0

Indikasi Kontra Menyusui

Dalam beberapa kasus tertentu, Ibu disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Berikut adalah kondisi yang sangat jarang terjadi tersebut

Kondisi Bayi

  • Galaktosemi klasik (defisiensi galactose 1-phosphate uridyltransferase)
  • Penyakit Maple syrup urine
  • Phenylketonuria (Menyusui sebagian (partial breastfeeding) dimungkinkan dengan pengawasan)

Kondisi Maternal (Ibu)

  • Infeksi HIV 1 infection (Jika makanan pengganti dapat diterima (acceptable), layak( feasible), mampu membeli (affordable), kontinu (sustainable), dan aman,)
  • Human T-lymphotropic virus 1 and 2 infection (aturan berbeda di beberapa Negara, Jepang membolehkan menyusui. Cttn: kasus ini sangat jarang terjadi di Indonesia)
  • Tuberculosis/TBC (yang sedang aktif dan belum dirawat). Menyusui bisa dilanjutkan setelah Ibu mendapat perawatan selama 2 minggu atau bayi telah diberikan isoniazid
  • Virus Herpes simplex pada payudara (dihentikan hingga luka pada payudaran telah bersih)
  • Pengobatan
    • Sebagian besar obat-obatan tergolong aman karena hanya sedikit yang akhirnya terkandung dalam ASI
    • Sebagian kecil senyawa dalam drugs of abuse dan beberapa senyawa radioaktif yang memiliki umur paruh yang panjang mengharuskan Ibu berhenti menyusui 

Dari paparan diatas, jelas bahwa HANYA SEDIKIT sekali kondisi yang tidak memungkinkan Ibu menyusui bayinya. Di luar kondisi-kondisi tersebut, Ibu tetap dapat menyusui bayinya, apalagi jika Ibu ‘hanya’ mengalami sakit-sakit biasa seperti flu, demam, batuk, dsbnya

Referensi

Robert & Ruth Lawrence, 2011, Breastfeeding: More Than Just Good Nutrition, Pediatrics in Review 32: 267-280

Advertisements
0

Adakah Pantangan Makanan/Minuman Selama Menyusui?

      Salah satu pertanyaan yang kerapkali dilontarkan Ibu-ibu menyusui adalah makanan apa yang perlu dihindari selama menyusui? Jawabannya adalah TIDAK ADA makanan yang wajib dihindari Ibu hanya karena ia menyusui. Mengkonsumsi beragam jenis makanan adalah diet yang terbaik. Jadi, Ibu bisa meneruskan kebiasaan makan seperti saat tidak menyusui kecuali Ibu mencermati ada reaksi yang jelas pada bayi terhadap jenis makanan tertentu. Jika dalam keluarga Ibu mempunyai riwayat alergi, Ibu bisa saja menghindari makanan pemicu (seperti kacang-kacangan, seafood, atau produk dari susu), namun sekali lagi hal ini berbeda reaksinya untuk setiap anak.

       Konsep nutrisi yang baik adalah makan berbagai ragam makanan secara seimbang dan sebisa mungkin mendekati bentuk yang paling alami.  Arti alami disini sebisa mungkin segar, tanpa tambahan pengawet, masih mengandung semua nutrisi dari bentuk asalnya, tanpa atau sedikit kontaminasi. Pola diet dengan nutrisi yang tepat ini berlaku untuk semua orang, tidak hanya bagi Ibu menyusui. Bagi Ibu menyusui makan dengan pola nutrisi bagus akan memberikan energi positif dan kesehatan yang baik..

Makanan Pedas dan Berbumbu 

Di kultur bangsa kita kebiasaan makan pedas, penuh rempah dan bumbu tidak bisa dihilangkan. Biasanya kala menyusui Ibu-ibu mengurangi atau menghilangkan kebiasaan ini karena khawatir bayi mereka akan rewel, sering kentut atau problem-problem lain akibat ‘rasa’ dan kualitas ASI yang berubah. Anggapan ini ternyata tidak memiliki bukti yang kuat. Beberapa bumbu seperti bawang putih memang akan terkandung dalam ASI namun kandungannya tidak sampai menyebabkan masalah. Bahkan dalam salah satu studi bayi justru menyusu lebih baik setelah Ibu makan bawang putih.

