3

Selamat Tinggal Botol (dan Dot)!

Rasanya di lingkungan kita melihat anak kecil dengan botol dan dotnya adalah pemandangan yang amat lazim. Mungkin boneka bayi ¬†dengan botol menempel di mulut pernah jadi bagian masa kecil kita ūüôā Begitu dot lepas dari mulutnya, boneka pun ‚Äėmenangis‚Äô. Hal ini disadari atau tidak merasuk dalam alam bawah sadar kita dan generasi anak-anak kita bahwa bayi identik dengan botol dan dot. Jika bayi menangis berarti mereka lapar atau haus, berikan dot, masalah selesai. Sayangnya efek jangka panjang minum dari botol dengan dotnya hasilnya tidak selalu seindah harapan orangtua.

Mengapa botol sangat dicintai anak-anak? Secara alami anak kecil akan Dalam buku Food Fight, penulis menyatakan botol dan dot memberikan segala hal yang diperlukan bayi yaitu makanan (nourishment), kelekatan (bonding), kalori, dan kenyamanan (comfort). Di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics dan American Dental Association telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penggunaan botol begitu anak menginjak usia 1 tahun. Riset menunjukkan anak yang banyak menghabiskan waktu dengan botol beresiko lebih besar terkena infeksi saluran telinga.  Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, peneliti menemukan salah satu faktor kemungkinan utama penyebab kelebihan berat badan pada anak usia pra sekolah (selain faktor memiliki ibu yang overweight) adalah penggunaan botol terlalu lama.

Para penulis buku Food Fight memaparkan mengapa pemberian minum apapun jenisnya tidak disarankan dari botol dan dot pada anak balita (atas 1 tahun).

  1. Aliran yang Lancar. Minum dari botol dapat dikatakan tidak memerlukan usaha untuk menghisapnya begitu bayi menginjak usia beberapa bulan. Aliran minuman begitu lancar bahkan saat anak-anak tertidur. Keterampilan menghisap menghisap ini sebenarnya tidak begitu diperlukan lagi manakala mereka menginjak usia beberapa bulan
  2. Minum dari botol telah mencakup segalanya. Makan adalah proses belajar. Pada masa pembentukan proses makan yang benar, anak usia balita perlu belajar mengenali berbagai jenis makanan dan makan seimbang. Karena ngedot (sucking) jelas lebih mudah dibanding mengunyah, proses pembelajaran makan bisa terganggu. Balita yang masih suka nge-dot cenderung lebih suka banyak minum, akibatnya mereka makan sedikit atau tidak bernafsu makan sama sekali
  3. Nge-dot karena efek mengisapnya itu sendiri (yang membuat nyaman). Walaupun anak usia balita selalu minum manakala disodori botol, hal ini tidak selalu berarti mereka haus. Mengapa? Minum dari botol atau ngedot terbukti memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi ketika mereka mau tidur masih ingin ngedot atau malam-malam terbangun minta dot, itu lebih karena ngedot menenangkan mereka bukan karena haus atau lapar.
  4. Apa yang ada didalamnya itulah yang penting. Masalah yang terkait dengan minum dari botol dalam jangka lama tidak hanya terletak pada botol itu sendiri, tetapi juga pada apa yang terkandung didalamnya. Walaupun botol tersebut umumnya berisi susu atau air putih, hal ini tetap dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Apalagi kita kerap melihat jus atau air teh juga dikonsumsi balita dalam botol! Ketika anak mulai merasakan ‚Äėnikmat‚Äônya minuman ini, semakin sulit mereka terlepas dari botol. Pengalaman menunjukkan menyapih dari botol (dan minuman ‚Äėkurang sehat‚Äô) lebih sukar dibanding menyapih dari menyusui.
  5. Masalah Gigi Berlubang. Riset menunjukkan balita yang ngedot lebih sering mengalami problem pada giginya entah berlubang atau kerusakan lainnya.
  6. Hambatan Berbicara. Agak sukar memahami balita berbicara dan hal ini semakin sukar jika balita kerap menghabiskan waktu dengan botol di mulutnya. Sama halnya dengan empeng, pakar menyarankan ada tempat dan masa yang sesuai untuk botol & dot, tetapi manakala anak mulai ‚Äėberbicara‚Äô, sebaiknya benda-benda ini kita singkirkan

Bersambung ke bagaimana menghentikan botol¬† ….. (next article ūüôā )

Referensi

¬†–¬†Laura A. Jana, & Jennifer Shu, 2008, ‚ÄúDrinking Problems‚ÄĚ Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup pp 45-84, American Academy of Pediatric

Advertisements
0

Hand Foot and Mouth Disease (‚ÄúFlu Singapore?‚ÄĚ)

Hand Foot Mouth Disease (HFMD) merupakan kumpulan gejala dan tanda yang khas pada kulit dan mukosa. HFMD paling banyak disebabkan oleh virus coxsackie A16, kadangkala ketika mewabah dapat juga disebabkan oleh enterovirus 71, virus coxsackie A5, A7, A9, A10 serta coxsackie B2 dan B5.  Virus coxsackie merupakan famili picornaviridae dan genus enterovirus. Jadi berasal dari genus dan famili yang sama dengan virus polio.

Dalam referensi kedokteran HFMD tidak dikenal sebagai ‚ÄúFlu Singapore‚ÄĚ. Bahkan dalam sebuah website yang ditulis oleh orang Singapura, merekapun heran dengan sebutan tersebut.

Gejala dan Tanda HFMD:

  • Biasanya tampilan sakit ringan (anak tidak tampak sakit berat)
  • Demam tidak tinggi
  • Vesikel pada tenggorokan, gusi, langit-langit mulut, bibir yang kemudian membentuk luka (ulkus) seperti stomatitis dengan diameter 4 ‚Äď 8 mm dilingkupi kemerahan disekitarnya.
  • Vesikel (mirip cacar) pada telapak tangan, jari, kaki, pantat dan pangkal paha.

