0

ADAKAH BUKTI ILMIAH MANFAAT NEBULIZER (TERAPI UAP) DALAM TATA LAKSANA BATUK PILEK?

nebu picDi kalangan masyarakat awam terapi uap atau di-“nebu” seringkali ditawarkan oleh tenaga kesehatan menjadi solusi untuk anak (khususnya bayi) yang menderita batuk pilek (flu/selesma/common cold). Tindakan ini dianggap dapat meringankan gejala pilek (hidung mampet, nafas grok-grok), mengencerkan dahak, dan  meredakan batuk. Di dunia medis tindakan ini meskipun lazim dilakukan namun penelusuran lebih lanjut hasilnya cukup mengejutkan.

Secara ilmiah, berdasarkan hasil  penelitian sistimatik (sistematic review), diperoleh bukti bahwa terapi dengan nebulizer atau terapi uap, gagal menunjukkan manfaatnya dalam membantu memecah lendir (mucolytic), pengeluaran lendir (muco clearance), memperbaiki oksigenasi maupun mempercepat penyembuhan pada semua penyakit saluran napas baik infeksi maupun non infeksi yang memerlukan perawatan di rumah sakit (Strickland, 2015). Nebulizer bukan 100% aman, tindakan ini memiliki efek samping yang mungkin terjadi seperti mual, muntah, stomatitis, pilek, iritasi saluran napas, nyeri dada, kram saluran napas, batuk, nyeri kepala, pusing (Strickland, 2015).

Selain pengeluaran lendir saluran nafas, nebulizer juga dianggap dapat meredakan batuk. Namun studi yang dilakukan oleh Tomerak, dkk (CD005373, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005)  menyimpulkan bahwa penggunaan nebulizer obat beta2-agonist (contoh: ventolin, meptin dll) tidak menunjukkan bukti manfaat dalam meredakan batuk non spesifik (non asma/tidak ada bukti penyempitan saluran napas). Penggunaan nebulizer obat beta2-agonist juga gagal menunjukan bukti ilmiah dalam meredakan batuk akut (Becker LA dkk.  Cochrane Database of Systematic Reviews 2015,CD001726). Adapun pemberian nebulizer steroid juga tidak terbukti menunjukkan manfaat dalam meredakan batuk sub kronik non asma (Anderson-James S dkk. , CD008888, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013,) dan batuk kronik non asma (Tomerak dkk. , CD004231, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005).  Nebulizer steroid ini juga tidak terbukti bermanfaat pada kasus sesak (wheezing) non asma karena infeksi virus (McKean MC dkk., CD001107 Cochrane Database of Systematic Reviews 2000).

Meskipun terapi nebulizer tidak terbukti memberikan manfaat seperti paparan diatas, namun terapi ini jelas terbukti bermanfaat dalam penatalaksanaan asma. Pada penatalaksanaan asma, Nebulizer obat beta2-agonist, Anti-cholinergic  maupun steroid masuk dalam panduan penatalaksanaan asma seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam protokol GINA (Amerika dan WHO), BTS (inggris), NAEPP (Amerika) dan European Respiratory Society (Eropa). Namun demikian pada kasus non asma, penggunaan nebulizer masih perlu dipertimbangkan dengan cermat, karena  dukungan bukti ilmiah belum cukup kuat. Nebulizer menunjukkan manfaat pada kasus brochiolitis ringan-sedang dengan menggunakan larutan garam (NaCl) 3% (Zhang L dkk., No.: CD006458, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013) atau larutan garam 0,9% (SHARMA dkk, 2013).

European Respiratory Society/ERS memberikan panduan terkait indikasi/manfaat nebulizer pada anak sebagai berikut:

  1. Nebulizer sangat direkomendasi pada terapi asma.
  2. Pada bronchiolitis nebulisasi dengan steroid, ribavirin dan β2 agonist tidak disarankan
  3. Pada croup dexametaxon peroral sama efektifnya dibanding nebulisasi steroid
  4. Nebulisasi surfactan pada bayi baru lahir belum direkomendasikan, disarankan dengan cara konvensional menggunakan endotracheal tube.
  5. Nebulisasi DNAse dan N-acetyl cysteine pada ICU anak tidak disarankan.
  6. Penggunaan Nebulisasi pada kasus cystic fibrosis (kasus yang jarang di indonesia) bisa dipertimbangkan

Sebagai informasi kasus asma tidak lazim dijumpai pada anak di bawah usia 3 tahun. Tulisan kami sebelumnya mungkin dapat membantu orangtua memahami batuk pilek pada anak apakah merupakan gejala alergi (termasuk asma).

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian, Sp.A

Daftar Pustaka:

  • Strickland SL dkk, Respir Care 2015;60(7):1071–1077.
  • Tomerak AAT, Vyas HHV, Lakhanpaul M, McGlashan J, McKean MC. Inhaled beta2-agonists for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 3. Art.No.: CD005373.
  • Tomerak AAT,McGlashan J, LakhanpaulM,VyasHHV,McKeanMC. Inhaled corticosteroids for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 4. Art. No.: CD004231.
  • Anderson-James S,Marchant JM, Acworth JP, Turner C, Chang AB. Inhaled corticosteroids for subacute cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 2. Art. No.: CD008888
  • Becker LA, Hom J, Villasis-Keever M, van der Wouden JC. Beta2-agonists for acute cough or a clinical diagnosis of acute bronchitis. Cochrane Database of Systematic Reviews 2015, Issue 9. Art. No.: CD001726.
  • Global Initiative for Asthma (GINA) http://ginasthma.org/2016-pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/
  • British Thoracic Society (BTS), Asthma Guideline, https://www.brit-thoracic.org.uk/guidelines-and-quality-standards/asthma-guideline/ (30 april 2016)
  • National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP), Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma, Full Report 2007, U.S. Departement of Health and Human Service
  • Chung KF dkk., International ERS/ATS guidelines on definition, evaluation and treatment of severe asthma, Eur Respir J 2014; 43: 343–373
  • McKeanMC, Ducharme F. Inhaled steroids for episodic viral wheeze of childhood. Cochrane Database of Systematic Reviews 2000, Issue 1. Art. No.: CD001107
  • Zhang L, Mendoza-Sassi RA, Wainwright C, Klassen TP. Nebulised hypertonic saline solution for acute bronchiolitis in infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 7. Art. No.: CD006458
  • Sharma Bs,Gupta Mk Dan Rafik As, Hypertonic (3%) Saline Vs 0.9% Saline Nebulization for Acute Viral Bronchiolitis: A Randomized Controlled Trial, Indian Pediatric, Volume 50, August 15, 2013
  • Boe J, Dennis JH, O’ Driscoll BO, European Respiratory Society Guidelines on the use of nebulizers Eur Respir J 2001; 18: 228–242
Advertisements
0

BAYI ASI OVERWEIGHT? OVERFEEDING PADA BAYI YANG MENDAPATKAN ASI EKSKLUSIF

Berbeda dengan yang diyakini selama ini, bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak masalah kegendutan. Berdasarkan pengamatan umumnya Ibu-ibu tidak merasa hal itu bukan masalah dan mengasumsikan bahwa seiring usia maka kelak bayi akan “langsing”  dengan sendirinya. Padahal jika dilihat berdasarkan kurva pertumbuhan, bayi tersebut telah masuk kategori overweight dan bahkan mungkin obesitas. Baik over atau underweight perlu segera dicari akar permasalahannya dan solusinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebab bayi overfeeding (pemberian ASI berlebihan) yang berakibat pada kelebihan berat badan, yaitu

  1. Bayi minum ASI perah menggunakan botol dot yang beraliran cukup deras sehingga ASIP secara kontinyu dikonsumsi bayi. Oleh karena itu pemberian ASIP menggunakan dot tidak disarankan. Namun jika terpaksa, gunakan dot yang alirannya pelan dan berikan jeda waktu saat menyusu. Salah satu tips adalah menggunakan botol kapasitas besar dengan ukuran nipple kecil (S). Ada kecenderungan ketika menggunakan botol kapasitas kecil dan ASIP telah habis diminum, Ibu atau pengasuh berasumsi bayi belum kenyang karena cepat habis dan memberikan botol kedua sebagai tambahan.
  2. Bayi rewel selalu diasosiasikan dengan lapar dan haus, sehingga menyusui atau memberikan ASIP selalu dilakukan untuk menenangkan bayi. Jika sesi terakhir pemberian ASI belum lama berlalu dan bayi rewel, cobalah untuk memikirkan solusi lain selain lapar, haus, atau kurang kenyang. Mungkin saat berganti popok/diapers, bayi kepanasan/kedinginan, tidak nyaman karena bising.
  3. Bayi minum dari botol dalam posisi tidur sehingga ASI mengalir deras. Untuk memperlambat aliran ASIP, atur posisi badan dan kepala bayi menjadi tegak dengan posisi botol horizontal/datar. Salah satu efek samping minum dot dalam posisi tidur dengan dot adalah meningkatnya risiko infeksi saluran telinga.

Untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan cukup, berpeganglah pada pertumbuhan berat badan. Silakan lihat artikel berikut untuk mengetahui tingkat kecukupan ASI.

0

MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) — PANDUAN UNTUK ANAK NORMAL

9cRxXRgce“Anak adalah benteng masa depan, hanya bisa dibangun dengan kerja keras dan perencanaan yang matang”

“Jangan dibaca, bila Anda berharap tulisan ini seperti tips praktis, layaknya menu “shortcut” dalam smartphone Anda agar mempermudah pengoperasian cara pemberian makan dengan mudah”

PENDAHULUAN

MAKAN adalah cara makhluk hidup untuk mencukupi kebutuhan nutrisi. Setiap berbicara mengenai nutrisi tidak sekedar hanya agar “TUMBUH “ (bertambah berat dan tinggi) dan “BERKEMBANG” akan tetapi  juga “SEHAT”. Ketika mahkluk hidup lahir dengan kondisi normal, maka ia akan siap untuk makan, kemampuan makan akan berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Olah karena itu kita tidak akan mendapati mahkluk hidup mati kelaparan atau kurang gizi bila tersedia makanan di sekitar mereka. Begitupula kalo kita coba melihat kebelakang kehidupan manusia masa lalu. Oleh sebab itu, kewajiban orang tua untuk membangun pola asuh yang baik agar perkembangan kemampuan makannya optimal.

POLA ASUH, merupakan kegiatan tanpa henti. Orang tua tidak pernah berpikir kapan berhenti membimbing anak-anaknya. Keberhasilan pola asuh orang tua tidak bisa dinilai hanya dengan lulus sekolah atau menang perlombaan tetapi lebih dari itu. Bila kegiatan membangun pola makan yang sehat merupakan kegiatan tanpa henti, maka begitulah berhasil atau tidaknya kegiatan itu tidak bisa dinilai sesaat (perlu penilaian jangka panjang). Penilaian keberhasilannya pun tidak bisa sekedar dari kenaikan tinggi badan dan berat badan.

STRATEGI MEMBANGUN POLA MAKAN (10 ATURAN)
  1.  Niat dan Ikhlas. Semangat membangun pola makan di-niat-kan untuk kepentingan/kebutuhan nutrisi anak, bukan biar anak nampak lucu atau menggemaskan karena badannya montok. Ingat gemuk tidak identik dengan sehat, dan sebaliknya. Janganlah pemberian makanan pada anak dilakukan untuk menyenangkan orang lain (nenek, kakek, tante, tetangga, dll). Misalkan, bila nenek membelikan es krim pada anak Anda usia 16 bulan, jangan ragu untuk melarang walaupun menbuat sang nenek kecewa terhadap Anda, ikhlaskan itu semua untuk anak.
  2. Bukan sekedar makan. Makan bukan sekedar makan, tetapi membangun pola hidup yang sehat dan teratur. Bila Anda dengan mudah mentolerir kesalahan, maka yang terbangun adalah kesalahan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
  3. Jangan pernah merasa gagal, jadilah orang tua yang berbahagia. Bila Anda merasa gagal dalam tahapan pengenalan makanan, maka tidak mustahil anak Anda juga merasa gagal. Orang gagal hanya bisa menularkan kegagalanya pada orang lain. Berbahagialah, maka anak Anda akan berbahagia. Jadi ingatlah setiap “kegagalan” pada anak, merupakan manifestasi rasa putus asa (kegagalan) Anda. Bila Anda sedih, frustasi atau merasa lemah, usahakan hindari bertemu/berinteraksi dengan anak selama beberapa waktu. Banyak cara untuk memompa semangat Anda, misalnya dengan memgambil air wudhu dan sholat sunnah (bila Anda muslim).
  4. Makan bila lapar, minum bila haus. Beri  kesempatan anak untuk lapar maupun haus. Makanan akan terasa lezat bila lapar, minum akan terasa segar bila haus. Jangan berikan makanan sebagai hadiah atau cara untuk menenangkan kerewalan anak. Tidak memberikan makanan dalam bentuk apapun 2 jam sebelum makan adalah upaya untuk memberikan kesempatan rasa lapar itu muncul
  5. Makan dengan contoh. Anak akan belajar/mencontoh dari lingkungan. Mereka tidak tertarik untuk makan bila tidak pernah melihat kita makan. Pola makan sehat  (teratur, bergizi, seimbang) dari orang tua akan menular pada anak dan begitu pula sebaliknya. Selain orang tua, perhatikan pula pola makan yang dicontoh oleh orang sekitar (nenek, keponakan, saudara, acara televisi, dll). Bila Anda tidak ingin anak Anda makan permen, es krim atau camilan tidak sehat lainnya, janganlah Anda pernah mengijinkan anak Anda mendapatkanya baik lewat orang lain ataupun Anda sendiri, kecuali Anda dapat memberikan penjelasan dengan baik bahwa itu merupakan makan yang tidak sehat (biasanya setelah usia diatas 3-5 tahun).
  6. Bergembira dalam makan. Jadikanlah kegiatan makan sesuatu yang menyenangkan. Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk anak normal, sistem tubuhnya tidak akan membiarkan dirinya mati kelaparan. Banyak cara untuk membuat kegiatan makan menjadi sesuatu yang menyenangkan, berkreasilah.
  7. Hidup ini penuh dengan godaan. Terlalu banyak junk food disekitar kita, mengoda dengan bentuk dan warnanya. Junk food ini sangat atraktif merayu lewat berbagai media, sekuat apapun Anda membentengi anak Anda, tetap saja bisa kalah kalo Anda tidak berusaha menhindari dan melawan rayuan mereka. TV merupakan musuh bebuyutan bagi tumbuh kembang anak. Ingat! Bila Anda tidak bisa mengendalikan, maka menghindari akan lebih baik.
  8. Bila gagal, cobalah lagi. Kemampuan makan tergantung pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk dapat mandiri dalam makan akan membutuhkan kemampuan motorik halus dan kasar yang cukup disamping kemampuan kognitif. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap, dan perlu latihan untuk meningkatkan kemampuanaya. Untuk belajar jalan, anak beberapa kali jatuh, pun begitulah aktivitas/kemampuan yang lain termasuk makan.
  9. Kenali suka dan tidak suka. Kecenderungan anak untuk menolak makanan baru, cobalah beberapa kali, sebelum memutuskan bahwa anak tidak suka makanan tersebut. Pemahaman tentang kesukaan terhadap jenis-jenis makanan akan memudahkan kita untuk menyajikan makanan
  10. Tetaplah berpikiran luas. Tetaplah berpikiran luas. Bagaimanapun juga membangun pola anak bukan sekedar episode tetapi keseluruhan cerita kehidupan anak. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat. Piramada Giza tidak dibuat dari satu sisi saja dan tidak pula satu hari, begitulah piramida makanan.

Sepuluh aturan tersebut akan selalu mewarnai langkah-langkah kita dalam membangun pola makan yang baik.

 KAPAN MULAI MAKAN PADAT

Proses makan terjadi sejak didalam kandungan melalui plasenta. Begitu bayi itu lahir proses ini digantikan oleh asupan makanan melalui mulut atau lewat infuse untuk bayi sakit. Untuk bayi normal/sehat, makanan padat dapat dimulai pada usia 4 – 6 bulan, artinya paling cepat pada usia 4 bulan dan paling lambat usia 6 bulan. WHO menunda pemberian makanan padat pada usia 6 bulan dengan pertimbangan lebih pada aspek kebersihan makanan. Infeksi merupakan masalah yang paling banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6 – 12 bulan pada negara berkembang. TAnda-tanda bayi siap menerima makanan padat atau MPASI (Makanan Pendamping ASI):

  1. Mampu menyangga kepala.
  2. Mampu menyangga pungung (duduk/didudukkan)
  3. Cukup besar (berat badan minimal 2 kali berat badan lahir)
  4. Cukup membuka mulut. Bayi yang tertarik terhadap makanan akan membuka mulut bila melihat makanan didepan mulutnya.
 PERSIAPAN SEBELUM PEMBERIAN MAKANAN PADAT

Proses makan sangat terkait dengan: HOW (bagaimana), WHEN (kapan), WHERE (dimana), WHOM (siapa). Sebelum memulai proses pemberian MPASI ke 5 hal tadi harus sudah dipersiapan:

  1. HOW, bagaimana teknik pemberain makan harus dipelajari dengan baik. Anak harus dalam posisi duduk/didudukan. Sangat disarankan menggunakan kursi makan (high chair). Usuhakan mata Anda sejajar dengan mata anak. Mulailah mengajarkan membuka mulut yang cukup lebar. Jangan memasukan makan bila mulut anak belum cukup lebar.
  2. WHEN, pahami saat-saat pemberian makan pada anak. Pemberian makan harus dijadwal dengan baik, jangan merubah-rubah jadwal makan. Hindari pemberian makan pada saat anak sedang tidak mood.
  3. WHERE, pemberian makan sebaiknya diruang makan. Usahakan tidak berpindah-pindah tempat, bila Anda tidak ingin anak Anda pergi ke taman kota hanya sekedar untuk makan. Situasi makan yang tidak kondusif akan mempengaruhi anak untuk tidak focus pada kegiatan makan.
  4. WHOM, proses makan merupakan hubungan timbal  balik (reciprocal) antara bayi dan pengasuh (ibu). Saling percaya, saling menyayangi, saling memperhatikan merupakan hal yang mutlak untuk dibangun. Bila perhatian ibu terpecah antara anak dan telenovela/tetangga maka jangan harap anak juga fokus pada pemberian makan.

Piranti yang mendukung 4 hal tadi harus dipersiapkan secara matang, mungkin memerlukan beberapa hari atau minggu untuk semua menjadi siap.

 healthy-food-clipart-12PERSIAPAN MAKANAN

Kebersihan makanan merupakan isu utama yang harus diperhatikan. Hampir 1/3 kematian dan kesakitan balita disebabkan oleh diare. Sedangkan penyebab utama diare terkait dengan kebersihan makanan.

Pemberian makan dimulai dari yang bersumber dari biji-bijian (beras). Yang akan menjadi sumber energi utama sejak anak-anak sampai dewasa. Bila berharap anak kelak mendapatkan sumber makanan utama dari gandum atau sereal, maka mulaialah dengan gandum atau sereal.

Mulai dari kosistensi yang paling lunak (bubur halus). Setelah sukses dengan bubur halus, dapat ditambahkan dengan daging. Dalam hal ini pilihlah daging merah, tidak terbatas pada ayam/sapi tetapi dapat menggunakan ikan laut. Penggunaan ikan laut sangat disarankan, disamping murah juga banyak mengandung AA dan DHA.

Sayur dan buah memiliki tempat ke tiga setelah daging. Penggantian menu cukup 4-5 hari sekali, disamping untuk melihat adakah reaksi alergi terhadap makanan tetapi juga agar bayi bisa memahami rasa dari masing-masing makanan. Setidak-tidaknya sampai usia 8 bulan anak sudah mengenal berbagai rasa asli dari bermacam-macam daging, sayur, dan buah.

Konsistensi harus bertahap, sehingga anak tidak merasakan perubahan tekstur makan dari bubur halus sampai nasi pada usia 1 tahun. Biarkanlah makanan sesuai rasa aslinya (jangan diberi bumbu). Setelah usia satu tahun pola makan seperti pola makan sehat orang dewasa.

TABEL PANDUAN PRAKTIS JENIS, TEKSTUR, JUMLAH, FREKUENSI  MAKAN ANAK USIA 4 – 24 BULAN

USIA (bulan) ENERGI YANG DIBUTUHKAN SELAIN DARI SUSU/ASI TEKSTUR FREKUENSI(hari) JUMLAH MAKANAN
4 – 5 Mulai dengan bubur halus dikuti daging/ikan 1-      2 kali 2 – 3 sendok setiap sesi makan. Tidak perlu ada target
6 – 8 200 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah yang dilembutkan 2 – 3 kali 1/3 – 1/2    mangkok (=125 ml)
9 – 11 300 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah dicincang/dipotong kecil2 3-4 kali ½ mangkok
12-24 550 kcal/hari Makanan sehat keluarga 3 – 4 kali ¾ – 1 mankok
 MAKANAN KUDAPAN

Makanan kudapan adalah makanan yang diberikan disela-sela makanan utama. Makanan kudapan dapat diberikan pada mulai usia 6-8 bulan. Biasanya 1 – 2 kali perhari, 2 – 3 jam sebelum makan siang dan makan malam. Makanan kudapan dapat berupa buah/snack sehat

Disarikan dari:

  1. WHO, Infant and Young Child Feeding, 2009.
  2. Jana LA dan Shu J, Food Fight, AAP, 2008.

 Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

0

ALERGI

PENGERTIAN

  • Alergi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan respon sistim imun (sistim kekebalan) yang tidak tepat atau berbahaya terhadap suatu zat (substance) terutama protein yang masuk tubuh. Respon imun tersebut akan memunculkan gejala dan atau tanda yang merugikan/mengganggu mulai dari derajat ringan sampai berat. Alergi bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan fitur genetik tubuh manusia, yaitu apakah manusia memiliki fitur alergi atau tidak. Dengan kata lain alergi adalah reaksi imun terhadap sesuatu yang mana pada sebagian besar orang tidak terjadi.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIK

  • Dalam alergi dikenal istilah atopi yaitu  seseorang yang memiliki fitur genetik untuk membentuk antibodi IgE terhadap paparan allergen. Rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi merupakan manifestasi yang paling sering dari atopi. Meskipun begitu atopi juga bisa tidak bergejala. Karena alergi merupakan fitur genetik maka ia dapat diturunkan. Berikut adalah gambar kemungkinan alergi diturunkan dari orangtua
Bagaimana Alergi Diturunkan

Bagaimana Alergi Diturunkan

Induksi dari atopi (munculnya atopi, red) tergantung dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan atopi ini akan bermanifestasi menjadi suatu gejala/penyakit dipengaruhi oleh kelainan pada organ dan adanya pencetus. (trigger)  Gambar berikut menerangkan hal ini

Bagaimana Alergi Terjadi

Bagaimana Alergi Terjadi

BAHAN-BAHAN YANG MENYEBABKAN ALERGI

Pada prinsipnya semua benda bisa menyebabkan alergi atau bersifat allergen. Akan tetapi yang paling sering menyebabkan alergi adalah sebagai berikut:

  1. Alergen hirupan: tungau debu rumah (house dust mite), tepung sari (pollen), binatang, spora jamur.
  2. Alergen makanan:
    • Telur, susu sapi, kedelai, terigu/gandum (untuk anak dibawah 3 tahun)
    • Kacang, ikan, udang (untuk anak diatas 3 tahun)
  3. Alergen injeksi: obat, racun serangg
  4. Alergen kontak: obat, makanan, bahan pakaian.

Alergen makanan biasanya terkait dengan gangguan saluran cerna tetapi juga bisa bermanifestasi pada kulit. Manifestasi pada saluran napas (terutama pilek) lebih sering disebabkan alergen hirupan.

MEKANISME ALERGI

Berikut adalah pembagian reaksi hipersensitivitas Gell & Coombs  yang masih sering dipakai walaupun dianggap terlalu menyederhanakan;

  • Tipe-I: hipersensitif anafilaktif
    • IgE pada sel Mast mengikat Antigen bebas
    • Tipe-II: hipersensitif sitotoksik
      • Antigen pd Membran bereaksi dg Antibodi bebas
      • Tipe-III: hipersensitif kompleks imun
        • Kompleks imun Ag-Ab & aktivasi Komplemen
        • Tipe-IV: hipersensitif cell mediated (tipe lambat)
          • Sel Limfosit tersensitisasi bereaksi dg Antigen.

Mekanisme AlergiMekanisme alergi dimulai dari masuknya allergen kedalam tubuh (dihirup, dimakan, kontak dengan kulit). Atas kehadiran allergen, sel limfosit B bereaksi dengan membentuk Ig E yang spesifik terhadap allergen tersebut. Ig E yang dibentuk beredar didalam darah akan menempel pada bermacam2 sel, salah satunya adalah sel mast. Paparan berikutnya, bila ada alergen yang sama akan  menempel pada IgE yang ada pada permukaan sel mast, yang kemudian sel mast  pecah mengeluarkan berbagai molekul (a.l histamin) yang menyebabkan radang (inflamasi). Radang oleh reaksi alergi paling sering pada hidung (rhinitis), paru (asma) dan kulit (dermatitis).

MANIFESTASI ALLERGI

Seseorang yang memiliki fitur/konstitusi alergi memiliki risiko untuk berkembang menjadi beberapa penyakit alergi. Akan tetapi kapan muncul dan jenis penyakit alerginya tidak bisa diprediksi. Manifestasi klinis penyakit meliputi banyak organ.

Perjalanan manifestasi alergi paling awal muncul pada biasanya adalah gambaran alergi pada kulit bayi (gambaran kemeran kasar pada muka) dan alergi makanan.

dermatitis atopi

Manifestasi Alergi – Dermatitis Atopi

angioderma

Manifestasi Alergi – Angiodema

urtikaria

Manifestasi Alergi – Urtikaria/Biduran

DIAGNOSIS ALERGI

Diagnosis alergi terutama ditegakkan dengan mempelajari gambaran klinis penyakit dan riwayat paparan alergen.  Gambaran klinis penyakit yang berulang dan disertai dengan paparan allergen yang sama akan sangat mendukung dugaan manifestasi alergi. Uji kulit dan IgE spesifik serum merupakan pemeriksaan penunjang disarankan, sedangkan beberapa uji yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

allergy lb test

Allergy Laboratory Test

PENATALAKSANAAN ALERGI

Menghindari Alergen (Avoidance)

Menghindari allergen merupakan upaya utama untuk menghindari bagaimana para penderita alergi dapat bebas/mengurangi gejala klinis alergi. Meskipun terlihat mudah, akan tetapi pelaksanaanya tidak sederhana. Apalagi bila terkait kebutuhan nutrisi anak. Alergen dari binatang dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk hilang dari ruangan setelah binatang tersebut tidak ada. Tidak ada satu tindakan penghindaran dari allergen yang efektif akan tetapi lebih pada tindakan komprehensif.