Makanan Mengandung Gas

Kaum Ibu sering diingatkan selama menyusui harap menghindari makanan yang mengandung gas (gassy foods) seperti kubis, kembang kol, brokoli, kacang-kacangan, dll. Jenis-jenis makanan tersebut memang dapat menghasilkan gas karena proses pencernaan partikel karbohidrat kompleks dan serat oleh bakteri dalam usus. Hanya saja baik gas maupun karbohidrat kompleks ini tidak melewati darah Ibu yang merupakan jalur produksi ASI. Jadi dapat dikatakan tidak mungkin ASI Ibu mengandung zat-zat ini dan dapat mengakibatkan bayi Ibu ikut mengeluarkan gas. Hal ini tidak berarti bayi Ibu sama sekali tidak memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu, melainkan makanan yang berpotensi mempengaruhi bayi tidak terkait dengan makanan yang membuat sang Ibu mengeluarkan gas.

Kafein

Berbagai literatur menyusui menyatakan sejumlah tertentuk kafein (sekitar 5 cangkir atau kurang dari 750 ml) tidak akan menimbulkan masalah baik bagi kebanyakan Ibu maupun bayi. Namun perlu diingat bahwa kafein tidak hanya terkandung dalam kopi. Banyak sumber kafein lain yang patut diperhatikan Ibu seperti kola, obat pereda nyeri dan demam, coklat, dan teh. Asupan kafein yang berlebihan akan membuat bayi terjaga, aktif, mata terbuka lebar, dan bisa jadi rewel. Kemampuan bayi memetabolisme kafein mulai terbentuk pada usia 3 hingga 4 bulan. Jadi ada baiknya sebelum usia itu asupan kafein dibatasi. Jika Ibu curiga bayinya bereaksi terhadap kafein, baiknya Ibu perlu menghindari segala sumber kafein selama 2-3 minggu.

Berapa Jumlah Kalori yang Diperlukan Ibu Menyusui?

Sebagian besar Ibu di negara berkembang (termasuk Indonesia) memerlukan ekstra tambahan 500 kalori setiap hari untuk mendukung proses menyusui yang baik. Bagi Ibu yang sudah bergizi baik dan memiliki berat badan cukup selama kehamilannya memerlukan lebih sedikit kalori karena mereka dapat menggunakan lemak badan dan cadangan nutrisi lain selama hamil. (Cttn: mungkin inilah penyebab keluhan Ibu menyusui tidak berkurang berat badannya walau sudah memberikan ASI eksklusif, ternyata kalori per harinya ‘berlebih’ 🙂 )

Catatan:

Selama 6 bulan pertama, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tanpa tambahan apapun kecil kemungkinannya mengalami mencret atau sembelit akibat ASI. Di masyarakat kita anggapan bayi mencret karena Ibu salah mengkonsumsi makanan seringkali terkait dengan pengetahuan yang kurang tepat mengenai ‘perilaku’ BAB bayi. Wajar bayi yang menyusu eksklusif BAB cukup sering atau sebaliknya, yaitu tidak setiap hari. Perilaku bayi mencerna ASI unik dan tidak dapat disamakan untuk semua bayi. Selama bayi Ibu tidak rewel, terlihat ceria, dan penambahan BB cukup, Ibu tidak perlu risau.

Referensi

http://www.llli.org/nb/nbmaternalnutrition.html

http://www.kellymom.com/nutrition/mom/index.html

http://www.llli.org/nb/nbmarapr04p44.html

http://www.linkagesproject.org/media/publications/frequently%20asked%20questions/FAQMatNutEng.pdf

0

Mungkinkah Menyusui Bayi yang Diadopsi?

Berikut kutipan status facebook seorang konselor laktasi:

“Seorg bayi yg hampir dibuang ibunya kemudian diambil orang & dirawat di RS PMI Bogor. Sebelum pulang DSA RS tsb meminta agar bayi tsb mulai disusui oleh ibu adopsinya. Setelah 1 mggu ibu adopsi tersebut mulai berhasil memproduksi ASI. Subhanallah!Ibu adopsi ini sama sekali belum pernah mempunyai seorang anak pun selama 7 tahun dia menikah.So semangat moms!U can do it!”