 

Jenis virus tertentu  penyebab HFMD terutama enterovirus 71 dapat menyebabkan gangguan pada saraf, jantung dan paru, serta menyebabkan kematian. Secara umum, semua infeksi yang disebabkan virus dapat menimbulkan gejala mirip flu (pilek, batuk, nyeri  kepala, nyeri otot) dan gejala saluran cerna (diare, muntah, nyeri perut). Sehingga pasien dengan HFMD-pun bisa disertai gejala dan tanda tersebut.

Tata Laksana

Penyakit HFMD biasanya akan sembuh dengan sendirinya (self limited). Akan tetapi bila terjadi kondisi klinis berat maka perlu tindakan intervensi. Intervensi tersebut lebih berfungsi suportif. Penggunaan antivirus belum terbukti bermanfaat. Oleh sebab itu bila dirasa kondisi anak kurang baik/nampak sakit berat perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak

Referensi

  1. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th ed., 2011
  2. Long SS, Pickering LK dan Prober CG (editor), Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, 3rd ed., 2008
  3. Strauss JH dan Strauss EG, Viruses and Human Disease, 2nd ed., 2008

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

138

Ragam Susu Formula Bayi dan Peruntukkannya

Penting dibaca!

Artikel berikut tidak serta merta dipandang sebagai dukungan baik implisit maupun eksplisit terhadap pemberian susu formula. Artikel ini bertujuan pada pemberian informasi mengenai beragam jenis susu formula agar orangtua yang memutuskan menggunakan susu formula bersikap bijaksana dalam memilih susu yang tepat sesuai kondisi bayi dan tidak terjebak pada klaim bombastis manfaat susu formula.

 Pendahuluan

Di Indonesia, saat ini begitu banyak beredar berbagai jenis Susu Formula (sufor) mulai dari yang mahal sampai yang relatif murah. Seringkali ibu-ibu yang terpaksa menggunakan susu formula bingung memilih susu formula yang tepat bagi bayinya. Apalagi kadangkala informasi yang didapatkan dari produsen bercampur dengan informasi dagang yang berlebihan

Definisi

Secara definisi formula bayi adalah makanan yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sebagai pengganti sebagian atau hampir semua dari ASI yang karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan secara penuh atau sebagian. Karena seringkali bayi hanya boleh mendapatkan susu (dibawah 4 ‚Äď 6 bulan) maka pembuatan susu formula untuk bayi diawasi dengan ketat. Setiap penelitian¬† tentang susu formula bayi maka standard emas (golden standard) yang digunakan adalah ASI. Penggunaan susu formula bayi sangat berisiko menyebabkan masalah besar pada bayi bahkan dapat menyebabkan kematian, oleh sebab itu pemasaran bayi diatur dengan ketat (khususnya di negara maju) dan penggunaannya hanya atas rekomendasi dokter.

Klasifikasi Susu Formula Bayi

A. Standar

  1. Bahan dasar susu sapi. Misalnya: SGM, Lactogen, Similac, Enfamil, Bebelove, S26
  2. Bahan dasar soya. Misalnya: Isomil, Prosobee, Alsoy, Nutrilon Soya, SGM soya, Nursoy
  3. Bahan dasar susu kambing

B.  Protein hydrolysates

  1. Partially Hydrolyzed Formula (PHF). Misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  2. Extensively Hydrolyzed Formula (EHF). Misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
  3. Elemental. Misalnya: Neocate, Elecare

C. Premature. Misalnya: Enfacare, NeoSure, SGM BBLR, PreNAN, Enfamil PF

D.  Susu fomula tahap lanjut, untuk batita dan balita

E.  Susu formula khusus. Susu yang dimodifikasi khusus untuk penyakit-penyakit tertentu misalnya: kelainan metabolik, ginjal, kelainan saluran cerna

Berikut adalah bahasan singkat tentang klasifikasi di atas

Standard

Pada prinsipnya seluruh formula bayi yang beredar dipasaran sudah sesuai standar baku yang ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pengawasan terhadap formula bayi sangat ketat, hal ini disebabkan semua ahli bahwa ketidak tepatan pemberian nutrisi pada bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berbagai produk formula bayi standard dengan bermacam nama, harga dan promosi. Akan tetapi tidak ada bukti ilmiah satupun yang menyatakan yang satu lebih baik dari pada yang lain.

Formula bayi berbahan dasar soya/kedelai

Penggunaan formula yang berbahan dasar soya ditujukan apabila didapatkan bukti adanya alergi protein susu sapi (CMPA/cow milk protein alergi) akan tetapi faktanya 30 ‚Äď 64% non-IgE mediated alergy dan 8 ‚Äď 14% IgE-mediated alergy juga alergi terhadap soya. Oleh karena itu formula bayi yang berbahan dasar soya hanya merupakan pilihan terakhir jenis formula pengganti bagi bayi alergi (pilihan nomor satu adalah elemental, kedua protein hydrolisat). Formula soya bebas dari laktosa sehingga dapat digunakan pada intoleransi laktosa dan galaktosemia.

