ASI dan Intolerasi Laktosa

Laktosa adalah “gula” yang diproduksi kelenjar payudara dan terdapat pada susu mamalia. Keberadaannya pada ASI tidak dipengaruhi apakah ibu mengkonsumsi susu atau tidak. Foremilk/ASI awal, yang keluar pada awal penyusuan, tidak memiliki kadar laktosa lebih banyak dibanding hindmilk/ASI akhir, perbedaannya hanya pada kandungan lemak yang lebih sedikit. Laktase adalah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa. Intoleransi laktosa terjadi pada seseorang yang tidak memproduksi enzim (atau produksinya tidak cukup banyak) sehingga tidak dapat mencerna laktosa.
Gejala intoleransi laktosa adalah tinja yang cair, bergumpal, serta kembung akibat banyak gas. Pemeriksaan ‘hydrogen breath test’ serta reduksi gula pada tinja akan positif pada kasus ini. Namun demikian, hal ini umum terjadi pada bayi usia dibawah tiga bulan. Beberapa kekeliruan tentang intoleransi laktosa yang berkembang:
  1. Laktosa pada ASI akan berkurang bila ibu berhenti mengkonsumsi produk susu
  2. Adanya anggota keluarga yang mengalami intoleransi berarti risiko bayi intoleransi laktosa lebih besar
  3. Bayi akan intoleransi laktosa bila ibunya juga
  4. Bayi yang mengalamai intoleransi laktosa perlu segera berhenti menyusu dan diganti dengan susu formula kedelai atau susu formula bebas laktosa
  5. Intoleransi laktosa sama dengan alergi protein susu sapi
Intoleransi Laktosa pada Bayi

Intoleransi laktosa primer adalah kondisi genetik yang sangat langka, dan memerlukan intervensi medis agar penderitanya dapat menjalani hidup secara normal. Bayi yang benar-benar intoleransi laktosa akan mengalami gagal tumbuh sejak lahir (tidak pernah mengalami kenaikan berat badan) serta menunjukkan tanda-tanda malabsorpsi serta dehidrasi – suatu kegawatdaruratan yang harus ditangani dalam beberapa saat setelah bayi lahir.
Intoleransi laktosa sekunder dapat terjadi akibat rusaknya lapisan usus. Enzim laktase diproduksi pada ujung jonjot usus, dan dapat lenyap bila permukaan usus mengalami kerusakan, misalnya pada :
  • gastroenteritis
  • intoleransi/alergi makanan (pada bayi yang mendapat ASI, dapat berasal dari protein makanan yang dikonsumsi ibu atau makanan pendamping ASI, misalnya susu sapi, kedelai atau telur)
  • coeliac disease (intoleransi terhadap gluten pada produk gandum)
  • setelah operasi saluran cerna
Sering kali terjadi salah persepsi bahwa alergi protein sapi dianggap sama dengan intoleransi laktosa. Sesungguhnya, persamaannya hanya satu hal, yaitu bersumber pada bahan pangan yang sama, yakni produk susu. Intoleransi laktosa sekunder bersifat sementara hingga kerusakan usus sembuh. Bila penyebab kerusakan diatasi, misalnya makanan yang menyebabkan alergi tidak lagi diberikan, maka usus akan sembuh, walaupun bayi tetap mengkonsumsi ASI. Bila seorang dokter mendiagnosis intoleransi laktosa, perlu dipahami bahwa hal ini tidak membahayakan selama bayi dapat tumbuh dengan normal.
Seringkali demi upaya mengatasi gejala secepat mungkin, jumlah konsumsi laktosa pada asupan dikurangi sementara waktu, khususnya bila bayi telah kekurangan berat badannya. Beberapa kalangan kemudian menganjurkan ibu memberikan tambahan susu formula bebas laktosa dan mengurangi menyusui.  Namun sebelum memperkenalkan produk makanan buatan, sangat penting diingat bagaimana sensitifitas bayi pada protein asing (sapi atau kedelai) karena sering kali memperburuk keadaan. Tidak ada bukti keuntungan menghentikan bayi menyusu. Pada kasus bayi pulih dari radang saluran cerna, rata-rata masa pemulihan dari usus selama empat hingga delapan minggu pada bayi usia dibawah tiga bulan, sementara bayi usia lebih dari 18 bulan masa pemulihannya bisa kurang dari seminggu.
Hendaknya hal-hal berikut menjadi pertimbangan sebelum menganjurkan bayi berhenti menyusu untuk sementara waktu:
·         Bagaimana efek pemberian makanan tambahan pada bayi ini kelak? Apakah dapat mengakibatkan bayi menolak menyusu di kemudian hari?
·         Seberapa mudahkah bagi ibu untuk memerah ASInya demi mempertahankan pasokan ASI?

Seorang ibu perlu memahami apa yang tengah terjadi, dan hendaknya tidak mengakibatkan rasa percaya dirinya untuk menyusui berkurang, karena ASInya sesungguhnya normal dan masih merupakan makanan terbaik untuk jangka waktu lama.

