0

MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) — PANDUAN UNTUK ANAK NORMAL

9cRxXRgce“Anak adalah benteng masa depan, hanya bisa dibangun dengan kerja keras dan perencanaan yang matang”

“Jangan dibaca, bila Anda berharap tulisan ini seperti tips praktis, layaknya menu “shortcut” dalam smartphone Anda agar mempermudah pengoperasian cara pemberian makan dengan mudah”

PENDAHULUAN

MAKAN adalah cara makhluk hidup untuk mencukupi kebutuhan nutrisi. Setiap berbicara mengenai nutrisi tidak sekedar hanya agar “TUMBUH “ (bertambah berat dan tinggi) dan “BERKEMBANG” akan tetapi  juga “SEHAT”. Ketika mahkluk hidup lahir dengan kondisi normal, maka ia akan siap untuk makan, kemampuan makan akan berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Olah karena itu kita tidak akan mendapati mahkluk hidup mati kelaparan atau kurang gizi bila tersedia makanan di sekitar mereka. Begitupula kalo kita coba melihat kebelakang kehidupan manusia masa lalu. Oleh sebab itu, kewajiban orang tua untuk membangun pola asuh yang baik agar perkembangan kemampuan makannya optimal.

POLA ASUH, merupakan kegiatan tanpa henti. Orang tua tidak pernah berpikir kapan berhenti membimbing anak-anaknya. Keberhasilan pola asuh orang tua tidak bisa dinilai hanya dengan lulus sekolah atau menang perlombaan tetapi lebih dari itu. Bila kegiatan membangun pola makan yang sehat merupakan kegiatan tanpa henti, maka begitulah berhasil atau tidaknya kegiatan itu tidak bisa dinilai sesaat (perlu penilaian jangka panjang). Penilaian keberhasilannya pun tidak bisa sekedar dari kenaikan tinggi badan dan berat badan.