Pernyataan komite nutrisi AAP (American Academy of Pediatric) tentang formula soya:

Formula soya dapat dipertimbangkan digunakan untuk situasi:

  • Bayi dengan galaktosemia atau defisiensi emzim lactase
  • Bayi dengan orang tua vegetarian
  • Bayi dengan IgE-mediated CMPA

Formula soya tidak bermanfaat pada:

  • Bayi dengan diare tanpa bukti intoleransi laktosa
  • Infantil colic
  • Pencegahan allergy
  • Bayi dengan enteropathy dan enterocolitis yang diinduksi protein susu sapi

Formula bayi dengan Protein hydrolysates

Partially Hydrolyzed Formula (PHF) ditujukan untuk pencegahan alergi pada bayi yang memiliki riwayat alergi pada orang tua. Sedangkan Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) ditujukan untuk bayi dengan alergi susu sapi dengan manifestasi ringan atau sedang. Berdasarkan keriteria AAP hanya EHF yang tergolong susu hipoalergenik. Kejadian alergi protein susu sapi cukup jarang 2 ‚Äď 3 persen, oleh karena itu AAP menyatakan bahwa penggunaan susu hipoalergenik (EHF dan Elemental) harus dengan pertimbangan dokter.

Formula bayi Elemental/Asam amino

Formula elemental digunakan pada alergi susu yang berat. Hanya untuk diketahui susu ini sangat mahal dan sulit dicari.

Formula Premature

Susu formula premature ditujukan agar bayi premature dapat mencapai pertumbuhan mendekati pertumbuhan didalam kandungan. Formula premature diberikan pada bayi dengan berat badan lahir 2000 gram. Susu formula premature sebaiknya dihentikan bila berat badan bayi 2000 gram dikarenakn dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi yang berlebihan. Dinegara maju formula premature hanya diberikan dirumah sakit, setelah bayi keluar dari rumah sakit diberikan formula premature transisi. Formula premature transisi memiliki cakupan nutrisi diantara formula premature dan formula standar/mature. Akan tetapi susu fomula ini sulit didapatkan di Indonesia dan belum ada bukti ilmiah yang menunjukan kelebihannya dibanding formula standar.

Penambahan LCPUFA, ARA dan DHA

Long-chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA) meliputi asam lemak essensial, Linoleic Acid, őĪ-Linolenic Acid (ALA), Arachidonic Acid (ARA) and docosahexaenoic acid (DHA). Hampir semua formula bayi saat ini mempromosikan kandungan ARA dan DHAnya terutama yang premium. ARA dan DHA terdapat didalam asi dan merupakan asam lemak¬† utama yang membentuk retina (saraf mata) dan otak. Penambahan ARA dan DHA pada formula bayi belum memiliki bukti ilmiah yang kuat memiliki kelebihan dibandingkan formula tanpa ARA dan DHA. Beberapa penelitian menunjukan manfaat ARA dan DHA, namun setelah dibuat review (meta-analisis) oleh Cochrane memberikan kesimpulan tidak berbeda, akan tetapi penggunaan ARA dan DHA cukup aman.

Nucleotida

Nucleotida banyak terkandung dalam ASI, dan merupakan metabolit yang membentuk ribonucleic acid (RNA), deoxyribonucleic acid (DNA) dan adenosine triphosphate (ATP). Studi klinik  menunjukan manfaat nukleotida pada pertumbuhan dan modulasi sistim kekebalan tubuh pada bayi kecil menurut masa kehamilan.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus

Bila kita membaca peraturan BP POM tersebut terlihat jelas bahwa susu formula bayi diatur dalam hal kandungan nutrisi dan pemasarannya. Rincian persyaratan keamanan, mutu dan gizi formula bayi dapat dibaca pada lampiran peraturan tersebut. Kadar zat yang harus ada diatur kadar minimal dan maksimal, begitupula zat tambahan yang boleh ditambahkan.

Bila kita lihat pada bab empat berisi tentang larangan:

Pasal 1.  Pelaku Usaha dilarang:

a. memproduksi dan/atau memasukkan Formula Bayi dan/atau FormulaBayi Untuk Keperluan Medis Khusus ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini;

b. mencantumkan klaim gizi dan/atau klaim kesehatan pada label Formula Bayi;

c. mencantumkan klaim kesehatan pada label Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus; dan

d. mengiklankan Formula Bayi dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan.

Kandungan nutrisi yang boleh ditambahkan antara lain taurin, nukleotida, DHA,  ARA dan Probiotik. Kenapa tidak diharuskan? Hal ini disebabkan para ahli nutrisi sendiri terdapat silang pendapat tentang sejauh mana manfaatnya, efek samping jangka panjang atau bentuk sediaan yang tepat.

Ringkasan.

  1. Untuk bayi sehat dan tidak ada risiko alergi, bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi bebas (mahal-murah sama saja)
  2. Bila bayi sehat dan ada risiko alergi (ayah/ibu/saudara ada riwayat alergi),  bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi pilihlah yang Partially Hydrolyzed Formula (PHF) misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  3. Bila bayi menderita alergi protein susu sapi dan ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi:
    • Pertama: Susu formula elemental (mahal, diutamakan yang alergi berat)
    • Kedua: Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) misalnya: Pregestimil,¬†Nutramigen, Alimentum
    • Ketiga: Bila kedua formula diatas tidak dapat diakses maka boleh dicoba¬†dengan formula bayi yang berbahan baku soya.
  4. Untuk bayi dengan masalah kesehatan lain harus dikonsultasikan dengan dokter anak.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Daftar Pustaka

  1. Martinez JA and Ballew MP, Infant Formulas, Pediatrics in Review 2011;32;179
  2. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th, 2011;161-164
  3. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus
  4. U.S. Department of Agriculture, Feeding Infants, A Guide for Use in the Child Nutrition Programs, 2002.
0

Konstipasi Kronis

Tulisan ini bermaksud membahas tentang konstipasi kronis. Definisi, kriteria konstipasi kronis  khususnya fungsional termasuk tata lakasananya akan diuraikan. Konstipasi yang sesekali terjadi pada anak khususnya bayi (biasanya karena pemberian susu formula atau saat pengenalan MPASI) tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Penggunaan pencahar, diet makanan tertentu, dan olahraga/aktivitas fisik (exercise) biasanya dapat memulihkan kondisi konstipasi seperti ini.

