the baby will need. It is the special relationship, the special closeness, and the emotional attachment of breastfeeding that many mothers are looking for. As one adopting mother said, “I want to breastfeed. If the baby also gets breastmilk, that’s great”.

Getting the baby to take the breast

Although many people do not believe that the early introduction of bottles may interfere with breastfeeding, the early introduction of artificial nipples can indeed interfere. The sooner you can get the baby to the breast after he is born, the better. The more you can avoid the baby’s getting bottles before you start breastfeeding, the better. However, babies need flow from the breast in order to stay latched on and continue sucking, especially if they have gotten used to getting flow from a bottle or another method of feeding (cup, finger feeding). So, what can you do?

  1. Speak with the staff at the hospital where the baby will be born and let the head nurse and lactation consultant know you plan to breastfeed the baby. They should be willing to accommodate your desire to have the baby fed by cup or finger feeding, if you cannot have the baby to feed immediately after his birth. In fact, more and more frequently, arrangements have been made where you will be present at the birth of the baby and will be able to take the baby immediately to the breast. The earlier you start the better. This is a situation that should be discussed ahead of time with the woman giving birth and if there is a lawyer, speak with him or her as well.
  2. Keeping your new baby skin to skin with you, you naked from the waist up and baby naked except for the diaper, is very important at this time. It helps to establish the necessary exchange of sensory information between you and your baby and helps the baby stabilize several physiological and metabolic processes: maintenance of baby’s blood sugars, heart rate, breathing rate, blood pressure and oxygen saturation. At the same time, close contact between you and the baby results in the germ free baby (at birth) being colonized by the same germs as you. Furthermore, it helps baby to adapt to this new habitat while at the same time encourages him to breastfeed while helping you to make milk.
  3. Some birth mothers are willing to breastfeed the baby for the first few days. With adoption, there is some concern expressed by social workers and others that this will result in the biological mother’s changing her mind. This is possible, and you may not wish to take that risk. With surrogacy, this may set up some unexpected feeling of resentment and remorse between the surrogate and the biological mother. This is a theoretic possibility but it would be helpful if the birth mother did in fact breastfeed the baby thus helping the baby learn to breastfeed. It allows the baby to breastfeed, get colostrum, and not receive artificial feedings at first. Another option is to ask the woman who gave birth to express her milk for the first few weeks so you have breastmilk to supplement your own, using a lactation aid at the breast (see section ‘s’).
  4. Latching on well is even more important when the mother does not have a full milk supply as when she does. A good latch usually means painless feedings. A good latch means the baby will get more of your milk, whether your milk supply is abundant or minimal. (See the information sheet When Latching).
  5. If the baby does need to be supplemented, supplementation should be done with a lactation aidwhile the baby is on the breast and breastfeeding (See the information sheet Lactation Aid). Babies learn to breastfeed by breastfeeding, not cup feeding, finger feeding, or bottle feeding. Of course, you can use your previously expressed breastmilk to supplement. And if you can manage to get it, banked breastmilk is the second best supplement after your own milk. With a lactation aid used at the breast, the baby is still breastfeeding even while being supplemented; after all, isn’tbreastfeeding what you wanted for your baby?
  6. If you are having trouble getting the baby to take the breast, come to the clinic as soon as possible for help. In fact you should be followed by a lactation consultant or someone experienced in helping mothers with breastfeeding.

Producing Breastmilk

As soon as a baby is in sight, contact a breastfeeding clinic and start getting your milk supply ready. Please understand that you may never produce a full supply for your baby, though you may. You should not be discouraged by what you may be pumping before the baby is born, because a pump is never as good at extracting milk as a baby who is sucking well and well latched on. The main purpose of pumping before the baby is born is to draw milk out of your breast so that you will produce yet more milk, not only to build up a reserve of milk before the baby is born, though this is good if you can do it.

Using the medications discussed below in A. and B., helps to prepare your breasts to make milk. We are trying to make your body think you are pregnant. The medications are not an absolute requirement for you to produce milk, but they do help you make more.

