2

Sekilas Mengenai Batuk dan Pilek Pada Anak

Batuk dan atau pilek merupakan gejala utama common cold atau sering kita sebut flu. Flu merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada bayi dan anak. Dalam satu tahun rata-rata anak akan mengalami 3-10 kali. Bila rata-rata lama penyakitnya 7 – 10 hari, maka seakan-akan 1/3 hidup anak dalam setahun terpapar flu. Gejala yang sering dikeluhkan adalah batuk, pilek dan demam, kadang disertai nyeri tenggorok dan pembesaran kelenjar limfe leher bagian depan. Gejala lain berupa nyeri otot, nyeri kepala, radang kelopak mata dan nyeri sendi.

Demam yang terjadi biasanya kurang dari 390C, bila suhu lebih dari 390C patut dipertimbangkan kemungkinan penyakit yang lain. Komplikasi yang dapat terjadi radang telinga tengah, radang sinus, sesak napas (wheezing) dan infeksi bacterial tumpangan (terutama pada paru). Penyebab flu pada umumnya adalah virus (yaitu Rhinoviruses, Coronaviruses, Respiratorysyncytial virus, Parainfluenzaviruses, Adenoviruses, Nonpolioenteroviruses, Influenzaviruses, Reoviruses). Oleh karena itu biasanya flu sembuh dengan sendirinya (self limited). Pengobatan yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10 -15 mg tiap kg berat badan bila demam lebih 380C dan cukup minum terutama yang hangat. Parasetamol atau acetaminophen dapat diberikan tiap 6 jam bila perlu. Sediaan parasetamol yang ada berupa sirup, tetes atau tablet.  Harap diperhatikan dosis perkilogram berat badan bukan berdasar umur! Penggunaan obat-obatan lain seperti antibiotik, obat batuk (antitusif, ekspetoran), obat pilek (decongestan) dan antihistamin tidak disarankan untuk anak-anak. Di Amerika Serikat, FDA secara khusus telah melarang penggunaan obat batuk pilek untuk usia di bawah 2 tahun, dan keefektifan untuk usia di atas tersebut (anak-anak bawah 12 tahun) sendiri masih dipertanyakan. Secara umum obat batuk dan obat pilek tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin, maka bila hendak menggunakan obat tersebut harus dengan dengan rekomendasi dokter. Sayang sekali dipasaran banyak beredar obat batuk dan obat pilek atau gabungan keduanya sehingga seakan-akan memang bermanfaat untuk flu pada anak.

Kapan kita ke dokter?

  1. Bila secara umum anak tampak tidak bugar (sakit keras) dalam bahasa medis disebut toksik
  2. Anak malas minum sehingga kurang cairan padahal tidak muntah atau diare
  3. Tampak sesak/sukar bernapas, ditandai dengan napas cepat (jumlah napas > 60 kali permenit untuk usia < 2 bulan, > 50 kali untuk usia 2 – 12 bulan, > 40 kali untuk usia 1 – 5 tahun) dan atau tampak tarikan pada dinding dada.
  4. Demam tinggi > 390C atau setelah 3 hari demam masih > 38,50C
  5. Ada keluhan nyeri telinga

Referensi

  • Leslee F.Kelly, 2004, Pediatric Cough and Cold Preparations Pediatrics in Review 25(4):115-123
  • Diane E. Pappas, J. Owen Hendley, 2011, The Common Cold in Children, Pediatrics in Review 32:47-55.
  •  Floyd W. Denny, 1987, Acute Respiratory Infections in Children: Etiology and Epidemiology, Pediatrics in Review 9:135-146
  • Madeline Simasek, David A Blandino, 2007, Treatment of the Common Cold, American Family Physician 75(4):515-520.
  • Ishimine P, 2006, Fever Without Source in Children 0 to 36 Months of Age, Pediatric Clinics of North America 53(2):167–194

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Advertisements
0

ASI Eksklusif Untuk Bayi Kembarku

oleh Wilda Choir on June 17th, 2011

I got twin. How blessed I am.

Dianugrahi ‘satu paket’ bayi kembar yang cantik bagi saya merupakan doa yang menjadi kenyataan. Memiliki anak kembar adalah salah satu ‘obsesi’ saya sejak dulu. Rasanya amat sangat bahagia dan ajaib banget bisa merasakan ada dua makhluk hidup yang berkembang di dalam tubuh kita. Pihak kakek saya mempunyai banyak keturunan anak kembar, jadilah saya punya harapan besar kepada Tuhan agar bisa diberikan keturunan kembar.

Alhamdulillah doa saya didengar & dikabulkan Allah SWT. Tepat pada ulang tahun ke 29, saya ‘divonis’ dokter sedang hamil dengan dua telur alias kembar!! Waahh, speechless rasanya. Saya menjadi wanita paling beruntung di seluruh jagad raya. 9 bulan menikmati masa kehamilan, akhirnya tanggal 27 Juli 2010 saya bisa merasakan si kembar hangat dalam pelukan. Air mata bahagia menetes. Bersyukur atas semua karunia Allah SWT. Lalu saya dedikasikan kepada ibu dan mertua untuk memberikan nama buat si kembar, Amira Tsania Nazmi (2580gr) & Azkiya Aufa Khateen (2200gr). Selamat datang, Sayaang.

Having twin is not double trouble, but twice blessed.

