Breastfeeding & Child Health

Informasi Berbasis Bukti tentang ASI, Menyusui, & Kesehatan Anak

Demam Berdarah = Turun Trombosit/Perdarahan?

Posted by Auditya on May 27, 2012

Pembagian Klinis WHO

Di kalangan masyarakat kita, penyakit Demam berdarah dengue (DBD) umumnya identik dengan turunnya trombosit atau adanya perdarahan. Benarkah demikian?

Penyakit DBD  sesungguhnya tidaklah harus ada manifestasi perdarahan, bahkan sebagian besar penyebab kematian karena DBD  bukan akibat perdarahan. Oleh sebab itu kita perlu tahu apa itu DBD.

Demam berdarah dengue adalah salah satu bentuk manisfestasi klinis yang diakibatkan infeksi virus dengue pada manusia.  Sebelum tahun 2009 WHO membuat batasan gambaran klinis infeksi virus dengue sebagai berikut:

  1. Asimptomatik (tidak bergejala)
  2. Simptomatik, dibagi menjadi:
    1. Demam yang tidak khas (undifferentiated fever)
    2. Dengue fever (DF) atau demam dengue (DD)
    3. Dengue hemorrhagic fever (DHF) atau Demam berdarah dengue (DBD)

Gambar 1. Pembagian Klinis WHO sebelum tahun 2009

Sejak tahun 2009 pembagian klinis demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) dianggap sulit diterapkan.  Perbedaan DD dengan DBD terletak pada adanya kebocoran plasma (plasma leakage) yang dapat menyebabkan syok.  Menentukan ada tidaknya kebocoran plasma kadang kala tidak mudah dan beberapa kondisi klinis infeksi virus dengue berat tidak cukup memenuhi keriteria DBD.  Maka pembagian klinis infeksi dengue simptomatik pada tahun 2009 disusun lebih aplikatif yaitu sebagai berikut:

  1. Infeksi dengue
  2. Infeksi dengue dengan tanda bahaya
  3. Infeksi dengue berat

 Gambar 2: Pembagian Klinis WHO 2009

 Pembagian klinis WHO tahun 2009 tentang Dengue ini belum banyak dipakai dilapangan, akan tetapi sosialisasi sudah mulai diberikan oleh organisasi profesi terutama IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Kapan Curiga terjadi Infeksi Dengue?

Kita dapat mencurigai anak terjangkit infeksi dengue bila tinggal didaerah yang endemik dengue (banyak penderita dengue) dan menderita panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi). Jika tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyakit tertentu yang khas/pasti (mis batuk pilek diare) maka harus dipikirkan kemungkinan dengue.  Dalam hal tersebut dokter sering menulis dengan diagnosis observasi febris.  Panas pada dengue sering dikuti sering gejala nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri otot dan nyeri  perut.

Pemeriksaan di Laboratorium apa yang diperlukan?

-    Darah lengkap (complete blood count), ada yang menyebut darah rutin. Terutama untuk melihat penurunan kadar trombosit, disamping lekosit dan hemtokrit. Pemeriksaan ini akan kurang informatif bila dikerjakan kurang dari 3 kali 24 jam sejak awal munculnya panas. Bila ada kecurigaan infeksi virus dengue pada hari pertama panas maka sebaiknya pemeriksaan ini dikerjakan meski pasien sudah tidak panas dan tidak ada keluhan.

-  Ig M dan Ig G dengue. Ig M menandakan seseorang sedang terinfeksi  dan Ig G menandakan seseorang pernah atau sedang terinfeksi. Bila Ig G dan Ig M positif maka infeksi tersebut berpotensi mem berikan manifestasi klinis lebih berat. Kelemahannya mahal dan pada hari ke 3-4 panas seringkali Ig M-nya masih negative.

-   NS 1, menandakan adanya virus dengue (Antigen) ada dalam darah. Pada hari ke 1 panas sudah dapat dideteksi. Kelemahan mahal dan kepetingan klinis kurang. Sebagaimana diketahui didaerah endemic cukup sering seseorang terinfeksi virus dengue dan hanya sebagian kecil aja yang bermanifestasi DD atau DBD (lihat gambaran klinis infeksi virus dengue).

-   Uji rumple leed, bertujuan untuk menilai abnormalitas fungsi vascular atau trombosit. Pada hari ke 3 panas perlu dilakukan uji ini, dan cukup sensitive untuk mendeteksi kemungkinan DBD. Kelemahan tidak spesifik (bisa positif padahal bukan DBD) dan cukup menyakitkan bagi anak-anak.

Gambar berikut menunjukkan perjalanan penyakit Dengue beserta manifestasi klinisnya

Gambar 3. Perjalanan Penyakit Dengue

Kapan harus  ke dokter?

Setiap kita curiga anak terjangkit infeksi dengue setelah 3 hari (dari awal panas mendadak) harus ke dokter.  Kontrol selanjutnya sesuai nasehat dokter

Kapan dirawat di Rumah Sakit?

Infeksi dengue dengan tanda bahaya wajib dirawat di RS sedangkan infeksi dengue tanpa tanda bahaya tergantung penyulit yang lain (pertimbangan dokter)

Penanganan

  • Pemberian cairan yang cukup.
  • Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengatasi penyulit bukan menyembuhkan.
  • Kematian sebagian besar terjadi karena keterlambatan penanganan
  • Transfusi trombosit indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan untuk menaikkan trombosit ataupun mencegah perdarahan.
  • Transfusi plasma beku segar (FFP, fresh frozen plasma) indikasi terbatas untuk mengatasi perdarahan bukan mencegah perdarahan ataupun mengatasi syok (cttn: .

Ringkasan Penting

  1. Panas yang mendadak kurang dari 7 hari (biasanya panas tinggi)  dan tidak ada gejala dan tanda yang mengarah ke penyaki tertentu yang khas/pasti maka harus dipikirkan dengue (bagi yang tinggal di daerah endemic dengue, mayoritas kota besar di Indonesia endemic)
  2. Setiap curiga infeksi dengue, setelah 3 kali 24 jam harus ke dokter.
  3. Parameter bahaya pada dengue infeksi tidak hanya kadar trombosit.
  4. Tranfusi Trombosit atau FFP hanya dengan indikasi tertentu (perdarahan). Waspada bahaya transfusi.
  5. Tidak ada obat yang terbukti  mampu menaikan trombosit maupun mencegah syok.
  6. Belum ada obat yang bisa membunuh atau menghambat pertumbuhan virus dengue (yang paling memungkinkan adalah pemberian vaksin).

Referensi

  1. Ratni Indrawati, Pengenalan Tanda awal kegawatan Infeksi dengue, FK UGM
  2. WHO, Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control — New edition, 2009 http://www.searo.who.int/linkfiles/dengue_guideline-dengue.pdf
  3. Suchitra Nimmannitya, Dengue/Dengue Haemorrhagic  Fever : A Rising Health Problem of Global Concern
  4. Dengue, WHO Learning Production 2005 (Interactive Tutorial)

Posted in Kesehatan Anak | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Tips travel sama si balita? Jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan :)

Posted by Auditya on May 21, 2012

Di-share dari note FB rekan :) . Link asli

Oleh Bunda Miriam Rustam

Banyak sekali temen yang nanya sejak kami punya Tara dan masih aja keliaran kesana kesini: gimana caranya? mbaknya gak diajak? makannya gimana? apa nggak capek ngurusin sendiri?.

Hmmmm….let’s stop for a while. Mungkin pertanyaan awalnya harusnya adalah: tujuan jalan-jalannya apa?. Kalau kami, karena sadar 200% sering pulang malam (eh yang ini sih true for my boyfriend ding sekarang, buangeeeettt… *curcol*), jadi sejak punya anak kita berdua sudah bersumpah: weekend dan hari libur si mbak akan jadi ‘pembersih’ alias kalau pup kasih mbak, baju kotor urusan mbak…dan yang gitu-gitu deh. Selebihnya urusan kita.

Pas punya Lila, di usia kepala 4 dengan kesadaran penuh tulang pinggang sudah mulai sering menjerit, ya saya memang jadi lebih ‘manja’ sih, si mbak jadi lebih sering kita ajak kalau pergi di dalam kota, karena pueeggeeeelll reeekkk apalagi Lila jauh lebih physically active dibanding si kakak dulu yang sukarela duduk manis di car seat atau stroller-nya. Dan si kakak yang walaupun sudah hampir 8 tahun tapi kadang masih keluar 5 tahun-nya :D But still we try to spend as much time as we can with the both of them, dengan campur tangan si mbak sekecil mungkin.

Nah kalau travel jauh ya podo wae. Tujuannya travel dengan anak selain ngenalin hal-hal baru, ya supaya kami punya waktu eksklusif dengan anak-anak. Makanya especially kalau tujuannya adalah liburan (alias, gak ada agenda mengunjungi saudara atau siapapun di tempat tujuan), kami gak akan mau ajak si mbak. Yaaaa alasan lainnya sih juga karena saya malaaasss harus mikirin ini itu untuk orang lain, which akan harus dilakukan mau tidak mau kalau ajak si mbaknya.Tapi kalau agendanya adalah mengunjungi seseorang (misalnyaaaa pas lebaran :D ), nah itu pasti kami ajak si mbak. Supaya lebih konsen beramah tamah dengan mereka yang lama gak ketemu.

