0

BAYI ASI OVERWEIGHT? OVERFEEDING PADA BAYI YANG MENDAPATKAN ASI EKSKLUSIF

Berbeda dengan yang diyakini selama ini, bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak masalah kegendutan. Berdasarkan pengamatan umumnya Ibu-ibu tidak merasa hal itu bukan masalah dan mengasumsikan bahwa seiring usia maka kelak bayi akan “langsing”  dengan sendirinya. Padahal jika dilihat berdasarkan kurva pertumbuhan, bayi tersebut telah masuk kategori overweight dan bahkan mungkin obesitas. Baik over atau underweight perlu segera dicari akar permasalahannya dan solusinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebab bayi overfeeding (pemberian ASI berlebihan) yang berakibat pada kelebihan berat badan, yaitu

  1. Bayi minum ASI perah menggunakan botol dot yang beraliran cukup deras sehingga ASIP secara kontinyu dikonsumsi bayi. Oleh karena itu pemberian ASIP menggunakan dot tidak disarankan. Namun jika terpaksa, gunakan dot yang alirannya pelan dan berikan jeda waktu saat menyusu. Salah satu tips adalah menggunakan botol kapasitas besar dengan ukuran nipple kecil (S). Ada kecenderungan ketika menggunakan botol kapasitas kecil dan ASIP telah habis diminum, Ibu atau pengasuh berasumsi bayi belum kenyang karena cepat habis dan memberikan botol kedua sebagai tambahan.
  2. Bayi rewel selalu diasosiasikan dengan lapar dan haus, sehingga menyusui atau memberikan ASIP selalu dilakukan untuk menenangkan bayi. Jika sesi terakhir pemberian ASI belum lama berlalu dan bayi rewel, cobalah untuk memikirkan solusi lain selain lapar, haus, atau kurang kenyang. Mungkin saat berganti popok/diapers, bayi kepanasan/kedinginan, tidak nyaman karena bising.
  3. Bayi minum dari botol dalam posisi tidur sehingga ASI mengalir deras. Untuk memperlambat aliran ASIP, atur posisi badan dan kepala bayi menjadi tegak dengan posisi botol horizontal/datar. Salah satu efek samping minum dot dalam posisi tidur dengan dot adalah meningkatnya risiko infeksi saluran telinga.

Untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan cukup, berpeganglah pada pertumbuhan berat badan. Silakan lihat artikel berikut untuk mengetahui tingkat kecukupan ASI.

Advertisements
3

Oleh-oleh ASIP dari Bangkok

Share cerita seorang rekan busui kami yang luar biasa, Bunda Hanum yang baru saja melakukan perjalanan dinas ke Bangkok namun tak lupa oleh-oleh ASIP untuk si kecil

================================================================================

Akhirnya…terlewati juga saat-saat yang cukup bikin pusing kepala tuk beberapa waktu. Sekarang tinggal share cerita singkat selama perjalanan pergi-pulang dan selama di Bangkok untuk urusan per ASIP-an ini.

Semoga bisa menginspirasi ibu-ibu juga kalau ada tugas dinas di LN atau Luar kota tapi bayi masih perlu ASIP.

Ada outing kantor ke Bangkok, selama 4 hari 3 malam dengan total orang sekantor sebanyak 40 orang, wajib ikut dan harus ninggalin baby di rmh yg usianya masih 9 bulan hikss…
Setelah cari info sana sini, dan hunting kebutuhan untuk bisa maintain pumping/perah asip, 1,5 liter ASIP berhasil dibawa buat oleh-oleh 🙂

Modal awalnya adalah NIAT! karena kalau nggak ada yg satu ini, bubar lah semua. Setelah itu berdoa yg banyak agar jalannya dimudahkan.

Karena banyak cerita satu dan lain pengalaman berbeda, ada yg sangat mudah dan lancar tanpa hambatan, ada juga sampai yang harus berurai airmata bermasalah di imigrasi karena urusan membawa ASIP

Persiapan juga dilakukan termasuk keteteran karena menjelang berangkat kerjaan menumpuk dan lembur terus :(( *maaf jd curcol
selain niat, pastinya banyak hal yg harus dipersiapkan dong…yup…ini diantaranya:

1. Breast Pump

Bawa medela swing (elektrik) dan sempet beli unimom mezza (manual) just in case gak nemu listrik atau colokan. Tadinya sempet mau dipinjemin unimom forte sama temen, tp bisa over bagasi, hehe.. Selama disana akhirnya banyakan marmet krn ga sempet cuci Breastpump nya. Bawa botol plastik juga. bawaan medela kebetulan ada 3 pcs dibawa semua.