Cerita sama pernah kami dengar juga, namun sayangnya sumber kurang dapat dipertanggungjawabkan 🙂 yaitu tentang seorang nenek yang berhasil menyusui cucunya. Status diatas tentu mengundang banyak sekali komen, rata-rata menganggap itu suatu keajaiban. Namun benarkah hal itu sesuatu yang ajaib? Mungkinkan seorang wanita yang tidak pernah memiliki anak bisa menyusui bayi yang tidak ia kandung? Ternyata jawabannya: BISA! Berikut artikel dari situs Dr Jack Newman mengenai “keajaiban” ini.

Breastfeeding Your Adopted Baby or Baby Born by Surrogate/Gestational Carrier

You would like to breastfeed your adopted baby, or one born with a surrogate or gestational carrier? Wonderful! Not only is it possible, chances are you will produce a significant amount of milk. It is different, though, than breastfeeding a baby with whom you have been pregnant for many months. With some determination and perseverance, you will enjoy the wonderful bond that breastfeeding brings and both you and baby will benefit from this experience.

Breastfeeding and breastmilk

There are really two issues in breastfeeding the baby with whom you were not pregnant. The first is getting your baby to breastfeed. The other is producing breastmilk. It is important to set your expectations at a reasonable level because only a minority of women will be able to produce all the milk the baby will need. However, there is more to breastfeeding than breastmilk and many mothers are happy to be able to breastfeed without expecting to produce all the milk the baby will need. It is the special relationship, the special closeness, and the emotional attachment of breastfeeding that many mothers are looking for. As one adopting mother said, “I want to breastfeed. If the baby also gets breastmilk, that’s great”.

Getting the baby to take the breast

Although many people do not believe that the early introduction of bottles may interfere with breastfeeding, the early introduction of artificial nipples can indeed interfere. The sooner you can get the baby to the breast after he is born, the better. The more you can avoid the baby’s getting bottles before you start breastfeeding, the better. However, babies need flow from the breast in order to stay latched on and continue sucking, especially if they have gotten used to getting flow from a bottle or another method of feeding (cup, finger feeding). So, what can you do?

  1. Speak with the staff at the hospital where the baby will be born and let the head nurse and lactation consultant know you plan to breastfeed the baby. They should be willing to accommodate your desire to have the baby fed by cup or finger feeding, if you cannot have the baby to feed immediately after his birth. In fact, more and more frequently, arrangements have been made where you will be present at the birth of the baby and will be able to take the baby immediately to the breast. The earlier you start the better. This is a situation that should be discussed ahead of time with the woman giving birth and if there is a lawyer, speak with him or her as well.
  2. Keeping your new baby skin to skin with you, you naked from the waist up and baby naked except for the diaper, is very important at this time. It helps to establish the necessary exchange of sensory information between you and your baby and helps the baby stabilize several physiological and metabolic processes: maintenance of baby’s blood sugars, heart rate, breathing rate, blood pressure and oxygen saturation. At the same time, close contact between you and the baby results in the germ free baby (at birth) being colonized by the same germs as you. Furthermore, it helps baby to adapt to this new habitat while at the same time encourages him to breastfeed while helping you to make milk.
  3. Some birth mothers are willing to breastfeed the baby for the first few days. With adoption, there is some concern expressed by social workers and others that this will result in the biological mother’s changing her mind. This is possible, and you may not wish to take that risk. With surrogacy, this may set up some unexpected feeling of resentment and remorse between the surrogate and the biological mother. This is a theoretic possibility but it would be helpful if the birth mother did in fact breastfeed the baby thus helping the baby learn to breastfeed. It allows the baby to breastfeed, get colostrum, and not receive artificial feedings at first. Another option is to ask the woman who gave birth to express her milk for the first few weeks so you have breastmilk to supplement your own, using a lactation aid at the breast (see section ‘s’).
  4. Latching on well is even more important when the mother does not have a full milk supply as when she does. A good latch usually means painless feedings. A good latch means the baby will get more of your milk, whether your milk supply is abundant or minimal. (See the information sheet When Latching).
  5. If the baby does need to be supplemented, supplementation should be done with a lactation aidwhile the baby is on the breast and breastfeeding (See the information sheet Lactation Aid). Babies learn to breastfeed by breastfeeding, not cup feeding, finger feeding, or bottle feeding. Of course, you can use your previously expressed breastmilk to supplement. And if you can manage to get it, banked breastmilk is the second best supplement after your own milk. With a lactation aid used at the breast, the baby is still breastfeeding even while being supplemented; after all, isn’tbreastfeeding what you wanted for your baby?
  6. If you are having trouble getting the baby to take the breast, come to the clinic as soon as possible for help. In fact you should be followed by a lactation consultant or someone experienced in helping mothers with breastfeeding.

