Kesalahpahaman Umum Dalam Menyusui (Produksi ASI)

    Jika Ibu menyusui bayi secara eksklusif dan berat badan bayi normal sudah jelas produksi atau persediaan ASI Ibu lebih dari cukup. Setiap satu kali persusuan, bayi hanya mengambil kurang lebih 75% ASI dalam payudara. Berarti, lebih banyak ASI yang tersedia daripada yang diperlukan Ibu. Namun demikian, banyak Ibu yang masih saja merasa khawatir. Mengapa? Kekhawatiran Ibu tentang produksi ASI mereka seringkali merefleksikan kebingungan tentang bagaimana proses menyusui yang normal. Ada dua kategori yang biasanya menjadi sumber kekhawatiran Ibu, yang berasal dari bayi dan dari Ibu sendiri.

Faktor dari Bayi

Karena saat ini banyak Ibu yang sedikit terpapar (menyaksikan/mengamati) proses menyusui yang normal, para Ibu seringkali salah mengartikan perilaku bayi seperti di bawah ini sebagai  tanda ASI mereka tidak cukup:

  • Bayi tampaknya lebih cepat lapar dari harapan mereka (sesuaikan harapan Ibu)
  • Bayi lebih sering menyusu dan dan/atau lebih lama menyusunya (hal yang normal pada saat growth spurts).
  • Bayi tiba-tiba menyusu dalam waktu yang lebih pendek (bayi semakin pintar)
  • Bayi rewel (hampir semua bayi – tidak peduli bagaimana mereka diberi makan/susu – memiliki fase rewel seperti tumbuh gigi, kolik, dan lain-lain)

     Untuk mengetahui apakah produksi ASI mereka cukup, beberapa Ibu terkadang mengujinya dengan memberikan ASI melalui botol. Dalam benak mereka, jika bayi bersedia minum dari botol berarti produksi ASI mereka berkurang. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah bayi akan tetap minum dari botol walaupun ia sudah cukup minum ASI. Hal ini dikarenakan aliran dari dot botol yang lebih lancar. Tindakan ini justru membuat bayi kelebihan ‘makan’ (overfed).

Faktor dari Ibu sendiri

     Ibu juga merasa khawatir produksi ASInya tidak cukup manakala mereka merasakan perubahan dalam dirinya. Padahal, perlu diingat, hal ini merupakan petunjuk yang salah:

  • Payudara tampaknya menjadi lebih lunak
  • ASI jarang merembes (faktanya beberapa Ibu bahkan tidak pernah menetes sama sekali, yang lain berhenti merembes dengan sendirinya).
  • Tidak merasakan aliran ASI atau adanya let down reflex (hal ini dapat terjadi tanpa disadari).
  • Tidak dapat memerah ASI yang cukup (Memerah ASI merupakan ketrampilan yang dapat dipelajari bukan untuk menguji cukup tidaknya produksi ASI).

Strategi yang Kontraproduktif

   Akibat kesalahpahaman diatas muncul beberapa strategi atau tips yang direkomendasikan buat para Ibu. Sayangnya strategi ini justru kontraproduktif, contohnya:

  • Menunggu payudara terisi penuh sebelum disusukan (payudara yang penuh justru membuat produksi ASI melambat)
  • Jadwal menyusui yang seragam atau One-size-fits-all (karena payudara dapat berbeda kapasitasnya – besar atau kecil – berarti ritme menyusui yang sama tidak berlaku untuk semua Ibu dan bayinya)
  • Mengukur produksi ASI dengan cara memerah atau memompanya bukannya langsung disusukan (memerah ASI sekali lagi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari. Selain itu tim Hartmann menemukan 10 persen Ibu yang bayinya menyusu dengan sangat baik bahkan tidak dapat memerah ASInya sendiri dengan efektif [Mitoulas, dkk, 2002])

Apa Saja Yang Dipikir Dapat Mempengaruhi Produksi ASI (Padahal Sebenarnya Tidak)

      Kesalahpahaman mengenai produksi ASI tidak hanya menimpa Ibu-ibu, tetapi juga para profesional kesehatan. Ketika para Ibu menyusui meminta nasehat apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI, berikut nasehat yang biasanya diberikan:

  • Minum lebih banyak cairan
  • Makan makanan yang lebih bergizi
  • Lebih banyak istirahat

        Kecuali dalam kondisi ekstrim, saran diatas terbukti hanya sedikit atau sama sekali tidak berpengaruh pada persediaan ASI.