Beberapa tenaga kesehatan kadang memberikan enzim tetes untuk mengatasi intoleransi laktosa. Tidak ada bukti bahwa penggunaannya bermanfaat, karena perlu dicampurkan terlebih dahulu dalam susu dan dibiarkan semalam hingga enzim tersebut dapat mencerna laktosa dalam susu.
ASI sesungguhnya memiliki konsentasi laktosa yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada susu mamalia lain. Inilah sesungguhnya yang mengakibatkan pertumbuhan cepat otak bayi dibandingkan mamalia lainnya. Namun, perlu diingat bahwa struktur molekulnya lebih spesifik untuk spesiesnya, sehingga dapat dicerna oleh bayi. Menghilangkan asupan laktosa pada bayi (dengan memberikan susu formula khusus bebas laktosa) haruslah dengan pengawasan medis yang ketat.

Pasokan laktosa berlebihan
Pasokan laktosa berlebihan dapat menyerupai intoleransi laktosa, dan seringkali terjadi salah diagnosis. Hal ini sering terjadi pada bayi yang mengkonsumsi ASI dalam jumlah banyak, misalnya pada keadaan ibu memiliki pasokan ASI sangat banyak (lihat artikel Produksi ASI Terlalu Banyak). Gejala yang nampak adalah bayi usia kurang dari tiga bulan mengalami kenaikan berat badan cukup hingga lebih, popok basah mencapai lebih dari sepuluh dalam 24 jam. Ironisnya, ibu mungkin menganggap pasokan ASInya kurang karena bayinya nampak selalu lapar.
Yang sesungguhnya terjadi adalah bayi mendapat pasokan dalam jumlah besar dengan kadar lemak rendah begitu cepatnya, sehingga tidak semua laktosa sempat dicerna. Akibatnya laktosa yang tiba di usus besar menarik air dalam volume besar dan mengalami fermentasi sehingga menghasilkan tinja asam bergas dan bayi dapat mengalami ruam popok. Gas dalam usus naik dan mengakibatkan perut tidak nyaman, sehingga bayi nampak “lapar”. Satu-satunya cara bagi bayi untuk mendapat kenyamanan adalah dengan menyusu, yang membantu bayi mengurangi gas dari pencernaannya. Namun hal ini hanya dapat mengatasi masalahnya sementara waktu, karena ibunya akan kembali menyusui, dan menambah cairan dan gas dalam pencernaan. Akibatnya, ASI nampaknya lewat begitu cepat.
Bila masalah ini bertahan, sebaiknya dicari tahu penyebab pasokan ASI berlebih ini.
  • Apakah ibu membatasi lamanya bayi menyusu pada satu sisi?
  • Apakah sesuatu menyebabkan bayi gelisah sehingga ingin menyusu lebih sering dan pasokan menjadi berlebih?
  • Apakah terjadi intoleransi laktosa sekunder?
  • Apakah ibu cemas dengan pasokan ASInya sehingga melakukan stimulASI berlebih pada pasokan ASInya?
  • Apakah bayi tidak sehat-mungkin mengalami nyeri pasca persalinan sehingga mencari kenyamanan dengan menyusu lebih sering?
  • Mungkinkah hanya variasi normal pada ibu? Seringkali ibu dengan keadaan seperti ini kemudian menjadi ibu susu yang berhasil!
Kesimpulannya, ada beberapa jenis intoleransi laktosa, namun sangat langka bayi perlu berhenti menyusu akibat keadaan ini. Selalu ada penyebab intoleransi laktosa pada bayi, kecuali pada kasus intoleransi primer yang amat langka, cara terbaik mengatasi gejala ini adalah dengan mencari penyebab utamanya.

Artikel ini dapat didapat dari http://selasi.net/artikel/kliping-artikel/artikel-menyusui/225-asi-dan-intoleransi-laktosa.html

Advertisements

4 thoughts on “ASI dan Intolerasi Laktosa

    • Kasus alergi krn laktosa pada susu biasanya di-recognize sejak awal, jarang terjadi belakangan atau setelah 5 tahun. Apakah mungkin ada pencetus lain? Mohon diobservasi lebih lanjut. Saran terbaik utk alergi atau intoleransi adalah menghindari pencetusnya.

  1. Anak sy umur 4bln sdh 3mggu mencret trs.. Smpat drwt slama 5hari, namun mencretny tak kunjung reda.. Stlh sya priksakan dkter kmbali, dkter mnyarankan untk mngganti smntara dngan susu bebas laktosa smntara sya ingin mmberikan asi eksklusif smpe 6bln.. Ap yg hrs sya lakukan? Ikuti saran dkter ap ttp mmberikan asi? Trmksh

    • Adakah konsumsi lain selain ASI? atau hanya ASI eksklusif selama ini? Saran kami tetap ASI saja ya jika BAB kurang dari 6x/24 jam, jika lebih segera konsul ke DSA sub spes gastroenterologi karena karakteristik mencret pada bayi ASI sedikit lebih kompleks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s