PENDAHULUAN

Konstipasi merupakan salah satu keluhan yang cukup kerap dilontarkan orangtua ketika mendatangi dokter anak (berkisar 4-36%).  Sejauh ini beberapa ahli memberikan batasan berbeda-beda tentang konstipasi kronis. Laporan yang ada tentang frekuensi gerakan usus (bowel mowement) normal yang menandakan keinginan buang air besar (BAB) adalah sebagai berikut:

Umur

Gerakan Usus Perminggu Gerakan Usus Perhari
0 ‚Äď 3 bulan
  • ASI

5 ‚Äď 40

2,9

  • Susu formula

5 ‚Äď 28

2,0

6 ‚Äď 12 bulan

5 ‚Äď 28

1,4

1 ‚Äď 3 tahun

4 ‚Äď 21

1,8

Lebih dari 3 tahun

3 – 14

1,0

Konstipasi kronis berdasarkan penyebabnya dibagi dua:

  1. Konstipasi non-fungsional yaitu konstipasi yang disertai kondisi patologis
  2. Konstipasi fungsional, yaitu konstipasi yang tidak disertai kondisi patologis

Anak dicurigai menderita konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda sebagai berikut

  • Demam
  • Muntah
  • Gangguan pertumbuhan/perkembangan
  • BAB disertai darah
  • Riwayat meconium (BAB warna kehitaman pada bayi) pertama kurang dari 24 jam.

 DEFINISI/KRITERIA KONSTIPASI FUNGSIONAL

 Sedangkan definisi konstipasi fungsional sendiri ada beberapa, diantaranya menurut:

A.     ROME III:

Kriteria konstipasi fungsional menurut ROME III dibedakan berdasar usia anak, yaitu:

Anak > 4 tahun

 Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda minimal 1 kali dalam 1 minggu dan paling tidak selama 2 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence)
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Anak < 4 tahun

Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda berikut paling tidak selama 1 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence) bila sebelumnya sudah bisa mengontrol BAB
  • Riwayat retensi feses berlebihan
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Secara umum keluhan lain yang sering ikut menyertai diantaranya adalah anak rewel, malas makan/mudah merasa kenyang. Namun demikian keluhan ini tidak termasuk dalam kriteria diatas

Catatan tentang fecal incontinence (kecerit, bhs Jawa, red)

The Paris Consensus on Childhood Constipation Terminology Group (PACCT) membedakan fecal incontinence sebagai dua yaitu, Soiling dan Encopresis. Soiling sebagai BAB yang tidak disengaja sehingga memberikan flek di celana pada anak usia 4 tahun atau lebih. Sedangkan Encopresis adalah pengeluaran feses yang tidak terkendali (sehingga berak di celana). Perbedaan antara encopresis dan soiling hanya pada besar/kuantitas feses.

B. IOWA.

Berdasarkan kriteria IOWA, dikatakan konstipasi pada anak > 2 tahun bila didapatkan dua atau lebih tanda/gejala berikut selama 8 minggu:

  • Satu atau lebih gejala inkontinensia dalam 1 minggu
  • Feses keras rektum atau saat pemeriksaan perut
  • Feses besar yang seringkali menyumbat toilet
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Nyeri saat BAB
  • Gerakan usus < 3 kali seminggu

C. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN, 2006) secara ringkas mendefinisikan konstipasi sebagai keterlambatan atau kesulitan BAB yang terjadi selama 2 minggu atau lebih, dan kondisi tersebut memyebabkan distress/masalah pada pasien.

MEKANISME DEFEKASI/BAB

Di dalam usus (kolon), yang merupakan organ yang disusun oleh otot, lebih dari 90% air telah diserap ketika makanan memasukinya besar. Meskipun makanan yang dimakan dapat mencapai kolon dalam waktu 2 jam, akan tetapi kira-kira butuh 2 ‚Äď 5 hari untuk dikeluarkan lewat buang air besar (BAB). Perubahan dari cair ke semi padat terjadi pada bagian kolon transversal. Bagian kolon descendent merupakan saluran yang menghubungkan ke rektum, sebuah area penampungan dimana penyerapan masih terjadi. Pengisian dan regangan rectum oleh feses akan menghasilkan:

  1. Peningkatan peristaltic usus
  2. Relaksasi sphincter anus bagian dalam
  3. Sensasi buang air besar

Adanya distensi di rektum memacu gelombang kontraksi dari rektum dan defekasi dapat berlangsung sempurna seiring meningkatnya tekanan intraabdominal, menutupnya glottis fiksasi diafragma dan kontraksi abdomen (mengejan) dimana semuanya membantu mendorong tinja melewati saluran anal yang dilanjutkan dengan keluarnya gas, cairan atau feses.

Kondisi tersebut tidak serta merta menyebabkan BAB karena sphincter anus bagian luar hanya membuka bila secara sadar dikehendaki.  Mekanisme pengontrolan karena sphincter anus sudah ada pada bayi. Seiring perjalanan waktu akan terjadi proses pembelajaran kapan saat yang tepat untuk BAB (toilet training). Problem pada BAB akan terjadi bila terdapat masalah fisik dan atau perilaku. Gerakan usus yang menandakan kehendak untuk BAB dihalangi dengan cara menahan proses tersebut maka gerakan usus tadi perlahan akan berkurang dan menghilang. Bila hal ini terjadi berulang-ulang akan terjadi penumpukan feses pada rectum bahkan sampai ke kolon. Penumpukan berlebihan feses akan meyebabkan regangan berlebihan dari rectum yang selanjutnya menyebabkan penurunan peristaltic usus.