Nah terus gimana tuh ngurusin si balita tanpa mbak?. Saya mungkin jenis emak gamau rempong. Kalau mau dibilang ‘tips’ ya tips saya cuma itu aja: jangan bikin rempong yang gak perlu dirempongkan supaya gak pusing sendiri. Dan oh satu lagi: make sure bapaknya memang bisa diajak kerjasama!. Ini faktor pueeeennnttttiiiiiiing beyond belief. Gimanapun kan butuh kerjasama yaaaa….ngurusin anak kan bukan cuma tanggung jawab si emak yaaaaaa….jadi bapaknya harus bantuin *toyorajakalaunggakmau*

Tips lainnya:

1. Kalau bayi masih ASIX – WORRY NOT!!!!. Sumpah. Gak perlu bersihin botol, gak perlu bawa air panas, gak pusing nyiapin susu, gak usah takut kualitas air. Jadi apalagi bundaaaaa….angkut aja itu bayiiiii… Tara’s first travel itu dia baru 2 bulan, kami boyong naik mobil Jkt – Semarang – Jkt. Bawaannya cuma baju aja!Oh dan tempat bobok yang nyaman juga ding.

2. Kalau anaknya sudah mulai MPASI, jujur, saya gak ambil pusing harus homemade etc. Sebisa dan semasuk akalnya ajalah kalau saya sih. Yang bisa disiapkan dari rumah dan dimasukkan kulkas, ya saya bawa pakai cooler box pas di jalan, masuk kulkas di hotel. Ini misalnya sup2-an, puding (utk 11bln ke atas), atau puree sayur/buah beku. Manasinnya? ya gampang toooh tinggal minta mangkuk isi air panas di restoran manapun kita berhenti, taruh itu makanan di mangkuk lain, rendam, beres. Selebihnya, saya lebih banyak bergantung pada buah (termasuk buah dada kalau anaknya masih ASI ;p). Pisang terutama – the easiest to find. Terus juga loads of biscuits for the road. Ya tentunya biskuit yang sesuai sama usia anaknya yaaaa. Juga roti. Ini karena kami kalau sudah ngelantur, bisa berjam-jam di jalan dan lewat jam makan. Nah ini lagi. Saya gak mau tuh rempong mikir jam segini harus berhenti untuk makan. Pokoknya kalau masih asik, ya lanjut aja. Makanya di mobil harus siap terus semua makanan itu. Plus air.

3. Homemade MPASI is good, but, we’re on holiday!. Saya pernah sih baca ada yang bawa segala rupa selama travel. Waduh, saya mah gak sanggup kalau harus full homemade selama liburan. Emak gak mau rempong gini…. Dan excuse saya adalah: toh di hari-hari lain si anak sudah makan homemade food terus. Dan liburan paling lama cuma 10 hari (hmmmm…..belum pernah sih….akan pernah gak ya… *langsungingetjadwaljadwalmeetingsipacar*), jadi ya sudahlah, let’s try to loosen up. Jadi, dulu waktu Tara maupun sekarang dengan Lila, saya kombinasikan saja homemade dengan instant MPASI (hehehehe…bisa dihujat nih eke sama emak-emak homemade MPASI ;p). Dan instant juga biasanya saya pakai yang ready to eat, yang dalam toples-toples kaca itu. Kenapa? karena malas bawa perabotan! :D See….tema utama dari tips saya adalah: hindari kerempongan ;p Dan 1 – 2 minggu sebelum jalan biasanya saya beli beberapa untuk dicoba ke anaknya, supaya tahu apa yang dia suka. Nah yang paling enak kalau anak sudah setahun. Itu saya lepas untuk eksperimen. Lila minggu depan setahun, ya wes lah, curi start aja (hehehehe…bisa kena hujat lagi nih sama emak-emak penganut no gulgar sblm 1 thn ;p). Kemarin di Bangka, saya biarin Lila coba pempek karena kepengen pas lihat saya makan. Itu juga cuma secuil-secuil. Dulu Tara saya biarin makan jagung bakar pinggir jalan waktu umur 2 tahun kami bawa ke Lombok. Dia juga makan udang bakar warung pinggir jalan. Yang bikin saya PD aja: ANAK ASI boooo’!!!!. Insya Allah perutnya kuat!. Dan kalau dia masih nyusu, insya Allah segala bakteri yang masuk, mampus dengan ASI yang dia minum. Jadi, kenapa harus takut??.

4. Kalau naik mobil, santai aja. Jangan kejar setoran!. Kami ini suka bingung kalau keluar kota, teteeeppp aja ada orang yang klakson-klakson, yang pengennya buru-buru. Lah, liburan aja kok kejar setoran buru-buru toh. Santai ajalah pokoknya. Kalau bawa balita yang berlaku adalah AGENDA SI KECIL. Artinya, kita boleh punya itinerary. Tapi jangan paksakan itu ke si bayi. Kenali tanda-tandanya. Patokan kami untuk berhenti kalau bawa balita cuma 1: dia sudah rewel beyond belief :D Itu tandanya harus berhenti supaya dia bisa jalan-jalan ngelurusin kaki. Atau kadang dia cuma pengen ngobrol atau digendong sama ayahnya yang nyetir berjam-jam :)

5. Selalu sedia ‘Kotak Doraemon’ yang isinya: hand sanitizer, tissue basah, tissue kering, Panadol, plester luka (you never know kapan anak akan jatuh), sunblock, lip balm dgn SPF

6. Sticking to schedule is important, but then again, we’re on holiday!!. Jadi kami juga gak mau pusing dengan urusan jam mandi, jam makan etc. Tara tahu banget tuh kalau sudah liburan, dia boleh mandi siang. Bahkan kalau misalnya harus pergi pagi-pagi buta, dia tahu bahwa dia boleh cuma sikat gigi dan cuci muka aja. Buat kami penting anak-anak lepas dari aturan sebentar saat liburan, karena toh di hari-hari lain mereka sudah harus teratur. Kita aja ogah diatur-atur kalau pas lagi liburan, kan?. Apa adil berharap hal yang sama dari anak-anak?. Dan efeknya ke kita: kita juga jadi santai karena gak harus mikir anak harus ini itu. We can all then enjoy the time. Together.

 Hmmmm….apalagi ya. Self-sufficiency sih yang jelas ya: tahu apa yang harus dilakukan tanpa support yang biasa kita miliki di rumah. Dan itu: jangan bikin rempong yang tidak perlu dirempongkan, don’t worry be happy ajalah. Dan bagi para mama yang ngASI – nyantai aja mommies, anak-anak kita terlindungi dengan baik kok dengan cairan ajaib itu, manufakturnya kan udah yang paling TOB jd kenapa harus kuatir :-)   Alhamdulillah saya sudah buktikan dengan 2 anak saya.

 Lila yang hari Minggu ini baru akan setahun, susah buanget makan. Makannya secuil-secuil. Jangan harap dia bisa habiskan semangkok kecil nasinya!. Awalnya saya kuatir apa dia kuat diajak jalan-jalan apalagi dengan acara berenang di kolam, main di laut, main pasir di pantai dengan angin yang sedang kencang. Tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja tuh. Dan saya yakin yang bantu dia ya si ASI itu.

Gituuuu…. mungkin ada lagi yang mau nambahin tipsnya? Yuk share aja buat nambahin info buat yang lain. Karena akan ada masanya anak-anak gak mau lagi diajak jalan-jalan sama ortu, jadi mumpung belum bisa protes, boyong yuk si balita jalan-jalan! :) )

Posted in ASI dan Ibu Bekerja, Cerita Sukses, Menyusui, Pemberian Makan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Selamat Tinggal Botol (dan Dot)!

Posted by Auditya on April 23, 2012

Rasanya di lingkungan kita melihat anak kecil dengan botol dan dotnya adalah pemandangan yang amat lazim. Mungkin boneka bayi  dengan botol menempel di mulut pernah jadi bagian masa kecil kita :) Begitu dot lepas dari mulutnya, boneka pun ‘menangis’. Hal ini disadari atau tidak merasuk dalam alam bawah sadar kita dan generasi anak-anak kita bahwa bayi identik dengan botol dan dot. Jika bayi menangis berarti mereka lapar atau haus, berikan dot, masalah selesai. Sayangnya efek jangka panjang minum dari botol dengan dotnya hasilnya tidak selalu seindah harapan orangtua.

Mengapa botol sangat dicintai anak-anak? Secara alami anak kecil akan Dalam buku Food Fight, penulis menyatakan botol dan dot memberikan segala hal yang diperlukan bayi yaitu makanan (nourishment), kelekatan (bonding), kalori, dan kenyamanan (comfort). Di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics dan American Dental Association telah mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan penggunaan botol begitu anak menginjak usia 1 tahun. Riset menunjukkan anak yang banyak menghabiskan waktu dengan botol beresiko lebih besar terkena infeksi saluran telinga.  Lebih lanjut, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Public Health, peneliti menemukan salah satu faktor kemungkinan utama penyebab kelebihan berat badan pada anak usia pra sekolah (selain faktor memiliki ibu yang overweight) adalah penggunaan botol terlalu lama.

Para penulis buku Food Fight memaparkan mengapa pemberian minum apapun jenisnya tidak disarankan dari botol dan dot pada anak balita (atas 1 tahun).