STRATEGI MEMBANGUN POLA MAKAN (10 ATURAN)
  1.  Niat dan Ikhlas. Semangat membangun pola makan di-niat-kan untuk kepentingan/kebutuhan nutrisi anak, bukan biar anak nampak lucu atau menggemaskan karena badannya montok. Ingat gemuk tidak identik dengan sehat, dan sebaliknya. Janganlah pemberian makanan pada anak dilakukan untuk menyenangkan orang lain (nenek, kakek, tante, tetangga, dll). Misalkan, bila nenek membelikan es krim pada anak Anda usia 16 bulan, jangan ragu untuk melarang walaupun menbuat sang nenek kecewa terhadap Anda, ikhlaskan itu semua untuk anak.
  2. Bukan sekedar makan. Makan bukan sekedar makan, tetapi membangun pola hidup yang sehat dan teratur. Bila Anda dengan mudah mentolerir kesalahan, maka yang terbangun adalah kesalahan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
  3. Jangan pernah merasa gagal, jadilah orang tua yang berbahagia. Bila Anda merasa gagal dalam tahapan pengenalan makanan, maka tidak mustahil anak Anda juga merasa gagal. Orang gagal hanya bisa menularkan kegagalanya pada orang lain. Berbahagialah, maka anak Anda akan berbahagia. Jadi ingatlah setiap “kegagalan” pada anak, merupakan manifestasi rasa putus asa (kegagalan) Anda. Bila Anda sedih, frustasi atau merasa lemah, usahakan hindari bertemu/berinteraksi dengan anak selama beberapa waktu. Banyak cara untuk memompa semangat Anda, misalnya dengan memgambil air wudhu dan sholat sunnah (bila Anda muslim).
  4. Makan bila lapar, minum bila haus. Beri  kesempatan anak untuk lapar maupun haus. Makanan akan terasa lezat bila lapar, minum akan terasa segar bila haus. Jangan berikan makanan sebagai hadiah atau cara untuk menenangkan kerewalan anak. Tidak memberikan makanan dalam bentuk apapun 2 jam sebelum makan adalah upaya untuk memberikan kesempatan rasa lapar itu muncul
  5. Makan dengan contoh. Anak akan belajar/mencontoh dari lingkungan. Mereka tidak tertarik untuk makan bila tidak pernah melihat kita makan. Pola makan sehat  (teratur, bergizi, seimbang) dari orang tua akan menular pada anak dan begitu pula sebaliknya. Selain orang tua, perhatikan pula pola makan yang dicontoh oleh orang sekitar (nenek, keponakan, saudara, acara televisi, dll). Bila Anda tidak ingin anak Anda makan permen, es krim atau camilan tidak sehat lainnya, janganlah Anda pernah mengijinkan anak Anda mendapatkanya baik lewat orang lain ataupun Anda sendiri, kecuali Anda dapat memberikan penjelasan dengan baik bahwa itu merupakan makan yang tidak sehat (biasanya setelah usia diatas 3-5 tahun).
  6. Bergembira dalam makan. Jadikanlah kegiatan makan sesuatu yang menyenangkan. Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk anak normal, sistem tubuhnya tidak akan membiarkan dirinya mati kelaparan. Banyak cara untuk membuat kegiatan makan menjadi sesuatu yang menyenangkan, berkreasilah.
  7. Hidup ini penuh dengan godaan. Terlalu banyak junk food disekitar kita, mengoda dengan bentuk dan warnanya. Junk food ini sangat atraktif merayu lewat berbagai media, sekuat apapun Anda membentengi anak Anda, tetap saja bisa kalah kalo Anda tidak berusaha menhindari dan melawan rayuan mereka. TV merupakan musuh bebuyutan bagi tumbuh kembang anak. Ingat! Bila Anda tidak bisa mengendalikan, maka menghindari akan lebih baik.
  8. Bila gagal, cobalah lagi. Kemampuan makan tergantung pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk dapat mandiri dalam makan akan membutuhkan kemampuan motorik halus dan kasar yang cukup disamping kemampuan kognitif. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap, dan perlu latihan untuk meningkatkan kemampuanaya. Untuk belajar jalan, anak beberapa kali jatuh, pun begitulah aktivitas/kemampuan yang lain termasuk makan.
  9. Kenali suka dan tidak suka. Kecenderungan anak untuk menolak makanan baru, cobalah beberapa kali, sebelum memutuskan bahwa anak tidak suka makanan tersebut. Pemahaman tentang kesukaan terhadap jenis-jenis makanan akan memudahkan kita untuk menyajikan makanan
  10. Tetaplah berpikiran luas. Tetaplah berpikiran luas. Bagaimanapun juga membangun pola anak bukan sekedar episode tetapi keseluruhan cerita kehidupan anak. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat. Piramada Giza tidak dibuat dari satu sisi saja dan tidak pula satu hari, begitulah piramida makanan.

Sepuluh aturan tersebut akan selalu mewarnai langkah-langkah kita dalam membangun pola makan yang baik.

 KAPAN MULAI MAKAN PADAT

Proses makan terjadi sejak didalam kandungan melalui plasenta. Begitu bayi itu lahir proses ini digantikan oleh asupan makanan melalui mulut atau lewat infuse untuk bayi sakit. Untuk bayi normal/sehat, makanan padat dapat dimulai pada usia 4 – 6 bulan, artinya paling cepat pada usia 4 bulan dan paling lambat usia 6 bulan. WHO menunda pemberian makanan padat pada usia 6 bulan dengan pertimbangan lebih pada aspek kebersihan makanan. Infeksi merupakan masalah yang paling banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6 – 12 bulan pada negara berkembang. TAnda-tanda bayi siap menerima makanan padat atau MPASI (Makanan Pendamping ASI):

  1. Mampu menyangga kepala.
  2. Mampu menyangga pungung (duduk/didudukkan)
  3. Cukup besar (berat badan minimal 2 kali berat badan lahir)
  4. Cukup membuka mulut. Bayi yang tertarik terhadap makanan akan membuka mulut bila melihat makanan didepan mulutnya.
 PERSIAPAN SEBELUM PEMBERIAN MAKANAN PADAT

