138

Ragam Susu Formula Bayi dan Peruntukkannya

Penting dibaca!

Artikel berikut tidak serta merta dipandang sebagai dukungan baik implisit maupun eksplisit terhadap pemberian susu formula. Artikel ini bertujuan pada pemberian informasi mengenai beragam jenis susu formula agar orangtua yang memutuskan menggunakan susu formula bersikap bijaksana dalam memilih susu yang tepat sesuai kondisi bayi dan tidak terjebak pada klaim bombastis manfaat susu formula.

 Pendahuluan

Di Indonesia, saat ini begitu banyak beredar berbagai jenis Susu Formula (sufor) mulai dari yang mahal sampai yang relatif murah. Seringkali ibu-ibu yang terpaksa menggunakan susu formula bingung memilih susu formula yang tepat bagi bayinya. Apalagi kadangkala informasi yang didapatkan dari produsen bercampur dengan informasi dagang yang berlebihan

Definisi

Secara definisi formula bayi adalah makanan yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sebagai pengganti sebagian atau hampir semua dari ASI yang karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan secara penuh atau sebagian. Karena seringkali bayi hanya boleh mendapatkan susu (dibawah 4 – 6 bulan) maka pembuatan susu formula untuk bayi diawasi dengan ketat. Setiap penelitian  tentang susu formula bayi maka standard emas (golden standard) yang digunakan adalah ASI. Penggunaan susu formula bayi sangat berisiko menyebabkan masalah besar pada bayi bahkan dapat menyebabkan kematian, oleh sebab itu pemasaran bayi diatur dengan ketat (khususnya di negara maju) dan penggunaannya hanya atas rekomendasi dokter.

Klasifikasi Susu Formula Bayi

A. Standar

  1. Bahan dasar susu sapi. Misalnya: SGM, Lactogen, Similac, Enfamil, Bebelove, S26
  2. Bahan dasar soya. Misalnya: Isomil, Prosobee, Alsoy, Nutrilon Soya, SGM soya, Nursoy
  3. Bahan dasar susu kambing

B.  Protein hydrolysates

  1. Partially Hydrolyzed Formula (PHF). Misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  2. Extensively Hydrolyzed Formula (EHF). Misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
  3. Elemental. Misalnya: Neocate, Elecare

C. Premature. Misalnya: Enfacare, NeoSure, SGM BBLR, PreNAN, Enfamil PF

D.  Susu fomula tahap lanjut, untuk batita dan balita

E.  Susu formula khusus. Susu yang dimodifikasi khusus untuk penyakit-penyakit tertentu misalnya: kelainan metabolik, ginjal, kelainan saluran cerna

Berikut adalah bahasan singkat tentang klasifikasi di atas

Standard

Pada prinsipnya seluruh formula bayi yang beredar dipasaran sudah sesuai standar baku yang ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pengawasan terhadap formula bayi sangat ketat, hal ini disebabkan semua ahli bahwa ketidak tepatan pemberian nutrisi pada bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berbagai produk formula bayi standard dengan bermacam nama, harga dan promosi. Akan tetapi tidak ada bukti ilmiah satupun yang menyatakan yang satu lebih baik dari pada yang lain.

Formula bayi berbahan dasar soya/kedelai

Penggunaan formula yang berbahan dasar soya ditujukan apabila didapatkan bukti adanya alergi protein susu sapi (CMPA/cow milk protein alergi) akan tetapi faktanya 30 – 64% non-IgE mediated alergy dan 8 – 14% IgE-mediated alergy juga alergi terhadap soya. Oleh karena itu formula bayi yang berbahan dasar soya hanya merupakan pilihan terakhir jenis formula pengganti bagi bayi alergi (pilihan nomor satu adalah elemental, kedua protein hydrolisat). Formula soya bebas dari laktosa sehingga dapat digunakan pada intoleransi laktosa dan galaktosemia.

Pernyataan komite nutrisi AAP (American Academy of Pediatric) tentang formula soya:

Formula soya dapat dipertimbangkan digunakan untuk situasi:

  • Bayi dengan galaktosemia atau defisiensi emzim lactase
  • Bayi dengan orang tua vegetarian
  • Bayi dengan IgE-mediated CMPA

Formula soya tidak bermanfaat pada:

  • Bayi dengan diare tanpa bukti intoleransi laktosa
  • Infantil colic
  • Pencegahan allergy
  • Bayi dengan enteropathy dan enterocolitis yang diinduksi protein susu sapi

Formula bayi dengan Protein hydrolysates

Partially Hydrolyzed Formula (PHF) ditujukan untuk pencegahan alergi pada bayi yang memiliki riwayat alergi pada orang tua. Sedangkan Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) ditujukan untuk bayi dengan alergi susu sapi dengan manifestasi ringan atau sedang. Berdasarkan keriteria AAP hanya EHF yang tergolong susu hipoalergenik. Kejadian alergi protein susu sapi cukup jarang 2 – 3 persen, oleh karena itu AAP menyatakan bahwa penggunaan susu hipoalergenik (EHF dan Elemental) harus dengan pertimbangan dokter.

Formula bayi Elemental/Asam amino

Formula elemental digunakan pada alergi susu yang berat. Hanya untuk diketahui susu ini sangat mahal dan sulit dicari.

Formula Premature

Susu formula premature ditujukan agar bayi premature dapat mencapai pertumbuhan mendekati pertumbuhan didalam kandungan. Formula premature diberikan pada bayi dengan berat badan lahir 2000 gram. Susu formula premature sebaiknya dihentikan bila berat badan bayi 2000 gram dikarenakn dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi yang berlebihan. Dinegara maju formula premature hanya diberikan dirumah sakit, setelah bayi keluar dari rumah sakit diberikan formula premature transisi. Formula premature transisi memiliki cakupan nutrisi diantara formula premature dan formula standar/mature. Akan tetapi susu fomula ini sulit didapatkan di Indonesia dan belum ada bukti ilmiah yang menunjukan kelebihannya dibanding formula standar.

Penambahan LCPUFA, ARA dan DHA

Long-chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA) meliputi asam lemak essensial, Linoleic Acid, α-Linolenic Acid (ALA), Arachidonic Acid (ARA) and docosahexaenoic acid (DHA). Hampir semua formula bayi saat ini mempromosikan kandungan ARA dan DHAnya terutama yang premium. ARA dan DHA terdapat didalam asi dan merupakan asam lemak  utama yang membentuk retina (saraf mata) dan otak. Penambahan ARA dan DHA pada formula bayi belum memiliki bukti ilmiah yang kuat memiliki kelebihan dibandingkan formula tanpa ARA dan DHA. Beberapa penelitian menunjukan manfaat ARA dan DHA, namun setelah dibuat review (meta-analisis) oleh Cochrane memberikan kesimpulan tidak berbeda, akan tetapi penggunaan ARA dan DHA cukup aman.

Nucleotida

Nucleotida banyak terkandung dalam ASI, dan merupakan metabolit yang membentuk ribonucleic acid (RNA), deoxyribonucleic acid (DNA) dan adenosine triphosphate (ATP). Studi klinik  menunjukan manfaat nukleotida pada pertumbuhan dan modulasi sistim kekebalan tubuh pada bayi kecil menurut masa kehamilan.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus

Bila kita membaca peraturan BP POM tersebut terlihat jelas bahwa susu formula bayi diatur dalam hal kandungan nutrisi dan pemasarannya. Rincian persyaratan keamanan, mutu dan gizi formula bayi dapat dibaca pada lampiran peraturan tersebut. Kadar zat yang harus ada diatur kadar minimal dan maksimal, begitupula zat tambahan yang boleh ditambahkan.

Bila kita lihat pada bab empat berisi tentang larangan:

Pasal 1.  Pelaku Usaha dilarang:

a. memproduksi dan/atau memasukkan Formula Bayi dan/atau FormulaBayi Untuk Keperluan Medis Khusus ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini;

b. mencantumkan klaim gizi dan/atau klaim kesehatan pada label Formula Bayi;

c. mencantumkan klaim kesehatan pada label Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus; dan

d. mengiklankan Formula Bayi dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan.

Kandungan nutrisi yang boleh ditambahkan antara lain taurin, nukleotida, DHA,  ARA dan Probiotik. Kenapa tidak diharuskan? Hal ini disebabkan para ahli nutrisi sendiri terdapat silang pendapat tentang sejauh mana manfaatnya, efek samping jangka panjang atau bentuk sediaan yang tepat.

Ringkasan.

  1. Untuk bayi sehat dan tidak ada risiko alergi, bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi bebas (mahal-murah sama saja)
  2. Bila bayi sehat dan ada risiko alergi (ayah/ibu/saudara ada riwayat alergi),  bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi pilihlah yang Partially Hydrolyzed Formula (PHF) misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  3. Bila bayi menderita alergi protein susu sapi dan ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi:
    • Pertama: Susu formula elemental (mahal, diutamakan yang alergi berat)
    • Kedua: Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
    • Ketiga: Bila kedua formula diatas tidak dapat diakses maka boleh dicoba dengan formula bayi yang berbahan baku soya.
  4. Untuk bayi dengan masalah kesehatan lain harus dikonsultasikan dengan dokter anak.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Daftar Pustaka

  1. Martinez JA and Ballew MP, Infant Formulas, Pediatrics in Review 2011;32;179
  2. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th, 2011;161-164
  3. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus
  4. U.S. Department of Agriculture, Feeding Infants, A Guide for Use in the Child Nutrition Programs, 2002.
Advertisements
0

Konstipasi Kronis

Tulisan ini bermaksud membahas tentang konstipasi kronis. Definisi, kriteria konstipasi kronis  khususnya fungsional termasuk tata lakasananya akan diuraikan. Konstipasi yang sesekali terjadi pada anak khususnya bayi (biasanya karena pemberian susu formula atau saat pengenalan MPASI) tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Penggunaan pencahar, diet makanan tertentu, dan olahraga/aktivitas fisik (exercise) biasanya dapat memulihkan kondisi konstipasi seperti ini.

PENDAHULUAN

Konstipasi merupakan salah satu keluhan yang cukup kerap dilontarkan orangtua ketika mendatangi dokter anak (berkisar 4-36%).  Sejauh ini beberapa ahli memberikan batasan berbeda-beda tentang konstipasi kronis. Laporan yang ada tentang frekuensi gerakan usus (bowel mowement) normal yang menandakan keinginan buang air besar (BAB) adalah sebagai berikut:

Umur

Gerakan Usus Perminggu Gerakan Usus Perhari
0 – 3 bulan
  • ASI

5 – 40

2,9

  • Susu formula

5 – 28

2,0

6 – 12 bulan

5 – 28

1,4

1 – 3 tahun

4 – 21

1,8

Lebih dari 3 tahun

3 – 14

1,0

Konstipasi kronis berdasarkan penyebabnya dibagi dua:

  1. Konstipasi non-fungsional yaitu konstipasi yang disertai kondisi patologis
  2. Konstipasi fungsional, yaitu konstipasi yang tidak disertai kondisi patologis

Anak dicurigai menderita konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda sebagai berikut

  • Demam
  • Muntah
  • Gangguan pertumbuhan/perkembangan
  • BAB disertai darah
  • Riwayat meconium (BAB warna kehitaman pada bayi) pertama kurang dari 24 jam.

 DEFINISI/KRITERIA KONSTIPASI FUNGSIONAL

 Sedangkan definisi konstipasi fungsional sendiri ada beberapa, diantaranya menurut:

A.     ROME III:

Kriteria konstipasi fungsional menurut ROME III dibedakan berdasar usia anak, yaitu:

Anak > 4 tahun

 Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda minimal 1 kali dalam 1 minggu dan paling tidak selama 2 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence)
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Anak < 4 tahun

Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda berikut paling tidak selama 1 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence) bila sebelumnya sudah bisa mengontrol BAB
  • Riwayat retensi feses berlebihan
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Secara umum keluhan lain yang sering ikut menyertai diantaranya adalah anak rewel, malas makan/mudah merasa kenyang. Namun demikian keluhan ini tidak termasuk dalam kriteria diatas

Catatan tentang fecal incontinence (kecerit, bhs Jawa, red)

The Paris Consensus on Childhood Constipation Terminology Group (PACCT) membedakan fecal incontinence sebagai dua yaitu, Soiling dan Encopresis. Soiling sebagai BAB yang tidak disengaja sehingga memberikan flek di celana pada anak usia 4 tahun atau lebih. Sedangkan Encopresis adalah pengeluaran feses yang tidak terkendali (sehingga berak di celana). Perbedaan antara encopresis dan soiling hanya pada besar/kuantitas feses.

B. IOWA.

Berdasarkan kriteria IOWA, dikatakan konstipasi pada anak > 2 tahun bila didapatkan dua atau lebih tanda/gejala berikut selama 8 minggu:

  • Satu atau lebih gejala inkontinensia dalam 1 minggu
  • Feses keras rektum atau saat pemeriksaan perut
  • Feses besar yang seringkali menyumbat toilet
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Nyeri saat BAB
  • Gerakan usus < 3 kali seminggu

C. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN, 2006) secara ringkas mendefinisikan konstipasi sebagai keterlambatan atau kesulitan BAB yang terjadi selama 2 minggu atau lebih, dan kondisi tersebut memyebabkan distress/masalah pada pasien.

MEKANISME DEFEKASI/BAB

Di dalam usus (kolon), yang merupakan organ yang disusun oleh otot, lebih dari 90% air telah diserap ketika makanan memasukinya besar. Meskipun makanan yang dimakan dapat mencapai kolon dalam waktu 2 jam, akan tetapi kira-kira butuh 2 – 5 hari untuk dikeluarkan lewat buang air besar (BAB). Perubahan dari cair ke semi padat terjadi pada bagian kolon transversal. Bagian kolon descendent merupakan saluran yang menghubungkan ke rektum, sebuah area penampungan dimana penyerapan masih terjadi. Pengisian dan regangan rectum oleh feses akan menghasilkan:

  1. Peningkatan peristaltic usus
  2. Relaksasi sphincter anus bagian dalam
  3. Sensasi buang air besar

Adanya distensi di rektum memacu gelombang kontraksi dari rektum dan defekasi dapat berlangsung sempurna seiring meningkatnya tekanan intraabdominal, menutupnya glottis fiksasi diafragma dan kontraksi abdomen (mengejan) dimana semuanya membantu mendorong tinja melewati saluran anal yang dilanjutkan dengan keluarnya gas, cairan atau feses.

Kondisi tersebut tidak serta merta menyebabkan BAB karena sphincter anus bagian luar hanya membuka bila secara sadar dikehendaki.  Mekanisme pengontrolan karena sphincter anus sudah ada pada bayi. Seiring perjalanan waktu akan terjadi proses pembelajaran kapan saat yang tepat untuk BAB (toilet training). Problem pada BAB akan terjadi bila terdapat masalah fisik dan atau perilaku. Gerakan usus yang menandakan kehendak untuk BAB dihalangi dengan cara menahan proses tersebut maka gerakan usus tadi perlahan akan berkurang dan menghilang. Bila hal ini terjadi berulang-ulang akan terjadi penumpukan feses pada rectum bahkan sampai ke kolon. Penumpukan berlebihan feses akan meyebabkan regangan berlebihan dari rectum yang selanjutnya menyebabkan penurunan peristaltic usus.

Secara ringkas, gejala dan tanda konstipasi fungsional adalah sebagai berikut

  1. BAB tidak teratur
  2. Nyeri saat BAB
  3. Soilling (keceret)
  4. Perilaku menahan BAB
  5. Darah dalam tinja
  6. Ngompol atau gejala terkait dengan kencing

(lihat kriteria diagnosis konstipasi fungsional)

DIAGNOSIS

Bila ada gangguan perkembangan dan atau pertumbuhan, maka kemungkinan didapatkan masalah organik atau adanya penyakit yang menyertai (Baca: Dicurigai konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda). Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik perlu dikerjakan dengan seksama oleh dokter yang berpengalaman dengan anak. Status nutrisi perlu dihitung berdasarkan data tinggi badan dan berat badan. Periksaan foto rongent, laboratorium dan penunjang yang lain  dikerjakan bila ada indikasi.

TATA LAKSANA

Laporan dari Virginia (USA) menyebutkan sekitar 86% dokter di pelayanan pertama memberikan penanganan yang kurang adekuat, sehingga hampir 40% pasien tetap mengeluh konstipasi setelah 2 bulan.

Penanganan konstipasi fungsional sendiri cukup kompleks yaitu meliputi:

  1. Konsulatasi dan penyuluhan
  2. Toilet training
  3. Latihan fisik, mereka yang kurang aktivitas fisik akan lebih mudah mengalami konstipasi
  4. Diet, cukup cairan dan serat
  5. Oral laksans (pencahar)
  6. Behavioural treatment
  7. Habit training
  8. Biofeedback training
  9. Psikologis
  10. Bedah
  11. Fisik

PENGGUNAAN LAKSAN/PENCAHAR

Penggunaan laksan ditujukan untuk dua hal penting, pertama untuk disimpaction (evakuasi kotoran) yang bertujuan untuk mengeluarkan material kotoran yang keras. Kedua untuk rumatan, dengan tujuan terbentuk material kotoran yang cukup optimal untuk merangsang gerakan usus yang adekuat. Pemberian laksan rumatan bisa memerlukan waktu cukup lama sampai toilet training terbentuk dan proses BAB sudak tidak membuat anak ketakutan/stress.

KESALAHPAHAMAN TENTANG KONSTIPASI

  1. Konstipasi dapat disembuhkan cukup dengan obat. Kegagalan terapi karena baik dokter maupun orang tua kurang memperhatikan bahwa obat hanya merupakan aspek tambahan saja dalam penatalaksanaan
  2. Obat pencahar menyebabkan ketergantungan. Perlu diingat, pencahar hanya merupakan bagian dari terapi, jadi jika dihentikan maka wajar jika keluhan muncul lagi karena  modalitas terapi yang lain tidak dijalankan (Lihat: Tata Laksana).
  3. Konstipasi disebabkan asupan serat yang kurang. Serat memang diperlukan untuk membentuk feses (debulking), tetapi penelitian yang ada menunjukan bahwa konstipasi kronis juga terjadi pada mereka yang diet serat cukup tinggi dan sebaliknya mereka yang diet rendah serat banyak yang tidak mengalami konstipasi

 KESIMPULAN

Konstipasi merupakan keluhan yang cukup kerap terjadi pada anak, namun jika hanya terjadi sesekali maka orangtua tidak perlu terlalu khawatir. Penggunaan obat pencahar tanpa resep dokter diperbolehkan tetapi perhatikan aturan pakainya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan konstipasi. Apabila terjadi konstipasi kronis, orangtua harap segera menghubungi dokter yang berpengalaman. Penggunaan pencahar/obat hanya merupakan salah satu bagian dari pengobatan, peran orang tua/pengasuh sangat penting dalam penatalaksanaan terapi disamping dokter yang berpengalaman.

Dr. Ferry Andian Sumirat, MSc. SpA

REFERENSI

  1. G S Clayden, A S Keshtgar, I Carcani-Rathwell, A Abhyankar, Archiv Dis Child Educ Pract Ed 2005;90:Ep58–Ep67
  2. Daisy A. Arce, M.D., Carlos A. Ermocilla, M.D., And Hildegardo Costa, M.D., Am Fam Physician 2002;65:2283-90,2293,2295-6
  3. Afzal N.A.,  Tighe M.P., &  Thomson M.A., 2011, Constipation in Children, Italian Journal Of Pediatric 37: 28
  4. Paul E. Hyman, Peter J. Milla, Marc A. Benninga, Geoff P. Davidson, David F. Fleisher, and Jan Taminiau, Gastroenterology 2006;130:1519–1526
  5. Rasquin, A., Lorenzo, C.D., Forbes, D., Guiraldes, E., Hyams, J.S., Staiano, A. & Walker, L.S., 2006, Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent, Gastroenterology 130:1527–1537
  6. Carin L. Cunningham, Pediatric Gastrointestinaldisorders Biopsychosocial Assessment And Treatment, 2005