Image

2. Cooler
Ini yg paling penting, pengangkut asipnya hrs bener2 aman dan kuat. Setelah hunting dan kebingungan mau cari cooler box atau cooler bag, akhirnya nemu igloo macam ini. Sempet diledek temen kaya tukang es krim keliling, hihihi… tapi cuek saja, haha

Image

 

3. Ice gel/ice pack
Lumayan banyak bawanya, 3 bungkus Ice gel RBS dan Sun Gel, 1 Ice pack RBS, Ice Pack Snowgam, dan 2 Ice pack tipis bawaan cooler bag Pigeon

4. Kantong asip Natur. Bawa sekitar 20pcs (harus optimis dong bisa dapet banyak, hahaha), Spidol, post it, lakban bening

5. Sabun pencuci botol, sikat pencuci botol, tissu basah & hand sanitizer.

Ok, pagi itu jam 3 udah harus bangun karena flight jam 7.20 dan jam 5.30an udah harus check in. Cium dan doa buat baby sambil nahan mewek, dadaaaaaah…..

Berhubung  bawaan baju sengaja dikit karena mau prioritasin urusan ASIP, jadilah gak ada bagasi, semua diangkut ke cabin. Di imigrasi cooler box sempet dibongkar, tapi dengan penjelasan bahwa semua ini kebutuhan untuk membawa ASIP nggak jadi masalah masuk ke cabin. Oya, penerbangan dengan Tiger airways.

Sambil menunggu boarding, PD mulai nyut nyut dan harus pumping, di terminal 3 nursery room’nya bersih, bagus dan nyaman (maaf fotonya ke delete, hix) tapi sayang gak da colokan listrik, jd terpaksa pumping di mushola persis disebelahnya. Dapet skitar 120cc. Ketika boarding, asip hasil perah langsung titip ke pramugari untuk taro di chiller atau di es atau di tempat yang dingin (perjalanan skitar 3 jam). tips kalo apes nemu pramugari yg jutek, harus galakan kitanya, hehe…gak boleh sungkan-sungkan ya kalo udah urusan ASIP…tapi ya kita minta tolong baik-baik aja, kalo dijutekin baru deh jutekin balik dengan kerlingan maut, arrrrgh……

sampe Bangkok langsung check in di hotel, karena dari airport ke hotel aja udah 1 jam sendiri di jalan. Syukurnya dapet kamar yg ada kulkasnya, jd lgsg taro smua ice gel & ice pack di freezer, asip di chiller dan langsung pumping lagi.
Satu hal yang harus diniatkan dengan amat sangat kuat adalah, usahakan jangan malas pumping, seberat apapun kondisi dan tantangannya. separah2nya, minimal bangun tidur dan sebelum tidur usahakan kosongkan PD.

Selanjutnya menjalani aktivitas sehari-hari di Bangkok dengan selalu menyempatkan pumping atau marmet. Di mall, di Bis, di hotel, terus2an secape apapun dan semalam apapun baru balik ke hotel. Roomate sampe bosen kali liatnya, tapi untungnya mereka amat sangat pengertian.

Sebagai back up, aku bawa jg cooler bag kecil medela seperti ini. ImageMaksudnya biar selama kelilingan diluar hotel asip hasil pumping/perah msh bisa aman sebelum nyampe hotel.

Di hari terakhir di Bangkok adalah hari yang paling menantang. Karena harus check out dari jam 11. 30’an sedangkan flight balik ke Jakarta baru jam 9 malam 😦
Jadiiii, harus bener2 tepat perhitungan simpan menyimpan asipnya biar selamet sampai rumah. Btw, selama di Bangkok ASI hasil perahan semua disimpen di chiller (kulkas bawah) dan gak ada yang dibekukan. Katanya sih aman kok sampe 6 hari juga, lagian kalo dibekuin dan keburu cair malah jd sutris mikirinnya…

Setelah check out jam 12an siang, langsung lapor ke bagian front desk kalo aku butuh titip asip dan icepack/ice gel. Untungnya front desk sangat baik hati, dengan senyum yang ramah diarahkan ke bagian restoran untuk semua urusan ini. Walaupun di restoran wajahnya pada bingung (apalagi bartendernya dapet yg cowo) dan amit-amit ya di Bangkok tuh bahasa jadi problem banget, susyaaaaah deh cari yang bisa bahasa inggris. Yang bawel aja dan pastikan mereka ngerti dan bener ngerjain yang kita minta, hehe…dengan tetep senyum manis tentunya 🙂

Setelah memastikan semua aman, baru deh berani keluar dari hotel.

