0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‘rasa’ dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‘berlebih’ 🙂 )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf

Advertisements
0

Kesalahpahaman Umum Dalam Menyusui (Produksi ASI)

    Jika Ibu menyusui bayi secara eksklusif dan berat badan bayi normal sudah jelas produksi atau persediaan ASI Ibu lebih dari cukup. Setiap satu kali persusuan, bayi hanya mengambil kurang lebih 75% ASI dalam payudara. Berarti, lebih banyak ASI yang tersedia daripada yang diperlukan Ibu. Namun demikian, banyak Ibu yang masih saja merasa khawatir. Mengapa? Kekhawatiran Ibu tentang produksi ASI mereka seringkali merefleksikan kebingungan tentang bagaimana proses menyusui yang normal. Ada dua kategori yang biasanya menjadi sumber kekhawatiran Ibu, yang berasal dari bayi dan dari Ibu sendiri.

Faktor dari Bayi

Karena saat ini banyak Ibu yang sedikit terpapar (menyaksikan/mengamati) proses menyusui yang normal, para Ibu seringkali salah mengartikan perilaku bayi seperti di bawah ini sebagai  tanda ASI mereka tidak cukup:

  • Bayi tampaknya lebih cepat lapar dari harapan mereka (sesuaikan harapan Ibu)
  • Bayi lebih sering menyusu dan dan/atau lebih lama menyusunya (hal yang normal pada saat growth spurts).
  • Bayi tiba-tiba menyusu dalam waktu yang lebih pendek (bayi semakin pintar)
  • Bayi rewel (hampir semua bayi – tidak peduli bagaimana mereka diberi makan/susu – memiliki fase rewel seperti tumbuh gigi, kolik, dan lain-lain)

     Untuk mengetahui apakah produksi ASI mereka cukup, beberapa Ibu terkadang mengujinya dengan memberikan ASI melalui botol. Dalam benak mereka, jika bayi bersedia minum dari botol berarti produksi ASI mereka berkurang. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bayi akan tetap minum dari botol walaupun ia sudah cukup minum ASI. Hal ini dikarenakan aliran dari dot botol yang lebih lancar. Tindakan ini justru membuat bayi kelebihan ‘makan’ (overfed).

Faktor dari Ibu sendiri

     Ibu juga merasa khawatir produksi ASInya tidak cukup manakala mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Padahal, perlu diingat, hal ini merupakan petunjuk yang salah:

  • Payudara tampaknya menjadi lebih lunak
  • ASI jarang merembes (faktanya beberapa Ibu bahkan tidak pernah menetes sama sekali, yang lain berhenti merembes dengan sendirinya).
  • Tidak merasakan aliran ASI atau adanya let down reflex (hal ini dapat terjadi tanpa disadari).
  • Tidak dapat memerah ASI yang cukup (Memerah ASI merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari bukan untuk menguji cukup tidaknya produksi ASI).

Strategi yang Kontraproduktif

   Akibat kesalahpahaman diatas muncul beberapa strategi atau tips yang direkomendasikan buat para Ibu. Sayangnya strategi ini justru kontraproduktif, contohnya:

  • Menunggu payudara terisi penuh sebelum disusukan (payudara yang penuh justru membuat produksi ASI melambat)
  • Jadwal menyusui yang seragam atau One-size-fits-all (karena payudara dapat berbeda kapasitasnya – besar atau kecil – berarti ritme menyusui yang sama tidak berlaku untuk semua Ibu dan bayinya)
  • Mengukur produksi ASI dengan cara memerah atau memompanya bukannya langsung disusukan (memerah ASI sekali lagi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari. Selain itu tim Hartmann menemukan 10 persen Ibu yang bayinya menyusu dengan sangat baik bahkan tidak dapat memerah ASInya sendiri dengan efektif [Mitoulas, dkk, 2002])

Apa Saja Yang Dipikir Dapat Mempengaruhi Produksi ASI (Padahal Sebenarnya Tidak)

      Kesalahpahaman mengenai produksi ASI tidak hanya menimpa Ibu-ibu, tetapi juga para profesional kesehatan. Ketika para Ibu menyusui meminta nasehat apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI, berikut nasehat yang biasanya diberikan:

  • Minum lebih banyak cairan
  • Makan makanan yang lebih bergizi
  • Lebih banyak istirahat

        Kecuali dalam kondisi ekstrim, saran diatas terbukti hanya sedikit atau sama sekali tidak berpengaruh pada persediaan ASI.