A. Hormones—Oestrogen and Progesterone. If you know far enough in advance, say at least 3 or 4 months, treatment with a combination of oestrogen and progesterone will help prepare your breasts to produce milk. A birth control pill is one way of taking these hormones, but you skip the placebos (sugar pills for one week out of every four weeks) and go right to the next package; another way is to use oestrogen patches on the breast plus oral progesterone. Get information about this protocol from the clinic and see the Newman-Goldfarb Protocols for Induced Lactation at http://www.asklenore.info). We encourage you to take the hormones until about 6 weeks before the baby is to be born.
B. Domperidone. See the information sheets Domperidone, Getting Started and Domperidone, Stopping. The starting dose is 30 mg three times a day, but we have gone as high as 40 mg 4 times a day. The domperidone is continued when the hormones are stopped. Usually it is necessary to continue it for several months after you start breastfeeding. Check the information sheets for more information. Ask at the clinic.
C. Pumping. If you can manage it, rent an electric pump with a double setup. Pumping both breasts at the same time takes half the time, obviously, and also results in better milk production. Start pumping when you stop the birth control pill. Do what is possible. If twice a day is possible at first, do it twice a day. If once a day during the week, but 6 times during the weekend can be done, fine. Partners can help with nipple stimulation as well (See the information sheet Expressing Milk)

But will I produce all the milk the baby needs?

Maybe, maybe not. If you do not, breastfeed your baby anyhow, and allow yourself and him to enjoy the special relationship that it brings. In any case, some breastmilk is better than none.

Very Important: If you decide to take the medications (the hormones and/or the domperidone), your family doctor must be aware of what you are taking and why. It is very important to have a physical and have your blood pressure checked before starting the protocols. Significant side effects have been rare, but that does not mean they cannot happen. Your doctor needs to be following you, and once the baby is with you, your baby’s doctor needs to know that you are breastfeeding him and needs to follow the baby’s progress just as s/he would any other baby.

0

Kesalahpahaman Umum Dalam Menyusui (Produksi ASI)

    Jika Ibu menyusui bayi secara eksklusif dan berat badan bayi normal sudah jelas produksi atau persediaan ASI Ibu lebih dari cukup. Setiap satu kali persusuan, bayi hanya mengambil kurang lebih 75% ASI dalam payudara. Berarti, lebih banyak ASI yang tersedia daripada yang diperlukan Ibu. Namun demikian, banyak Ibu yang masih saja merasa khawatir. Mengapa? Kekhawatiran Ibu tentang produksi ASI mereka seringkali merefleksikan kebingungan tentang bagaimana proses menyusui yang normal. Ada dua kategori yang biasanya menjadi sumber kekhawatiran Ibu, yang berasal dari bayi dan dari Ibu sendiri.

Faktor dari Bayi

Karena saat ini banyak Ibu yang sedikit terpapar (menyaksikan/mengamati) proses menyusui yang normal, para Ibu seringkali salah mengartikan perilaku bayi seperti di bawah ini sebagai  tanda ASI mereka tidak cukup:

  • Bayi tampaknya lebih cepat lapar dari harapan mereka (sesuaikan harapan Ibu)
  • Bayi lebih sering menyusu dan dan/atau lebih lama menyusunya (hal yang normal pada saat growth spurts).
  • Bayi tiba-tiba menyusu dalam waktu yang lebih pendek (bayi semakin pintar)
  • Bayi rewel (hampir semua bayi – tidak peduli bagaimana mereka diberi makan/susu – memiliki fase rewel seperti tumbuh gigi, kolik, dan lain-lain)

     Untuk mengetahui apakah produksi ASI mereka cukup, beberapa Ibu terkadang mengujinya dengan memberikan ASI melalui botol. Dalam benak mereka, jika bayi bersedia minum dari botol berarti produksi ASI mereka berkurang. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bayi akan tetap minum dari botol walaupun ia sudah cukup minum ASI. Hal ini dikarenakan aliran dari dot botol yang lebih lancar. Tindakan ini justru membuat bayi kelebihan ‘makan’ (overfed).

Faktor dari Ibu sendiri

     Ibu juga merasa khawatir produksi ASInya tidak cukup manakala mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Padahal, perlu diingat, hal ini merupakan petunjuk yang salah:

  • Payudara tampaknya menjadi lebih lunak
  • ASI jarang merembes (faktanya beberapa Ibu bahkan tidak pernah menetes sama sekali, yang lain berhenti merembes dengan sendirinya).
  • Tidak merasakan aliran ASI atau adanya let down reflex (hal ini dapat terjadi tanpa disadari).
  • Tidak dapat memerah ASI yang cukup (Memerah ASI merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari bukan untuk menguji cukup tidaknya produksi ASI).