  1. Aliran yang Lancar. Minum dari botol dapat dikatakan tidak memerlukan usaha untuk menghisapnya begitu bayi menginjak usia beberapa bulan. Aliran minuman begitu lancar bahkan saat anak-anak tertidur. Keterampilan menghisap menghisap ini sebenarnya tidak begitu diperlukan lagi manakala mereka menginjak usia beberapa bulan
  2. Minum dari botol telah mencakup segalanya. Makan adalah proses belajar. Pada masa pembentukan proses makan yang benar, anak usia balita perlu belajar mengenali berbagai jenis makanan dan makan seimbang. Karena ngedot (sucking) jelas lebih mudah dibanding mengunyah, proses pembelajaran makan bisa terganggu. Balita yang masih suka nge-dot cenderung lebih suka banyak minum, akibatnya mereka makan sedikit atau tidak bernafsu makan sama sekali
  3. Nge-dot karena efek mengisapnya itu sendiri (yang membuat nyaman). Walaupun anak usia balita selalu minum manakala disodori botol, hal ini tidak selalu berarti mereka haus. Mengapa? Minum dari botol atau ngedot terbukti memberikan rasa nyaman bagi mereka. Jadi ketika mereka mau tidur masih ingin ngedot atau malam-malam terbangun minta dot, itu lebih karena ngedot menenangkan mereka bukan karena haus atau lapar.
  4. Apa yang ada didalamnya itulah yang penting. Masalah yang terkait dengan minum dari botol dalam jangka lama tidak hanya terletak pada botol itu sendiri, tetapi juga pada apa yang terkandung didalamnya. Walaupun botol tersebut umumnya berisi susu atau air putih, hal ini tetap dapat memicu konsumsi yang berlebihan. Apalagi kita kerap melihat jus atau air teh juga dikonsumsi balita dalam botol! Ketika anak mulai merasakan ‘nikmat’nya minuman ini, semakin sulit mereka terlepas dari botol. Pengalaman menunjukkan menyapih dari botol (dan minuman ‘kurang sehat’) lebih sukar dibanding menyapih dari menyusui.
  5. Masalah Gigi Berlubang. Riset menunjukkan balita yang ngedot lebih sering mengalami problem pada giginya entah berlubang atau kerusakan lainnya.
  6. Hambatan Berbicara. Agak sukar memahami balita berbicara dan hal ini semakin sukar jika balita kerap menghabiskan waktu dengan botol di mulutnya. Sama halnya dengan empeng, pakar menyarankan ada tempat dan masa yang sesuai untuk botol & dot, tetapi manakala anak mulai ‘berbicara’, sebaiknya benda-benda ini kita singkirkan

Bersambung ke bagaimana menghentikan botol  ….. (next article :) )

Referensi

 - Laura A. Jana, & Jennifer Shu, 2008, “Drinking Problems” Food Fights: Winning the Nutritional Challenges of Parenthood Armed with Insight, Humor, and a Bottle of Ketchup pp 45-84, American Academy of Pediatric

Posted in Kesehatan Anak, Pemberian Makan, Tumbuh Kembang | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Hand Foot and Mouth Disease (“Flu Singapore?”)

Posted by Auditya on April 17, 2012

Hand Foot Mouth Disease (HFMD) merupakan kumpulan gejala dan tanda yang khas pada kulit dan mukosa. HFMD paling banyak disebabkan oleh virus coxsackie A16, kadangkala ketika mewabah dapat juga disebabkan oleh enterovirus 71, virus coxsackie A5, A7, A9, A10 serta coxsackie B2 dan B5.  Virus coxsackie merupakan famili picornaviridae dan genus enterovirus. Jadi berasal dari genus dan famili yang sama dengan virus polio.

Dalam referensi kedokteran HFMD tidak dikenal sebagai “Flu Singapore”. Bahkan dalam sebuah website yang ditulis oleh orang Singapura, merekapun heran dengan sebutan tersebut.

Gejala dan Tanda HFMD:

  • Biasanya tampilan sakit ringan (anak tidak tampak sakit berat)
  • Demam tidak tinggi
  • Vesikel pada tenggorokan, gusi, langit-langit mulut, bibir yang kemudian membentuk luka (ulkus) seperti stomatitis dengan diameter 4 – 8 mm dilingkupi kemerahan disekitarnya.
  • Vesikel (mirip cacar) pada telapak tangan, jari, kaki, pantat dan pangkal paha.

 

Jenis virus tertentu  penyebab HFMD terutama enterovirus 71 dapat menyebabkan gangguan pada saraf, jantung dan paru, serta menyebabkan kematian. Secara umum, semua infeksi yang disebabkan virus dapat menimbulkan gejala mirip flu (pilek, batuk, nyeri  kepala, nyeri otot) dan gejala saluran cerna (diare, muntah, nyeri perut). Sehingga pasien dengan HFMD-pun bisa disertai gejala dan tanda tersebut.

Tata Laksana

Penyakit HFMD biasanya akan sembuh dengan sendirinya (self limited). Akan tetapi bila terjadi kondisi klinis berat maka perlu tindakan intervensi. Intervensi tersebut lebih berfungsi suportif. Penggunaan antivirus belum terbukti bermanfaat. Oleh sebab itu bila dirasa kondisi anak kurang baik/nampak sakit berat perlu diperiksakan ke dokter spesialis anak

Referensi

  1. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th ed., 2011
  2. Long SS, Pickering LK dan Prober CG (editor), Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, 3rd ed., 2008
  3. Strauss JH dan Strauss EG, Viruses and Human Disease, 2nd ed., 2008

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Posted in Kesehatan Anak | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Bolehkah Ibu Menyusui Berdiet?

Posted by Auditya on March 7, 2012

Pertanyaan ini kerapkali diajukan Ibu menyusui karena disatu sisi mereka merasa kurang nyaman dengan berat badan pasca melahirkan, namun disisi lain khawatir diet akan mengganggu produksi dan atau komposisi ASI.

Ibu menyusui BOLEH menurunkan berat badan dengan aman jika mengikuti enam aturan dasar berikut1:  .

  1. Tunggu hingga bayi berusia 2 bulan. Selama dua bulan pertama, jangan batasi asupi kalori untuk mengurangi resiko negatifnya. Tunggu hingga Ibu benar-benar pulih setelah melahirkan dan biarkan tubuh Ibu bekerja secara alami mengatur dirinya sendiri hingga terbentuk produksi ASI yang sehat. Menyusui bayi membakar sekitar 200-500 kalori per hari — Jadi perlu diingat, dengan pola makan seperti biasa Ibu membakar lebih banyak kalori tanpa perlu program khusus menurunkan berat badan
  2. Terus menyusui tanpa batasan. Penelitian menunjukkan semakin sering menyusui dan menyusui lebih dari 6 bulan terbukti mampu menurunkan berat badan pasca melahirkan
  3. Makan minimal sebanyak 1500 – 1800 kalori per hari. Selama menyusui Ibu tidak disarankan makan kurang dari 1500-1800 kalori per hari. Beberapa Ibu memerlukan lebih banyak kalori dari kisaran ini tetapi kurang dari 1500 kalori cukup beresiko
  4. Usahakan penurunan berat badan kurang dari 750 gram per minggu1 (atau 450 gram per minggu2). Sebagian besar Ibu dapat menurunkan berat badannya sekitar 750 gram (1.5 pounds) per minggu atau 3 kg per bulan pada bulan kedua dan tidak berpengaruh baik pada produksi ASI maupun kesehatan/pertumbuhan bayinya. Salah satu studi pada Ibu-ibu yang berdiet selama 11 hari menunjukkan penurunan berat badan jangka pendek sebanyak 1 kg dalam 1 minggu tidak berpengaruh apa-apa
  5. Kurangi asupan kalori secara bertahap. Pengurangan kalori secara mendadak akan menurunkan produksi ASI. Beberapa Ibu melaporkan hal ini terjadi manakala mereka sakit walaupun bisa jadi dehidrasi dan atau penggunaan obat-obatan juga bisa menjadi salah satu faktor menurunnya produksi ASI ketika Ibu sakit
  6. Hindari Diet Instan. Ibu menyusui tidak disarankan berdiet dengan cara mengkonsumsi minuman khusus diet, obat-obatan penurun berat badan, atau melakukan diet rendah karbohidrat dan rendah lemah, serta diet-diet instan lainnya

Apa yang terjadi jika Ibu menyusui mengalami penurunan berat badan yang drastis?

  • Dalam banyak kasus, bukan ASI (baik produksi maupun komposisi) yang terpengaruh tetapi nutrisi Ibu dan atau kesehatannyalah yang merasakan efek negatifnya.
  • Diet yang berlebihan dapat menurunkan produksi ASI. Ibu yang malnutrisi akan kekurangan vitamin A, D, B6 dan B12 dalam ASInya sehingga beresiko produksi ASI terganggu2.
  • Berdasarkan Breastfeeding and Human Lactation (3rd Edition, Riordan, halaman 440), perlu diperhatikan bahwa program penurunan berat badan yang cepat akibat asupan kalori dibatasi ketat sebaiknya dihindari karena kontaminan dari racun (misal racun lingkungan seperti pestisida) yang tersimpan dalam lemak tubuh akan dilepaskan ke dalam aliran darah, akibatnya kandungan racun dalam ASI. Hal ini juga akan menurunkan produksi ASI. Penulis1 memperkirakan yang dimaksud dengan ketat disini adalah dibawah 1500 kalori.


