0

ADAKAH BUKTI ILMIAH MANFAAT NEBULIZER (TERAPI UAP) DALAM TATA LAKSANA BATUK PILEK?

nebu picDi kalangan masyarakat awam terapi uap atau di-“nebu” seringkali ditawarkan oleh tenaga kesehatan menjadi solusi untuk anak (khususnya bayi) yang menderita batuk pilek (flu/selesma/common cold). Tindakan ini dianggap dapat meringankan gejala pilek (hidung mampet, nafas grok-grok), mengencerkan dahak, dan  meredakan batuk. Di dunia medis tindakan ini meskipun lazim dilakukan namun penelusuran lebih lanjut hasilnya cukup mengejutkan.

Secara ilmiah, berdasarkan hasil  penelitian sistimatik (sistematic review), diperoleh bukti bahwa terapi dengan nebulizer atau terapi uap, gagal menunjukkan manfaatnya dalam membantu memecah lendir (mucolytic), pengeluaran lendir (muco clearance), memperbaiki oksigenasi maupun mempercepat penyembuhan pada semua penyakit saluran napas baik infeksi maupun non infeksi yang memerlukan perawatan di rumah sakit (Strickland, 2015). Nebulizer bukan 100% aman, tindakan ini memiliki efek samping yang mungkin terjadi seperti mual, muntah, stomatitis, pilek, iritasi saluran napas, nyeri dada, kram saluran napas, batuk, nyeri kepala, pusing (Strickland, 2015).

Selain pengeluaran lendir saluran nafas, nebulizer juga dianggap dapat meredakan batuk. Namun studi yang dilakukan oleh Tomerak, dkk (CD005373, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005)  menyimpulkan bahwa penggunaan nebulizer obat beta2-agonist (contoh: ventolin, meptin dll) tidak menunjukkan bukti manfaat dalam meredakan batuk non spesifik (non asma/tidak ada bukti penyempitan saluran napas). Penggunaan nebulizer obat beta2-agonist juga gagal menunjukan bukti ilmiah dalam meredakan batuk akut (Becker LA dkk.  Cochrane Database of Systematic Reviews 2015,CD001726). Adapun pemberian nebulizer steroid juga tidak terbukti menunjukkan manfaat dalam meredakan batuk sub kronik non asma (Anderson-James S dkk. , CD008888, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013,) dan batuk kronik non asma (Tomerak dkk. , CD004231, Cochrane Database of Systematic Reviews 2005).  Nebulizer steroid ini juga tidak terbukti bermanfaat pada kasus sesak (wheezing) non asma karena infeksi virus (McKean MC dkk., CD001107 Cochrane Database of Systematic Reviews 2000).

Meskipun terapi nebulizer tidak terbukti memberikan manfaat seperti paparan diatas, namun terapi ini jelas terbukti bermanfaat dalam penatalaksanaan asma. Pada penatalaksanaan asma, Nebulizer obat beta2-agonist, Anti-cholinergic  maupun steroid masuk dalam panduan penatalaksanaan asma seluruh dunia. Hal ini dapat dilihat dalam protokol GINA (Amerika dan WHO), BTS (inggris), NAEPP (Amerika) dan European Respiratory Society (Eropa). Namun demikian pada kasus non asma, penggunaan nebulizer masih perlu dipertimbangkan dengan cermat, karena  dukungan bukti ilmiah belum cukup kuat. Nebulizer menunjukkan manfaat pada kasus brochiolitis ringan-sedang dengan menggunakan larutan garam (NaCl) 3% (Zhang L dkk., No.: CD006458, Cochrane Database of Systematic Reviews 2013) atau larutan garam 0,9% (SHARMA dkk, 2013).

European Respiratory Society/ERS memberikan panduan terkait indikasi/manfaat nebulizer pada anak sebagai berikut:

  1. Nebulizer sangat direkomendasi pada terapi asma.
  2. Pada bronchiolitis nebulisasi dengan steroid, ribavirin dan β2 agonist tidak disarankan
  3. Pada croup dexametaxon peroral sama efektifnya dibanding nebulisasi steroid
  4. Nebulisasi surfactan pada bayi baru lahir belum direkomendasikan, disarankan dengan cara konvensional menggunakan endotracheal tube.
  5. Nebulisasi DNAse dan N-acetyl cysteine pada ICU anak tidak disarankan.
  6. Penggunaan Nebulisasi pada kasus cystic fibrosis (kasus yang jarang di indonesia) bisa dipertimbangkan

Sebagai informasi kasus asma tidak lazim dijumpai pada anak di bawah usia 3 tahun. Tulisan kami sebelumnya mungkin dapat membantu orangtua memahami batuk pilek pada anak apakah merupakan gejala alergi (termasuk asma).

Ditulis oleh Dr. Ferry Andian, Sp.A

Daftar Pustaka:

