0

Bagaimana Status Gizi Anak Anda?

Pada tulisan terdahulu, kita telah belajar ‘membaca’ pertumbuhan anak melalui indeks berat badan anak dalam KMS. Sayangnya warna-warna dalam grafik KMS tidak dapat digunakan untuk menentukan status gizi anak. Jadi, kita tidak bisa mengatakan berat badan buah hati kita yang berada di pita kuning berarti gizinya kurang. Begitu pula berat badan di bawah garis merah belum tentu bergizi buruk. Kita perlu mengetahui status gizi anak kita yang secara sederhananya dapat ditentukan dengan melihat tabel berat badan /tinggi badan.

Cara membaca tabel ini adalah dengan membandingkan berat badan sekarang dengan berat badan seharusnya berdasarkan tinggi (panjang) badan saat ini.

Contoh: Seorang anak perempuan dengan panjang badan 70,0 cm dan berat badan 7,5 kg. Pada kolom panjang badan anak perempuan 70.0 cm, apabila ditarik garis lurus ke kanan ternyata berat badan 7,5 kg terletak pada kolom 6,6 – 11,1 kg: kolom -2 SD s/d 2 SD. Interpretasinya: anak dikatakan normal. Jika anak tergolong gemuk, perlu diperiksa lebih lanjut apakah tergolong obesitas atau tidak (dengan mengecek BMI-nya).

Tabel Berat Badan (BB) terhadap Tinggi Badan (TB) Untuk Menilai Status Gizi

          Selain dengan tabel diatas, perhitungan status gizi yang lebih spesifik (yaitu kuantitatif) dapat diperoleh dengan membandingkan Berat Badan anak saat ini dengan Berat Badan Ideal berdasar Growth Chart dari CDC atau WHO. Berat Badan Ideal sendiri didapatkan dengan mencari padanan dari Panjang Badan (PB) saat ini. Artikel ini hanya memuat dua Growth Chart untuk anak laki-laki dan perempuan. Untuk grafik berdasar usia hingga 20 tahun yang lengkap bisa diunduh dari website CDC  (http://cdc.gov/growthcharts/) atau WHO (http://www.who.int/childgrowth/en/).

Gambar 1. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Laki-laki 0-36 bulan

Gambar 2. Grafik Berat dan Tinggi Badan Anak Perempuan 0-24 bulan

Interpretasi Berdasarkan % Berat Badan Ideal Menurut Umur

  • BB saat ini/BB ideal < 70%              Gizi buruk
  • BB saat ini/BB idea70% – 80%        Gizi kurang
  • BB saat ini/BB idea80% – 100%     Gizi baik
  • BB saat ini/BB idea100% – 110 %   Gizi lebih
  • BB saat ini/BB idea> 110%              Obesitas/Obesity (harus dihitung BMI)

 Contoh. Bayi laki-laki usia 6 bulan dengan panjang badan (PB) = 65 cm dan berat badan (BB) = 5,8 kg. Dari growth chart gambar 1 diatas tarik garis pada PB 65 cm ke kanan hingga menyentuh kurva persentil 50 (sekitar 5 kotak ke kanan). Selanjutnya tarik garis ke bawah menuju kurva berat badan pada persentil 50 dan didapatkan BB Ideal adalah 7,4 kg. Selanjutnya hitung rasio BB saat ini dengan ideal yaitu (5,8/7,4 = 78,4 % Berdasar interpretasi diatas maka anak dikatakan saat ini bergizi kurang.

Catatan: Untuk mengetahui status gizi dengan teknik ini tidak diperlukan usia bayi, berbeda halnya jika kita ingin mengetahui ‘posisi’ berat badan atau tinggi badan berapa bayi kita dibandingkan dengan populasi yang menjadi acuan growth chart tersebut.

Referensi

*BMI= BB/TB2 . BB (Berat Badan dlm Kg), TB (Tinggi Badan dlm meter)

Advertisements
0

Kapan Anak Dikatakan Tumbuh? Memahami Secara Sederhana Kurva Pertumbuhan Berdasarkan Berat Badan

      Salah satu parameter utama menilai apakah bayi mendapatkan cukup ASI adalah dengan mengamati pertumbuhan bayi melalui pertambahan berat badannya. Oleh karenanya setiap bulan (bahkan 1 atau 2 minggu sekali dalam bulan pertama), Ibu disarankan mengukur pertumbuhan fisik bayi termasuk menimbang berat badan, mengukur panjang badan dan lingkar kepala. Walaupun Ibu dapat bertanya pada petugas kesehatan mengenai status pertumbuhan sang buah hati, tidak salah bukan jika Ibu belajar memahami kurva pertumbuhan bayi? Biasanya informasi ini diberikan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Sebagai informasi, sejak tahun 2008 KMS balita yang digunakan di Indonesia berdasarkan Standar Antropometri WHO 2005 (Untuk data antropometri terbaru 2006 bisa buka link dari WHO atau CDC ini) . Dalam KMS terdapat jalur-jalur warna yang mewujudkan pola pertumbuhan  anak tersebut. Pada prinsipnya setiap anak memiliki kecepatan pertumbuhan sendiri-sendiri namun polanya tetap sama.

           Berdasarkan informasi dari KMS, Ibu dapat mengetahui indeks berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan menggambarkan masa tubuh (otot dan lemak) yang sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti keadaan sakit infeksi, penurunan nafsu makan atau penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Untuk mengetahui pertumbuhan anak diperlukan minimal 3 kali pengukuran. Bisa saja berpatokan pada 2 kali pengukuran namun ini tidak ideal. Berbeda dengan status gizi yang bisa ditentukan secara on the spot atau 1 kali pengukuran (akan dibahas pada artikel selanjutnya). Jadi intinya yang disebut tumbuh tidak bisa hanya melihat asal berat badan naik saja. Pertumbuhan tersebut mungkin akan tergambar sebagai salah satu tiga garis lengkung berikut, yaitu:

  1. Garis berat badan yang menanjak dengan keterangan teruskan dibulan berikutnya, menyatakan bahwa anak tumbuh baik dan sehat.
  2. Garis berat badan yang cenderung rata selama dua bulan, atau menanjak tetapi tidak mengikuti pola pertumbuhan pada KMS, menyatakan bahwa anak kurang mendapat makanan yang memadai, seperti lebih banyak makanan selama bulan berikutnya.
  3. Garis berat badan yang menurun menyatakan bahwa ibu harus mencari nasihat khusus dan memastikan bahwa anak balita tidak sakit, harus diberikan makanan dan gizi tambahan selama bulan berikutnya. Catatan: Pada bulan-bulan pertama  pertumbuhan berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif mungkin saja berjalan lambat. Hal ini bisa diatasi  dengan memperbaiki proses menyusui tersebut (lihat artikel terkait ini). Dengan (mencari) bantuan yang tepat, proses penyusuan dapat terus dilanjutkan tanpa pemberian susu formula

Gambar 1. Pertumbuhan Normal

            Jika kurva pertumbuhan anak mengikuti pola seperti gambar diatas (warna biru) dikatakan pertumbuhan normal walaupun kenaikan berat badan selalu berada pada area kuning. Pertumbuhan dikatakan normal atau baik jika berat badan, panjang (tinggi) badan, dan lingkar kepala naik pada pengukuran berikutnya. Khusus untuk berat badan lebih tepatnya jika:

  • Berada pada pita warna yang sama dengan bulan lalu
  • Atau naik sedikit pada pita warna diatasnya.
  • Prinsip dasarnya adalah usahakan pertumbuhan berada pada pita yang sama.

Gambar 2. Pertumbuhan Terganggu

           Kurva merah pada gambar 2 menunjukkan pertumbuhan yang terganggu walaupun tampak ada kenaikan berat badan. Dapat pula dikatakan anak tidak tumbuh. Pada pola seperti ini jika pada pengukuran bulan berikutnya berat badan masih menurun dan bahkan masuk area kuning anak dikatakan gagal tumbuh (failure to thrive), Ibu harus segera konsultasi pada dokter spesialis anak.

Gambar 3. Berat Badan Tidak Naik

Sedangkan berat badan  tidak naik sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 3 yaitu

  1. Garis pertumbuhan menurun, atau lebih rendah dari bulan lalu
  2. Garis pertumbuhan mendatar, atau sama dengan bulan lalu
  3. Garis pertumbuhan naik, tetapi pindah ke pita warna di bawahnya

Referensi

  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 155/Menkes/Per/I/2010 tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita
  • Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak Ditingkat Pelayanan Dasar, Departemen Kesehatan RI, 2005
0

Mogok Menyusu (Nursing Strikes)


Ibu pernah mengalami si buah hati yang selama ini full diberi ASI tiba-tiba tidak mau menyusu? Jika si kecil usianya kurang dari satu tahun dan belum banyak asupan makanan padat atau minum dari cangkir (gelas), tampaknya bayi Ibu mengalami apa yang disebut mogok menyusu (nursing strikes). Menghadapi bayi yang tiba-tiba mogok ini, Ibu tidak perlu panik. Langkah pertama, tetaplah bersikap tenang, lalu kenali penyebabnya agar lebih mudah mencari solusinya. Beberapa penyebab umum bayi menolak menyusu adalah

  • Rasa nyeri karena mau tumbuh gigi, adanya luka, infeksi jamur
  • Infeksi telinga yang mengakibatkan tekanan atau rasa sakit ketika menyusu
  • Rasa sakit akibat posisi badan ketika menyusu, mungkin karena imunisasi atau luka di badan
  • Bayi terlalu sering diberi botol, empeng atau sering menghisap jempol yang biasanya diikuti penurunan produksi ASI
  • Gangguan selama menyusui
  • Si kecil cukup lama berpisah dari Ibu

 Perlu disadari, beberapa tindakan/perilaku Ibu juga ber’peran’ membuat si kecil mogok, diantaranya:

  • Reaksi kaget (yang berlebihan misal berteriak) akibat gigitan si kecil
  • Perubahan rutinitas (misal pindah rumah, bepergian)
  • Membatasi atau terlalu berpatokan pada jadwal menyusui
  • Stimulasi yang berlebihan, stres, atau tekanan pada Ibu
  • Berulangkali melepaskan diri ketika si kecil ingin menyusu atau membiarkan si kecil menangis
  • Walaupun kurang umum, sensitivitas si kecil terhadap makanan atau obat-obatan yang dikonsumsi Ibu ataupun yang ia konsumsi sendiri (termasuk suplemen vitamin, mineral, produk-produk olahan dari susu sapi, kafein) dapat menyebabkan mogok menyusu. Hal ini berlaku pula bila puting Ibu dioleskan semacam krim yang mengubah rasa ASI. Bahkan bau badan Ibu yang berubah mungkin karena penggunaan produk semacam shampo, parfum, sabun cuci baju, bisa menjadi faktor penyebab pula.

Apapun penyebabnya, masalah ini sungguh tidak mengenakkan baik buat si Ibu maupun bayinya. Bayi menjadi rewel dan tidak happy sedangkan sang Ibu umumnya merasa sangat sedih dan khawatir. Ibu juga merasa bersalah dan bahkan frustasi karena beranggapan jangan-jangan dia telah melakukan hal yang salah atau tidak semestinya.

Bagaimana agar bayi mau kembali menyusu? Kunci utamanya adalah sabar dan telaten. Tindakan berikut dapat membantu mengatasi mogok menyusu:

  1. Cobalah susui si kecil saat ia mengantuk atau menjelang tidur. Banyak bayi yang menolak menyusu ketika keadaan bangun akan kembali menyusu saat mengantuk
  2. Coba beberapa variasi posisi menyusui. Terkadang menyusui sambil berbaring juga membantu
  3. Susuilah si kecil sambil diayun atau berjalan-jalan.
  4. Pilihlah tempat menyusui yang bebas gangguan. Beberapa bayi khususnya yang berusia 3 bulan ke atas mudah terganggu. Matikan radio, tv atau redupkan lampu ruangan akan membantu anak mau menyusu.
  5. Berikan perhatian ekstra utk si kecil dan lakukan lebih banyak skin-to-skin contact. Sering mengelus anak akan membuat ibu dan anak nyaman.
  6. Sering-seringlah menggendong si kecil dengan sling atau carrier diantara waktu menyusu juga dapat membantu.

