MAU HASIL PUMPING OPTIMAL? IKUTI TIPS-NYA!

Salah satu masalah yang sering dihadapi ibu-ibu yang hendak menabung ASIP adalah hasil perah/pumping yang kurang memuaskan. Banyak ibu-ibuBreastPump yang merasa tidak puas dengan hasil pumping dan merasa pompa (jika menggunakan bantuan pompa) yang dibeli tidak memberikan hasil maksimal dan bergegas ingin berganti pompa baru. Sebelum Ibu memutuskan berganti merek pompa, perlu diingat bahwa memompa/memerah adalah suatu SKILL atau keterampilan tersendiri. Dengan pompa mahal sekalipun Ibu perlu belajar menggunakannya. Hasil pumping yang sedikit tidak menunjukkan produksi ASI sesungguhnya. Banyak ibu yang kesulitan memerah sedangkan jika menyusui langsung payudaranya mampu memenuhi kebutuhan bayi.

Salah satu kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu Let down reflex (LDR) atau pelepasan ASI. Beberapa ibu merasakan ada sensasi geli (tingling) atau “clekit-clekit” (bhs Jawa), sebagian lain tidak merasakan apa-apa. Pelepasan ini dapat dipicu seperti oleh sentuhan pada payudara, tangisan bayi, bahkan pikiran tentang bayi. Perasaan sedih, marah, tegang menghambat pelepasan ini. Tanpa munculnya let down atau pelepasan ASI ini, Ibu hanya bisa menghasilkan sedikit ASI yang terkumpul hanya di ujung puting. Sehingga kunci utama dalam pumping adalah bagaimana memicu LDR ini.

Saat menyusui sebagian besar ibu tidak menyadari adanya proses LDR atau pelepasan ini. Saat bayi menyusu, segala isyarat (cues) yang familiar (perasaan lembut, hangat) dan emosi cinta Ibu membantu melepaskan hormone yang memicu LDR. Hal ini berbeda ketika pumping, dimana baby cues tidak ada. Oleh karena itu, beberapa ibu memerlukan sedikit bantuan untuk memicu keluarnya LDR.

Berikut adalah tips dari situs www.askdrsears.com dengan beberapa tambahan dari berbagai sumber untuk pumping yang mudah, nyaman, dan membantu keluarnya LDR (let down reflex), mencegah luka pada puting, serta menghasilkan lebih banyak ASI.

  1. Buat jadwal rutin untuk pumping: tempat, kursi, fasilitas pendukung (cemilan, makanan). Siapkan segalanya, gunakan trik mental untuk rileks, lalu mulailah memompa. Rutinitas akan membantu keluarnya LDR.
  2. Lakukan pijatan lembut pada payudara beberapa menit sebelum pumping, jika memungkinkan kompres hangat daerah tersebut.

  3. Minum 1-2 gelas air sebelum pumping.
  4. Lakukan visualisasi seperti membayangkan air sungai mengalir menuju lautan, air terjun mengalir dan semacamnya. Apapun jenis visualisasi yang dapat membantu mengeluarkan ASI. Ingat, riset menunjukkan stress akan menghalangi kemampuan alami tubuh memproduksi ASI.
  5. Bawalah foto si kecil atau bayangkan wajahnya  ketika pumping. Bawalah 1-2 barang bayi seperti selimut, bedong, atau baju. Nikmati “bau” bayinya
  6. Jika memungkinkan teleponlah pengasuh anak dan tanyakan apa yang sedang dikerjakan bayi ketika Anda sedang pumping
  7. Carilah tempat yang sunyi/tenang untuk pumping. Jika ini agak sukar, Ibu bisa menggunakan bantuan musik atau suara alam yang menenangkan melalui headset telepon genggam atau jenis player lainnya
  8. Jika puting terluka, dan ibu menggunakan pompa elektrik, turunkan derajat penghisapannya, atau coba pompa lain.
  9. Untuk mengurangi nyeri puting setelah pumping, oleskan salep/ emollient untuk nyeri (banyak tersedia di apotik)
  10. Pompalah mengikuti kebiasaan bayi ibu menyusui, biasanya tiap 2-3 jam sekali. Jika Ibu merasa khawatir ASI perah tidak mencukupi, pompalah lebih sering. Hal ini lebih efektif menstimulasi supply ASI daripada memompa lebih lama
  11. Jika sedang bersama bayi, susui sebanyak yang dia mau. Semakin sering ibu menyusui bayi, semakin banyak supply ASI ketika saat pumping tiba.
  12. Lakukan ekstra pumping menjelang pagi (subuh). Studi menunjukkan pada waktu ini produksi ASI paling banyak.
  13. Jika hasil pumping tidak sebanyak biasanya, cek kondisi pompa Ibu. Apakah ada spare part yang robek/rusak. Valve/membrane yang koyak biasanya berpengaruh pada hasil pumping. Selain itu pada pompa elektrik, kondisi baterai, charger juga perlu diperhatikan
  14. Cobalah memompa sembari menyusui. Hisapan bayi akan memicu keluarnya LDR kedua payudara sehingga hasil pumping umumnya banyak, menambah tabungan ASIP Ibu
  15. Bagi sebagian besar wanita, double pumping (pumping kedua payudara dalam waktu bersamaan) menghasilkan lebih banyak ASI. Level prolaktin didalam darah juga lebih tinggi ketika ibu memompa kedua payudara dalam waktu bersamaan. Pompa ASI elektrik kualitas bagus seperti merek Medela, Unimom, dan Avent (khususnya model double pump) akan sangat membantu proses in. Namun karena harganya yang lumayan mahal dengan dua buah pompa manual double pumping ini juga bisa dilakukan, atau kombinasi pompa model mini electric dengan manual.