  • Strickland SL dkk, Respir Care 2015;60(7):1071–1077.
  • Tomerak AAT, Vyas HHV, Lakhanpaul M, McGlashan J, McKean MC. Inhaled beta2-agonists for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 3. Art.No.: CD005373.
  • Tomerak AAT,McGlashan J, LakhanpaulM,VyasHHV,McKeanMC. Inhaled corticosteroids for non-specific chronic cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 4. Art. No.: CD004231.
  • Anderson-James S,Marchant JM, Acworth JP, Turner C, Chang AB. Inhaled corticosteroids for subacute cough in children. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 2. Art. No.: CD008888
  • Becker LA, Hom J, Villasis-Keever M, van der Wouden JC. Beta2-agonists for acute cough or a clinical diagnosis of acute bronchitis. Cochrane Database of Systematic Reviews 2015, Issue 9. Art. No.: CD001726.
  • Global Initiative for Asthma (GINA) http://ginasthma.org/2016-pocket-guide-for-asthma-management-and-prevention/
  • British Thoracic Society (BTS), Asthma Guideline, https://www.brit-thoracic.org.uk/guidelines-and-quality-standards/asthma-guideline/ (30 april 2016)
  • National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), National Asthma Education and Prevention Program (NAEPP), Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma, Full Report 2007, U.S. Departement of Health and Human Service
  • Chung KF dkk., International ERS/ATS guidelines on definition, evaluation and treatment of severe asthma, Eur Respir J 2014; 43: 343–373
  • McKeanMC, Ducharme F. Inhaled steroids for episodic viral wheeze of childhood. Cochrane Database of Systematic Reviews 2000, Issue 1. Art. No.: CD001107
  • Zhang L, Mendoza-Sassi RA, Wainwright C, Klassen TP. Nebulised hypertonic saline solution for acute bronchiolitis in infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 7. Art. No.: CD006458
  • Sharma Bs,Gupta Mk Dan Rafik As, Hypertonic (3%) Saline Vs 0.9% Saline Nebulization for Acute Viral Bronchiolitis: A Randomized Controlled Trial, Indian Pediatric, Volume 50, August 15, 2013
  • Boe J, Dennis JH, O’ Driscoll BO, European Respiratory Society Guidelines on the use of nebulizers Eur Respir J 2001; 18: 228–242
0

BAYI ASI OVERWEIGHT? OVERFEEDING PADA BAYI YANG MENDAPATKAN ASI EKSKLUSIF

Berbeda dengan yang diyakini selama ini, bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif tidak masalah kegendutan. Berdasarkan pengamatan umumnya Ibu-ibu tidak merasa hal itu bukan masalah dan mengasumsikan bahwa seiring usia maka kelak bayi akan “langsing”  dengan sendirinya. Padahal jika dilihat berdasarkan kurva pertumbuhan, bayi tersebut telah masuk kategori overweight dan bahkan mungkin obesitas. Baik over atau underweight perlu segera dicari akar permasalahannya dan solusinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa kemungkinan penyebab bayi overfeeding (pemberian ASI berlebihan) yang berakibat pada kelebihan berat badan, yaitu

  1. Bayi minum ASI perah menggunakan botol dot yang beraliran cukup deras sehingga ASIP secara kontinyu dikonsumsi bayi. Oleh karena itu pemberian ASIP menggunakan dot tidak disarankan. Namun jika terpaksa, gunakan dot yang alirannya pelan dan berikan jeda waktu saat menyusu. Salah satu tips adalah menggunakan botol kapasitas besar dengan ukuran nipple kecil (S). Ada kecenderungan ketika menggunakan botol kapasitas kecil dan ASIP telah habis diminum, Ibu atau pengasuh berasumsi bayi belum kenyang karena cepat habis dan memberikan botol kedua sebagai tambahan.
  2. Bayi rewel selalu diasosiasikan dengan lapar dan haus, sehingga menyusui atau memberikan ASIP selalu dilakukan untuk menenangkan bayi. Jika sesi terakhir pemberian ASI belum lama berlalu dan bayi rewel, cobalah untuk memikirkan solusi lain selain lapar, haus, atau kurang kenyang. Mungkin saat berganti popok/diapers, bayi kepanasan/kedinginan, tidak nyaman karena bising.
  3. Bayi minum dari botol dalam posisi tidur sehingga ASI mengalir deras. Untuk memperlambat aliran ASIP, atur posisi badan dan kepala bayi menjadi tegak dengan posisi botol horizontal/datar. Salah satu efek samping minum dot dalam posisi tidur dengan dot adalah meningkatnya risiko infeksi saluran telinga.

Untuk mengetahui apakah ASI yang diberikan cukup, berpeganglah pada pertumbuhan berat badan. Silakan lihat artikel berikut untuk mengetahui tingkat kecukupan ASI.

0

MASALAH PERILAKU PADA ANAK USIA DINI – BAGIAN 1

Masalah perilaku pada anak kecil khususnya balita termasuk keluhan yang sering dilontarkan orang tua. Balita merupakan masa yang eksploratif, aktif dan impulsif dalam rangka untuk membangun pengalaman. Oleh karenanya orangtua sebaiknya jangan mudah memvonis hiperaktif pada usia tersebut. Sekitar 20% anak Amerika dicurigai memiliki kelainan perilaku, akan tetapi hanya 20% dari mereka atau sekitar 0,4% dari populasi yang benar-benar perlu perhatian khusus. Ketika masuk usia TK (5-6 tahun), perilaku hiperaktif ini menempatkan anak pada risiko pada gangguan akademis dan juga gangguan sosial emosional yang akan mengarah pada perilaku krimiminal di kemudian hari.

Perkembangan perilaku mengikuti usia. Anak yang belum bisa menahan buang air besar pada usia 18 bulan adalah normal, akan tetapi bila anak usia 5 tahun mengalaminya maka kita patut pertimbangkan adanya kemungkinan gangguan perilaku. Berikut ini merupakan beberapa kelainan perilaku yang sering terjadi pada usia dini:

  1. Gangguan tidur
  2. Masalah makan
  3. Kolik
  4. Toilet
  5. Cemas, takut

Tulisan berikut menyajikan secara garis besar mengenai masalah-masalah perilaku diatas.