      Selama Ibu berusaha membujuk anak yang mogok, Ibu perlu menjaga produksi ASI dengan cara memerasnya atau memompanya. Hal ini akan mengurangi resiko pembengkakan dan saluran tersumbat (engorgement, mastitis) selain menjaga produksi ASI tetap optimal saat nanti anak berhenti dari mogoknya. Agar nutrisi bayi terpenuhi, ASI yang diperah diberikan pada si kecil. Pemberian dengan botol amat tidak disarankan selama masa mogok ini. Lihat artikel pemberian ASI perah (ASIP) untuk cara pemberian yang disarankan. Ibu perlu juga memperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika si kecil pipis sebanyak 6-8 kali selama 24 jam, maka asupan cairan yang diperolehnya dikatakan cukup.

Referensi

10

Cara Memerah, Menyimpan, dan Memberikan ASI Perahan (ASIP)

Setelah Ibu paham persiapan apa yang perlu dilakukan sebelum kembali bekerja, langkah selanjutnya adalah paham bagaimana cara memerah ASI, menyimpan, dan memberikannya agar si kecil tetap mendapat ASI yang berkualitas.

A. CARA MEMERAH ASI

Secara dasar, prinsip memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar, jadi harus menekan agak ke belakang. Bila ASI tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah ASI-nya seperti melakukan massage payudara. Cara ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada pijat  payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Ibu tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu. Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun sekitar 20- 30 menit saja, tapi susu yang terkumpul bisa mencapai 500 ml.

Namun demikian, ada beberapa aturan yang penting diperhatikan sebelum sebelum Ibu memberikan ASI perah (ASIP) pada si bayi. Pertama, sebelum bayi berusia 4 bulan, sebaiknya ASIP TIDAK diberikan menggunakan dot dulu karena bayi akan mengalami bingung puting. Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila Ibu sedang bersama bayi, bayi harus menyusu langsung pada Ibu, jangan memberikan ASIP.  Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua-tiga jari sendiri, ASI bisa keluar lancar. Hal ini memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara berkisar 15 menit. ASI ini bisa disimpan lalu diberikan untuk bayi keesokan harinya.

  1. Memerah dengan Jari

Cara memerah ASI dengan jari ini amat sederhana dan tidak perlu biaya. Sebagai langkah awal Ibu perlu memahami bahwa payudara terdiri atas tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya. Berikut adalah cara memerah ASI dengan jari

  1. Letakkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Tempatkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 -3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi pukul jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.
  2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
  3. Buatlah gerakan menggulung dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu.
  4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke posisi lain (misal arah jam 9 dan jari-jari ke arah jam 3, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
  5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Letakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.

Gambar 1. Teknik Memerah ASI dengan Jari (Sumber)

Cara memerah ASI yang tidak mengeluarkan ASI dan tidak dianjurkan

  1. Menekan puting susu – memijat puting dengan 2 jari, dapat menyebabkan lecet
  2. Mengurut – mendorong dari pangkal payudara, dapat menyebabkan kulit nyeri
  3. Menarik puting dan payudara – dapat menyebabkan kerusakan jaringan

Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:

  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara

Catatan: Teknik memerah ASI yang disarankan adalah teknik perah Marmet yang diciptakan oleh Chele Marmet, seorang konsultan laktasi, direktur the Lactation Institute di West Los Angeles, USA yang bisa dilihat disini.

Menggunakan Pompa ASI

Jika menggunakan pompa, alat pompa ASI elektrik adalah cara bantu pemerahan ASI ASI yang paling baik dan efektif. Hanya saja, harganya relatif mahal. Cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu menggunakan poma dengan mekanisma piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur. Sayangnya, pompa-pompa ASI yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk corong dan bohlam (squeeze and bulb). Bentuk squeeze dan bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli laktasi dan ASI. Bentuk pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.

Gambar 2. Contoh Berbagai Pompa ASI

B. CARA MENYIMPAN

Cara terbaik untuk menyimpan ASIP adalah menggunakan botol dari stainless steel (baja antikarat), namun ini tidak banyak dijual. Pilihan terbaik kedua adalah botol yang terbuat dari gelas (kaca), dan terbaik ketiga botol plastik. Kebanyakan ibu lebih menyukai botol yang terbuat dari plastik demikian juga halnya dengan rumah sakit/klinik bersalin, karena plastik tidak mudah pecah. Untuk pilihan lebih ekonomis, saat ini telah tersedia botol kaca dengan kapasitas 50-200 ml. Apapun jenis botolnya, sebaiknya memiliki tutup yang kencang/rapat.  Botol berwarna-warni sebaiknya tidak digunakan karena zat warnanya bisa masuk ke dalam ASI.

Pilihan terakhir adalah menyimpan ASI perah di dalam plastik yang lembek atau kantong susu, sebab akan banyak zat-zat di dalam ASI yang akan tertinggal (menempel) pada dinding plastik. Menyimpan ASI di dalam kantong susu bisa menimbulkan beberapa masalah. Susu bisa menempel pada sisi kantong sehingga jumlah yang diberikan kepada bayi akan berkurang. Kantong susu juga lebih peka terhadap kontaminasi akibat kebocoran. Beberapa produsen pompa ASI membuat kantong susu yang nyaman untuk digunakan dan terbuat dari plastik yang lebih tebal tetapi harganya mahal. Jika hendak menggunakan kantong, sebaiknya digunakan 2 lapis kantong lalu disimpan di dalam wadah plastik yang tertutup rapat, baru masukkan ke dalam freezer. Hal ini akan membantu mengurangi terjadinya robekan pada kantong. Pada saat menghangatkan, sebaiknya batas atas air tidak melebihi kantong sehingga air tidak masuk ke dalam kantong. Jika air yang digunakan untuk menghangatkan tampak berawan/keruh, berarti telah terjadi kebocoran dan ASI tersebut harus dibuang.