Tips untuk menurunkan berat badan
(terlepas apakah Ibu menyusui atau tidak)

  1. Lakukan perubahan diet makan. Kurangi asupan lemak sekitar 20-25% dari total kalori, tetap konsumsi protein dalam jumlah cukup untuk mencegah penurunan massa otot (asupan protein yang disarankan bagi Ibu menyusui berkisar 65 gram/hari selama 6 bulan pertama dan 62 gram/hari untuk 6-12 bulan)
  2. Makan dalam porsi kecil tapi sering. Alihkan frekuensi makan 2-3 kali sehari menjadi 3 kali makan dengan porsi kecil dan cemilan sehat diantaranya.
  3. Olahraga. Dengan berolahraga Ibu akan membakar lebih banyak lemak sembari mempertahankan massa otot.

Bagi yang memerlukan daftar kalori makanan bisa menuju link berikut http://rudy-infokesehatan.blogspot.com/2009/07/daftar-kalori-makanan.html

Selamat Berdiet Sehat! :)  

 Referensi

  1. http://www.kellymom.com/nutrition/mom/mom-weightloss.html
  2. http://www.llli.org/faq/lowcarb.html

Posted in Menyusui, Problem ASI & Menyusui, Produksi ASI | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Menabung ASI Antara Jeddah – Jakarta

Posted by Auditya on February 6, 2012

Tulisan ini bersumber dari web aimi: www.aim-asi.orghttp://aimi-asi.org/2011/08/menabung-asi-antara-jeddah-jakarta/

oleh webmaster on August 17th, 2011

Perjuangan Ratih, ibunya El, Pramugari

“Selamat Ulang Tahun El Nino Ahmad Hussain Nasution, semoga menjadi anak yang sholeh, berakhlak mulia, cerdas, sehat, pintar dan menjadi penyejuk hati papa dan ibu dan membawa kebahagiaan untuk orang banyak. You always me heart, Papa&Ibu love u!”

Hanya Allah yang Maha Tahu betapa bahagianya ibu di hari ini, 2 Juli 2011. Hari ini Alhamdullilah genap satu tahun ibu berjuang memberikan full ASI untuk kamu. Awalnya ini hanya niat untuk bisa terus memberikan ‘cairan emas’ , karena ibu harus bekerja di tempat yang jauh. Tentu sangatlah sulit untuk bisa merealisasikannya. Sampai suatu hari, ibu membawamu ke dokter anak untuk imunisasi. Dokter itu yang kemudian meyakinkan dan mendukung ibu, tidak ada yang mustahil bagi ibu untuk terus bisa memberikan ASI, meski ibu dan kamu terpisah jarak yang sangat jauh. Sebagai pramugari, ibu sering meninggalkanmu untuk berkeliling dari negara satu ke negara lain. Saat ini kamu di Jakarta, sedangkan ibu di Jeddah.

Dukungan dari dokter itu membuat ibu bertekad kuat untuk memberikan ASI apapun yang terjadi. Setelah 27 hari bekerja, ibu baru kembali ke Jakarta hanya untuk waktu 9 hari dan saat itu kamu tidak mau menyusu langsung kepada ibu sampai 2 hari. Ibu sedih sekali karena penolakan itu. Tapi selama 2 hari itu ibu tetap memompa dan bahkan sudah berniat untuk bertemu konselor laktasi untuk mengatasi masalah ini. Alhamdulillah dalam 2 hari ternyata kamu sudah mau kembali menyusu dengan ibu. Sejak itu meskipun lama ditinggal bekerja lagi, kamu tidak pernah menolak disusuin kalau ibu libur. Kamu makin besar makin pintar ya nak.

Perjalanan Panjang ASI Perah

ASI Perah untuk El awalnya hanya ibu sediakan untuk menambah stok di freezer. Namun selama bulan Maret, jadwal terbang ibu penuh untuk 15 hari dan itu tidak memungkinkan untuk menyimpan ASI di freezer karena ijin dari manager pantry belum ada. Selama itu pula akhirnya ibu tetap memompa ASI tapi membuangnya. Mulai dari situ, episode “kejar tayang”. Setiap ibu libur, kerjaan ibu hanya memompa ASI lagi dan lagi untuk mengejar ketinggalan selama 15 hari sebelumnya.

Sementara telpon dari rumah mengabarkan stok ASIP untuk El semakin sedikit. Meski ibu sempat lemes, panik dan stress membayangkan kamu tidak punya stok ASIP, namun ibu selalu bisa kembali meyakinkan diri.”Ratih, you can do it!” dan ibu selalu tetap berpikir positif.

Penerbangan Jeddah-Jakarta dibawah operasional Cengkareng base, dimana banyak senior yang tidak semua ibu kenal. Tapi entah mengapa, ibu selalu punya keberanian dan “bermuka tembok” untuk mencari crew yang beroperasi di hari itu. Kadang informasi ibu dapat dari teman-teman, broadcast BBM atau dari sistem jadwal. Biasanya atas nama ASI untukmu El, mereka bersedia menolong. Meski ada juga senior yang jutek ketika dimintai tolong karena mereka mengira ibu menitipkan nido (susu kaleng besar yang harganya lumayan murah).

Tetapi mereka biasanya selalu mau karena yang ibu titip adalah ASIP. Ibu mengingatkan mereka untuk meletakkan ASIP di cargo saja, jadi tidak memberatkan bawaan mereka di cabin. Ibu siapkan ASIP dengan packing yang bagus sehingga ASIP masih dalam kondisi beku sampai di Jakarta.

Ada tantangan yang tak kalah seru, ketika stok ASIP di rumah menipis, sementara hanya ada penerbangan dari Riyadh ke Jakarta. Artinya, ibu butuh perjuangan untuk mencari bantuan dari crew yang terbang hanya dari Jeddah ke Riyadh. Ibu cek ke sistem penjadwalan dan syukurlah ada crew orang Indonesia yang bisa dititipin. Jadi crew itu membawa ASIP ke Riyadh dan dia hanya meletakkan di pojokan koper crew yang akan ke Jakarta. Ibu juga sudah janjian dengan crew yang terbang dari Riyadh ke Jakarta. Perjalanan ASIP untuk El lumayan panjang juga.

Ketika tidak ada orang Indonesia, ibu mencari orang Asia yang bisa dititipin ASIP. Kali ini ibu berhasil minta tolong crew dari Malaysia untuk membawakan 20 botol ASIP untukmu, El. Pokoknya target ibu hanya menyambung ASIP untuk El besok dan lusa saja.

Dua hari berturut-turut mengirim ASIP karena kejar tayang, membuat Papamu kaget karena setiap mengambil ASIP dari temen-temen ibu, ongkos kurir bisa 70 ribu sekali jalan. Tergantung lokasi penjemputan, kalau harus mengambil dari rumah teman ibu yang agak jauh dari Cinere, bisa 100-150 ribu juga ongkos kurirnya. Ibu selalu meyakinkan Papamu bahwa kita sudah berjanji untuk menjadi pejuang ASI buat El. “Ini salah satu risikonya. Sebentar lagi El setahun dan perjuangan akan sedikit berkurang.”

Ibu merasa beruntung kalau pas dapat penerbangan internasional. Hotelnya lebih fleksibel, jadi begitu sampai di hotel ibu biasanya langsng menghubungi pantry untuk menanyakan izin menyimpan ASIP di freezer mereka. Ada hotel yang menyediakan freezer kecil yang benar-benar bisa bikin beku, seperti di Johannesberg beberapa waktu lalu. Bikin ibu makin semangat nabung ASIP buat kamu, El.

Sekarang ibu sedikit bisa bernafas lega ya El. Ibu akan meneruskan pemberian ASI sampai kamu 2 tahun nanti, Insya Allah. Ibu tau perjalanan El masih panjang dan ASI bukanlah titik final dalam proses tumbuh kembangmu hingga nanti kamu menjadi menusia dewasa yang cerdas dan bersahaja.

Maafkan ibu ya nak, sering jauh dari kamu, sementara kamu masih membutuhkan dekapan ibu, kamu membutuhkan ibu untuk memperhatikan pertumbuhanmu dari hari ke hari. Apalagi kalau kamu sedang sakit, rasanya dunia ibu hancur..berasa gak butuh kerjaan, gak butuh uang, ibu hanya ingin dekat dengan El, mendekap dan menciummu, menyusuimu dan menatap matamu yang seperti magnet buat ibu. Mata yang bikin damai hati ibu.

Tetapi ini jalan yang ibu dan papa pilih, juga demi El yang kami sayangi. Sabar ya nak, maafkan ibu. Ibu akan segera kembali mendekapmu nak. Di ultahnya kemarin, El juga sudah terima gift dari markas sehat yaa, langsung dua deh! Varicella dan Hep A.