Strategi yang Kontraproduktif

   Akibat kesalahpahaman diatas muncul beberapa strategi atau tips yang direkomendasikan buat para Ibu. Sayangnya strategi ini justru kontraproduktif, contohnya:

  • Menunggu payudara terisi penuh sebelum disusukan (payudara yang penuh justru membuat produksi ASI melambat)
  • Jadwal menyusui yang seragam atau One-size-fits-all (karena payudara dapat berbeda kapasitasnya – besar atau kecil – berarti ritme menyusui yang sama tidak berlaku untuk semua Ibu dan bayinya)
  • Mengukur produksi ASI dengan cara memerah atau memompanya bukannya langsung disusukan (memerah ASI sekali lagi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari. Selain itu tim Hartmann menemukan 10 persen Ibu yang bayinya menyusu dengan sangat baik bahkan tidak dapat memerah ASInya sendiri dengan efektif [Mitoulas, dkk, 2002])

Apa Saja Yang Dipikir Dapat Mempengaruhi Produksi ASI (Padahal Sebenarnya Tidak)

      Kesalahpahaman mengenai produksi ASI tidak hanya menimpa Ibu-ibu, tetapi juga para profesional kesehatan. Ketika para Ibu menyusui meminta nasehat apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI, berikut nasehat yang biasanya diberikan:

  • Minum lebih banyak cairan
  • Makan makanan yang lebih bergizi
  • Lebih banyak istirahat

        Kecuali dalam kondisi ekstrim, saran diatas terbukti hanya sedikit atau sama sekali tidak berpengaruh pada persediaan ASI.

Minum Lebih Banyak Cairan. Saran ini biasanya respon pertama ketika Ibu berniat meningkatkan persediaan ASInya. Hal ini masuk akal mengingat Ibu kehilangan cairan melalui ASI yang disedot sekitar 1 liter per hari. Namun demikian, riset membuktikan tidak ada hubungan antara asupan cairan dengan supply ASI. Bahkan, salah satu studi menemukan ketika Ibu di’paksa’ minum cairan lebih banyak justru produksi ASI mereka menurun! (Dusdieker, dkk, 1985). Jadi sejauh ini rekomendasi buat para Ibu menyusui adalah minum ketika haus

Makan Makanan yang Bergizi Seimbang (Diet Lebih Baik). Tentu saja bagus buat para Ibu menyusui makan dengan gizi seimbang atau memiliki pola diet yang baik. Jika Ibu makan dengan baik, dia akan merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi dan ketahanan terhadap penyakit. Hal ini memang sebaiknya dilakukan para Ibu menyusui (dan siapapun). Namun, makan dengan gizi seimbang tidak sama dengan meningkatkan produksi ASI. Tubuh Ibu sendiri sudah diciptakan untuk melayani bayinya dahulu baru sang Ibu. Penelitian di negara berkembang menunjukkan setelah tiga minggu atau lebih terpapar kondisi serba kekurangan (kelaparan misalnya) barulah kuantitas atau kualitas ASI terpengaruh (Prentice, dkk, 1983). Sedangkan di negara-negara maju, memperbaiki pola diet Ibu juga memiliki pengaruh yang sedikit atau tidak sama sekali kecuali pada Ibu yang kondisinya sangat miskin atau memiliki kelainan pola makan.


 Lebih Banyak Istirahat. Sama halnya dengan pola diet seimbang, istirahat yang cukup menjadi nilai tambah bagi energi dan ketahanan terhadap penyakit, tetapi tidak ada hubungan antara lama istirahat dengan produksi ASI.

      Banyak diantara para Ibu mengira dengan melakukan tiga hal diatas telah melakukan segalanya untuk meningkatkan produksi ASI. Akibatnya, ketika usaha tersebut tidak membuahkan hasil, mereka menyerah dan mulailah berganti ke susu formula. Kerugian lainnya adalah Ibu-ibu ini telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki nutrisi dan istirahat mereka yang jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki teknik menyusui mereka dan meningkatkan frekuensi penyusuan.

Disarikan oleh Auditya dari:

Nancy Mohrbacher, IBCLC & Kathleen Kendall-Tackett, PhD, IBCLC., 2005.  Common Misconception – Meeting Your Long-Term Breastfeeding, pp 131-134 “Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers”, New Harbinger Publication, Canada

Dengan tambahan referensi

  • Dusdieker LB, dkk, 1985. Effect of supplemental fluids on human milk production. Journal of Pediatrics Feb;106(2):207-11.
  • Mitoulas, L, dkk. 2002. Efficacy of breast milk expression using an electric breast pump. Journal of Human Lactation. 18:344-351
  • Prentice, dkk. 1983. Dietary of Supplemental Lactating Gambian Women. Effect in breast milk volume and quality. Human Nutrition: Clinical Nutrition 37C:53-64
0