    PinkorBlue-MedelaSymphonyHospitalGradeElectricBreastPump

    Medela Symphoni – Hospital-Grade Double Pump

  16. Jika tips diatas tetap tidak membantu, pikirkan untuk beralih pompa ASI yang kualitasnya diatas yang Ibu pakai saat ini. Jika di daerah ibu tersedia, cobalah menyewa sebuah pompa hospital-grade selama 1-2 minggu dan rasakan perbedaannya! Pompa jenis hospital grade memang didesain khusus dan sudah terbukti untuk hasil pumping yang optimal.

Selain tips diatas, ada pula tips tambahan demi kenyamanan dan kebugaran Ibu

  1. Untuk kenyamanan Ibu, kenakanlah pakaian/baju yang mudah di’akses’ saat memompa
  2. Tegakkan sedikit badan untuk menghindari   tetesan ASI pada baju. Selain itu gunakan pula breastpad baik sekali pakai atau yang dapat dicuci untuk mengurangi rembesan ASI ketika pumping.
  3. Berlatihlah untuk bisa pumping dengan satu tangan sehingga tangan satunya bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain. Hal ini sangat bermanfaat khususnya untuk ibu bekerja yang waktu istirahatnya terbatas.
  4. Lakukan diet nutrisi seimbang, minum cukup cairan, batasi konsumsi kafein, soda, dan alcohol serta olahraga, dan hal-hal lain yang membantu Ibu tetap fit dan sehat. Pilihlah alat kontrasepsi yang tidak mengganggu produksi ASI. Pil KB yang mengandung estrogen terbukti mempengaruhi supply ASI.

Menyusui merupakan suatu komitmen yang membutuhkan kesungguhan usaha Ibu. Jika Ibu masih merasa kesulitan mempertahankan produksi ASI dan khawatir dengan produksi ASI saat ini tidak mencukupi segeralah konsultasi pada dokter atau konselor laktasi. Untuk menghubungi konselor laktasi terdekat dari lokasi Ibu, silakan hubungi www.aimi-asi.org

Referensi

Menyusui Enam Bayi

Share pengalaman rekan tentang donor ASI. Tulisan asli bersumber disini http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/08/02/menyusui-enam-bayi/

Enam. Ya, enam bayi yang pernah menyusu saya dalam waktu hampir bersamaan. Tetapi saya bukan ibu dari bayi kembar enam. Bayi yang saya lahirkan satu, yang lima lainnya adalah bayi penerima donor dari ASI saya. Saya seorang ibu menyusui (busui) secara ekslusive bagi bayi saya yang lahir 3 bulan yang lalu. Tak setetes pun susu selain ASI yang diminumnya. Bersyukur banget ASI untuk dia cukup, bahkan lebih, sehingga saya bisa menyetok cadangan ASI perah (ASIp) di freezer. Sejak awal saya sudah merencanakan untuk menabung ASI perah sebagai stok jika cuti saya berakhir dan bayi harus saya tinggal di rumah.

Kebiasaan memerah ASI ini saya lakukan sejak seminggu setelah kelahiran putri kedua saya. Sesaat setelah menyusui, saya memerah karena nampaknya bayi saya tak mampu “menghabiskan menu”nya pada satu sesi menyusu. Ya, maklumlah bayi newborn kebutuhan minumnya belum banyak, lambungnya juga masih kecil, sedangkan ASI melimpah. Lama kelamaan stok ASI di freezer penuh sedangkan cuti saya masih lama berakhirnya, jadi saya masih banyak waktu di rumah dan bayi belum minum dari stok ASI perah melainkan menyusui langsung. Hal ini tak menghentikan rutinitas saya memerah, sehingga freezer sudah tak muat lagi menampung botol-botol ASIp. Untung tetangga baik hati menyediakan satu rak freezernya untuk dititipkan ASIp saya. Tetapi ternyata tak bisa lama menitipkan karena freezernya akan didefrost untuk mengeluarkan bunga es. Waduh, ASIp saya bisa rusak nih. Akhirnya saya putuskan untuk membagikan ASIp untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Bagaimana caranya?