Proses makan sangat terkait dengan: HOW (bagaimana), WHEN (kapan), WHERE (dimana), WHOM (siapa). Sebelum memulai proses pemberian MPASI ke 5 hal tadi harus sudah dipersiapan:

  1. HOW, bagaimana teknik pemberain makan harus dipelajari dengan baik. Anak harus dalam posisi duduk/didudukan. Sangat disarankan menggunakan kursi makan (high chair). Usuhakan mata Anda sejajar dengan mata anak. Mulailah mengajarkan membuka mulut yang cukup lebar. Jangan memasukan makan bila mulut anak belum cukup lebar.
  2. WHEN, pahami saat-saat pemberian makan pada anak. Pemberian makan harus dijadwal dengan baik, jangan merubah-rubah jadwal makan. Hindari pemberian makan pada saat anak sedang tidak mood.
  3. WHERE, pemberian makan sebaiknya diruang makan. Usahakan tidak berpindah-pindah tempat, bila Anda tidak ingin anak Anda pergi ke taman kota hanya sekedar untuk makan. Situasi makan yang tidak kondusif akan mempengaruhi anak untuk tidak focus pada kegiatan makan.
  4. WHOM, proses makan merupakan hubungan timbal  balik (reciprocal) antara bayi dan pengasuh (ibu). Saling percaya, saling menyayangi, saling memperhatikan merupakan hal yang mutlak untuk dibangun. Bila perhatian ibu terpecah antara anak dan telenovela/tetangga maka jangan harap anak juga fokus pada pemberian makan.

Piranti yang mendukung 4 hal tadi harus dipersiapkan secara matang, mungkin memerlukan beberapa hari atau minggu untuk semua menjadi siap.

 healthy-food-clipart-12PERSIAPAN MAKANAN

Kebersihan makanan merupakan isu utama yang harus diperhatikan. Hampir 1/3 kematian dan kesakitan balita disebabkan oleh diare. Sedangkan penyebab utama diare terkait dengan kebersihan makanan.

Pemberian makan dimulai dari yang bersumber dari biji-bijian (beras). Yang akan menjadi sumber energi utama sejak anak-anak sampai dewasa. Bila berharap anak kelak mendapatkan sumber makanan utama dari gandum atau sereal, maka mulaialah dengan gandum atau sereal.

Mulai dari kosistensi yang paling lunak (bubur halus). Setelah sukses dengan bubur halus, dapat ditambahkan dengan daging. Dalam hal ini pilihlah daging merah, tidak terbatas pada ayam/sapi tetapi dapat menggunakan ikan laut. Penggunaan ikan laut sangat disarankan, disamping murah juga banyak mengandung AA dan DHA.

Sayur dan buah memiliki tempat ke tiga setelah daging. Penggantian menu cukup 4-5 hari sekali, disamping untuk melihat adakah reaksi alergi terhadap makanan tetapi juga agar bayi bisa memahami rasa dari masing-masing makanan. Setidak-tidaknya sampai usia 8 bulan anak sudah mengenal berbagai rasa asli dari bermacam-macam daging, sayur, dan buah.

Konsistensi harus bertahap, sehingga anak tidak merasakan perubahan tekstur makan dari bubur halus sampai nasi pada usia 1 tahun. Biarkanlah makanan sesuai rasa aslinya (jangan diberi bumbu). Setelah usia satu tahun pola makan seperti pola makan sehat orang dewasa.

TABEL PANDUAN PRAKTIS JENIS, TEKSTUR, JUMLAH, FREKUENSI  MAKAN ANAK USIA 4 – 24 BULAN

USIA (bulan) ENERGI YANG DIBUTUHKAN SELAIN DARI SUSU/ASI TEKSTUR FREKUENSI(hari) JUMLAH MAKANAN
4 – 5 Mulai dengan bubur halus dikuti daging/ikan 1-      2 kali 2 – 3 sendok setiap sesi makan. Tidak perlu ada target
6 – 8 200 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah yang dilembutkan 2 – 3 kali 1/3 – 1/2    mangkok (=125 ml)
9 – 11 300 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah dicincang/dipotong kecil2 3-4 kali ½ mangkok
12-24 550 kcal/hari Makanan sehat keluarga 3 – 4 kali ¾ – 1 mankok
 MAKANAN KUDAPAN