Balik lagi ke hotel jam 4 sore, mulai deg-deg-an…karena harus segera ke airport melewati traffic Bangkok yg mirip Jakarta macetnya. Nyampe airport jam 6.30an, check in (ASIP diputuskan masuk cabin) dan setelah melewati imigrasi lagi, anehnya asip cair di coolbox malah ga diperiksa sama sekali!! padahal diisi di kantong natur masing2 lebih dari 150cc, dan gak di masukin kantong ziplok tiap 5 kantong (ada aturan begitu juga biar ga bocor).

Yang diperiksa malah ASIP yg baru saja merah ketika nyampe airport, ada sekitar 100cc di botol medela dan 1 tas isi breast pump. Memang ditanya “what is this” dan where is Your kid?” tapi setelah dijelasin semua lolos, fyuiiiih….

Sampai jakarta sekitar jam 1 pagi, udah minta suami jemput bawa es batu, jaga2 kali aja ice gel/ice pack ada yg mencair..ternytaaaa….msh beku!! Hingga di rumahpun sekitar jam 2.30an semua masih beku, asip cair 10 kantong langsung masuk ke freezer….yg di botol taro di chiller.

4

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

0

Tips travel sama si balita? Jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan :)

Di-share dari note FB rekan :). Link asli

Oleh Bunda Miriam Rustam

Banyak sekali temen yang nanya sejak kami punya Tara dan masih aja keliaran kesana kesini: gimana caranya? mbaknya gak diajak? makannya gimana? apa nggak capek ngurusin sendiri?.

Hmmmm….let’s stop for a while. Mungkin pertanyaan awalnya harusnya adalah: tujuan jalan-jalannya apa?. Kalau kami, karena sadar 200% sering pulang malam (eh yang ini sih true for my boyfriend ding sekarang, buangeeeettt… *curcol*), jadi sejak punya anak kita berdua sudah bersumpah: weekend dan hari libur si mbak akan jadi ‘pembersih’ alias kalau pup kasih mbak, baju kotor urusan mbak…dan yang gitu-gitu deh. Selebihnya urusan kita.

Pas punya Lila, di usia kepala 4 dengan kesadaran penuh tulang pinggang sudah mulai sering menjerit, ya saya memang jadi lebih ‘manja’ sih, si mbak jadi lebih sering kita ajak kalau pergi di dalam kota, karena pueeggeeeelll reeekkk apalagi Lila jauh lebih physically active dibanding si kakak dulu yang sukarela duduk manis di car seat atau stroller-nya. Dan si kakak yang walaupun sudah hampir 8 tahun tapi kadang masih keluar 5 tahun-nya 😀 But still we try to spend as much time as we can with the both of them, dengan campur tangan si mbak sekecil mungkin.

Nah kalau travel jauh ya podo wae. Tujuannya travel dengan anak selain ngenalin hal-hal baru, ya supaya kami punya waktu eksklusif dengan anak-anak. Makanya especially kalau tujuannya adalah liburan (alias, gak ada agenda mengunjungi saudara atau siapapun di tempat tujuan), kami gak akan mau ajak si mbak. Yaaaa alasan lainnya sih juga karena saya malaaasss harus mikirin ini itu untuk orang lain, which akan harus dilakukan mau tidak mau kalau ajak si mbaknya.Tapi kalau agendanya adalah mengunjungi seseorang (misalnyaaaa pas lebaran :D), nah itu pasti kami ajak si mbak. Supaya lebih konsen beramah tamah dengan mereka yang lama gak ketemu.