Minum Lebih Banyak Cairan. Saran ini biasanya respon pertama ketika Ibu berniat meningkatkan persediaan ASInya. Hal ini masuk akal mengingat Ibu kehilangan cairan melalui ASI yang disedot sekitar 1 liter per hari. Namun demikian, riset membuktikan tidak ada hubungan antara asupan cairan dengan supply ASI. Bahkan, salah satu studi menemukan ketika Ibu di’paksa’ minum cairan lebih banyak justru produksi ASI mereka menurun! (Dusdieker, dkk, 1985). Jadi sejauh ini rekomendasi buat para Ibu menyusui adalah minum ketika haus

Makan Makanan yang Bergizi Seimbang (Diet Lebih Baik). Tentu saja bagus buat para Ibu menyusui makan dengan gizi seimbang atau memiliki pola diet yang baik. Jika Ibu makan dengan baik, dia akan merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi dan ketahanan terhadap penyakit. Hal ini memang sebaiknya dilakukan para Ibu menyusui (dan siapapun). Namun, makan dengan gizi seimbang tidak sama dengan meningkatkan produksi ASI. Tubuh Ibu sendiri sudah diciptakan untuk melayani bayinya dahulu baru sang Ibu. Penelitian di negara berkembang menunjukkan setelah tiga minggu atau lebih terpapar kondisi serba kekurangan (kelaparan misalnya) barulah kuantitas atau kualitas ASI terpengaruh (Prentice, dkk, 1983). Sedangkan di negara-negara maju, memperbaiki pola diet Ibu juga memiliki pengaruh yang sedikit atau tidak sama sekali kecuali pada Ibu yang kondisinya sangat miskin atau memiliki kelainan pola makan.


 Lebih Banyak Istirahat. Sama halnya dengan pola diet seimbang, istirahat yang cukup menjadi nilai tambah bagi energi dan ketahanan terhadap penyakit, tetapi tidak ada hubungan antara lama istirahat dengan produksi ASI.

      Banyak diantara para Ibu mengira dengan melakukan tiga hal diatas telah melakukan segalanya untuk meningkatkan produksi ASI. Akibatnya, ketika usaha tersebut tidak membuahkan hasil, mereka menyerah dan mulailah berganti ke susu formula. Kerugian lainnya adalah Ibu-ibu ini telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki nutrisi dan istirahat mereka yang jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki teknik menyusui mereka dan meningkatkan frekuensi penyusuan.

Disarikan oleh Auditya dari:

Nancy Mohrbacher, IBCLC & Kathleen Kendall-Tackett, PhD, IBCLC., 2005.  Common Misconception – Meeting Your Long-Term Breastfeeding, pp 131-134 “Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers”, New Harbinger Publication, Canada

Dengan tambahan referensi

  • Dusdieker LB, dkk, 1985. Effect of supplemental fluids on human milk production. Journal of Pediatrics Feb;106(2):207-11.
  • Mitoulas, L, dkk. 2002. Efficacy of breast milk expression using an electric breast pump. Journal of Human Lactation. 18:344-351
  • Prentice, dkk. 1983. Dietary of Supplemental Lactating Gambian Women. Effect in breast milk volume and quality. Human Nutrition: Clinical Nutrition 37C:53-64
0

Kapan Anak Dikatakan Tumbuh? Memahami Secara Sederhana Kurva Pertumbuhan Berdasarkan Berat Badan

      Salah satu parameter utama menilai apakah bayi mendapatkan cukup ASI adalah dengan mengamati pertumbuhan bayi melalui pertambahan berat badannya. Oleh karenanya setiap bulan (bahkan 1 atau 2 minggu sekali dalam bulan pertama), Ibu disarankan mengukur pertumbuhan fisik bayi termasuk menimbang berat badan, mengukur panjang badan dan lingkar kepala. Walaupun Ibu dapat bertanya pada petugas kesehatan mengenai status pertumbuhan sang buah hati, tidak salah bukan jika Ibu belajar memahami kurva pertumbuhan bayi? Biasanya informasi ini diberikan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Sebagai informasi, sejak tahun 2008 KMS balita yang digunakan di Indonesia berdasarkan Standar Antropometri WHO 2005 (Untuk data antropometri terbaru 2006 bisa buka link dari WHO atau CDC ini) . Dalam KMS terdapat jalur-jalur warna yang mewujudkan pola pertumbuhan  anak tersebut. Pada prinsipnya setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan sendiri-sendiri namun polanya tetap sama.