Makanan kudapan adalah makanan yang diberikan disela-sela makanan utama. Makanan kudapan dapat diberikan pada mulai usia 6-8 bulan. Biasanya 1 – 2 kali perhari, 2 – 3 jam sebelum makan siang dan makan malam. Makanan kudapan dapat berupa buah/snack sehat

Disarikan dari:

  1. WHO, Infant and Young Child Feeding, 2009.
  2. Jana LA dan Shu J, Food Fight, AAP, 2008.

 Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

Advertisements
0

PANDUAN MP-ASI (WHO)

Artikel asli diambil dari grup FB Homemade Healthy Baby Food dengan tambahan catatan

By Mia Ilmiawaty Saadah on Wednesday, August 15, 2012 at 12:20pm

MP-ASI yang baik adalah kaya energi, protein, mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia, terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A; telah mendorong WHO sebagai badan kesehatan dunia untuk memperbaharui beberapa prinsip penting di tahun 2010 untuk panduan pemberian makan bagi bayi dan anak, yang dikenal dengan prinsip AFATVAH :

AGE : MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan berdasarkan kesiapan pencernaan bayi. Resiko pemberian mp-asi dini sebelum usia 6 bulan akan dibahas tersendiri (Catatan: Bagi beberapa bayi ada kemungkinan pemberian MP-ASI lebih awal dari 6 bulan jika ditemukan indikasi-indikasi tertentu. Konsultasikan pada DSA anak). Pemberian MP-ASI  telat bulan dapat menyebabkan bayi tidak mendapat cukup nutrisi, sehingga mengalami defisiensi zat besi, tumbuh kembang yang terlambat.

FREQUENCY : frekuensi pemberian makan.

  • Di awal mp-asi diberikan 1-2 kali;
  • seterusnya usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali makan sehari ditambah 1-2 x cemilan;
  • usia 9-12 bulan 3 x makan dan 2x cemilan.

AMOUNT : banyaknya pemberian makanan.

  • Di awal mp-asi berikan sebanyak 2-3 sdm dewasa per porsi makan;
  • usia 6-9 bulan bertahap mulai dari 3 sdm dewasa hingga 125 ml per porsi makan;
  • usia 9-12 bulan bertahap dari 125 ml hingga 250 ml per porsi makan.

TEXTURE : tekstur makanan, berdasarkan panduan WHO terbaru ini bayi langsung diberi puree/bubur halus (lembut) tapi semi kental. Patokan kekentalan dilihat dari makanan yang tidak langsung tumpah ketika sendok dibalik. Kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi.

  • Setelah mulai makan beberapa minggu sampai usia 9 bulan, tekstur lebih kental berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur halus/lembut.
  • Mulai usia 9 bulan sudah bisa makanan yang dicincang halus, tidak keras dan mudah dijumput oleh anak.
  • Diharapkan mulai usia 1 tahun anak sudah bisa makan makanan keluarga.

VARIETY: variasi keberagaman makanan diberikan sejak awal pemberian MP-ASI terdiri dari karbohidrat, protein nabati (kacang-kacangan), protein hewani, sayuran dan buah, serta sumber lemak tambahan. Keberagaman makanan diperlukan untuk keseimbangan antara masukan dan kebutuhan gizi karena tidak ada 1 jenis makanan yang memiliki semua unsur gizi yang dibutuhkan. Dengan mengonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi jenis makanan lainnya, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.

Untuk perkenalan awal MP-ASI, paling lama 2 minggu pertama disarankan dikenalkan bubur dan pure buah tunggal (dari satu jenis bahan) dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari. Masa pengenalan ini digunakan untuk pengenalan variasi sumber karbohidrat, sayuran dan buah.

Paling telat minggu ketiga sudah harus  dikenalkan aneka protein, baik protein hewani maupun protein nabati, dan sumber lemak tambahan dalam bentuk bubur halus/saring yang diberikan bersama dengan karbohidrat dan sayuran dengan frekuensi makan 2-3 kali sehari dan mulai dikenalkan 1 kali cemilan/makanan selingan.