Producing Breastmilk

As soon as a baby is in sight, contact a breastfeeding clinic and start getting your milk supply ready. Please understand that you may never produce a full supply for your baby, though you may. You should not be discouraged by what you may be pumping before the baby is born, because a pump is never as good at extracting milk as a baby who is sucking well and well latched on. The main purpose of pumping before the baby is born is to draw milk out of your breast so that you will produce yet more milk, not only to build up a reserve of milk before the baby is born, though this is good if you can do it.

Using the medications discussed below in A. and B., helps to prepare your breasts to make milk. We are trying to make your body think you are pregnant. The medications are not an absolute requirement for you to produce milk, but they do help you make more.

A. Hormones—Oestrogen and Progesterone. If you know far enough in advance, say at least 3 or 4 months, treatment with a combination of oestrogen and progesterone will help prepare your breasts to produce milk. A birth control pill is one way of taking these hormones, but you skip the placebos (sugar pills for one week out of every four weeks) and go right to the next package; another way is to use oestrogen patches on the breast plus oral progesterone. Get information about this protocol from the clinic and see the Newman-Goldfarb Protocols for Induced Lactation at http://www.asklenore.info). We encourage you to take the hormones until about 6 weeks before the baby is to be born.
B. Domperidone. See the information sheets Domperidone, Getting Started and Domperidone, Stopping. The starting dose is 30 mg three times a day, but we have gone as high as 40 mg 4 times a day. The domperidone is continued when the hormones are stopped. Usually it is necessary to continue it for several months after you start breastfeeding. Check the information sheets for more information. Ask at the clinic.
C. Pumping. If you can manage it, rent an electric pump with a double setup. Pumping both breasts at the same time takes half the time, obviously, and also results in better milk production. Start pumping when you stop the birth control pill. Do what is possible. If twice a day is possible at first, do it twice a day. If once a day during the week, but 6 times during the weekend can be done, fine. Partners can help with nipple stimulation as well (See the information sheet Expressing Milk)

But will I produce all the milk the baby needs?

Maybe, maybe not. If you do not, breastfeed your baby anyhow, and allow yourself and him to enjoy the special relationship that it brings. In any case, some breastmilk is better than none.

Very Important: If you decide to take the medications (the hormones and/or the domperidone), your family doctor must be aware of what you are taking and why. It is very important to have a physical and have your blood pressure checked before starting the protocols. Significant side effects have been rare, but that does not mean they cannot happen. Your doctor needs to be following you, and once the baby is with you, your baby’s doctor needs to know that you are breastfeeding him and needs to follow the baby’s progress just as s/he would any other baby.

0

Bagaimana “Perilaku” Normal Bayi yang Disusui?

Tabel berikut meringkaskan  pedoman bagi  Ibu menyusui

  •  Bayi Usia 1 – 7 hari    

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

Hari 5

Hari 6

Hari 7

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran kelereng atau biji buah kemiri

Seukuran buah anggur ukuran sedang

Kebutuhan ASI

10 -100 ml/hari

200 ml/hari

400 – 600 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari (bisa setiap 1,5 sampai 3 jam/hari, tapi ini bukan patokan baku, yang penting frekuensi minimal terpenuhi)

Buang Air Kecil (BAK)