           Berdasarkan informasi dari KMS, Ibu dapat mengetahui indeks berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan menggambarkan masa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti keadaan sakit infeksi, penurunan nafsu makan atau penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Untuk mengetahui pertumbuhan anak diperlukan minimal 3 kali pengukuran. Bisa saja berpatokan pada 2 kali pengukuran namun ini tidak ideal. Berbeda dengan status gizi yang bisa ditentukan secara on the spot atau 1 kali pengukuran (akan dibahas pada artikel selanjutnya). Jadi intinya yang disebut tumbuh tidak bisa hanya melihat asal berat badan naik saja. Pertumbuhan tersebut mungkin akan tergambar sebagai salah satu tiga garis lengkung berikut, yaitu:

  1. Garis berat badan yang menanjak dengan keterangan teruskan dibulan berikutnya, menyatakan bahwa anak tumbuh baik dan sehat.
  2. Garis berat badan yang cenderung rata selama dua bulan, atau menanjak tetapi tidak mengikuti pola pertumbuhan pada KMS, menyatakan bahwa anak kurang mendapat makanan yang memadai, seperti lebih banyak makanan selama bulan berikutnya.
  3. Garis berat badan yang menurun menyatakan bahwa ibu harus mencari nasihat khusus dan memastikan bahwa anak balita tidak sakit, harus diberikan makanan dan gizi tambahan selama bulan berikutnya. Catatan: Pada bulan-bulan pertama  pertumbuhan berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif mungkin saja berjalan lambat. Hal ini bisa diatasi  dengan memperbaiki proses menyusui tersebut (lihat artikel terkait ini). Dengan (mencari) bantuan yang tepat, proses penyusuan dapat terus dilanjutkan tanpa pemberian susu formula

Gambar 1. Pertumbuhan Normal

            Jika kurva pertumbuhan anak mengikuti pola seperti gambar diatas (warna biru) dikatakan pertumbuhan normal walaupun kenaikan berat badan selalu berada pada area kuning. Pertumbuhan dikatakan normal atau baik jika berat badan, panjang (tinggi) badan, dan lingkar kepala naik pada pengukuran berikutnya. Khusus untuk berat badan lebih tepatnya jika:

  • Berada pada pita warna yang sama dengan bulan lalu
  • Atau naik sedikit pada pita warna diatasnya.
  • Prinsip dasarnya adalah usahakan pertumbuhan berada pada pita yang sama.

Gambar 2. Pertumbuhan Terganggu

           Kurva merah pada gambar 2 menunjukkan pertumbuhan yang terganggu walaupun tampak ada kenaikan berat badan. Dapat pula dikatakan anak tidak tumbuh. Pada pola seperti ini jika pada pengukuran bulan berikutnya berat badan masih menurun dan bahkan masuk area kuning anak dikatakan gagal tumbuh (failure to thrive), Ibu harus segera konsultasi pada dokter spesialis anak.

Gambar 3. Berat Badan Tidak Naik

Sedangkan berat badan  tidak naik sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 3 yaitu

  1. Garis pertumbuhan menurun, atau lebih rendah dari bulan lalu
  2. Garis pertumbuhan mendatar, atau sama dengan bulan lalu
  3. Garis pertumbuhan naik, tetapi pindah ke pita warna di bawahnya

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita
  • Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Dasar, Departemen Kesehatan RI, 2005
0

Mogok Menyusu (Nursing Strikes)


Ibu pernah mengalami si buah hati yang selama ini full diberi ASI tiba-tiba tidak mau menyusu? Jika si kecil usianya kurang dari satu tahun dan belum banyak asupan makanan padat atau minum dari cangkir (gelas), tampaknya bayi Ibu mengalami apa yang disebut mogok menyusu (nursing strikes). Menghadapi bayi yang tiba-tiba mogok ini, Ibu tidak perlu panik. Langkah pertama, tetaplah bersikap tenang, lalu kenali penyebabnya agar lebih mudah mencari solusinya. Beberapa penyebab umum bayi menolak menyusu adalah