Nah terus gimana tuh ngurusin si balita tanpa mbak?. Saya mungkin jenis emak gamau rempong. Kalau mau dibilang ‘tips’ ya tips saya cuma itu aja: jangan bikin rempong yang gak perlu dirempongkan supaya gak pusing sendiri. Dan oh satu lagi: make sure bapaknya memang bisa diajak kerjasama!. Ini faktor pueeeennnttttiiiiiiing beyond belief. Gimanapun kan butuh kerjasama yaaaa….ngurusin anak kan bukan cuma tanggung jawab si emak yaaaaaa….jadi bapaknya harus bantuin *toyorajakalaunggakmau*

Tips lainnya:

1. Kalau bayi masih ASIX – WORRY NOT!!!!. Sumpah. Gak perlu bersihin botol, gak perlu bawa air panas, gak pusing nyiapin susu, gak usah takut kualitas air. Jadi apalagi bundaaaaa….angkut aja itu bayiiiii… Tara’s first travel itu dia baru 2 bulan, kami boyong naik mobil Jkt – Semarang – Jkt. Bawaannya cuma baju aja!Oh dan tempat bobok yang nyaman juga ding.

2. Kalau anaknya sudah mulai MPASI, jujur, saya gak ambil pusing harus homemade etc. Sebisa dan semasuk akalnya ajalah kalau saya sih. Yang bisa disiapkan dari rumah dan dimasukkan kulkas, ya saya bawa pakai cooler box pas di jalan, masuk kulkas di hotel. Ini misalnya sup2-an, puding (utk 11bln ke atas), atau puree sayur/buah beku. Manasinnya? ya gampang toooh tinggal minta mangkuk isi air panas di restoran manapun kita berhenti, taruh itu makanan di mangkuk lain, rendam, beres. Selebihnya, saya lebih banyak bergantung pada buah (termasuk buah dada kalau anaknya masih ASI ;p). Pisang terutama – the easiest to find. Terus juga loads of biscuits for the road. Ya tentunya biskuit yang sesuai sama usia anaknya yaaaa. Juga roti. Ini karena kami kalau sudah ngelantur, bisa berjam-jam di jalan dan lewat jam makan. Nah ini lagi. Saya gak mau tuh rempong mikir jam segini harus berhenti untuk makan. Pokoknya kalau masih asik, ya lanjut aja. Makanya di mobil harus siap terus semua makanan itu. Plus air.

3. Homemade MPASI is good, but, we’re on holiday!. Saya pernah sih baca ada yang bawa segala rupa selama travel. Waduh, saya mah gak sanggup kalau harus full homemade selama liburan. Emak gak mau rempong gini…. Dan excuse saya adalah: toh di hari-hari lain si anak sudah makan homemade food terus. Dan liburan paling lama cuma 10 hari (hmmmm…..belum pernah sih….akan pernah gak ya… *langsungingetjadwaljadwalmeetingsipacar*), jadi ya sudahlah, let’s try to loosen up. Jadi, dulu waktu Tara maupun sekarang dengan Lila, saya kombinasikan saja homemade dengan instant MPASI (hehehehe…bisa dihujat nih eke sama emak-emak homemade MPASI ;p). Dan instant juga biasanya saya pakai yang ready to eat, yang dalam toples-toples kaca itu. Kenapa? karena malas bawa perabotan! 😀 See….tema utama dari tips saya adalah: hindari kerempongan ;p Dan 1 – 2 minggu sebelum jalan biasanya saya beli beberapa untuk dicoba ke anaknya, supaya tahu apa yang dia suka. Nah yang paling enak kalau anak sudah setahun. Itu saya lepas untuk eksperimen. Lila minggu depan setahun, ya wes lah, curi start aja (hehehehe…bisa kena hujat lagi nih sama emak-emak penganut no gulgar sblm 1 thn ;p). Kemarin di Bangka, saya biarin Lila coba pempek karena kepengen pas lihat saya makan. Itu juga cuma secuil-secuil. Dulu Tara saya biarin makan jagung bakar pinggir jalan waktu umur 2 tahun kami bawa ke Lombok. Dia juga makan udang bakar warung pinggir jalan. Yang bikin saya PD aja: ANAK ASI boooo’!!!!. Insya Allah perutnya kuat!. Dan kalau dia masih nyusu, insya Allah segala bakteri yang masuk, mampus dengan ASI yang dia minum. Jadi, kenapa harus takut??.