Prinsip variasi keberagaman ini menjadi dasar atau panduan menyusun menu harian, untuk mudahnya mari kita sebut sebagai panduan 4 bintang yang harus memenuhi tiga fungsi makanan (disebut juga sebagai tri guna makanan : zat tenaga, zat pembentuk dan zat pengatur). Selalu sertakan 1 bahan makanan dari setiap kelompok jenis makanan (kelompok bintang) dalam menu harian MP-ASI dan makanan keluarga yang terdiri dari :

  • * Sumber hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk)
  • ** Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga)
  • *** Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • **** Sumber vitamin A dari sayuran dan buah (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • ***** Lengkapi dengan unsur penunjang yaitu sumber lemak tambahan untuk menambah kalori

Terkait dengan keberagaman bahan makanan, jika orang tua memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, ada baiknya melakukan “tunggu 2-3 hari” saat mengenalkan makanan baru pada bayi, khususnya makanan pemicu alergi pada orangtuanya. Jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, disarankan memberikan variasi makanan setiap harinya agar anak mendapatkan variasi nutrisi sejak awal pemberian mp-asi.

Makanan pemicu alergi pada umumnya : telur, ikan laut, kacang-kacangan, beberapa buah-buahan golongan berry, tomat, jeruk dan jambu biji.

ACTIVE/RESPONSIVE : saat memberi makan, respon anak dengan senyum, jaga kontak mata, kata-kata positif yang menyemangati. Beri makanan lunak yang bisa dipegang untuk merangsang anak aktif makan sendiri.

HYGIENE : menyiapkan dan memasak makanan secara higienis. Pastikan makanan bebas patogen, tidak mengandung racun/bahan kimia berbahaya, cuci bersih, masak dan simpan dengan baik, cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan.

Referensi:

0

Tips travel sama si balita? Jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan :)

Di-share dari note FB rekan :). Link asli

Oleh Bunda Miriam Rustam

Banyak sekali temen yang nanya sejak kami punya Tara dan masih aja keliaran kesana kesini: gimana caranya? mbaknya gak diajak? makannya gimana? apa nggak capek ngurusin sendiri?.

Hmmmm….let’s stop for a while. Mungkin pertanyaan awalnya harusnya adalah: tujuan jalan-jalannya apa?. Kalau kami, karena sadar 200% sering pulang malam (eh yang ini sih true for my boyfriend ding sekarang, buangeeeettt… *curcol*), jadi sejak punya anak kita berdua sudah bersumpah: weekend dan hari libur si mbak akan jadi ‘pembersih’ alias kalau pup kasih mbak, baju kotor urusan mbak…dan yang gitu-gitu deh. Selebihnya urusan kita.

Pas punya Lila, di usia kepala 4 dengan kesadaran penuh tulang pinggang sudah mulai sering menjerit, ya saya memang jadi lebih ‘manja’ sih, si mbak jadi lebih sering kita ajak kalau pergi di dalam kota, karena pueeggeeeelll reeekkk apalagi Lila jauh lebih physically active dibanding si kakak dulu yang sukarela duduk manis di car seat atau stroller-nya. Dan si kakak yang walaupun sudah hampir 8 tahun tapi kadang masih keluar 5 tahun-nya 😀 But still we try to spend as much time as we can with the both of them, dengan campur tangan si mbak sekecil mungkin.

Nah kalau travel jauh ya podo wae. Tujuannya travel dengan anak selain ngenalin hal-hal baru, ya supaya kami punya waktu eksklusif dengan anak-anak. Makanya especially kalau tujuannya adalah liburan (alias, gak ada agenda mengunjungi saudara atau siapapun di tempat tujuan), kami gak akan mau ajak si mbak. Yaaaa alasan lainnya sih juga karena saya malaaasss harus mikirin ini itu untuk orang lain, which akan harus dilakukan mau tidak mau kalau ajak si mbaknya.Tapi kalau agendanya adalah mengunjungi seseorang (misalnyaaaa pas lebaran :D), nah itu pasti kami ajak si mbak. Supaya lebih konsen beramah tamah dengan mereka yang lama gak ketemu.