Min 1x

Min 2x

Min 3x

Min 4x

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

1-2x/hari, feces warna hitam atau hijau tua

3x/hari, feces warna coklat, hijau, atau kuning

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

Berat Badan Bayi

Kebanyakan bayi mengalami penurunan BB sekitar 7-10% dari berat lahirnya hingga usia 3-4 hari dan akan kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

  • Bayi Usia 2 Minggu– 6 Bulan 

Minggu 2

 Minggu 

 Minggu 

 Minggu 

Minggu 6 -Bulan 6

Ukuran Lambung Bayi

Seukuran buah leci atau kacang walnut

Kebutuhan ASI

700 – 800 ml/hari

Rata-rata menyusui dalam 24 jam

Di bulan pertama, 8-12x/hari

Bulan ke-2 hingga ke-6 min 6-8x/hari

Buang Air Kecil (BAK)

Min 6x

Buang Air Besar (BAB) dan Warna Feces

Min 3x/hari dengan volume cukup banyak, feces lunak, berbiji-biji, dan berwarna kuning

1-3x sehari, volume cukup banyak, feces kuning *

Berat Badan Bayi

Kembali ke BB lahir pada usia 10-14 hari

Kenaikan BB seharusnya 113 hingga 224 gram per minggu dalam 3 bulan pertama **

Catatan

  • *Seringkali pada usia ini bayi hanya BAB 2-3 hari sekali bahkan hingga 15 hari! Selama bayi benar-benar mendapatkan ASI eksklusif, hal ini adalah wajar dan BUKAN sembelit, jadi Ibu tidak perlu khawatir hingga perlu diberikan pencahar atau tindakan lain. Ibu hanya perlu risau jika bayi rewel, tampak kurang sehat, dan pertumbuhan BB kurang baik
  • **Agar diperoleh pengukuran yang valid sebaiknya Ibu menimbang di fasilitas kesehatan terpercaya karena kebanyakan timbangan bayi yang beredar di pasaran kurang akurat. Di Amerika, American Academy of Pediatrics merekomendasikan setiap bayi baru lahir sebaiknya diperiksa dokter antara usia 3-5 hari.
  • Akan sangat membantu jika Ibu membuat buku log sederhana untuk mencatat frekuensi BAB, BAK, dan menyusui dalam kurun waktu 1 hari (24 jam) khususnya pada minggu pertama dan kedua setelah  kelahiran. Disebut menyusu jika bayi membuka rahang lebar dan menyusu selama minimal 10 menit (bukan hanya sekedar ngempeng).

Segera hubungi dokter, bidan, atau konsultan laktasi jika pada minggu pertama

  • Urine bayi berwarna gelap setelah hari ke-3 (seharusnya berwarna kuning pucat)
  • Feces bayi berwarna gelap setelah hari-4 (seharusnya berwarna kuning tanpa meconium)
  • Frekuensi BAK, BAB, atau menyusui kurang dari tabel diatas
  • Ibu mengalami gejala mastitis (sakit pada payudara yang disertai demam, menggigil, atau gejala flu)

Referensi


0

Mogok Menyusu (Nursing Strikes)


Ibu pernah mengalami si buah hati yang selama ini full diberi ASI tiba-tiba tidak mau menyusu? Jika si kecil usianya kurang dari satu tahun dan belum banyak asupan makanan padat atau minum dari cangkir (gelas), tampaknya bayi Ibu mengalami apa yang disebut mogok menyusu (nursing strikes). Menghadapi bayi yang tiba-tiba mogok ini, Ibu tidak perlu panik. Langkah pertama, tetaplah bersikap tenang, lalu kenali penyebabnya agar lebih mudah mencari solusinya. Beberapa penyebab umum bayi menolak menyusu adalah

  • Rasa nyeri karena mau tumbuh gigi, adanya luka, infeksi jamur
  • Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit ketika menyusu
  • Rasa sakit akibat posisi badan ketika menyusu, mungkin karena imunisasi atau luka di badan
  • Bayi terlalu sering diberi botol, empeng atau sering menghisap jempol yang biasanya diikuti penurunan produksi ASI
  • Gangguan selama menyusui
  • Si kecil cukup lama berpisah dari Ibu