  • Rasa nyeri karena mau tumbuh gigi, adanya luka, infeksi jamur
  • Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit ketika menyusu
  • Rasa sakit akibat posisi badan ketika menyusu, mungkin karena imunisasi atau luka di badan
  • Bayi terlalu sering diberi botol, empeng atau sering menghisap jempol yang biasanya diikuti penurunan produksi ASI
  • Gangguan selama menyusui
  • Si kecil cukup lama berpisah dari Ibu

 Perlu disadari, beberapa tindakan/perilaku Ibu juga ber’peran’ membuat si kecil mogok, diantaranya:

  • Reaksi kaget (yang berlebihan misal berteriak) akibat gigitan si kecil
  • Perubahan rutinitas (misal pindah rumah, bepergian)
  • Membatasi atau terlalu berpatokan pada jadwal menyusui
  • Stimulasi yang berlebihan, stres, atau tekanan pada Ibu
  • Berulangkali melepaskan diri ketika si kecil ingin menyusu atau membiarkan si kecil menangis
  • Walaupun kurang umum, sensitivitas si kecil terhadap makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi Ibu ataupun yang ia konsumsi sendiri (termasuk suplemen vitamin, mineral, produk-produk olahan dari susu sapi, kafein) dapat menyebabkan mogok menyusu. Hal ini berlaku pula bila puting Ibu dioleskan semacam krim yang mengubah rasa ASI. Bahkan bau badan Ibu yang berubah mungkin karena penggunaan produk semacam shampo, parfum, sabun cuci baju, bisa menjadi faktor penyebab pula.

Apapun penyebabnya, masalah ini sungguh tidak mengenakkan baik buat si Ibu maupun bayinya. Bayi menjadi rewel dan tidak happy sedangkan sang Ibu umumnya merasa sangat sedih dan khawatir. Ibu juga merasa bersalah dan bahkan frustasi karena beranggapan jangan-jangan dia telah melakukan hal yang salah atau tidak semestinya.

Bagaimana agar bayi mau kembali menyusu? Kunci utamanya adalah sabar dan telaten. Tindakan berikut dapat membantu mengatasi mogok menyusu:

  1. Cobalah susui si kecil saat ia mengantuk atau menjelang tidur. Banyak bayi yang menolak menyusu ketika keadaan bangun akan kembali menyusu saat mengantuk
  2. Coba beberapa variasi posisi menyusui. Terkadang menyusui sambil berbaring juga membantu
  3. Susuilah si kecil sambil diayun atau berjalan-jalan.
  4. Pilihlah tempat menyusui yang bebas gangguan. Beberapa bayi khususnya yang berusia 3 bulan ke atas mudah terganggu. Matikan radio, tv atau redupkan lampu ruangan akan membantu anak mau menyusu.
  5. Berikan perhatian ekstra utk si kecil dan lakukan lebih banyak skin-to-skin contact. Sering mengelus anak akan membuat ibu dan anak nyaman.
  6. Sering-seringlah menggendong si kecil dengan sling atau carrier diantara waktu menyusu juga dapat membantu.

      Selama Ibu berusaha membujuk anak yang mogok, Ibu perlu menjaga produksi ASI dengan cara memerasnya atau memompanya. Hal ini akan mengurangi resiko pembengkakan dan saluran tersumbat (engorgement, mastitis) selain menjaga produksi ASI tetap optimal saat nanti anak berhenti dari mogoknya. Agar nutrisi bayi terpenuhi, ASI yang diperah diberikan pada si kecil. Pemberian dengan botol amat tidak disarankan selama masa mogok ini. Lihat artikel pemberian ASI perah (ASIP) untuk cara pemberian yang disarankan. Ibu perlu juga memperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika si kecil pipis sebanyak 6-8 kali selama 24 jam, maka asupan cairan yang diperolehnya dikatakan cukup.

Referensi

0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi

4

Produksi ASI Terlalu Banyak – Hindari Resiko Bayi Bayi Tersedak

Dalam proses menyusui, kebanyakan para Ibu merasa khawatir produksi ASInya terlampau sedikit sehingga bayinya kurang gizi. Tapi ada juga ibu yang bingung karena produksi ASI-nya berlimpah (hiperlaktasi). Bahkan dengan refleks pengaliran air susu yang ringan saja, ASI sudah memancar dengan deras. Walaupun produksi ASI yang melimpah lebih baik dibandingkan sebaliknya, namun terkadang produksi terkadang hal ini dapat menimbulkan kesukaran tersendiri bagi Ibu. Bayi akan merasa kurang nyaman dengan derasnya ASI sehingga dapat membuat bayi tersedak atau muntah ketika menyusu. Akibatnya bayi menarik diri dari payudara Ibu, atau menghisap (mengempit) puting saja, dan bahkan enggan menyusu. 