Nah terus gimana tuh ngurusin si balita tanpa mbak?. Saya mungkin jenis emak gamau rempong. Kalau mau dibilang ‘tips’ ya tips saya cuma itu aja: jangan bikin rempong yang gak perlu dirempongkan supaya gak pusing sendiri. Dan oh satu lagi: make sure bapaknya memang bisa diajak kerjasama!. Ini faktor pueeeennnttttiiiiiiing beyond belief. Gimanapun kan butuh kerjasama yaaaa….ngurusin anak kan bukan cuma tanggung jawab si emak yaaaaaa….jadi bapaknya harus bantuin *toyorajakalaunggakmau*

Tips lainnya:

1. Kalau bayi masih ASIX – WORRY NOT!!!!. Sumpah. Gak perlu bersihin botol, gak perlu bawa air panas, gak pusing nyiapin susu, gak usah takut kualitas air. Jadi apalagi bundaaaaa….angkut aja itu bayiiiii… Tara’s first travel itu dia baru 2 bulan, kami boyong naik mobil Jkt – Semarang – Jkt. Bawaannya cuma baju aja!Oh dan tempat bobok yang nyaman juga ding.

2. Kalau anaknya sudah mulai MPASI, jujur, saya gak ambil pusing harus homemade etc. Sebisa dan semasuk akalnya ajalah kalau saya sih. Yang bisa disiapkan dari rumah dan dimasukkan kulkas, ya saya bawa pakai cooler box pas di jalan, masuk kulkas di hotel. Ini misalnya sup2-an, puding (utk 11bln ke atas), atau puree sayur/buah beku. Manasinnya? ya gampang toooh tinggal minta mangkuk isi air panas di restoran manapun kita berhenti, taruh itu makanan di mangkuk lain, rendam, beres. Selebihnya, saya lebih banyak bergantung pada buah (termasuk buah dada kalau anaknya masih ASI ;p). Pisang terutama – the easiest to find. Terus juga loads of biscuits for the road. Ya tentunya biskuit yang sesuai sama usia anaknya yaaaa. Juga roti. Ini karena kami kalau sudah ngelantur, bisa berjam-jam di jalan dan lewat jam makan. Nah ini lagi. Saya gak mau tuh rempong mikir jam segini harus berhenti untuk makan. Pokoknya kalau masih asik, ya lanjut aja. Makanya di mobil harus siap terus semua makanan itu. Plus air.

3. Homemade MPASI is good, but, we’re on holiday!. Saya pernah sih baca ada yang bawa segala rupa selama travel. Waduh, saya mah gak sanggup kalau harus full homemade selama liburan. Emak gak mau rempong gini…. Dan excuse saya adalah: toh di hari-hari lain si anak sudah makan homemade food terus. Dan liburan paling lama cuma 10 hari (hmmmm…..belum pernah sih….akan pernah gak ya… *langsungingetjadwaljadwalmeetingsipacar*), jadi ya sudahlah, let’s try to loosen up. Jadi, dulu waktu Tara maupun sekarang dengan Lila, saya kombinasikan saja homemade dengan instant MPASI (hehehehe…bisa dihujat nih eke sama emak-emak homemade MPASI ;p). Dan instant juga biasanya saya pakai yang ready to eat, yang dalam toples-toples kaca itu. Kenapa? karena malas bawa perabotan! 😀 See….tema utama dari tips saya adalah: hindari kerempongan ;p Dan 1 – 2 minggu sebelum jalan biasanya saya beli beberapa untuk dicoba ke anaknya, supaya tahu apa yang dia suka. Nah yang paling enak kalau anak sudah setahun. Itu saya lepas untuk eksperimen. Lila minggu depan setahun, ya wes lah, curi start aja (hehehehe…bisa kena hujat lagi nih sama emak-emak penganut no gulgar sblm 1 thn ;p). Kemarin di Bangka, saya biarin Lila coba pempek karena kepengen pas lihat saya makan. Itu juga cuma secuil-secuil. Dulu Tara saya biarin makan jagung bakar pinggir jalan waktu umur 2 tahun kami bawa ke Lombok. Dia juga makan udang bakar warung pinggir jalan. Yang bikin saya PD aja: ANAK ASI boooo’!!!!. Insya Allah perutnya kuat!. Dan kalau dia masih nyusu, insya Allah segala bakteri yang masuk, mampus dengan ASI yang dia minum. Jadi, kenapa harus takut??.