GANGGUAN TIDUR

sleep 3Gangguan tidur terkait dengan kondisi mental dan kesehatan anak. Gangguan tidur dapat memburuk kondisi mental dan kesehatan. Kebutuhan tidur anak bervariasi tergantung usia anak yang ringkasannya dapat dilihat dalam tabel berikut

Tabel 1. Kebutuhan Tidur Bayi dan Anak

Usia Jam Tidur
Bayi

(3-11 bulan)

9-12 jam  saat malam, 30 menit – 2 jam tidur siang, 1 – 4 kali perhari.
Usia 1 – 3 tahun 12 – 14 jam
Usia 3 – 5 tahun 11 – 13 jam
Usia 5 – 12 tahun 10 – 11 jam (setelah usia 5 tahun biasanya tidak tidur siang

Faktor-faktor yang terkait dengan gangguan tidur anak antara lain depresi pada orang tua, pemberian makanan padat sebelum usia 4 bulan, anak dititipkan di daycare dan menonton TV. Masalah tidur paling sering adalah terbangun saat malam dan kesulitan memulai tidur. Anak yang lebih besar tidak jarang mengalami mimpi buruk atau mengigau (berjalan/bicara sambil tidur). Pada usia 6 bulan, anak sudah dapat belajar tidur 9 jam permalam, dan 70 – 80% dapat tidur sepanjang malam pada usia 9 bulan. Untuk mengatasi masalah tidur anak perlu beberapa kebiasaan sehat, antara lain:

  1. Jadwal tidur rutin.
  2. Kegiatan santai sebelum tidur. Misalkan mendongeng membaca buku. Hindari menonton TV sebelum tidur atau bermain game, atau kegiatan fisik yg terlalu aktif.
  3. Melakukan penyesuaian asosiasi tidur. Banyak mereka mengalami kesulitan tidur terkait dengan asosiasi yang terkait dengan perilaku/tindakan tertentu. Yang paling sering antara lain: digendong, menggunakan empeng (pacifier), minum susu (baik dengan botol atau menyusui) dll. Untuk mengatasi gangguan tidur maka orang tua harus mengajari ulang agar bayi dapat membangun pola tidur yang baik, membangun asosiasi yang baik, misalnya dengan bantal/guling, selimut dan berdoa sebelum tidur. Secara perlahan orang tua juga mengurangi kehadirannya disaat anak tidur atau mau tidur..

Intervensi ini seringkali mendapat tantangan oleh orang tua dengan alasan anak akan rewel, tetapi bila hal ini konsisten dikerjakan dengan baik maka hanya perlu waktu rata-rata 5 hari untuk anak usia diatas 2 tahun dapat membangun pola tidur yang sehat.

MASALAH MAKAN

Keluhan masalah makan diperkirakan mencapai 35%. Sekitar 4% anak usia 18 bulan mengalami masalah makan kategori berat, sedangkan masalah makan kategori sedang dialami 62% anak usia 30 bulan dan 47% pada usia 18 bulan. Gagal tumbuh (failure to thrive) merupakan akibat dari masalah makan yang sangat serius yang mempengaruhi perkembangan seorang anak yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas.

Masalah makan dapat dibedakan menjadi masalah organik (faktor anak misal kelainan anatomi, fisiologis) dan non organik (sosial/pola asuh). Meskipun terdapat masalah organik tetapi dapat dikompensasi dengan peran orang tua (pengasuh) yang tepat sehingga AAP memandang pembagian penyebab gagal tumbuh menjadi organik dan non organik sebenarnya kurang begitu bijak. Masalah pemberian makan paling sering terkait pada saat memulai pemberian makanan padat.  AAP (American Academy of Pediatric) merekomendasikan pemberian makanan padat pada usia 4 sampai 6 bulan. WHO melaporkan bahwa pengenalan makanan tambahan merupakan masa yang rentan pada bayi, sehingga WHO merekomendasikan pemberian makanan tambahan/MPASI (makanan pendamping air susu ibu) pada usia 6 bulan. Dengan demikian bila hendak memulai makanan tambahan pada usia 4–5 bulan sebaiknya didiskusikan dulu dengan dokter anak atau ahli gizi bayi.

Perkiraan kebutuhan kalori anak berdasarkan USDA (The United States Dept. of Agriculture)

  • Usia 0 – 6 bulan: 520 – 570 kalori
  • Usia 7 – 12 bulan: 676 – 743 kalori
  • Usia 1 – 2 tahun: 992 – 1.046 kalori
  • Usia 3 – 8 tahun: 1.642 – 1.743 kalori

AAP memberikan panduan terkait makan secara garis besar adalah sebagai berikut picky

  • Jangan mengancam, memaksa anak untuk makan.
  • Sajikan struktur saat makan baik dengan penekanan pada jadwal yang teratur dan posisi (duduk) makan yang benar.
  • Hanya sajikan makanan yang sehat.
  • Pertimbangkan anak untuk memilih makanan sehat yang tersaji
  • Batasi waktu makan tidak lebih 30 menit.
  • Hindari bentuk makanan spesial terutama pada anak yang “picky eater”.
  • Bila anak menolak makan jangan digantikan dengan pemberian “snack” atau makanan special

Jika mengacu pada panduan AAP tersebut, maka terlihat bahwa dari pasien yang datang, kami mengamati bahwa sebagian besar masalah gagal tumbuh diakibatkan oleh pola asuh yang kurang tepat (pola pemberian makan yang salah) dan umumnya saat pemberikan makanan padat. Diperlukan motivasi dan konsistensi agar orang tua senantiasa berada dalam jalur yang benar.