Berilah label pada setiap kemasan ASI yang mencantumkan tanggal pemerahan ASI dan gunakan terlebih dahulu stok yang terlama. Jika bayi Ibu dirawat di RS, pastikan bahwa pada label juga tertera nama anda/bayi Ibu dengan jelas, sehingga ASI tidak tertukar.

Untuk bayi kurang dari 6 minggu, sebaiknya ASI disimpan dalam botol sebanyak 30 – 60 ml, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghangatkan tidak terlalu lama dan ASI tidak banyak terbuang. Untuk bayi yang lebih besar, jumlah ASI yang disimpan perbotolnya bisa disesuaikan dengan jumlah susu yang biasanya diminum. Tetapi akan lebih baik jika tetap menyimpan ASI dalam jumlah yang lebih kecil, kalau sewaktu-waktu bayi anda menginginkan susu lebih atau untuk selingan.

Hingga saat ini belum banyak penelitian mengenai ASI yang telah disimpan, dihangatkan dan baru sebagian diminum oleh bayi. Akan lebih aman untuk memberikan ASI yang sebelumnya telah disimpan dalam waktu 1-2 jam setelah dihangatkan. Dan jika ASI masih tersisa, sebaiknya dibuang dan tidak disimpan lagi.

Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel petunjuk penyimpanan ASI di bawah. Perlu diperhatikan, umumnya para dokter tidak menyarankan penyimpanan ASI di freezer. Sebab ASI yang telah disimpan di freezer akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan. Lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. ASIP yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.

Tabel Petunjuk Penyimpanan ASI

Tempat penyimpanan Suhu Lama Penyimpanan
Dalam ruangan (ASIP segar) 190 – 260 C 6 – 8 jam di ruangan ber AC atau 4 jam di ruangan tanpa AC
Dalam ruangan (ASIP beku yang telah dicairkan) 190 – 260 C 4 jam
Kulkas (ASIP segar) < 40 C 2 – 3 hari
Kulkas (ASIP beku yang telah dicairkan) < 40 C 24 jam
Freezer (lemari es 1 pintu 00 sampai -180 2 minggu
Freezer (lemari es 2 pintu) -180 sampai -200C 3 – 4 bulan
Deep Freezer Suhu stabil di -200C atau kurang 6 – 12 bulan

Gambar 3. ASIP yang disimpan di kulkas (courtesy to my dear friend, Evri Retno Utari)

Ringkasan:

  • Taruh ASI dalam kantung plastik food grade, botol kaca, atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik.
  • Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
  • Dinginkan dalam kulkas. Simpan sampai batas waktu yang diijinkan.
  • Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan.

C. CARA PEMBERIAN

Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASIP pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api atau microwave/oven karena panas tinggi mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati. Mula-mula letakkan botol ASI ke dalam air dingin, kemudian secara perlahan-lahan beri air hangat sampai ASI mencair (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Jika ingin mencairkan ASIP beku, letakkan botol ASIP beku ke dalam kulkas semalam sebelumnya, esoknya baru dicairkan dan dihangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke kulkas. Lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Setelah dihangatkan bisa langsung diberikan pada bayi.

Cara pemberiannya JANGAN menggunakan  botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok atau cangkir. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda bayi mengalami bingung puting adalah bayi menolak menyusu langsung dari Ibu. Selain itu bila menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari dot, dan ketika menyusu bayi sebentar-bentar melepas hisapannya. Hasilnya, payudara Ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi enggan menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. (Cttn: Beberapa buku dan situs menyusui mem’boleh’kan pemberian ASIP dengan botol. Untuk mnghindari bingung puting perlu diperhatikan rambu-rambunya yang dapat dilihat disini)

Ibu tidak perlu merasa cemas bayi kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya bayi akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi. Pada hari keempat, bayi akan terbiasa. Ia akan meminum seberapapun ASI yang tersedia. Kalau ditinggali 500 ml, akan diminum; begitu juga dengan 300 ml, bahkan 200 ml. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tidak akan akan kekurangan ASI.

Ringkasan:

  1. Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu) atau yang paling segar (baik metode First In First Out/FIFO maupun Last In First Out/LIFO, perhatikan masa kadaluarsa)
  2. Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air hangat.
  3. Kocok dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
  4. Jangan gunakan microwave atau oven untuk menghangatkan karena akan menghancurkan nutrisi dan bahan-bahan kekebalan yang terkandung dalam ASI.
  5. Bagaimana dengan ASIP beku yg telah dicairkan ? (lihat tabel)
    • bisa bertahan di suhu ruang maksimal 4 jam,
    • jika belum dihangatkan, bisa dikembalikan ke lemari es dan bertahan 24 jam,
    • jangan dibekukan kembali
  6. Bagaimana dengan ASIP yg sudah direndam air hangat tapi belum diminum?
    • bisa dikembalikan ke lemari es, tetapi hanya bertahan 4 jam
    • jangan dibekukan kembali
  7. Bagaimana dengan yang sudah diminum bayi (terkena mulut bayi)? Dibuang saja

Tips Pemberian lewat Cangkir (cup)

  • Sediakan cangkir kecil (khususnya kaca), atau khusus cup feeder bayi.
  • Setelah ASIP dicairkan, tuang ke cangkir dan minumkan ke bayi. Jangan khawatir tumpah-tumpah, untuk menampung tumpahannya sediakan dengan mangkuk kecil di bawah lehernya, untuk diminumkan lagi berulang-ulang sampai habis.
  • Cara memberikan ASIP adalah dengan memiringkan gelas sampai bibir bayi menyentuh permukaan ASI. Bayi akan mengecap-ngecap dan menghisap, setelah itu baru dinaikkan sedikit-sedikit agar bayi bisa terus meminum ASInya. Jangan menuangkan isi gelas ke dalam mulut bayi, tindakan ini akan membuat bayi tersedak karena tidak siap.
  • Latihan memberikan ASIP ini perlu kesabaran, paling tidak latihan dmulai seminggu sebelum masuk kerja. Sebaiknya pengasuhnya nanti yang belajar memberikan, sehingga bayi terbiasa. Bayi bisa mengenali aroma tubuh Ibu sehingga jika Ibu yang memberikan ia suka menolak (tentu saja dia memilih menyusu langsung)
  • Keluhan yang lazim muncul adalah kemungkinan bayi menolak ASIP yang diberikan melalui sendok atau cangkir. Hal ini wajar terjadi pada hari-hari pertama pemberian ASIP. Buah hati Ibu  bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok atau cangkir. Jadi, dengan sedikit belajar dan ketelatenan Ibu tidak perlu khawatir lagi kembali bekerja.
  • Video pemberian ASIP melalui cangkir dapat dilihat disini