4. Kalau naik mobil, santai aja. Jangan kejar setoran!. Kami ini suka bingung kalau keluar kota, teteeeppp aja ada orang yang klakson-klakson, yang pengennya buru-buru. Lah, liburan aja kok kejar setoran buru-buru toh. Santai ajalah pokoknya. Kalau bawa balita yang berlaku adalah AGENDA SI KECIL. Artinya, kita boleh punya itinerary. Tapi jangan paksakan itu ke si bayi. Kenali tanda-tandanya. Patokan kami untuk berhenti kalau bawa balita cuma 1: dia sudah rewel beyond belief 😀 Itu tandanya harus berhenti supaya dia bisa jalan-jalan ngelurusin kaki. Atau kadang dia cuma pengen ngobrol atau digendong sama ayahnya yang nyetir berjam-jam 🙂

5. Selalu sedia ‘Kotak Doraemon’ yang isinya: hand sanitizer, tissue basah, tissue kering, Panadol, plester luka (you never know kapan anak akan jatuh), sunblock, lip balm dgn SPF

6. Sticking to schedule is important, but then again, we’re on holiday!!. Jadi kami juga gak mau pusing dengan urusan jam mandi, jam makan etc. Tara tahu banget tuh kalau sudah liburan, dia boleh mandi siang. Bahkan kalau misalnya harus pergi pagi-pagi buta, dia tahu bahwa dia boleh cuma sikat gigi dan cuci muka aja. Buat kami penting anak-anak lepas dari aturan sebentar saat liburan, karena toh di hari-hari lain mereka sudah harus teratur. Kita aja ogah diatur-atur kalau pas lagi liburan, kan?. Apa adil berharap hal yang sama dari anak-anak?. Dan efeknya ke kita: kita juga jadi santai karena gak harus mikir anak harus ini itu. We can all then enjoy the time. Together.

 Hmmmm….apalagi ya. Self-sufficiency sih yang jelas ya: tahu apa yang harus dilakukan tanpa support yang biasa kita miliki di rumah. Dan itu: jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan, don’t worry be happy ajalah. Dan bagi para mama yang ngASI – nyantai aja mommies, anak-anak kita terlindungi dengan baik kok dengan cairan ajaib itu, manufakturnya kan udah yang paling TOB jd kenapa harus kuatir 🙂  Alhamdulillah saya sudah buktikan dengan 2 anak saya.

 Lila yang hari Minggu ini baru akan setahun, susah buanget makan. Makannya secuil-secuil. Jangan harap dia bisa habiskan semangkok kecil nasinya!. Awalnya saya kuatir apa dia kuat diajak jalan-jalan apalagi dengan acara berenang di kolam, main di laut, main pasir di pantai dengan angin yang sedang kencang. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja tuh. Dan saya yakin yang bantu dia ya si ASI itu.

Gituuuu…. mungkin ada lagi yang mau nambahin tipsnya? Yuk share aja buat nambahin info buat yang lain. Karena akan ada masanya anak-anak gak mau lagi diajak jalan-jalan sama ortu, jadi mumpung belum bisa protes, boyong yuk si balita jalan-jalan! :))

0

Bolehkah Ibu Menyusui Berdiet?

Pertanyaan ini kerapkali diajukan Ibu menyusui karena disatu sisi mereka merasa kurang nyaman dengan berat badan pasca melahirkan, namun disisi lain khawatir diet akan mengganggu produksi dan atau komposisi ASI.

Ibu menyusui BOLEH menurunkan berat badan dengan aman jika mengikuti enam aturan dasar berikut1:  .