Bersambung bagian 2

Referensi

  • Voight, R.G., Macias, M.M., Myers MD, S.M. 2011, AAP Developmental and Behavioral Pediatrics, AAP Section on Developmental and Behavioral Pediatrics
  • Armstrong, K.H., Ogg, J.A., Audra, A.W., 2013, Evidence-Based Interventions for Children with Challenging Behavior, Springer

Ditulis oleh Dr Ferry Andian Sumirat Sp.A, Msc

0

MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) — PANDUAN UNTUK ANAK NORMAL

9cRxXRgce“Anak adalah benteng masa depan, hanya bisa dibangun dengan kerja keras dan perencanaan yang matang”

“Jangan dibaca, bila Anda berharap tulisan ini seperti tips praktis, layaknya menu “shortcut” dalam smartphone Anda agar mempermudah pengoperasian cara pemberian makan dengan mudah”

PENDAHULUAN

MAKAN adalah cara makhluk hidup untuk mencukupi kebutuhan nutrisi. Setiap berbicara mengenai nutrisi tidak sekedar hanya agar “TUMBUH “ (bertambah berat dan tinggi) dan “BERKEMBANG” akan tetapi  juga “SEHAT”. Ketika mahkluk hidup lahir dengan kondisi normal, maka ia akan siap untuk makan, kemampuan makan akan berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Olah karena itu kita tidak akan mendapati mahkluk hidup mati kelaparan atau kurang gizi bila tersedia makanan di sekitar mereka. Begitupula kalo kita coba melihat kebelakang kehidupan manusia masa lalu. Oleh sebab itu, kewajiban orang tua untuk membangun pola asuh yang baik agar perkembangan kemampuan makannya optimal.

POLA ASUH, merupakan kegiatan tanpa henti. Orang tua tidak pernah berpikir kapan berhenti membimbing anak-anaknya. Keberhasilan pola asuh orang tua tidak bisa dinilai hanya dengan lulus sekolah atau menang perlombaan tetapi lebih dari itu. Bila kegiatan membangun pola makan yang sehat merupakan kegiatan tanpa henti, maka begitulah berhasil atau tidaknya kegiatan itu tidak bisa dinilai sesaat (perlu penilaian jangka panjang). Penilaian keberhasilannya pun tidak bisa sekedar dari kenaikan tinggi badan dan berat badan.

STRATEGI MEMBANGUN POLA MAKAN (10 ATURAN)
  1.  Niat dan Ikhlas. Semangat membangun pola makan di-niat-kan untuk kepentingan/kebutuhan nutrisi anak, bukan biar anak nampak lucu atau menggemaskan karena badannya montok. Ingat gemuk tidak identik dengan sehat, dan sebaliknya. Janganlah pemberian makanan pada anak dilakukan untuk menyenangkan orang lain (nenek, kakek, tante, tetangga, dll). Misalkan, bila nenek membelikan es krim pada anak Anda usia 16 bulan, jangan ragu untuk melarang walaupun menbuat sang nenek kecewa terhadap Anda, ikhlaskan itu semua untuk anak.
  2. Bukan sekedar makan. Makan bukan sekedar makan, tetapi membangun pola hidup yang sehat dan teratur. Bila Anda dengan mudah mentolerir kesalahan, maka yang terbangun adalah kesalahan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
  3. Jangan pernah merasa gagal, jadilah orang tua yang berbahagia. Bila Anda merasa gagal dalam tahapan pengenalan makanan, maka tidak mustahil anak Anda juga merasa gagal. Orang gagal hanya bisa menularkan kegagalanya pada orang lain. Berbahagialah, maka anak Anda akan berbahagia. Jadi ingatlah setiap “kegagalan” pada anak, merupakan manifestasi rasa putus asa (kegagalan) Anda. Bila Anda sedih, frustasi atau merasa lemah, usahakan hindari bertemu/berinteraksi dengan anak selama beberapa waktu. Banyak cara untuk memompa semangat Anda, misalnya dengan memgambil air wudhu dan sholat sunnah (bila Anda muslim).
  4. Makan bila lapar, minum bila haus. Beri  kesempatan anak untuk lapar maupun haus. Makanan akan terasa lezat bila lapar, minum akan terasa segar bila haus. Jangan berikan makanan sebagai hadiah atau cara untuk menenangkan kerewalan anak. Tidak memberikan makanan dalam bentuk apapun 2 jam sebelum makan adalah upaya untuk memberikan kesempatan rasa lapar itu muncul
  5. Makan dengan contoh. Anak akan belajar/mencontoh dari lingkungan. Mereka tidak tertarik untuk makan bila tidak pernah melihat kita makan. Pola makan sehat  (teratur, bergizi, seimbang) dari orang tua akan menular pada anak dan begitu pula sebaliknya. Selain orang tua, perhatikan pula pola makan yang dicontoh oleh orang sekitar (nenek, keponakan, saudara, acara televisi, dll). Bila Anda tidak ingin anak Anda makan permen, es krim atau camilan tidak sehat lainnya, janganlah Anda pernah mengijinkan anak Anda mendapatkanya baik lewat orang lain ataupun Anda sendiri, kecuali Anda dapat memberikan penjelasan dengan baik bahwa itu merupakan makan yang tidak sehat (biasanya setelah usia diatas 3-5 tahun).
  6. Bergembira dalam makan. Jadikanlah kegiatan makan sesuatu yang menyenangkan. Jangan pernah memaksa anak untuk makan. Untuk anak normal, sistem tubuhnya tidak akan membiarkan dirinya mati kelaparan. Banyak cara untuk membuat kegiatan makan menjadi sesuatu yang menyenangkan, berkreasilah.
  7. Hidup ini penuh dengan godaan. Terlalu banyak junk food disekitar kita, mengoda dengan bentuk dan warnanya. Junk food ini sangat atraktif merayu lewat berbagai media, sekuat apapun Anda membentengi anak Anda, tetap saja bisa kalah kalo Anda tidak berusaha menhindari dan melawan rayuan mereka. TV merupakan musuh bebuyutan bagi tumbuh kembang anak. Ingat! Bila Anda tidak bisa mengendalikan, maka menghindari akan lebih baik.
  8. Bila gagal, cobalah lagi. Kemampuan makan tergantung pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk dapat mandiri dalam makan akan membutuhkan kemampuan motorik halus dan kasar yang cukup disamping kemampuan kognitif. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap, dan perlu latihan untuk meningkatkan kemampuanaya. Untuk belajar jalan, anak beberapa kali jatuh, pun begitulah aktivitas/kemampuan yang lain termasuk makan.
  9. Kenali suka dan tidak suka. Kecenderungan anak untuk menolak makanan baru, cobalah beberapa kali, sebelum memutuskan bahwa anak tidak suka makanan tersebut. Pemahaman tentang kesukaan terhadap jenis-jenis makanan akan memudahkan kita untuk menyajikan makanan
  10. Tetaplah berpikiran luas. Tetaplah berpikiran luas. Bagaimanapun juga membangun pola anak bukan sekedar episode tetapi keseluruhan cerita kehidupan anak. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat. Piramada Giza tidak dibuat dari satu sisi saja dan tidak pula satu hari, begitulah piramida makanan.