Perlu juga Ibu ingat, kesuksesan pemberian ASIP selama Ibu bekerja juga ditentukan oleh kerjasama dengan pengasuh. Hal ini tidaklah mudah apalagi yang ibu percayai merawatnya adalah orangtua sendiri atau mertua. Untuk mempermudah kerjasama ini, langkah pertama harus ada pemahaman yang sama mengenai pemberian dan manfaat ASI eksklusif. Hal ini bisa jadi sedikit menyulitkan jika pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau makanan padat. Ibu bisa pelan-pelan menjelaskan pada ibu atau ibu mertua tentang pentingnya ASI eksklusif, resiko pemberian sufor dan suplemen khususnya pada 6 bulan pertama, dan lain-lain. Semakin dini edukasi diberikan semakin baik (misal sejak Ibu positif hamil). Kerjasama yang baik antara orangtua dengan pengasuh di rumah (siapapun dia) juga menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif.

 Gambar 4. Cara pemberian ASIP dengan cup feeder

Video Pemberian ASIP dengan cup feeder

Referensi

  1. http://www.llli.org/faq/milkstorage.html
  2. http://www.kellymom.com/bf/pumping/index.html
  3. http://www.breastfeedingbasics.com/html/collecting_and_storing.shtml
  4. http://supportbreastfeeding.wordpress.com/2009/01/14/cara-memerah-asi-saat-ibu-bekerja-atau-untuk-persiapan-penyediaan-asi-sebelum-ibu-bekerja/

Catatan: Recommended link untuk Ibu bekerja bisa lihat di http://www.workandpump.com/

0

Persiapan Pemberian ASI Perahan (ASIP) Bagi Ibu Bekerja

Bisakah saya tetap memberikan ASI eksklusif jika kembali bekerja nanti? Pertanyaan ini kerap menjadi kekhawatiran para Ibu bekerja (working moms) khususnya di Indonesia karena cuti melahirkan hanya berlaku maksimal 3 bulan.
Jawabannya: tentu saja, BISA! Ibu tetap bisa memberikan ASI eksklusif ketika kembali bekerja dengan memberikan ASI perahan (ASIP) kepada buah hatinya sebagai gantinya. Dengan motivasi kuat, kesungguhan, ketekunan dan komitmen penuh, Ibu bisa sukses menyusui 6 bulan tanpa susu formula bahkan 2 tahun tanpa susu formula. Untuk itu, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh Ibu jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir.
  1. Tanamkan rasa percaya bahwa si kecil akan baik-baik saja di rumah. Selain itu niatkan sungguh-sungguh untuk memberikan ASIP, tidak memikirkan susu formula sebagai alternatif, dan hanya ASI sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi sampai usia 6 bulan. Keteguhan hati dan motivasi tinggi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
  2. Lakukan persiapan fisik seperti istirahat yang cukup, gizi baik, minum banyak cairan, makan buah dan sayur, dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu mendesak untuk dilakukan.
  3. Belajar memerah ASI dengan tangan. Meskipun Ibu berencana memerah ASI dengan pompa, belajar memerah dengan tangan memiliki banyak keunggulan (lihat penjelasan selanjutnya).
  4. Mulailah menyiapkan tempat penyimpanan yaitu:
  • Kulkas, jika memungkinkan yang 2 pintu dengan freezer terpisah.
  • Tempat/wadah ASIP, disarankan menggunakan botol kaca karena bisa dipakai ulang, aman dipanaskan dan dibekukan, tidak mencemari lingkungan. Tapi pada kondisi traveling atau tak tersedia botol kaca, dapat menggunakan plastik makanan yang food grade (tidak harus plastik khusus ASI, plastik biasa pun boleh asal yang food grade). Intinya tempat penyimpanan ASI harus kedap, tidak boleh ada cairan atau udara yang dapat masuk ke dalam botol atau kantong ASI. Tes botol ASIP yang dibeli dengan cara isi dengan air lalu posisinya dibalik atau diayun-ayun dan perhatikan apakah ada cairan yang keluar. Beberapa merk botol kaca tutupnya belum sempurna sehingga ada cairan yang keluar. Jika cairan dapat keluar berarti kuman dari luar juga dapat masuk. Jadi.. selektiflah dalam memilih botol ASIP. Ingatlah untuk selalu memberi tanggal perah dan tanggal kadaluarsa di setiap botol atau ASIP
  • Pompa ASI (manual atau elektrik). Lebih disarankan agar Ibu memerah dengan tangan. Jika menggunakan pompa, jangan menggunakan pompa berbentuk terompet karena pompa jenis ini bukan diperuntukkan untuk menyimpan ASIP, namun hanya sekedar untuk mengosongkan payudara. Selain itu pompa jenis ini sulit dibersihkan dan disterilkan. Pompa yang tepat yang dilengkapi dengan botol di bawahnya, untuk memilih pompa yang tepat dapat dilihat dalam link berikut http://www.fda.gov/MedicalDevices/ProductsandMedicalProcedures/HomeHealthandConsumer/ConsumerProducts/BreastPumps/default.htm
  • Cooler bag, cooler box, atau bisa juga termos nasi.
  • Ice gel, Blue ice, atau bisa juga es batu.