Mengapa produksi ASI tiap ibu berbeda-beda? Masalah ASI berlimpah atau hiperlaktasi ini diduga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Antusiasme ibu. Bila dialami pada minggu-minggu pertama masa menyusui, maka hiperlaktasi bisa terjadi karena antusiasme tubuh ibu untuk menghasilkan susu sebanyak mungkin. Dalam waktu kurang lebih 6 – 10 minggu, tubuh ibu pun akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.
  • Alveoli banyak. Hiperlaktasi yang terjadi terus menerus bisa disebabkan karena ibu memiliki banyak alveoli (kelenjar yang memproduksi ASI) dalam payudaranya.
  • Ketidakseimbangan hormon. Masalah hiperlaktasi juga dapat disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormon ibu atau adanya tumor pada kelenjar pituitari (kelenjar yang terletak di bawah otak dan menghasilkan banyak hormon).

Beberapa tanda Ibu berlimpah produksi ASI adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan berat badan bayi lebih dari 2 pounds (907 gram) per bulan
  • Bayi tampak kesulitan dengan aliran ASI Ibu sehingga sering tersedak, tertahan napasnya, atau tergagap-gagap mulutnya kala menyusu
  • Bayi sering kentut dan pup nya tampak berbuih atau bersifat eksplosif

Namun demikian, Ibu jangan khawatir, ada kiat-kiat mengatasinya.

  • Sebelum mulai menyusui, perahlah sedikit ASI. Tujuannya untuk memperlambat aliran ASI. Namun jumlah ASI yang diperah sebaiknya tidak terlalu banyak, dan jangan melakukannya diantara dua waktu menyusui. Semakin banyak ASI yang Anda perah dan semakin sering Anda merangsang payudara, maka semakin banyak tubuh Anda memproduksi ASI.
  • Gunakan satu payudara untuk menyusui lebih dari satu kali susuan. Ibu dapat menggunakan satu sisi payudara untuk disusukan sebanyak 2-3 kali berturutan dan memompa payudara sebelahnya agar merasa lebih nyaman.
  • Cobalah beberapa posisi menyusui yang berbeda-beda. Posisi menyusui yang biasanya sesuai untuk adalah posisi ibu setengah tidur dan bayi ditengkurapkan di dada ibunya. Bayi bisa pula diposisikan seperti duduk pada paha Ibu menghadap payudara Ibu. Dalam dua posisi ini, gaya gravitasi akan memperlambat aliran ASI. Posisi sambil tiduran menyamping juga dapat membantu mengurangi derasnya aliran ASI
  • Frekuensi menyusu yang lebih sering dapat membantu mengatasi hal ini karena lebih sedikit ASI yang tersedia dalam setiap kali pemberian.

Untuk mengurangi produksi ASI, Anda dapat melakukannya dengan menyisakan ASI di dalam payudara. Caranya, upayakanlah agar bayi tidak terlalu lama menyusu. Seiring dengan berkurangnya jumlah ASI yang keluar dari payudara pada satu waktu menyusui, tubuh ibu pun akan mengurangi produksi ASI-nya.

Memang, upaya untuk mengurangi produksi ASI tersebut perlu waktu. Sementara itu, untuk mencegah baju Anda kotor karena ASI, gunakanlah breast pads dan baju atasan yang bermotif. Atau, tidak ada salahnya pula bila Anda mendonorkan kelebihan ASI Anda tersebut ke rumah sakit. Kelebihan ASI Anda akan sangat bermanfaat bagi banyak bayi lain.

Namun bila tidak ada satu cara pun yang berhasil pada Ibu dan dirasakan ini sangat mengganggu, segeralah konsultasi pada dokter atau konsultan laktasi. Hiperlaktasi mungkin membuat bayi sulit menyusu, namun hal ini tidak akan membahayakannya. Selain itu, kabar baiknya adalah tubuh Ibu memproduksi makanan dalam jumlah berlimpah, sehingga bayi dapat tumbuh kembang optimal.