Sepuluh aturan tersebut akan selalu mewarnai langkah-langkah kita dalam membangun pola makan yang baik.

 KAPAN MULAI MAKAN PADAT

Proses makan terjadi sejak didalam kandungan melalui plasenta. Begitu bayi itu lahir proses ini digantikan oleh asupan makanan melalui mulut atau lewat infuse untuk bayi sakit. Untuk bayi normal/sehat, makanan padat dapat dimulai pada usia 4 – 6 bulan, artinya paling cepat pada usia 4 bulan dan paling lambat usia 6 bulan. WHO menunda pemberian makanan padat pada usia 6 bulan dengan pertimbangan lebih pada aspek kebersihan makanan. Infeksi merupakan masalah yang paling banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6 – 12 bulan pada negara berkembang. TAnda-tanda bayi siap menerima makanan padat atau MPASI (Makanan Pendamping ASI):

  1. Mampu menyangga kepala.
  2. Mampu menyangga pungung (duduk/didudukkan)
  3. Cukup besar (berat badan minimal 2 kali berat badan lahir)
  4. Cukup membuka mulut. Bayi yang tertarik terhadap makanan akan membuka mulut bila melihat makanan didepan mulutnya.
 PERSIAPAN SEBELUM PEMBERIAN MAKANAN PADAT

Proses makan sangat terkait dengan: HOW (bagaimana), WHEN (kapan), WHERE (dimana), WHOM (siapa). Sebelum memulai proses pemberian MPASI ke 5 hal tadi harus sudah dipersiapan:

  1. HOW, bagaimana teknik pemberain makan harus dipelajari dengan baik. Anak harus dalam posisi duduk/didudukan. Sangat disarankan menggunakan kursi makan (high chair). Usuhakan mata Anda sejajar dengan mata anak. Mulailah mengajarkan membuka mulut yang cukup lebar. Jangan memasukan makan bila mulut anak belum cukup lebar.
  2. WHEN, pahami saat-saat pemberian makan pada anak. Pemberian makan harus dijadwal dengan baik, jangan merubah-rubah jadwal makan. Hindari pemberian makan pada saat anak sedang tidak mood.
  3. WHERE, pemberian makan sebaiknya diruang makan. Usahakan tidak berpindah-pindah tempat, bila Anda tidak ingin anak Anda pergi ke taman kota hanya sekedar untuk makan. Situasi makan yang tidak kondusif akan mempengaruhi anak untuk tidak focus pada kegiatan makan.
  4. WHOM, proses makan merupakan hubungan timbal  balik (reciprocal) antara bayi dan pengasuh (ibu). Saling percaya, saling menyayangi, saling memperhatikan merupakan hal yang mutlak untuk dibangun. Bila perhatian ibu terpecah antara anak dan telenovela/tetangga maka jangan harap anak juga fokus pada pemberian makan.

Piranti yang mendukung 4 hal tadi harus dipersiapkan secara matang, mungkin memerlukan beberapa hari atau minggu untuk semua menjadi siap.

 healthy-food-clipart-12PERSIAPAN MAKANAN

Kebersihan makanan merupakan isu utama yang harus diperhatikan. Hampir 1/3 kematian dan kesakitan balita disebabkan oleh diare. Sedangkan penyebab utama diare terkait dengan kebersihan makanan.

Pemberian makan dimulai dari yang bersumber dari biji-bijian (beras). Yang akan menjadi sumber energi utama sejak anak-anak sampai dewasa. Bila berharap anak kelak mendapatkan sumber makanan utama dari gandum atau sereal, maka mulaialah dengan gandum atau sereal.

Mulai dari kosistensi yang paling lunak (bubur halus). Setelah sukses dengan bubur halus, dapat ditambahkan dengan daging. Dalam hal ini pilihlah daging merah, tidak terbatas pada ayam/sapi tetapi dapat menggunakan ikan laut. Penggunaan ikan laut sangat disarankan, disamping murah juga banyak mengandung AA dan DHA.