Secara ringkas, gejala dan tanda konstipasi fungsional adalah sebagai berikut

  1. BAB tidak teratur
  2. Nyeri saat BAB
  3. Soilling (keceret)
  4. Perilaku menahan BAB
  5. Darah dalam tinja
  6. Ngompol atau gejala terkait dengan kencing

(lihat kriteria diagnosis konstipasi fungsional)

DIAGNOSIS

Bila ada gangguan perkembangan dan atau pertumbuhan, maka kemungkinan didapatkan masalah organik atau adanya penyakit yang menyertai (Baca: Dicurigai konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda). Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik perlu dikerjakan dengan seksama oleh dokter yang berpengalaman dengan anak. Status nutrisi perlu dihitung berdasarkan data tinggi badan dan berat badan. Periksaan foto rongent, laboratorium dan penunjang yang lain  dikerjakan bila ada indikasi.

TATA LAKSANA

Laporan dari Virginia (USA) menyebutkan sekitar 86% dokter di pelayanan pertama memberikan penanganan yang kurang adekuat, sehingga hampir 40% pasien tetap mengeluh konstipasi setelah 2 bulan.

Penanganan konstipasi fungsional sendiri cukup kompleks yaitu meliputi:

  1. Konsulatasi dan penyuluhan
  2. Toilet training
  3. Latihan fisik, mereka yang kurang aktivitas fisik akan lebih mudah mengalami konstipasi
  4. Diet, cukup cairan dan serat
  5. Oral laksans (pencahar)
  6. Behavioural treatment
  7. Habit training
  8. Biofeedback training
  9. Psikologis
  10. Bedah
  11. Fisik

PENGGUNAAN LAKSAN/PENCAHAR

Penggunaan laksan ditujukan untuk dua hal penting, pertama untuk disimpaction (evakuasi kotoran) yang bertujuan untuk mengeluarkan material kotoran yang keras. Kedua untuk rumatan, dengan tujuan terbentuk material kotoran yang cukup optimal untuk merangsang gerakan usus yang adekuat. Pemberian laksan rumatan bisa memerlukan waktu cukup lama sampai toilet training terbentuk dan proses BAB sudak tidak membuat anak ketakutan/stress.

KESALAHPAHAMAN TENTANG KONSTIPASI

  1. Konstipasi dapat disembuhkan cukup dengan obat. Kegagalan terapi karena baik dokter maupun orang tua kurang memperhatikan bahwa obat hanya merupakan aspek tambahan saja dalam penatalaksanaan
  2. Obat pencahar menyebabkan ketergantungan. Perlu diingat, pencahar hanya merupakan bagian dari terapi, jadi jika dihentikan maka wajar jika keluhan muncul lagi karena  modalitas terapi yang lain tidak dijalankan (Lihat: Tata Laksana).
  3. Konstipasi disebabkan asupan serat yang kurang. Serat memang diperlukan untuk membentuk feses (debulking), tetapi penelitian yang ada menunjukan bahwa konstipasi kronis juga terjadi pada mereka yang diet serat cukup tinggi dan sebaliknya mereka yang diet rendah serat banyak yang tidak mengalami konstipasi

 KESIMPULAN

Konstipasi merupakan keluhan yang cukup kerap terjadi pada anak, namun jika hanya terjadi sesekali maka orangtua tidak perlu terlalu khawatir. Penggunaan obat pencahar tanpa resep dokter diperbolehkan tetapi perhatikan aturan pakainya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan konstipasi. Apabila terjadi konstipasi kronis, orangtua harap segera menghubungi dokter yang berpengalaman. Penggunaan pencahar/obat hanya merupakan salah satu bagian dari pengobatan, peran orang tua/pengasuh sangat penting dalam penatalaksanaan terapi disamping dokter yang berpengalaman.

Dr. Ferry Andian Sumirat, MSc. SpA

REFERENSI

  1. G S Clayden, A S Keshtgar, I Carcani-Rathwell, A Abhyankar, Archiv Dis Child Educ Pract Ed 2005;90:Ep58‚ÄďEp67
  2. Daisy A. Arce, M.D., Carlos A. Ermocilla, M.D., And Hildegardo Costa, M.D., Am Fam Physician 2002;65:2283-90,2293,2295-6
  3. Afzal N.A.,  Tighe M.P., &  Thomson M.A., 2011, Constipation in Children, Italian Journal Of Pediatric 37: 28
  4. Paul E. Hyman, Peter J. Milla, Marc A. Benninga, Geoff P. Davidson, David F. Fleisher, and Jan Taminiau, Gastroenterology 2006;130:1519‚Äď1526
  5. Rasquin, A., Lorenzo, C.D., Forbes, D., Guiraldes, E., Hyams, J.S., Staiano, A. & Walker, L.S., 2006, Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent,¬†Gastroenterology¬†130:1527‚Äď1537
  6. Carin L. Cunningham, Pediatric Gastrointestinaldisorders Biopsychosocial Assessment And Treatment, 2005
0

Diagnosis Tubercolusis (TBC/TB) yang Tidak Sederhana

PENDAHULUAN

Penyakit Tuberkulosa (TBC/TB) atau beberapa orang menyebut paru-paru basah, merupakan salah satu penyakit yang paling dijadikan sering alasan bila seorang anak menderita batuk lama atau  berat badan sulit naik/kurus. Yang harus diingat bahwa TB bukanlah satu-satunya penyebab batuk lama maupun anak kurus. Oleh karena itu kita perlu mengenal lebih banyak tentang TB.

Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosa, yang dapat menyerang seluruh organ tubuh mulai dari kulit, tulang, paru, saluran cerna, ginjal,  otak, dan kelenjar limfe.  Oleh sebab itu setiap penderita TB pasti ada sumber penularannya, meskipun kadang sulit mencari sumber penularnya.

Kuman TB masuk kedalam tubuh melalui percikan ludah (droplet) dari penderita TB yang dihirup oleh saluran pernapasan/paru. Setelah kuman masuk kedalam tubuh manusia, kuman tersebut dapat berkembang menjadi penyakit atau hanya menetap bertahun-tahun tanpa menimbulkan masalah (dorman). Kuman TB yang dorman dapat menyebabkan penyakit bila terjadi penurunan sistim imunitas tubuh.