  • Ucapan syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan keajaiban ditengah-tengah hal yg kayaknya gak mungkin tapi selalu dengan mudah ibu jalani, Alhamdulillaahhhh.
  • Untuk suamiku tercinta yg slalu memberikan supportnya menjadi pejuang ASI dan pejuang RUM utk EL (luv u pa)
  • Keluargaku (yangti, yangkung, nenek n’ adek-adek yg selalu aku repotin untuk ambil ASIP di Mulia saat weekend or blanja lauk,sayur & buah EL yg abis, hehehe luv u sis)
  • Seluruh CGK base & JED base, tanpa perpanjangan tangan & kebaikan hati kalian, EL ga akan sukses dapat full ASI til now (even one time, salah seorang temen ibu nyeletuk ‘ya oloooo ibu EL, ribet bnerrr sihhh ngerebus botol blablabla. Kalo gue sih mendingan ngeluarin uang 1,5jt/bln deh daripada harus repot dan pusing kayak loe.’ Hmmm 2 anaknya memang tidak ASI, jadi ibu better silent than sakit ati dengernya)
  • Mas Pur – kurir ASIP EL, yang selalu setia jemput ASIP EL dimanapun (Allah bless u mas)
  • All smart parents di milis asiforbaby yang cerita-ceritanya selalu menginspirasi saya untuk tetap terus
    semangat berjuang demi ASI

(Ratih – ibu EL 1y3d)
*lagi menghadiri sumpah dokter adikku di balai sudirman, merinding denger isi sumpahnya. Berat bener pertanggung jawabannya di depan Tuhan & masyarakat.

Ditulis ulang oleh AIMI atas ijin ibu El.

Posted in Cerita Sukses | Tagged: , , | 1 Comment »

Ragam Susu Formula Bayi dan Peruntukkannya

Posted by Auditya on January 13, 2012

Penting dibaca!

Artikel berikut tidak serta merta dipandang sebagai dukungan baik implisit maupun eksplisit terhadap pemberian susu formula. Artikel ini bertujuan pada pemberian informasi mengenai beragam jenis susu formula agar orangtua yang memutuskan menggunakan susu formula bersikap bijaksana dalam memilih susu yang tepat sesuai kondisi bayi dan tidak terjebak pada klaim bombastis manfaat susu formula.

 Pendahuluan

Di Indonesia, saat ini begitu banyak beredar berbagai jenis Susu Formula (sufor) mulai dari yang mahal sampai yang relatif murah. Seringkali ibu-ibu yang terpaksa menggunakan susu formula bingung memilih susu formula yang tepat bagi bayinya. Apalagi kadangkala informasi yang didapatkan dari produsen bercampur dengan informasi dagang yang berlebihan

Definisi

Secara definisi formula bayi adalah makanan yang ditujukan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sebagai pengganti sebagian atau hampir semua dari ASI yang karena sesuatu hal ASI tidak bisa diberikan secara penuh atau sebagian. Karena seringkali bayi hanya boleh mendapatkan susu (dibawah 4 – 6 bulan) maka pembuatan susu formula untuk bayi diawasi dengan ketat. Setiap penelitian  tentang susu formula bayi maka standard emas (golden standard) yang digunakan adalah ASI. Penggunaan susu formula bayi sangat berisiko menyebabkan masalah besar pada bayi bahkan dapat menyebabkan kematian, oleh sebab itu pemasaran bayi diatur dengan ketat (khususnya di negara maju) dan penggunaannya hanya atas rekomendasi dokter.

Klasifikasi Susu Formula Bayi

A. Standar

  1. Bahan dasar susu sapi. Misalnya: SGM, Lactogen, Similac, Enfamil, Bebelove, S26
  2. Bahan dasar soya. Misalnya: Isomil, Prosobee, Alsoy, Nutrilon Soya, SGM soya, Nursoy
  3. Bahan dasar susu kambing

B.  Protein hydrolysates

  1. Partially Hydrolyzed Formula (PHF). Misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  2. Extensively Hydrolyzed Formula (EHF). Misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
  3. Elemental. Misalnya: Neocate, Elecare

C. Premature. Misalnya: Enfacare, NeoSure, SGM BBLR, PreNAN, Enfamil PF

D.  Susu fomula tahap lanjut, untuk batita dan balita

E.  Susu formula khusus. Susu yang dimodifikasi khusus untuk penyakit-penyakit tertentu misalnya: kelainan metabolik, ginjal, kelainan saluran cerna

Berikut adalah bahasan singkat tentang klasifikasi di atas

Standard

Pada prinsipnya seluruh formula bayi yang beredar dipasaran sudah sesuai standar baku yang ditetapkan baik nasional maupun internasional. Pengawasan terhadap formula bayi sangat ketat, hal ini disebabkan semua ahli bahwa ketidak tepatan pemberian nutrisi pada bayi sangat berbahaya bagi kesehatan bayi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berbagai produk formula bayi standard dengan bermacam nama, harga dan promosi. Akan tetapi tidak ada bukti ilmiah satupun yang menyatakan yang satu lebih baik dari pada yang lain.

Formula bayi berbahan dasar soya/kedelai

Penggunaan formula yang berbahan dasar soya ditujukan apabila didapatkan bukti adanya alergi protein susu sapi (CMPA/cow milk protein alergi) akan tetapi faktanya 30 – 64% non-IgE mediated alergy dan 8 – 14% IgE-mediated alergy juga alergi terhadap soya. Oleh karena itu formula bayi yang berbahan dasar soya hanya merupakan pilihan terakhir jenis formula pengganti bagi bayi alergi (pilihan nomor satu adalah elemental, kedua protein hydrolisat). Formula soya bebas dari laktosa sehingga dapat digunakan pada intoleransi laktosa dan galaktosemia.

Pernyataan komite nutrisi AAP (American Academy of Pediatric) tentang formula soya:

Formula soya dapat dipertimbangkan digunakan untuk situasi:

  • Bayi dengan galaktosemia atau defisiensi emzim lactase
  • Bayi dengan orang tua vegetarian
  • Bayi dengan IgE-mediated CMPA

Formula soya tidak bermanfaat pada:

  • Bayi dengan diare tanpa bukti intoleransi laktosa
  • Infantil colic
  • Pencegahan allergy
  • Bayi dengan enteropathy dan enterocolitis yang diinduksi protein susu sapi

Formula bayi dengan Protein hydrolysates

Partially Hydrolyzed Formula (PHF) ditujukan untuk pencegahan alergi pada bayi yang memiliki riwayat alergi pada orang tua. Sedangkan Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) ditujukan untuk bayi dengan alergi susu sapi dengan manifestasi ringan atau sedang. Berdasarkan keriteria AAP hanya EHF yang tergolong susu hipoalergenik. Kejadian alergi protein susu sapi cukup jarang 2 – 3 persen, oleh karena itu AAP menyatakan bahwa penggunaan susu hipoalergenik (EHF dan Elemental) harus dengan pertimbangan dokter.

Formula bayi Elemental/Asam amino

Formula elemental digunakan pada alergi susu yang berat. Hanya untuk diketahui susu ini sangat mahal dan sulit dicari.

Formula Premature

Susu formula premature ditujukan agar bayi premature dapat mencapai pertumbuhan mendekati pertumbuhan didalam kandungan. Formula premature diberikan pada bayi dengan berat badan lahir 2000 gram. Susu formula premature sebaiknya dihentikan bila berat badan bayi 2000 gram dikarenakn dapat menyebabkan kebutuhan nutrisi yang berlebihan. Dinegara maju formula premature hanya diberikan dirumah sakit, setelah bayi keluar dari rumah sakit diberikan formula premature transisi. Formula premature transisi memiliki cakupan nutrisi diantara formula premature dan formula standar/mature. Akan tetapi susu fomula ini sulit didapatkan di Indonesia dan belum ada bukti ilmiah yang menunjukan kelebihannya dibanding formula standar.

Penambahan LCPUFA, ARA dan DHA

Long-chain polyunsaturated fatty acids (LCPUFA) meliputi asam lemak essensial, Linoleic Acid, α-Linolenic Acid (ALA), Arachidonic Acid (ARA) and docosahexaenoic acid (DHA). Hampir semua formula bayi saat ini mempromosikan kandungan ARA dan DHAnya terutama yang premium. ARA dan DHA terdapat didalam asi dan merupakan asam lemak  utama yang membentuk retina (saraf mata) dan otak. Penambahan ARA dan DHA pada formula bayi belum memiliki bukti ilmiah yang kuat memiliki kelebihan dibandingkan formula tanpa ARA dan DHA. Beberapa penelitian menunjukan manfaat ARA dan DHA, namun setelah dibuat review (meta-analisis) oleh Cochrane memberikan kesimpulan tidak berbeda, akan tetapi penggunaan ARA dan DHA cukup aman.

Nucleotida

Nucleotida banyak terkandung dalam ASI, dan merupakan metabolit yang membentuk ribonucleic acid (RNA), deoxyribonucleic acid (DNA) dan adenosine triphosphate (ATP). Studi klinik  menunjukan manfaat nukleotida pada pertumbuhan dan modulasi sistim kekebalan tubuh pada bayi kecil menurut masa kehamilan.

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus

Bila kita membaca peraturan BP POM tersebut terlihat jelas bahwa susu formula bayi diatur dalam hal kandungan nutrisi dan pemasarannya. Rincian persyaratan keamanan, mutu dan gizi formula bayi dapat dibaca pada lampiran peraturan tersebut. Kadar zat yang harus ada diatur kadar minimal dan maksimal, begitupula zat tambahan yang boleh ditambahkan.