  1. Tunggu hingga bayi berusia 2 bulan. Selama dua bulan pertama, jangan batasi asupi kalori untuk mengurangi resiko negatifnya. Tunggu hingga Ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan biarkan tubuh Ibu bekerja secara alami mengatur dirinya sendiri hingga terbentuk produksi ASI yang sehat. Menyusui bayi membakar sekitar 200-500 kalori per hari — Jadi perlu diingat, dengan pola makan seperti biasa Ibu membakar lebih banyak kalori tanpa perlu program khusus menurunkan berat badan
  2. Terus menyusui tanpa batasan. Penelitian menunjukkan semakin sering menyusui dan menyusui lebih dari 6 bulan terbukti mampu menurunkan berat badan pasca melahirkan
  3. Makan minimal sebanyak 1500 – 1800 kalori per hari. Selama menyusui Ibu tidak disarankan makan kurang dari 1500-1800 kalori per hari. Beberapa Ibu memerlukan lebih banyak kalori dari kisaran ini tetapi kurang dari 1500 kalori cukup beresiko
  4. Usahakan penurunan berat badan kurang dari 750 gram per minggu1 (atau 450 gram per minggu2). Sebagian besar Ibu dapat menurunkan berat badannya sekitar 750 gram (1.5 pounds) per minggu atau 3 kg per bulan pada bulan kedua dan tidak berpengaruh baik pada produksi ASI maupun kesehatan/pertumbuhan bayinya. Salah satu studi pada Ibu-ibu yang berdiet selama 11 hari menunjukkan penurunan berat badan jangka pendek sebanyak 1 kg dalam 1 minggu tidak berpengaruh apa-apa
  5. Kurangi asupan kalori secara bertahap. Pengurangan kalori secara mendadak akan menurunkan produksi ASI. Beberapa Ibu melaporkan hal ini terjadi manakala mereka sakit walaupun bisa jadi dehidrasi dan atau penggunaan obat-obatan juga bisa menjadi salah satu faktor menurunnya produksi ASI ketika Ibu sakit
  6. Hindari Diet Instan. Ibu menyusui tidak disarankan berdiet dengan cara mengkonsumsi minuman khusus diet, obat-obatan penurun berat badan, atau melakukan diet rendah karbohidrat dan rendah lemah, serta diet-diet instan lainnya

Apa yang terjadi jika Ibu menyusui mengalami penurunan berat badan yang drastis?

  • Dalam banyak kasus, bukan ASI (baik produksi maupun komposisi) yang terpengaruh tetapi nutrisi Ibu dan atau kesehatannyalah yang merasakan efek negatifnya.
  • Diet yang berlebihan dapat menurunkan produksi ASI. Ibu yang malnutrisi akan kekurangan vitamin A, D, B6 dan B12 dalam ASInya sehingga beresiko produksi ASI terganggu2.
  • Berdasarkan Breastfeeding and Human Lactation (3rd Edition, Riordan, halaman 440), perlu diperhatikan bahwa program penurunan berat badan yang cepat akibat asupan kalori dibatasi ketat sebaiknya dihindari karena kontaminan dari racun (misal racun lingkungan seperti pestisida) yang tersimpan dalam lemak tubuh akan dilepaskan ke dalam aliran darah, akibatnya kandungan racun dalam ASI. Hal ini juga akan menurunkan produksi ASI. Penulis1 memperkirakan yang dimaksud dengan ketat disini adalah dibawah 1500 kalori.


Tips untuk menurunkan berat badan
(terlepas apakah Ibu menyusui atau tidak)

  1. Lakukan perubahan diet makan. Kurangi asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, tetap konsumsi protein dalam jumlah cukup untuk mencegah penurunan massa otot (asupan protein yang disarankan bagi Ibu menyusui berkisar 65 gram/hari selama 6 bulan pertama dan 62 gram/hari untuk 6-12 bulan)
  2. Makan dalam porsi kecil tapi sering. Alihkan frekuensi makan 2-3 kali sehari menjadi 3 kali makan dengan porsi kecil dan cemilan sehat diantaranya.
  3. Olahraga. Dengan berolahraga Ibu akan membakar lebih banyak lemak sembari mempertahankan massa otot.

Bagi yang memerlukan daftar kalori makanan bisa menuju link berikut http://rudy-infokesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-kalori-makanan.html

Selamat Berdiet Sehat! 🙂 

 Referensi

  1. http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-weightloss.html
  2. http://www.llli.org/faq/lowcarb.html
0

Download Gratis Artikel & Video ASI, Menyusui, MPASI, dan Kurva Pertumbuhan


Berikut kami berikan link download free panduan atau artikel terkait dengan ASI, MPASI, Tumbuh Kembang, dan lain-lain dari sumber terpercaya seperti WHO, AAP, CDC, dll. Semuanya dalam bahasa Inggris. Artikel dan link akan di-update.Semoga bermanfaat. Selamat Membaca!