Awalnya saya foto botol-botol ASIp dalam freezer tersebut lalu meng-upload di facebook untuk menawarkannya bagi teman yang membutuhkan. Dan berhasil. Bayi pertama yang saya donori adalah bayi berusia 3,5 bulan, masih famili saya. Permasalahan bayi ini adalah ibunya sudah berhenti menyusui sejak usia sang bayi 1 bulan dengan alasan kelainan puting sehingga bayi menolak “nempel” di payudara ibunya. Sejak itu bayi mengkonsumsi susu formula (sufor). Okelah, walau tak seperti angan-angan saya untuk mendonorkan ASI pada bayi yang memang ortunya komit ASI ekslusive. Harapan saya bayi ini bisa mendapatkan kembali manfaat ASI paling gak sampai 6 bulan. Tiap 3 hari ortunya datang mengambil ASI, dan saya bekali sekitar 800-1000 cc tiap kalinya. Akan tetapi pada kali yang kelima, sudah terhenti karena bayi tak mau lagi minum ASI kata ortunya. Usut punya usut karena campur dengan sufor. Memang kalau bayi sudah mengenal sufor, kebanyakan jadi berpaling dari ASI. Ya sudahlah, yang penting saya ikhlas.

Bayi kedua yang saya donori tak lama kemudian terlahir dari ibu yang menjalani persalinan dengan operasi sectio caesaria (SC). Kebetulan si ibu adalah teman sejawat saya yang juga satu grup ASI di facebook. Permasalahan bayi kedua ini, karena si ibu dan bayi tak bisa menjalani rawat gabung dan ASI ibunya belum keluar. Yang ini sesuai dengan idealisme saya dalam berdonor, yakni ortunya punya komitmen ASI ekslusive dan kondisi si bayi newborn tersebut betul-betul butuh ASI donor. Lima kantong ASI (@150 cc),saya kirimkan untuk hari-hari pertamanya. Ternyata permaslahan bayi belum berakhir, perawatannya di RS memanjang karena bayi mengalami sepsis sedangkan si ibu sudah boleh pulang. Selain asi ibunya, asi saya masih dibutuhkan. Lima kantong kembali terkirim.

Bersamaan dengan bayi kedua ini, seorang ibu menyusui yang tak saya kenal menghubungi ponsel saya untuk minta donor ASI. Dia tahu nomor saya dari twit pengurus AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang pernah saya kontak untuk menawarkan ASI saya. Permasalahan bayi ketiga ini adalah dia akan ditinggal ibunya pergi ke luar negeri dalam waktu seminggu. Setelah tanya-tanya pada sang ibu dan memastikan bahwa bayi ini mendapatkan ASI ekslusive, saya bersedia berdonor kembali. Tak tanggung-tanggung, 14 kantong ASI (@150-200cc) saya donorkan dengan perasaan bahagia karena ASI saya yang melimpah ini bermanfaat.

Stok ASI saya di freezer sudah banyak berkurang tapi tak benar-benar kosong. Saya terus memerah setiap hari setelah menyusui bayi saya sendiri. Dan saya masih bisa berdonor 15 botol ASI lagi bagi busui yang bayinya sakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Bayi yang sebenarnya sudah lulus ASI ekslusive ini adalah bayi keempat penerima ASI saya. Umurnya sudah 1 tahun. Nasihat dari dokter yang memeriksanya si bayi harus mendapat banyak asupan cairan, maka si ibu berinisiatif menambahkan ASI donor mengingat ASInya yang sedang menurun produksinya. Walaupun tak termasuk kriteria idealisme saya untuk mendonorkan ASI, perasaan saya tetap positif, senangnya bisa berbagi.

Saat stok ASI tak lagi penuh di freezer, bayi kelima hadir segera setelah saya mendonorkan ASI untuk bayi keempat. Bayi kelima ini memenuhi kriteria banget. Newborn dengan permasalahan kesehatan yang butuh intensive care. Bayi yang terlahir dari ibu penderita Diabetes dengan persalinan SC ini, mengalami hipoglikemik (kadar gula di bawah normal) dan ikterik (kuning karena kelebihan kadar bilirubin). Menurut informasi dokter yang merawatnya, yang kebetulan teman sejawat saya juga, bayi ini butuh banyak cairan, dua kali dibanding bayi biasa, yang nonhipoglikemik. Berarti jika saya berdonor, jumlah kemasan ASIp yang saya kirim lebih banyak dari biasanya. Tujuh kantong ASI hanya memenuhi kebutuhannya dalam dua hari. Seperti halnya ibu yang baru bersalin lainnya, dalam hari-hari pertama ASI belum banyak keluar. Si ibu memohon supaya saya masih bersedia menopang kebutuhan ASI bayinya sampai dia bisa menyusui langsung bayinya. Memang waktu si ibu tak banyak untuk bisa menunggui bayi di ruang Intensive Care karena kehadirannya juga dibutuhkan bagi anak sulungnya yang kebetulan seorang anak berkebutuhan khusus (autisme). Sampai saat ini keluarga si ibu masih rutin datang ke tempat tinggal saya tiap dua hari untuk mengambil ASI. Tiap kali datang saya kirim 6 botol. Bayi kelima ini sesuai dengan kriteria pilihan saya. Namun dia hadir saat stok ASI saya tak bisa disebut berkelebihan seperti saat saya berdonor untuk bayi pertama sampai keempat sedangkan kegiatan saya di luar rumah mulai banyak. Artinya jika saya memerah ASI di luar rumah sebenarnya itu jatah untuk putri saya ketika dia tak bersama saya. Tetapi saya berusaha menjaga komitmen untuk mendonori bayi kelima ini sampai si ibu bisa mencukupi kebutuhan ASInya. Konsekuensinya saya harus disiplin untuk lebih sering memerah, berarti juga harus menjaga asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang. Dan inilah indahnya, tetap ikhlas dan semangat berbagi meski tak berkelebihan. Tetap bahagia.