4. Kalau naik mobil, santai aja. Jangan kejar setoran!. Kami ini suka bingung kalau keluar kota, teteeeppp aja ada orang yang klakson-klakson, yang pengennya buru-buru. Lah, liburan aja kok kejar setoran buru-buru toh. Santai ajalah pokoknya. Kalau bawa balita yang berlaku adalah AGENDA SI KECIL. Artinya, kita boleh punya itinerary. Tapi jangan paksakan itu ke si bayi. Kenali tanda-tandanya. Patokan kami untuk berhenti kalau bawa balita cuma 1: dia sudah rewel beyond belief 😀 Itu tandanya harus berhenti supaya dia bisa jalan-jalan ngelurusin kaki. Atau kadang dia cuma pengen ngobrol atau digendong sama ayahnya yang nyetir berjam-jam 🙂

5. Selalu sedia ‘Kotak Doraemon’ yang isinya: hand sanitizer, tissue basah, tissue kering, Panadol, plester luka (you never know kapan anak akan jatuh), sunblock, lip balm dgn SPF

6. Sticking to schedule is important, but then again, we’re on holiday!!. Jadi kami juga gak mau pusing dengan urusan jam mandi, jam makan etc. Tara tahu banget tuh kalau sudah liburan, dia boleh mandi siang. Bahkan kalau misalnya harus pergi pagi-pagi buta, dia tahu bahwa dia boleh cuma sikat gigi dan cuci muka aja. Buat kami penting anak-anak lepas dari aturan sebentar saat liburan, karena toh di hari-hari lain mereka sudah harus teratur. Kita aja ogah diatur-atur kalau pas lagi liburan, kan?. Apa adil berharap hal yang sama dari anak-anak?. Dan efeknya ke kita: kita juga jadi santai karena gak harus mikir anak harus ini itu. We can all then enjoy the time. Together.

 Hmmmm….apalagi ya. Self-sufficiency sih yang jelas ya: tahu apa yang harus dilakukan tanpa support yang biasa kita miliki di rumah. Dan itu: jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan, don’t worry be happy ajalah. Dan bagi para mama yang ngASI – nyantai aja mommies, anak-anak kita terlindungi dengan baik kok dengan cairan ajaib itu, manufakturnya kan udah yang paling TOB jd kenapa harus kuatir 🙂  Alhamdulillah saya sudah buktikan dengan 2 anak saya.

 Lila yang hari Minggu ini baru akan setahun, susah buanget makan. Makannya secuil-secuil. Jangan harap dia bisa habiskan semangkok kecil nasinya!. Awalnya saya kuatir apa dia kuat diajak jalan-jalan apalagi dengan acara berenang di kolam, main di laut, main pasir di pantai dengan angin yang sedang kencang. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja tuh. Dan saya yakin yang bantu dia ya si ASI itu.

Gituuuu…. mungkin ada lagi yang mau nambahin tipsnya? Yuk share aja buat nambahin info buat yang lain. Karena akan ada masanya anak-anak gak mau lagi diajak jalan-jalan sama ortu, jadi mumpung belum bisa protes, boyong yuk si balita jalan-jalan! :))

3

Selamat Tinggal Botol (dan Dot)!