Gambar 1. Perlengkapan ASIP untuk Ibu Bekerja

Berikut adalah lebih jelasnya  persiapan buat Ibu bekerja yang perlu dilakukan selama masa cuti

  • Bulan pertama (khususnya 40 hari pertama) setelah melahirkan

Pada bulan pertama setelah melahirkan produksi ASI belum stabil. Payudara bagai pabrik susu yang baru buka dan belum tahu berapa besar permintaan pasar. Sehingga payudara akan memproduksi ASI berlebih, sehingga tidak heran ASI seringkali merembes keluar. Saat inilah masa-masa emas untuk memanipulasi permintaan ASI sehingga produksi ASI berlimpah untuk seterusnya. Berikut adalah yang sebaiknya dilakukan:

–       Susui bayi secara langsung setiap kali bayi meminta. Aturan yang mengatakan bayi sebaiknya minum tiap 2-3 jam sekali kurang tepat. Yang benar adalah selama 40 hari pertama, frekuensi menyusu 8-12 kali dalam 24 jam. Terkadang ada bayi yang tertidur hingga 4-5 jam namun menyusu lebih sering dalam jam-jam berikutnya (cluster nursing). Jika frekuensi menyusu kurang dari 8 kali dan bayi tertidur, maka bangunkan untuk disusui, caranya bisa dengan dicium, atau diusap lembut dengan air sehingga ia tidak nyaman dan langsung mencari ASI.  Hal ini bisa juga terjadi pada bayi baru lahir hingga usia beberapa minggu karena aliran ASI yang lambat. Untuk membantu bayi mendapatkan aliran ASI yang lancar silahkan merujuk pada artikel “Kompresi Payudara” dan “Perlekatan Menyusu”.

–       Untuk menjamin stok ASI, rutinlah mengosongkan ASI dari payudara meskipun Ibu selalu bersama si kecil sepanjang waktu. Lakukan minimal sekali sehari pada saat ASI terasa penuh. Produksi ASI biasanya penuh pada dinihari atau pagi hari. Saat inilah saat yang tepat untuk mengosongkan ASI karena biasanya bayi sedang terlelap. Agar jam tidur Ibu tidak terlalu terganggu, Ibu bisa menyiasatinya dengan mengosongkan ASI sesegera setelah bayi menyusu karena sangat disarankan agar Ibu ikut istirahat ketika bayi tertidur.

–       Jangan pernah tergoda memberikan susu formula jika produksi ASI Ibu cukup. Indikator ASI cukup akan dijelaskan lebih lanjut di artikel “Tanda ASI sudah Cukup”.

  • Bulan kedua dan ketiga

–          Jika pada bulan pertama ASI dipompa dan dibuang karena Ibu senantiasa bersama sang buah hati sepanjang waktu maka menjelang akhir bulan kedua mulailah menabung ASIP. Hasil ASIP yang dilakukan di dinihari disimpan dalam tempat penyimpanan ASIP.

–          Latihlah bayi minum ASIP dengan cara disendoki atau cangkir (cup). Hal ini memerlukan waktu, sehingga Ibu perlu sabar supaya tidak menyerah terpaksa memberikannya melalui dot. Minum ASIP dengan disendoki atau cangkir bertujuan untuk menghindari bingung puting. Hindari penggunaan botol dan dot! Penelitian menunjukkan 80% bayi mengalami bingung puting, khususnya pada bayi yang berusia kurang dari empat bulan.

Ringkasan dan Tips:

  • Sekitar 1 bulan sebelum cuti berakhir, mulailah menabung ASIP (Cttn: beberapa situs/buku menyusui terkemuka menyarankan memerah ASI dapat dilakukan sejak awal menyusu untuk menjaga produksi ASI walaupun nantinya tidak digunakan/dibuang).
  • Berapa kali Ibu perlu memerah? Gunakan rumus sederhana ini: Jumlah jam Ibu berada di luar rumah (termasuk dalam perjalanan) dibagi tiga. Jadi 9 jam di luar rumah sama dengan 3 kali memerah. Misalkan saat baru datang ke kantor (berangkat lebih pagi agar sampai sekitar 15 menit sebelum jam kerja), saat makan siang, dan saat rehat sore atau saat akan pulang ke rumah. Namun hal ini tergantung pula dengan kapasitas penyimpanan payudara, beberapa Ibu dapat memerah ASI dengan sesi perahan yang lebih sedikit.
  • Jangan khawatir melihat produksi ASIP yang sedikit, jangan terbebani harus memproduksi berbotol-botol ASIP. Perlu diingat bahwa ASI hasil perasan tidak menunjukkan produksi ASI Ibu sesungguhnya. Sesedikit apapun hasil perahan, kumpulkan saja, lama kelamaan akan menjadi banyak dan practice makes perfect!
  • Setiap ada waktu, dikala sang bayi tidur, atau di sela-sela waktu menyusui, perahlah ASI sebanyak kemampuan. Tidak masalah Ibu mendapatkan 20 atau 30 ml. Masukkan ke tempat penyimpanan ASIP dan simpan di kulkas. Hasil perahan selama 24 jam boleh digabungkan setelah sama dingin. Setelah terkumpul 1 botol (100 ml), beri label tanggal dan naikkan ke freezer. Satu botol sehari cukup, sesuai kemampuan
  • Jika Ibu mulai menabung paling tidak 1 bulan sebelum masa cuti kerja berakhir maka voila sudah tersedia 20-30 botol ASIP beku di freezer!
  • Ajari pengasuh cara penanganan ASIP, menghangatkan dan memberikannya pada bayi paling tidak satu minggu sebelum Ibu kembali bekerja. Gunakan ASIP yang paling “tua” dulu, supaya rotasi berjalan dengan baik. (Cttn: Setelah kondisi cukup ‘stabil’ tercipta, dan dikarenakan ASIP yang paling baik kandungannya adalah yang paling segar, beberapa Ibu memilih memberikan ASI hasil perahan hari itu atau maksimum sehari sebelumnya. Stok ASIP beku tetap tersedia untuk jaga-jaga, misalkan kondisi listrik padam, hasil perahan sedikit, dll. Yang penting selalu diingat masa kadaluarsa penyimpanan ASIP).
  • ASI hasil perahan di kantor disimpan di botol kaca atau plastik food grade, lalu masukkan dalam cooler bag atau bisa dititipkan di kulkas kantor (jika memungkinkan).
  • Tetaplah memerah ASI minimal sekali sehari dan selalu susui bayi langsung ketika bersama-sama. Untuk menjaga produksi ASI, janganlah memberikan ASIP ketika kita bersama bayi

Referensi

BELANJA PERLENGKAPAN MENYUSUI

0

Kolik pada Bayi yang Disusui

Pernahkah Ibu mengalami masa bayi tiba-tiba menangis keras tanpa sebab (biasanya pada malam hari dan kaki ditekuk ke arah perut)? Berbagai cara dilakukan Ibu untuk menenangkan si kecil tapi tanpa hasil sampai akhirnya bayi berhenti menangis sendiri. Peristiwa ini lazim disebut kolik, salah satu misteri alam. Biasanya menimpa bayi berusia 2-3 minggu hingga 3 bulan (atau lebih). Bayi disebut mengalami kolik jika perkembangan berat badannya cukup bagus dan tidak ada masalah dengan kesehatannya.