Semangat breastfeeding!

ASI perah saya pada bulan pertama (Mei 2012)

 

 

 

 

 

ASI perah saat ini, setelah didonorkan ribuan cc (Akhir Juli 2012)

Cara Memerah, Menyimpan, dan Memberikan ASI Perahan (ASIP)

Setelah Ibu paham persiapan apa yang perlu dilakukan sebelum kembali bekerja, langkah selanjutnya adalah paham bagaimana cara memerah ASI, menyimpan, dan memberikannya agar si kecil tetap mendapat ASI yang berkualitas.

A. CARA MEMERAH ASI

Secara dasar, prinsip memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar, jadi harus menekan agak ke belakang. Bila ASI tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah ASI-nya seperti melakukan massage payudara. Cara ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada pijat  payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Ibu tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu. Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun sekitar 20- 30 menit saja, tapi susu yang terkumpul bisa mencapai 500 ml.

Namun demikian, ada beberapa aturan yang penting diperhatikan sebelum sebelum Ibu memberikan ASI perah (ASIP) pada si bayi. Pertama, sebelum bayi berusia 4 bulan, sebaiknya ASIP TIDAK diberikan menggunakan dot dulu karena bayi akan mengalami bingung puting. Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila Ibu sedang bersama bayi, bayi harus menyusu langsung pada Ibu, jangan memberikan ASIP.  Memerah ASI bukanlah hal yang sulit, bahkan tidak selalu membutuhkan alat khusus atau pompa ASI. Cukup dengan pijitan dua-tiga jari sendiri, ASI bisa keluar lancar. Hal ini memang membutuhkan waktu, yakni masing-masing payudara berkisar 15 menit. ASI ini bisa disimpan lalu diberikan untuk bayi keesokan harinya.

  1. Memerah dengan Jari

Cara memerah ASI dengan jari ini amat sederhana dan tidak perlu biaya. Sebagai langkah awal Ibu perlu memahami bahwa payudara terdiri atas tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya. Berikut adalah cara memerah ASI dengan jari

  1. Letakkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Tempatkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 -3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi pukul jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.
  2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
  3. Buatlah gerakan menggulung dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu.
  4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke posisi lain (misal arah jam 9 dan jari-jari ke arah jam 3, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
  5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Letakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.

Gambar 1. Teknik Memerah ASI dengan Jari (Sumber)

Cara memerah ASI yang tidak mengeluarkan ASI dan tidak dianjurkan

  1. Menekan puting susu – memijat puting dengan 2 jari, dapat menyebabkan lecet
  2. Mengurut – mendorong dari pangkal payudara, dapat menyebabkan kulit nyeri
  3. Menarik puting dan payudara – dapat menyebabkan kerusakan jaringan

Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:

  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
  • Massage, stroke, dan shake. Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara

Catatan: Teknik memerah ASI yang disarankan adalah teknik perah Marmet yang diciptakan oleh Chele Marmet, seorang konsultan laktasi, direktur the Lactation Institute di West Los Angeles, USA yang bisa dilihat disini.

Menggunakan Pompa ASI

Jika menggunakan pompa, alat pompa ASI elektrik adalah cara bantu pemerahan ASI ASI yang paling baik dan efektif. Hanya saja, harganya relatif mahal. Cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu menggunakan poma dengan mekanisma piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur. Sayangnya, pompa-pompa ASI yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk corong dan bohlam (squeeze and bulb). Bentuk squeeze dan bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli laktasi dan ASI. Bentuk pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.

Gambar 2. Contoh Berbagai Pompa ASI

B. CARA MENYIMPAN

Cara terbaik untuk menyimpan ASIP adalah menggunakan botol dari stainless steel (baja antikarat), namun ini tidak banyak dijual. Pilihan terbaik kedua adalah botol yang terbuat dari gelas (kaca), dan terbaik ketiga botol plastik. Kebanyakan ibu lebih menyukai botol yang terbuat dari plastik demikian juga halnya dengan rumah sakit/klinik bersalin, karena plastik tidak mudah pecah. Untuk pilihan lebih ekonomis, saat ini telah tersedia botol kaca dengan kapasitas 50-200 ml. Apapun jenis botolnya, sebaiknya memiliki tutup yang kencang/rapat.  Botol berwarna-warni sebaiknya tidak digunakan karena zat warnanya bisa masuk ke dalam ASI.