Rasanya di lingkungan kita melihat anak kecil dengan botol dan dotnya adalah pemandangan yang amat lazim. Mungkin boneka bayi  dengan botol menempel di mulut pernah jadi bagian masa kecil kita 🙂 Begitu dot lepas dari mulutnya, boneka pun ‘menangis’. Hal ini disadari atau tidak merasuk dalam alam bawah sadar kita dan generasi anak-anak kita bahwa bayi identik dengan botol dan dot. Jika bayi menangis berarti mereka lapar atau haus, berikan dot, masalah selesai. Sayangnya efek jangka panjang minum dari botol dengan dotnya hasilnya tidak selalu seindah harapan orangtua.

Mengapa botol sangat dicintai anak-anak? Secara alami anak kecil akan Dalam buku Food Fight, penulis menyatakan botol dan dot memberikan segala hal yang diperlukan bayi yaitu makanan (nourishment), kelekatan (bonding), kalori, dan kenyamanan (comfort). Di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics dan American Dental Association telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penggunaan botol begitu anak menginjak usia 1 tahun. Riset menunjukkan anak yang banyak menghabiskan waktu dengan botol beresiko lebih besar terkena infeksi saluran telinga.  Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, peneliti menemukan salah satu faktor kemungkinan utama penyebab kelebihan berat badan pada anak usia pra sekolah (selain faktor memiliki ibu yang overweight) adalah penggunaan botol terlalu lama.

Para penulis buku Food Fight memaparkan mengapa pemberian minum apapun jenisnya tidak disarankan dari botol dan dot pada anak balita (atas 1 tahun).

  1. Aliran yang Lancar. Minum dari botol dapat dikatakan tidak memerlukan usaha untuk menghisapnya begitu bayi menginjak usia beberapa bulan. Aliran minuman begitu lancar bahkan saat anak-anak tertidur. Keterampilan menghisap menghisap ini sebenarnya tidak begitu diperlukan lagi manakala mereka menginjak usia beberapa bulan
  2. Minum dari botol telah mencakup segalanya. Makan adalah proses belajar. Pada masa pembentukan proses makan yang benar, anak usia balita perlu belajar mengenali berbagai jenis makanan dan makan seimbang. Karena ngedot (sucking) jelas lebih mudah dibanding mengunyah, proses pembelajaran makan bisa terganggu. Balita yang masih suka nge-dot cenderung lebih suka banyak minum, akibatnya mereka makan sedikit atau tidak bernafsu makan sama sekali
  3. Nge-dot karena efek mengisapnya itu sendiri (yang membuat nyaman). Walaupun anak usia balita selalu minum manakala disodori botol, hal ini tidak selalu berarti mereka haus. Mengapa? Minum dari botol atau ngedot terbukti memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi ketika mereka mau tidur masih ingin ngedot atau malam-malam terbangun minta dot, itu lebih karena ngedot menenangkan mereka bukan karena haus atau lapar.
  4. Apa yang ada didalamnya itulah yang penting. Masalah yang terkait dengan minum dari botol dalam jangka lama tidak hanya terletak pada botol itu sendiri, tetapi juga pada apa yang terkandung didalamnya. Walaupun botol tersebut umumnya berisi susu atau air putih, hal ini tetap dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Apalagi kita kerap melihat jus atau air teh juga dikonsumsi balita dalam botol! Ketika anak mulai merasakan ‘nikmat’nya minuman ini, semakin sulit mereka terlepas dari botol. Pengalaman menunjukkan menyapih dari botol (dan minuman ‘kurang sehat’) lebih sukar dibanding menyapih dari menyusui.
  5. Masalah Gigi Berlubang. Riset menunjukkan balita yang ngedot lebih sering mengalami problem pada giginya entah berlubang atau kerusakan lainnya.
  6. Hambatan Berbicara. Agak sukar memahami balita berbicara dan hal ini semakin sukar jika balita kerap menghabiskan waktu dengan botol di mulutnya. Sama halnya dengan empeng, pakar menyarankan ada tempat dan masa yang sesuai untuk botol & dot, tetapi manakala anak mulai ‘berbicara’, sebaiknya benda-benda ini kita singkirkan

Bersambung ke bagaimana menghentikan botol  ….. (next article 🙂 )

Referensi

 – Laura A. Jana, & Jennifer Shu, 2008, “Drinking Problems” Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup pp 45-84, American Academy of Pediatric