Ok, jadi saya memiliki satu anak usia 4 tahun, Alika, yang sedang aktif-aktifnya, dan bayi kembar perempuan yang selalu membuat suasana tambah heboh dan seru hohoho. Ini bukan teori atau mitos loh, tapi saya mengalami sendiri punya anak kembar itu nangisnya bareng, BABnya bareng, bangun tidurnya bareng, saat tidur pun bergerak ke arah yg sama juga bareng. BBA deh (bener-bener ajaib). Untungnya saya memiliki ‘partner hidup’ yang canggihnya luar biasa yaitu suami. Kalau dulu mengurus anak pertama kami bisa bekerja sama dengan baik, kenapa sekarang tidak?

Karena terbiasa olahraga (saya pencinta alam yg hobi naik gunung loh), hasilnya fisik saya tetap sehat selama mengurus si kembar, walau sesekali terkena flu. Jadi saat punya anak kembar yang hampir tiap jam menyusui dan terjaga semalaman – seharian pun, saya tetap dengan menikmati ‘bermain-main’ bersama. Dan kalau ditengah malam si kakak akhirnya terbangun ikutan main, saya tetap tersenyum walau sambil merem melek *ngantuk maksudnya*. Alhamdulillah saya gak pernah mengeluh kecapean. Selalu takjub dan terharu melihat ada dua bayi sekaligus dalam dekapan saya. Bahkan saat Alika, Amira + Azkiya jejeritan tengah malam, saya malah merasa lucu melihatnya dan akhirnya ikutan jerit-jerit/main-main juga. Ga bisa di jelaskan dengan kata-kata gimana bahagianya.

Peran suami terasa sangat besar terutama di saat-saat begadang tersebut. Sering terjadi saat begadang saya kelaparan. Biasanya dengan sangat pengertian, suami akan membuatkan saya kentang atau nasi goreng. Atau bergantian menjaga si kembar sementara saya tidur sebentar.

Suami saya jago memandikan si kembar loh. Ganti popok gak ada masalah. Gendong pake kain pun bisa. Ada perkataannya yang sampai sekarang membuat saya selalu bersyukur, ”Bun, cuma dua hal yang gak bisa aku lakuin, yaitu hamil dan melahirkan. Tapi selain itu, gak ada yang bisa menghalangi aku untuk menunjukkan rasa sayang terhadap bunbun. Maafin bapak ya cuma bisa bantuin bunbun sebisanya. Mudah2an bunbun iklhas”. Hiks, terharu. Pokoknya suamiku hebat deh, Insya Allah.

Selain itu semua anggota keluarga juga sangat membantu dengan baik dalam merawat. Memang sih kadang-kadang orang tua panik kalau si kembar rewel, nangis bareng gak bisa diam. Bingung takut ada apa-apa sama si kembar. Tapi untungnya saya gak ikut-ikutan panik. Biasanya saya lebih banyak diam, menahan diri untuk tidak bersikap responsif walau sulit. Kalau gak bisa menahan emosi, saya lebih memilih menangis pelan-pelan. Sambil nangis, sambil peluk si kembar. Waahh, obat paling mujarab menyembuhkan segala macam penyakit hati. Jadi gak ada alasan buat saya merasa stress punya anak kembar. Apalagi ‘baby blues’, Alhamdulillah gak ngalamin. Kalau saya merasa bosan di rumah terus, dengan senang hati suami membawa saya dan semua anak-anak sekedar jalan-jalan ke mall.

Bunda bekerja, memberikan ASIX buat si kembar? Pasti bisa!

Seheboh dan serepot apapun mengurus anak kembar saya selalu yakin bahwa Tuhan sudah menseleksi, mengukur kemampuan umat-Nya dan kemudian memilih saya untuk dititipi anak kembar. Jadi saya selalu yakin semua masalah PASTI ada jalan keluarnya.

Tetap menjadi seorang wanita karier adalah pilihan saya, dengan resikonya yang harus saya tanggung. Dibalik kebahagiaan pasti selalu Tuhan selipkan ujian kepada umatnya semata-mata untuk mengukur kesabaran umat-Nya. Buat saya bekerja tidak menjadi halangan ataupun alasan untuk tidak memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya. Selain IMD, sukses ASI eksklusif untuk si kembar menjadi prioritas utama setelah melahirkan.

Ini bukan kali pertama saya menyusui. Waktu anak pertama dulu, Alika (4 tahun), Alhamdulillah saya bisa menyusui sampai usia 2,5thn. Saya pikir kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak. Berharap bisa berhasil seperti kakaknya, saya dengan optimis mempersiapkan segala sesuatunya. Membekali diri saya dengan informasi yang berhubungan dengan anak kembar, konsultasi dan berbagi pengalaman dengan teman yang memiliki anak kembar, menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan mengkonsumsi hanya makanan bergizi, selalu berusaha berpikir positif –jangan stress- serta menyiapkan mental untuk menghadapi ‘medan perang’.

Sayangnya semua teman yang memiliki anak kembar tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada anak-anaknya. Padahal mereka tidak bekerja. Lalu bagaimana dengan saya yang bekerja? Saya mulai gak pede. Permasalahan lain timbul ketika kami kesulitan mencari babysitter untuk si kembar. Karena gaji babysitter yang tinggi, kami memutuskan untuk mencari satu babysitter dengan dibantu PRT. Tapi ternyata hampir semua yayasan memiliki kebijakan yang sama, satu bayi di urus satu babysitter. Huhuhu mahal banget. Setelah mencari sana sini, akhirnya dapat rekomendasi yayasan yang bagus, yang bersedia mengurus anak kembar dengan hanya dibantu PRT. Dan bersyukur sampai saat ini babysitter saya terbukti sayang sama si kembar, bisa diandalkan dan bekerjasama baik dengan PRT saya. Alhamdulillah, satu masalah terlewati.