WHO memperkirakan terdapat 1/3 penduduk dunia  terinfeksi  basil  TB. Dari mereka yang terinfeksi kemungkinan akan menderita sakit sebesar:

  • 50%, bila usia< 1 tahun,
  • 10-25%, usia 1-2 tahun
  • 5%, usia-2-5 tahun,
  • 2%, usia 5-10 tahun,
  • 10-20% usia >10 tahun).

Bila ada penderita TB ditemukan, ingatlah usia-usia dimana seseorang mudah menderita penyakit TB. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mereka yang resiko terinfeksi TB adalah: Mereka yang tinggal dilingkungan penderita TB dan mereka yang berusia <2 tahun.

 GEJALA & TANDA PENDERITA PENYAKIT TB:

  1. Demam lama (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, dapat disertai keringat malam. Akan tetapi harus diingat bahwa bayi dan anak akan terasa lebih hangat dan berkeringat bila malam, hal ini terkait dengan metabolisme bayi/anak lebih tinggi dari orang dewasa. Oleh sebab itu perlu pengukuran dengan thermometer untuk melihat suhu.
  2. Batuk lama (> 3 minggu) setelah penyebab batuk lain disingkirkan. Batuk pada malam hari atau pada waktu tertentu saja atau yang disertai mengi biasanya disebabkan oleh alergi. Batuk pada TB bayi dan anak biasanya tidak berdahak/kering, batuk berdahak biasanya lebih pada TB anak besar/adolescent dan dewasa.
  3. Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas atau berat badan tidak naik meskipun asupan gizinya cukup.
  4. Gagal tumbuh atau gizi kurang. Kadang disertai anoreksia/malas makan (bukan pilih-pilih makanan/picky eaters)
  5. Lesu
  6. Diare persisten (diare > 2 minggu)

Sampai disini dapat garis bawahi bahwa dicurigai menderita penyakit TB bila menemukan tanda/gejala diatas disertai faktor risiko dan sumber penularan. Bila kita hanya menemukan gejala dan tanda saja tanpa faktor risiko dan sumber penularan maka penyakit atau masalah lain harus dicari dengan seksama oleh karena banyak penyakit lain yang memberikan gejala/tanda yang sama. Akan tetapi bila hanya menemukan faktor risiko saja maka perlu pemantuan kemungkinan akan menderita penyakit TB di kemudian hari.

Diagnosis penyakit TB pada anak bukan hal yang mudah, oleh karena seringkali sumber penular tidak jelas. Penegakan diagnosis yang ideal adalah pemeriksaan ada tidaknya kuman TB pada dahak, namun hal ini sulit dikerjakan pada bayi dan anak, baik karena sulitnya mendapatkan dahak maupun karena kandungan kuman TB pada dahak anak sangat sedikit.

PETUNJUK WHO UNTUK DIAGNOSIS TB PADA ANAK

Dicurigai Tuberkulosis

  1. Anak dengan riwayat kontak dengan penderita TB (pemeriksaan dahak positif TB)
  2. Anak dengan:
  • Keadaan klinis tidak membaik setelah campak atau pertusis
  • Berat badan menurun, batuk dan mengi yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotikan atau obat saluran pernapasan
  • Pembesaran kelenjar yang tidak nyeri

Mungkin Tuberkulosis

Anak yang dicurigai TB ditambah dengan:

  • Uji tuberculin (Mantoux/PPD test)¬† positif
  • Foto rongent paru sugestif T
  • Pemeriksaan jaringan biopsy sugestif TB
  • Respon baik dengan pengobatan TB

 Pasti Tuberkulosis

Bila ditemukan basil TB pada pemeriksaan langsung (dahak) atau biakan

Kendala pada penggunaan kriteria WHO:

  • Foto rontgen paru seringkali tidak khas kecuali bila penyakit TB sudah parah. Foto rontgen paru yang normal tidak berarti tidak ada penyakit TB.
  • Uji tuberculin sering tidak tersedia, disamping itu pada kondisi tertentu pemeriksaan tuberculin dapat negatif palsu (anergi), maka bila perlu diulang 1-2 bulan sesudahnya.
  • Pemeriksaan biopsy lebih dikhususkan pada TB kelenjar

Atas dasar berbagai pertimbangan dan hasil diskusi yang panjang, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Menyusun Sistem Skoring TB anak sebagaimana tertera dalam tabel berikut

Tabel Sistem Skoring TB Anak

Parameter

0

1

2

3

Kontak TB

Tdk jelas

Laporan keluarga (BTA negatif/tdk jelas)

BTA (+)

Uji Tuberculin

negatif

Positif (>10 mm>

Berat badan/Gizi

BB//TB < 90% atau BB//U < 80%

Klinis gizi buruk atau BB//TB <70% atau BB//U < 60%

Demam yg tdk diketahui penyebabnya

> 2 minggu

Batuk khronik

> 3 minggu

Pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak, lipat paha

> 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri

Pembengkakan tulang/sendi

ada

Foto rongent paru

Normal

Gambaran sugestif TB

Catatan: Diagnosis TB bila skor > 6 (skor maksimal 13)


Dari semua pembahasan diatas maka poin terpenting adalah pada adanya informasi/bukti sumber penularan (kontak TB) dan hasil uji tuberculin. Hal ini dapat dilihat dilihat pada tabel sistem scoring IDAI yang keduanya memiliki nilai tertinggi.

Mendiagnosis TB bukan hal yang mudah begitu pula kapan kita mengakhiri/menghentikan pengobatan juga bukan hal yang mudah. Disamping itu hampir semua obat TB dapat merusak hati (hepatotoksik).