Sayur dan buah memiliki tempat ke tiga setelah daging. Penggantian menu cukup 4-5 hari sekali, disamping untuk melihat adakah reaksi alergi terhadap makanan tetapi juga agar bayi bisa memahami rasa dari masing-masing makanan. Setidak-tidaknya sampai usia 8 bulan anak sudah mengenal berbagai rasa asli dari bermacam-macam daging, sayur, dan buah.

Konsistensi harus bertahap, sehingga anak tidak merasakan perubahan tekstur makan dari bubur halus sampai nasi pada usia 1 tahun. Biarkanlah makanan sesuai rasa aslinya (jangan diberi bumbu). Setelah usia satu tahun pola makan seperti pola makan sehat orang dewasa.

TABEL PANDUAN PRAKTIS JENIS, TEKSTUR, JUMLAH, FREKUENSI  MAKAN ANAK USIA 4 – 24 BULAN

USIA (bulan) ENERGI YANG DIBUTUHKAN SELAIN DARI SUSU/ASI TEKSTUR FREKUENSI(hari) JUMLAH MAKANAN
4 – 5 Mulai dengan bubur halus dikuti daging/ikan 1-      2 kali 2 – 3 sendok setiap sesi makan. Tidak perlu ada target
6 – 8 200 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah yang dilembutkan 2 – 3 kali 1/3 – 1/2    mangkok (=125 ml)
9 – 11 300 kcal/hari Bubur, daging/ikan, sayur, buah dicincang/dipotong kecil2 3-4 kali ½ mangkok
12-24 550 kcal/hari Makanan sehat keluarga 3 – 4 kali ¾ – 1 mankok
 MAKANAN KUDAPAN

Makanan kudapan adalah makanan yang diberikan disela-sela makanan utama. Makanan kudapan dapat diberikan pada mulai usia 6-8 bulan. Biasanya 1 – 2 kali perhari, 2 – 3 jam sebelum makan siang dan makan malam. Makanan kudapan dapat berupa buah/snack sehat

Disarikan dari:

  1. WHO, Infant and Young Child Feeding, 2009.
  2. Jana LA dan Shu J, Food Fight, AAP, 2008.

 Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A

0

PANDUAN MP-ASI (WHO)

Artikel asli diambil dari grup FB Homemade Healthy Baby Food dengan tambahan catatan

By Mia Ilmiawaty Saadah on Wednesday, August 15, 2012 at 12:20pm

MP-ASI yang baik adalah kaya energi, protein, mikronutrien, mudah dimakan anak, disukai anak, berasal dari bahan makanan lokal dan terjangkau, serta mudah disiapkan. Banyaknya kasus kurang gizi di dunia, terutama kasus kurang protein, zat besi dan vitamin A; telah mendorong WHO sebagai badan kesehatan dunia untuk memperbaharui beberapa prinsip penting di tahun 2010 untuk panduan pemberian makan bagi bayi dan anak, yang dikenal dengan prinsip AFATVAH :

AGE : MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan berdasarkan kesiapan pencernaan bayi. Resiko pemberian mp-asi dini sebelum usia 6 bulan akan dibahas tersendiri (Catatan: Bagi beberapa bayi ada kemungkinan pemberian MP-ASI lebih awal dari 6 bulan jika ditemukan indikasi-indikasi tertentu. Konsultasikan pada DSA anak). Pemberian MP-ASI  telat bulan dapat menyebabkan bayi tidak mendapat cukup nutrisi, sehingga mengalami defisiensi zat besi, tumbuh kembang yang terlambat.

FREQUENCY : frekuensi pemberian makan.

  • Di awal mp-asi diberikan 1-2 kali;
  • seterusnya usia 6-9 bulan diberikan 2-3 kali makan sehari ditambah 1-2 x cemilan;
  • usia 9-12 bulan 3 x makan dan 2x cemilan.

AMOUNT : banyaknya pemberian makanan.

  • Di awal mp-asi berikan sebanyak 2-3 sdm dewasa per porsi makan;
  • usia 6-9 bulan bertahap mulai dari 3 sdm dewasa hingga 125 ml per porsi makan;
  • usia 9-12 bulan bertahap dari 125 ml hingga 250 ml per porsi makan.

TEXTURE : tekstur makanan, berdasarkan panduan WHO terbaru ini bayi langsung diberi puree/bubur halus (lembut) tapi semi kental. Patokan kekentalan dilihat dari makanan yang tidak langsung tumpah ketika sendok dibalik. Kekentalan berbanding lurus dengan banyaknya asupan kalori dan nutrisi.

  • Setelah mulai makan beberapa minggu sampai usia 9 bulan, tekstur lebih kental berupa bubur saring yang lebih bertekstur daripada bubur halus/lembut.
  • Mulai usia 9 bulan sudah bisa makanan yang dicincang halus, tidak keras dan mudah dijumput oleh anak.
  • Diharapkan mulai usia 1 tahun anak sudah bisa makan makanan keluarga.

VARIETY: variasi keberagaman makanan diberikan sejak awal pemberian MP-ASI terdiri dari karbohidrat, protein nabati (kacang-kacangan), protein hewani, sayuran dan buah, serta sumber lemak tambahan. Keberagaman makanan diperlukan untuk keseimbangan antara masukan dan kebutuhan gizi karena tidak ada 1 jenis makanan yang memiliki semua unsur gizi yang dibutuhkan. Dengan mengonsumsi makanan yang beranekaragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi jenis makanan lainnya, sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.

Untuk perkenalan awal MP-ASI, paling lama 2 minggu pertama disarankan dikenalkan bubur dan pure buah tunggal (dari satu jenis bahan) dengan frekuensi makan 1-2 kali sehari. Masa pengenalan ini digunakan untuk pengenalan variasi sumber karbohidrat, sayuran dan buah.