Rasanya waktu berjalan sangat cepat, gak sadar hampir sebulan lagi saya harus kembali bekerja. Dan saya masih belum dapat jawaban berapa kira-kira kebutuhan ASI perah (ASIP) bayi kembar selama ditinggal bekerja. Masalah lain timbul ketika si kembar saya coba kasih ASI perah dengan dot, gelas kecil ataupun sendok selalu menolak. Bagaimana ini?

Ok, permasalahan yang sama juga timbul saat dulu anak pertama. Jadi kurang lebih saya sudah punya gambaran solusinya. Dan dengan terpaksa saya pisah kamar selama dicoba kasih ASIP dan membiarkan anak saya menangis. Hiks hiks, ngilu dan sakit dengernya. (Saya sering nangis diam-diam loh demi ga keliatan sama orangtua). Tapi harus dijalanin supaya nanti saat ditinggal bekerja mereka terbiasa. Alhamdulillah, si kembar Azkiya akhirnya mau minum ASIP. Jadi tinggal si kembar Amira yang saat itu belum berhasil mau minum ASIP. Perjuangan masih panjang, jreng jreng jreng jreng..!!!

Manajemen ASIP

Secara teori ada yang mengatakan kebutuhan ASIP bayi per hari berdasarkan BB x 100ml. Jadi kalau BB bayi 5 kg, dibutuhkan 500 ml ASIP per harinya. Dan teori tersebut terbantahkan saat saya coba memberikan Azkiya ASIP. Dalam waktu setengah hari (pagi – siang) saja stok ASIP saya sudah habis 6 botol @120 ml. Artinya sekitar 700ml habis dalam waktu beberapa jam dan oleh satu bayi saja. Langsung panik dan mulai stress. Tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih lagi. Saat itu masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk perbanyak stok ASIP. Bismillah.

Alhamdulillah, saya dikasih ASI yang cukup berlimpah oleh Tuhan. Ga ada makanan khusus perbanyak ASI ko. Cuma saya sudah komitmen pada diri sendiri aja demi anak, saya makan yang bergizi dan sehat. Susu kaya kalsium yang saya suka aja, gak harus susu untuk ibu menyusui. Saya juga gak konsumsi vitamin apa-apa. Pokoknya makan apa aja, alhamdulillah diganti menjadi ASI. Dan pastinya harus selalu berpikir postif. Kalau ada masalah cuek aja, jangan terlalu kepikiran apalagi sampai stress karena pasti sangat berpengaruh ke produksi ASI.

Untuk stok ASIP biasanya saya lakukan sebelum menyusui si kembar. Karena saya lebih sering menyusui tandem, jadi sepertinya gak ada kesempatan memerah ASI kalau dilakukan setelah menyusui dan dibiasakan minum air hangat satu gelas penuh setelah menyusui. Kira-kira 2 minggu sebelum mulai bekerja saya sudah mulai stok ASIP. Peralatan ‘tempur’ juga sudah siap. Karena saya ‘pejuang ASI tangan sakti’ yang memerah ASI hanya dengan menggunakan tangan, jadi gak perlu beli pompa. Beberapa botol kaca, bantal menyusui, botol susu, dan cooler bag. Untuk simpan ASIP saya hanya memakai kulkas kecil, yang setiap harinya selalu ada maksimal 35 botol ASIP @120-150 ml untuk stok (kulkasnya gak cukup untuk menyimpan lebih dari 35 botol). Kulkas yang besar gak memungkinkan untuk menyimpan ASIP. Selain itu juga rotasi keluar-masuk ASIP saya sangat besar dan gak pernah ASIP bertahan lama di kulkas, jadi gak perlu beli freezer khusus ASIP.

Hari pertama masuk kerja saya pergi dengan memikul beban berat di hati. Selain gak tega ninggalin anak, ternyata si kembar Amira masih ga mau minum ASIP menggunakan media apapun. Bingung dan gelisah tingkat tinggi waktu itu. Kepikiran nanti gimana kalau Amira kelaperan, kecapean nangis, dll. Untungnya mama, suami, babysitter dan semua anggota keluarga menenangkan saya dan meyakinkan Insya Allah pasti mau.

Untuk kesekian kalinya saya percaya Tuhan bekerja dengan cara misterius. Entah gimana caranya Amira langsung mau minum ASIP. Gak pake nangis, gak pake nolak tinggal glek glek glek trus tidur. ALHAMDULILLAH, terlewati lagi satu masalah. Bunda senang, hati riang, kerja pun tenang.

Lagi-lagi saya dapat ‘shock therapy’ sepulang kerja hari pertama. Ternyata eh ternyata selama ditinggal kerja dari jam 8 pagi – 6 sore si kembar menghabiskan ASIP sebanyak 1300-an ml. Dan berdasarkan laporan dari babysitter, si kembar kalau gak ditidurin bisa minum ASIP setiap 1 jam sekali *hampir pingsan* Beruntung ASI saya cukup. Pernah loh dalam sehari saya menghasilkan 1000-an ml ASIP. Gak percaya juga. Saya termasuk tipe orang ‘easy going’, gak takut memikirkan kalau-kalau ASI saya gak cukup untuk si kembar. Dan teratur perah ASI harus menjadi komitmen yg kuat dalam diri sendiri.