Minum Lebih Banyak Cairan. Saran ini biasanya respon pertama ketika Ibu berniat meningkatkan persediaan ASInya. Hal ini masuk akal mengingat Ibu kehilangan cairan melalui ASI yang disedot sekitar 1 liter per hari. Namun demikian, riset membuktikan tidak ada hubungan antara asupan cairan dengan supply ASI. Bahkan, salah satu studi menemukan ketika Ibu di’paksa’ minum cairan lebih banyak justru produksi ASI mereka menurun! (Dusdieker, dkk, 1985). Jadi sejauh ini rekomendasi buat para Ibu menyusui adalah minum ketika haus

Makan Makanan yang Bergizi Seimbang (Diet Lebih Baik). Tentu saja bagus buat para Ibu menyusui makan dengan gizi seimbang atau memiliki pola diet yang baik. Jika Ibu makan dengan baik, dia akan merasa lebih baik, memiliki lebih banyak energi dan ketahanan terhadap penyakit. Hal ini memang sebaiknya dilakukan para Ibu menyusui (dan siapapun). Namun, makan dengan gizi seimbang tidak sama dengan meningkatkan produksi ASI. Tubuh Ibu sendiri sudah diciptakan untuk melayani bayinya dahulu baru sang Ibu. Penelitian di negara berkembang menunjukkan setelah tiga minggu atau lebih terpapar kondisi serba kekurangan (kelaparan misalnya) barulah kuantitas atau kualitas ASI terpengaruh (Prentice, dkk, 1983). Sedangkan di negara-negara maju, memperbaiki pola diet Ibu juga memiliki pengaruh yang sedikit atau tidak sama sekali kecuali pada Ibu yang kondisinya sangat miskin atau memiliki kelainan pola makan.


 Lebih Banyak Istirahat. Sama halnya dengan pola diet seimbang, istirahat yang cukup menjadi nilai tambah bagi energi dan ketahanan terhadap penyakit, tetapi tidak ada hubungan antara lama istirahat dengan produksi ASI.

      Banyak diantara para Ibu mengira dengan melakukan tiga hal diatas telah melakukan segalanya untuk meningkatkan produksi ASI. Akibatnya, ketika usaha tersebut tidak membuahkan hasil, mereka menyerah dan mulailah berganti ke susu formula. Kerugian lainnya adalah Ibu-ibu ini telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk memperbaiki nutrisi dan istirahat mereka yang jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki teknik menyusui mereka dan meningkatkan frekuensi penyusuan.

Disarikan oleh Auditya dari:

Nancy Mohrbacher, IBCLC & Kathleen Kendall-Tackett, PhD, IBCLC., 2005.  Common Misconception – Meeting Your Long-Term Breastfeeding, pp 131-134 “Breastfeeding Made Simple: Seven Natural Laws for Nursing Mothers”, New Harbinger Publication, Canada

Dengan tambahan referensi

  • Dusdieker LB, dkk, 1985. Effect of supplemental fluids on human milk production. Journal of Pediatrics Feb;106(2):207-11.
  • Mitoulas, L, dkk. 2002. Efficacy of breast milk expression using an electric breast pump. Journal of Human Lactation. 18:344-351
  • Prentice, dkk. 1983. Dietary of Supplemental Lactating Gambian Women. Effect in breast milk volume and quality. Human Nutrition: Clinical Nutrition 37C:53-64
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s