Pilihan terakhir adalah menyimpan ASI perah di dalam plastik yang lembek atau kantong susu, sebab akan banyak zat-zat di dalam ASI yang akan tertinggal (menempel) pada dinding plastik. Menyimpan ASI di dalam kantong susu bisa menimbulkan beberapa masalah. Susu bisa menempel pada sisi kantong sehingga jumlah yang diberikan kepada bayi akan berkurang. Kantong susu juga lebih peka terhadap kontaminasi akibat kebocoran. Beberapa produsen pompa ASI membuat kantong susu yang nyaman untuk digunakan dan terbuat dari plastik yang lebih tebal tetapi harganya mahal. Jika hendak menggunakan kantong, sebaiknya digunakan 2 lapis kantong lalu disimpan di dalam wadah plastik yang tertutup rapat, baru masukkan ke dalam freezer. Hal ini akan membantu mengurangi terjadinya robekan pada kantong. Pada saat menghangatkan, sebaiknya batas atas air tidak melebihi kantong sehingga air tidak masuk ke dalam kantong. Jika air yang digunakan untuk menghangatkan tampak berawan/keruh, berarti telah terjadi kebocoran dan ASI tersebut harus dibuang.

Berilah label pada setiap kemasan ASI yang mencantumkan tanggal pemerahan ASI dan gunakan terlebih dahulu stok yang terlama. Jika bayi Ibu dirawat di RS, pastikan bahwa pada label juga tertera nama anda/bayi Ibu dengan jelas, sehingga ASI tidak tertukar.

Untuk bayi kurang dari 6 minggu, sebaiknya ASI disimpan dalam botol sebanyak 30 – 60 ml, sehingga waktu yang diperlukan untuk menghangatkan tidak terlalu lama dan ASI tidak banyak terbuang. Untuk bayi yang lebih besar, jumlah ASI yang disimpan perbotolnya bisa disesuaikan dengan jumlah susu yang biasanya diminum. Tetapi akan lebih baik jika tetap menyimpan ASI dalam jumlah yang lebih kecil, kalau sewaktu-waktu bayi anda menginginkan susu lebih atau untuk selingan.

Hingga saat ini belum banyak penelitian mengenai ASI yang telah disimpan, dihangatkan dan baru sebagian diminum oleh bayi. Akan lebih aman untuk memberikan ASI yang sebelumnya telah disimpan dalam waktu 1-2 jam setelah dihangatkan. Dan jika ASI masih tersisa, sebaiknya dibuang dan tidak disimpan lagi.

Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel petunjuk penyimpanan ASI di bawah. Perlu diperhatikan, umumnya para dokter tidak menyarankan penyimpanan ASI di freezer. Sebab ASI yang telah disimpan di freezer akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan. Lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. ASIP yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.

Tabel Petunjuk Penyimpanan ASI

Tempat penyimpanan Suhu Lama Penyimpanan
Dalam ruangan (ASIP segar) 190 – 260 C 6 – 8 jam di ruangan ber AC atau 4 jam di ruangan tanpa AC
Dalam ruangan (ASIP beku yang telah dicairkan) 190 – 260 C 4 jam
Kulkas (ASIP segar) < 40 C 2 – 3 hari
Kulkas (ASIP beku yang telah dicairkan) < 40 C 24 jam
Freezer (lemari es 1 pintu 00 sampai -180 2 minggu
Freezer (lemari es 2 pintu) -180 sampai -200C 3 – 4 bulan
Deep Freezer Suhu stabil di -200C atau kurang 6 – 12 bulan

Gambar 3. ASIP yang disimpan di kulkas (courtesy to my dear friend, Evri Retno Utari)

Ringkasan:

  • Taruh ASI dalam kantung plastik food grade, botol kaca, atau wadah plastik untuk makanan atau yang bisa dimasukkan dalam microwave, wadah melamin, gelas, cangkir keramik.
  • Beri tanggal dan jam pada masing-masing wadah.
  • Dinginkan dalam kulkas. Simpan sampai batas waktu yang diijinkan.
  • Jika hendak dibekukan, masukkan dulu dalam refrigerator selama semalam, baru masukkan ke freezer (bagian kulkas untuk membekukan makanan), gunakan sebelum batas maksimal yang diijinkan.

C. CARA PEMBERIAN

Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASIP pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api atau microwave/oven karena panas tinggi mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati. Mula-mula letakkan botol ASI ke dalam air dingin, kemudian secara perlahan-lahan beri air hangat sampai ASI mencair (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Jika ingin mencairkan ASIP beku, letakkan botol ASIP beku ke dalam kulkas semalam sebelumnya, esoknya baru dicairkan dan dihangatkan. Jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke kulkas. Lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Setelah dihangatkan bisa langsung diberikan pada bayi.

Cara pemberiannya JANGAN menggunakan  botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok atau cangkir. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda bayi mengalami bingung puting adalah bayi menolak menyusu langsung dari Ibu. Selain itu bila menyusu mulutnya mencucu seperti minum dari dot, dan ketika menyusu bayi sebentar-bentar melepas hisapannya. Hasilnya, payudara Ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi enggan menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. (Cttn: Beberapa buku dan situs menyusui mem’boleh’kan pemberian ASIP dengan botol. Untuk mnghindari bingung puting perlu diperhatikan rambu-rambunya yang dapat dilihat disini)

Ibu tidak perlu merasa cemas bayi kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya bayi akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi. Pada hari keempat, bayi akan terbiasa. Ia akan meminum seberapapun ASI yang tersedia. Kalau ditinggali 500 ml, akan diminum; begitu juga dengan 300 ml, bahkan 200 ml. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tidak akan akan kekurangan ASI.