Ini kira-kira gambaran jadwal perah ASI saya waktu target memberikan ASI eksklusif 6 bulan pertama:

  • Jam dua dinihari
  • Sekitar jam 4 atau jam 5 subuh
  • Jam 7 pagi, lalu sebelum berangkat kerja menyusui si kembar sampai payudara terasa kosong
  • Jam 10 pagi (di kantor)
  • Jam 1 siang (setelah makan siang)
  • Jam 3 sore. Diselingi shalat Ashar lalu lanjut lagi (biasanya payudara sedang terasa penuh banget jam segini)
  • 1 kali memerah selama perjalanan pulang
  • Jam 8 malam
  • Jam 11 malam

Dengan ‘pendapatan’ ASIP yang lebih sedikit dibandingkan yang diminum si kembar, adakalanya saya ‘kejar-kejaran’ stok ASIP. Setelah dihitung-hitung, harus selalu tersedia MINIMAL stok ASIP sebanyak 3000 ml per hari. Pernah terpaksa saya harus ijin gak masuk kerja demi memenuhi stok ASIP yang berkurang. Pernah juga produksi ASI sedikit karena sakit. Yang membuat saya senang, di kantor banyak yang sama-sama menjadi pejuang ASI. Jadi kalau waktunya memerah, nursing room pasti rame dan seru, sambil ngomongin anak-anak. Kadang-kadang kami iseng ‘balapan’ perah ASI. Siapa yang selalu menjadi pemenang? Akuuu. Selalu lebih cepat peras dan lebih banyak. Hihihi.

Oiya, ada tips lucu agar rutinitas pemberian ASIP tidak membosankan. Biasanya suami ‘mendominasi’ pemberian label pada stok ASIP. Selain diberi tanggal perah, volume ASIP juga ditambahi judul yang lucu-lucu. Misalnya ‘obat cantik, obat sabar, obat keren kaya bapak, obat mirip bapak, dll’. Dan hasilnya? Tetep si kembar miripnya sama bunda, bukan sm bapaknya :)

I really enjoy breastfeeding my twins. Alhamdulillah si kembar Amira-Azkiya bisa melewati journey of ASI eksklusif-nya, sedikit tersendat tapi berhasil melewati semua rintangan. Dan bersyukur sampai saat ini masih diberikan ASI (dan MPASI) tanpa dicampur sufor. Lebih bersyukur lagi saya bisa mendonorkan ASIP saya kepada bayi lain yang membutuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah wa Syukurillah. Atas ijin dan semua karunia dari-Mu Ya Allah saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari kemarin. Semoga tiap tetes ASI yang berharga bisa menghantarkan anak-anakku menjadi manusia yang cantik, shalihah, baik & bermanfaat bagi sesama. Amin.


0

Buruh Pabrik Berjuang Demi ASI Eksklusif

Mbak Kemijem

KBR68H Bagi banyak ibu, memberikan ASI eksklusif menjadi cita-cita sebelum bayi lahir ke dunia. Tetapi bagaimana jika masa cuti berakhir, sementara mereka harus kembali bekerja? Bagaimana menyimpan ASI kalau tak ada kulkas? Reporter KBR68H Suryawijayanti berbincang dengan para buruh pabrik tekstil di Rancaengkek, Bandung, Jawa Barat yang  harus berjibaku memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.

Buruh dan ASI

Kemijem menunjukkan peralatan yang rutin ia bawa ke pabrik. Termos kecil dan botol-botol kecil berjajar rapi. Kemijem menjelaskan, botol-botol itu diberi nomor supaya tidak membingungkan. Satu botol berisi kira-kira 100 mililiter ASI. Dalam sehari biasanya ia memeras susu hingga 3 kali.

Botol-botol yang berisi ASI ini dimasukkan ke termos besar berisi es batu.

Kemijem adalah buruh pabrik tekstil di Rancaengkek, Bandung, Jawa Barat. Sudah hampir 10 tahun dia menghadapi mesin pemintal kain. Hari-hari ini dia harus cuti panjang karena penyakit asmanya kambuh. Jika tak cuti, perempuan asal Sleman ini setiap hari bekerja di pabrik yang letaknya sekitar setengah jam dengan motor dari rumahnya.

Botol-Botol ASI dikasih nomer sesuai urutan waktu memerah

Memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, bukan perkara mudah bagi Kemijem.

“Nggak ada dukungan dari keluarga, hanya bersama suami saja. Saya satu rumah sama kakak, dia nggak mendukung, “Sudah kasih saja susu formula.” Saya bilang nggak. Yang ngasuh juga bilang kasih susu formula. Saya bilang tidak, pokoknya harus ekslusif selama enam bulan.”

Keinginan Kemijem memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada Rizky anaknya, bukan tanpa alasan. Anak pertamanya yang berjarak 11 tahun dengan si bungsu tak mendapatkan ASI secara penuh. Dulu ia tak punya banyak pengetahuan soal ASI.

“Jadi sebelum melahirkan saya sudah konsultasi ke dokter minta ASI eksklusif sama Inisiasi Menyusui Dini. Tapi kondisi yang lemah karena di-Caesar sempat pingsan, nggak bisa IMD. Tapi saya tetap harus memberikan ASI eksklusif, meskipun awalnya gak diizinkan, karena nggak bisa jalan. Tapi setelah dua hari saya nekat dan pakai kursi roda ke ruang bayi untuk memberi ASI.”