Bila kita lihat pada bab empat berisi tentang larangan:

Pasal 1.  Pelaku Usaha dilarang:

a. memproduksi dan/atau memasukkan Formula Bayi dan/atau FormulaBayi Untuk Keperluan Medis Khusus ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan yang tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini;

b. mencantumkan klaim gizi dan/atau klaim kesehatan pada label Formula Bayi;

c. mencantumkan klaim kesehatan pada label Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus; dan

d. mengiklankan Formula Bayi dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan.

Kandungan nutrisi yang boleh ditambahkan antara lain taurin, nukleotida, DHA,  ARA dan Probiotik. Kenapa tidak diharuskan? Hal ini disebabkan para ahli nutrisi sendiri terdapat silang pendapat tentang sejauh mana manfaatnya, efek samping jangka panjang atau bentuk sediaan yang tepat.

Ringkasan.

  1. Untuk bayi sehat dan tidak ada risiko alergi, bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi bebas (mahal-murah sama saja)
  2. Bila bayi sehat dan ada risiko alergi (ayah/ibu/saudara ada riwayat alergi),  bila ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi pilihlah yang Partially Hydrolyzed Formula (PHF) misalnya: NAN HA, Nutrilon Hypoallergenic, Enfamil HA
  3. Bila bayi menderita alergi protein susu sapi dan ASI tidak dapat diberikan maka pemilihan formula bayi:
    • Pertama: Susu formula elemental (mahal, diutamakan yang alergi berat)
    • Kedua: Extensively Hydrolyzed Formula (EHF) misalnya: Pregestimil, Nutramigen, Alimentum
    • Ketiga: Bila kedua formula diatas tidak dapat diakses maka boleh dicoba dengan formula bayi yang berbahan baku soya.
  4. Untuk bayi dengan masalah kesehatan lain harus dikonsultasikan dengan dokter anak.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Daftar Pustaka

  1. Martinez JA and Ballew MP, Infant Formulas, Pediatrics in Review 2011;32;179
  2. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme JW dan Berhman RE (editor), Nelson Textbook of Pediatric, 19th, 2011;161-164
  3. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Nomor HK.03.1.52.08.11.07235 Tahun 2011 Tentang Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk Keperluan Medis Khusus
  4. U.S. Department of Agriculture, Feeding Infants, A Guide for Use in the Child Nutrition Programs, 2002.

Posted in Kesehatan Anak, Peraturan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Konstipasi Kronis

Posted by Auditya on January 1, 2012

Tulisan ini bermaksud membahas tentang konstipasi kronis. Definisi, kriteria konstipasi kronis  khususnya fungsional termasuk tata lakasananya akan diuraikan. Konstipasi yang sesekali terjadi pada anak khususnya bayi (biasanya karena pemberian susu formula atau saat pengenalan MPASI) tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Penggunaan pencahar, diet makanan tertentu, dan olahraga/aktivitas fisik (exercise) biasanya dapat memulihkan kondisi konstipasi seperti ini.

PENDAHULUAN

Konstipasi merupakan salah satu keluhan yang cukup kerap dilontarkan orangtua ketika mendatangi dokter anak (berkisar 4-36%).  Sejauh ini beberapa ahli memberikan batasan berbeda-beda tentang konstipasi kronis. Laporan yang ada tentang frekuensi gerakan usus (bowel mowement) normal yang menandakan keinginan buang air besar (BAB) adalah sebagai berikut:

Umur

Gerakan Usus Perminggu Gerakan Usus Perhari
0 – 3 bulan
  • ASI

5 – 40

2,9

  • Susu formula

5 – 28

2,0

6 – 12 bulan

5 – 28

1,4

1 – 3 tahun

4 – 21

1,8

Lebih dari 3 tahun

3 – 14

1,0

Konstipasi kronis berdasarkan penyebabnya dibagi dua:

  1. Konstipasi non-fungsional yaitu konstipasi yang disertai kondisi patologis
  2. Konstipasi fungsional, yaitu konstipasi yang tidak disertai kondisi patologis

Anak dicurigai menderita konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda sebagai berikut

  • Demam
  • Muntah
  • Gangguan pertumbuhan/perkembangan
  • BAB disertai darah
  • Riwayat meconium (BAB warna kehitaman pada bayi) pertama kurang dari 24 jam.

 DEFINISI/KRITERIA KONSTIPASI FUNGSIONAL

 Sedangkan definisi konstipasi fungsional sendiri ada beberapa, diantaranya menurut:

A.     ROME III:

Kriteria konstipasi fungsional menurut ROME III dibedakan berdasar usia anak, yaitu:

Anak > 4 tahun

 Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda minimal 1 kali dalam 1 minggu dan paling tidak selama 2 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence)
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Anak < 4 tahun

Bila didapatkan 2 atau lebih gejala/tanda berikut paling tidak selama 1 bulan:

  • BAB < 2 kali seminggu
  • Paling tidak satu kali tidak bisa menahan BAB (fecal incontinence) bila sebelumnya sudah bisa mengontrol BAB
  • Riwayat retensi feses berlebihan
  • Riwayat nyeri saat BAB atau saat gerakan usus
  • Terdapat feses besar pada rectum
  • Riwayat buang kotoran yang besar seringkali menyumbat toilet

Secara umum keluhan lain yang sering ikut menyertai diantaranya adalah anak rewel, malas makan/mudah merasa kenyang. Namun demikian keluhan ini tidak termasuk dalam kriteria diatas

Catatan tentang fecal incontinence (kecerit, bhs Jawa, red)

The Paris Consensus on Childhood Constipation Terminology Group (PACCT) membedakan fecal incontinence sebagai dua yaitu, Soiling dan Encopresis. Soiling sebagai BAB yang tidak disengaja sehingga memberikan flek di celana pada anak usia 4 tahun atau lebih. Sedangkan Encopresis adalah pengeluaran feses yang tidak terkendali (sehingga berak di celana). Perbedaan antara encopresis dan soiling hanya pada besar/kuantitas feses.

B. IOWA.

Berdasarkan kriteria IOWA, dikatakan konstipasi pada anak > 2 tahun bila didapatkan dua atau lebih tanda/gejala berikut selama 8 minggu:

  • Satu atau lebih gejala inkontinensia dalam 1 minggu
  • Feses keras rektum atau saat pemeriksaan perut
  • Feses besar yang seringkali menyumbat toilet
  • Riwayat memposisikan diri untuk menahan BAB
  • Nyeri saat BAB
  • Gerakan usus < 3 kali seminggu

C. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN, 2006) secara ringkas mendefinisikan konstipasi sebagai keterlambatan atau kesulitan BAB yang terjadi selama 2 minggu atau lebih, dan kondisi tersebut memyebabkan distress/masalah pada pasien.

MEKANISME DEFEKASI/BAB

Di dalam usus (kolon), yang merupakan organ yang disusun oleh otot, lebih dari 90% air telah diserap ketika makanan memasukinya besar. Meskipun makanan yang dimakan dapat mencapai kolon dalam waktu 2 jam, akan tetapi kira-kira butuh 2 – 5 hari untuk dikeluarkan lewat buang air besar (BAB). Perubahan dari cair ke semi padat terjadi pada bagian kolon transversal. Bagian kolon descendent merupakan saluran yang menghubungkan ke rektum, sebuah area penampungan dimana penyerapan masih terjadi. Pengisian dan regangan rectum oleh feses akan menghasilkan:

  1. Peningkatan peristaltic usus
  2. Relaksasi sphincter anus bagian dalam
  3. Sensasi buang air besar

Adanya distensi di rektum memacu gelombang kontraksi dari rektum dan defekasi dapat berlangsung sempurna seiring meningkatnya tekanan intraabdominal, menutupnya glottis fiksasi diafragma dan kontraksi abdomen (mengejan) dimana semuanya membantu mendorong tinja melewati saluran anal yang dilanjutkan dengan keluarnya gas, cairan atau feses.

Kondisi tersebut tidak serta merta menyebabkan BAB karena sphincter anus bagian luar hanya membuka bila secara sadar dikehendaki.  Mekanisme pengontrolan karena sphincter anus sudah ada pada bayi. Seiring perjalanan waktu akan terjadi proses pembelajaran kapan saat yang tepat untuk BAB (toilet training). Problem pada BAB akan terjadi bila terdapat masalah fisik dan atau perilaku. Gerakan usus yang menandakan kehendak untuk BAB dihalangi dengan cara menahan proses tersebut maka gerakan usus tadi perlahan akan berkurang dan menghilang. Bila hal ini terjadi berulang-ulang akan terjadi penumpukan feses pada rectum bahkan sampai ke kolon. Penumpukan berlebihan feses akan meyebabkan regangan berlebihan dari rectum yang selanjutnya menyebabkan penurunan peristaltic usus.

Secara ringkas, gejala dan tanda konstipasi fungsional adalah sebagai berikut

  1. BAB tidak teratur
  2. Nyeri saat BAB
  3. Soilling (keceret)
  4. Perilaku menahan BAB
  5. Darah dalam tinja
  6. Ngompol atau gejala terkait dengan kencing

(lihat kriteria diagnosis konstipasi fungsional)

DIAGNOSIS

Bila ada gangguan perkembangan dan atau pertumbuhan, maka kemungkinan didapatkan masalah organik atau adanya penyakit yang menyertai (Baca: Dicurigai konstipasi non-fungsional (ada kelainan patologis) bila disertai gejala/tanda). Anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik perlu dikerjakan dengan seksama oleh dokter yang berpengalaman dengan anak. Status nutrisi perlu dihitung berdasarkan data tinggi badan dan berat badan. Periksaan foto rongent, laboratorium dan penunjang yang lain  dikerjakan bila ada indikasi.