Ringkasan:

  1. Ambil ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu) atau yang paling segar (baik metode First In First Out/FIFO maupun Last In First Out/LIFO, perhatikan masa kadaluarsa)
  2. Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air hangat.
  3. Kocok dulu sebelum mengetes suhu ASI. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.
  4. Jangan gunakan microwave atau oven untuk menghangatkan karena akan menghancurkan nutrisi dan bahan-bahan kekebalan yang terkandung dalam ASI.
  5. Bagaimana dengan ASIP beku yg telah dicairkan ? (lihat tabel)
    • bisa bertahan di suhu ruang maksimal 4 jam,
    • jika belum dihangatkan, bisa dikembalikan ke lemari es dan bertahan 24 jam,
    • jangan dibekukan kembali
  6. Bagaimana dengan ASIP yg sudah direndam air hangat tapi belum diminum?
    • bisa dikembalikan ke lemari es, tetapi hanya bertahan 4 jam
    • jangan dibekukan kembali
  7. Bagaimana dengan yang sudah diminum bayi (terkena mulut bayi)? Dibuang saja

Tips Pemberian lewat Cangkir (cup)

  • Sediakan cangkir kecil (khususnya kaca), atau khusus cup feeder bayi.
  • Setelah ASIP dicairkan, tuang ke cangkir dan minumkan ke bayi. Jangan khawatir tumpah-tumpah, untuk menampung tumpahannya sediakan dengan mangkuk kecil di bawah lehernya, untuk diminumkan lagi berulang-ulang sampai habis.
  • Cara memberikan ASIP adalah dengan memiringkan gelas sampai bibir bayi menyentuh permukaan ASI. Bayi akan mengecap-ngecap dan menghisap, setelah itu baru dinaikkan sedikit-sedikit agar bayi bisa terus meminum ASInya. Jangan menuangkan isi gelas ke dalam mulut bayi, tindakan ini akan membuat bayi tersedak karena tidak siap.
  • Latihan memberikan ASIP ini perlu kesabaran, paling tidak latihan dmulai seminggu sebelum masuk kerja. Sebaiknya pengasuhnya nanti yang belajar memberikan, sehingga bayi terbiasa. Bayi bisa mengenali aroma tubuh Ibu sehingga jika Ibu yang memberikan ia suka menolak (tentu saja dia memilih menyusu langsung)
  • Keluhan yang lazim muncul adalah kemungkinan bayi menolak ASIP yang diberikan melalui sendok atau cangkir. Hal ini wajar terjadi pada hari-hari pertama pemberian ASIP. Buah hati Ibu  bisa cemas dan gelisah. Namun, janganlah khawatir, 3 atau 4 hari setelahnya bayi akan terbiasa. Itu sebabnya, sebelum masa cuti berakhir bayi perlu dilatih disuapi susu dengan sendok atau cangkir. Jadi, dengan sedikit belajar dan ketelatenan Ibu tidak perlu khawatir lagi kembali bekerja.
  • Video pemberian ASIP melalui cangkir dapat dilihat disini

Perlu juga Ibu ingat, kesuksesan pemberian ASIP selama Ibu bekerja juga ditentukan oleh kerjasama dengan pengasuh. Hal ini tidaklah mudah apalagi yang ibu percayai merawatnya adalah orangtua sendiri atau mertua. Untuk mempermudah kerjasama ini, langkah pertama harus ada pemahaman yang sama mengenai pemberian dan manfaat ASI eksklusif. Hal ini bisa jadi sedikit menyulitkan jika pengalaman mereka dulu mungkin menyusui sambil dicampur susu atau makanan padat. Ibu bisa pelan-pelan menjelaskan pada ibu atau ibu mertua tentang pentingnya ASI eksklusif, resiko pemberian sufor dan suplemen khususnya pada 6 bulan pertama, dan lain-lain. Semakin dini edukasi diberikan semakin baik (misal sejak Ibu positif hamil). Kerjasama yang baik antara orangtua dengan pengasuh di rumah (siapapun dia) juga menentukan keberhasilan menyusui secara eksklusif.

 Gambar 4. Cara pemberian ASIP dengan cup feeder

Video Pemberian ASIP dengan cup feeder

Referensi

  1. http://www.llli.org/faq/milkstorage.html
  2. http://www.kellymom.com/bf/pumping/index.html
  3. http://www.breastfeedingbasics.com/html/collecting_and_storing.shtml
  4. http://supportbreastfeeding.wordpress.com/2009/01/14/cara-memerah-asi-saat-ibu-bekerja-atau-untuk-persiapan-penyediaan-asi-sebelum-ibu-bekerja/

Catatan: Recommended link untuk Ibu bekerja bisa lihat di http://www.workandpump.com/