Hanya 1,5 bulan usai melahirkan Kemijem harus kembali bekerja. Itu artinya masih ada 4,5 bulan bagi bayinya untuk menikmati hak ASI eksklusif.

Termos mini untuk menyimpan ASI usai diperah

“Alhamdulilah merepotkan juga sih Bu, soalnya rumahnya di petak, belum punya kulkas, listriknya belum kuat. Alhamdulilah katanya bisa pakai termos es yang bisa tahan dua hari. Jadi setiap esnya cair, lalu diganti, selalu dicek gitu.”

Bersama suaminya, Kemijem berbagi tugas. Gunarto berburu es batu, sementara Kemijem  harus meluangkan waktu setiap dua jam sekali untuk memerah ASI. Es batu dibutuhkan untuk memperpanjang usia ASI yang sudah diperah. Dalam sehari 4 botol ASI berhasil diperah.

“Jadi sebelum nganterin kerja beli es, pulang lagi, nganterin bayi ke yang ngasuh, lalu ambil ASI, begitu terus selama enam bulan.”

Mereka tak punya kulkas untuk menyimpan persediaan ASI yang sudah diperah. Daya listrik di rumah kontrakan mereka tak mencukupi. Sementara mencari warung yang menjual es batu, tak semudah yang dibayangkan.

Gunarto, suami Kemijem, menjelaskan, termos itu harus penuh diisi es batu. Jika tidak penuh nanti akan mencair. Gunarto memakai es balok karena lebih tahan lama dibandingkan batu es dari kulkas rumahan. Dengan es balok itu, ASI dalam botol bisa terjaga suhunya supaya tidak cepat basi.

Kemijem Dinny Imas

Di tempat lain, Imas Asih Sri Maryani adalah rekan kerja Kemijem di salah satu pabrik garmen di Rancaekek, Jawa Barat. Sejak awal kehamilan anak pertama, Imas sudah berencana  memberi salah satu merk susu formula kepada bayinya. Alasannya sederhana. Sebagai buruh dengan masa kerja tiga shift, ia membayangkan betapa repotnya jika harus memberikan ASI kepada buah hatinya.

“Dulu sempat mau pakai susu formula di awal-awal kehamilan. Suami saya juga nggak tahu, katanya anak dikasih ASI, itu ASI-nya kalau disimpan jadi darah. Bilang ke mama juga tidak mendukung.“

Demi memuluskan proses ASI Ekslusif , Imas memutuskan pindah rumah, jauh dari orangtuanya.

“Saya khan tinggal sama mamah. Karena takut nggak lulus ASI eksklusif, saya pindah jauh dari mamah, bawa adik. Pokoknya kalau pas waktu kerja adik ditelepon, saya kerja jam 10 malam besok pulang. Saya takut anak diberi makan.”

Untuk mencuri waktu memerah ASI, Imas harus berkompromi dengan teman-temannya di pabrik. Karena setiap kali ia memerah ASI, ia harus meninggalkan pekerjaan. Padahal mesin pabrik tak boleh mati. Sementara dalam sehari minimal ia butuh istirahat selama tiga kali untuk memerah ASI.

“Kalau masuk shift pagi, sebelum masuk jam setengah enam, trus istirahat pk. 09.00, dan shalat Dzuhur. Sekali merah dapatnya satu botol. Saya merah pakai tangan saja, nggak pernah pakai alat, cukup tangan bersih. Bahkan dulu di pabrik saya ini disebutnya Imas Steril. Ah banyak sekali omongan teman-teman yang nggak enak, tapi tetap jalani saja.”

Sulitnya Buruh Memberi ASI

Dini tengah mempraktikkan cara memerah ASI dengan tangan. Siang itu dia menyambangi rumah Kemijem untuk mempersiapkan Kelas Edukasi ASI yang akan segera digelar. Kemijem dan Imas yang telah lulus ASI esklusif tengah ditatar untuk membagikan kisahnya kepada teman-temannya di pabrik.

ASI di dalam Termos Es

Kemijem dan Imas tampak tekun mempelajari langkah demi langkah yang dipraktikkan Dini.

Sudah hampir lima tahun ini Dini aktif terlibat menyuarakan ASI eksklusif untuk bayi. Ibu dua anak ini tergabung dalam Klasi Yop Bandung, Klub Peduli ASI Kegiatannya memberikan pelatihan bagi para calon ibu,  hingga pendampingan bagi ibu melahirkan.

“Tahun 2007 Bandung mendirikan Klasi diawali dua kelas, yakni ibu hamil dan ibu bekerj. Pesertanya beragam dari mulai ibu yang akan hamil, hamil, menyusui, lalu yang single. Bahkan ada nenek dan pengasuh juga ikut dalam kelas ini.”

Belakangan ini Kelasi menyasar para perempuan yang bekerja di pabrik. Pasalnya ibu yang bekerja di pabrik lah yang paling banyak menemui kendala jika harus memberikan ASI Eksklusif.

“Jadi kami punya anggota tim yang kerja di pabrik dan mengeluhkan sistem shift, tak seperti yang bekerja di zona  nyaman. Soalnya khan ada sistem shift, dukungan kurang, waktu juga sulit, dan keterbatasan lain. Nah selanjutnya kami berusaha mendampingi, ini merintis karena tidak semua pabrik mau diajak kerjasama. Jadi harus pelan-pelan melakukan pendekatan”, lanjut Dini.