Pengertian kolik sendiri saat ini telah diperluas menjadi segala kerewelan atau tangisan bayi secara tiba-tiba. Hal ini bisa jadi benar karena hingga saat ini tidak dapat didefinisikan secara pasti apa kolik itu. Tidak ada perawatan atau treatment khusus untuk kolik. Berbagai tindakan medis maupun perilaku telah dicoba, sayangnya tidak ada bukti kemanjurannya. Beberapa tindakan memang dikatakan dapat mengatasi kolik, tapi ini biasanya berlaku hanya sebentar dan tidak pada setiap bayi berhasil.

Ada tiga kondisi pada bayi yang disusui yang dipercaya dapat memicu bayi tersebut rewel atau kolik. Namun sekali lagi, perlu diingat asumsi untuk bayi dikatakan kolik yaitu perkembangan berat badan bayi bagus dan bayi tersebut sehat.

  1. Menyusu Kedua Payudara dalam Satu Kali Persusuan (Feeding). Seperti yang telah diketahui bersama, kandungan ASI berubah-ubah dalam satu kali persusuan. Kandungan lemak dalam ASI meningkat seiring lamanya bayi menyusu. Jika Ibu secara otomatis memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara sebelahnya ketika menyusu sebelum bayi benar-benar menyelesaikan sisi pertama, bayi akan mendapatkan sedikit lemak dalam satu persususan. Hasilnya, bayi hanya mendapatkan sedikit kalori dan akan lebih sering menyusu. Jika bayi minum lebih sering, dia bisa jadi akan muntah. Karena kandungan lemak rendah kalori dalam ASI yang cukup banyak, perut bayi akan cepat kosong dan sejumlah besar laktosa (milk sugar) masuk dalam usus halus sekaligus. Protein yang digunakan untuk mencerna laktase tersebut tidak mampu mencerna sebegitu banyaknya zat yang masuk dalam satu waktu. Akibatnya bayi akan mengalami gejala-gejala apa yang disebut dengan intoleransi laktosa – menangis, kentut, pup yang berair dan kehijauan. Hal ini dapat terjadi pada saat menyusui. Bayi-bayi tidak dikatakan menderita intolerasi laktosa. Problem laktosa yang mereka alami terkait masalah menyusui. Hal ini bukan alasan untuk berpindah ke susu formula bebas laktosayang sering dilakukan Ibu-ibu (bahkan terkadang disarankan oleh petugas kesehatan!). Untuk mengurangi resiko ini, Ibu sebaiknya:
    • Jangan mengatur jadwal menyusui. Ibu-ibu di berbagai belahan dunia sukses menyusui karena mereka tidak menjadwalkan waktu menyusu. Susui bayi kapanpun dia mau (on demand)
    • Menyusui bayi dari salah satu sisi payudara saja sampai bayi melepaskan sendiri atau tertidur saat menyusu. Jika bayi hanya menyusu sebentar, Ibu dapat menekan (kompresi) payudara untuk memperlancar aliran ASI sehingga bayi tidak hanya ngempeng namun benar-benar menyusu (lihat artikel Kompresi Payudara). Jika bayi telah benar-benar “selesai” menyusu dari satu sisi, dan tampaknya masih lapar, barulah berikan sisi payudara yang lain.
    • Pada saat menyusui selanjutnya, Ibu berikan payudara sebelahnya dengan cara yang sama.
    • Tubuh Ibu akan cepat menyesuaikan diri dengan cara ini, sehingga tidak akan mengalami engorgement atau lop sided (hanya satu payudara yang disusukan/dominan).
    • Dalam beberapa kasus, menyusui bayi dari salah satu sisi payudara untuk dua kali atau lebih persusuan sebelum berpindah ke sisi lainnya akan membantu mengatasi kolik.
    • Problem kolik akan bertambah buruk jika bayi tidak melekat dengan baik. Ingat: Perlekatan (latch on) yang baik adalah kunci sukses alias jantungnya menyusui!
    • Catatan: Tulisan diatas terkait dengan artikel Intoleransi Laktosa
  2. Overactive Letdown Reflex. Kondisi ini dipicu akibat aliran ASI yang cukup deras sehingga membuat bayi tersedak, muntah, dan rewel. Telah dibahas dalam artikel Produksi ASI Terlalu Banyak
  3. Protein Asing dalam ASI. Terkadang, protein dalam makanan Ibu akan terkandung dalam ASI. Hal ini dapat mempengaruhi sang bayi. Yang paling sering adalah protein yang berasal dari susu sapi. Untuk menghindari kolik pada bayi yang disusui, berikut metode yang disarankan
    • Ibu perlu berhenti mengkonsumsi produk susu seperti keju, yoghurt, es krim selama 7-10 hari. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung protein susu yang telah diubah (dimasak misalnya)
    • Jika tidak ada perubahan, Ibu dapat kembali mengkonsumsi kembalimakanan tersebut. Ibu juga dapat minum enzim pancreas 1 kapsul setiap kali makan untuk memecah protein dalam ususnya sehingga tidak terserap tubuh dan terkandung dalam ASI
    • Jika terdapat perubahan lebih baik, Ibu perlahan-lahan dapat mengkonsumsi lagi makanan yang mengandung produk susu sambil memperhatikan seksama makanan tertentu yang bereaksi terhadap bayinya.
    • Jika Ibu khawatir mengenai asupan kalsium, tambahan kalsium dapat diperoleh melalui suplemen, tidak hanya dari produk susu. Penelitian menunjukkan menyusui akan melindungi wanita dari resiko osteoporosis walaupun Ibu sendiri tidak memperoleh kalsium ekstra
    • Ibu perlu berhati-hati ketika mencoba berhenti mengkonsumsi jenis makanan tertentu.  Jenis makanan begitu beragam dan kompleks jadi sukar untuk mengetahui dengan pasti mana yang benar-benar berpengaruh pada bayi
    • Ingat! Intoleransi protein susu tidak ada hubungannya dengan intoleransi laktosa. Ibu yang mengalami gangguan intoleransi laktosa tetap dapat (aman) menyusui bayinya.