Persiapan Pemberian ASI Perahan (ASIP) Bagi Ibu Bekerja

Bisakah saya tetap memberikan ASI eksklusif jika kembali bekerja nanti? Pertanyaan ini kerap menjadi kekhawatiran para Ibu bekerja (working moms) khususnya di Indonesia karena cuti melahirkan hanya berlaku maksimal 3 bulan.
Jawabannya: tentu saja, BISA! Ibu tetap bisa memberikan ASI eksklusif ketika kembali bekerja dengan memberikan ASI perahan (ASIP) kepada buah hatinya sebagai gantinya. Dengan motivasi kuat, kesungguhan, ketekunan dan komitmen penuh, Ibu bisa sukses menyusui 6 bulan tanpa susu formula bahkan 2 tahun tanpa susu formula. Untuk itu, ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh Ibu jauh-jauh hari sebelum masa cuti berakhir.
  1. Tanamkan rasa percaya bahwa si kecil akan baik-baik saja di rumah. Selain itu niatkan sungguh-sungguh untuk memberikan ASIP, tidak memikirkan susu formula sebagai alternatif, dan hanya ASI sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi sampai usia 6 bulan. Keteguhan hati dan motivasi tinggi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
  2. Lakukan persiapan fisik seperti istirahat yang cukup, gizi baik, minum banyak cairan, makan buah dan sayur, dan mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu mendesak untuk dilakukan.
  3. Belajar memerah ASI dengan tangan. Meskipun Ibu berencana memerah ASI dengan pompa, belajar memerah dengan tangan memiliki banyak keunggulan (lihat penjelasan selanjutnya).
  4. Mulailah menyiapkan tempat penyimpanan yaitu:
  • Kulkas, jika memungkinkan yang 2 pintu dengan freezer terpisah.
  • Tempat/wadah ASIP, disarankan menggunakan botol kaca karena bisa dipakai ulang, aman dipanaskan dan dibekukan, tidak mencemari lingkungan. Tapi pada kondisi traveling atau tak tersedia botol kaca, dapat menggunakan plastik makanan yang food grade (tidak harus plastik khusus ASI, plastik biasa pun boleh asal yang food grade). Intinya tempat penyimpanan ASI harus kedap, tidak boleh ada cairan atau udara yang dapat masuk ke dalam botol atau kantong ASI. Tes botol ASIP yang dibeli dengan cara isi dengan air lalu posisinya dibalik atau diayun-ayun dan perhatikan apakah ada cairan yang keluar. Beberapa merk botol kaca tutupnya belum sempurna sehingga ada cairan yang keluar. Jika cairan dapat keluar berarti kuman dari luar juga dapat masuk. Jadi.. selektiflah dalam memilih botol ASIP. Ingatlah untuk selalu memberi tanggal perah dan tanggal kadaluarsa di setiap botol atau ASIP
  • Pompa ASI (manual atau elektrik). Lebih disarankan agar Ibu memerah dengan tangan. Jika menggunakan pompa, jangan menggunakan pompa berbentuk terompet karena pompa jenis ini bukan diperuntukkan untuk menyimpan ASIP, namun hanya sekedar untuk mengosongkan payudara. Selain itu pompa jenis ini sulit dibersihkan dan disterilkan. Pompa yang tepat yang dilengkapi dengan botol di bawahnya, untuk memilih pompa yang tepat dapat dilihat dalam link berikut http://www.fda.gov/MedicalDevices/ProductsandMedicalProcedures/HomeHealthandConsumer/ConsumerProducts/BreastPumps/default.htm
  • Cooler bag, cooler box, atau bisa juga termos nasi.
  • Ice gel, Blue ice, atau bisa juga es batu.

Gambar 1. Perlengkapan ASIP untuk Ibu Bekerja

Berikut adalah lebih jelasnya  persiapan buat Ibu bekerja yang perlu dilakukan selama masa cuti

  • Bulan pertama (khususnya 40 hari pertama) setelah melahirkan

Pada bulan pertama setelah melahirkan produksi ASI belum stabil. Payudara bagai pabrik susu yang baru buka dan belum tahu berapa besar permintaan pasar. Sehingga payudara akan memproduksi ASI berlebih, sehingga tidak heran ASI seringkali merembes keluar. Saat inilah masa-masa emas untuk memanipulasi permintaan ASI sehingga produksi ASI berlimpah untuk seterusnya. Berikut adalah yang sebaiknya dilakukan:

-       Susui bayi secara langsung setiap kali bayi meminta. Aturan yang mengatakan bayi sebaiknya minum tiap 2-3 jam sekali kurang tepat. Yang benar adalah selama 40 hari pertama, frekuensi menyusu 8-12 kali dalam 24 jam. Terkadang ada bayi yang tertidur hingga 4-5 jam namun menyusu lebih sering dalam jam-jam berikutnya (cluster nursing). Jika frekuensi menyusu kurang dari 8 kali dan bayi tertidur, maka bangunkan untuk disusui, caranya bisa dengan dicium, atau diusap lembut dengan air sehingga ia tidak nyaman dan langsung mencari ASI.  Hal ini bisa juga terjadi pada bayi baru lahir hingga usia beberapa minggu karena aliran ASI yang lambat. Untuk membantu bayi mendapatkan aliran ASI yang lancar silahkan merujuk pada artikel “Kompresi Payudara” dan “Perlekatan Menyusu”.