Referensi

4

ASI dan Intolerasi Laktosa

Laktosa adalah “gula” yang diproduksi kelenjar payudara dan terdapat pada susu mamalia. Keberadaannya pada ASI tidak dipengaruhi apakah ibu mengkonsumsi susu atau tidak. Foremilk/ASI awal, yang keluar pada awal penyusuan, tidak memiliki kadar laktosa lebih banyak dibanding hindmilk/ASI akhir, perbedaannya hanya pada kandungan lemak yang lebih sedikit. Laktase adalah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa. Intoleransi laktosa terjadi pada seseorang yang tidak memproduksi enzim (atau produksinya tidak cukup banyak) sehingga tidak dapat mencerna laktosa.
Gejala intoleransi laktosa adalah tinja yang cair, bergumpal, serta kembung akibat banyak gas. Pemeriksaan ‘hydrogen breath test’ serta reduksi gula pada tinja akan positif pada kasus ini. Namun demikian, hal ini umum terjadi pada bayi usia dibawah tiga bulan. Beberapa kekeliruan tentang intoleransi laktosa yang berkembang:
  1. Laktosa pada ASI akan berkurang bila ibu berhenti mengkonsumsi produk susu
  2. Adanya anggota keluarga yang mengalami intoleransi berarti risiko bayi intoleransi laktosa lebih besar
  3. Bayi akan intoleransi laktosa bila ibunya juga
  4. Bayi yang mengalamai intoleransi laktosa perlu segera berhenti menyusu dan diganti dengan susu formula kedelai atau susu formula bebas laktosa
  5. Intoleransi laktosa sama dengan alergi protein susu sapi
Intoleransi Laktosa pada Bayi

Intoleransi laktosa primer adalah kondisi genetik yang sangat langka, dan memerlukan intervensi medis agar penderitanya dapat menjalani hidup secara normal. Bayi yang benar-benar intoleransi laktosa akan mengalami gagal tumbuh sejak lahir (tidak pernah mengalami kenaikan berat badan) serta menunjukkan tanda-tanda malabsorpsi serta dehidrasi – suatu kegawatdaruratan yang harus ditangani dalam beberapa saat setelah bayi lahir.
Intoleransi laktosa sekunder dapat terjadi akibat rusaknya lapisan usus. Enzim laktase diproduksi pada ujung jonjot usus, dan dapat lenyap bila permukaan usus mengalami kerusakan, misalnya pada :
  • gastroenteritis
  • intoleransi/alergi makanan (pada bayi yang mendapat ASI, dapat berasal dari protein makanan yang dikonsumsi ibu atau makanan pendamping ASI, misalnya susu sapi, kedelai atau telur)
  • coeliac disease (intoleransi terhadap gluten pada produk gandum)
  • setelah operasi saluran cerna
Sering kali terjadi salah persepsi bahwa alergi protein sapi dianggap sama dengan intoleransi laktosa. Sesungguhnya, persamaannya hanya satu hal, yaitu bersumber pada bahan pangan yang sama, yakni produk susu. Intoleransi laktosa sekunder bersifat sementara hingga kerusakan usus sembuh. Bila penyebab kerusakan diatasi, misalnya makanan yang menyebabkan alergi tidak lagi diberikan, maka usus akan sembuh, walaupun bayi tetap mengkonsumsi ASI. Bila seorang dokter mendiagnosis intoleransi laktosa, perlu dipahami bahwa hal ini tidak membahayakan selama bayi dapat tumbuh dengan normal.
Seringkali demi upaya mengatasi gejala secepat mungkin, jumlah konsumsi laktosa pada asupan dikurangi sementara waktu, khususnya bila bayi telah kekurangan berat badannya. Beberapa kalangan kemudian menganjurkan ibu memberikan tambahan susu formula bebas laktosa dan mengurangi menyusui.  Namun sebelum memperkenalkan produk makanan buatan, sangat penting diingat bagaimana sensitifitas bayi pada protein asing (sapi atau kedelai) karena sering kali memperburuk keadaan. Tidak ada bukti keuntungan menghentikan bayi menyusu. Pada kasus bayi pulih dari radang saluran cerna, rata-rata masa pemulihan dari usus selama empat hingga delapan minggu pada bayi usia dibawah tiga bulan, sementara bayi usia lebih dari 18 bulan masa pemulihannya bisa kurang dari seminggu.
Hendaknya hal-hal berikut menjadi pertimbangan sebelum menganjurkan bayi berhenti menyusu untuk sementara waktu:
·         Bagaimana efek pemberian makanan tambahan pada bayi ini kelak? Apakah dapat mengakibatkan bayi menolak menyusu di kemudian hari?
·         Seberapa mudahkah bagi ibu untuk memerah ASInya demi mempertahankan pasokan ASI?