 Perlu disadari, beberapa tindakan/perilaku Ibu juga ber’peran’ membuat si kecil mogok, diantaranya:

  • Reaksi kaget (yang berlebihan misal berteriak) akibat gigitan si kecil
  • Perubahan rutinitas (misal pindah rumah, bepergian)
  • Membatasi atau terlalu berpatokan pada jadwal menyusui
  • Stimulasi yang berlebihan, stres, atau tekanan pada Ibu
  • Berulangkali melepaskan diri ketika si kecil ingin menyusu atau membiarkan si kecil menangis
  • Walaupun kurang umum, sensitivitas si kecil terhadap makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi Ibu ataupun yang ia konsumsi sendiri (termasuk suplemen vitamin, mineral, produk-produk olahan dari susu sapi, kafein) dapat menyebabkan mogok menyusu. Hal ini berlaku pula bila puting Ibu dioleskan semacam krim yang mengubah rasa ASI. Bahkan bau badan Ibu yang berubah mungkin karena penggunaan produk semacam shampo, parfum, sabun cuci baju, bisa menjadi faktor penyebab pula.

Apapun penyebabnya, masalah ini sungguh tidak mengenakkan baik buat si Ibu maupun bayinya. Bayi menjadi rewel dan tidak happy sedangkan sang Ibu umumnya merasa sangat sedih dan khawatir. Ibu juga merasa bersalah dan bahkan frustasi karena beranggapan jangan-jangan dia telah melakukan hal yang salah atau tidak semestinya.

Bagaimana agar bayi mau kembali menyusu? Kunci utamanya adalah sabar dan telaten. Tindakan berikut dapat membantu mengatasi mogok menyusu:

  1. Cobalah susui si kecil saat ia mengantuk atau menjelang tidur. Banyak bayi yang menolak menyusu ketika keadaan bangun akan kembali menyusu saat mengantuk
  2. Coba beberapa variasi posisi menyusui. Terkadang menyusui sambil berbaring juga membantu
  3. Susuilah si kecil sambil diayun atau berjalan-jalan.
  4. Pilihlah tempat menyusui yang bebas gangguan. Beberapa bayi khususnya yang berusia 3 bulan ke atas mudah terganggu. Matikan radio, tv atau redupkan lampu ruangan akan membantu anak mau menyusu.
  5. Berikan perhatian ekstra utk si kecil dan lakukan lebih banyak skin-to-skin contact. Sering mengelus anak akan membuat ibu dan anak nyaman.
  6. Sering-seringlah menggendong si kecil dengan sling atau carrier diantara waktu menyusu juga dapat membantu.

      Selama Ibu berusaha membujuk anak yang mogok, Ibu perlu menjaga produksi ASI dengan cara memerasnya atau memompanya. Hal ini akan mengurangi resiko pembengkakan dan saluran tersumbat (engorgement, mastitis) selain menjaga produksi ASI tetap optimal saat nanti anak berhenti dari mogoknya. Agar nutrisi bayi terpenuhi, ASI yang diperah diberikan pada si kecil. Pemberian dengan botol amat tidak disarankan selama masa mogok ini. Lihat artikel pemberian ASI perah (ASIP) untuk cara pemberian yang disarankan. Ibu perlu juga memperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika si kecil pipis sebanyak 6-8 kali selama 24 jam, maka asupan cairan yang diperolehnya dikatakan cukup.

Referensi

0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi

4

Produksi ASI Terlalu Banyak – Hindari Resiko Bayi Bayi Tersedak

Dalam proses menyusui, kebanyakan para Ibu merasa khawatir produksi ASInya terlampau sedikit sehingga bayinya kurang gizi. Tapi ada juga ibu yang bingung karena produksi ASI-nya berlimpah (hiperlaktasi). Bahkan dengan refleks pengaliran air susu yang ringan saja, ASI sudah memancar dengan deras. Walaupun produksi ASI yang melimpah lebih baik dibandingkan sebaliknya, namun terkadang produksi terkadang hal ini dapat menimbulkan kesukaran tersendiri bagi Ibu. Bayi akan merasa kurang nyaman dengan derasnya ASI sehingga dapat membuat bayi tersedak atau muntah ketika menyusu. Akibatnya bayi menarik diri dari payudara Ibu, atau menghisap (mengempit) puting saja, dan bahkan enggan menyusu. 