-       Untuk menjamin stok ASI, rutinlah mengosongkan ASI dari payudara meskipun Ibu selalu bersama si kecil sepanjang waktu. Lakukan minimal sekali sehari pada saat ASI terasa penuh. Produksi ASI biasanya penuh pada dinihari atau pagi hari. Saat inilah saat yang tepat untuk mengosongkan ASI karena biasanya bayi sedang terlelap. Agar jam tidur Ibu tidak terlalu terganggu, Ibu bisa menyiasatinya dengan mengosongkan ASI sesegera setelah bayi menyusu karena sangat disarankan agar Ibu ikut istirahat ketika bayi tertidur.

-       Jangan pernah tergoda memberikan susu formula jika produksi ASI Ibu cukup. Indikator ASI cukup akan dijelaskan lebih lanjut di artikel “Tanda ASI sudah Cukup”.

  • Bulan kedua dan ketiga

-          Jika pada bulan pertama ASI dipompa dan dibuang karena Ibu senantiasa bersama sang buah hati sepanjang waktu maka menjelang akhir bulan kedua mulailah menabung ASIP. Hasil ASIP yang dilakukan di dinihari disimpan dalam tempat penyimpanan ASIP.

-          Latihlah bayi minum ASIP dengan cara disendoki atau cangkir (cup). Hal ini memerlukan waktu, sehingga Ibu perlu sabar supaya tidak menyerah terpaksa memberikannya melalui dot. Minum ASIP dengan disendoki atau cangkir bertujuan untuk menghindari bingung puting. Hindari penggunaan botol dan dot! Penelitian menunjukkan 80% bayi mengalami bingung puting, khususnya pada bayi yang berusia kurang dari empat bulan.

Ringkasan dan Tips:

  • Sekitar 1 bulan sebelum cuti berakhir, mulailah menabung ASIP (Cttn: beberapa situs/buku menyusui terkemuka menyarankan memerah ASI dapat dilakukan sejak awal menyusu untuk menjaga produksi ASI walaupun nantinya tidak digunakan/dibuang).
  • Berapa kali Ibu perlu memerah? Gunakan rumus sederhana ini: Jumlah jam Ibu berada di luar rumah (termasuk dalam perjalanan) dibagi tiga. Jadi 9 jam di luar rumah sama dengan 3 kali memerah. Misalkan saat baru datang ke kantor (berangkat lebih pagi agar sampai sekitar 15 menit sebelum jam kerja), saat makan siang, dan saat rehat sore atau saat akan pulang ke rumah. Namun hal ini tergantung pula dengan kapasitas penyimpanan payudara, beberapa Ibu dapat memerah ASI dengan sesi perahan yang lebih sedikit.
  • Jangan khawatir melihat produksi ASIP yang sedikit, jangan terbebani harus memproduksi berbotol-botol ASIP. Perlu diingat bahwa ASI hasil perasan tidak menunjukkan produksi ASI Ibu sesungguhnya. Sesedikit apapun hasil perahan, kumpulkan saja, lama kelamaan akan menjadi banyak dan practice makes perfect!
  • Setiap ada waktu, dikala sang bayi tidur, atau di sela-sela waktu menyusui, perahlah ASI sebanyak kemampuan. Tidak masalah Ibu mendapatkan 20 atau 30 ml. Masukkan ke tempat penyimpanan ASIP dan simpan di kulkas. Hasil perahan selama 24 jam boleh digabungkan setelah sama dingin. Setelah terkumpul 1 botol (100 ml), beri label tanggal dan naikkan ke freezer. Satu botol sehari cukup, sesuai kemampuan
  • Jika Ibu mulai menabung paling tidak 1 bulan sebelum masa cuti kerja berakhir maka voila sudah tersedia 20-30 botol ASIP beku di freezer!
  • Ajari pengasuh cara penanganan ASIP, menghangatkan dan memberikannya pada bayi paling tidak satu minggu sebelum Ibu kembali bekerja. Gunakan ASIP yang paling “tua” dulu, supaya rotasi berjalan dengan baik. (Cttn: Setelah kondisi cukup ‘stabil’ tercipta, dan dikarenakan ASIP yang paling baik kandungannya adalah yang paling segar, beberapa Ibu memilih memberikan ASI hasil perahan hari itu atau maksimum sehari sebelumnya. Stok ASIP beku tetap tersedia untuk jaga-jaga, misalkan kondisi listrik padam, hasil perahan sedikit, dll. Yang penting selalu diingat masa kadaluarsa penyimpanan ASIP).
  • ASI hasil perahan di kantor disimpan di botol kaca atau plastik food grade, lalu masukkan dalam cooler bag atau bisa dititipkan di kulkas kantor (jika memungkinkan).
  • Tetaplah memerah ASI minimal sekali sehari dan selalu susui bayi langsung ketika bersama-sama. Untuk menjaga produksi ASI, janganlah memberikan ASIP ketika kita bersama bayi

Referensi

BELANJA PERLENGKAPAN MENYUSUI