0

ALERGI

PENGERTIAN

  • Alergi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan respon sistim imun (sistim kekebalan) yang tidak tepat atau berbahaya terhadap suatu zat (substance) terutama protein yang masuk tubuh. Respon imun tersebut akan memunculkan gejala dan atau tanda yang merugikan/mengganggu mulai dari derajat ringan sampai berat. Alergi bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan fitur genetik tubuh manusia, yaitu apakah manusia memiliki fitur alergi atau tidak. Dengan kata lain alergi adalah reaksi imun terhadap sesuatu yang mana pada sebagian besar orang tidak terjadi.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIK

  • Dalam alergi dikenal istilah atopi yaitu  seseorang yang memiliki fitur genetik untuk membentuk antibodi IgE terhadap paparan allergen. Rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi merupakan manifestasi yang paling sering dari atopi. Meskipun begitu atopi juga bisa tidak bergejala. Karena alergi merupakan fitur genetik maka ia dapat diturunkan. Berikut adalah gambar kemungkinan alergi diturunkan dari orangtua
Bagaimana Alergi Diturunkan

Bagaimana Alergi Diturunkan

Induksi dari atopi (munculnya atopi, red) tergantung dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan atopi ini akan bermanifestasi menjadi suatu gejala/penyakit dipengaruhi oleh kelainan pada organ dan adanya pencetus. (trigger)  Gambar berikut menerangkan hal ini

Bagaimana Alergi Terjadi

Bagaimana Alergi Terjadi

BAHAN-BAHAN YANG MENYEBABKAN ALERGI

Pada prinsipnya semua benda bisa menyebabkan alergi atau bersifat allergen. Akan tetapi yang paling sering menyebabkan alergi adalah sebagai berikut:

  1. Alergen hirupan: tungau debu rumah (house dust mite), tepung sari (pollen), binatang, spora jamur.
  2. Alergen makanan:
    • Telur, susu sapi, kedelai, terigu/gandum (untuk anak dibawah 3 tahun)
    • Kacang, ikan, udang (untuk anak diatas 3 tahun)
  3. Alergen injeksi: obat, racun serangg
  4. Alergen kontak: obat, makanan, bahan pakaian.

Alergen makanan biasanya terkait dengan gangguan saluran cerna tetapi juga bisa bermanifestasi pada kulit. Manifestasi pada saluran napas (terutama pilek) lebih sering disebabkan alergen hirupan.

MEKANISME ALERGI

Berikut adalah pembagian reaksi hipersensitivitas Gell & Coombs  yang masih sering dipakai walaupun dianggap terlalu menyederhanakan;

  • Tipe-I: hipersensitif anafilaktif
    • IgE pada sel Mast mengikat Antigen bebas
    • Tipe-II: hipersensitif sitotoksik
      • Antigen pd Membran bereaksi dg Antibodi bebas
      • Tipe-III: hipersensitif kompleks imun
        • Kompleks imun Ag-Ab & aktivasi Komplemen
        • Tipe-IV: hipersensitif cell mediated (tipe lambat)
          • Sel Limfosit tersensitisasi bereaksi dg Antigen.

Mekanisme AlergiMekanisme alergi dimulai dari masuknya allergen kedalam tubuh (dihirup, dimakan, kontak dengan kulit). Atas kehadiran allergen, sel limfosit B bereaksi dengan membentuk Ig E yang spesifik terhadap allergen tersebut. Ig E yang dibentuk beredar didalam darah akan menempel pada bermacam2 sel, salah satunya adalah sel mast. Paparan berikutnya, bila ada alergen yang sama akan  menempel pada IgE yang ada pada permukaan sel mast, yang kemudian sel mast  pecah mengeluarkan berbagai molekul (a.l histamin) yang menyebabkan radang (inflamasi). Radang oleh reaksi alergi paling sering pada hidung (rhinitis), paru (asma) dan kulit (dermatitis).

MANIFESTASI ALLERGI

Seseorang yang memiliki fitur/konstitusi alergi memiliki risiko untuk berkembang menjadi beberapa penyakit alergi. Akan tetapi kapan muncul dan jenis penyakit alerginya tidak bisa diprediksi. Manifestasi klinis penyakit meliputi banyak organ.

Perjalanan manifestasi alergi paling awal muncul pada biasanya adalah gambaran alergi pada kulit bayi (gambaran kemeran kasar pada muka) dan alergi makanan.

dermatitis atopi

Manifestasi Alergi – Dermatitis Atopi

angioderma

Manifestasi Alergi – Angiodema

urtikaria

Manifestasi Alergi – Urtikaria/Biduran

DIAGNOSIS ALERGI

Diagnosis alergi terutama ditegakkan dengan mempelajari gambaran klinis penyakit dan riwayat paparan alergen.  Gambaran klinis penyakit yang berulang dan disertai dengan paparan allergen yang sama akan sangat mendukung dugaan manifestasi alergi. Uji kulit dan IgE spesifik serum merupakan pemeriksaan penunjang disarankan, sedangkan beberapa uji yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

allergy lb test

Allergy Laboratory Test

PENATALAKSANAAN ALERGI

Menghindari Alergen (Avoidance)

Menghindari allergen merupakan upaya utama untuk menghindari bagaimana para penderita alergi dapat bebas/mengurangi gejala klinis alergi. Meskipun terlihat mudah, akan tetapi pelaksanaanya tidak sederhana. Apalagi bila terkait kebutuhan nutrisi anak. Alergen dari binatang dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk hilang dari ruangan setelah binatang tersebut tidak ada. Tidak ada satu tindakan penghindaran dari allergen yang efektif akan tetapi lebih pada tindakan komprehensif.

Farmakoterapi

Obat-obatan pada penanganan alergi berguna untuk mencegah munculnya gejala/tanda alergi dan atau meredakan. Beberapa obat untuk meredakan manifestasi penyakit alergi menjadi mutlak harus segera diberikan (misal pada anafilaksis dan serangan asma) oleh karena dapat mengancam nyawa.

Imunoterapi

Imuunoterapi adalah satu-satunya penanganan kuratif untuk alergi pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup lama dan harus memperhatikan manfaat dan keruganya.

Pencegahan

Pencegahan meliputi:

  • Primer: bayi dengan risiko tinggi alergi dan belum mengalami sensitisasi. Dengan cara pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, (tidak perlu pantang makan bagi ubu hamil), susu hidrolisat parsial, menghindari rokok, polusi udara
  • Sekunder: bayi yang sudah mengalami sensitisasi namun belum mengalami gejala atau mencegah perkembangan manifestasi alergi (alergi march). Misalnya pada bayi dengan dermatitis atopi pencegahan sekunder dengan menghindari allergen untuk manifestasi asma.
  • Tersier: bayi yang sudah mengalami gejala atau sudah terdiagnosis alergi. Misalnya pada alergi susu sapi yang tidak memungkinkan asi dapat diberikan  susu hidrolisat, formula asam amino atau formula kedelai

Beberapa hal tidak spesifik yang dapat mendukung respon alami (mengurangi resiko alergi)

  • Tinggal di daerah pertanian/perkebunan
  • Penggunaan probiotik
  • Konsumsi buah dan sayur segar
  • Konsumsi susu segar
  • Olah raga/aktifitas outdoor
  • Penggunaan makanan yang difermentasi bakteri

Edukasi

Satu yang sangat penting dalam penanganan penyakit terutama penyakit kronik adalah pemahaman pasien dan keluarga akan penyakit/kelainan yang diderita.

Daftar pustaka:

  1. Toit, G.D, Meyer, R., dkk, 2010, “Identifying and managing cow’s milk protein allergy”, Arch Dis Child Educ Pract Ed 95: 134-144
  2. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: First of two parts” N Engl J Med 344 (1): 30-36
  3. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: Allergic Diseases and Their Treatment, N Engl J Med 344 (2): 109-113
  4. Caffarelli, C., Baldi, F., dkk, 2010, “Cow’s Milk Protein Allergy in Children: A Practical Guide”, Journal of Pediatrics 36 (5)
  5. Koletzko, S., Niggeman B, dkk, 2012, “Diagnostic Approach and Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants and Children: ESPGHAN GI Committee Practical Guidelines”, JPGN 55(2): 221-229
  6. Hugo, Van Bever, 2009, “Allergic Diseases in Children: The Science, the Superstition, and the Stories, World Scientific

Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

Advertisements