ASI & Menyusui

  • Update* Video Pemberian ASIP melalui cup pada bayi baru lahir

Makanan Pendamping untuk 6 bulan keatas

Tumbuh Kembang Anak

6

Pemberian Air Putih pada Bayi, Perlukah?

        Apakah bayi memerlukan air putih? Bayi dibawah usia 6 bulan yang disusui TIDAK memerlukan air putih. Kenapa? Karena kebutuhan cairannya sudah tercukupi dari ASI. Kandungan air dalam ASI sendiri sebanyak 88%. Beberapa hari pertama sebelum produksi ASI Ibu lancar, kolostrum yang sedikit tersebut ternyata telah mampu memenuhi kebutuhan bayi dan menjaga dia dari dehidrasi (dengan asumsi bayi menyusu dengan efektif-pelekatan benar). Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), pemberian suplemen seperti air, glukosa, susu formula ataupun cairan lain seharusnya tidak diberikan pada bayi baru lahir yang disusui kecuali ada indikasi medis dari dokter. Beberapa riset menunjukkan dalam cuaca panas dan kering sekalipun , bayi usia 6 bulan ke bawah yang disusui tidak memerlukan air atau jus, dengan asumsi bayi boleh menyusu kapanpun dia mau. Dalam kondisi seperti ini, sang Ibu mungkin memerlukan asupan cairan lebih, tapi tidak pada bayinya. Jika Ibu merasa bayinya harus, segera susui si kecil. Langkah ini akan mencukupi kebutuhan cairannya. Semakin sering Ibu menyusui, semakin banyak ASI yang diproduksi yang berarti semakin banyak air bagi bayinya. Pemberian cairan di luar ASI justru dapat memicu kontaminasi atau alergen.  Sedangkan pada bayi yang mendapat susu formula (sufor), air putih tidak perlu rutin diberikan. Beberapa sumber menyebutkan boleh memberikan air pada bayi yang mendapat sufor ketika cuaca luar ruangan sangat panas atau ketika bayi sakit yang disertai demam (perlu konsultasi terlebih dahulu pada dokter).

         Pada bayi baru lahir (khususnya usia 4-5 minggu) pemberian air putih juga dapat menimbulkan resiko. Penambahan air putih dikaitkan dengan kenaikan tingkat bilirubin pada bayi baru lahir yang mengalami sakit kuning. Selain itu, terlalu banyak air putih dapat menimbulkan kondisi serius yang disebut keracunan air putih (oral water intoxication). Pemberian air putih akan membuat bayi kenyang sedangkan tambahan kalori tidak ada sama sekali. Oleh karena suplemen air putih dapat menurunkan berat badannya (atau berat badan tidak bagus). Bayi yang mendapatkan tambahan air putih juga akan malas/jarang menyusu, akibatnya produksi ASI Ibu akan terganggu.

Bagaimana dengan Bayi diatas 6 bulan?

         Pada usia ini, bayi mulai diperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI). Kebutuhan cairan sendiri pada dasarnya telah tercukupi dari ASI, sufor, dan MPASI (misal pure buah atau sayur). Oleh karena itu pemberian air putih tidak disarankan walaupun juga tidak dilarang. Jangan sampai air putih atau cairan lain menggantikan ASI. Bila Ibu mendapati si kecil (usia bawah 1 tahun) sembelit atau susah buang air besar (BAB), beberapa dokter membolehkan pemberian tambahan air putih tidak lebih dari 120 ml per hari. Ibu juga tidak perlu khawatir jika si kecil tampak tidak menyukai air putih, karena secara alami, seiring perjalanan usia, anak akan menyukai air putih. Mengingat air putih tidak memberikan nilai kalori, maka usahakan pemberian air putih tidak dengan dot melainkan dengan sendok atau cangkir atau dicampurkan pada makanannya.

Referensi

  • Project Linkages. 2005. Exclusive Breastfeeding: The Only Water Source Young Infants Need. FAQ Sheet 5
  • American Academy of Pediatrics, 2005, Section on Breastfeeding. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics. 115(2):496-506.
  • Teresa Pitman: 2000, Water for Babies: When is it appropriate to give your baby water? http://www.todaysparent.com/baby/foodnutrition/article.jsp?content=1240
  • Jana, L.A., & Shu, J., 2008, Chapter 10 – Sippy Cup Syndrome, Food Fight, American Academy of Pediatric Publication