Kembali pada bahasan sebelumnya, oleh karena itu seseorang dicurigai menderita penyakit TB bila ditemukan tanda/gejala penyakit TB baru kemudian dibuktikan/dibuat diagnosis dengan bantuan pemeriksaan yang ada/scoring TB. Jadi bila benar TB dan telah dilakukan pengobatan yang benar maka gejala/tanda penyakit tersebut haruslah berkurang/menghilang. Namun bila sebaliknya, maka muncul pertanyaan berikut:

  1. Apakah betul TB?
  2. Apakah pengobatan sudah tepat?
  3. Apakah kuman TBnya sudah kebal dengan obat standar? (Untuk no 3 perlu pembahasan amat panjang).

Untuk itu orangtua perlu bersikap kritis terhadap diagnosis TB yang ditegakkan oleh DSA anak mereka. Tanyakan dasar diagnosis yang digunakan, jika perlu carilah second, third opinion.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Referensi

  1. Buku Ajar Respirologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Cetakan Pertama, 2008
  2. Graham, S.M., 2011, Treatment of Paediatric TB: Revised WHO Guidelines, Paediatric Respiratory Reviews 12: 22-26
2

Diare Pada Anak

Pendahuluan

Di negara berkembang, diare akut masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak. Rata‚Äďrata sekitar 30% dari jumlah tempat tidur yang ada di Rumah Sakit ditempati oleh bayi dan anak dengan penyakit diare.

Definisi :

Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja mejadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah  yang berlangsung kurang dari satu minggu.

Pada bayi yang minum ASI eksklusif, frekuensi buang air besarnya normal lebih dari 3 ‚Äď 4 kali per hari, sehingga keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang‚Äďkadang pada seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi¬† konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare.

Tipe Diare

  • Diare berair akut (termasuk kolera)
  • Diare dengan perdarahan akut (disentri)
  • Diare berkepanjangan (berlangsung 14 hari atau lebih)
  • Diare yang disertai malnutrisi berat (Marasmus atau kwasioskor)

Epidemiologi :

Di negara berkembang anak-anak balita mengalami rata-rata 3‚Äď4 episode diare per tahun, tetapi dibeberapa tempat dapat lebih dari 9 episode diare per tahun atau hampir 15‚Äď20 %¬† waktu hidup anak dihabiskan untuk diare. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat pada tahun 2003 tercatat 20‚Äď35 juta episode diare diantara 16,5 juta balita. 200.000 diantaranya memerlukan perawatan dirumah sakit dengan angka kematian berkisar 200‚Äď400 setahun.

Di Indonesia sendiri dilaporkan 1,6‚Äď2 episode diare per tahun pada balita, sehingga secara keseluruhan diperkirakan episode diare pada balita sekitar 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 ‚Äď 400.000.

Diare juga merupakan penyebab kematian utama pada balita, menurut peringkat urutan penyebab kematian pada bayi dan balita, pada SURKESNAS 2001 diare menempati urutan penyebab kematian no 2 yaitu sebesar 13,2 %.

Cara  penularan dan faktor resiko :

Cara penularan¬† diare pada umumnya melalui cara fekal ‚Äď oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (dikenal juga melalui 4 F = finger, flies, fluid, field )

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4‚Äď6 bulan¬† pertama kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.

Faktor Musim

Di daerah tropik seperti Indonesia, diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.

Etiologi

Pada saat ini dengan kemajuan bidang iptek, hasil laboratorium telah dapat mengidentifikasi  kuman-kuman patogen dari penderita diare sekitar 75% pada kasus yang datang disarana kesehatan dan sekitar 50% kasus ringan di masyarakat. Penyebab infeksi utama timbulnya diare  umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit.

Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non inflammatory dan inflammatory.

Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan /atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya  inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anak-anak yaitu : Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium.

Manifestasi klinis :

Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare, biasanya tidak demam atau hanya sumer-sumer (bhs Jawa), nyeri perut periumbilikal dan tidak berat, diarenya watery (berair) menunjukkan yang terkena saluran cerna bagian atas. Jenis diare ini biasanya paling sering menyebabkan dehidrasi. Sedang diare yang  inflammatory diarenya sedikit-sedikit, disertai darah-lendir dan nyeri perut. Sedangkan demam bisa tinggi atau justru tanpa demam. Inflammatory diare sering disebut diare disentriform.

Lama Diare:

Biasanya diare sembuh dalam 3 -5 hari, 90% kurang dari 7 hari. Bila diare lebih dari 7 hari (disebut diare berkepanjangan) maka harus ke dokter anak atau dirawat di rumah sakit. Bila diare lebih 2 minggu (disebut diare khronik) akan memerlukan penanganan yang sangat komplek.

Kapan Perlu ke Dokter:

  • Bila ada tanda dehidrasi (mata cekung, gelisah, nampak haus/malas minum, lesu, mukosa mulut kering, kencing berkurang, bila kulit daerah perut dicubit lambat kembali)
  • Diare lebih dari 5 ‚Äď 7 hari
  • Diare disentriform (disertai darah, nyeri perut, demam > 390C)
  • Muntah berlebihan, setiap minum selalu muntah
  • Bila ada gejala lain yang berbahaya (sesak, kejang, kesadaran menurun)
  • Bayi usia 0 ‚Äď 30 hari

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 2005

Penilaian

A

B

C

Lihat : keadaan umum MataAir mataMulut dan lidah

Rasa haus

Baik, sadarNormalAda

Basah

Minum biasa tidak haus

* Gelisah, rewelCekungTidak ada

Kering

*Haus, ingin minum banyak

* Lesu, lunglai atau tidak sadarSangat cekung dan keringSangat kering

*Malas minum atau tidak bisa minum

Periksa : turgor kulit Kembali cepat *Kembali lambat *Kembali sangatLambat
Kekurangan Cairann < 5% dari BB atau < 50 ml/kg dari BB 5-10% dari BB atau 50-100 ml/kg dari BB > 10% dari BB atau > 100 ml/kg dari BB
Hasil pemeriksaan : Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan / sedang: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain Dehidrasi berat: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain

 

Penanganan Diare (5 Pilar Pokok)

  1. Kecukupan cairan. Berikan ASI/susu formula lebih sering, beri tambahan oralit (sebaiknya pedialyte atau renalyte) atau kuah sayur bila anak nampak dehidrasi. Jangan diberi larutan garam oleh karena bahaya hypernatremia
  2. Kecukupan nutrisi. Lanjutkan makan seperti biasa, kurangi sayur dan lemak untuk sementara selama masih diare
  3. Pemahaman tanda-tanda kapan ke dokter
  4. Pemberian Zinc.¬†Zinc 20 mg untuk anak usia lebih dari 6 bulan, 10 mg untuk anak usia 2 ‚Äď 6 bulan. Pemberian zinc selama 10 hari dan diteruskan sampai 10 hari meskipun diare telah berhenti. Perlu dipahami Zinc tidak dapat menangani kegawatdaruratan pada diare dan tidka dapat mencegah dehidrasi. Terapi utama untuk mencegah kematian akibat diare adalah terapi a
  5. Antibiotik (hanya untuk diare disentriform)

Obat-obat anti diare (kaoline-pectine, lopermide, Bismuth subsalicylate, smectite, activated charcoal, cholestyramine) tidak direkomendasikan karena lebih banyak bahayanya dari pada keuntungannya. Di pasaran, obat-obatan obat tersebut memiliki nama dagang yang beragam (perhatikan kandungan isinya).

Ditulis oleh Dr Ferry Andian SpA


Referensi

WHO Guidelines on Treatment of Diarrhea (2005)

2

Sekilas Mengenai Batuk dan Pilek Pada Anak

Batuk dan atau pilek merupakan gejala utama common cold atau sering kita sebut flu. Flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Dalam satu tahun rata-rata anak akan mengalami 3-10 kali. Bila rata-rata lama penyakitnya 7 ‚Äď 10 hari, maka seakan-akan 1/3 hidup anak dalam setahun terpapar flu. Gejala yang sering dikeluhkan adalah batuk, pilek dan demam, kadang disertai nyeri tenggorok dan pembesaran kelenjar limfe leher bagian depan. Gejala lain berupa nyeri otot, nyeri kepala, radang kelopak mata dan nyeri sendi.

Demam yang terjadi biasanya kurang dari 390C, bila suhu lebih dari 390C patut dipertimbangkan kemungkinan penyakit yang lain. Komplikasi yang dapat terjadi radang telinga tengah, radang sinus, sesak napas (wheezing) dan infeksi bacterial tumpangan (terutama pada paru). Penyebab flu pada umumnya adalah virus (yaitu Rhinoviruses, Coronaviruses, Respiratorysyncytial virus, ParainÔ¨āuenzaviruses, Adenoviruses, Nonpolioenteroviruses, InÔ¨āuenzaviruses, Reoviruses). Oleh karena itu biasanya flu sembuh dengan sendirinya (self limited). Pengobatan yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10 -15 mg tiap kg berat badan bila demam lebih 380C dan cukup minum terutama yang hangat. Parasetamol atau acetaminophen dapat diberikan tiap 6 jam bila perlu. Sediaan parasetamol yang ada berupa sirup, tetes atau tablet. ¬†Harap diperhatikan dosis perkilogram berat badan bukan berdasar umur!¬†Penggunaan obat-obatan lain seperti antibiotik, obat batuk (antitusif, ekspetoran), obat pilek (decongestan) dan antihistamin tidak disarankan untuk anak-anak. Di Amerika Serikat, FDA secara khusus telah melarang penggunaan obat batuk pilek untuk usia di bawah 2 tahun, dan keefektifan untuk usia di atas tersebut (anak-anak bawah 12 tahun) sendiri masih dipertanyakan. Secara umum obat batuk dan obat pilek tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin, maka bila hendak menggunakan obat tersebut harus dengan dengan rekomendasi dokter. Sayang sekali dipasaran banyak beredar obat batuk dan obat pilek atau gabungan keduanya sehingga seakan-akan memang bermanfaat untuk flu pada anak.

Kapan kita ke dokter?

  1. Bila secara umum anak tampak tidak bugar (sakit keras) dalam bahasa medis disebut toksik
  2. Anak malas minum sehingga kurang cairan padahal tidak muntah atau diare
  3. Tampak sesak/sukar bernapas, ditandai dengan napas cepat (jumlah napas > 60 kali permenit untuk usia < 2 bulan, > 50 kali untuk usia 2 ‚Äď 12 bulan, > 40 kali untuk usia 1 ‚Äď 5 tahun) dan atau tampak tarikan pada dinding dada.
  4. Demam tinggi > 390C atau setelah 3 hari demam masih > 38,50C
  5. Ada keluhan nyeri telinga

Referensi

  • Leslee F.Kelly, 2004, Pediatric Cough and Cold Preparations Pediatrics in Review 25(4):115-123
  • Diane E. Pappas, J. Owen Hendley, 2011, The Common Cold in Children, Pediatrics in Review 32:47-55.
  • ¬†Floyd W. Denny, 1987, Acute Respiratory Infections in Children: Etiology and Epidemiology, Pediatrics in Review 9:135-146
  • Madeline Simasek, David A Blandino, 2007, Treatment of the Common Cold, American Family Physician 75(4):515-520.
  • Ishimine P, 2006, Fever Without Source in Children 0 to 36 Months of Age, Pediatric Clinics of North America 53(2):167‚Äď194

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA