Diagnosis Tubercolusis (TBC/TB) yang Tidak Sederhana

PENDAHULUAN

Penyakit Tuberkulosa (TBC/TB) atau beberapa orang menyebut paru-paru basah, merupakan salah satu penyakit yang paling dijadikan sering alasan bila seorang anak menderita batuk lama atau  berat badan sulit naik/kurus. Yang harus diingat bahwa TB bukanlah satu-satunya penyebab batuk lama maupun anak kurus. Oleh karena itu kita perlu mengenal lebih banyak tentang TB.

Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosa, yang dapat menyerang seluruh organ tubuh mulai dari kulit, tulang, paru, saluran cerna, ginjal,  otak, dan kelenjar limfe.  Oleh sebab itu setiap penderita TB pasti ada sumber penularannya, meskipun kadang sulit mencari sumber penularnya.

Kuman TB masuk kedalam tubuh melalui percikan ludah (droplet) dari penderita TB yang dihirup oleh saluran pernapasan/paru. Setelah kuman masuk kedalam tubuh manusia, kuman tersebut dapat berkembang menjadi penyakit atau hanya menetap bertahun-tahun tanpa menimbulkan masalah (dorman). Kuman TB yang dorman dapat menyebabkan penyakit bila terjadi penurunan sistim imunitas tubuh.

WHO memperkirakan terdapat 1/3 penduduk dunia  terinfeksi  basil  TB. Dari mereka yang terinfeksi kemungkinan akan menderita sakit sebesar:

  • 50%, bila usia< 1 tahun,
  • 10-25%, usia 1-2 tahun
  • 5%, usia-2-5 tahun,
  • 2%, usia 5-10 tahun,
  • 10-20% usia >10 tahun).

Bila ada penderita TB ditemukan, ingatlah usia-usia dimana seseorang mudah menderita penyakit TB. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mereka yang resiko terinfeksi TB adalah: Mereka yang tinggal dilingkungan penderita TB dan mereka yang berusia <2 tahun.

 GEJALA & TANDA PENDERITA PENYAKIT TB:

  1. Demam lama (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, dapat disertai keringat malam. Akan tetapi harus diingat bahwa bayi dan anak akan terasa lebih hangat dan berkeringat bila malam, hal ini terkait dengan metabolisme bayi/anak lebih tinggi dari orang dewasa. Oleh sebab itu perlu pengukuran dengan thermometer untuk melihat suhu.
  2. Batuk lama (> 3 minggu) setelah penyebab batuk lain disingkirkan. Batuk pada malam hari atau pada waktu tertentu saja atau yang disertai mengi biasanya disebabkan oleh alergi. Batuk pada TB bayi dan anak biasanya tidak berdahak/kering, batuk berdahak biasanya lebih pada TB anak besar/adolescent dan dewasa.
  3. Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas atau berat badan tidak naik meskipun asupan gizinya cukup.
  4. Gagal tumbuh atau gizi kurang. Kadang disertai anoreksia/malas makan (bukan pilih-pilih makanan/picky eaters)
  5. Lesu
  6. Diare persisten (diare > 2 minggu)

Sampai disini dapat garis bawahi bahwa dicurigai menderita penyakit TB bila menemukan tanda/gejala diatas disertai faktor risiko dan sumber penularan. Bila kita hanya menemukan gejala dan tanda saja tanpa faktor risiko dan sumber penularan maka penyakit atau masalah lain harus dicari dengan seksama oleh karena banyak penyakit lain yang memberikan gejala/tanda yang sama. Akan tetapi bila hanya menemukan faktor risiko saja maka perlu pemantuan kemungkinan akan menderita penyakit TB di kemudian hari.

Diagnosis penyakit TB pada anak bukan hal yang mudah, oleh karena seringkali sumber penular tidak jelas. Penegakan diagnosis yang ideal adalah pemeriksaan ada tidaknya kuman TB pada dahak, namun hal ini sulit dikerjakan pada bayi dan anak, baik karena sulitnya mendapatkan dahak maupun karena kandungan kuman TB pada dahak anak sangat sedikit.

PETUNJUK WHO UNTUK DIAGNOSIS TB PADA ANAK

Dicurigai Tuberkulosis

  1. Anak dengan riwayat kontak dengan penderita TB (pemeriksaan dahak positif TB)
  2. Anak dengan:
  • Keadaan klinis tidak membaik setelah campak atau pertusis
  • Berat badan menurun, batuk dan mengi yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotikan atau obat saluran pernapasan
  • Pembesaran kelenjar yang tidak nyeri

Mungkin Tuberkulosis

Anak yang dicurigai TB ditambah dengan:

  • Uji tuberculin (Mantoux/PPD test)  positif
  • Foto rongent paru sugestif T
  • Pemeriksaan jaringan biopsy sugestif TB
  • Respon baik dengan pengobatan TB

 Pasti Tuberkulosis

Bila ditemukan basil TB pada pemeriksaan langsung (dahak) atau biakan

Kendala pada penggunaan kriteria WHO:

  • Foto rontgen paru seringkali tidak khas kecuali bila penyakit TB sudah parah. Foto rontgen paru yang normal tidak berarti tidak ada penyakit TB.
  • Uji tuberculin sering tidak tersedia, disamping itu pada kondisi tertentu pemeriksaan tuberculin dapat negatif palsu (anergi), maka bila perlu diulang 1-2 bulan sesudahnya.
  • Pemeriksaan biopsy lebih dikhususkan pada TB kelenjar

Atas dasar berbagai pertimbangan dan hasil diskusi yang panjang, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Menyusun Sistem Skoring TB anak sebagaimana tertera dalam tabel berikut

Tabel Sistem Skoring TB Anak

Parameter

0

1

2

3

Kontak TB

Tdk jelas

Laporan keluarga (BTA negatif/tdk jelas)

BTA (+)

Uji Tuberculin

negatif

Positif (>10 mm>

Berat badan/Gizi

BB//TB < 90% atau BB//U < 80%

Klinis gizi buruk atau BB//TB <70% atau BB//U < 60%

Demam yg tdk diketahui penyebabnya

> 2 minggu

Batuk khronik

> 3 minggu

Pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak, lipat paha

> 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri

Pembengkakan tulang/sendi

ada

Foto rongent paru

Normal

Gambaran sugestif TB

Catatan: Diagnosis TB bila skor > 6 (skor maksimal 13)


Dari semua pembahasan diatas maka poin terpenting adalah pada adanya informasi/bukti sumber penularan (kontak TB) dan hasil uji tuberculin. Hal ini dapat dilihat dilihat pada tabel sistem scoring IDAI yang keduanya memiliki nilai tertinggi.

Mendiagnosis TB bukan hal yang mudah begitu pula kapan kita mengakhiri/menghentikan pengobatan juga bukan hal yang mudah. Disamping itu hampir semua obat TB dapat merusak hati (hepatotoksik).

Kembali pada bahasan sebelumnya, oleh karena itu seseorang dicurigai menderita penyakit TB bila ditemukan tanda/gejala penyakit TB baru kemudian dibuktikan/dibuat diagnosis dengan bantuan pemeriksaan yang ada/scoring TB. Jadi bila benar TB dan telah dilakukan pengobatan yang benar maka gejala/tanda penyakit tersebut haruslah berkurang/menghilang. Namun bila sebaliknya, maka muncul pertanyaan berikut:

  1. Apakah betul TB?
  2. Apakah pengobatan sudah tepat?
  3. Apakah kuman TBnya sudah kebal dengan obat standar? (Untuk no 3 perlu pembahasan amat panjang).

Untuk itu orangtua perlu bersikap kritis terhadap diagnosis TB yang ditegakkan oleh DSA anak mereka. Tanyakan dasar diagnosis yang digunakan, jika perlu carilah second, third opinion.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Referensi

  1. Buku Ajar Respirologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Cetakan Pertama, 2008
  2. Graham, S.M., 2011, Treatment of Paediatric TB: Revised WHO Guidelines, Paediatric Respiratory Reviews 12: 22-26
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s