Kunci menghadapi kolik adalah BERSABAR, problem ini biasanya akan berhenti dengan sendirinya. Yang jelas, susu formula BUKAN jawabannya. Dalam beberapa kasus, bayi kolik yang mendapat sufor tampak membaik. Hal ini dikarenakan aliran susu yang lebih lancar.

Diterjemahkan secara bebas oleh Auditya P.S dari  Jack Newman, MD, 2003. Handout 2# Colic in the breastfed baby 

Tambahan Referensi

4

Produksi ASI Terlalu Banyak – Hindari Resiko Bayi Bayi Tersedak

Dalam proses menyusui, kebanyakan para Ibu merasa khawatir produksi ASInya terlampau sedikit sehingga bayinya kurang gizi. Tapi ada juga ibu yang bingung karena produksi ASI-nya berlimpah (hiperlaktasi). Bahkan dengan refleks pengaliran air susu yang ringan saja, ASI sudah memancar dengan deras. Walaupun produksi ASI yang melimpah lebih baik dibandingkan sebaliknya, namun terkadang produksi terkadang hal ini dapat menimbulkan kesukaran tersendiri bagi Ibu. Bayi akan merasa kurang nyaman dengan derasnya ASI sehingga dapat membuat bayi tersedak atau muntah ketika menyusu. Akibatnya bayi menarik diri dari payudara Ibu, atau menghisap (mengempit) puting saja, dan bahkan enggan menyusu. 

Mengapa produksi ASI tiap ibu berbeda-beda? Masalah ASI berlimpah atau hiperlaktasi ini diduga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Antusiasme ibu. Bila dialami pada minggu-minggu pertama masa menyusui, maka hiperlaktasi bisa terjadi karena antusiasme tubuh ibu untuk menghasilkan susu sebanyak mungkin. Dalam waktu kurang lebih 6 – 10 minggu, tubuh ibu pun akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.
  • Alveoli banyak. Hiperlaktasi yang terjadi terus menerus bisa disebabkan karena ibu memiliki banyak alveoli (kelenjar yang memproduksi ASI) dalam payudaranya.
  • Ketidakseimbangan hormon. Masalah hiperlaktasi juga dapat disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan hormon ibu atau adanya tumor pada kelenjar pituitari (kelenjar yang terletak di bawah otak dan menghasilkan banyak hormon).

Beberapa tanda Ibu berlimpah produksi ASI adalah sebagai berikut:

  • Pertumbuhan berat badan bayi lebih dari 2 pounds (907 gram) per bulan
  • Bayi tampak kesulitan dengan aliran ASI Ibu sehingga sering tersedak, tertahan napasnya, atau tergagap-gagap mulutnya kala menyusu
  • Bayi sering kentut dan pup nya tampak berbuih atau bersifat eksplosif

Namun demikian, Ibu jangan khawatir, ada kiat-kiat mengatasinya.

  • Sebelum mulai menyusui, perahlah sedikit ASI. Tujuannya untuk memperlambat aliran ASI. Namun jumlah ASI yang diperah sebaiknya tidak terlalu banyak, dan jangan melakukannya diantara dua waktu menyusui. Semakin banyak ASI yang Anda perah dan semakin sering Anda merangsang payudara, maka semakin banyak tubuh Anda memproduksi ASI.
  • Gunakan satu payudara untuk menyusui lebih dari satu kali susuan. Ibu dapat menggunakan satu sisi payudara untuk disusukan sebanyak 2-3 kali berturutan dan memompa payudara sebelahnya agar merasa lebih nyaman.
  • Cobalah beberapa posisi menyusui yang berbeda-beda. Posisi menyusui yang biasanya sesuai untuk adalah posisi ibu setengah tidur dan bayi ditengkurapkan di dada ibunya. Bayi bisa pula diposisikan seperti duduk pada paha Ibu menghadap payudara Ibu. Dalam dua posisi ini, gaya gravitasi akan memperlambat aliran ASI. Posisi sambil tiduran menyamping juga dapat membantu mengurangi derasnya aliran ASI
  • Frekuensi menyusu yang lebih sering dapat membantu mengatasi hal ini karena lebih sedikit ASI yang tersedia dalam setiap kali pemberian.

Untuk mengurangi produksi ASI, Anda dapat melakukannya dengan menyisakan ASI di dalam payudara. Caranya, upayakanlah agar bayi tidak terlalu lama menyusu. Seiring dengan berkurangnya jumlah ASI yang keluar dari payudara pada satu waktu menyusui, tubuh ibu pun akan mengurangi produksi ASI-nya.

Memang, upaya untuk mengurangi produksi ASI tersebut perlu waktu. Sementara itu, untuk mencegah baju Anda kotor karena ASI, gunakanlah breast pads dan baju atasan yang bermotif. Atau, tidak ada salahnya pula bila Anda mendonorkan kelebihan ASI Anda tersebut ke rumah sakit. Kelebihan ASI Anda akan sangat bermanfaat bagi banyak bayi lain.

Namun bila tidak ada satu cara pun yang berhasil pada Ibu dan dirasakan ini sangat mengganggu, segeralah konsultasi pada dokter atau konsultan laktasi. Hiperlaktasi mungkin membuat bayi sulit menyusu, namun hal ini tidak akan membahayakannya. Selain itu, kabar baiknya adalah tubuh Ibu memproduksi makanan dalam jumlah berlimpah, sehingga bayi dapat tumbuh kembang optimal.

Referensi