Mengapa produksi ASI tiap ibu berbeda-beda? Masalah ASI berlimpah atau hiperlaktasi ini diduga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Antusiasme ibu. Bila dialami pada minggu-minggu pertama masa menyusui, maka hiperlaktasi bisa terjadi karena antusiasme tubuh ibu untuk menghasilkan susu sebanyak mungkin. Dalam waktu kurang lebih 6 – 10 minggu, tubuh ibu pun akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.
  • Alveoli banyak. Hiperlaktasi yang terjadi terus menerus bisa disebabkan karena ibu memiliki banyak alveoli (kelenjar yang memproduksi ASI) dalam payudaranya.
  • Ketidakseimbangan hormon. Masalah hiperlaktasi juga dapat disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormon ibu atau adanya tumor pada kelenjar pituitari (kelenjar yang terletak di bawah otak dan menghasilkan banyak hormon).

Beberapa tanda Ibu berlimpah produksi ASI adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan berat badan bayi lebih dari 2 pounds (907 gram) per bulan
  • Bayi tampak kesulitan dengan aliran ASI Ibu sehingga sering tersedak, tertahan napasnya, atau tergagap-gagap mulutnya kala menyusu
  • Bayi sering kentut dan pup nya tampak berbuih atau bersifat eksplosif

Namun demikian, Ibu jangan khawatir, ada kiat-kiat mengatasinya.

  • Sebelum mulai menyusui, perahlah sedikit ASI. Tujuannya untuk memperlambat aliran ASI. Namun jumlah ASI yang diperah sebaiknya tidak terlalu banyak, dan jangan melakukannya diantara dua waktu menyusui. Semakin banyak ASI yang Anda perah dan semakin sering Anda merangsang payudara, maka semakin banyak tubuh Anda memproduksi ASI.
  • Gunakan satu payudara untuk menyusui lebih dari satu kali susuan. Ibu dapat menggunakan satu sisi payudara untuk disusukan sebanyak 2-3 kali berturutan dan memompa payudara sebelahnya agar merasa lebih nyaman.
  • Cobalah beberapa posisi menyusui yang berbeda-beda. Posisi menyusui yang biasanya sesuai untuk adalah posisi ibu setengah tidur dan bayi ditengkurapkan di dada ibunya. Bayi bisa pula diposisikan seperti duduk pada paha Ibu menghadap payudara Ibu. Dalam dua posisi ini, gaya gravitasi akan memperlambat aliran ASI. Posisi sambil tiduran menyamping juga dapat membantu mengurangi derasnya aliran ASI
  • Frekuensi menyusu yang lebih sering dapat membantu mengatasi hal ini karena lebih sedikit ASI yang tersedia dalam setiap kali pemberian.

Untuk mengurangi produksi ASI, Anda dapat melakukannya dengan menyisakan ASI di dalam payudara. Caranya, upayakanlah agar bayi tidak terlalu lama menyusu. Seiring dengan berkurangnya jumlah ASI yang keluar dari payudara pada satu waktu menyusui, tubuh ibu pun akan mengurangi produksi ASI-nya.

Memang, upaya untuk mengurangi produksi ASI tersebut perlu waktu. Sementara itu, untuk mencegah baju Anda kotor karena ASI, gunakanlah breast pads dan baju atasan yang bermotif. Atau, tidak ada salahnya pula bila Anda mendonorkan kelebihan ASI Anda tersebut ke rumah sakit. Kelebihan ASI Anda akan sangat bermanfaat bagi banyak bayi lain.

Namun bila tidak ada satu cara pun yang berhasil pada Ibu dan dirasakan ini sangat mengganggu, segeralah konsultasi pada dokter atau konsultan laktasi. Hiperlaktasi mungkin membuat bayi sulit menyusu, namun hal ini tidak akan membahayakannya. Selain itu, kabar baiknya adalah tubuh Ibu memproduksi makanan dalam jumlah berlimpah, sehingga bayi dapat tumbuh kembang optimal.

Referensi