Farmakoterapi

Obat-obatan pada penanganan alergi berguna untuk mencegah munculnya gejala/tanda alergi dan atau meredakan. Beberapa obat untuk meredakan manifestasi penyakit alergi menjadi mutlak harus segera diberikan (misal pada anafilaksis dan serangan asma) oleh karena dapat mengancam nyawa.

Imunoterapi

Imuunoterapi adalah satu-satunya penanganan kuratif untuk alergi pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup lama dan harus memperhatikan manfaat dan keruganya.

Pencegahan

Pencegahan meliputi:

  • Primer: bayi dengan risiko tinggi alergi dan belum mengalami sensitisasi. Dengan cara pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, (tidak perlu pantang makan bagi ubu hamil), susu hidrolisat parsial, menghindari rokok, polusi udara
  • Sekunder: bayi yang sudah mengalami sensitisasi namun belum mengalami gejala atau mencegah perkembangan manifestasi alergi (alergi march). Misalnya pada bayi dengan dermatitis atopi pencegahan sekunder dengan menghindari allergen untuk manifestasi asma.
  • Tersier: bayi yang sudah mengalami gejala atau sudah terdiagnosis alergi. Misalnya pada alergi susu sapi yang tidak memungkinkan asi dapat diberikan  susu hidrolisat, formula asam amino atau formula kedelai

Beberapa hal tidak spesifik yang dapat mendukung respon alami (mengurangi resiko alergi)

  • Tinggal di daerah pertanian/perkebunan
  • Penggunaan probiotik
  • Konsumsi buah dan sayur segar
  • Konsumsi susu segar
  • Olah raga/aktifitas outdoor
  • Penggunaan makanan yang difermentasi bakteri

Edukasi

Satu yang sangat penting dalam penanganan penyakit terutama penyakit kronik adalah pemahaman pasien dan keluarga akan penyakit/kelainan yang diderita.

Daftar pustaka:

  1. Toit, G.D, Meyer, R., dkk, 2010, “Identifying and managing cow’s milk protein allergy”, Arch Dis Child Educ Pract Ed 95: 134-144
  2. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: First of two parts” N Engl J Med 344 (1): 30-36
  3. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: Allergic Diseases and Their Treatment, N Engl J Med 344 (2): 109-113
  4. Caffarelli, C., Baldi, F., dkk, 2010, “Cow’s Milk Protein Allergy in Children: A Practical Guide”, Journal of Pediatrics 36 (5)
  5. Koletzko, S., Niggeman B, dkk, 2012, “Diagnostic Approach and Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants and Children: ESPGHAN GI Committee Practical Guidelines”, JPGN 55(2): 221-229
  6. Hugo, Van Bever, 2009, “Allergic Diseases in Children: The Science, the Superstition, and the Stories, World Scientific

Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

4

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

0

Demam Tifoid

PENDAHULUAN

Demam tifoid atau dikenal juga sebagai demam enterik merupakan penyakit sistemik berat yang ditandai dengan demam dan gejala saluran cerna. Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya dimana higiene dan sanitasinya masih kurang. Indonesia termasuk salah satu negara dengan prevalensi tinggi, lebih dari 100 kejadian per 100000 penduduk. Prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3 – 19 tahun. Kejadian meningkat setelah umur 5 tahun.

 EPIDEMIOLOGI

Faktor risiko seseorang terkena demam tifoid terkait dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan, termasuk didalamnya mengkonsumsi makanan diluar rumah. Di negara maju seperti Amerika Serikat, 80% penderitanya memiliki riwayat bepergian di negara dengan endemic typhoid.

Gambar 1. Epidemiologi Tifoid

 PENYEBAB

Sekitar 80-90% persen demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi, sedangkan sisanya oleh Salmonella paratyphi A, B, atau C. Kuman tersebut masuk dalam kelompok enterobacteriacea.

 GEJALA DAN TANDA

Gambaran klasik demam tifoid jika tidak mendapat pengobatan:

Minggu pertama panas bertahap naik, minggu kedua gangguan saluran cerna dan ras pada perut dan minggu ketiga pembesaran hati, pembesran limpa, perdarahan saluran cerna dan kebocoran usus. Bila dirinci gejala/tanda yang dapat muncul sebagai berikut

  • Demam (fever), ditandai panas bertahap naik. Puncak panas terutama setelah 1 minggu, dan akan tetap tinggi pada minggu berikutnya.
  • Nyeri kepala (headache)
  • Mual (nausea)
  • Diare, biasanya tidak berat (terutama pada bayi dan balita)
  • Muntah (vomiting)
  • Konstipasi (terutama pada anak besar dan dewasa)
  • Batuk
  • Nyeri tekan perut (abdominal tenderness)
  • Pembesaran limpa (spleenomegaly) dan pembesaran hati (hepatomegaly)

Gejala dan tanda tersebut dipengaruhi oleh penggunaan obat-obatan terutama antibiotika. Seringkali kecurigaan tifoid baru didapat setelah panas 1 minggu atau memasuki periode status (status periode) dimana gejala dan tandanya lebih khas/jelas

 

 Gambar 2. Frekuensi kemunculan gejala dan penampakan fisik pada pasien demam enteric

 

 Gambar 3. Perjalanan demam tifoid

 DIAGNOSIS

Diagnosis dibuat berdasarkan tanda dan gejala klinis serta faktor risiko yang ada. Kadangkala gejala klinis tidak khas akibat telah dilakukan intervensi sebelumnya. Untuk itu perlu dipertimbangkan pemeriksaan penunjang:

  1. Hitung darah lengkap dapat ditemukan leucopenia, anemia, trombositopenia dan lymphositosis relative.
  2. Tes Felix-Widal. Merupakan tes yang paling banyak digunakan. Dikerjakan dengan pengenceran ganda serum pada tabung untuk mengukur level agglitunasi antibody terhadap antigen O dan H. Biasanya antibodi terhadap antigen O meningkat pada hari 6-8 sedangkan antibody terhadap antigen H pada hari 10-12 sesudah onset penyakit.  Tes Widal tidak cukup sensitif dan spesifik. Kira-kira sekitar 30% tes widal negatif pada pasien dengan demam tifoid. Sedangkan Widal positif belum tentu menunjukan adanya infeksi oleh salmonella typhy dikarenakan antigen O dan H tersebut bisa saling bertukar dengan kuman salmonella yang lain dan dapat juga bereaksi silang dengan Enterobacteriacae yang lain. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah nilai batas normal untuk daerah endemic seringkali tidak ada data. Sehingga sampai saat ini penggunaan tes Widal masih dalam perdebatan.
  3. Kultur kuman. Merupakan tes baku untuk mendiagnosis suatu infeksi, akan tetapi pelaksanaanya cukup sulit, lama dan hasilnya seringkali tidak sesuai yang diharapkan. Kendala tersebut terkait dengan pengobatan yang sudah diberikan, perjalanan penyakit, pengambilan dan pengiriman sampel, dll.
  4. Beberapa tes baru dan manfaatnya
  • Tes IDL Tubex® (dibuat di Swedia). Dapat mendeteksi IgM anti tifoid dalam beberapa menit.
  • Typhidot ®, (dibuat di Malaysia) perlu beberapa jam untuk pengerjaannya. Versi lama mendeteksi IgM dan IgG. Sedangkan versi baru dapat mendeteksi Ig M.
  • IgM dipstick test. Tes cepat untuk mendeteksi IgM

Ketiga tes diatas lebih sensitif dan spesifik dibanding tes Widal, akan tetapi tidak dapat mendeteksi paratipus serta harganya jelas lebih mahal.

Diagnosis pasti demam tifoid berdasarkan hasil kultur. Diagnosis berdasarkan klinis dan laboratorium penunjang merupakan diagnosis kerja yang sudah dapat digunakan untuk memulai terapi.

 Definisi kasus berdasar WHO:

  • Konfirmasi diagnosis (Confirmed case of typhoid  fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan kultur positif salmonella typhi. Bahan kultur darah, sumsum tulang, cairan tubuh.
  • Curiga tifoid (Probable case of typhoid fever), pasien dengan demam (380C atau lebih) minimal 3 hari dengan uji serology  atau antigen positif.
  • Pembawa/penular  kuman tifoid (Chronic carrier), ekskresi kuman tifoid pada feses atau urine lebih dari satu tahun sesudah onset akut demam tifoid.

 PENANGANAN

  1. Antibiotika: terapi utama demam tifoid adalah pemberian antibiotika, antara lain: Klorampenikol, Amoksilin, Kotrimoksazol, Seftriakson, Sefiksim dan Ciprofloxacin.
  2. Suportif
    • Kecukupan cairan, elektrolit dan nutrisi
    • Diet rendah serat dan mudah dicerna
    • Obat penurun panas
    • Tirah baring
  3. Penanganan komplikasi

 

INDIKASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT

Demam tifoid dengan komplikasi/penyulit atau bila dipertimbangkan perawatan dirumah oleh keluarga tidak adekuat. Komplikasi yang bisa terjadi: dehidrasi, perdarahan saluran cerna, perforasi usus, hepatisis tifosa, meningitis, pneumonia, pyelonephritis, endokarditis dll.

PENCEGAHAN PENYAKIT

Sebagian besar penularan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (kurang bersih) maka pencegahan terutama penyediaan air bersih dan penyajian/pengelolaan makanan yang sehat serta sanitasi lingkungan. Bagi mereka yang berisiko sakit (anak-anak) atau sumber penular (mereka yang terkait dengan penyajian makanan) sangat dianjurkan pemberian vaksin.

Vaksin yang tersedia saat ini:

 A. Oral Typhoid Vaccine (Ty21A) : vaksin hidup

            B. Parenteral Inactivated Typhoid Vaccine: mati, subkutan

            C. Typhoid Vi Capsular Polysaccharide Vaccine: IM

 KESALAHAN UMUM

  1. Mendiagnosis demam tifoid hanya berdasarkan hasil laboratorium terutama Widat test tanpa mempertimbangan klinis pasien.
  2. Menyebut gejala tifus pada pasien yang panas padahal tidak ada data klinis atau laboratorium yang mengarah ke demam tifoid.
  3. Memaksa anak makan bubur halus, padahal yang terpenting adalah diet bebas serat.
  4. Memeriksa Widal pada semua pasien panas meski klinis tidak ada kecurigaan demam tifoid.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Vollaard Am; Ali S; Van Asten Ha; Widjaja S; Visser Lg; Surjadi C; Van Dissel Jt, 2004, Risk Factors For Typhoid And Paratyphoid Fever In Jakarta, Indonesia. JAMA 2;291(21):2607-15.
  2. Parry Cm; Hien Tt; Dougan G; White Nj; Farrar Jj, 2002, Typhoid Fever, N Engl J Med Nov 28;347(22):1770-82.
  3. WHO, 2003, Background Document: The Diagnosis, Treatment And Prevention of Typhoid Fever, Communicable Disease Surveillance and Response Vaccines and Biologicals
  4. Donald E, 2004, Typhoid Fever, Deadly Diseases And Epidemics, Infobase Publishing,
  5. Kliegman Rm, Stanton Bf, Schor Nf, Geme Jw Dan Berhman Re (Editor), Nelson, 2011, Textbook Of Pediatric, 19th.
  6. Mandell, Douglas, And Bennett’s (Editor), 2010, Principles And Practice Of Infectious Diseases, Elsevier Inc

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

1

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

Pembagian Klinis WHO

Di kalangan masyarakat kita, penyakit Demam berdarah dengue (DBD) umumnya identik dengan turunnya trombosit atau adanya perdarahan. Benarkah demikian?

Turunnya trombosit dan perdarahan saat ini bukanlah parameter utama dalam perjalanan penyakit DBD. Bahkan sebagian besar penyebab kematian karena DBD  bukan akibat perdarahan. Oleh sebab itu kita perlu tahu apa itu DBD.

Demam berdarah dengue adalah salah satu bentuk manisfestasi klinis yang diakibatkan infeksi virus dengue pada manusia.  Sebelum tahun 2009 WHO membuat batasan gambaran klinis infeksi virus dengue sebagai berikut:

  1. Asimptomatik (tidak bergejala)
  2. Simptomatik, dibagi menjadi:
    1. Demam yang tidak khas (undifferentiated fever)
    2. Dengue fever (DF) atau demam dengue (DD)
    3. Dengue hemorrhagic fever (DHF) atau Demam berdarah dengue (DBD)

Gambar 1. Pembagian Klinis WHO sebelum tahun 2009

Sejak tahun 2009 pembagian klinis demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) dianggap sulit diterapkan.  Perbedaan DD dengan DBD terletak pada adanya kebocoran plasma (plasma leakage) yang dapat menyebabkan syok.  Menentukan ada tidaknya kebocoran plasma kadang kala tidak mudah dan beberapa kondisi klinis infeksi virus dengue berat tidak cukup memenuhi keriteria DBD.  Maka pembagian klinis infeksi dengue simptomatik pada tahun 2009 disusun lebih aplikatif yaitu sebagai berikut:

  1. Infeksi dengue
  2. Infeksi dengue dengan tanda bahaya
  3. Infeksi dengue berat

 Gambar 2: Pembagian Klinis WHO 2009

 Pembagian klinis WHO tahun 2009 tentang Dengue ini belum banyak dipakai dilapangan, akan tetapi sosialisasi sudah mulai diberikan oleh organisasi profesi terutama IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kapan Curiga terjadi Infeksi Dengue?

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal didaerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris.  Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

–    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

–  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

–   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemic cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

–   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitive untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Gambar berikut menunjukkan perjalanan penyakit Dengue beserta manifestasi klinisnya

Gambar 3. Perjalanan Penyakit Dengue

Kapan harus  ke dokter?

Setiap kita curiga anak terjangkit infeksi dengue setelah 3 hari (dari awal panas mendadak) harus ke dokter.  Kontrol selanjutnya sesuai nasehat dokter

Kapan dirawat di Rumah Sakit?

Infeksi dengue dengan tanda bahaya wajib dirawat di RS sedangkan infeksi dengue tanpa tanda bahaya tergantung penyulit yang lain (pertimbangan dokter)

Penanganan

  • Pemberian cairan yang cukup.
  • Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengatasi penyulit bukan menyembuhkan.
  • Kematian sebagian besar terjadi karena keterlambatan penanganan
  • Transfusi trombosit indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan untuk menaikkan trombosit ataupun mencegah perdarahan.
  • Transfusi plasma beku segar (FFP, fresh frozen plasma) indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan mencegah perdarahan ataupun mengatasi syok 

Contoh Kasus Nyata yang pernah ditangani

  • Pasien A dengan DHF usia 6 tahun trombosit terendah 6000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien B dengan DHF usia 7 tahun trombosit 16.000 sembuh tanpa transfusi trombosit
  • Pasien C dengan DHF usia 7 tahun trombosit 30.000 dilakukan transfusi trombosit karena ada perdarahan di saluran cerna
  • Pasien D dengan DHF usia 8 tahun trombosit 20.000 dengan perdarahan hidung tidak dilakukan transfusi trombosit cukup diberikan tampon hidung

Ringkasan Penting

  1. Panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi)  dan tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyaki tertentu yang khas/pasti maka harus dipikirkan dengue (bagi yang tinggal di daerah endemic dengue, mayoritas kota besar di Indonesia endemic)
  2. Setiap curiga infeksi dengue, setelah 3 kali 24 jam harus ke dokter.
  3. Parameter bahaya pada dengue infeksi tidak hanya kadar trombosit.
  4. Tranfusi Trombosit atau FFP hanya dengan indikasi tertentu (perdarahan). Waspada bahaya transfusi.
  5. Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok.
  6. Belum ada obat yang bisa membunuh atau menghambat pertumbuhan virus dengue (yang paling memungkinkan adalah pemberian vaksin).

Referensi

  1. Ratni Indrawati, Pengenalan Tanda awal kegawatan Infeksi dengue, FK UGM
  2. WHO, Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control — New edition, 2009 http://www.searo.who.int/linkfiles/dengue_guideline-dengue.pdf
  3. Suchitra Nimmannitya, Dengue/Dengue Haemorrhagic  Fever : A Rising Health Problem of Global Concern
  4. Dengue, WHO Learning Production 2005 (Interactive Tutorial)