Paling telat minggu ketiga sudah harus  dikenalkan aneka protein, baik protein hewani maupun protein nabati, dan sumber lemak tambahan dalam bentuk bubur halus/saring yang diberikan bersama dengan karbohidrat dan sayuran dengan frekuensi makan 2-3 kali sehari dan mulai dikenalkan 1 kali cemilan/makanan selingan.

Prinsip variasi keberagaman ini menjadi dasar atau panduan menyusun menu harian, untuk mudahnya mari kita sebut sebagai panduan 4 bintang yang harus memenuhi tiga fungsi makanan (disebut juga sebagai tri guna makanan : zat tenaga, zat pembentuk dan zat pengatur). Selalu sertakan 1 bahan makanan dari setiap kelompok jenis makanan (kelompok bintang) dalam menu harian MP-ASI dan makanan keluarga yang terdiri dari :

  • * Sumber hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi (memenuhi fungsi zat pembentuk)
  • ** Sumber karbohidrat dikenal sebagai makanan pokok sumber penghasil energi (memenuhi fungsi zat tenaga)
  • *** Kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati dan mineral zat besi (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • **** Sumber vitamin A dari sayuran dan buah (memenuhi fungsi zat pengatur)
  • ***** Lengkapi dengan unsur penunjang yaitu sumber lemak tambahan untuk menambah kalori

Terkait dengan keberagaman bahan makanan, jika orang tua memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu, ada baiknya melakukan “tunggu 2-3 hari” saat mengenalkan makanan baru pada bayi, khususnya makanan pemicu alergi pada orangtuanya. Jika tidak ada riwayat alergi dalam keluarga, disarankan memberikan variasi makanan setiap harinya agar anak mendapatkan variasi nutrisi sejak awal pemberian mp-asi.

Makanan pemicu alergi pada umumnya : telur, ikan laut, kacang-kacangan, beberapa buah-buahan golongan berry, tomat, jeruk dan jambu biji.

ACTIVE/RESPONSIVE : saat memberi makan, respon anak dengan senyum, jaga kontak mata, kata-kata positif yang menyemangati. Beri makanan lunak yang bisa dipegang untuk merangsang anak aktif makan sendiri.

HYGIENE : menyiapkan dan memasak makanan secara higienis. Pastikan makanan bebas patogen, tidak mengandung racun/bahan kimia berbahaya, cuci bersih, masak dan simpan dengan baik, cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan.

Referensi:

0

ALERGI

PENGERTIAN

  • Alergi merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan respon sistim imun (sistim kekebalan) yang tidak tepat atau berbahaya terhadap suatu zat (substance) terutama protein yang masuk tubuh. Respon imun tersebut akan memunculkan gejala dan atau tanda yang merugikan/mengganggu mulai dari derajat ringan sampai berat. Alergi bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan fitur genetik tubuh manusia, yaitu apakah manusia memiliki fitur alergi atau tidak. Dengan kata lain alergi adalah reaksi imun terhadap sesuatu yang mana pada sebagian besar orang tidak terjadi.

FAKTOR KETURUNAN/GENETIK

  • Dalam alergi dikenal istilah atopi yaitu  seseorang yang memiliki fitur genetik untuk membentuk antibodi IgE terhadap paparan allergen. Rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi merupakan manifestasi yang paling sering dari atopi. Meskipun begitu atopi juga bisa tidak bergejala. Karena alergi merupakan fitur genetik maka ia dapat diturunkan. Berikut adalah gambar kemungkinan alergi diturunkan dari orangtua
Bagaimana Alergi Diturunkan

Bagaimana Alergi Diturunkan

Induksi dari atopi (munculnya atopi, red) tergantung dari faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan atopi ini akan bermanifestasi menjadi suatu gejala/penyakit dipengaruhi oleh kelainan pada organ dan adanya pencetus. (trigger)  Gambar berikut menerangkan hal ini

Bagaimana Alergi Terjadi

Bagaimana Alergi Terjadi

BAHAN-BAHAN YANG MENYEBABKAN ALERGI

Pada prinsipnya semua benda bisa menyebabkan alergi atau bersifat allergen. Akan tetapi yang paling sering menyebabkan alergi adalah sebagai berikut:

  1. Alergen hirupan: tungau debu rumah (house dust mite), tepung sari (pollen), binatang, spora jamur.
  2. Alergen makanan:
    • Telur, susu sapi, kedelai, terigu/gandum (untuk anak dibawah 3 tahun)
    • Kacang, ikan, udang (untuk anak diatas 3 tahun)
  3. Alergen injeksi: obat, racun serangg
  4. Alergen kontak: obat, makanan, bahan pakaian.

Alergen makanan biasanya terkait dengan gangguan saluran cerna tetapi juga bisa bermanifestasi pada kulit. Manifestasi pada saluran napas (terutama pilek) lebih sering disebabkan alergen hirupan.

MEKANISME ALERGI

Berikut adalah pembagian reaksi hipersensitivitas Gell & Coombs  yang masih sering dipakai walaupun dianggap terlalu menyederhanakan;

  • Tipe-I: hipersensitif anafilaktif
    • IgE pada sel Mast mengikat Antigen bebas
    • Tipe-II: hipersensitif sitotoksik
      • Antigen pd Membran bereaksi dg Antibodi bebas
      • Tipe-III: hipersensitif kompleks imun
        • Kompleks imun Ag-Ab & aktivasi Komplemen
        • Tipe-IV: hipersensitif cell mediated (tipe lambat)
          • Sel Limfosit tersensitisasi bereaksi dg Antigen.