Kunci Sukses Ibu ASI

Dini menjelaskan, proses menyusui adalah proses belajar tiga orang sekaligus, yaitu bayi, ibu dan ayah.

“Menyusui itu tiga orang yang belajar. Bayi belajar menghisap, butuh perjuangan untuk itu, karena biasanya disuplai ibunya ketika di perut. Lalu ibunya harus punya ilmu dan percaya diri, harus kekeuh, meskipun banyak halangan. Dukungan suami tak kalah pentingnya. Suami harus mendukung  dan menjadi satu tim, satu paket.”

Kemijem tidak akan sukses memberikan ASI eksklusif, jika suaminya tidak turut jungkir balik mendukungnya. Gunarto mulai terbuka wawasannya soal ASI esklusif awalnya hanya iseng-iseng membaca buku panduan ASI milik  istrinya.

“Itu khan saya baca buku istri, kadang-kadang kalau istri capek pulang kerja, saya yang bacain, sementara istri tiduran. Saya tidak tahu sama sekali soal ASI Ekslusif. Eh setelah baca kok menarik dan saya penasaran. Pas baca itu saya bilang ke istri pokoknya harus lulus ASI eksklusif nanti.”

“Saya ikut rutin ngontrol kalau mamanya kerja, jangan sampai Rizky dikasih minuman atau makanan. Jadi ngecek ke pengasuh terus-terusan. Lalu kalau kemudian ya ngambil ASI ke pabrik untuk dibawa pulang. Cari es, meski capek tapi nggak papa, yang penting tetap ASI ekslusif”, lanjut Gunarto

Perjuangan memberikan ASI eksklusif semakin teruji, ketika Kemijem masuk rumah sakit karena demam berdarah. Dengan tangan diinfus, dia masih berusaha memerah ASI.

“Awalnya masih jalan produksi ASI-nya. Pas diinfus tangan satu meres, lalu suami yang pegang botolnya. Saya juga minta ke dokter agar diberi obat yang tidak bahaya untuk bayi.”

Namun, kondisi Kemijem membuat ASI tak keluar lancar. Hampir putus asa karena bayi terus rewel, Kemijem mengadu ke Kelasi Bandung. Beruntunglah banyak ibu yang saat itu tengah menyusui bayi mereka. Kemijem mendapatkan donor ASI. 10 botol yang cukup untuk persediaan tiga hari.

“Karena susah makan, sehari paling cuma bisa dapat dua botol saja. Jadi kalau sudah dapat peresan ama suami dibawa pulang, trus saya di rumah sakit sendiri. Keteteran. Sudah putus asa awalnya, lalu menghubungi teman di kelasi, trus dikasih tahu ada donor ASI. Alhamdulilah, saya gak apa-apa anak saya dapat ASI dari donor, yang penting anak saya tetap bisa dapat ASI, bukan susu formula.

Donor ASI juga menjadi pilihan Imas untuk anaknya. Dia tak sungkan meminta bantuan ASI kepada rekan kerjanya yang sama-sama memerah ASI. Bahkan donor ASI ini berlangsung hingga dua bulan.

“Waktu itu sempat ASI-nya gak cukup. Sempat minta donor ke teman, waktu itu dua bulanan meminta ASI, setiap hari minta satu botol.“

Imas sempat mengabaikan perintah dokter untuk meminum obat untuk menyembuhkan penyakit asmanya. Dia khawatir obat itu akan meracuni anaknya.

“Saya kasih ASI sampai umur 22 bulan, berhenti karena saya sakit asma. Sebelumnya sih saya nggak minum obat itu karena tak diperbolehkan untuk ibu menyusui. Tapi ketika berumur 22 bulan, asma saya sudah parah dan harus minum obat itu. Akhirnya berhenti ngasih ASI.”

Kemijem dan Imas sudah merasakan keampuhan ASI untuk anak-anak mereka. Kata mereka, perjuangan itu  tak sia-sia. Anak mereka lebih sehat, pintar dan kreatif. ASI diakui memiliki banyak keunggulan dibanding susu formula. Yang paling buat buruh  berpenghasilan pas-pasan seperti mereka, jelas ASI lebih murah.

Artikel asli dapat diunduh di http://kbr68h.com/saga/77/9334

0

Indikasi Kontra Menyusui

Dalam beberapa kasus tertentu, Ibu disarankan untuk tidak menyusui bayinya. Berikut adalah kondisi yang sangat jarang terjadi tersebut

Kondisi Bayi

  • Galaktosemi klasik (defisiensi galactose 1-phosphate uridyltransferase)
  • Penyakit Maple syrup urine
  • Phenylketonuria (Menyusui sebagian (partial breastfeeding) dimungkinkan dengan pengawasan)

Kondisi Maternal (Ibu)

  • Infeksi HIV 1 infection (Jika makanan pengganti dapat diterima (acceptable), layak( feasible), mampu membeli (affordable), kontinu (sustainable), dan aman,)
  • Human T-lymphotropic virus 1 and 2 infection (aturan berbeda di beberapa Negara, Jepang membolehkan menyusui. Cttn: kasus ini sangat jarang terjadi di Indonesia)
  • Tuberculosis/TBC (yang sedang aktif dan belum dirawat). Menyusui bisa dilanjutkan setelah Ibu mendapat perawatan selama 2 minggu atau bayi telah diberikan isoniazid
  • Virus Herpes simplex pada payudara (dihentikan hingga luka pada payudaran telah bersih)
  • Pengobatan
    • Sebagian besar obat-obatan tergolong aman karena hanya sedikit yang akhirnya terkandung dalam ASI
    • Sebagian kecil senyawa dalam drugs of abuse dan beberapa senyawa radioaktif yang memiliki umur paruh yang panjang mengharuskan Ibu berhenti menyusui 