TATA LAKSANA

Laporan dari Virginia (USA) menyebutkan sekitar 86% dokter di pelayanan pertama memberikan penanganan yang kurang adekuat, sehingga hampir 40% pasien tetap mengeluh konstipasi setelah 2 bulan.

Penanganan konstipasi fungsional sendiri cukup kompleks yaitu meliputi:

  1. Konsulatasi dan penyuluhan
  2. Toilet training
  3. Latihan fisik, mereka yang kurang aktivitas fisik akan lebih mudah mengalami konstipasi
  4. Diet, cukup cairan dan serat
  5. Oral laksans (pencahar)
  6. Behavioural treatment
  7. Habit training
  8. Biofeedback training
  9. Psikologis
  10. Bedah
  11. Fisik

PENGGUNAAN LAKSAN/PENCAHAR

Penggunaan laksan ditujukan untuk dua hal penting, pertama untuk disimpaction (evakuasi kotoran) yang bertujuan untuk mengeluarkan material kotoran yang keras. Kedua untuk rumatan, dengan tujuan terbentuk material kotoran yang cukup optimal untuk merangsang gerakan usus yang adekuat. Pemberian laksan rumatan bisa memerlukan waktu cukup lama sampai toilet training terbentuk dan proses BAB sudak tidak membuat anak ketakutan/stress.

KESALAHPAHAMAN TENTANG KONSTIPASI

  1. Konstipasi dapat disembuhkan cukup dengan obat. Kegagalan terapi karena baik dokter maupun orang tua kurang memperhatikan bahwa obat hanya merupakan aspek tambahan saja dalam penatalaksanaan
  2. Obat pencahar menyebabkan ketergantungan. Perlu diingat, pencahar hanya merupakan bagian dari terapi, jadi jika dihentikan maka wajar jika keluhan muncul lagi karena  modalitas terapi yang lain tidak dijalankan (Lihat: Tata Laksana).
  3. Konstipasi disebabkan asupan serat yang kurang. Serat memang diperlukan untuk membentuk feses (debulking), tetapi penelitian yang ada menunjukan bahwa konstipasi kronis juga terjadi pada mereka yang diet serat cukup tinggi dan sebaliknya mereka yang diet rendah serat banyak yang tidak mengalami konstipasi

 KESIMPULAN

Konstipasi merupakan keluhan yang cukup kerap terjadi pada anak, namun jika hanya terjadi sesekali maka orangtua tidak perlu terlalu khawatir. Penggunaan obat pencahar tanpa resep dokter diperbolehkan tetapi perhatikan aturan pakainya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan konstipasi. Apabila terjadi konstipasi kronis, orangtua harap segera menghubungi dokter yang berpengalaman. Penggunaan pencahar/obat hanya merupakan salah satu bagian dari pengobatan, peran orang tua/pengasuh sangat penting dalam penatalaksanaan terapi disamping dokter yang berpengalaman.

Dr. Ferry Andian Sumirat, MSc. SpA

REFERENSI

  1. G S Clayden, A S Keshtgar, I Carcani-Rathwell, A Abhyankar, Archiv Dis Child Educ Pract Ed 2005;90:Ep58–Ep67
  2. Daisy A. Arce, M.D., Carlos A. Ermocilla, M.D., And Hildegardo Costa, M.D., Am Fam Physician 2002;65:2283-90,2293,2295-6
  3. Afzal N.A.,  Tighe M.P., &  Thomson M.A., 2011, Constipation in Children, Italian Journal Of Pediatric 37: 28
  4. Paul E. Hyman, Peter J. Milla, Marc A. Benninga, Geoff P. Davidson, David F. Fleisher, and Jan Taminiau, Gastroenterology 2006;130:1519–1526
  5. Rasquin, A., Lorenzo, C.D., Forbes, D., Guiraldes, E., Hyams, J.S., Staiano, A. & Walker, L.S., 2006, Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Child/Adolescent, Gastroenterology 130:1527–1537
  6. Carin L. Cunningham, Pediatric Gastrointestinaldisorders Biopsychosocial Assessment And Treatment, 2005

Posted in Kesehatan Anak | Tagged: , , | Leave a Comment »

Diagnosis Tubercolusis (TBC/TB) yang Tidak Sederhana

Posted by Auditya on November 28, 2011

PENDAHULUAN

Penyakit Tuberkulosa (TBC/TB) atau beberapa orang menyebut paru-paru basah, merupakan salah satu penyakit yang paling dijadikan sering alasan bila seorang anak menderita batuk lama atau  berat badan sulit naik/kurus. Yang harus diingat bahwa TB bukanlah satu-satunya penyebab batuk lama maupun anak kurus. Oleh karena itu kita perlu mengenal lebih banyak tentang TB.

Penyakit TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosa, yang dapat menyerang seluruh organ tubuh mulai dari kulit, tulang, paru, saluran cerna, ginjal,  otak, dan kelenjar limfe.  Oleh sebab itu setiap penderita TB pasti ada sumber penularannya, meskipun kadang sulit mencari sumber penularnya.

Kuman TB masuk kedalam tubuh melalui percikan ludah (droplet) dari penderita TB yang dihirup oleh saluran pernapasan/paru. Setelah kuman masuk kedalam tubuh manusia, kuman tersebut dapat berkembang menjadi penyakit atau hanya menetap bertahun-tahun tanpa menimbulkan masalah (dorman). Kuman TB yang dorman dapat menyebabkan penyakit bila terjadi penurunan sistim imunitas tubuh.

WHO memperkirakan terdapat 1/3 penduduk dunia  terinfeksi  basil  TB. Dari mereka yang terinfeksi kemungkinan akan menderita sakit sebesar:

  • 50%, bila usia< 1 tahun,
  • 10-25%, usia 1-2 tahun
  • 5%, usia-2-5 tahun,
  • 2%, usia 5-10 tahun,
  • 10-20% usia >10 tahun).

Bila ada penderita TB ditemukan, ingatlah usia-usia dimana seseorang mudah menderita penyakit TB. Dari sini dapat disimpulkan bahwa mereka yang resiko terinfeksi TB adalah: Mereka yang tinggal dilingkungan penderita TB dan mereka yang berusia <2 tahun.

 GEJALA & TANDA PENDERITA PENYAKIT TB:

  1. Demam lama (> 2 minggu) tanpa sebab yang jelas, dapat disertai keringat malam. Akan tetapi harus diingat bahwa bayi dan anak akan terasa lebih hangat dan berkeringat bila malam, hal ini terkait dengan metabolisme bayi/anak lebih tinggi dari orang dewasa. Oleh sebab itu perlu pengukuran dengan thermometer untuk melihat suhu.
  2. Batuk lama (> 3 minggu) setelah penyebab batuk lain disingkirkan. Batuk pada malam hari atau pada waktu tertentu saja atau yang disertai mengi biasanya disebabkan oleh alergi. Batuk pada TB bayi dan anak biasanya tidak berdahak/kering, batuk berdahak biasanya lebih pada TB anak besar/adolescent dan dewasa.
  3. Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas atau berat badan tidak naik meskipun asupan gizinya cukup.
  4. Gagal tumbuh atau gizi kurang. Kadang disertai anoreksia/malas makan (bukan pilih-pilih makanan/picky eaters)
  5. Lesu
  6. Diare persisten (diare > 2 minggu)

Sampai disini dapat garis bawahi bahwa dicurigai menderita penyakit TB bila menemukan tanda/gejala diatas disertai faktor risiko dan sumber penularan. Bila kita hanya menemukan gejala dan tanda saja tanpa faktor risiko dan sumber penularan maka penyakit atau masalah lain harus dicari dengan seksama oleh karena banyak penyakit lain yang memberikan gejala/tanda yang sama. Akan tetapi bila hanya menemukan faktor risiko saja maka perlu pemantuan kemungkinan akan menderita penyakit TB di kemudian hari.

Diagnosis penyakit TB pada anak bukan hal yang mudah, oleh karena seringkali sumber penular tidak jelas. Penegakan diagnosis yang ideal adalah pemeriksaan ada tidaknya kuman TB pada dahak, namun hal ini sulit dikerjakan pada bayi dan anak, baik karena sulitnya mendapatkan dahak maupun karena kandungan kuman TB pada dahak anak sangat sedikit.