Mekanisme AlergiMekanisme alergi dimulai dari masuknya allergen kedalam tubuh (dihirup, dimakan, kontak dengan kulit). Atas kehadiran allergen, sel limfosit B bereaksi dengan membentuk Ig E yang spesifik terhadap allergen tersebut. Ig E yang dibentuk beredar didalam darah akan menempel pada bermacam2 sel, salah satunya adalah sel mast. Paparan berikutnya, bila ada alergen yang sama akan  menempel pada IgE yang ada pada permukaan sel mast, yang kemudian sel mast  pecah mengeluarkan berbagai molekul (a.l histamin) yang menyebabkan radang (inflamasi). Radang oleh reaksi alergi paling sering pada hidung (rhinitis), paru (asma) dan kulit (dermatitis).

MANIFESTASI ALLERGI

Seseorang yang memiliki fitur/konstitusi alergi memiliki risiko untuk berkembang menjadi beberapa penyakit alergi. Akan tetapi kapan muncul dan jenis penyakit alerginya tidak bisa diprediksi. Manifestasi klinis penyakit meliputi banyak organ.

Perjalanan manifestasi alergi paling awal muncul pada biasanya adalah gambaran alergi pada kulit bayi (gambaran kemeran kasar pada muka) dan alergi makanan.

dermatitis atopi

Manifestasi Alergi – Dermatitis Atopi

angioderma

Manifestasi Alergi – Angiodema

urtikaria

Manifestasi Alergi – Urtikaria/Biduran

DIAGNOSIS ALERGI

Diagnosis alergi terutama ditegakkan dengan mempelajari gambaran klinis penyakit dan riwayat paparan alergen.  Gambaran klinis penyakit yang berulang dan disertai dengan paparan allergen yang sama akan sangat mendukung dugaan manifestasi alergi. Uji kulit dan IgE spesifik serum merupakan pemeriksaan penunjang disarankan, sedangkan beberapa uji yang lain kurang memberikan hasil yang memuaskan.

allergy lb test

Allergy Laboratory Test

PENATALAKSANAAN ALERGI

Menghindari Alergen (Avoidance)

Menghindari allergen merupakan upaya utama untuk menghindari bagaimana para penderita alergi dapat bebas/mengurangi gejala klinis alergi. Meskipun terlihat mudah, akan tetapi pelaksanaanya tidak sederhana. Apalagi bila terkait kebutuhan nutrisi anak. Alergen dari binatang dapat membutuhkan waktu beberapa bulan untuk hilang dari ruangan setelah binatang tersebut tidak ada. Tidak ada satu tindakan penghindaran dari allergen yang efektif akan tetapi lebih pada tindakan komprehensif.

Farmakoterapi

Obat-obatan pada penanganan alergi berguna untuk mencegah munculnya gejala/tanda alergi dan atau meredakan. Beberapa obat untuk meredakan manifestasi penyakit alergi menjadi mutlak harus segera diberikan (misal pada anafilaksis dan serangan asma) oleh karena dapat mengancam nyawa.

Imunoterapi

Imuunoterapi adalah satu-satunya penanganan kuratif untuk alergi pelaksanaannya membutuhkan waktu cukup lama dan harus memperhatikan manfaat dan keruganya.

Pencegahan

Pencegahan meliputi:

  • Primer: bayi dengan risiko tinggi alergi dan belum mengalami sensitisasi. Dengan cara pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, (tidak perlu pantang makan bagi ubu hamil), susu hidrolisat parsial, menghindari rokok, polusi udara
  • Sekunder: bayi yang sudah mengalami sensitisasi namun belum mengalami gejala atau mencegah perkembangan manifestasi alergi (alergi march). Misalnya pada bayi dengan dermatitis atopi pencegahan sekunder dengan menghindari allergen untuk manifestasi asma.
  • Tersier: bayi yang sudah mengalami gejala atau sudah terdiagnosis alergi. Misalnya pada alergi susu sapi yang tidak memungkinkan asi dapat diberikan  susu hidrolisat, formula asam amino atau formula kedelai

Beberapa hal tidak spesifik yang dapat mendukung respon alami (mengurangi resiko alergi)

  • Tinggal di daerah pertanian/perkebunan
  • Penggunaan probiotik
  • Konsumsi buah dan sayur segar
  • Konsumsi susu segar
  • Olah raga/aktifitas outdoor
  • Penggunaan makanan yang difermentasi bakteri

Edukasi

Satu yang sangat penting dalam penanganan penyakit terutama penyakit kronik adalah pemahaman pasien dan keluarga akan penyakit/kelainan yang diderita.

Daftar pustaka:

  1. Toit, G.D, Meyer, R., dkk, 2010, “Identifying and managing cow’s milk protein allergy”, Arch Dis Child Educ Pract Ed 95: 134-144
  2. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: First of two parts” N Engl J Med 344 (1): 30-36
  3. Mackay, I.A., & Rosen F.S, 2001, “Allergy and Allergic Diseases: Allergic Diseases and Their Treatment, N Engl J Med 344 (2): 109-113
  4. Caffarelli, C., Baldi, F., dkk, 2010, “Cow’s Milk Protein Allergy in Children: A Practical Guide”, Journal of Pediatrics 36 (5)
  5. Koletzko, S., Niggeman B, dkk, 2012, “Diagnostic Approach and Management of Cow’s Milk Protein Allergy in Infants and Children: ESPGHAN GI Committee Practical Guidelines”, JPGN 55(2): 221-229
  6. Hugo, Van Bever, 2009, “Allergic Diseases in Children: The Science, the Superstition, and the Stories, World Scientific

Dr. Ferry Andian Sumirat, Sp.A