Seorang ibu perlu memahami apa yang tengah terjadi, dan hendaknya tidak mengakibatkan rasa percaya dirinya untuk menyusui berkurang, karena ASInya sesungguhnya normal dan masih merupakan makanan terbaik untuk jangka waktu lama.

Beberapa tenaga kesehatan kadang memberikan enzim tetes untuk mengatasi intoleransi laktosa. Tidak ada bukti bahwa penggunaannya bermanfaat, karena perlu dicampurkan terlebih dahulu dalam susu dan dibiarkan semalam hingga enzim tersebut dapat mencerna laktosa dalam susu.
ASI sesungguhnya memiliki konsentasi laktosa yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada susu mamalia lain. Inilah sesungguhnya yang mengakibatkan pertumbuhan cepat otak bayi dibandingkan mamalia lainnya. Namun, perlu diingat bahwa struktur molekulnya lebih spesifik untuk spesiesnya, sehingga dapat dicerna oleh bayi. Menghilangkan asupan laktosa pada bayi (dengan memberikan susu formula khusus bebas laktosa) haruslah dengan pengawasan medis yang ketat.

Pasokan laktosa berlebihan
Pasokan laktosa berlebihan dapat menyerupai intoleransi laktosa, dan seringkali terjadi salah diagnosis. Hal ini sering terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI dalam jumlah banyak, misalnya pada keadaan ibu memiliki pasokan ASI sangat banyak (lihat artikel Produksi ASI Terlalu Banyak). Gejala yang nampak adalah bayi usia kurang dari tiga bulan mengalami kenaikan berat badan cukup hingga lebih, popok basah mencapai lebih dari sepuluh dalam 24 jam. Ironisnya, ibu mungkin menganggap pasokan ASInya kurang karena bayinya nampak selalu lapar.
Yang sesungguhnya terjadi adalah bayi mendapat pasokan dalam jumlah besar dengan kadar lemak rendah begitu cepatnya, sehingga tidak semua laktosa sempat dicerna. Akibatnya laktosa yang tiba di usus besar menarik air dalam volume besar dan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan tinja asam bergas dan bayi dapat mengalami ruam popok. Gas dalam usus naik dan mengakibatkan perut tidak nyaman, sehingga bayi nampak “lapar”. Satu-satunya cara bagi bayi untuk mendapat kenyamanan adalah dengan menyusu, yang membantu bayi mengurangi gas dari pencernaannya. Namun hal ini hanya dapat mengatasi masalahnya sementara waktu, karena ibunya akan kembali menyusui, dan menambah cairan dan gas dalam pencernaan. Akibatnya, ASI nampaknya lewat begitu cepat.
Bila masalah ini bertahan, sebaiknya dicari tahu penyebab pasokan ASI berlebih ini.
  • Apakah ibu membatasi lamanya bayi menyusu pada satu sisi?
  • Apakah sesuatu menyebabkan bayi gelisah sehingga ingin menyusu lebih sering dan pasokan menjadi berlebih?
  • Apakah terjadi intoleransi laktosa sekunder?
  • Apakah ibu cemas dengan pasokan ASInya sehingga melakukan stimulASI berlebih pada pasokan ASInya?
  • Apakah bayi tidak sehat-mungkin mengalami nyeri pasca persalinan sehingga mencari kenyamanan dengan menyusu lebih sering?
  • Mungkinkah hanya variasi normal pada ibu? Seringkali ibu dengan keadaan seperti ini kemudian menjadi ibu susu yang berhasil!
Kesimpulannya, ada beberapa jenis intoleransi laktosa, namun sangat langka bayi perlu berhenti menyusu akibat keadaan ini. Selalu ada penyebab intoleransi laktosa pada bayi, kecuali pada kasus intoleransi primer yang amat langka, cara terbaik mengatasi gejala ini adalah dengan mencari penyebab utamanya.

Artikel ini dapat didapat dari http://selasi.net/artikel/kliping-artikel/artikel-menyusui/225-asi-dan-intoleransi-laktosa.html