Dari paparan diatas, jelas bahwa HANYA SEDIKIT sekali kondisi yang tidak memungkinkan Ibu menyusui bayinya. Di luar kondisi-kondisi tersebut, Ibu tetap dapat menyusui bayinya, apalagi jika Ibu ‘hanya’ mengalami sakit-sakit biasa seperti flu, demam, batuk, dsbnya

Referensi

Robert & Ruth Lawrence, 2011, Breastfeeding: More Than Just Good Nutrition, Pediatrics in Review 32: 267-280

1

Aturan Pemerintah RI Terkait Penambahan Zat Gizi dan Non Gizi dalam Susu Formula

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No HK 00.05.1.52.3572 tgl 10 Juli 2008 Tentang Penambahan Zat Gizi dan Non Gizi Dalam Produk Pangan 

–          Pasal 1: penambahan gizi dan non gizi pada produk pangan harus memenuhi peraturan kepala BP PM no. HK.00.05.52.0685 tahun 2005 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Pangan Fungsional

–          Pasal 2: penambahan ARA dan DHA wajib memenuhi persyaratan rasio ARA:DHA = 1-2:1

–          Pasal 3: Kandungan EPA tdk boleh melebihi kandungan DHA Sumber ARA berasal dari Ganggang sumber DHA berasal dari Fungus

–          Pasal 4(1), informasi kandungan ARA dan DHA hanya dapat dicantumkan dalam informasi nilai gizi

–          Pasal 5: dilarang menambahkan Lutein pada produk formula bayi dan lanjutan, sphyngomyelin pada produk formula bayi dan lanjutan, gangliosida pada produk pangan.

–          Pasal 6: dilarang mencantumkan klaim gizi dan klaim kesehatan tentang ARA, DHA, Lutein, sphingomyelin dan gangliosida

–          Pasal 7: Pasal 5 bisa dikesampingkan bila memberi manfaat dan sudah ditetapkan oleh kepada badan

–          Pasal 8: Iklan pangan tentang ARA, DHA, lutein, sphingomyelin, gangliosida harus dihentikan

2

Salah Paham 3 Hari Bayi Baru Lahir Tidak Memerlukan Cairan

         ASI sebagai sumber nutrisi terbaik memang tidak seorangpun dapat menyangkalnya, tidak ada kontroversi mengenai hal tersebut dari seluruh pakar baik sisi kedokteran maupun nutrisi. Selain itu juga studi menunjukkan hanya 2% Ibu yang secara medis dikatakan tidak dapat menyusui bayinya. Namun ada situasi tertentu (namun sangat jarang terjadi) yang mengakibatkan Ibu yang baru saja melahirkan diminta tidak menyusui bayinya terlebih dahulu. Sayangnya hal ini bisa menimbulkan salam paham bagi orangtua yang berniat memberikan nutrisi terbaik tersebut akibat informasi yang kurang lengkap. Berikut salah satu kasus nyata

         Pada suatu hari sebut saja seorang DSA ditelepon perawat RS yang kebingungan dengan seorang ayah yang memaksa istrinya untuk menyusui bayinya yang baru saja lahir, sedangkan oleh dokter spesialis kandungan (DSOG) dilarang karena sang Ibu harus mengkonsumsi obat yang mengandung morfin (Cttn: sebenarnya menurut American Academy of Pediatrics, morphine is compatible for breastfeeding mother dan risetnya menyatakan khususnya segera setelah bayi lahir). Walaupun ada alternatif jenis obat-obatan lain, tapi itu bukan kewenangan DSA , tugasnya hanyalah memberitahu bahwa anaknya perlu segera mendapat asupan cairan setelah beberapa jam lahir. Ayah si anak menolak dengan keras, dan mengatakan harus disusui saat itu juga atau puasa. Alasannya toh katanya bayi baru lahir bisa hidup tanpa cairan apapun selama 3 hari. Nah, pilihan kedua inilah yang ditentang keras oleh DSA tersebut dan disalahpahami oleh orangtua bayi dan mungkin beberapa diantara kita. Jadi begini, memang benar secara teori bahwa bayi lahir masih mendapatkan cadangan makanan dari tubuh Ibu dan mampu bertahan hidup hingga 3×24 jam. Disisi lain, agar pemberian ASI eksklusif sukses, maka pemberian sufor tidak diperlukan. Namun pada masa tersebut, bayi harus segera disusui oleh Ibu terlepas apakah ASI-nya Ibu  keluar atau tidak. Pada dasarnya selama masa tersebut ASI Ibu pasti keluar dalam bentuk kolostrum walau dalam jumlah sangat sedikit (sehingga susah mengetahui dan mengukur berapa banyaknya). Produksi ASI yang masih sangat sedikit ini memang telah diatur oleh oleh alam, disesuaikan dengan keadaan sang bayi. Dalam tubuh bayi baru lahir, masih banyak terdapat cairan diluar sel, sehingga ia tidak memerlukan air dalam jumlah yang banyak dalam hari-hari pertama. Setelah 3 atau 4 hari, cairan diluar sel tubuh bayi sudah berkurang, sehingga bayi memerlukan cairan lebih banyak untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Oleh karena itu, saking sedikitnya ASI keluar orang berasumsi tidak keluar padahal yang benar ya keluar langsung ditelan bayi sesuai yang diperlukan bayi.