PETUNJUK WHO UNTUK DIAGNOSIS TB PADA ANAK

Dicurigai Tuberkulosis

  1. Anak dengan riwayat kontak dengan penderita TB (pemeriksaan dahak positif TB)
  2. Anak dengan:
  • Keadaan klinis tidak membaik setelah campak atau pertusis
  • Berat badan menurun, batuk dan mengi yang tidak membaik dengan pengobatan antibiotikan atau obat saluran pernapasan
  • Pembesaran kelenjar yang tidak nyeri

Mungkin Tuberkulosis

Anak yang dicurigai TB ditambah dengan:

  • Uji tuberculin (Mantoux/PPD test)  positif
  • Foto rongent paru sugestif T
  • Pemeriksaan jaringan biopsy sugestif TB
  • Respon baik dengan pengobatan TB

 Pasti Tuberkulosis

Bila ditemukan basil TB pada pemeriksaan langsung (dahak) atau biakan

Kendala pada penggunaan kriteria WHO:

  • Foto rontgen paru seringkali tidak khas kecuali bila penyakit TB sudah parah. Foto rontgen paru yang normal tidak berarti tidak ada penyakit TB.
  • Uji tuberculin sering tidak tersedia, disamping itu pada kondisi tertentu pemeriksaan tuberculin dapat negatif palsu (anergi), maka bila perlu diulang 1-2 bulan sesudahnya.
  • Pemeriksaan biopsy lebih dikhususkan pada TB kelenjar

Atas dasar berbagai pertimbangan dan hasil diskusi yang panjang, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Menyusun Sistem Skoring TB anak sebagaimana tertera dalam tabel berikut

Tabel Sistem Skoring TB Anak

Parameter

0

1

2

3

Kontak TB

Tdk jelas

-

Laporan keluarga (BTA negatif/tdk jelas)

BTA (+)

Uji Tuberculin

negatif

-

-

Positif (>10 mm>

Berat badan/Gizi

-

BB//TB < 90% atau BB//U < 80%

Klinis gizi buruk atau BB//TB <70% atau BB//U < 60%

-

Demam yg tdk diketahui penyebabnya

-

> 2 minggu

-

-

Batuk khronik

-

> 3 minggu

-

-

Pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak, lipat paha

-

> 1 cm, jumlah > 1, tidak nyeri

-

-

Pembengkakan tulang/sendi

-

ada

-

-

Foto rongent paru

Normal

Gambaran sugestif TB

-

-

Catatan: Diagnosis TB bila skor > 6 (skor maksimal 13)


Dari semua pembahasan diatas maka poin terpenting adalah pada adanya informasi/bukti sumber penularan (kontak TB) dan hasil uji tuberculin. Hal ini dapat dilihat dilihat pada tabel sistem scoring IDAI yang keduanya memiliki nilai tertinggi.

Mendiagnosis TB bukan hal yang mudah begitu pula kapan kita mengakhiri/menghentikan pengobatan juga bukan hal yang mudah. Disamping itu hampir semua obat TB dapat merusak hati (hepatotoksik).

Kembali pada bahasan sebelumnya, oleh karena itu seseorang dicurigai menderita penyakit TB bila ditemukan tanda/gejala penyakit TB baru kemudian dibuktikan/dibuat diagnosis dengan bantuan pemeriksaan yang ada/scoring TB. Jadi bila benar TB dan telah dilakukan pengobatan yang benar maka gejala/tanda penyakit tersebut haruslah berkurang/menghilang. Namun bila sebaliknya, maka muncul pertanyaan berikut:

  1. Apakah betul TB?
  2. Apakah pengobatan sudah tepat?
  3. Apakah kuman TBnya sudah kebal dengan obat standar? (Untuk no 3 perlu pembahasan amat panjang).

Untuk itu orangtua perlu bersikap kritis terhadap diagnosis TB yang ditegakkan oleh DSA anak mereka. Tanyakan dasar diagnosis yang digunakan, jika perlu carilah second, third opinion.

Dr Ferry Andian Sumirat, SpA

Referensi

  1. Buku Ajar Respirologi Anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Cetakan Pertama, 2008
  2. Graham, S.M., 2011, Treatment of Paediatric TB: Revised WHO Guidelines, Paediatric Respiratory Reviews 12: 22-26

Posted in Kesehatan Anak | Tagged: , , | Leave a Comment »

Seputar Pertumbuhan Bayi

Posted by Auditya on October 31, 2011

Pertumbuhan Bayi Berdasar Berat Badan, Panjang Badan, & Lingkar Kepala

Berapakah seharusnya berat badan (BB) bayi disusui yang normal adalah salah satu masalah yang paling sering diajukan orangtua. Selain berat badan, panjang dan lingkar kepala juga menjadi salah satu acuan pertumbuhan fisik bayi. Berikut adalah rata-rata pertumbuhan bayi yang disusui. Tabel-tabel berikut bersumber dari artikel : http://www.kellymom.com/babyconcerns/growth/index.html

Tabel 1. Rata-rata Pertumbuhan Berat Badan (BB)

Usia

Rata-rata Pertambahan BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-4 bulan

155 – 241 grams per minggu

170 grams per minggu *

4-6 bulan

92 – 126 grams per minggu

113 – 142 grams per minggu

6-12 bulan

50 – 80 grams per minggu **

57 – 113 grams per minggu

  * Pertumbuhan BB sebanyak 113-142 gram per minggu masih diperkenankan.

**Pada usia 3-4 bulan pertumbuhan BB bayi yang disusui akan mencapai 2x BB lahir, menginjak usia 1 tahun umumnya mencapai 2.5-3x BB lahir 1.

Referensi

  1. World Health Organization Child Growth Standards, 2006.
  2. Riordan J. Breastfeeding and Human Lactation, 3rd ed. Boston: Jones and Bartlett, 2005, p. 103, 512-513.
  3. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149

            Sedangkan tabel 2 meringkaskan rata-rata pertumbuhan panjang badan dan lingkar kepala. Untuk anak atas 1 tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat dilihat langsung dari kurva pertumbuhan WHO atau CDC.

Tabel 2. Rata-rata Pertumbuhan Panjang Badan (PB) dan Lingkar Kepala (LK)

Usia

Rata-rata Pertambahan Panjang BB1

Rata-rata Pertambahan BB2,3

0-6 bulan

2,5 cm per bulan

1, 27 cm per bulan

6-12 bulan

1, 27 cm per bulan*

64 mm per bulan

 *Menginjak usia 1 tahun, bayi yang disusui umumnya akan mengalami bertambah panjang 50% dari PB lahir dan lingkar kepala bertambah 33% dari LK lahir.

Referensi:

  1. Mohrbacher N and Stock J. The Breastfeeding Answer Book, Third Revised ed. Schaumburg, Illinois: La Leche League International, 2003, p. 148-149.

 

Beberapa Hal yang Perlu Diingat Ketika Mengevaluasi Pertumbuhan Berat Badan

            Penurunan BB sebanyak 5-7% selama 3-4 hari dianggap normal. BB yang berkurang 10% terkadang dianggap normal, namun pengurangan sebanyak ini merupakan tanda untuk mengevaluasi proses menyusui yang berlangsung. Sebaiknya Ibu mengecek BB bayi pada hari ke-5, sehingga jika ditemukan masalah pertumbuhan dapat segera diatasi sejak dini.

            Menginjak hari ke 10 hingga minggu ke-2, bayi seharusnya telah kembali mencapai BB lahirnya. Jika bayi kehilangan BB cukup berarti pada beberapa hari pertama, atau bayi sakit atau lahir prematur, ia memerlukan waktu lebih lama kembali pada BB lahir. Jika bayi tidak mampu mencapai BB lahir selama 2 minggu, evaluasi terhadap proses menyusui perlu dilakukan.

            Yang tidak kalah penting adalah penimbangan BB bayi seharusnya dilakukan dengan timbangan yang sama dan diusahakan dalam keadaan tidak berpakaian untuk mendapatkan perhitungan BB yang akurat.

            Selain itu, ketika mengevaluasi pertumbuhan anak, tidak hanya menganalisis kurva pertumbuhannya, hal-hal berikut juga perlu diperhatikan:

  • Bagaimanakah ukuran fisik orangtua? Bagaimanakah kurva pertumbuhan orangtua ketika bayi? Bagaimana dengan saudara bayi atau anggota keluarga lain? Genetik berperan penting dalam ukuran fisik seorang bayi
  • Apakah bayi tumbuh secara konsisten? Cttn: Bayi dianggap tumbuh walaupun BB-nya misal selalu berada dalam kurva kuning KMS, asalkan konsisten. Lihat artikel terkait.
  • Apakah perkembangan bayi yang lain sesuai dengan usianya?
  • Apakah bayi tampak sehat, lincah, dan aktif?
  • Apakah bayi menunjukkan tanda-tanda cukup ASI?

 Jika orangtua merasa perkembangan BB bayi yang mendapatkan ASI eksklusif kurang menggembirakan khususnya pada bulan-bulan pertama, lihat artikel pertumbuhan BB melambat.

Catatan Mengenai Kurva Pertumbuhan (Growth Chart)

Bayi sehat yang disusui cenderung tumbuh lebih cepat dibanding mereka yang mendapat asumsi susu formula dalam 2-3 bulan pertama dan lebih lambat pada usia 3-12 bulan. Semua versi kurva pertumbuhan (i.e. WHO, CDC) yang tersedia saat ini tidak semuanya diperoleh dari bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan (termasuk bayi yang mendapat susu formula dan mereka yang telah mendapatkan makanan pendamping/solid foods sebelum rekomendasi usia 6 bulan). Banyak dokter yang kurang aware terhadap masalah ini sehingga seringkali memberikan kesimpulan yang kurang tepat yaitu pertumbuhan bayi kurang bagus. Untuk itu mereka biasanya merekomendasikan Ibu (yang sebenarnya tidak diperlukan) memberikan suplemen seperti susu formula atau makanan padat, dan bahkan terkadang meminta Ibu berhenti menyusui pula! Hal ini seringkali merisaukan Ibu yang sebenarnya merasakan bayi mereka tumbuh dengan sehat.

Posted in Tumbuh Kembang | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.