2

Diare Pada Anak

Pendahuluan

Di negara berkembang, diare akut masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak. Rata–rata sekitar 30% dari jumlah tempat tidur yang ada di Rumah Sakit ditempati oleh bayi dan anak dengan penyakit diare.

Definisi :

Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari, disertai perubahan konsistensi tinja mejadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah  yang berlangsung kurang dari satu minggu.

Pada bayi yang minum ASI eksklusif, frekuensi buang air besarnya normal lebih dari 3 – 4 kali per hari, sehingga keadaan ini tidak dapat disebut diare, tetapi masih bersifat fisiologis atau normal. Untuk bayi yang minum ASI secara eksklusif definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya. Kadang–kadang pada seorang anak buang air besar kurang dari 3 kali perhari, tetapi  konsistensinya cair, keadaan ini sudah dapat disebut diare.

Tipe Diare

  • Diare berair akut (termasuk kolera)
  • Diare dengan perdarahan akut (disentri)
  • Diare berkepanjangan (berlangsung 14 hari atau lebih)
  • Diare yang disertai malnutrisi berat (Marasmus atau kwasioskor)

Epidemiologi :

Di negara berkembang anak-anak balita mengalami rata-rata 3–4 episode diare per tahun, tetapi dibeberapa tempat dapat lebih dari 9 episode diare per tahun atau hampir 15–20 %  waktu hidup anak dihabiskan untuk diare. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat pada tahun 2003 tercatat 20–35 juta episode diare diantara 16,5 juta balita. 200.000 diantaranya memerlukan perawatan dirumah sakit dengan angka kematian berkisar 200–400 setahun.

Di Indonesia sendiri dilaporkan 1,6–2 episode diare per tahun pada balita, sehingga secara keseluruhan diperkirakan episode diare pada balita sekitar 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000 – 400.000.

Diare juga merupakan penyebab kematian utama pada balita, menurut peringkat urutan penyebab kematian pada bayi dan balita, pada SURKESNAS 2001 diare menempati urutan penyebab kematian no 2 yaitu sebesar 13,2 %.

Cara  penularan dan faktor resiko :

Cara penularan  diare pada umumnya melalui cara fekal – oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (dikenal juga melalui 4 F = finger, flies, fluid, field )

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4–6 bulan  pertama kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.

Faktor Musim

Di daerah tropik seperti Indonesia, diare yang disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung meningkat pada musim hujan.

Etiologi

Pada saat ini dengan kemajuan bidang iptek, hasil laboratorium telah dapat mengidentifikasi  kuman-kuman patogen dari penderita diare sekitar 75% pada kasus yang datang disarana kesehatan dan sekitar 50% kasus ringan di masyarakat. Penyebab infeksi utama timbulnya diare  umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit.

Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non inflammatory dan inflammatory.

Enteropatogen menimbulkan non inflammatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan villi oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan /atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya  inflammatory diare biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada anak-anak yaitu : Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium.

Manifestasi klinis :

Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare, biasanya tidak demam atau hanya sumer-sumer (bhs Jawa), nyeri perut periumbilikal dan tidak berat, diarenya watery (berair) menunjukkan yang terkena saluran cerna bagian atas. Jenis diare ini biasanya paling sering menyebabkan dehidrasi. Sedang diare yang  inflammatory diarenya sedikit-sedikit, disertai darah-lendir dan nyeri perut. Sedangkan demam bisa tinggi atau justru tanpa demam. Inflammatory diare sering disebut diare disentriform.

Lama Diare:

Biasanya diare sembuh dalam 3 -5 hari, 90% kurang dari 7 hari. Bila diare lebih dari 7 hari (disebut diare berkepanjangan) maka harus ke dokter anak atau dirawat di rumah sakit. Bila diare lebih 2 minggu (disebut diare khronik) akan memerlukan penanganan yang sangat komplek.

Kapan Perlu ke Dokter:

  • Bila ada tanda dehidrasi (mata cekung, gelisah, nampak haus/malas minum, lesu, mukosa mulut kering, kencing berkurang, bila kulit daerah perut dicubit lambat kembali)
  • Diare lebih dari 5 – 7 hari
  • Diare disentriform (disertai darah, nyeri perut, demam > 390C)
  • Muntah berlebihan, setiap minum selalu muntah
  • Bila ada gejala lain yang berbahaya (sesak, kejang, kesadaran menurun)
  • Bayi usia 0 – 30 hari

Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 2005

Penilaian

A

B

C

Lihat : keadaan umum MataAir mataMulut dan lidah

Rasa haus

Baik, sadarNormalAda

Basah

Minum biasa tidak haus

* Gelisah, rewelCekungTidak ada

Kering

*Haus, ingin minum banyak

* Lesu, lunglai atau tidak sadarSangat cekung dan keringSangat kering

*Malas minum atau tidak bisa minum

Periksa : turgor kulit Kembali cepat *Kembali lambat *Kembali sangatLambat
Kekurangan Cairann < 5% dari BB atau < 50 ml/kg dari BB 5-10% dari BB atau 50-100 ml/kg dari BB > 10% dari BB atau > 100 ml/kg dari BB
Hasil pemeriksaan : Tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan / sedang: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain Dehidrasi berat: Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau lebih tanda lain

 

Penanganan Diare (5 Pilar Pokok)

  1. Kecukupan cairan. Berikan ASI/susu formula lebih sering, beri tambahan oralit (sebaiknya pedialyte atau renalyte) atau kuah sayur bila anak nampak dehidrasi. Jangan diberi larutan garam oleh karena bahaya hypernatremia
  2. Kecukupan nutrisi. Lanjutkan makan seperti biasa, kurangi sayur dan lemak untuk sementara selama masih diare
  3. Pemahaman tanda-tanda kapan ke dokter
  4. Pemberian Zinc. Zinc 20 mg untuk anak usia lebih dari 6 bulan, 10 mg untuk anak usia 2 – 6 bulan. Pemberian zinc selama 10 hari dan diteruskan sampai 10 hari meskipun diare telah berhenti. Perlu dipahami Zinc tidak dapat menangani kegawatdaruratan pada diare dan tidka dapat mencegah dehidrasi. Terapi utama untuk mencegah kematian akibat diare adalah terapi a
  5. Antibiotik (hanya untuk diare disentriform)

Obat-obat anti diare (kaoline-pectine, lopermide, Bismuth subsalicylate, smectite, activated charcoal, cholestyramine) tidak direkomendasikan karena lebih banyak bahayanya dari pada keuntungannya. Di pasaran, obat-obatan obat tersebut memiliki nama dagang yang beragam (perhatikan kandungan isinya).

Ditulis oleh Dr Ferry Andian SpA


Referensi

WHO Guidelines on Treatment of Diarrhea (2005)

Advertisements