       Yang dilarang keras oleh DSA tersebut adalah pengetahuan si ayah bayi tentang keinginan PUASAnya itu lho! Dia sama sekali tidak mau anaknya mendapat asupan cairan apapun kecuali disusui langsung dari istrinya. Mendingan anaknya puasa saja selama 3 hari! Padahal pemberian makan pada bayi perlu dimulai beberapa jam setelah kelahiran, kalau tidak resikonya bayi bisa mengalami hipoglisemi (gula darah turun) yang berakibat pada kejang dan bisa menimbulkan kematian. Waktu itu ditawarin DSA tersebut untuk dibawa pulang saja bayinya karena bayinya sehat, mungkin ada donor ASI dari pihak keluarga atau tetangga. Atau diberikan sufor yang diberikan melalui cup, sendok, atau pipet untuk menghindari resiko bingung puting tinggi pada newborn baby. Intinya bayi baru lahir DILARANG puasa. Keputusan terakhir DSA tersebut  mempersilahkan Ibu untuk tetap menyusui bayi karena resiko berpuasa jelas lebih besar dari resiko morfin dalam ASI pada bayi.

Update: dari informasi terbaru yang kami dapatkan, ternyata benar seperti dugaan kami bahwa si Ayah belum paham benar tentang ilmu ASI, terbukti ketika si dokter meminta agar bayi rooming in (rawat gabung) dengan si Ibu agar proses menyusui lancar dan merangsang keluarnya ASI, eh ia menolak dengan berbagai alasan, seperti habis operasilah, hipertensi-lah dsbnya. Padahal rawat gabung termasuk kunci utama sukses langkah pemberian ASI eksklusif berhasil. Dari kasus ini kami teringat beberapa Ibu pasiennya yang gagal menyusui karena stres dipaksa harus bisa menyusui, yang menyedihkan ini biasanya dilakukan oleh suaminya 😦

 Referensi

http://pain.emedtv.com/morphine/morphine-and-breastfeeding.html

http://www.askdrsears.com/topics/breastfeeding/taking-medication-while-breastfeeding/analgesics

4

Benarkan Batuk Pilek pada Bayi adalah Alergi?

            Selama ini banyak orang yang mencurigai batuk pilek pada bayi disebabkan karena alergi. Padahal sesungguhnya batuk pilek pada usia tersebut lebih sering karena faktor infeksi terutamanya disebabkan oleh virus. Virus yang dapat menyebabkan gangguan pada saluran napas sangat banyak disekitar kita dan mudah sekali menular. Pada orang dewasa atau anak besar seringkali gejalanya sangat ringan tanpa disadari, misal batuk pilek ringan selama 1-2 hari. Tetapi semakin muda usia dimana sistem kekebalan tubuhnya masih rentan dan belum berkembang sempurna, gejalanya akan lebih nyata. Akibatnya batuk pilek pada usia ini berlangsung lebih lama, bahkan bisa sampai 3 minggu! Rata-rata anak balita mengidap infeksi saluran napas bagian atas sebanyak 3-4 kali dalam 1 tahun. Frekuensi ini akan meningkat pada mereka yang memiliki saudara sesama balita atau tinggal di penitipan anak. Oleh karenanya tidak mengherankan jika seolah-olah batuk pileknya tidak sembuh-sembuh. Ujung-ujungnya hal ini dianggap alergi. Pada mereka yang memakai susu formula (sufor) dari susu sapi, seringkali disarankan oleh dokter untuk beralih ke sufor dari soya, bahkan ada pula yang diminta menghentikan pemberian ASI! Berdasarkan penelitian terbaru (Mansoor dan Sharma, 2011), hanya ditemukan 0.08% sampai 0.2% yang menunjukkan perbaikan klinis setelah penggantian sufor dengan soya pada bayi yang memiliki gejala gangguan saluran napas. Lagipula kalau melihat perjalanan alergi, maniestasi (reaksi) alergi berupa gejala saluran pernapasan tidak sering muncul pada usia bayi melainkan pada anak lebih besar.

            Gambar diatas  menunjukkan gambaran perjalanan manifestasi (reaksi) alergi. Dari gambar tersebut jelas bahwa jika anak Anda yang berusia dibawah 1 tahun diduga alergi terhadap susu formula (atau alergen lain seperti lingkungan) maka kecil kemungkinan manifestasi alerginya berupa rhinitis (gejala saluran napas). Contoh lain dari gambar tersebut yaitu reaksi alergi berupa asma tidak lazim ditemukan pada anak dibawah usia  3 tahun, biasanya muncul pada usia diatas 3 tahun. Mengingat ilmu tentang alergi yang sangat kompleks, untuk lebih memahami penyebab, gejala, dan hal-hal yang terkait alergi, disarankan berkonsultasi pada dokter anak sub spesialis alergi.

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian Sumirat SpA

Referensi

Mansoor D.K., Sharma, H.P. 2011. Clinical Presentation of Food Allergy, Pediatric Clinical North America , Vol  58, hal 315-326.

Winther dkk, Viral Induced Rhinitis, American Journal Rhinology, vol 12 halaman 17-20

Weinberg E.G. 2005. The Atopic March. Current Allergy & Clinical Immunology Vol. 18, No.1, hal 4-5