Mogok Menyusu (Nursing Strikes)


Ibu pernah mengalami si buah hati yang selama ini full diberi ASI tiba-tiba tidak mau menyusu? Jika si kecil usianya kurang dari satu tahun dan belum banyak asupan makanan padat atau minum dari cangkir (gelas), tampaknya bayi Ibu mengalami apa yang disebut mogok menyusu (nursing strikes). Menghadapi bayi yang tiba-tiba mogok ini, Ibu tidak perlu panik. Langkah pertama, tetaplah bersikap tenang, lalu kenali penyebabnya agar lebih mudah mencari solusinya. Beberapa penyebab umum bayi menolak menyusu adalah

  • Rasa nyeri karena mau tumbuh gigi, adanya luka, infeksi jamur
  • Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit ketika menyusu
  • Rasa sakit akibat posisi badan ketika menyusu, mungkin karena imunisasi atau luka di badan
  • Bayi terlalu sering diberi botol, empeng atau sering menghisap jempol yang biasanya diikuti penurunan produksi ASI
  • Gangguan selama menyusui
  • Si kecil cukup lama berpisah dari Ibu

 Perlu disadari, beberapa tindakan/perilaku Ibu juga ber’peran’ membuat si kecil mogok, diantaranya:

  • Reaksi kaget (yang berlebihan misal berteriak) akibat gigitan si kecil
  • Perubahan rutinitas (misal pindah rumah, bepergian)
  • Membatasi atau terlalu berpatokan pada jadwal menyusui
  • Stimulasi yang berlebihan, stres, atau tekanan pada Ibu
  • Berulangkali melepaskan diri ketika si kecil ingin menyusu atau membiarkan si kecil menangis
  • Walaupun kurang umum, sensitivitas si kecil terhadap makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi Ibu ataupun yang ia konsumsi sendiri (termasuk suplemen vitamin, mineral, produk-produk olahan dari susu sapi, kafein) dapat menyebabkan mogok menyusu. Hal ini berlaku pula bila puting Ibu dioleskan semacam krim yang mengubah rasa ASI. Bahkan bau badan Ibu yang berubah mungkin karena penggunaan produk semacam shampo, parfum, sabun cuci baju, bisa menjadi faktor penyebab pula.

Apapun penyebabnya, masalah ini sungguh tidak mengenakkan baik buat si Ibu maupun bayinya. Bayi menjadi rewel dan tidak happy sedangkan sang Ibu umumnya merasa sangat sedih dan khawatir. Ibu juga merasa bersalah dan bahkan frustasi karena beranggapan jangan-jangan dia telah melakukan hal yang salah atau tidak semestinya.

Bagaimana agar bayi mau kembali menyusu? Kunci utamanya adalah sabar dan telaten. Tindakan berikut dapat membantu mengatasi mogok menyusu:

  1. Cobalah susui si kecil saat ia mengantuk atau menjelang tidur. Banyak bayi yang menolak menyusu ketika keadaan bangun akan kembali menyusu saat mengantuk
  2. Coba beberapa variasi posisi menyusui. Terkadang menyusui sambil berbaring juga membantu
  3. Susuilah si kecil sambil diayun atau berjalan-jalan.
  4. Pilihlah tempat menyusui yang bebas gangguan. Beberapa bayi khususnya yang berusia 3 bulan ke atas mudah terganggu. Matikan radio, tv atau redupkan lampu ruangan akan membantu anak mau menyusu.
  5. Berikan perhatian ekstra utk si kecil dan lakukan lebih banyak skin-to-skin contact. Sering mengelus anak akan membuat ibu dan anak nyaman.
  6. Sering-seringlah menggendong si kecil dengan sling atau carrier diantara waktu menyusu juga dapat membantu.

      Selama Ibu berusaha membujuk anak yang mogok, Ibu perlu menjaga produksi ASI dengan cara memerasnya atau memompanya. Hal ini akan mengurangi resiko pembengkakan dan saluran tersumbat (engorgement, mastitis) selain menjaga produksi ASI tetap optimal saat nanti anak berhenti dari mogoknya. Agar nutrisi bayi terpenuhi, ASI yang diperah diberikan pada si kecil. Pemberian dengan botol amat tidak disarankan selama masa mogok ini. Lihat artikel pemberian ASI perah (ASIP) untuk cara pemberian yang disarankan. Ibu perlu juga memperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika si kecil pipis sebanyak 6-8 kali selama 24 jam, maka asupan cairan yang diperolehnya dikatakan cukup.

Referensi

0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi